Stop!!! Fobia Gondrong

(Istimewa)

Penulis : PH

Hari ini, kita bebas menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan sendiri serta tidak boleh diintervensi sekenanya saja oleh orang lain. Selama itu kita tidak merugikan orang lain maka mereka tidak mempunyai hak untuk memaksa kita dalam merubah penampilan sesuai dengan keinginan mereka.

Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi siapapun yang beruntung melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan memiliki spesialisasi di bidang ilmu tertentu. Menjadi mahasiswa merupakan salah satu fase terpenting dalam hidup seseorang. Sebab, dunia kampus melatih mahasiswa bagaimana bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dalam berproses, bagaimana orientasi belajarnya dan lain sebagainya. Tanpa harus didikte dengan gundukan tata tertib artifisial yang memaksa hidup mahasiswa layaknya kawanan ternak yang harus selalu digiring oleh gembala yang dinamai sebagai dosen.

Mahasiswa sudah patut bebas mengatur dirinya sendiri, mahasiswa harus otonom sebagai individu. Otonomi ini kemudian diartikan dalam banyak hal salah satunya dengan gaya rambut, sesuai dengan bagaimana mahasiswa itu ingin dilihat atau bagaimana eksistensi yang ingin ia citrakan terhadap khalayak ramai.

Kampus tidak mesti alergi kepada mahasiswa yang berambut gondrong dengan menggeneralisasi  segudang interpretasi historis yang buruk. Mahasiswa terkadang merasa lucu dan mengganggap kolot pikiran oknum dosen yang selalu membangun stigma negatif terhadap mahasiswa yang berambut gondrong dalam proses belajar – mengajar di ruang perkuliahan.

Jika dalam kasus seperti itu maka urgensitas pertanyaannya apakah rambut gondrong mengganggu proses perkuliahan? Apakah mahasiswa yang berambut gondrong tidak beretika? Sampaikan kepada dosenmu cika, bahwa persoalan etika itu persoalan sikap, perilaku, tindakan, bukan persoalan penampilan. Banyak kok, oknum yang berambut rapi tetapi perilakunya seperti binatang. coba tengok para pejabat korup, rapih – rapihkan rambut dan penampilannya, bahkan ada juga oknum dosen yang melegalkan perilaku biadabnya dengan menjadikan penampilan sebagai senjata untuk melancarkan aksi pikiran cabul seksualitas hinanya terhadap mahasiswi. Itukan kurangajar, bangsat, goblok, kotor, rusak!

Stop stereotip bahwa gondrong itu jahat! Mestinya orang – orang yang hidup di zaman generasi milenial hari ini tidak lagi berkutat dan pakem bersama pikiran Tempo Doeloe. Tetapi kita harus lebih terbuka serta selalu mau mencoba menerima perbedaan. Dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ia mengatakan bahwa “seorang pelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Olehnya itu, hargai saja apa yang kemudian tidak menjadi integral pemikiran kita sendiri.

Rambut gondrong sendiri memiliki dinamika yang cukup panjang di Indonesia dalam kaitannya dengan aspek sosio – kultural dari masa pra kolonial, masa kolonial, orde lama, dan orde baru.

Pra Kolonial dan Masa Kolonial

Dimasa pra kolonial rambut gondrong dimaknai sebagai simbol kekuatan dan kewibawaan dalam banyak kerajaan Nusantara, sebelum akhirnya pengaruh Islam dan kebudayaan barat masuk di Indonesia membawa trend kultural baru yang berangkat dari konstruksi gender dengan memposisikan rambut sebagai penanda seksualitas seseorang. Bahwa laki – laki harus diasosiasikan dengan rambut pendek dan rapih sementara perempuan dengan rambut panjang, meskipun kenyataannya pada saat itu belum ditaati banyak orang. Selain peci dan penampilan rapih rambut gondrong pernah menjadi identitas pemuda dalam perjuangan revolusi Indonesia mulai dari zaman Jepang hinggga masa – masa revolusi fisik, para pejuang identik dengan rambut gondrong dan seragam militer. Orang – orang Belanda yang sudah terbiasa dengan rambut rapih dan dandanan parlente seperti kebanyakan orang Eropa saat itu, merasa gerah akan determinasi pejuang dengan kode fisik rambut gondrong, seragam militer dan pistol di pinggang. Kemudian melabeli pejuang berambut gondrong ini dengan label “ekstremis”.

Salah satu saksi hidup, Francisca C. Fanggidaej mempunyai deskripsi yang menarik akan hal itu. “Kota Yogya mendidih dari semangat dan tekad pemuda. Lantangan suara merdeka menggelegar di ruang udara kota. Sudut – sudut jalanan dikuasai pemuda, kebanyakan berambut gondrong. Mereka bersenjatakan pistol, senapan, brengun sampai Kelewang panjang Jepang dan sudah tentu bambu runcing. Kepala mereka diikat dengan kain merah. Yah, semangat juang, simbol perjuangan, perlawanan, rasa romantisme dan kecenderungan kaum pemuda untuk berlagak dengan tekad pantang mundur, merdeka atau mati yang terpancar melalui mata merah dan wajah yang memanas”. Demikian tulis Francisca C. Fanggidaej.

Walaupun rambut gondrong pernah menjadi simbol militansi pemuda revolusioner tapi pada akhirnya mereka di cap “kontra revolusioner” oleh Soekarno di masa orde lama.

Orde Lama dan Orde Baru

Saat romantisme zaman sedang berjuang melawan imperialisme barat. Gondrong menjadi mainstream gaya rambut yang di bawa oleh the Beatles dan budaya hippies. Budaya hippies pertama kali muncul di Amerika Serikat pertengahan 1960-an. Budaya hippies adalah gerakan counter – culture yang sebenarnya gerakan ini lahir sebagai antitesis dari manuver politik Amerika Serikat saat itu. Kaum hippies menilai bahwa generasi sebelumnya telah terlalu jauh dari alam mereka berasal. Menurut mereka (kaum hippies) manusia modern telah dibutakan dengan obsesi penaklukkan dan peperangan. Kemudian kaum hippies dianggap sebagai gerakan “kiri baru”. Olehnya itu, di zaman orde lama kaum hippies di cap kontra revolusioner oleh Soekarno karena dianggap sebagai gerakan kiri baru.

Ketika Orde Lama tumbang dan digantikan oleh kepemimpinan Soeharto, pro – kontra rambut gondrong masih terus berlanjut perdebatannya. Pada masa tahun 1960 – 1970 an muncul sebuah stigma yang mengatakan bahwa rambut gondrong merupakan cerminan para pelaku kriminalitas. Hal ini Bukan lagi persoalan remeh temeh bahkan, isu ini telah menjadi isu nasional. Lalu apa sebenarnya trigger dari ketakutan masa pemerintahan orde baru terhadap mereka yang berambut gondrong?

Dalam buku “Dilarang Gondrong” Karya Aria Wiratma Yudhistira. Praktik kekuasaan orde baru terhadap anak muda di awal 1970-an mengungkapkan, bahwa pemicu ketakutan orde baru berawal dari budaya hippies di Amerika Serikat. Di masa orde baru gondrong kemudian diasosiasikan sebagai aktivis bebal yang tidak bisa diatur. Pemerintahan orde baru memiliki kekhawatiran bahwa demam hippies mulai melanda Indonesia, kemudian berdalih bahwa rambut gondrong tidak sesuai dengan semangat pembangunan. Fobia terhadap gondrong kemudian terlihat sangat jelas ketika pemerintah membentuk Bakoperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Membaca historis panjang terkait rambut gondrong, seharusnya menjadi bahan diskursus kita dalam menilai orang-orang ataupun mahasiswa yang berambut gondrong. Karena kultur gondrong sudah mengalami peralihan, yang awalnya adalah bentuk perlawanan terhadap budaya obsesi penaklukkan dan peperangan di Amerika Serikat. Kini, gondrong hanya dijadikan mode berpenampilan saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Karena, ketika kita masih bercokol dengan doktrin negatif  di masa lalu terkait dengan rambut gondrong, artinya kita adalah orang – orang yang belum bisa menerima kreativitas pembaharuan kaum muda, menutup diri untuk menerima perbedaan penampilan orang lain.

Biarkan saja mahasiswa berekspresi sesuai dengan kemauan dalam menampilkan penampilannya Yang mereka anggap estetik. Dengan catatan tidak melakukan gerakan anarkisme dan kriminalitas. Dosen jangan terlalu kaku melihat penampilan mahasiswa yang gondrong, apalagi sampai memarjinalkan mahasiswa gondrong sebagai pelaku kriminal. Stop tipu-tipu! Stop diskriminasi mahasiswa gondrong!

Tidak peduli seberapa dekat kesewenangan-wenangan dosen dan kampus dalam membangun asumsi negatif terhadap mahasiswa gondrong. Itu tidak penting! Sebab mahasiswa tidak akan pernah selaluh patuh dan tunduk seperti budak. Walaupun yang kuat dengan kesewenang-wenangannya akan menelan yang lemah. Tapi sekali lagi itu tidak penting! Selama pikiran kritis dan daya analisa mahasiswa masih kuat tidak ada yang perlu di risauhkan. Perlawanan mahasiswa itu besar, bagaimana kalau sekaligus kuat? Bahaya kalian tuan-tuan dosen! Hati-hati! Perlakuan serta persepsi sesuka hati dosen sudah jadi kenyataan. Namun, pembantaian mahasiswa dalam menggulung tikar-tikar kelaliman dosen juga busa jadi kenyataan. Waspadalah tuan!

Note :
Penulis adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari dan salah satu kader HMI komisariat Al-Ghazali. 

Mahasiswa Sebagai Agen Hedonisme dan Matrealisme

Oleh: S.A.A

Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan sebagaimana fungsi dan tugas Mahasiswa itu sendiri katanya Agrn Of Change, dan Agen Perubahan dalam setiap momen – momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan.

Beberapa tahun belakangan ini telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari Masa penjajahan Belanda, Masa Penjajahan Jepang, Masa Pemberontakan PKI, Masa Orde Lama Hingga Masa Orde Baru, peran mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut.

Bila membahas mahasiswa, berarti kita sedang menjelaskan sekelompok kaum elit yang miskin namun berintelektual mengapa demikian dikatakan miskin..? Karena 99% masih bergantung pada orang tua, namun mahasiswa juga mempunyai  daya saing, bermutu tinggi, pemberani, dan perantau.

Meyakini bahwa sebagian besar pembaca tidak setuju dengan pendapat penulis di atas, bahkan mungkin pembaca memiliki ragam ekspresi, ada yang terheran-heran, ada yang terkejut, ada yang sepakat atau tidak sepakat bahkan sampai ada yang tertawa-tawa terbahak-bahak atau bisa jadi ada yang bersedih.

Sedikit menelisik lebih dalam tentang mahasiswa, mengapa demikian apa yang menjadi persoalan mahasiswa mengapa tulisan ini seakan menerka-nerka, jawabnya adalah mahasiswa saat ini hampir-hampir tidak layak lagi disebut sebagai mahasiswa. Benarkah? Ada apa? Apa kata dunia bila mahasiswa tak layak dipanggil, disebut, dan disanjung sebagai mahasiswa?

Jika kita melihat situasi dan kondisi terkini kemahasiswaan, berteriak kencang meneriakan bahwasanya dialah mahasiswa yang paling hebat, dialah mahasiswa yang telah banyak menamatkan bacaan buku, berbagai macam judul buku, bahkan dialah mahasiwa yang selalu demo membela kebohongan yang diselimuti kebenaran.

Saat ini, mahasiswa yang dipahami ketika sudah mampu mengangkat megafon, membaca satu lembar buku bahkan mampu berbicara didepan banyak orang mereka sudah mengkalim diri merekalah mahasiwa yang sebenarnya merekalah aktivis yang sesuangguhnya. Sungguh ironis doktrin yang diterapkan kepada calon penerus bangsa.

Bisa kita simpulkan bahwa kemunduran tengah terjadi di tubuh mahasiswa saat ini.  Kurang tajamnya aktivitas sosial mahasiswa yang dapat menyentuh problematika sosio-kultural rakyat serta kurang produktifnya mahasiswa dalam menyalurkan karya-karya yang menginspirasi dan mengharumkan nama institusi menjadikan mahasiswa kurang diperhitungkan ditengah-tengah masyarakat.

Mahasiswa yang seharusnya menjadi pembeda atau agent pelurus dan perubahan di tengah masyarakat, kini mahasiswa tengah menjadi pemecah belah atau agent penerus “tikus-tikus berdasi dan perubahan pola pikir dan pola gerakan ke arah pragmatis yang saat ini menjadi tontonan oleh rakyat-rakyat yang sedang tertindas, yang tengah berharap belas kasih serta perjuangan dari mahasiswa saat ini.

Jika berbicara tentang mahasiswa sudah tak manis lagi untuk disanjung, ketika penerus lahir semuanya sesuai apa yang menjadi kegarusan sebagai seorang mahasiswa, setiap orasi setiap seminar tentang kemahasiswaan setiap pengkaderan di organisaai selalu menriakan sumpah mahasiswa dan rata rata mahasiswa sekarang adalah pendusta bahkan sumpah mahasiswa itu sendiri dilanggar dan dijadikan bahan lelucon. Sungguh miris.

Di zaman Melenial ini kids zaman now katanya dalam bahasa asing yang saat ini meracuni fikiran manusia sering sekali kita mendengar istilah-istilah baru dan perilaku-perilaku baru yang sifatnya aneh tapi sangat digemari sampai-sampai menyita perhatian berbagai lapisan masyarakat tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa yang diharapkan mampu menetralisir keadaan atau bahkan membungkam segala hal yang diistilahkan dengan kekinian atau kids jaman now dan lain sebagainya, tapi malah tidak justru mahasiswa terjebak, bahkan mahasiswa menjadi pemeran dari kerusakan moral zaman ini.

Seharusnya mahasiswa sadar akan ini. Di tangan mahasiswalah estafet perjuangan bangsa ini diteruskan serta di tangan mahasiswa lah roda kepemimpinan bangsa kedepannya. Bila mahasiswa hari ini maju dan berdikari, maka maju dan berdikarilah bangsa dan negaranya. Namun sebaliknya, jika mahasiswa hari ini lemah dan mundur, maka bersiaplah bangsa dan negaranya dijajah kembali oleh orang-orang asing”.

Mahasiswa, Bagaimana Kabarmu?

Hai mahasiswa, bagaimana kabarmu? Apa yang sudah kau dapatkan diperaduan mengutip butir butir ilmu? Apa kado terindah untuk orangtuamu nanti ketika kembali dikampung halaman.? Berapa IPK mu? Sudah berapa banyak karya yang kau ditorehkan? Sudah berapa buku yang dibaca?

Jawabannya renungkanlah dan tepuk dada tanya selera.

Mahasiswa coba lakukan ini, tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. Dimulai dari gagasan yang diwujudkan dalam tindakan, kemudian tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan, Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali akan menjelma menjadi watak, dan watak inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib. Jadi nasib kita, kita sendirilah yang menentukan. Nasib kita ada di tangan kita, tentunya tidak lepas juga dari Sang Penentu.

Memang tak ada yang pasti dalam hidup, sebagai abdi dalam setiap pertempuran hidupnya, mahasiswa hanya bisa berupaya dan berusaha keras untuk mewujudkan segala cita dan asa. Tepat apa yang dikatakan Tan Malaka “Terbentur, Terbrntur, Terbrntuk” dan sebab semua keputusan ada ditangan Tuhan.

Sebagai abdi Tuhan, mahasiswa haruslah taat dan ingat mahasiswa sedang menyandang gelar ke maha-an, sudah jelas bahwa mahasiswa sangat diperhatikan oleh Tuhan sebab menyandang gelar kemaha-an adalah kemuliaan dan keagungan yang diamanahkan dan di alamatkan Tuhan untuk sekelompok kaum elit dan intelektual yakni mahasiswa.

Seharusnya, bagi mahasiswa yang sadar tentu ia akan amanah dan benar benar menjunjung  tinggi sifat dan fungsi mahasiswa yang sebenarnya dan melakukan hal-hal pengembangan diri dengan rasa penuh tanggung jawab serta mampu mungkin menjalankan fungsi kekhalifahannya. Namun, bagi mahasiswa yang belum sadar yang masih tertidur pulas, perilaku seperti inilah yang akan mengundang kemurkaan Tuhan.

Menilai dari apa yang telah dilakukan mahasiswa sekarang, tentunya kita tahu, demonstrasi seperti yang dilakukan mahasiswa sekarang tidak menghasilkan apa-apa, gerakan yang dibangun rata-rata adalah gerakan yang didasari kepentingan kelompok bahkan individu, gerakan yang selalu dibangun adalah gerakan pembodohan.

Sekarang bukan lagi masyarakat biasa yang diadikan korban dalam permainan para elit politik maupun para pimpinan-pimpinan kampus namun mahasiswa yang seharusnya menjadi pembeda dari masyarakat justru telah dijadikan kelinci percobaan para penguasa, mahasiswa selalu melakukan aksi demonstrasi namun itu bukan hadir dari diri sendiri gagasan itu dipola oleh penguasa dan mahasiswa dijadikan kambing hitam.

Perdebatan-perdebatan maupun diskusi terbuka yang sering dilakukan oleh kaum intelektual bangsa ini juga hanya membawa dampak yang sangat kecil pada kemajuan bangsa dan negara kita. Yang menjadi pertanyaan, kalau apa yang telah dilakukan sekarang tidak dapat menyelesaikan permasalahan bangsa ini, apa yang dapat mahasiswa lakukan agar bangsa ini dapat terus berkembang?

Kenyataannya, disaat masyarakat mengalami penderitaan karena berbagai marginalisasi yang dilakukan penguasa. Kita justru melihat mahasiswa sibuk mengurusi proyek proyek mencari gerakan yang bisa di 86. Mengurusi hal hal yang seharusnya tidak diurus, seharusnya mahasiswa lebih berperan dalam memikirkan kemajuan bangsa mulai dari bagaimana mengembangkan setiap kampus masing masing, bahkan banyak pula korban media sosial yang sudah termakan oleh hasutan setan dan iblis, sekarang mahasiswa sudah menjadi agen hedonisme dan materialisme bahkan menjadi makelar politik penguasa yang korup. Jika demikian pantaskah gelar “maha” itu diletakkan dalam pundak mahasiswa?

Mahasiswa seharusnya mengerti akan tanggung jawab yang dipikulnya sangat berat, seperti kata pepatah asing mengatakan: “with great power comes great responsibilities”, mengemban nama “maha” tentunya membuat kita memiliki tanggung jawab yang “maha” juga. Tanggung jawab sebesar apa yang dipikul mahasiswa? Yaitu tanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa ini, tanggung jawab untuk menentukan nasib ratusan juta orang rakyat Indonesia.

Setidaknya ada tiga jenis mahasiswa yang ada di Indonesia sekarang, yaitu:

Pertama, mahasiswa yang menjadikan demonstrasi hanya sebagai ajang untuk unjuk gigi, agar dirinya dapat dikenal sebagai mahasiswa yang hebat mahasiswa yang berani, mahasiswa yang ikut-ikutan demonstrasi untuk bolos masuk kuliah. Mahasiswa seperti ini tidak benar-benar memperdulikan rakyat maupun negaranya. Mahasiswa seperti inilah yang biasanya melakukan aksi-aksi anarkis maupun terlibat dalam bentrok dengan aparat keamanan pada saat demonstrasi.

Kedua, mahasiswa yang tidak mempedulikan keadaan politik sekitarnya. Mereka hanya berusaha untuk belajar dengan baik, yang penting datang ke kampus, kuliah, mengikuti ujian, dan lulus dengan Indeks Prestasi (IP) yang bagus. Mereka tidak memperdulikan apakah Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dinaikkan harganya, maupun siapa-siapa saja yang akan berpartisipasi dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2023 mendatang.

Ketiga, mahasiswa yang benar-benar memperhatikan dan memperdulikan nasib bangsanya. Mahasiswa seperti ini adalah mahasiswa yang memikirkan apa yang dapat dilakukan olehnya untuk bangsa ini. Mereka biasanya menyuarakan keadilan, berdemonstrasi dengan tenang dan mengikuti aturan, mengikuti perdebatan-perdebatan maupun diskusi untuk memajukan bangsa. Ini yang menjadi masalah besar adalah sangat sedikit bahkan minoritas adalah mahasiswa golongan ketiga ini.

Melihat mahasiswa saat ini, mahasiswa sudah terdegradasi kemahaannya. Kampus sudah menjadi ajang fashion show dan perkumpulan keboh, apakah mahasiswa yang seperti ini layak untuk menjadi penerus bangsa kita? Apakah mereka layak menjadi penentu nasib ratusan juta jiwa rakyat Indonesia?

Mahasiswa yang benar-benar memikirkan nasib bangsanya tahu, jawaban dari inflasi dan segala kesulitan ekonomi bukanlah merengek-rengek dan berteriak minta tolong. Jawaban dari tekanan ekonomi ialah peningkatan produktivitas. Produktivitas di mana-mana, baik di kelas, di tempat kerja, maupun di masyarakat. Jadi, jawaban dari segala kesulitan rakyat yang ada bukan dengan hanya sibuk berdemonstrasi namun bagaimana kita bisa memberikan solusi melahirkan solusi, membantu dari setiap kesulitan maupun keterpurukan setiap lapisan masyarakat.

Note:
S.A.A adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari

 

 

Tangan Kiri Kampus

 

(Kiri simbol perlawanan. Foto: facebook.com)

Penulis : P H

Sering kita melihat bahasa tubuh dosen yang terlalu kaku sebab tidak cukup siap dan kuat menghadapi tulisan ataupun ucapan bernada kritik pedas dari mahasiswa. Beberapa memang sudah sanggup mengatasi dan beradaptasi dengan baik, walaupun jumlahnya masih sedikit.

Baca juga: Sarkastis! Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa

Masa! Pihak kampus tidak pernah salah? Apakah karena menganggap mereka sebagai dosen sehingga mahasiswa tidak boleh memberi kritikan? Tentu tidak kawan! Secara tandas dalam buku catatan seorang demonstran, Soe Hoek Gie telah mengatakan bahwa “guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan murid bukan kerbau”.

Baca juga: Dicari! Hilangnya Presma IAIN Kendari

Ingat mereka juga adalah manusia biasa, yang pada dasarnya memiliki kekurangan dan tidak menuntut kemungkinan akan berbuat salah. Olehnya itu, representasi mahasiswa sebagai tangan kiri kampus jangan takut untuk berdinamika dengan dosen ataupun pihak birokrasi kampus. Rasa penghormatan itu memang perlu, tetapi bukan keharusan yang mutlak. Artinya apa, bahwa prinsip harus tetap ada! Jika salah dan keluar dari jalur komitmen dan tidak konstitusional, maka bentuk perlawanan harus kita gaungkan, entah itu melalui kritikan gerakan demonstrasi ataupun dengan cara-cara konstruktif lainnya.

Sehingga akan sangat mudarat bagi mahasiswa untuk tidak melahap apa yang kemudian menjadi buah pemikiran Muhammad Sulhijah dalam tulisannya yang berjudul Surat Cinta Untuk Maba yakni “sebagai mahasiswa kita harus pandai-pandai memfilter setiap perkataan dosen kalau dia salah maka sampaikan bahwa itu salah, begitupun sebaliknya karena ruang akademik adalah arena pertarungan intelektual baik itu antara dosen dan mahasiswa maupun antara mahasiswa dan sesama mahasiswa”.

Baca juga: Surat Cinta Untuk MaBa

Tentu akan begitu kontras pemandangannya jika kita melihat suatu fenomena seorang mahasiswa yang mengklaim diri sebagai aktivis kritis atas kesewenangan-wenangan dosen tetapi dalam praktiknya ia takut ketika berhadapan dengan dosen-dosen yang bengis.

Mengapa harus takut kawan? Justru sebagai tangan kiri kampus maka konfrontatif yang kita lakukan sebagai mahasiswa harus lebih frontal lagi untuk membungkam kesewenang-wenangan dosen yang tidak normatif. Seharusnya kita sadar, jika mahasiswa menyuarakan kebenaran lalu ia diperangi maka kampus sedang dipimpin oleh penjahat yang ingin mengiring kita ke jalan yang sesat.

“Dalam hidup kita, cuman satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini”? Coba renungkan perkataan Pramoedya Ananta Toer tersebut. Bagaimana mungkin menolong yang tertindas jika dirimu sendiri tidak memiliki keberanian. Apakah kamu bangga tidak memiliki keberanian? Apakah tidak malu dengan hidupmu yang tak mempunyai harga sedikitpun? 

Jangan jadi pengecut kawan! 

Ijtihad perjuangan perlawanan mahasiswa akan terus digelorakan, kita tidak layak untuk takut saat hendak menyuarakan suatu kebenaran. Kalau kita dan Soek Hoek Gie sama-sama mahasiswa, lalu apa yang membatasi kita untuk menjadi teladan sepertinya?

Ingat kawan kita memiliki keberanian itu. Minimal, suara kebenaran yang kita serukan tidak mengingkari eksistensi kita sebagai mahasiswa, sebagai seorang pemuda, dan sebagai seorang manusia. Kita bukanlah mahasiswa yang hanya lulus  membawa gelar dan ijazah tanpa esensi.

Kawan-kawan sekalian pasti bertanya-tanya mengapa saya memberikan label “Tangan Kiri Kampus” terhadap mahasiswa. Secara historis istilah kiri awalnya muncul dari kebiasaan anggota parlemen Prancis pasca revolusi saat bersidang. Mereka yang pro pemerintah duduk di sebelah kanan dan yang kontra duduk di sebelah kiri. Kebiasaan ini berlangsung sejak mereka bersumpah di lapangan tenis tanggal 20 Juni 1789, mereka sepakat untuk tidak terpisah sampai Prancis diberikan sebuah konstitusi. Kejadian tersebut yang kemudia dikenal dengan nama Tennis Court Oath.

Hingga sekarang, “kiri” identik dengan perlawanan (oposisi). Iya, mahasiswa adalah oposisi kampus sehingga kita tidak asing lagi dalam mengartikan celoteh “kiri” sebagai simbol perlawanan atas kebijakan kampus yang tidak berpihak pada mahasiswa.

Lantas bagaimana dengan tangan kanan ? Jika “kiri” cenderung progresif dan menghendaki perubahan untuk menjadi lebih baik, maka “kanan” cenderung konservatif yang menolak perubahan itu dan menghendaki berlangsung, atau Pro Status Quo. Kanan cenderung pragmatis, meskipun tidak seratus persen.

Dalam dunia pergerakan, mahasiswa harus mengerti makna filosofis tangan kanan dan kiri. Jadi, ketika kawan-kawan ditanya alasan mengangkat tangan kanan dan kiri. Jangan menjawab seperti “tangan kanan adalah tangan yang sopan, dan kiri adalah tangan yang kurangajar”. Ditertawaiko itu nanti.

Mahasiswa adalah kaum intelektual kawan, paham sebab-akibat bukan anak kecil yang hanya diajarkan tata krama.

Mestinya mahasiswa memberikan pemahaman kepada para dosen bahwa kritik harus dimaknai sebagai kepedulian dan dosen harus biasa-biasa saja ketika ia dikritik oleh mahasiswanya. Seorang dosen kalau dia bermutu tanpa meminta penghormatan mahasiswa pasti akan menghormatinya. Mengkritik dosen itu adalah kewajiban mahasiswa. Kalau sih dosen bertanya mengapa mahasiswa tidak memberi apresiasi terhadap dosen, ya tinggal kita jawab karena tidak ada yang mau diapresiasi. Seperti begitu. Penghormatan itu berasal dari hati nurani bukan karena paksaan. wajar saja kalau dosen banyak mendapat kritikan mahasiswa, karena sudah itu konsekuensi logis seorang dosen yang tidak mampu dan malas membaca pikiran mahasiswa.

Apakah seorang dosen harus diberi pujian oleh mahasiswa ketika ia telah melakukan tugas dan kewajibannya? Jawabannya tidak kawan! Karena itu memang kewajiban dia sebagai seorang tenaga pengajar untuk  memberikan pengetahuan tanpa membatasi kebebasan berpendapat mahasiswa. Terkecuali ada progres kinerja di luar dari kewajiban dosen, itu baru kita kasih jempol. Dengan kata lain ia melakukan sesuatu yang melampaui tugas dia. Kalau bahasa Inggrisnya beyond the off duty.

Kan sama misalnya ketika mahasiswa mendapat Indeks Prestasi “A” kemudian kita bertemu dosen yang memberikan nilai tersebut, lalu kita meminta pujian apakah sih dosen akan memberikan pujian? Tentu tidak! Sih dosen pasti menjawab “pala lu goblok” kamu memang harus dapat nilai A karena itu adalah kewajiban kamu. Kalau kamu dapat IP A+  nah itu baru bapak atau ibu kasih pujian. Analogi sederhananya seperti itu kawan.

Perlu disadari, dewasa ini kita berada di dalam lingkungan orang-orang yang kosong ide minim prestasi. Jika mahasiswa masih memberikan pujian terhadap dosen yang tidak patut untuk mendapatkan keistimewaan itu, maka mahasiswa hanya sekedar konsumen, bukan sebagai agen of change. Jadi, sudahi pujian tololmu kawan. Sekali lagi kita harus ingat bahwa setiap kejadian yang terjadi orang akan memelihara harapan sekaligus kecemasan dan hari ini kecemasan lebih tinggi dari harapan. Olehnya itu, tidak ada keculasan untuk tidak melakukan perlawanan. 

Berusahalah untuk selalu melakukan perlawanan sebab ada harapan yang harus mahasiswa perjuangkan !

Hidup mahasiswa!!!

Note :
P H adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari Progran Studi Tadris IPA

Sarkastis! Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa

 

(Mahasiswa Sebagai Agent of Change dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Foto: Repro. google.com) 

Penulis : P H

Dengan berbagai ragam suara, dalam keadaan yang berbeda-beda, dan oleh berbagai golongan, tujuan perjuangan kita sudah dinyatakan yaitu tercapainya cita-cita luhur meratanya keadilan sosial. Sangat mengagumkan apa yang ditulis Tan Malaka ini dalam bukunya yang berjudul aksi massa. Sekali lagi, rasa kebanggaan dengan pikiran futuris para pendahulu bangsa ini selalu membuat kita tergegau, betapa dahsyatnya bertapak di jalan pikiran yang mereka buat. Namun kebanggaan itu menjadi kegalauan dengan keadaan mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa yang mengalami degradasi moral dan intelektual saat ini.

Tak serau mahasiswa kita secara lahiriah tampak modern sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi cara berpikirnya masih baheula. Iya, seperti masih bercokol di zaman primitif yang belum mengenal baca tulis (buta huruf). Kekalahan dalam persaingan intelektual menyebabkan menyingsingnya pikiran tidak piawai dan anarkistis, tidak melihat sesuatu dalam sifat yang sebenarnya. Ini berlaku terutama dikalangan segelintir orang yang kekosongan kepalanya baru saja diisi dengan pengetahuan-pengetahuan dasar. Sehingga berlagak keren menganggap diri bagaikan sangat pandai dari orang lain. Seperti makna lirik lagu enau “banyak gaya kosong isinya”. Kasihan ya ! Mereka hanya tidak sadar saja bahwa mereka hanya pandai di dalam pikiran mereka sendiri. 

Maksud penulis adalah berusahalah keluar dari zona nyaman dan sering-seringlah introspeksi diri. Agar arogansi, kesombongan, dan kebodohan, yang mereka anggap pandai dapat terurai melalui interaksi dari berbagai kalangan latar belakang yang berbeda-beda. Jalan seperti itulah untuk mengetahui kedangkalan Petahuan (kak petahuan atau pengetahuan?) aku, kamu, dan kita semua !

Jelas kita bisa komparasikan perbedaan kemajuan pikiran antara mahasiswa yang rutinitas waktunya hanya untuk santai, rebahan, main game, keluyuran tidak jelas dengan mahasiswa yang berkeras hati mencari ruang-ruang literasi sebagai upaya untuk mengembangkan potensi diri. Di zaman modern ini kita sedih dan heran melihat mahasiswa yang hanya sekedar kumpul omong kosong tanpa terjadi pertengkaran intelektual. Selayaknya perkembangan zaman saat ini itu paralel dengan perkembangan pengetahuan mahasiswa.

Kemajuan era digitalisasi hari ini tentu membuat segala sesuatu hal terasa mudah dilakukan. Namun ketergantungan berlebihan membuat mahasiswa selalu menganggap mudah segala sesuatu hal tanpa mau lagi berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Sehingga, wajar saja kalau mahasiswa semakin culas, lemah, cengeng, dan banyak mengeluhnya. Tahunya bicara bodoh terus !

Tentu ketika kita bertanya, apa yang mereka ketahui tentang pemenuhan hak-hak rakyat ? Pasti secara spontan mereka bisa menjawab. Tetapi yang perlu kita cek adalah referensinya dari mana ? Apakah dari bung Karno melalui buku di bawah bendera revolusi jilid satu dan duanya? dari Tan Malaka melalui buku aksi masanya ? Sutan Syahrir dengan buku yang berjudul perjuangan kita ? Mungkin melalui puisi perlawanan Wiji Thukul ? Gerakan Munir dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia ? ataukah dari Marsinah dengan perjuangannya menuntut pemenuhan hak-hak buruh ? Pasti jawaban yang diberikan hanya nonsens dan apologi. 

Dalam banyak kasus kelompok elit marjinal ini  cuma  sibuk bertengkar di lorong-lorong asrama putri sampai lupa bahwa ruang-ruang diskusi memerlukan pertarungan gagasan melalui adu argumentasi. 

Disinilah kritisme mahasiswa mulai redup, apalagi kalau sudah hedon dan apatis. kata teman-teman Jakarta taik loh guys !

Bagaimana mungkin bicara tentang perjuangan keadilan sosial secara merata jika seorang terpelajar (katanya) masih terlalu goblok meramu setiap masalah dalam proses penyelesaiannya. Padahal sudah banyak infrastruktur ruang-ruang literasi yang difasilitasi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman.

Apa sih urgensi kumpul-kumpul tanpa ada dialektika literasi yang terjadi ? Ada yang memberikan jawaban “kami lebih senang dengan hal-hal instan seperti ini, omong kosong, tertawa bahagia, karena tidak ada pembahasan serius untuk diperbincangkan. Dan itu kami anggap sebagai kreativitas”. Sangat bangga mengatakan bahwa itu adalah kreativitas, sungguh kolot pikiranmu kawan ! Mmmmm… beli rokok sama kopi saja masih minta-minta sama juniornya di kampus. Itu sih, namanya bukan kreativitas tapi KEREAKTIV.

Mahasiswa merupakan bagian integral dari perguruan tinggi yang dikenal sebagai simbol intelektualitas, Maka pengabdian kepada masyarakat sesuai kompetensi intelektualnya merupakan tanggung jawabnya secara moral dan secara intelektual. Mahasiswa juga pada hakikatnya adalah seorang intelek sebab intelektualitas merupakan ciri khas yang inheren dalam diri mahasiswa sebagai kelas menengah terdidik.

Tetapi ada realitas lain yang cukup menyedihkan, bahwa tradisi ilmiah dan literatur dikalangan mahasiswa belum begitu kuat. Interaksi gagasan secara kontinyu dan intensif belum menjadi menu utama dalam aktivitas keseharian sebagian besar mahasiswa juga belum terbiasa untuk melakukan pertarungan gagasan dan perkelahian wacana. Wajar kalau kemudian, pisau analisis yang mereka miliki untuk membedah berbagai permasalahan sosial masih tumpul karena jarang diasah. Justru tak sedikit mahasiswa yang terjebak berpikir pragmatis, oportunis, hedonis, apatis, subyektif, parsial, dan tampak hanya menjadi problem speaker an sich.

Sesungguhnya kamu mampu dengan pertengkaran intelektual kawan namun kemalasanlah dalam menempa diri yang menyebabkan pikiran kolot dan kebodohan tumbuh semakin mengakar. Kan percuma tiap ada agenda bersama adik-adik di kampus sering menyuarakan studi dengan baik untuk memperoleh kecerdasan, ilmu, kepandaian yang diperlukan, sambil membina dan mengembangkan diri mental dan fisik, demi kemampuan sebesar-besarnya untuk hari esok. Sedangkan diri sendiri saja tidak mampu untuk berpikir cerdas dan produktif. Sebenarnya kamu tidak tumpul kawan, tajam tapi berkarat !

Sesama mahasiswa saya ingin mengajak kawan-kawan sekalian untuk membangun kembali budaya-budaya literasi karena melihat dunia kampus yang semakin hari terasa kian pragmatis, materialistis, bahkan hedonis. Sebelum semua akar-akar jiwa intelektual akhirnya meranggas dan tercerabut dari jati diri kita sebagai mahasiswa.

Bukankah imam Syafi’i telah mengatakan “jika kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan”. Jadi Ingat kawan bahwa kemarau panjang perjuangan mahasiswa baru saja dimulai. Olehnya itu, tidak ada waktu untuk berleha-leha, bersantai, apalagi bermalas-malasan. Hargai dan manfaatkan waktumu!

Sejatinya mahasiswa tidak hanya menunggu datangnya sebuah momentum, justru mahasiswa harus menciptakan momentum itu sendiri. Semoga apa yang kita upayakan menjadi momentum kebangkitan dan kesadaran.

Mungkin jalan kita boleh sama, tapi nasib belum ada yang tahu. Belajarlah sampai kamu tak bisa berpikir lagi. Dan usahakanlah bahwa kamu akan terus berpikir untuk tidak akan pernah berhenti belajar.

Terus berjuang !

Note :

P H adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari Progran Studi Tadris IPA

Berkarya dengan Bahagia Ala Seniman Kampus

Kemerdekaan adalah hak semua bangsa ungkapan ini merupakan salahsatu redaksi yang terdapat dalam UUD Negara RI 1945. Saya kira itu cukup keren dalam membakar semangat perjuangan pada waktu itu. Tetapi tidak sekeren para penikmat malam yang menghabiskan waktunya hanya bercermin dengan layar kaca handponenya, benar mereka adalah mahasiswa kebanggaan Negara yang rutinitasnya hanya menghabiskan waktunya bermain game online menghabiskan uang orang tuanya untuk membeli paket internet. Hobynya tidur subuh bangun sore sungguh sosok teladan yang membanggakan.

Tapi terserahlah asal kau bahagia seperti judul lagu band armada. Ia bahagia, saya kira bahagia juga itu kemerdekaan seperti halnya yang saya tulis ini sebagai wujud ekspresi kebahagian saya. Bahagia itu penting bahkan Buya Hamka pun dalam bukunya Tasawuf Modern itu membahas tentang kebahagiaan. Sederhananya bahagia itu bersyukur dan ikhlas dengan eksistensi diri tanpa harus terbebani oleh entitas lain.

Bagaimana malam minggu kalian? Semoga bahagia dan baik baik saja, tak semendung langit di sore hari. Seolah olah semesta sedang bersekongkol dengan para jomblo di seantero negeri.

Tapi ada yang menarik di malam minggu kali ini sebab ada beberapa mahasiswa kampus yang menggelegar pentas seni mereka menamakannya malam sejuta seni semoga saja mereka ini bukan para jomblo yang sedang bersekongkol dengan semesta yang sekedar untuk mengisi malam mingguanya agar terkesan produktif.

Mereka mengangkat tema berkarya dengan bahagia menarik sih ya. Walaupun kesan penampilannya seolah olah ada unsur gerakan pertobatan secara berjamaah. Sebagai mahasiwa yang cukup sesepuh di kampus yang juga tergabung dalam organisasi Seni tersebut cukup kagumlah dengan kreatifitas mahasiswa generasi sekarang trobosannya tidak bisa ditebak tetapi memang pada prinsipnya doktrin untuk berkarya itu penting sebab itu membentuk kemandirian dalam mengekspresikan diri,

Saya pernah membaca salah satu buku yang membahas tentang seniman tapi lupa sih judul bukunya apa yang jelasnya di dalam buku tersebut ia membahas bahwa seniman itu sama dengan tuhan memang terkesan lumayan ekstrim sih ia menjelaskan bahwa seniman dan tuhan itu kesamaanya sama sama mampu melahirkan ralitasnya sendiri. Ya dalam hal ini saya sepakat tetapi pada kadar yang berbeda, saya tidak mau membahas terkait kesamaan antara seniman dan tuhan teralu jauh karena kajiannya berat coy, serius!! bahkan beratnya melebihi menyelesaikan skripsi.

Salahsatu senior pernah mengatakan bahwa seni adalah sebagai media perlawanan terhadap realitas sosial ia menceritakan pada pertengahan abad ke 19 masehi ada seseorang yang berkebangsaan belanda namanya Eduar Dawes Deker menulis sebuah buku novel yang berjudul Max Havelaar buku tersebut berisi tentang penyelewengan bupati dan kepala residen pada system taman paksa yang berlaku di Hindia Belanda dan kritik tersebut mengunggah hati para kaum humanis di Belanda untuk melakukan protes terhadap kerajaan belanda dan 10 tahun setelah novel itu terbit Belanda menghapuskan system kerja paksa di Indonesia.

Kemudian kita kenal juga R.A Kartini dengan bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi tentang kumpulan surat Kartini dengan sahabat penanya yang belakangan diketahui adalah seseorang yang berkebangsaan Belanda. Di dalam surat tersebut berisi terkait gagasannya tentang kekangan system feodalisme dan kolonialisme yang tentunya menghabat kemajuan bangsa pribumi. Ia juga mencantumkan gagasannya bagaimana seharusnya peran perempuan dalam kehidupan tatanan sosial yang kita kenal sampai hari ini dengan istilah emansipasi wanita.

Ada juga Ismail Marzuki yang mewujudkan integrasi melalui seni dan sastra di usianya yang baru beranjak 17 tahun ia telah berhasil menciptakan lagu pertamanya yang berjudul “O Sarinah” pada tahun 1936″. Ia adalah sosok yang menjauhkan diri dari lagu lagu barat dan kemudian fokus menciptakan lagu lagunya sendiri dan lagu – lagu yang ia ciptakan sangat di warnai oleh semangat kecintaanya terhadap tanah air.

Dan yang terakhir senior itu juga menceritakan kisah perjuangan Wiji Thukul, ia menceritakan bahwa Wiji Thukul bukan hanya seorang aktivis tetapi juga sebagai penulis puisi perjuangan. Yang khas dari sosok Wiji Thukul bahwa ia bukannya menulis puisi tentang protes, melainkan sosoknya menjadi represntasi akan protes itu sendiri. Karena itu jangan heran kalau puisinya gampang melebur dalam setiap aksi momen pergolakan dan berbagai aksi protes.

Nahasnya pada tahun 1998 Wiji Thukul menghilang dan hilangnya secara resmi di umumkan secara resmi oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) pada tahun 2000.

Kontras mengatakan bahwa hilangnya Wiji Thukul sekitan tahun 1998 karena di duga oleh aktivitas politik yang di lakukukan Wiji Thukul sendiri dan saat itu bertepatan dengan operasi represif Rezim Orde Baru dalam rangka upaya pembersihan aktifitas politik yang bertentangan dengan Rezim Orde Baru. Dan sejak saat di nyatakan hilang saat ini keberadaan Wiji Thukul masih misteri apakah ia masih hidup atau sudah tiada.

Sebagai mahasiswa yang mengangumi coretan tanganya saya sangat terkesimah ketika pertama kali membaca tulisannya di dalam buku Bangkitlah Gerakan Mahasiswa yang di tulis oleh Eko Prasetyo. Di dalam buku tersebut terdapat satu puisi yang berjudul “Ucapkan Kata – katamu” pada bait terakhir berbunyi “Jika kau menghaba pada ketakutan kita akan memperpanjang barisan perbudakan” yang kemudia puisi tersebut mengsugesti saya tentang bagaimana cara saya bersikap dan bertindak.

Sehingga pada prinsipnya secara historis seni memiliki peran yang saya nilai cukup besar dalam proses perjuangan pada masa masa perjuangan bangsa kita, dan Berkarya dengan Bahagia adalah wujud perjuangan.

Berkarya dengan Bahagia adalah wujud kemerdekaan diri. Ia! seperti kamu! Kamu juga wujud karya yang katanya ayah pidi baiq kita adalah karya kedua orang tua kita yang di selundupkan dari surga di kamar pengantin. Ya tanpa harus di jelaskan saya kira kamu sudah paham maksud dari itu.

Berkarya dengan Bahagia adalah wujud perlawanan. Ia! Perlawanan terhadap penindasan diri pada sikap yang tidak produktif sebab sikap yang pasif adalah wujud penjajahan diri.

Berkarya dengan Bahagia adalah wujud ekspresi diri. Ia! ekspresi tentang keberanian dalam mengambil sikap atas fenomena sosial.

Berkarya dengan Bahagia, Bahagia dengan Berkarya, dan Teruslah Berkarya!.

Penulis: M.S

Terimakasih Gus Menag, Apa Kabar Bunda?

Belum lama ini, Menteri Agama Republik Indonesia telah menyampaikan kebijakannya mengenai penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk mahasiswa PTKIN. Tak heran lah, sebab PTKIN menjadi binaan Kementerian Agama. Terimakasih Gus Menteri, sepertinya kami tertolong lagi nih, hehe… “Gus memang perduli kepada Mahasiswa”. 

Sepertinya kabar itu merupakan kabar baik bagi mahasiswa. Sebab, pandemi yang berdampak pada sektor ekonomi menjadikan banyak mahasiswa bingung “duitnya dapat dimana?”. Lagian sekarang PPKM, memang nyari ngutang dimana? Pembayaran mau tutupmi ee. 

Sekelas PTKIN biaya pendidikannya lebih kecil sebenarnya dibandingkan dengan kampus umum dan swasta lainnya, namun tetap juga tetap terus menjadi perhatian pemerintah dan instansi pendidikan untuk meringankan biaya pendidikan akibat dampak yang dialami mahasiswa selama pandemi COVID-19, utamanya PPKM. Akhir-akhir ini begitu terang-benderang kita dipertontonkan dengan aksi-aksi beberapa instansi pendidikan yang acuh dari intruksi pemerintah dalam hal pengurangan biaya pendidikan.

Sebagai mahasiswa mahasiswa ekonomi ke bawah sebenarnya  merasa kecewa dengan aksi-aksi seperti itu. “Sebut saja PHP”. Tapi sudahlah, penulis tidak ingin terlalu mengulas PHP seperti apa yang dimaksud, “Sakit jika di ulas lagi”.

Kabarnya, jika tidak keliru, tujuh hari lalu keringanan uang semester  mencapai lebih dari Rp 169 miliar pada tahun anggaran 2021 berdasarkan pengakuan Gus Menag. “Keringanan UKT tersebut tersebar di 58 PTKIN yang terdiri dari 24 Universitas Islam Negeri (UIN), 29 Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan 5 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN),” (Gus Menag). 

Apa yang disampaikan Gus Menag sebenarnya terjadi, namun beberapa instansi pendidikan PTKIN seakan tidak merespon positif niat baik Kementerian Agama. Demikian tersebut dapat dikroscek di kampus saya kuliah. “Gus Menag? dikampus saya kuliah hanya perpanjangan bayar biaya pendidikan saja nggak ada penurunan yang ta maksud bela, hemm”. Apa kabar Bunda?.

Mengutip apa yang disampaikan Gus Menag, “keringanan UKT diberikan dalam dua semester, yakni genap (Februari 2021) dan ganjil (Agustus 2021). Keringanan tersebut terbagi dua jenis, yaitu penurunan UKT satu tingkat di bawahnya atau pengurangan UKT dengan rentang 10% sampai 100%”. Jelas kan , semester ini ada lagi penurunan biaya pendidikan. Bunda Apa Kabarnya?.

Kami mahasiswa sekarang beranggapan jika afirmasi Menag kepada mahasiswa dan orang tuanya yang  mengalami dampak dari pandemi COVID-19 tidak terealisasi atau “Janji-janji Jhe Deela, tidak ada eya jhe kasiank”.  “Tidak masalah sebenarnya, tapi hati-hati saja Bund dengan PHP”. 

Ini bukan salah Gus Menag lagi..

Tapi tidak tau siapa mau disalahkan?

Tapi ramalan penulis, mungkin karena instansi pendidikan abai atau cuek dengan afirmasi Gus Menag. Sebagai catatan “Gus Menag perlu mengevaluasi aspirasi itu”.

Apa Kabar Bunda?.

Beberapa hari lalu, banyak mahasiswa ‘menggerutu’, mungkin karena fulusnya kurang. Diperpanjang pembayaran pendidikan, bukan bertambah fulusnya tapi malah berkurang karena membiayai perut. Banyak sebenarnya bertanya, “Tidak adakah pengurangan biaya pendidikan?” Saya jawab : “Adaji, tanya bunda langsung bagaimana kabarnya?”.

Afirmasi Gus Menag itu sudah menjadi jawaban dari depresi mahasiswa soal dampak ekonomi dengan biaya pendidikan dianggap membebani selama pandemi COVID-19. Terimakasih Gus Menag, Apa Kabar Bunda?.

Penulis : Muh. Rifky Syaiful Rasyid

(Muh.Rifky Syaiful )

Fenomena Childfree dalam Pandangan Islam

Istilah Childfree akhir akhir ini menjadi perbincangan hangat dijagat maya setelah YouTuber Gita Savitri mendeklarasikan diri sebagai Childfree. Istilah Childfree mungkin terkesan masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia secara umum yang notabene lebih cenderung mengadopsi budaya Parenting (pengasuhan). Secara sederhana istilah Childfree adalah keputusan yang diambil seseorang untuk tidak memiliki anak setelah mereka menikah. Mereka tidak berusaha untuk hamil secara alami ataupun berencana mengadopsi anak.

Alasan yang paling umum untuk memutuskan menjadi childfree adalah bahwa cara ini efektif untuk menekan overpopulasi selain itu juga childfree merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan bumi.

Di sisi lain juga ada factor ekonomi dan factor social yang melatar belakangi lahirnya penganut childfree. Mereka memiliki kekhawatiran tidak akan bisa membiayai biaya hidup anak kelak, ada yang beranggapan bahwa anak hanya akan menjadi beban dan penghambat kesuksesan karir, ada juga tidak menyukai anak anak serta khawatir tidak bisa menjadi orang tua yang baik.

Lantas bagaimana islam dalam merespon dan menyikapi paham ini? Yang secara nyata islam merupakam agama mayoritas di Indonesia  sehingga tentunya islam memiliki tanggung jawab moral dalam memberikan pencerahan baik itu secara spiritual, ekonomi maupun social atas dampak dari hadirnya paham ini.

Pengertian dan Sejarah Childfree

Dikutip dari Wikipedia, childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. Istilah childfree dibuat dalam bahasa Inggris di akhir abad ke 20 oleh St. Augustine sebagai penganut kepercayaan Maniisme (Maniisme adalah salah satu aliran keagamaan yang bercirikan Gnostik atau Gnostisisme. Gnotisisme sendiri adalah gerakan keagamaan yang mencampurkan berbagai ajaran agama, yang biasanya pada intinya mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah jiwa yang terperangkap di dalam alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan yang tidak sempurna), percaya bahwa membuat anak adalah suatu sikap tidak bermoral, dan dengan demikian (sesuai sistem kepercayaannya) menjebak jiwa-jiwa dalam tubuh yang tidak kekal. Untuk mencegahnya, mereka mempraktikkan penggunaan kontrasepsi dengan sistem kalender.

Dalam buku No Kids: 40 Reasons For Not Having Children, Corinne Maier tertulis beragam alasan bagi seseorang yang memilih dan memutuskan untuk childfree. Mulai dari kurangnya finansial, masalah kesehatan, hingga kepedulian akan dampak negatif pada lingkungan yang bisa mengancam seperti over population dan kelangkaan sumber daya alam. 

Sebenarnya paham Childfree ini sudah lama mencuat sejak akhir tahun 2000 an dan bahkan di Negara – Negara maju pilihan hidup ini sudah menjadi sesuatu yang populer.

Islam dan Childfree

Surat An Nahl Ayat 72, Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?”

Maka dapat dilihat tujuan pernikahan dalam Islam salah satunya ialah untuk memperoleh keturunan. Tentunya dengan harapan keturunan yang diperoleh ialah keturunan yang saleh dan salehah, agar dapat membentuk generasi selanjutnya yang berkualitas.

Selain itu juga tujuan pernilakan ialah membangun generasi beriman. Pasalnya membangun rumah tangga islam yang harmonis, sudah turut serta membangun generasi muslim yang beriman agar tidak terjadi kepunahan. Sebagaimana dalam salah satu surah Al-Quran berikut, artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur ayat 21).

Sehingga secara sederhana salah satu tujuan pernikahan ialah gerakan melahirkan regenerasi yang berkualitas, baik itu berkualitas secara spiritual, intelektual dan emosional agar di masa depan generasi ini bisa terus berjuang untuk mempertahankan eksistensi agama Islam.

Jadi jika kita menyimpulkan hubungan antara Islam dan childfree itu sangat saling bertolak belakang karena Islam sangat menganjurkan adanya keturunan sebab salah satu tujuan pernikahan dalam islam ialah untuk melahirkan regenerasi beda halnya dengan paham childfree yang bertindak secara deregenersi berupaya untuk tidak ingin memiliki keturunan dalam balutan hangatnya ikatan suami istri.

Childfree dari Segi Ekonomi

Alasan yang paling fundamental para penganut Childfree dari segi ekonomi adalah ketakutan dan ketidakmampuan untuk membiayai biaya kebutuhan anak. Factor finansial memang sangatlah penting dalam membina rumah tangga. Hanya saja jika hal itu di jadikan salah satu alasan utama untuk memilih menjadi Childfree rasanya konyol saja sebab di luar sana masih banyak pasutri (pasangan suami istri) yang berharap ingin memiliki keturunan namun tak kunjung di berikan.

Bahkan Tuhanpun sudah menjamin bahwa setiap anak sudah memiliki rejekinya masing – masing jadi kenapa kita harus pesimis akan masalah finansial jika kita sudah memiliki keturunan. Keluarga adalah alasan utama dari setiap perjuangan besar dan anak adalah bunga – bunga dunia sehingga di situlah pentingnya kehadiran seorang anak mampu memberikan warna dan keindahan dari setiap perjuangan besar.

Bila kita memiliki kendala dalam mendidik anak maka bukan anaknya yang tidak mau kita hadirkan dalam rumah tangga akan tetapi justru kita harus belajar mengelola finansial keluarga dan belajar berbagai hal agar mental kita siap untuk menjemput kehadiran buah hati dalam rumah tangga.

Jadi menurut penulis, dilihat dari kuatnya anjuran, keutamaan serta urgensitas keberadaan keturunan yang sholeh dan sholeha dari suatu pernikahan, serta pertimbangan yang tidak prinsipil untuk tidak memiliki keturunan. Maka prinsip childfree dalam suatu pernikahan sebagaimana kasus di atas hendaknya tidak di adopsi oleh kaum muslim/muslimah, sebab hal tersebut tidak sesuai dengan anjuran agama, serta menyalahi makna substansi dari sebuah pernikahan.

Penulis: MS 

(Ilustrasi Childfree sumber Arami Stock Foto)

Kuota Internet Macet, UKT Menjepit, Orang Tua Menjerit


(Ilustrasi Stres. Foto: Repro Google.com)


Penulis : Mahasiswa Tampannya IAIN kendari

       Semenjak covid-19 masuk ke Indonesia 02-03-2021 pemerintah pun menghimbau untuk melakukan social distancing atau jaga jarak dan juga menghimbau untuk tetap berada di rumah dan sekarang sudah ada ppkm yang sudah memasuki level 4 dan entah sampai level berapa mungkin sampai level max.

Semenjak pandemi ini membuat beberapa kegiatan harus di kerjakan di rumah termaksud perkuliahan.

Selama masa pandemi ini, kegiatan perkuliahan juga dilakukan dari dalam rumah. sudah banyak perguruan tinggi yang mulai mengubah metode perkuliahan yang awalnya bertatap muka menjadi online, dan membatasi kegiatan di sekitar kampus karena ancaman wabah COVID-19 ini. Salah satunya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari yang melakukan skema perkuliahan secara daring sejak Maret 2020.

    Selama berubahnya skama perkulihan yang tadinya di ruangan, praktek, dan bercanda tawa dengan teman-teman di ruangan, semuanya berubah semenjak pandemi yang entah akan berakhir sampai kapan. Perkulihan saat ini hanya melalui via whaspt, zoom dan segala bentuk online lainnya.

    Akan tetapi selama melakukan perkuliahan online kuota internet yang harus selalu terisi, dan itu di tanggung sendiri oleh mahasiswa yang biayanya bukan main juga tiap bulannya dan tambah lagi gangguan jaringan.

Pihak kampus hanya berapa kali membagikan kuota untuk para mahasiswanya dan katanya semua itu tergantung keputusan pusat yaitu kementerian agama yang menjadi naungan IAIN Kendari ini, Seperti kata dari warek III ketika di temui teman-teman mahasiswa.

“Karena kuota ini bukan pengadaan di kampus pengadaannya harus dari kementerian agama”.

    Bukan hanya masalah kuota saja yang menjadi masalah kami mahasiswa tetapi SPP/UKT yang apa bila tiba di penghujung semester akan menjadi kewajiban yang mutlak bagi kami mahasiswa dan itu sungguh sangat memberatkan kami di tengah pandemi covid-19 yang entah akan berakhir kapan.

    Perkuliahan yang di lakukan di balik layar tetapi SPP tetap harus di bayar Orang tua mahasiswa menjerit Untuk pembayaran SPP/UKT anaknya dan tak sedikitpun mahasiswa menikmati fasilitas kampus.

Kuliah di balik layar SSP tetap di bayar…..Yaa

    Kuota internet untuk melaksanakan kuliah di tanggung sendiri oleh mahasiswa dan ketika ada permasalahan nilai terhadap dosen sangat sedikit kebijakan untuk perbaikan padahal kita ini susahnya minta ampun untuk membeli kuota untuk mengikuti setiap perkuliahan. Tidak hanya itu, ketika ada pengurusan untuk keringanan ukt syaratnya juga sungguh terlalu Kenapa tidak saja pihak kampus melakukan pemotongan 40%-50% secara menyeluruh kan kuliahnya juga online dan kami tidak menikmati fasilitas kampus sedikitpun.

Seperti percakapaan senior dan junior

Ketika senior bertanya pada temanku tentang pengurasan pengurangan UKT

Seniorku: “kau kamu tidak mengurus pengurangan UKT kah.?

Junior: “tidak”

Seniorku: “kenapa….?

Junior: “masa syaratnya tidak ada kategorinya untuk orang tua ku, masa saya mau karang terdampak Korona, tidak mungkinnya mi, sama saja saya minta²kan itu”.

Dan berikut syarat-syarat untuk pengurangan ukt saya lampirkan.

Cobalah di simak dengan baik

    Masa yang harus mendapatkan keringanan UKT hanya orang tuanya yang meninggal di tengah pandemi, mengalami pemutusan kerja, mengalami kerugian usaha dan mengalami penurunan.  pendapatan. Padahal kita mahasiswa juga terdampak dari segi pendidikan.

    Lalu bagaimana dengan kami yang orang tuanya sudah memang pendapatannya menengah ke bawah sejak dulu.

    Kenapa sih pihak kampus tidak mau memotong secara keseluruhan saja dan tidak usah adakan persyaratan khusus untuk UKT ini kan kita kuliah online ji juga. Kuota tanggung sendiri UKT bayar utuh…? Padahal semenjak pandemi ini, kita mahasiswa sangat terdampak darinya perkuliahan yang harusnya dilakukan di ruangan.

Para pimpinan IAIN Kendari “sungguh ironis dan bau terasi” kata dari diksi puisinya seniorku.

    Kepada pihak kampus mungkin kalian harus juga membuat dena/peta di kampus untuk para mahasiswa baru yang bisa di bilang mahasiswa yang terlahir dari generasi online, kan kasihan apa bila mereka memasuki kampus ini, mereka tersesat padahal luasnya kampus ini tidak seperti stadion bernabeu atau sirkuit mandalika, seperti berberapa bulan lalu sebelum PBAK ada maba yang mencari koperasi kampus untuk membeli almater tapi dia datangnya di gedung PKM(pusat kegiatan mahasiswa) dan bebera hari yang lalu lagi ketika aku dan teman-temanku duduk bersantai sambil mengisap rokok suria  di fakultas FEBI ada seorang maba yang bertanya di mana fakultas SYARIAH padalah sudah jelas ketika dia menoleh ke kanan tulisan yang menandakan bahwah di sanalah adanya fakultas yang dia cari, saya tidak menyalahkan dia bertanya, tetapi untuk mengantisipasi mahasiswa yang tersesat seperti itu di kampus yang luasnya tidak sampai 100 hektar, maka pihak kampus harus membuatkan dena/peta untuk para maba itu.

Ketika aku selesai menuliskan ini dan di terbitkan, mungkin saya akan di cari oleh pihak kampus. dan ketika itu terjadi saya hanya bisa katakan dari tulisanku ini, walaupun tidak beraturan tetapi ini keluh kesah saya selama kuliah online, saya adalah mahasiswa tergantengnya IAIN Kendari kalau mau cari saya mungkin pihak kampus harus mengadakan perlombaan mahasiswa ganteng atau semacam idol se IAIN kendari ini dan yakin dan percaya bahwa saya akan ikut dalam perlombaan itu.

Aku cinta padamu IAIN Kendari tapi sayang cintaku bertepuk sebelah tangan hanya karna kebijakan dari birokrasimu.

Nggak Ada Manfaatnya, Apakah Kampus Masih Memaksakan Kuliah Online?

Mengawali tulisan ini, penulis mengajak pembaca mereview kembali bagaimana wabah COVID-19 menguasai dunia tak terkecuali indonesia, hampir 2 tahun  sejak hidupnya wabah ini yang kemudian berbagai negara dari belahan dunia mencari solusi dari problem ini. Terlepas dari itu pemerintah indonesia sebagai kuasa-kuasa yang hari ini berkuasa menggunakan kekuasaanya untuk membentuk kebijakan atau aturan yang katanya menstabilkan kondisi negara di era pandemi, dari kebijakan PSBB, PSBB Transisi sampai PPKM level pedas sampai terpedas. Yang mempengaruhi berbagai sektor dari ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya, terkhusus dunia pendidikan siswa dan mahasiswa dipaksa melaksanakan pembelajaran atau kuliah online atau yang kita sapa Dalam Jaringan (DARING) Sebagai delik atas kekuasaan. Dalam prosesnya masih banyak pra mahasiswa baru yang bertanya Apa itu kampus ? apa urgensinya kuliah? 

Kampus

       Kampus dari bahasa Latin campus yang berarti “lapangan luas”, “tegal”. Dalam pengertian modern, kampus berarti, sebuah kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas atau perguruan tinggi. Bisa pula berarti sebuah cabang daripada universitas sendiri.

Kuliah

        Kuliah adalah kegiatan belajar-mengajar di jenjang pendidikan tinggiTujuan kuliah sendiri adalah bagaimana Membentuk karakter dan mengembangkan diri, Membuka wawasan dan memperluas pengetahuan, Meningkatkan keterampilan yang bermanfaat dan Memperoleh relasi sebanyak-banyaknya.

       Namun faktanya tidak demikian, kampus hanyalah lahan bisnis tanaman yang menghasilkan bagi yang menanamnya, bagaiamana tidak mahasiswa telah membayar spp atas tagihan kewajiban, lantas apakah haknya terpenuhi secara penuh? Saya rasa tidak salah satunya kebijakan kuliah Daring dari manifestasi aturan yang berkuasa, mencerdaskan atau membodohi, silahkan simpulkan sendiri. Dosen hari ini tak lebih dari penceramah yang hanya di berargumentasi bukan lagi media diskusi, sebut saja dosen A, memfasilitasi link untuk masuk media sosial hanya untuk mengugurkan kewajiban. Mahasiswa yang tak mengikuti aturan dianggap tak hadir yang melawan dianggap tak sopan. Dear Dosen, sesungguhnya kita bukanlah robot yang digerakan dengan remot ataupun budak yang harus diadili dengan dalih mengajari.

Baca Juga: Surat Cinta Untuk MaBa

        Sejarah peradaban indonesia mencatat bagaiamana awal mula pergerakan mahasiswa tanah air era 1908 dengan didirikanya organisasi budi utomo yang dibentuk atas asas sistem kolonialisme Belanda yang menurut mereka sudah selayaknya dilawan dan rakyat harus dibebaskan dari bentuk penguasaan terhadap sumber daya alam yang dilakukan oleh penjajah terhadap bangsa ini. Begitupula tahun 1998 silam, mahasiswa bergerak membawa satu niat abadi bagaimana kemudian turunya sebuah rezim yang dianggap otoriter dan akhirnya soeharto turun tahta. Hal diatas adalah sepenggal kisah masa lalu yang mungkin bisa terjadi di masa ini? Jika kita mampu berfikir bahwa bukan aturan yang membatasi pikiran yang tapi pola pikir yang mengkerdilkan cara pikir.

        Akhir kata Penulis ingin mengajak umat mahasiswa agar kiranya ditengah kebijakan kuliah online fasilitas yang dihasilkan dari evolusi zaman yang kemudian merubah kontruksi berfikir yang kolot menjadi modern kiranya menjadi alat 1000 manfaat dalam pengembangan otak manusia, bukan hanya kampus sebagai media berfikir, bahwa masih banyak alat merubah pola pikir  dari membaca buku, diskusi dan berselancar dalam dunia fiksi.

 Penulis: A.M

(Ilustrasi kuliah online. Foto: Radar Bojonegoro)

Surat Cinta Untuk MaBa

 

Penulis : MS

Tidak terasa semenjak covid 19 melanda dunia, lingkungan kampus dan kemahasiswaan telah melahirkan 2 generasi, kita istilahkan saja dengan generasi online atau generasi daring.

Tentu ini unik, kenapa penulis katakan unik sebab berbeda dari generasi sebelumnya yang terlahir dengan metode offline. Lantas pertanyaannya apa sih yang membedakan generasi online dan generasi offline?

Penulis bisa mengatakan bahwa yang membedakan hanyalah terletak pada metode sehingga secara substansi tidak ada yang bisa di lebihkan. Maka poin pentingnya adalah penulis berusaha menekankan bagaimana pentingnya suatu proses mau seperti apapun caranya sebab di setiap proses di situ terdapat nilai yang nilai itu tidak bisa di ganti oleh nominal.

Pembaca yang budiman, melalui tulisan ini penulis ingin menyapa para calon calon pemimpin bangsa (genersi online) selamat datang, selamat menjadi mahasiswa. Ini bukan persoalan status kawan tapi ini persoalan tanggung jawab sebab di atas pundak kawan kawan terdapat jutaan harapan, harapan siapa? Harapan orang tua, harapan keluarga dan harapan masyarakat yang ada di sekeliling kita.

Menjadi mahasiswa bukan hanya semata mata kita mengenyam pendidikan dan berakhir pada gelar sarjana tetapi kenyataanya lebih dari itu, kita di tekankan menjadi manusia yang responsive dalam artian peka terhadap situasi yang ada, kita di tekankan untuk tau diri dan sadar diri sehingga rasa tanggung jawab itu bisa lahir dari diri kita.

Salah satu cara untuk melahirkan rasa tanggung jawab itu adalah dengan berorganisasi, kenapa organisasi begitu penting? Sebab organisasi adalah ikhtiar membentuk karakter diri dalam artian gerakan kualitas diri, mahasiswa merupakan agent of change yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam menjalankan amanah tersebut mahasiswa dituntut lebih aktif serta kritis dalam menghadapi sesuatu.

Organisasi merupakan tempat untuk mengasah berbagai hal termasuk dua hal diatas. Dalam berorganisasi kita akan terasah maupun terlatih dalam suatu kebersamaan dengan orang lain dengan melupakan masing-masing ego yang dimiliki setiap orang. Sejatinya organisasi merupakan suatu yang sangat sulit dipisahkan dengan mahasiswa yang sedang belajar didalam maupun di luar kampus. Organisasi merupakan elemen sangat penting sebagai alat penunjang mahasiswa saat mereka sedang berproses.

Berorganisasi menuntun kita dapat mengetahui dunia kampus lebih luas. Dalam berorganisasi seseorang di bentuk mentalnya. Jika kita sudah punya mental, maka kita akan dipermudah untuk melanjutkan perjalanan organisasi di tahap selanjutnya. Berbeda dengan orang yang tidak pernah mengikuti organisasi, jangankan untuk berbicara di depan orang ramai, berdiskusi dengan ruang lingkup kecil pun dia tidak sanggup untuk menyalaurkan pendapatnya. Oleh karena itu organisasi dianggap sangat penting bagi mahasiswa.

Ingat kawan kawan tidak ada orang yang besar di Negara ini tanpa melalui proses dalam berorganisasi sebab di organisasi juga mengajarkan kita tentang ilmu kepemimpinan, menajeman, administrasi dan ilmu – ilmu yang mempu menujang kualitas diri kita. Sehingga kuliah tanpa beroganisasi itu ibaratkan memakan sayur tanpa garam rasanya akan hambar tidak ada sensasi dan kenikmatan di dalamnya. Dan pada akhirnya menjadi mahasiswa hukumnya wajib untuk berorganisasi.

Tentang Dosen

Secara definisi dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Yang artinya dosen adalah guru sekaligus mitra diskusi dalam proses perkuliahan sehingga keharmonisan antara dosen dan mahasiswa harus di utamakan.

Antara dosen dan mahasiswa tidak ada yang lebih tinggi darajatnya kedua – duanya sama, dosen tidak akan dikatakan dosen kalau tidak memiliki mahasiswa begitupun sebaliknya mahasiswa tidak ada gunanya kuliah kalau tidak memiliki dosen, sehingga dosen harus menyayangi mahasiswanya dan mahasiswa harus menghargai dosennya. Dan dosen juga itu bukan tuhan yang setiap perkataanya itu adalah mutlak kebenaran sehingga sebagai mahasiswa harus pandai – pandai memfilter setiap perkataan dosen kalau dia salah maka sampaikan bahwa itu salah begitupun sebaliknya karena ruang akademik adalah arena pertarungan intektual baik itu antara dosen dan mahasiswa maupun antara mahasiswa dan sesama mahasiswa.

Kawan dunia kampus adalah mimbar akademik maka aktualisasi diri dalam lingkungan kampus itu sangatlah penting. Kita harus kristis terhadap persoalan – persoalan kampus apa lagi itu yang menyangkut mahasiswa. Terkadang kita sering menemukan dosen yang mempersulit mahasiswa, sulit untuk di hubungi, gemar memarahi dan memberikan nilai yang tidak wajar maka dosen seperti itu harus di ingatkan sebab tindakan seperti itu adalah upaya merusak keharmonisan antara dosen dan mahasiswa. Jadi kawan jangan takut sama dosen.

Bersahabat dengan Senior

Sebagai mahasiwa baru mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata senior. Iya senior, walaupun penulis yakin bahwa belum semua mahasiswa baru tahun ini sudah mengenal senior – seniornya. Senior itu kejam, senior itu sombong, senior itu jutek, senior itu suka marah – marah dan mungkin itu yang ada di kepala kalian, tapi tenang kawan senior tidak semengirikan itu walaupun mungkin bias jadi ada tetapi itu hanya segelintir orang saja.

Senior dan junior merupakan hubungan yang tidak bisa di pisahkan ia mengkristal secara emosional dengan berbagai macam alasan dan latar belakang. Senior tidak akan pernah ada tanpa ada junior begitupun junior ia tidak akan ada tanpa ada senior maka jangan menganggap senior secara berlebihan.

Pada prinsipnya senior adalah seseorang yang lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan sehingga secara sederhana senior itu adalah sahabat dalam berdiskusi untuk mengetahui lebih jauh terkait dunia kampus dan dunia kemahasiswaan maka sebagai mahasiswa baru jangan merasa takut ataupun sungkan untuk bersahabat dengan senior.

Dan pada akhirnya sebagai penutup dari tulisan ini penulis ingin menekankan satu hal kepada adik adik mahasiswa baru bahwa kalian adalah orang – orang yang di pilih atas dasar restu Tuhan untuk dapat dan bisa merasakan nikmatnya pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi maka pesannya adalah bersyukurlah sebab masih banyak saudara – saudara kita yang ingin merasakan nikmatnya melanjutkan pendidikan sampai kejenjang perguruan tinggi tetapi apalah daya Tuhan masih berkehendak lain.

Bagaimana cara mensyukurinya yakni dengan memanfaatkan setiap momen dan peluang yang ada sehingga segala rutinitas yang kita lakukan ada nilai produktifitas di dalamnya. Teruslah maju dan berkembang lebih baik setiap waktunya, nikmatilah setiap prosesnya sebab hasil tidak akan pernah menghianati proses. Kita bukanlah Takemicih (karakter utama dalam serial kartun Tokyo revengers) yang bisa kembali ke masa lalu dan mengubah masa depan.

Penulis adalah mahasiswa aktif Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. 

 

 

             

           

                

Secerah Harapan Di Bawah Timbunan Penderitaan

 

(Harpan Pajar. Foto: Istimewa)

Sulawesi Tenggara, sebuah pulau bagian tenggara Sulawesi diantara 18.306 pulau dalam wilayah geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kaya akan adat istiadat budaya, potensi sumber manusia yang mumpuni, dan sumber daya alam yang begitu melimpah sehingga menjadi salah satu tempat strategis bahkan surganya para investor melakukan investasi. Beribu kota, Kendari terletak tak jauh dari kampung halamanku Desa Lalonggombu, Kecamatan Andoolo, Konawe Selatan.

Ada sesuatu yang kontras terlihat disana. Sebelum memasuki Kendari, kita akan disuguhi pemandangan pemukiman kumuh di sepanjang jalan. Kemudian pemandangan itu berubah menjadi rumah-rumah besar dan gedung setengah pencakar langit. Situasinya begitu senjang. Cara termudah melihat kesenjangan dari provinsi berkembang adalah dengan melihat ibu kotanya atau setidaknya daerah-daerah yang menjadi sentral industrial.

Sulawesi Tenggara tampak sebuah kota yang gelisah dalam bangunan yang rapuh. Rumah-rumah warganya begitu senjang. Ada yang hanya terbuat dari bambu dianyam sudah tak layak pakai, tapi ada yang tinggi menjulang membelah langit. Jika kita memasuki rongga-rongga perkampungan kumuhnya, Sulawesi Tenggara, serupa muara dari sungai yang baru saja dilanda banjir bandang. Kumuh dan tak terurus, tempat menumpuknya segala sisa-sisa barang dan manusia yang diseret banjir dari perkampungan-perkampungan pedesaan bumi anoaku.

Orang-orangnya hiper agresif mereka saling sikut demi sesuap nasi, itu adalah sebuah preferensi sebagai bentuk defensif untuk bertahan hidup melewati kemelaratan dan dan penderitaan oleh angkara murka penguasa. Jika suatu saat terjadi konfrontasi yang besar aku tidak tahu apakah tubuh kecilku ini bisa selamat dari sana. Haruskah konflik antar saudara sebangsa dibenarkan untuk tujuan tertentu, katakanlah itu keadilan ? Jika pun boleh, apakah ia harus berbentuk perang ?

Sementara itu, jika kita melihat kantung-kantung kemewahan ditengah-tengahnya, Sulawesi tenggara adalah sebuah ballroom untuk pesta bersama gadis-gadis seksi dengan kue-kue dan minuman mahal. Percakapan gelak tawa, dentingan suara gelas, dan jeritan suara gadis yang mencapai puncak klimaksnya di atas kasur empuk, menyembunyikan suara-suara tangisan kemiskinan di luar sana. Hamparan karpetnya pun menyembunyikan butiran debu yang terinjak-injak dan tak kasat mata di bawahnya. Debu itu adalah aku dan orang-orang yang bukan bagian dari pesta itu.

Memasuki ruangan tersebut, bekal rekaman kemiskinan desa telah mengasingkanku. Aku tahu karena kakakku yang mempunyai teman para investor asing kadang mengajakku ke acara-acara perusahaannya. Olehnya aku sering diajak mengikuti pesta orang-orang “beradab” itu. Akupun dikenalkan terhadap kolega teman kakakku, Mereka terbata-bata bicara dalam bahasa tanpa kebohongan, dan aku tak tahu satu kosa kata pun yang diucapkan, mereka gagal meyakinkanku untuk menyukai permainan mereka.

Aku bukan anti asing, karena banyak juga pahlawanku adalah orang asing seperti yang berada di buku 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Lagi-lagi bayangan sahabat-sahabat kecilku yang tak bisa sekolah di TK mengejar-ngejarku. Sebuah kutukan Cartesian masih melekat pada dunia pendidikan kami semua tanpa kami menyadarinya. Sialnya, pemerintah yang suka memberi perintah itupun tak kunjung berbuat apapun untuk menolong mereka. Mungkin menjadi sedikit saja seperti pahlawan-pahlawan dibuku 100 tokoh dunia itu, rasanya tidak terlalu buruk untuk anak – anak dipelosok pedesaan yang tanpa dosa menjadi korban dari keserakahan penguasa.

Mencampur-campur secuil terhadap Seokarno, sepotong Tan Malaka, Seutas Marx, maupun sepenggal Thomas Jefferson sudah cukuplah untuk bisa membagi-bagi “wikoro” (olahan makanan yang terbuat dari ubi hutan) untuk anak-anak desa agar tidak mati kelaparan karena kemiskinan. Mungkin aku juga perlu mencampurkan mereka semua adonan newton, Einstein, Marie currie dan Thomas Edison untuk memastikan sains fisika dan kimia bermanfaat bagi anak-anak dusun itu.

Entah bagaimana mimpi-mimpi itu akan terjadi. Penguasa tidak pernah menginginkan matahari kembar di atas langit kekuasaannya. Selama berkuasa, dia tidak akan pernah membiarkan para oposisi hidup. Orang-orang yang selalu mengkritik pemerintah (mengancam popularitasnya), penguasa cenderung akan menyingkirkan dengan cara-cara tidak demokratis bahkan berujung tragis.

Hei! penguasa yang dilegitimasi secara konstitusional oleh rakyat  Bumi anoa. Tegakkan hukum diatas sumpahmu, lihat itu banyak raut petani yang tak lagi tersenyum lega. Apa kau dengar? jangan tutup telingamu, jangan kau pejamkan matamu. Apa kabar tanah kelahiranku, yang penuh dengan intrik, banyak drama layaknya sinetron berepisode lama.

Lihat itu banyak parade penganggur yang tampak murung, suara yang kalian kantongi seolah mati tertimbun kubur. Ada sampah diatas sumpah, mereka bersantai sambil memegang lembaran, berseragam elegan dengan atribut pemerintah, memoles citra melemahkan kepekaan.

Pemangku jabatan, inikah hadiah dari kotak kardus bergembok baja? Bagaimana nasib jelata. Sudahlah anggarkan saja untuk bangun ibukota, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat. Jangan bicara perihal kemakmuran, lihat disana ada kerusuhan sebab nasi mereka telah dicuri. Kemana perikemanusiaan adil dan beradab, Kemana ? Ditengah bencana rela begadang demi agenda pengusaha. Entah mengapa kelakuan mereka tak lebih dari anak TK. Jago retorika dan pandai bersandiwara. Bangsa sudah merdeka mengapa larut dalam sistem berduka.

Pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara cenderung masih berkonotasi terhadap pengaturan yang bernuansa kekuasaan bukan pelayanan. Dalam buku teori dan analisis politik pemerintahan yang ditulis oleh inu kencana syafiie mengatakan bahwa Antara kekuasaan dan pelayanan harus diseimbangkan. Pelayanan yang tidak baik dan benar akan beresiko dekadensi moral sedangkan kekuasaan yang sewenang-wenang akan beresiko tirani. Sehingga bisa kita terjemahkan bahwa Pelayanan hendaknya memiliki unsur yaitu membuat masyarakat semakin puas, mutunya semakin membaik, lapangan kerja semakin terbuka lebar, dan estimasi pengerjaan administrasi publik yang efektif. Kekuasaan hendaknya ditujukan bagi pengaturan pemerintah, yang pada hakikatnya bertugas sebagai pengajak kebaikan dan mencegah terjadinya kebatilan. Untuk itulah ada berbagai departemen dan lembaga non departemen di bawah eksekutif. Seperti polisi, kejaksaan (untuk antisipasi keburukan) dan semacamnya. Sedangkan transmigrasi, sosial, agama, pendidikan (untuk mengarahkan rakyat kearah kebaikan), dan masih banyak lagi lembaga yang sangat berperan aktif dalam upaya menjaga stabilitas ketertiban masyarakat.

Seharusnya penguasa tanah lulo hari ini sadar diri dengan anomali dalam pemerintahannya.  penyebab utama sering terjadi konflik vertikal maupun horizontal adalah kesenjangan dan kecemburuan sosial antara si kaya dan si miskin, jadi bukan sama sekali pertentangan antar agama, ras, dan etnis. Ya, walaupun sering digiring menuju isu sara oleh para elit yang mempunyai kepentingan pribadi.

Mangkraknya roda pemerintahan yang sudah tidak sesuai lagi dengan amanat konstitusi dan harapan masyarakat Sulawesi tenggara karena ada indikasi perilaku birokrasi yang impersonal (membedakan orang/pilih kasih). Berdasarkan kekerabatan (koncoisme), sanak keluarga (nepotisme), sehingga memacetkan jalannya pelaksanaan birokrasi yang bersih, disiplin, sistematis, dan hirarkis. Karena muncul pihak yang memotong jalur menuju puncak pimpinan. Munculnya krisis kepercayaan karena eksekutif yang diberi mandat oleh rakyat mengurus pemerintahan tidak bisa mengurus dengan efektif, begitu juga legislatif yang seharusnya mengatur peraturan tidak bisa mengatur. Bahkan terjadi kolusi antara eksekutif dan legislatif dengan pedagang yang dilindungi perdagangannya, korupsi sebagai usaha penggelapan pelaksanaan  uang negara, dekadensi moral para pejabat serta tidak berjalannya hukum sebagaimana mestinya karena pihak yudikatif berada di bawah kontrol eksekutif. Monopoli perdagangan juga terjadi dari anak pejabat Sehingga terjadi penjajahan dari anak negeri terhadap negerinya sendiri, kendati bila pihak asing luar negeri ikut serta membenahi dituding sebagai imperialisme modern yang berdalih liberalisme. Hilangnya unsur pelayanan dan transparansi terhadap masyarakat dari pemerintah sebagai abdi masyarakat karena tingginya harga tiap pengurusan seperti SIM, KTP, dan lain-lain. Lamanya pengerjaan pelayanan publik bagi yang tidak mempunyai uang pelicin. Itulah hal kompleks terjadinya konflik masyarakat.

Aku menyerukan adanya dialog untuk menjamin rasa keadilan dan kesetaraan dalam merawat kebebasan berpendapat hak setiap masyarakat. Tanpa itu semua di Sulawesi tenggara akan terjadi genosida yang hanya akan menambah catatan buruk pemerintah. Kesejahteraan ekonomi rakyat pun harus dijamin dengan cara mengakhiri  monopoli kekuasaan yang berlindung dibalik layar tabir kepalsuan. Cabang-cabang produksi untuk kesejahteraan rakyat harus dikelola oleh pemerintah dengan benar dan bersih, dimana persaingan usaha juga harus dijamin keadilannya, sehingga tidak menimbulkan korupsi yang mengorbankan banyak umat.

Kenapa tidak pemerintah Sulawesi Tenggara bercermin kepada Provinsi tetangganya Sulawesi Tengah dalam menyelesaikan berbagai problem yang memberdayakan sumber manusianya. Pemerintah Sulawesi Tengah melakukan dialog yang sangat signifikan untuk menyadarkan berbagai golongan atau kelompok kemasyarakatan bahwa semua memiliki potensi yang sama besarnya untuk mengalami konflik sosial. Dengan adanya kesadaran tersebut, diharapkan satu dengan lainnya bahu membahu mencegah timbulnya konflik sejak dini yang disebabkan oleh kemiskinan dan keserakahan penguasa. Cara-cara yang terstruktur, konsisten, dan aktif merangkul berbagai kalangan baik masyarakat, aparat kepolisian dan militer, organisasi sosial masyarakat, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, serta organisasi keagamaan, guna mendapatkan masukkan-masukkan dalam setiap upaya pencegahan konflik.

 
Merekalah yang sangat fundamental berada pada ranah akar rumput (grass root) dan memahami akar konflik. Pencegahan konflik dan kesenjangan sosial yang tepat sasaran pada akhirnya akan lebih menjamin rasa keamanan, kenyamanan, juga kesetaraan masyarakat.

Penulis: Harpan Pajar

Misteri Perihal Kopi

Awal aku berkenalan dengan minuman pahit yang hitam pekat itu, saat memasuki bangku perkuliahan. Lebih tepatnya saat di bukanya sebuah forum diskusi liar antara kanda dan dindanya. 

Sebelumnya maaf saja ya bagi pecinta kopi. Jujur saja saat itu, aku amat tidak suka dengan rasanya yang pahit. Apa lagi yang tak pakai gula, ampun beribu ampun itu amat tidak enak. Terkhusus bagi yang belum pernah coba dan tidak percaya dengan apa yang aku katakan, silahkan mencobanya. Aku yakin pasti akan merasakan hal yang sama. 

Tapi, anehnya kedai kopi semakin banyak hadir di mana-mana dan masih tetap ramai dengan pengunjung. Artinya masih banyak yang suka dengan kopi. 

Ada apa di balik kopi itu…?, dengan segala kepahitanya masih tetap disukai orang, baik dari berbagai kalangan tua maupun muda, pria maupun wanita, pelajar maupun non-pelajar, hampir semuanya suka dengan kopi. 

Ada apa dengan kopi….? Dengan segala kepahitan itu. Aku tak mengerti walaupun sudah cukup lama aku menikmatinya. 

Coba perhatikan dengan seksama, mereka semua ibarat orang yang terpengaruh oleh sugesti hingga secara tak sadar mereka tetap berada pada kebiasaan dengan tetap meminum kopi dengan segala kepahitanya. 

“Pahit sih pahit, tapi nikmat”. Jawabnya atas tanyaku terhadapnya perihal rasa kopi itu sendiri. 

Itulah misteri perihal kopi dengan segala kepahitanya. 

Masihkah ada hasrat untuk meminumnya…?. 

Semua itu terserah padamu. Tapi, yang aku pilih adalah masih tetap meminumnya karena perjuangan itu tentang bagaimana kita ber-revolusi dalam mengarungi lembah misterius tiada ujung. Sebab apa nikmatnya hidup di puncak  kemapanan pikiran hingga tak ada lagi yang akan kita tanyakan…?.  Revolusi itu takkan pernah ada jika tak ada yang dipertanyakan. Revolusi adalah siklus perubahan yang harus tetap misterius agar “revolusi” Bisa abadi dan tetap eksis di muka bumi ini. 

Maka tetaplah menikmati kopi dengan segala kepahitanya. 

Kopi berkata “aku disukai karena aku misteri, aku misteri agar revolusi tetap hadir atau eksis sebagaimana adanya dibumi Tuhan yang multi-ekspresif ini”.

Oleh: Madiarto

(Ilustrasi secangkir kopi. Foto:Repro Google.com)

Keselamatan Rakyat atau Pilkada?

Karya : M. Iqbal L Nazim

Saya ingin buka kritik saya ini dengan kalimat “Jika kau ingin melihat bangsa itu berjalan secara transparan maka lihat kebijakan yang dikeluarkan apakah kebijakan tersebut saling bernegasi satu sama lain atau tidak”.

Banyak yang diperlakukan dan diberikan sanksi karena berkerumun, tidak memakai masker yang pada pokoknya tidak mematuhi protokol kesehatan. Tapi bukan itu poin yang ingin di tegaskan. Yang ingin ditegaskan adalah “please don’t confuse us with the uncertain policy”.

Kita ingin bebas dari covid-19 dan virus ini hilang untuk selama-lamanya di tanah pertiwi ini dan dunia, sehingga ketika pemerintah baik pusat maupun daerah mengeluarkan kebijakan tentang protokol kesehatan (PSBB, Physical distance, menggunakan masker dan lain sebagainya) kita begitu sangat mendukung. Meskipun ada beberapa yang belum melaksanakan entah mereka lupa atau apa, tapi yang jelas ketika mereka diberikan sanksi teguran mereka dengan suka rela mematuhi sanksi tersebut karena ada keinginan, karena ada kesadaran bahwa covid-19 harus dilawan dan hilang untuk selama-lamanya.

Di tengah pelaksanaan protokol kesehatan maka tentu efek yang dirasakan adalah tentang ekonomi, mungkin masyarakat menengah ke atas masih bilang “nggak apa” tetapi bagaimana dengan masyarakat menengah ke bawah? Dan ditemukan juga fakta bahwa masyarakat menengah ke atas banyak yang mengeluh akan pandemi ini.

Sekarang kita tengah harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapi kondisi ekonomi yang apabila negara mengalami resesi. Bahkan negara pun kelabakan untuk membenahi ekonominya karena efek dari Pandemi.

Namun disisi lain di tahun 2020 ini akan diselenggarakan pilkada serentak. Maka kosekuensi yang harus dihadapi adalah dilanggarnya protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Maka akibat hal tersebut akan lahirlah cluster-cluster baru pasca pilkada. Lalu kapan akan selesai pandemi ini. Dengan begitu banyaknya korban baik tenaga medis maupun sipil yang telah meninggal dunia.

Sebenarnya negara saat ini ada dimana? Berada di pihak siapa dan berapa banyak lagi korban yang harus jatuh hanya karena akibat dari pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

Seberapa urgensi kah pilkada serentak tersebut dengan melawan covid-19 ini?

Apakah pelaksanaan pilkada serentak tersebut tidak dapat ditunda pelaksanaannya?

Cobalah jangan tunjukkan ego dan ambisi tersebut yang akibatnya berdampak pada masyarakat menengah kebawah dan para tenaga medis.

Sebenarnya kita, kamu dan negara ini serius atau tidak melawan covid-19 ini?