AJI Kendari Kecam Intimidasi, Kekerasan dan Penghalangan Kerja Jurnalistik Terhadap Kontributor TVOne di Baubau

Kendari, Objektif.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari mengecam keras intimidasi, kekerasan fisik, pengambilan paksa alat kerja, dan penghalangan kerja jurnalistik yang dialami Jamil, Kontributor tvOne, saat menjalankan tugas jurnalistik di Kantor Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Baubau, Rabu malam, 7 Oktober 2026.

Berdasarkan keterangan awal yang diterima AJI Kota Kendari, Jamil mengalami kekerasan setelah melakukan dokumentasi menggunakan telepon selulernya ketika menjalankan tugas jurnalistik. Telepon seluler Jamil juga diambil secara paksa dan rekaman yang dibuatnya diminta untuk dihapus.

AJI Kota Kendari memandang tindakan tersebut sebagai persoalan serius. Menghentikan, menghambat, atau menghalangi Jamil dalam menjalankan tugas jurnalistik merupakan bentuk ancaman terhadap kemerdekaan pers.

Telepon seluler merupakan salah satu alat kerja jurnalis. Memaksa jurnalis menghapus hasil dokumentasi, mengambil alat kerjanya secara paksa, terlebih disertai kekerasan fisik, tidak dapat dibenarkan sebagai cara menyelesaikan keberatan terhadap aktivitas jurnalistik.

Pasal 4 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menjamin hak pers untuk mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Sementara itu, Pasal 18 ayat (1) UU Pers mengatur bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.

AJI Kota Kendari mendesak pengambilan alat kerja, pemaksaan penghapusan rekaman, dan kekerasan terhadap Jamil tidak berhenti sebagai persoalan internal kepolisian, tetapi diperiksa secara menyeluruh dalam perspektif hukum pidana dan perlindungan terhadap kemerdekaan pers.

Atas kejadian ini, AJI Kota Kendari menyatakan;

1. Mengecam Keras Intimidasi dan Kekerasan Terhadap Jamil Kontributor TVOne

AJI Kota Kendari menegaskan bahwa kekerasan, intimidasi, dan ancaman terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

2. Mendesak Kapolres Baubau Mengusut Tuntas Kekerasan

Pemeriksaan harus dilakukan secara objektif, transparan, dan menyeluruh terhadap seluruh pihak yang berada di lokasi kejadian, termasuk anggota yang disebut dalam laporan awal Jamil.

Jika ditemukan unsur pidana, AJI Kota Kendari mendesak proses hukum dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan tidak berhenti pada pemeriksaan internal.

3. Mendesak Penghalangan Kerja Jurnalistik Diproses Berdasarkan UU PERS

AJI Kota Kendari meminta aparat penegak hukum memeriksa pemaksaan penghapusan rekaman dan pengambilan alat kerja Jamil berdasarkan Pasal 4 ayat (3) jo. Pasal 18 ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

AJI Kota Kendari menegaskan, UU Pers tidak boleh hanya menjadi aturan yang dikutip ketika membicarakan kemerdekaan pers. Ketika terdapat tindakan yang menghambat kerja jurnalistik, ketentuan tersebut harus ditegakkan.

4. Mendesak Seluruh Bukti Diamankan

AJI Kota Kendari meminta rekaman CCTV, telepon seluler dan jejak digital yang berkaitan dengan kejadian, rekaman yang dibuat Jamil, keterangan saksi, serta hasil pemeriksaan medis dan visum diamankan dan diperiksa secara profesional.

Tidak boleh ada upaya menghilangkan, mengubah, merusak, atau menghapus bukti yang berkaitan dengan perkara ini.

5. Mendesak Polres Baubau Menjamin Keselamatan Jamil

AJI Kota Kendari meminta kepolisian menjamin Jamil terbebas dari intimidasi, ancaman, maupun tekanan selama proses pemeriksaan berlangsung.

KEMERDEKAAN PERS BUKAN HAK ISTIMEWA

AJI Kota Kendari mengingatkan bahwa jurnalis menjalankan fungsi penting dalam memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi.

Keberatan terhadap kerja jurnalistik dapat disampaikan melalui mekanisme yang tersedia. Bukan dengan merampas alat kerja, memaksa menghapus rekaman, mengintimidasi, apalagi melakukan kekerasan terhadap jurnalis.

Kepolisian sebagai institusi penegak hukum seharusnya menjadi pihak yang memastikan jurnalis dapat bekerja secara aman dan bebas dari kekerasan.

AJI Kota Kendari tetap menghormati asas praduga tak bersalah dan memahami bahwa laporan mengenai kejadian ini masih memerlukan verifikasi serta pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, asas praduga tak bersalah tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kekerasan dan penghalangan kerja jurnalistik.

AJI Kota Kendari akan terus memantau perkembangan kasus ini dan berkoordinasi dengan AJI Indonesia serta pihak terkait untuk memastikan kekerasan dan penghalangan kerja jurnalistik terhadap Jamil diproses secara serius, transparan, dan sesuai hukum.

Berpetualang Bukan Sekadar Menaklukkan Alam

 

Oleh: Dedi Hardianto, petualang amatiran

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan serba cepat, berpetualang sering dipandang sebagai kegiatan untuk mencari hiburan. Mendaki gunung, menyusuri sungai, menjelajah hutan, atau menyeberangi pulau dianggap sebagai cara untuk melepaskan diri dari rutinitas. Foto dengan latar belakang puncak gunung kemudian diunggah ke media sosial sebagai tanda bahwa seseorang telah sampai di suatu tempat.

Namun, bagi seorang pencinta alam, petualangan seharusnya tidak berhenti pada persoalan mencapai puncak atau mengumpulkan dokumentasi perjalanan. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: setelah kita sampai di sana, apa yang kita bawa pulang selain foto?

Pertanyaan tersebut penting karena alam bukan sekadar latar belakang untuk mengabadikan perjalanan. Di balik gunung yang kita daki, terdapat masyarakat yang menggantungkan hidup pada alam. Di balik hutan yang kita lewati, terdapat ekosistem yang menopang kehidupan. Di balik sungai yang kita susuri, ada masyarakat yang membutuhkan air bersih. Dengan demikian, berpetualang seharusnya menjadi cara untuk memahami kehidupan, bukan sekadar cara untuk melarikan diri dari kehidupan.

Salah satu nilai penting dalam kegiatan pencinta alam adalah kepekaan sosial. Sayangnya, semangat petualangan terkadang terlalu berpusat pada pencapaian pribadi: siapa yang paling tinggi mendaki, siapa yang paling jauh menjelajah, atau siapa yang memiliki dokumentasi paling menarik. Padahal, semakin jauh kita berjalan, semakin banyak persoalan yang seharusnya kita lihat.

Ketika memasuki daerah terpencil, kita mungkin menemukan masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, transportasi, maupun fasilitas dasar lainnya. Kita juga dapat melihat bagaimana masyarakat mempertahankan kehidupannya dengan mengandalkan alam di sekitarnya. Di sinilah seorang pencinta alam seharusnya berhenti menjadi sekadar penonton.

Petualangan seharusnya membuka mata kita terhadap realitas sosial. Jangan sampai kita rela mengeluarkan banyak biaya dan tenaga untuk mencapai sebuah destinasi, tetapi tidak pernah peduli dengan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Bagi saya, seorang petualang bukan hanya orang yang mampu menaklukkan medan sulit. Petualang adalah mereka yang mampu melihat persoalan, merasakan keresahan masyarakat, dan kemudian bertanya: apa yang bisa saya lakukan?

Berpetualang juga merupakan cara sederhana untuk mengenal Indonesia. Negeri ini bukan hanya tentang kota-kota besar. Indonesia adalah gunung, hutan, laut, pulau-pulau kecil, desa-desa, kebudayaan, serta masyarakat dengan berbagai latar belakang. Sayangnya, tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal destinasi wisata luar negeri dibandingkan kekayaan alam di daerahnya sendiri.

Padahal, nasionalisme tidak cukup hanya diucapkan. Nasionalisme harus dialami. Ketika kita berjalan di pelosok negeri, berinteraksi dengan masyarakat lokal, melihat keindahan alam, dan memahami perjuangan mereka mempertahankan ruang hidupnya, rasa memiliki terhadap Indonesia akan tumbuh secara alami.

Kita akan memahami bahwa Indonesia bukan sekadar nama dalam peta. Indonesia adalah kehidupan yang nyata dan beragam. Karena itu, mencintai Indonesia juga berarti menjaga gunungnya, merawat hutannya, melindungi lautnya, menghormati masyarakat adat dan lokal, serta tidak membiarkan kekayaan alam dieksploitasi tanpa memikirkan generasi berikutnya.

Petualangan juga mengajarkan sesuatu yang semakin mahal dalam kehidupan modern: solidaritas. Di alam, ego pribadi sering kali harus ditinggalkan. Ketika seorang teman kelelahan, kita harus berhenti. Ketika ada anggota kelompok yang mengalami kesulitan, kita harus membantu. Ketika persediaan terbatas, kita belajar berbagi. Di medan perjalanan, kita memahami bahwa keselamatan seseorang sering kali bergantung pada orang lain. Hal tersebut menjadi pelajaran penting bagi kehidupan sosial kita. Solidaritas tidak cukup dibicarakan dalam forum atau dituliskan dalam slogan. Solidaritas harus dipraktikkan.

Seorang pencinta alam seharusnya memahami bahwa perjalanan bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi bagaimana semua orang dapat sampai dengan selamat. Prinsip itu semestinya tidak berhenti ketika kita meninggalkan gunung. Solidaritas yang tumbuh di perjalanan harus dibawa kembali ke masyarakat.

Ada satu ironi yang sulit diabaikan dalam perkembangan kegiatan pendakian dan wisata alam. Semakin banyak orang mengaku mencintai alam, tetapi pada saat yang sama semakin banyak pula sampah yang ditemukan di kawasan wisata dan jalur pendakian.

Botol plastik, bungkus makanan, tisu, puntung rokok, hingga berbagai jenis sampah lainnya menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap alam terkadang hanya berhenti pada ucapan. Pertanyaannya sederhana: benarkah kita mencintai alam jika setelah menikmati keindahannya kita meninggalkan sampah?

Menjadi pencinta alam bukan berarti sekadar memiliki perlengkapan outdoor, mengenakan pakaian lapangan, atau mengunggah foto di puncak gunung. Identitas tersebut harus dibuktikan melalui perilaku. Jika kita membawa sesuatu ke alam, kita harus bertanggung jawab untuk membawanya kembali. Jika kita menemukan sampah yang bukan milik kita dan mampu membawanya, mengapa harus dibiarkan?

Prinsip “jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak” seharusnya bukan sekadar teori. Ia harus menjadi kebiasaan.
Lebih jauh lagi, kita harus berani mengkritik aktivitas yang merusak lingkungan. Pencinta alam tidak seharusnya hanya menjadi penikmat keindahan, tetapi juga menjadi kelompok yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Ada anggapan bahwa berpetualang berarti meninggalkan kehidupan untuk sementara. Saya justru melihatnya sebaliknya. Berpetualang bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan untuk kembali memahami kehidupan. Ketika berada di alam, kita belajar bahwa manusia bukan pusat dari segala sesuatu. Kita hanya bagian kecil dari sebuah ekosistem yang jauh lebih besar.

Kita membutuhkan hutan, tetapi hutan tidak membutuhkan manusia untuk tetap menjadi hutan. Kita membutuhkan sungai, laut, dan tanah untuk bertahan hidup. Karena itu, manusia seharusnya tidak bersikap seolah-olah alam hanya tersedia untuk dieksploitasi.

Petualangan memberi kesempatan kepada kita untuk merasakan langsung ketergantungan tersebut.
Ketika sumber air sulit ditemukan, kita memahami betapa berharganya air. Ketika berjalan di bawah terik matahari tanpa naungan, kita memahami pentingnya pohon. Ketika melihat hutan yang rusak, kita memahami bahwa kehilangan alam bukan sekadar kehilangan pemandangan, tetapi juga kehilangan ruang hidup.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah petualangan tidak seharusnya hanya ditentukan oleh berhasil atau tidaknya seseorang mencapai puncak. Puncak hanyalah tujuan perjalanan. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi selama perjalanan dan apa yang kita lakukan setelah kembali.

Jika setelah mendaki kita menjadi lebih peduli terhadap lingkungan, lebih menghargai masyarakat, lebih memahami keberagaman Indonesia, dan lebih mampu bekerja sama dengan orang lain, maka petualangan tersebut telah memberikan makna. Sebaliknya, jika kita hanya pulang membawa foto, sampah, dan kebanggaan pribadi, mungkin kita memang telah mencapai puncak, tetapi belum tentu memahami arti sebuah perjalanan.

Karena itu, saya percaya bahwa petualangan bukan tentang menaklukkan alam. Alam bukan sesuatu yang harus ditaklukkan. Alam adalah ruang kehidupan yang harus kita hormati dan jaga. Menjadi pencinta alam berarti bersedia berjalan lebih jauh untuk melihat lebih banyak persoalan, mendengar lebih banyak suara, dan memahami lebih banyak kehidupan.

Sebab, seorang petualang sejati tidak hanya bertanya, “Seberapa jauh saya bisa berjalan?” Tapi ia juga bertanya, “apa yang bisa saya lakukan agar tempat yang saya datangi tetap hidup setelah saya pergi?” Itulah barangkali makna terdalam dari sebuah petualangan: kita pergi untuk melihat dunia, tetapi kita pulang dengan tanggung jawab untuk menjaganya.

Senjakala Kesenian

 

Oleh: Ivansyah Mhmd, amatiran seni

Tentu saja kesenian belum sampai pada titik nadirnya. Barangkali kita saja yang sudah terlalu lama menanti kematiannya. Ada perbedaan antara keduanya, meskipun tipis. Yang pertama adalah tragedi yang menimpa gerak kesenian kita, yang kedua adalah kebiasaan kita dalam berkesenian.

Kita masih melihat panggung berdiri, pameran dibuka, sajak dibacakan, musik dimainkan, tubuh-tubuh bergerak dalam pertunjukan. Poster-poster masih memenuhi dinding dan layar ponsel kita. Undangan masih beredar. Orang masih berfoto di depan karya. Tetapi entah mengapa, di tengah keramaian itu terasa seperti ada sesuatu yang telah meninggalkan kita. Mungkin bukan seni. Mungkin alasan mengapa kita dulu membutuhkannya.

Dulu, kesenian mempunyai musuh yang lebih mudah dikenali. Kekuasaan, kolonialisme, kemiskinan, sensor, ketidakadilan, bahkan bahasa lama yang dianggap telah terlalu tua untuk menampung manusia baru. Chairil Anwar datang dengan kata-kata yang seperti ingin memecahkan kaca sebuah kamar yang pengap. Gelanggang kesenian menyatakan keinginan menjadi ahli waris kebudayaan dunia, bukan sekadar penjaga museum masa silam. Kemudian, pada tahun-tahun yang lebih gaduh, Lekra dan Manifes Kebudayaan bertengkar bukan tentang soal kecil: mereka memperebutkan pengertian tentang manusia, kebudayaan, politik, dan tempat seni dalam masyarakat.

Menurut HB Jassin, dengan kalimat yang mirip proklamasi bersama, “Landasan kami adalah perikemanusiaan, kemudi kami akal budi.” Begitu ucapnya dalam majalah sastra No 1, di tahun 1962 yang menguatkan nilai kesenian yang dibawa oleh kelompok pencetus Manifes Kebudayaan. Kita mungkin tidak perlu mengulang dinamika dan alotnya perdebatan gagasannya. Sejarah sudah cukup berkesan untuk memulai dialektika yang baru. Tetapi dari sana kita mengetahui sesuatu yang kini terasa semakin langka, seniman dahulu percaya bahwa kesenian mempunyai ruh dan asas.

Ruh dan asas. Kata itu sekarang terdengar agak tua. Seni hari ini lebih sering ditanya tentang dampak, jangkauan, engagement, jumlah penonton, jumlah pengikut, dan kemungkinan kerja sama. Semuanya masuk akal dalam bahasa manajemen. Bahkan seniman juga perlu makan, membayar listrik, menyewa ruang, membeli kanvas, merawat alat musik, dan sesekali memikirkan masa depan.

Tetapi ada sesuatu yang lucu dalam keadaan ini: kita hidup dalam zaman ketika seni semakin pandai mengukur dirinya sendiri, justru pada saat ia semakin sulit mengukur apa yang terjadi di dalam diri manusia setelah sebuah karya selesai. Berapa orang datang, kita tahu. Berapa orang menyukai, kita tahu. Berapa kali dibagikan, kita tahu. Tetapi apakah seseorang pulang dengan sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia tidurkan malam itu, kita hampir tidak pernah punya standar untuk mengukurnya.

Mungkin karena kita telah memasuki zaman di mana segala sesuatu harus tampak sebelum dianggap ada. Karya seni pun demikian. Ia harus segera terlihat, segera dibicarakan, segera difoto, segera diunggah, segera diberi caption paling puitik. Bahkan kesunyian pun kini membutuhkan poster. Sebuah puisi belum selesai dibaca kalau belum menjadi kutipan. Sebuah pertunjukan belum dianggap berhasil kalau tidak menghasilkan dokumentasi. Seniman perlahan-lahan diminta menjadi humas bagi kegelisahannya sendiri. Ia mencipta sekaligus menjual, merenung sekaligus memasarkan, mempertanyakan dunia sekaligus memastikan algoritma menyukainya. Barangkali tidak ada yang salah dengan itu. Yang mengkhawatirkan adalah ketika algoritma mulai lebih dahulu masuk ke kepala daripada gagasan.

Di sinilah saya teringat kepada ruang-ruang kesenian yang pernah dibangun dengan keyakinan bahwa masyarakat membutuhkan tempat untuk berjumpa dengan imajinasi. Taman Ismail Marzuki, misalnya, bukan hanya sebuah bangunan yang menampung pertunjukan. Ia pernah menjadi bagian dari gagasan tentang Jakarta sebagai kota kebudayaan, tempat teater, musik, tari, sastra, film dan seni rupa dapat saling menyela. Tetapi setiap ruang pada akhirnya mempunyai nasibnya sendiri. Negara dapat mendukung seni, tetapi juga dapat mengaturnya. Pasar dapat membiayai seni, tetapi juga dapat menjinakkannya. Birokrasi dapat menyediakan panggung, tetapi sekaligus dapat membuat panggung itu terlalu rapi untuk sebuah kegelisahan. Sebab kesenian, seperti manusia, tidak selalu tumbuh baik di tempat yang terlalu bersih.

Kita barangkali terlalu sering membayangkan kebudayaan sebagai sesuatu yang harus ditata, padahal kebudayaan pada mulanya justru tumbuh dari kekacauan. Bahasa yang baru biasanya lahir karena bahasa lama tidak lagi cukup. Bentuk baru muncul karena bentuk lama mulai terasa sesak. Dan seniman yang sungguh-sungguh bekerja hampir selalu membawa sedikit ketidakpatuhan ke dalam pekerjaannya. Ia menggeser kursi yang selama ini dianggap sudah tepat di tempatnya. Ia membuka pintu yang oleh banyak orang dianggap sebaiknya tetap tertutup. Kadang ia bahkan tidak tahu ke mana pintu itu mengarah. Tetapi bukankah sejarah kesenian hampir selalu ditulis oleh mereka yang berani masuk ke ruangan yang belum mempunyai nama?

Karena itu saya agak curiga ketika mendengar bahwa kesenian harus selalu “relevan”. Kata itu terdengar baik, bahkan mulia. Tetapi sesuatu yang terlalu ingin relevan sering kali justru cepat menjadi usang. Sebab relevansi mengikuti zaman, sementara seni yang baik kadang justru berjalan sedikit lebih lambat atau sedikit lebih cepat daripada zamannya.

Franz Kafka tentu tidak menulis untuk dikutip dalam postingan TikTok. Rendra tidak mendirikan panggung agar algoritma bekerja. Wiji Thukul tidak menulis untuk mendapatkan engagement. Mereka hidup dalam hubungan yang lebih keras dengan kenyataan. Mereka menulis karena ada sesuatu yang tidak dapat mereka biarkan tetap tanpa nama. Di situlah seni memperoleh bahayanya.

Wiji Thukul penting bukan karena puisinya paling rumit, melainkan karena ia tahu bahwa bahasa yang sederhana dapat menjadi tempat persembunyian sebuah keberanian. Ia datang dari lingkungan yang tidak mewah, dari kehidupan yang dekat dengan kelas buruh dan ketidakadilan, lalu membawa puisi ke jalan, panggung kecil, kampung, dan ruang-ruang tempat orang biasa berkumpul.

Di sana sastra tidak menjadi benda yang harus dijauhkan dari kehidupan agar dianggap bermutu. Ia justru menjadi bagian dari kehidupan. Kita mungkin berbeda dalam bentuk dan zaman, tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya masih mengusik: apa yang bisa dilakukan sebuah kata ketika kenyataan terlalu keras untuk didiamkan?

Hari ini pertanyaan itu menjadi semakin penting justru karena kita memiliki terlalu banyak kata. Kita berbicara setiap hari, menulis setiap hari, berkomentar setiap hari, mengunggah setiap hari, tetapi belum tentu mengatakan sesuatu.

Kebisingan bukan lawan dari kesunyian; kadang ia adalah bentuk lain dari kesunyian. Di tengah jutaan suara, seseorang dapat kehilangan suaranya sendiri. Begitu pula kesenian. Ia dapat diproduksi tanpa henti dan tetap mengalami kekosongan. Kita dapat mempunyai festival seni setiap bulan, diskusi setiap minggu, pameran rupa setiap musim, tetapi masih tidak memiliki satu karya yang membuat kita berhenti dan bertanya: mengapa hidup kita menjadi seperti ini? Mungkin karena kita semakin takut kepada kegagalan.

Kita ingin karya yang selesai, tetapi lupa bahwa kesenian sering kali tumbuh dari ketidaksempurnaan. Kita ingin penonton banyak, tetapi lupa bahwa sejarah tidak selalu bekerja melalui kerumunan. Kita ingin karya diterima, tetapi lupa bahwa penerimaan kadang justru tanda bahwa karya itu tidak lagi mengganggu siapa-siapa.

Seni yang terlalu cepat disukai barangkali perlu dicurigai, sebagaimana seni yang terlalu cepat dibenci juga perlu dicurigai. Yang lebih penting adalah apakah setelah perjumpaan dengannya kita masih dapat kembali menjadi orang yang sama.

Pertanyaan semacam itu membawa kita kembali kepada sastra. Sebab sastra, dalam pengertian yang paling sederhana, adalah cara sebuah masyarakat menyimpan apa yang tidak sanggup disimpan oleh arsip resmi. Negara mencatat tanggal, angka, keputusan, dan nama-nama pejabat; sastra menyimpan ketakutan seorang manusia, kesepian seorang ibu, kemarahan seorang buruh, kegembiraan seorang anak, atau suara sebuah kampung yang perlahan digusur oleh waktu. Karena itu, ketika sastra melemah, yang hilang bukan hanya buku. Yang hilang adalah sebagian kemampuan kita untuk mengingat manusia sebagai manusia.

Dan mungkin kita memang sedang kehilangan ingatan. Kita terlalu cepat berpindah dari satu peristiwa ke peristiwa lain sehingga tidak sempat mengalami keduanya. Hari ini sebuah tragedi memenuhi layar, besok ia digantikan oleh hiburan, lusa oleh skandal, kemudian oleh sesuatu yang sama sekali lain. Ingatan menjadi pendek karena perhatian dipaksa berlari.

Dalam keadaan seperti itu, kesenian sebenarnya dapat menjadi perlambatan. Ia meminta kita tinggal sedikit lebih lama pada sesuatu. Membaca sebuah puisi sampai selesai. Mendengarkan sebuah lagu tanpa membuka aplikasi lain. Berdiri di depan sebuah lukisan dan membiarkan waktu kehilangan kecepatannya. Mungkin itulah salah satu bentuk perlawanan yang paling sederhana hari ini: tidak tergesa-gesa.

Sebab manusia yang terus tergesa-gesa mudah dijadikan pasar. Ia membeli sebelum berpikir, menyukai sebelum membaca, membenci sebelum memahami. Dan kesenian yang seharusnya menjadi gangguan terhadap kebiasaan itu kadang malah ikut mempercepatnya. Kita membuat seni yang cepat dikonsumsi dalam dunia yang sudah terlalu banyak mengonsumsi. Kita menciptakan sesuatu yang seharusnya membuka ruang perenungan, tetapi menyajikannya dengan logika yang sama seperti iklan: lihat, sukai, bagikan, selesai. Setelah itu kita bertanya mengapa masyarakat tidak lagi mempunyai perhatian yang panjang. Barangkali bukan masyarakat yang berubah sepenuhnya. Barangkali kita yang terlalu mudah menyerah kepada perubahan itu.

Maka saya tidak yakin bahwa yang diperlukan kesenian kita sekarang adalah lebih banyak panggung. Kita membutuhkan lebih banyak keberanian. Lebih banyak ruang untuk gagal. Lebih banyak perdebatan yang tidak buru-buru mencari pemenang. Lebih banyak seniman yang bersedia bekerja dalam kesunyian, tanpa segera bertanya apakah pekerjaannya akan dikenal. Lebih banyak pembaca yang bersedia membuka buku yang tidak sedang ramai. Lebih banyak mahasiswa yang berani menghabiskan waktu di sanggar/sekretariat seni ketika teman-temannya sedang mengejar sesuatu yang dianggap lebih menjanjikan.

Kebudayaan tidak dibangun oleh mereka yang selalu tahu ke mana harus pergi. Kadang ia dibangun oleh orang-orang yang tersesat cukup lama hingga menemukan jalan yang sebelumnya tidak ada.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kesenian kita telah mati. Kematian adalah perkara yang terlalu pasti, sedangkan kesenian selalu menyisakan kemungkinan. Yang lebih patut kita cemaskan adalah jika kita masih membuat karya tetapi tidak lagi mempunyai kegelisahan. Masih mengadakan pertunjukan tetapi tidak lagi mempunyai pertanyaan. Masih membaca puisi tetapi tidak lagi merasa bahasa dapat mengubah cara kita memandang dunia. Pada saat itulah senjakala menjadi nyata, bukan karena panggung kosong, melainkan karena manusia di atas panggung dan manusia di hadapannya sama-sama sudah tidak tahu mengapa mereka berada di sana.

Namun selama masih ada penyair yang menulis sajaknya karena ia tidak sanggup menerima keadaan sebagaimana adanya, selama masih ada tangan yang menggambar sesuatu yang belum pernah dilihat orang lain, selama masih ada tubuh yang berani naik ke panggung meski tahu penontonnya mungkin hanya beberapa orang, selama masih ada anak muda yang memilih berkesenian meskipun zaman berkali-kali mengatakan bahwa itu tidak penting, maka kita belum sampai pada akhir malam.

Mungkin hanya senja. Dan senja, seperti kita tahu, bukan sekadar akhir dari siang. Ia adalah waktu ketika kita akhirnya dapat melihat bahwa cahaya pun mempunyai bayangan. Barangkali tugas kesenian kita hari ini bukan menyalakan matahari baru, melainkan menjaga agar api kecil yang tersisa tidak kita biarkan padam.