Trauma, Korban Kekerasan Seksual UIN Kendari Cuti Akademik

Kendari, Objektif.id – Di tengah proses akademiknya, mahasiswa UIN Kendari yang menjadi korban dugaan kekerasan seksual dikabarkan memilih mengambil cuti kuliah selama satu semester. Tak hanya itu, korban juga disebut sempat menyampaikan rencana untuk pindah ke kampus lain, meski hingga kini belum ada kepastian mengenai rencana tersebut.

Informasi mengenai cuti kuliah korban diketahui dari sejumlah teman yang masih berkomunikasi dengan korban. Kabar tersebut kemudian dikonfirmasi kepada Ketua Program Studi (Kaprodi) Manajemen Bisnis Syari’ah (MBS) Miftahur Rahman untuk memastikan status akademik korban.

“Iya (cuti), satu semester.” kata Miftahur saat di konfirmasi awak objektif.id, Selasa, 22 September 2026.

Kendatipun demikian, kondisi kelanjutan akademik korban belum diketahui secara luas oleh mahasiswa UIN Kendari. Namun, informasi mengenai cuti kuliah tersebut telah beredar di antara sejumlah teman dekat korban.

Korban dikabarkan tidak mengikuti perkuliahan seperti biasanya pada semester ini. Belum diketahui secara pasti bagaimana kelanjutan aktivitas akademiknya setelah masa cuti selama satu semester berakhir.

Vira (nama disamarkan), mahasiswi Program Studi Manajemen Bisnis Syari’ah (MBS) yang merupakan salah satu teman korban dan masih aktif berkomunikasi hingga saat ini, mengatakan dirinya memperoleh informasi tersebut langsung dari korban melalui percakapan di aplikasi WhatsApp.

“Iya. Untuk semester ini da ambil cuti, dia cuman bilang untuk semester ini dia tidak masuk” ucapnya, Sabtu, 19 September 2026.

Selain mengambil cuti, korban juga disebut sempat menyampaikan rencana untuk melanjutkan pendidikan di kampus lain. Namun, rencana tersebut belum dipastikan.

“Untuk ini tidak tau. Karena dia ada rencana mau pindah tapi masih belum pasti,” tambahnya.

Kabar mengenai kondisi korban juga disampaikan oleh Nira (bukan nama sebenarnya), yang mengaku mengetahui informasi tersebut dari temannya.

” Da bilang katanya ee kan itu anu (korban) da ambil cuti lah langsung iyokah, iyo katanya da masih anu apakah trauma begitu”. katanya.

Dengan adanya konfirmasi tersebut, status cuti korban pada semester ini telah dipastikan berlangsung selama satu semester. Sementara itu, informasi mengenai rencana kepindahan korban ke kampus lain belum mendapatkan kepastian.

Diberitakan sebelumnya, terduga pelaku sampai saat ini masih melakukan proses mengajar. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kejelasan status dosen tersebut, serta tindakan preventif dari pihak rektorat selama proses penanganan kasus dugaan kekerasan seksual itu berjalan.

Sosok Warek III UIN Kendari di Mata Mahasiswa, Dinilai Komunikatif dan Responsif

Kendari, Objektif.id – Sosok Wakil Rektor (Warek) III Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari di mata mahasiswa bukan sekadar pejabat birokrasi yang mengurusi bidang kemahasiswaan. Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), dan Ketua Umum UKM-Olahraga UIN Kendari menyebut Warek III sebagai sosok yang komunikatif, responsif, terbuka terhadap aspirasi, serta memberikan dukungan terhadap aktivitas lembaga kemahasiswaan.

Di balik posisi tersebut, sosok Warek III UIN Kendari, Dr. Sitti Fauziah M., M.Pd, juga dipandang mahasiswa sebagai seorang perempuan yang hadir dalam ruang kemahasiswaan dengan pendekatan yang dekat, terbuka, dan komunikatif. Bagi sejumlah pimpinan lembaga mahasiswa, keberadaan Warek III tidak hanya berkaitan dengan urusan administrasi dan koordinasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun komunikasi antara mahasiswa dan pimpinan kampus.

Pandangan tersebut disampaikan ketiga pimpinan lembaga mahasiswa melalui wawancara yang dilakukan pada Sabtu, 19 September 2026. Penilaian mereka mencakup peran Warek III dalam mendampingi lembaga kemahasiswaan, membangun komunikasi, hingga keterlibatannya dalam berbagai kegiatan mahasiswa.

Ketua SEMA UIN Kendari, Awal Hidayat, melihat Warek III sebagai bagian dari jalur koordinasi antara lembaga kemahasiswaan dan pihak birokrasi kampus. Menurutnya, keberadaan Warek III juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dalam menjalankan fungsi kelembagaan.

“Peran Warek III dalam lembaga kemahasiswaan sebagai mitra belajar untuk kami di Senat dan di lembaga kemahasiswaan, di dalam statuta juga itu sebagai jalur koordinasi,” ujarnya.

Dalam hal komunikasi, Awal menilai hubungan dengan Warek III berjalan baik dan mudah dijangkau. Ia juga menyoroti peran Warek III dalam memberikan ruang komunikasi ketika mahasiswa maupun lembaga kemahasiswaan membutuhkan koordinasi.

“Komunikasi untuk di Senat baik dan mudah dijangkau. Khusus Warek III, kami menghadirkan solutif bagi mahasiswa dan kelembagaan,” katanya.

Keterlibatan Warek III dalam kegiatan mahasiswa juga disebut terlihat melalui kehadirannya dalam sejumlah agenda lembaga kemahasiswaan. Hal tersebut menjadi salah satu bentuk interaksi langsung antara pimpinan dan mahasiswa dalam aktivitas organisasi.

“Keterlibatan dalam lembaga itu sering sekali menghadiri dan membuka kegiatan-kegiatan lembaga mahasiswa,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DEMA UIN Kendari, Risdawati, menilai Warek III memiliki peran sebagai fasilitator sekaligus mitra strategis bagi lembaga kemahasiswaan. Ia menyebut dukungan tersebut tidak hanya diberikan ketika kegiatan berlangsung, tetapi juga melalui ruang komunikasi ketika lembaga menghadapi kendala.

“Kalau saya lihat, perannya Warek III dalam mendukung lembaga kemahasiswaan itu betul-betul jadi fasilisator sekaligus mitra strategis buat lembaga mahasiswa. Beliau tidak lepas tangan, tapi selalu dukung penuh kegiatan mahasiswa dan selalu buka ruang dialog atau komunikasi kalau ada kendala di lembaga. Intinya, beliau selalu kasih arahan dan terbuka untuk mendukung program lembaga kemahasiswaan,” tuturnya.

Menurut Risda, pola komunikasi yang terbangun selama ini juga berjalan dua arah. Respons terhadap aspirasi mahasiswa dinilai menjadi salah satu hal yang membuat koordinasi antara lembaga mahasiswa dan Warek III dapat berlangsung secara terbuka.

“Ya, komunikasi yang terjalin selama ini berjalan dengan sangat baik, dua arah, dan beliau sangat responsif terhadap segala aspirasi yang kami sampaikan. Kami merasa tidak ada jarak atau sekat yang kaku saat ingin berdiskusi. Setiap kali DEMA atau lembaga mahasiswa lainnya menghadapi kendala dan membutuhkan ruang dialog, beliau selalu meluangkan waktu untuk memberikan respons maupun solusi,” jelasnya.

Meski tidak selalu hadir secara langsung di lapangan dalam setiap kegiatan, Risda menyebut dukungan Warek III tetap terlihat melalui koordinasi dengan lembaga mahasiswa.

“Beliau terlibat secara aktif, meski kadang sesekali saya melihat beliau tidak ikut dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan, tetapi tetap koordinasi ke lembaga mahasiswa dan men-support kegiatan,” ujarnya.

Penilaian terhadap sosok Warek III juga datang dari Ketua Umum UKM-Olahraga UIN Kendari, Muh. Yogi Alfajri. Ia melihat Warek III sebagai sosok yang memberikan perhatian dan pendampingan terhadap mahasiswa, khususnya lembaga kemahasiswaan.

“Selama ini kami melihat bahwa Ibunda Warek III senantiasa menunjukkan sikap pengayoman serta kepedulian yang tinggi terhadap mahasiswa, khususnya dalam memberikan dukungan dan pendampingan kepada teman-teman lembaga kemahasiswaan,” ungkapnya.

Dari sisi komunikasi, Yogi menilai Warek III memiliki pola komunikasi yang membantu koordinasi antara mahasiswa dengan pihak pimpinan.

“Dari segi komunikasi, beliau merupakan sosok yang sangat komunikatif, responsif, dan memiliki pola komunikasi yang baik, sehingga memudahkan koordinasi antara pimpinan dan mahasiswa,” tuturnya.

Ia juga menilai keterlibatan Warek III dalam kegiatan kemahasiswaan telah berjalan sesuai dengan kapasitasnya sebagai pimpinan.

“Alhamdulillah, dalam pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan, beliau kami nilai telah terlibat secara proporsional dan sesuai dengan porsinya sebagai pimpinan,” katanya.

Ketiga pimpinan lembaga mahasiswa tersebut tidak hanya memberikan penilaian, tetapi juga menyampaikan harapan agar hubungan yang telah terbangun dengan Warek III dapat terus dipertahankan.

Ketua SEMA berharap Warek III tetap menjadi mitra belajar bagi mahasiswa dan mempertahankan komunikasi yang selama ini dinilai memberikan ruang bagi lembaga kemahasiswaan.

“Harapan saya untuk Ibunda Warek III, semoga sehat selalu, berkah untuk sekeluarga, menjadi mitra belajar kami, serta tetap terjalinnya komunikasi yang solutif dan membangun di lembaga kemahasiswaan,” harapnya.

Sementara Ketua DEMA berharap keterbukaan dan responsivitas Warek III dapat terus ditingkatkan, termasuk dalam membangun sinergi yang lebih kuat antara birokrasi kampus dan lembaga mahasiswa.

“Harapan saya ke depannya, semoga keterbukaan, sikap responsif, dan pola komunikasi yang sudah berjalan dengan baik ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Kami juga berharap sinergi antara pihak birokrasi, khususnya kemahasiswaan, dengan lembaga mahasiswa bisa semakin erat dan bisa semakin aktif untuk terlibat di lapangan untuk kemudian men-support kegiatan mahasiswa demi melahirkan inovasi baru di lembaga mahasiswa dan juga prestasi bagi kampus kita ke depannya,” ungkapnya.

Harapan serupa disampaikan Ketua Umum UKM-Olahraga yang menginginkan peran Warek III dalam mendukung aktivitas mahasiswa dapat terus diperkuat.

“Adapun harapan kami ke depan, semoga Warek III dapat terus meningkatkan peran dan kontribusinya dalam mendukung serta terlibat aktif pada seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan,” tuturnya.

Bagi mahasiswa, sosok Dr. Sitti Fauziah M., M.Pd sebagai seorang perempuan yang berada di posisi pimpinan bidang kemahasiswaan tidak hanya terlihat dari jabatan yang diembannya. Cara berkomunikasi, membuka ruang dialog, memberikan arahan, hingga hadir dalam sejumlah kegiatan menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan para pengurus lembaga mahasiswa dalam berinteraksi dengannya.

Dari tiga perspektif tersebut, sosok Warek III di mata mahasiswa tergambar melalui tiga hal utama yaitu komunikasi, dukungan, dan keterlibatan. Ketiganya menjadi bagian yang dinilai oleh SEMA, DEMA, dan UKM-Olahraga dalam melihat hubungan Warek III dengan lembaga kemahasiswaan di UIN Kendari.

 

Penulis: Andi Istigfar Al-Ghifary

Senioritas Berujung Dugaan Kekerasan di UIN Kendari, HIPPMAKO-KONUT Bersuara Keras

Kendari, objektif.id — Senioritas di lingkungan kampus kembali menjadi sorotan. Dugaan penganiayaan dan kekerasan fisik terhadap mahasiswa junior di Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari memantik kecaman keras dari Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kecamatan Oheo Kabupaten Konawe Utara (HIPPMAKO-KONUT).

Dalam pemberitaan Media Sekawan pada 7 September 2026, dugaan kekerasan tersebut disebut melibatkan oknum mahasiswa senior terhadap mahasiswa junior yang merupakan salah satu kader HIPPMAKO-KONUT. Organisasi itu menilai tindakan tersebut telah mencederai lingkungan pendidikan yang semestinya menjadi ruang aman bagi mahasiswa.

HIPPMAKO-KONUT menilai dugaan tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan pembinaan. Bagi organisasi tersebut, proses pembinaan mahasiswa semestinya berlangsung dalam lingkungan akademik yang mengedepankan pendidikan, penghormatan, dan pembentukan karakter.

Sorotan itu kemudian diarahkan kepada pihak kampus agar memberikan perhatian serius terhadap persoalan yang terjadi. HIPPMAKO-KONUT meminta dugaan pelanggaran ditangani melalui mekanisme yang berlaku, terutama apabila dalam proses pemeriksaan terdapat pihak yang terbukti terlibat.

Ketua Umum HIPPMAKO-KONUT, Sazkya Pratiwi Sakir, menegaskan sikap organisasi terhadap dugaan kekerasan yang menimpa kadernya. Menurutnya, kampus seharusnya memberikan rasa aman kepada mahasiswa dalam menjalankan aktivitas akademik.

“Kami mengecam keras tindakan premanisme dan kekerasan fisik yang menimpa kader kami. Kampus seharusnya menjadi ruang akademis yang aman, inklusif, dan mendidik, bukan wadah intimidasi atau kekerasan fisik oleh oknum senior,” ujar Sazkya Pratiwi Sakir dalam keterangan tertulisnya.

Atas persoalan tersebut, HIPPMAKO-KONUT menyampaikan tiga tuntutan utama. Ketiga tuntutan itu mencakup sanksi akademik bagi pihak yang terbukti terlibat, proses hukum yang transparan, serta perlindungan dan pemulihan bagi korban.

1. Mendesak Rektorat UIN Bertindak Tegas: Meminta pihak birokrasi kampus segera menjatuhkan sanksi akademik yang berat bagi seluruh oknum senior yang terbukti terlibat dalam penganiayaan tersebut.

2. Mendorong Proses Hukum Secara Transparan: Meminta aparat penegak hukum untuk memproses laporan korban secara cepat, adil, dan transparan tanpa ada intervensi dari pihak mana pun agar memberikan efek jera.

3. Menjamin Perlindungan dan Pemulihan Korban: Mendesak pihak kampus untuk memberikan perlindungan penuh serta jaminan keamanan bagi korban agar dapat melanjutkan kuliahnya tanpa ada rasa takut atau intimidasi, sekaligus memfasilitasi pemulihan trauma (trauma healing).

Di tengah proses penyelesaian kasus, Sazkya juga mengimbau seluruh elemen mahasiswa, khususnya kader HIPPMAKO-KONUT, tetap tenang dan menjaga solidaritas. Penyelesaian persoalan diminta tetap dipercayakan melalui jalur hukum dan kelembagaan yang sah.

HIPPMAKO-KONUT memastikan akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut bersama elemen mahasiswa lainnya. Ia menyatakan tidak akan tinggal diam hingga korban memperoleh keadilan serta berharap praktik perpeloncoan serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.

ANTARA dan FISIP UHO Gelar Pelatihan Jurnalistik, Bekali Mahasiswa Teknik Penulisan Berita Standar Kantor Berita

Kendari, Objektif.id – Kantor Berita Indonesia ANTARA bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar Pelatihan Jurnalistik bertema “Teknik Dasar Penulisan Berita Standar Kantor Berita” untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam penulisan berita.

Pelatihan yang berlangsung di Aula Administrasi FISIP UHO pada Jumat, 4 September 2026 tersebut diikuti 51 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Kendari, di antaranya Universitas Halu Oleo (UHO), Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari, dan Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Tahun 2026. Pelatihan diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai dasar-dasar jurnalistik, khususnya teknik penulisan berita yang sesuai dengan standar kantor berita.

Kepala Biro ANTARA Sulawesi Tenggara, Zabur Karuru, mengatakan dalam sambutannya bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah ANTARA dalam mendorong regenerasi di bidang jurnalistik, khususnya dengan memberikan ruang belajar kepada mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap dunia pers.

“Jadi, ini merupakan salah satu upaya ANTARA dalam menciptakan regenerasi ke depannya, terutama yang berkecimpung di bidang jurnalistik,” ungkap Zabur.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan jurnalistik penting sebagai bagian dari proses pengenalan terhadap dunia pers. Melalui pelatihan tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai keterampilan yang dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas jurnalistik.

Sementara itu, Kepala Redaksi Metro ANTARA, Alfiansyah Pasarabu, yang menjadi pemateri pada kegiatan ini, menjelaskan bahwa materi yang diberikan dalam pelatihan diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

“Kami berupaya dengan adanya kegiatan ini, teman-teman mahasiswa mendapatkan sedikit gambaran dan pemahaman mengenai jurnalistik secara umum dalam menopang persiapan setelah kuliah,” ujarnya.

Materi pelatihan juga mendapat respons positif dari para peserta. Salah satunya Ahmad Sudais Latif dari UIN Kendari yang menilai kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga membuka kesempatan bagi peserta untuk mengenal praktik penulisan berita secara langsung.

“Menurut saya kegiatan ini menarik karena tidak hanya memberikan materi secara teori dan juga dapat menjadi kesempatan bagi peserta untuk memahami praktik penulisan berita secara lebih nyata. ‎Diharapkan kegiatan pelatihan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar peserta semakin memahami dunia jurnalistik dan memiliki kemampuan menulis berita yang lebih baik, objektif, dan profesional,” jelasnya.

Peserta lainnya, Siti Rahmi Alisya dari UHO, juga mengapresiasi penyampaian materi selama pelatihan. Menurutnya, cara penyampaian yang mudah dipahami membuat peserta lebih mudah mengikuti materi yang diberikan.

“Materi yang di bawakan dengan jelas serta menggunakan bahasa yang mudah di mengerti. Perasaan saya sangat bangga dan senang ketika mengikuti pelatihan ini saya tidak hanya mendapatkan ilmu baru tetapi teman baru juga,” tutur Siti saat di wawancarai.

Selain dari UHO dan UIN Kendari, peserta dari UMK turut merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. Ahmad Raihan Al Biruni mengatakan pelatihan jurnalistik dapat menjadi bekal bagi mahasiswa yang nantinya tertarik terjun ke dunia pers maupun jurnalistik.

“Pelatihan ini sangat bermanfaaat kedepannya bagi mahasiswa yang masuk di dunia pers atau jurnalistik dikarenakan basic nya bisa kita pelajari. memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi saya Melalui kegiatan ini saya menjadi lebih memahami bagaimana proses menulis berita yang baik, benar, dan sesuai dengan kaidah jurnalistik,” ungkapnya.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pembelajaran jurnalistik di kalangan mahasiswa masih cukup besar. Tidak hanya untuk mengenal profesi wartawan, pemahaman mengenai penulisan berita juga menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan menyampaikan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.

Melalui kolaborasi ANTARA dan FISIP UHO tersebut, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kendari mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat standar penulisan yang diterapkan di lingkungan kantor berita.

Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan jurnalistik, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu menghasilkan karya jurnalistik yang baik, objektif, dan sesuai dengan kaidah pemberitaan.

Penulis: Maharani.S

39 Pleton Maba 2026 Tanda Tangani Petisi Tolak Kekerasan Seksual di UIN Kendari

Kendari, Objektif. id-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Objektif memperkenalkan kepada mahasiswa baru aktivitas dan karya hasil kerja-kerja jurnalistik pada proses unjuk kreatifitas lembaga dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Rabu, 19 Agustus 2026.

Tidak hanya berfokus pada pengenalan aktivitas lembaga, UKM Pers memanfaatkan momen ini untuk menyuarakan kasus dugaan kekerasan seksual yang belum banyak mendapat ruang untuk disuarakan. Melihat beberapa waktu lalu ini ramai diperbincangkan dimana kasus tersebut melibatkan seorang oknum dosen yang dilaporkan melakukan pelecehan terhadap seorang mahasiswi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Kendari, namun hingga saat ini belum ada kejelasan dari pihak kampus.

Ketua Umum UKM Pers, Ian Aristiawan, menjelaskan bahwa pengangkatan isu tersebut sebagai bentuk kepekaan terhadap kasus kekerasan seksual yang sangat disayangkan terjadi dilingkungan pendidikan tinggi berlatar belakang islam. Menurutnya mahasiswa perlu mengetahui bahwa kampus harusnya menjadi ruang aman bagi seluruh civitas akademik. Ia juga menegaskan, bahwa hal tersebut harus mendapat perhatian, serta betapa pentingnya menyuarakan untuk menghindari terjadinya hal serupa.

“Penampilan tersebut bagian dari peduli dan peka terhadap lingkugan yang butuh perhatian agar hal demikian tidak terjadi lagi, Sejak awal mahasiswa baru perlu mengetahui bahwa ada batasan saat kita berinteraksi dilingkungan kita agar motif kekerasan seksual itu tidak terjadi. Kita juga harus berani mengambil sikap jika kita atau teman diantara mereka mengalami hal demikian,” ucapnya, Minggu, 23 Agustus, 2026.

Selain melakukan orasi ilmiah, Ian turut meminta kepada mahasiswa baru yang diwakili masing-masing ketua pleton untuk bersama-sama melakukan penandatanganan pada petisi yang bertuliskan “Menolak Segala Bentuk Kekerasan Seksual di UIN Kendari” sebagai bentuk sikap protes dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

“Tentunya hal itu sebagai bentuk protes kepada pihak kampus terkhususnya kepada oknum yang melakukan. Selain bentuk protes, kami juga melakukan kegiatan itu sebagai bentuk edukasi kepada mahasiswa baru bahwa isu-isu tersebut tidak boleh didiamkan karena perbuatan tersebut harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.

Selanjutnya Ian berharap setelah ini seluruh mahasiswa dapat memahami pentingnya bersuara dan mengambil sikap ketika mengalami atau mengetahui adanya tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual.

“Harapan saya, semoga mahasiswa baru peka terhadap isu yang barusan terjadi. Dan kami juga berharap dari kasus seperti ini menjadi bahan pembelajaran untuk meraka dan untuk kita semua bahwa sangat pentingnya bersuara jika hal ini terjadi dilingkungan kita,” katanya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, UKM Pers berhasil menunjukkan bahwa organisasi pers mahasiswa tidak hanya sebagai wadah pengembangan keterampilan jurnalistik, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan informasi yang faktual, berani kritik, dan peduli terhadap berbagai isu sosial terutama dilingkungan kampus.

Setelah menyaksikan aksi ini kami berharap jika masih ada korban-korban lain dengan kasus serupa yang belum berani untuk bersuara mereka harus tau bahwa UKM Pers dan masih banyak orang yang akan mendukung siapapun korban yang berani untuk bersuara.

penulis: Zura