Karya : Amirullah Saat senja iringan musik indah bersahutan nyanyian merdu Angin sepoi – sepoi meniup pohon bambu nan rimbun Aku meringkuk di istana sunyi dibalut selimut Memandangi langit biru dihiasi matahari yang mulai turun Terdengar isak yang mengganggu suara musik dan nyanyian indahku Bergumang dadaku, rembulanku menagis di bahuku Namun senyum dilimpahkan di hadapanku, menutup resah di dadaku Bulanku nan kokoh terang meredup tertutup kabut Aku lumpuh oleh gumang dada yang tak menentu Ujung jariku menggapai bahu yang terus saja tersedu Tak henti – henti bibirnya berceloteh keluh kesah yang menggunung Ia dihantam gelombang yang tak kunjung surut “tuturnya” Terangnya seringkali disia-siakan tak tahu terimakasih akan hadirnya Cobalah menuntunku menikmati terang “Katanya”
Menggetarkan dadaku menjelang lelap di malam itu Akupun menggugat atas angkuhku dan menghabiskan rintik isak itu disisiku