Kendari, Objektif.id – Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FATIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari menggelar seminar kebangsaan bertema “Menyalakan Nalar Kebangsaan: Membangun Kepemimpinan Visioner untuk Masa Depan Indonesia” di ruang Amphiteater UIN Kendari, Selasa 3 November 2026.
Seminar ini menyoroti tentang pentingnya peran mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang seharusnya mahasiswa itu tidak hanya dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, tetapi juga harus berintegritas serta memiliki wawasan kebangsaan yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kehidupan berbangsa.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Zulham Damu, S.H., selaku Ketua Komisi I DPRD Kota Kendari, dan Dr. Muhammad Endang, S.A., S.Sos., S.H., selaku akademisi. Diskusi ini dipandu oleh Hikmah Fahira sebagai moderator. Namun, Zulham Damu tidak sempat hadir pada kegiatan seminar tersebut, sehingga penyampaian materi dalam seminar tersebut hanya dilakukan oleh Dr. Muhammad Endang.
Ketua Panitia, Afdal, mengatakan bahwa seminar ini diangkat karena melihat cara berpikir mahasiswa saat ini yang dinilai semakin tumpul. Menurutnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa cenderung menerima kebijakan pemerintah maupun kampus begitu saja. Ia juga berharap mahasiswa dapat menjadi pemimpin yang berintegritas dan mampu menjadi teladan bagi anggotanya.
“Kami mengangkat seminar kebangsaan ini karena yang kita lihat tumpulnya cara berpikir mahasiswa sekarang sehingga itu membuat mahasiswa itu menerima langsung kebijakan-kebijakan pemerintah, seminar ini salah satu kegiatan yang kami rancang sebenarnya tujuannya untuk bagaimana mahasiswa dapat memimpin, menjadi pemimpin yang berintegritas dapat menjadi pemimpin yang dapat dicontoh bukan hanya sekedar menyuruh sekedar menyuruh-menyuruh anggotanya, seperti itu,” ungkap Afdal.
Menanggapi persoalan tersebut, Muhammad Endang dalam pemaparan materinya menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nalar dan akal sehat sebagai dasar bagi mahasiswa dalam memahami serta menyikapi berbagai persoalan kebangsaan.
Ia menjelaskan bahwa nalar merupakan kemampuan akal budi untuk berpikir secara logis, rasional, dan sistematis dalam memahami suatu fenomena. Dengan menggunakan nalar, seseorang tidak mudah terpengaruh oleh informasi maupun kebijakan tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kebenarannya.
“Mengapa perlu menyalakan nalar? Nalar itu yaa seperti tidur, nalar itu beda dengan logika, nalar itu adalah kemampuan akal budi untuk berpikir secara logis, rasional, dan sistematis dalam memahami sebuah fenomena. Sehingga insyaallah, kalau kita pakai nalar, kita pakai akal, kita tidak akan mudah tertipu, jadi karena nalar itu bisa mengubah kita kepada kebenaran. Apa perlunya kita nyalakan kembali akal sehat kita? Karena memang banyak fenomena di bangsa ini yang jujur saja meruntuhkan akal sehat kita, yang sayangnya suara-suara akal sehat itu tidak muncul, bahkan dari kampus,” jelasnya.
Lebih lanjut, Muhammad Endang menjelaskan mengenai mahasiswa dan masyarakat sipil yang memiliki peran strategis dalam mengawal jalannya pemerintahan. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui penyampaian kritik, protes, maupun tekanan terhadap pemerintah apabila terdapat kebijakan yang dinilai tidak adil.
“Mahasiswa dan masyarakat sipil dapat memberikan kritik, protes, serta tekanan kepada pemerintah untuk mengubah kebijakan yang tidak adil. Mahasiswa juga memiliki peran penting sebagai pengontrol kebijakan pemerintah melalui aksi dan kritik,” katanya.
Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai wawasan kebangsaan dan kepemimpinan secara teori saja, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam aktivitas organisasi dan lingkungan masyarakat.
Penulis : Mutiara Ramadani dan Nurul Hikmah / Anggota Magang
