Fakultas Tarbiyah di Persimpangan Jalan: Terjebak di Antara Mimpi ASN dan Realitas Lapangan

Oleh: Badarwan, M.Pd (Dosen Manajemen Pendidikan Islam IAIN Kendari) ditulis pada Desember 2025.

Fakultas Tarbiyah sedang diperhadapkan oleh persoalan yang pelik-ujian paling serius dalam sejarahnya. Moratorium dan pembatasan rekrutmen guru melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) telah memutus salah satu urat nadi harapan lulusan pendidikan. Kini, satu-satunya pintu resmi menjadi guru Aparatur Sipil Negara (ASN) hanyalah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), sebuah jalur yang semakin sempit, selektif, dan penuh ketidakpastian.

Sementara, di saat yang sama, sekolah dan madrasah swasta hanya mampu menyerap sebagian kecil lulusan. Itupun dengan jaminan kerja dan upah yang jauh dari kata cukup. Dengan demikian, krisis ini tidak lagi bersifat laten; ia telah menjelma menjadi persoalan sosial nyata yang menjadi momok menakutkan bagi generasi penerus bangsa nantinya. Berdasarkan fenomena ini, timbul pertanyaan sederhana tetapi menyakitkan: masih relevankah orientasi Fakultas Tarbiyah saat ini?

Selama ini, Fakultas Tarbiyah dibangun di atas satu imajinasi besar yang nyaris tidak pernah digugat, yakni mencetak guru yang kelak diangkat negara. Mahasiswa masuk dengan harapan yang relatif seragam yakni menjadi ASN. Orang tua menitip harapan kepercayaan pada stabilitas profesi guru, sementara kampus teguh merasa aman selama negara masih membuka pintu rekrutmen. Padahal dalam perspektif teori human capital, pendidikan semestinya meningkatkan peluang kerja dan mobilitas sosial. Namun, dalam kasus Tarbiyah hari ini, investasi pendidikan justru semakin berisiko karena tidak diiringi kepastian pasar kerja.

Ketika jalur PPPK dipersempit dan CPNS menjadi semakin eksklusif maka ribuan lulusan Tarbiyah hanya akan terjebak di ruang hampa tak bermakna. Mereka memiliki ijazah kependidikan, kompetensi pedagogik, dan legitimasi akademik, tetapi tidak memiliki ruang kerja yang sebanding. Jika ditelisik lebih mendalam, fenomena ini sejalan dengan konsep mismatch tenaga kerja, yang menjelaskan bahwa output lembaga pendidikan tidak selaras dengan kebutuhan dan daya serap pasar kerja. Dengan begitu, patut lahir dugaan jika pendidikan guru terus berjalan pada pola lama, sementara kebijakan ketenagakerjaan telah bergerak ke arah efisiensi dan pembatasan.

Sebagian lulusan kemudian beralih ke sekolah dan madrasah swasta. Namun realitas di lapangan tidak sesederhana yang sering diasumsikan. Berbagai penelitian tentang guru swasta dan honorer menunjukkan pola yang konsisten: upah rendah, status kerja tidak pasti, dan tingkat kesejahteraan yang rentan. Dalam teori segmentasi pasar kerja, sektor pendidikan swasta sering berada di segmen sekunder, dengan kondisi kerja yang tidak stabil dan minim perlindungan. Dalam situasi seperti ini, idealisme pengabdian kerap kalah oleh kebutuhan bertahan hidup.

Ironisnya, kegagalan sistem ini sering dialihkan menjadi beban individu lulusan. Mereka dituntut adaptif, kreatif, dan mandiri, tanpa disertai perubahan serius di tingkat institusi. Padahal, dalam teori institusional pendidikan, tanggung jawab penyiapan lulusan tidak berhenti pada kelulusan, melainkan mencakup kesiapan menghadapi struktur sosial dan ekonomi yang nyata. Ketika Fakultas Tarbiyah tetap bertahan pada paradigma lama, sementara konteks eksternal berubah, yang terjadi bukan sekadar kesenjangan, tetapi ketidakadilan struktural akut.

Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya akan berlapis. Bisa jadi berkepanjangan. Minat calon mahasiswa terhadap Fakultas Tarbiyah berpotensi menurun, pengangguran terdidik meningkat, hingga kepercayaan publik terhadap segemen pendidikan semakin terkikis. Beberapa riset tentang pilihan program studi menunjukkan bahwa rasionalitas ekonomi kini menjadi pertimbangan utama calon mahasiswa. Program studi yang tidak menjanjikan prospek kerja jelas akan perlahan ditinggalkan, betapapun mulianya nilai yang dibawanya.

Karena itu, transformasi Fakultas Tarbiyah tidak bisa lagi bersifat kosmetik. Ia harus menyentuh jantung persoalan. Fakultas Tarbiyah perlu keluar dari jebakan sebagai pemasok tunggal guru ASN. Ia mesti bertransformasi menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia pendidikan. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan lifelong learning dan multiple career pathways, di mana lulusan pendidikan tidak dipersiapkan untuk satu profesi tunggal, melainkan untuk berbagai peran dalam ekosistem pembelajaran.

Diketahui dunia pendidikan hari ini telah bergeser. Pembelajaran berlangsung di ruang digital, komunitas, lembaga pelatihan, dan platform teknologi. Riset tentang pendidikan abad ke-21 menegaskan bahwa kompetensi pedagogik harus berjalan beriringan dengan literasi digital, desain pembelajaran, kepemimpinan sosial, dan kewirausahaan. Sayangnya, di banyak Fakultas Tarbiyah, kompetensi ini masih ditempatkan di pinggiran kurikulum, bukan di pusatnya. Akibatnya, lulusan kuat secara normatif, tetapi lemah secara adaptif.

Meski demikian, tanggung jawab tidak boleh sepenuhnya dibebankan pada kampus. Negara juga harus melakukan koreksi kebijakan. Jika rekrutmen guru dibatasi, maka desain pendidikan guru harus diubah secara sistemik. Negara perlu mengakui pendidikan nonformal dan informal sebagai ruang kerja yang sah, untuk memperluas skema sertifikasi dan pengakuan kompetensi, serta membangun ekosistem transisi yang adil bagi lulusan kependidikan.

Tanpa itu, pembatasan rekrutmen hanya akan memindahkan risiko dari negara ke individu.
Sehingga membuat Fakultas Tarbiyah kini benar-benar berada di persimpangan jalan yang bertahan pada paradigma lama dengan mempertahankan mimpi yang tidak lagi ditopang realitas. Bertransformasi memang menuntut keberanian, pembongkaran kenyamanan, dan kerja jangka panjang, tetapi hanya jalan itulah yang menjanjikan keberlanjutan. Pilihan ini bukan sekadar soal institusi, melainkan soal keadilan bagi ribuan mahasiswa yang telah mempercayakan masa depannya pada pendidikan. Oleh sebab itu, negara mesti hadir menyelesaikan persoalan ini, karena waktu untuk memilih sesungguhnya, tidak lagi panjang.

Editor: Harpan Pajar

Tarbiyah Elit, Fasilitas Sulit

Penulis : Muh Iqbal Ramadhan

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) adalah salah satu fakultas terbesar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. Selalu banyak peminat setiap tahunnya disaat proses penerimaan mahasiswa baru di fakultas ini. Hal ini tidak terlepas dari prospek kerja yang menjanjikan di fakultas ini.

Terlepas dari populernya fakultas tersebut banyak menyisakan berbagai keluh kesah dari mahasiswa FTIK ini, dan itu selalu dirasakan setiap adanya mahasiswa baru di setiap tahunnya.

Salah satu masalah terbesar yang didapatkan adalah tidak berfungsinya pendingin ruangan atau AC, banyak mahasiswa yang merasakan ketidaknyamanan mereka saat proses perkuliahan didalam ruangan kelas akibat kepanasan. Padahal, saat kita lihat dari kejauhan fakultas ini dipenuhi oleh berbagai macam merek AC, tetapi tidak semua berfungsi dengan baik.

“Hu panas sekali itu ruangan di FTIK,kaya di neraka saya rasakan pa” Ucap salah satu mahasiswa baru pada salah satu program studi di FTIK. Hal ini mencerminkan bahwasannya pengelola birokrasi dikampus semacam tidak adil dalam menjamin kenyamanan mahasiswa.

Dapat kita lihat kondisi di fakultas lain, seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang memilki fasilitasi yang memadai.

“Jauh beda sekali kasian hawanya kalau kita pergi di FEBI sama di FTIK,serasa dingin sekali” Ucap salah satu mahasiswa baru di FTIK.

Ini terbukti bahwa terjadi kesenjangan dan memang harus diselesaikan oleh pihak dari fakultas tarbiyah ini. Saya sebagai penulis sudah berapa kali mendengarkan bahwa AC yang berada diruangan FTIK ini akan dibenahi secepatnya, tetapi sampai saat ini belum semua ruangan dapat kita rasakan perubahannya.

Mirisnya, hampir semua mahasiswa baru memberi tanggapan buruk perkara AC ini. Seyogyanya, pihak fakultas malu akan hal ini, mahasiswa datang menuntut ilmu tetapi tidak ada kenyamanan yang diberikan.

Sudah berapa kali masalah fasilitas ini didemo oleh berbagai aktivis kampus, namun belum ada penyelesaian dan titik temu yang didapatkan. Jika masalah ini tidak dapat diatasi, akan banyak mahasiswa yang tidak bersemangat dan berkonsentrasi dalam proses perkuliahan.

“Itu ditarbiyah banyak sekali AC nya, tetapi tidak berfungsi kayak semacam pajangan saja” Ucap mahasiswa angkatan 21 mahasiswa FTIK.

Selain itu ada persoalan lainnya, seperti mengenai layar Infocus yang tidak berfungsi. Banyak mahasiswa mengeluh akan hal ini, terutama saat akan melakukan presentasi menggunakan power point (PPT) yang akan ditampilkan didepan kelas.

Tentunya jika hal itu mendukung, maka mahasiswa akan efektif proses perkuliahannya. Tetapi, dapat kita rasakan tidak semua ruangan berfungsi infocusnya.

Hal yang paling nyeleneh pasa salah satu mahasiswa yang mengatakan
“Terangpi masa depanku daripada ini infocus, puh silau sekali”

Dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita ini sedang dipermainkan oleh kampus, bayar UKT lancar tetapi tidak kita nikmati fasilitas sepenuhnya.

Perkara lain adalah masalah WC dan kamar mandi. Sebaiknya dan seharusnya disetiap kamar mandi disediakan sabun atau alat pembersih untuk membersihkan tangan kita saat selesai membuang air. Tetapi yang dirasakan di FTIK tidak ada satupun sabun mandi atau alat kebersihan yang ditemukan. Alhasil, jambannya sudah mulai menguning dan sangat menyengat.

Oleh karena itu, marilah seluruh mahasiswa FTIK IAIN Kendari kita kuatkan tekad untuk membawa perubahan terhadap fasilitas fakultas kita. Memang kita patut iri kepada fakultas lain yang memiliki fasilitas yang memadai. Semoga pihak birokrasi dan pengurus FTIK dapat melihat opini dan merealisasikan semua keluhan mahasiswa.

Penulis adalah salah satu mahasiswa aktif Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, yang juga anggota aktif dari Unit Kegiatan Mahasiswa Pers (UKM-Pers) IAIN Kendari.

Jalin Keakraban Dengan Mahasiswa Baru,  HMPS PIAUD Gelar Bina Akrab

Reporter : Nini Sasmitha
Editor : Asrinawati Aziza

Konawe, Objektif.id – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Anak Usia Dini (PIAUD) Institut agama Islam negeri (IAIN) Kendari melaksanakan kegiatan Bina Akrab di Toronipa, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada tanggal 15 Oktober 2022.

Kegiatan yang mengangkat tema “Mengeratkan Tali Persaudaraan Demi Terciptanya Mahasiswa (i) PIAUD Yang Berakhlak, Berkarakter dan menjunjung Tinggi Solidaritas” ini diikuti peserta yang berasal dari angkatan 2022 yang berjumlah 22 orang, angkatan 2019 dan Pengurus HMPS PIAUD.

Ketua HMPS PIAUD Khaerati Rahma mengangkat, bina akrab ini adalah salah satu upaya membangun keakraban dan kesolidaritasan antara sesama mahasiswa PIAUD sebab  mereka dari sekolah dan daerah yang berbeda-beda.

“Semoga dapat menjalin keakraban antara senior dan junior Prodi PIAUD, juga yang paling penting menjaga keakraban antara mereka angkatan 2022 karena mengingat mereka dari sekolah dan daerah yang berbeda-beda,” ucap Khaerati Rahma saat dikonfirmasi Tim Objektif.id Minggu 16 Oktober 2022.

Nur Muliya Jaya selaku Ketua Panitia berharap agar  peserta bina akrab PIAUD dapat mengenal dan menghargai seluruh senior piaud maupun sebaliknya.

“Harapan saya peserta mendapatkan pengalaman baru dan dapat mengenal seluruh senior PIAUD serta peserta dapat belajar menghargai senior maupun sebaliknya,” harapnya.

Sementara itu, Abzah Dwi Yujiarsih salah satu peserta bina akrab PIAUD juga berharap, setelah mengikuti kegiatan bina akrab ini dia dapat memperkuat keakraban dengan teman seangkatannya maupun senior-senior yang tergabung di dalam program studi PIAUD ini.

“Saya juga berharap bisa lebih akrab dengan kakak kakak senior dengan adanya rasa kekeluargaan antara senior dan junior,” demikian ungkapnya.