Mahasiswa Sebagai Agen Hedonisme dan Matrealisme

Oleh: S.A.A

Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan sebagaimana fungsi dan tugas Mahasiswa itu sendiri katanya Agrn Of Change, dan Agen Perubahan dalam setiap momen – momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan.

Beberapa tahun belakangan ini telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari Masa penjajahan Belanda, Masa Penjajahan Jepang, Masa Pemberontakan PKI, Masa Orde Lama Hingga Masa Orde Baru, peran mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut.

Bila membahas mahasiswa, berarti kita sedang menjelaskan sekelompok kaum elit yang miskin namun berintelektual mengapa demikian dikatakan miskin..? Karena 99% masih bergantung pada orang tua, namun mahasiswa juga mempunyai  daya saing, bermutu tinggi, pemberani, dan perantau.

Meyakini bahwa sebagian besar pembaca tidak setuju dengan pendapat penulis di atas, bahkan mungkin pembaca memiliki ragam ekspresi, ada yang terheran-heran, ada yang terkejut, ada yang sepakat atau tidak sepakat bahkan sampai ada yang tertawa-tawa terbahak-bahak atau bisa jadi ada yang bersedih.

Sedikit menelisik lebih dalam tentang mahasiswa, mengapa demikian apa yang menjadi persoalan mahasiswa mengapa tulisan ini seakan menerka-nerka, jawabnya adalah mahasiswa saat ini hampir-hampir tidak layak lagi disebut sebagai mahasiswa. Benarkah? Ada apa? Apa kata dunia bila mahasiswa tak layak dipanggil, disebut, dan disanjung sebagai mahasiswa?

Jika kita melihat situasi dan kondisi terkini kemahasiswaan, berteriak kencang meneriakan bahwasanya dialah mahasiswa yang paling hebat, dialah mahasiswa yang telah banyak menamatkan bacaan buku, berbagai macam judul buku, bahkan dialah mahasiwa yang selalu demo membela kebohongan yang diselimuti kebenaran.

Saat ini, mahasiswa yang dipahami ketika sudah mampu mengangkat megafon, membaca satu lembar buku bahkan mampu berbicara didepan banyak orang mereka sudah mengkalim diri merekalah mahasiwa yang sebenarnya merekalah aktivis yang sesuangguhnya. Sungguh ironis doktrin yang diterapkan kepada calon penerus bangsa.

Bisa kita simpulkan bahwa kemunduran tengah terjadi di tubuh mahasiswa saat ini.  Kurang tajamnya aktivitas sosial mahasiswa yang dapat menyentuh problematika sosio-kultural rakyat serta kurang produktifnya mahasiswa dalam menyalurkan karya-karya yang menginspirasi dan mengharumkan nama institusi menjadikan mahasiswa kurang diperhitungkan ditengah-tengah masyarakat.

Mahasiswa yang seharusnya menjadi pembeda atau agent pelurus dan perubahan di tengah masyarakat, kini mahasiswa tengah menjadi pemecah belah atau agent penerus “tikus-tikus berdasi dan perubahan pola pikir dan pola gerakan ke arah pragmatis yang saat ini menjadi tontonan oleh rakyat-rakyat yang sedang tertindas, yang tengah berharap belas kasih serta perjuangan dari mahasiswa saat ini.

Jika berbicara tentang mahasiswa sudah tak manis lagi untuk disanjung, ketika penerus lahir semuanya sesuai apa yang menjadi kegarusan sebagai seorang mahasiswa, setiap orasi setiap seminar tentang kemahasiswaan setiap pengkaderan di organisaai selalu menriakan sumpah mahasiswa dan rata rata mahasiswa sekarang adalah pendusta bahkan sumpah mahasiswa itu sendiri dilanggar dan dijadikan bahan lelucon. Sungguh miris.

Di zaman Melenial ini kids zaman now katanya dalam bahasa asing yang saat ini meracuni fikiran manusia sering sekali kita mendengar istilah-istilah baru dan perilaku-perilaku baru yang sifatnya aneh tapi sangat digemari sampai-sampai menyita perhatian berbagai lapisan masyarakat tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa yang diharapkan mampu menetralisir keadaan atau bahkan membungkam segala hal yang diistilahkan dengan kekinian atau kids jaman now dan lain sebagainya, tapi malah tidak justru mahasiswa terjebak, bahkan mahasiswa menjadi pemeran dari kerusakan moral zaman ini.

Seharusnya mahasiswa sadar akan ini. Di tangan mahasiswalah estafet perjuangan bangsa ini diteruskan serta di tangan mahasiswa lah roda kepemimpinan bangsa kedepannya. Bila mahasiswa hari ini maju dan berdikari, maka maju dan berdikarilah bangsa dan negaranya. Namun sebaliknya, jika mahasiswa hari ini lemah dan mundur, maka bersiaplah bangsa dan negaranya dijajah kembali oleh orang-orang asing”.

Mahasiswa, Bagaimana Kabarmu?

Hai mahasiswa, bagaimana kabarmu? Apa yang sudah kau dapatkan diperaduan mengutip butir butir ilmu? Apa kado terindah untuk orangtuamu nanti ketika kembali dikampung halaman.? Berapa IPK mu? Sudah berapa banyak karya yang kau ditorehkan? Sudah berapa buku yang dibaca?

Jawabannya renungkanlah dan tepuk dada tanya selera.

Mahasiswa coba lakukan ini, tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. Dimulai dari gagasan yang diwujudkan dalam tindakan, kemudian tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan, Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali akan menjelma menjadi watak, dan watak inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib. Jadi nasib kita, kita sendirilah yang menentukan. Nasib kita ada di tangan kita, tentunya tidak lepas juga dari Sang Penentu.

Memang tak ada yang pasti dalam hidup, sebagai abdi dalam setiap pertempuran hidupnya, mahasiswa hanya bisa berupaya dan berusaha keras untuk mewujudkan segala cita dan asa. Tepat apa yang dikatakan Tan Malaka “Terbentur, Terbrntur, Terbrntuk” dan sebab semua keputusan ada ditangan Tuhan.

Sebagai abdi Tuhan, mahasiswa haruslah taat dan ingat mahasiswa sedang menyandang gelar ke maha-an, sudah jelas bahwa mahasiswa sangat diperhatikan oleh Tuhan sebab menyandang gelar kemaha-an adalah kemuliaan dan keagungan yang diamanahkan dan di alamatkan Tuhan untuk sekelompok kaum elit dan intelektual yakni mahasiswa.

Seharusnya, bagi mahasiswa yang sadar tentu ia akan amanah dan benar benar menjunjung  tinggi sifat dan fungsi mahasiswa yang sebenarnya dan melakukan hal-hal pengembangan diri dengan rasa penuh tanggung jawab serta mampu mungkin menjalankan fungsi kekhalifahannya. Namun, bagi mahasiswa yang belum sadar yang masih tertidur pulas, perilaku seperti inilah yang akan mengundang kemurkaan Tuhan.

Menilai dari apa yang telah dilakukan mahasiswa sekarang, tentunya kita tahu, demonstrasi seperti yang dilakukan mahasiswa sekarang tidak menghasilkan apa-apa, gerakan yang dibangun rata-rata adalah gerakan yang didasari kepentingan kelompok bahkan individu, gerakan yang selalu dibangun adalah gerakan pembodohan.

Sekarang bukan lagi masyarakat biasa yang diadikan korban dalam permainan para elit politik maupun para pimpinan-pimpinan kampus namun mahasiswa yang seharusnya menjadi pembeda dari masyarakat justru telah dijadikan kelinci percobaan para penguasa, mahasiswa selalu melakukan aksi demonstrasi namun itu bukan hadir dari diri sendiri gagasan itu dipola oleh penguasa dan mahasiswa dijadikan kambing hitam.

Perdebatan-perdebatan maupun diskusi terbuka yang sering dilakukan oleh kaum intelektual bangsa ini juga hanya membawa dampak yang sangat kecil pada kemajuan bangsa dan negara kita. Yang menjadi pertanyaan, kalau apa yang telah dilakukan sekarang tidak dapat menyelesaikan permasalahan bangsa ini, apa yang dapat mahasiswa lakukan agar bangsa ini dapat terus berkembang?

Kenyataannya, disaat masyarakat mengalami penderitaan karena berbagai marginalisasi yang dilakukan penguasa. Kita justru melihat mahasiswa sibuk mengurusi proyek proyek mencari gerakan yang bisa di 86. Mengurusi hal hal yang seharusnya tidak diurus, seharusnya mahasiswa lebih berperan dalam memikirkan kemajuan bangsa mulai dari bagaimana mengembangkan setiap kampus masing masing, bahkan banyak pula korban media sosial yang sudah termakan oleh hasutan setan dan iblis, sekarang mahasiswa sudah menjadi agen hedonisme dan materialisme bahkan menjadi makelar politik penguasa yang korup. Jika demikian pantaskah gelar “maha” itu diletakkan dalam pundak mahasiswa?

Mahasiswa seharusnya mengerti akan tanggung jawab yang dipikulnya sangat berat, seperti kata pepatah asing mengatakan: “with great power comes great responsibilities”, mengemban nama “maha” tentunya membuat kita memiliki tanggung jawab yang “maha” juga. Tanggung jawab sebesar apa yang dipikul mahasiswa? Yaitu tanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa ini, tanggung jawab untuk menentukan nasib ratusan juta orang rakyat Indonesia.

Setidaknya ada tiga jenis mahasiswa yang ada di Indonesia sekarang, yaitu:

Pertama, mahasiswa yang menjadikan demonstrasi hanya sebagai ajang untuk unjuk gigi, agar dirinya dapat dikenal sebagai mahasiswa yang hebat mahasiswa yang berani, mahasiswa yang ikut-ikutan demonstrasi untuk bolos masuk kuliah. Mahasiswa seperti ini tidak benar-benar memperdulikan rakyat maupun negaranya. Mahasiswa seperti inilah yang biasanya melakukan aksi-aksi anarkis maupun terlibat dalam bentrok dengan aparat keamanan pada saat demonstrasi.

Kedua, mahasiswa yang tidak mempedulikan keadaan politik sekitarnya. Mereka hanya berusaha untuk belajar dengan baik, yang penting datang ke kampus, kuliah, mengikuti ujian, dan lulus dengan Indeks Prestasi (IP) yang bagus. Mereka tidak memperdulikan apakah Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dinaikkan harganya, maupun siapa-siapa saja yang akan berpartisipasi dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2023 mendatang.

Ketiga, mahasiswa yang benar-benar memperhatikan dan memperdulikan nasib bangsanya. Mahasiswa seperti ini adalah mahasiswa yang memikirkan apa yang dapat dilakukan olehnya untuk bangsa ini. Mereka biasanya menyuarakan keadilan, berdemonstrasi dengan tenang dan mengikuti aturan, mengikuti perdebatan-perdebatan maupun diskusi untuk memajukan bangsa. Ini yang menjadi masalah besar adalah sangat sedikit bahkan minoritas adalah mahasiswa golongan ketiga ini.

Melihat mahasiswa saat ini, mahasiswa sudah terdegradasi kemahaannya. Kampus sudah menjadi ajang fashion show dan perkumpulan keboh, apakah mahasiswa yang seperti ini layak untuk menjadi penerus bangsa kita? Apakah mereka layak menjadi penentu nasib ratusan juta jiwa rakyat Indonesia?

Mahasiswa yang benar-benar memikirkan nasib bangsanya tahu, jawaban dari inflasi dan segala kesulitan ekonomi bukanlah merengek-rengek dan berteriak minta tolong. Jawaban dari tekanan ekonomi ialah peningkatan produktivitas. Produktivitas di mana-mana, baik di kelas, di tempat kerja, maupun di masyarakat. Jadi, jawaban dari segala kesulitan rakyat yang ada bukan dengan hanya sibuk berdemonstrasi namun bagaimana kita bisa memberikan solusi melahirkan solusi, membantu dari setiap kesulitan maupun keterpurukan setiap lapisan masyarakat.

Note:
S.A.A adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari

 

 

Tangan Kiri Kampus

 

(Kiri simbol perlawanan. Foto: facebook.com)

Penulis : P H

Sering kita melihat bahasa tubuh dosen yang terlalu kaku sebab tidak cukup siap dan kuat menghadapi tulisan ataupun ucapan bernada kritik pedas dari mahasiswa. Beberapa memang sudah sanggup mengatasi dan beradaptasi dengan baik, walaupun jumlahnya masih sedikit.

Baca juga: Sarkastis! Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa

Masa! Pihak kampus tidak pernah salah? Apakah karena menganggap mereka sebagai dosen sehingga mahasiswa tidak boleh memberi kritikan? Tentu tidak kawan! Secara tandas dalam buku catatan seorang demonstran, Soe Hoek Gie telah mengatakan bahwa “guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan murid bukan kerbau”.

Baca juga: Dicari! Hilangnya Presma IAIN Kendari

Ingat mereka juga adalah manusia biasa, yang pada dasarnya memiliki kekurangan dan tidak menuntut kemungkinan akan berbuat salah. Olehnya itu, representasi mahasiswa sebagai tangan kiri kampus jangan takut untuk berdinamika dengan dosen ataupun pihak birokrasi kampus. Rasa penghormatan itu memang perlu, tetapi bukan keharusan yang mutlak. Artinya apa, bahwa prinsip harus tetap ada! Jika salah dan keluar dari jalur komitmen dan tidak konstitusional, maka bentuk perlawanan harus kita gaungkan, entah itu melalui kritikan gerakan demonstrasi ataupun dengan cara-cara konstruktif lainnya.

Sehingga akan sangat mudarat bagi mahasiswa untuk tidak melahap apa yang kemudian menjadi buah pemikiran Muhammad Sulhijah dalam tulisannya yang berjudul Surat Cinta Untuk Maba yakni “sebagai mahasiswa kita harus pandai-pandai memfilter setiap perkataan dosen kalau dia salah maka sampaikan bahwa itu salah, begitupun sebaliknya karena ruang akademik adalah arena pertarungan intelektual baik itu antara dosen dan mahasiswa maupun antara mahasiswa dan sesama mahasiswa”.

Baca juga: Surat Cinta Untuk MaBa

Tentu akan begitu kontras pemandangannya jika kita melihat suatu fenomena seorang mahasiswa yang mengklaim diri sebagai aktivis kritis atas kesewenangan-wenangan dosen tetapi dalam praktiknya ia takut ketika berhadapan dengan dosen-dosen yang bengis.

Mengapa harus takut kawan? Justru sebagai tangan kiri kampus maka konfrontatif yang kita lakukan sebagai mahasiswa harus lebih frontal lagi untuk membungkam kesewenang-wenangan dosen yang tidak normatif. Seharusnya kita sadar, jika mahasiswa menyuarakan kebenaran lalu ia diperangi maka kampus sedang dipimpin oleh penjahat yang ingin mengiring kita ke jalan yang sesat.

“Dalam hidup kita, cuman satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini”? Coba renungkan perkataan Pramoedya Ananta Toer tersebut. Bagaimana mungkin menolong yang tertindas jika dirimu sendiri tidak memiliki keberanian. Apakah kamu bangga tidak memiliki keberanian? Apakah tidak malu dengan hidupmu yang tak mempunyai harga sedikitpun? 

Jangan jadi pengecut kawan! 

Ijtihad perjuangan perlawanan mahasiswa akan terus digelorakan, kita tidak layak untuk takut saat hendak menyuarakan suatu kebenaran. Kalau kita dan Soek Hoek Gie sama-sama mahasiswa, lalu apa yang membatasi kita untuk menjadi teladan sepertinya?

Ingat kawan kita memiliki keberanian itu. Minimal, suara kebenaran yang kita serukan tidak mengingkari eksistensi kita sebagai mahasiswa, sebagai seorang pemuda, dan sebagai seorang manusia. Kita bukanlah mahasiswa yang hanya lulus  membawa gelar dan ijazah tanpa esensi.

Kawan-kawan sekalian pasti bertanya-tanya mengapa saya memberikan label “Tangan Kiri Kampus” terhadap mahasiswa. Secara historis istilah kiri awalnya muncul dari kebiasaan anggota parlemen Prancis pasca revolusi saat bersidang. Mereka yang pro pemerintah duduk di sebelah kanan dan yang kontra duduk di sebelah kiri. Kebiasaan ini berlangsung sejak mereka bersumpah di lapangan tenis tanggal 20 Juni 1789, mereka sepakat untuk tidak terpisah sampai Prancis diberikan sebuah konstitusi. Kejadian tersebut yang kemudia dikenal dengan nama Tennis Court Oath.

Hingga sekarang, “kiri” identik dengan perlawanan (oposisi). Iya, mahasiswa adalah oposisi kampus sehingga kita tidak asing lagi dalam mengartikan celoteh “kiri” sebagai simbol perlawanan atas kebijakan kampus yang tidak berpihak pada mahasiswa.

Lantas bagaimana dengan tangan kanan ? Jika “kiri” cenderung progresif dan menghendaki perubahan untuk menjadi lebih baik, maka “kanan” cenderung konservatif yang menolak perubahan itu dan menghendaki berlangsung, atau Pro Status Quo. Kanan cenderung pragmatis, meskipun tidak seratus persen.

Dalam dunia pergerakan, mahasiswa harus mengerti makna filosofis tangan kanan dan kiri. Jadi, ketika kawan-kawan ditanya alasan mengangkat tangan kanan dan kiri. Jangan menjawab seperti “tangan kanan adalah tangan yang sopan, dan kiri adalah tangan yang kurangajar”. Ditertawaiko itu nanti.

Mahasiswa adalah kaum intelektual kawan, paham sebab-akibat bukan anak kecil yang hanya diajarkan tata krama.

Mestinya mahasiswa memberikan pemahaman kepada para dosen bahwa kritik harus dimaknai sebagai kepedulian dan dosen harus biasa-biasa saja ketika ia dikritik oleh mahasiswanya. Seorang dosen kalau dia bermutu tanpa meminta penghormatan mahasiswa pasti akan menghormatinya. Mengkritik dosen itu adalah kewajiban mahasiswa. Kalau sih dosen bertanya mengapa mahasiswa tidak memberi apresiasi terhadap dosen, ya tinggal kita jawab karena tidak ada yang mau diapresiasi. Seperti begitu. Penghormatan itu berasal dari hati nurani bukan karena paksaan. wajar saja kalau dosen banyak mendapat kritikan mahasiswa, karena sudah itu konsekuensi logis seorang dosen yang tidak mampu dan malas membaca pikiran mahasiswa.

Apakah seorang dosen harus diberi pujian oleh mahasiswa ketika ia telah melakukan tugas dan kewajibannya? Jawabannya tidak kawan! Karena itu memang kewajiban dia sebagai seorang tenaga pengajar untuk  memberikan pengetahuan tanpa membatasi kebebasan berpendapat mahasiswa. Terkecuali ada progres kinerja di luar dari kewajiban dosen, itu baru kita kasih jempol. Dengan kata lain ia melakukan sesuatu yang melampaui tugas dia. Kalau bahasa Inggrisnya beyond the off duty.

Kan sama misalnya ketika mahasiswa mendapat Indeks Prestasi “A” kemudian kita bertemu dosen yang memberikan nilai tersebut, lalu kita meminta pujian apakah sih dosen akan memberikan pujian? Tentu tidak! Sih dosen pasti menjawab “pala lu goblok” kamu memang harus dapat nilai A karena itu adalah kewajiban kamu. Kalau kamu dapat IP A+  nah itu baru bapak atau ibu kasih pujian. Analogi sederhananya seperti itu kawan.

Perlu disadari, dewasa ini kita berada di dalam lingkungan orang-orang yang kosong ide minim prestasi. Jika mahasiswa masih memberikan pujian terhadap dosen yang tidak patut untuk mendapatkan keistimewaan itu, maka mahasiswa hanya sekedar konsumen, bukan sebagai agen of change. Jadi, sudahi pujian tololmu kawan. Sekali lagi kita harus ingat bahwa setiap kejadian yang terjadi orang akan memelihara harapan sekaligus kecemasan dan hari ini kecemasan lebih tinggi dari harapan. Olehnya itu, tidak ada keculasan untuk tidak melakukan perlawanan. 

Berusahalah untuk selalu melakukan perlawanan sebab ada harapan yang harus mahasiswa perjuangkan !

Hidup mahasiswa!!!

Note :
P H adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari Progran Studi Tadris IPA

Sarkastis! Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa

 

(Mahasiswa Sebagai Agent of Change dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Foto: Repro. google.com) 

Penulis : P H

Dengan berbagai ragam suara, dalam keadaan yang berbeda-beda, dan oleh berbagai golongan, tujuan perjuangan kita sudah dinyatakan yaitu tercapainya cita-cita luhur meratanya keadilan sosial. Sangat mengagumkan apa yang ditulis Tan Malaka ini dalam bukunya yang berjudul aksi massa. Sekali lagi, rasa kebanggaan dengan pikiran futuris para pendahulu bangsa ini selalu membuat kita tergegau, betapa dahsyatnya bertapak di jalan pikiran yang mereka buat. Namun kebanggaan itu menjadi kegalauan dengan keadaan mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa yang mengalami degradasi moral dan intelektual saat ini.

Tak serau mahasiswa kita secara lahiriah tampak modern sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi cara berpikirnya masih baheula. Iya, seperti masih bercokol di zaman primitif yang belum mengenal baca tulis (buta huruf). Kekalahan dalam persaingan intelektual menyebabkan menyingsingnya pikiran tidak piawai dan anarkistis, tidak melihat sesuatu dalam sifat yang sebenarnya. Ini berlaku terutama dikalangan segelintir orang yang kekosongan kepalanya baru saja diisi dengan pengetahuan-pengetahuan dasar. Sehingga berlagak keren menganggap diri bagaikan sangat pandai dari orang lain. Seperti makna lirik lagu enau “banyak gaya kosong isinya”. Kasihan ya ! Mereka hanya tidak sadar saja bahwa mereka hanya pandai di dalam pikiran mereka sendiri. 

Maksud penulis adalah berusahalah keluar dari zona nyaman dan sering-seringlah introspeksi diri. Agar arogansi, kesombongan, dan kebodohan, yang mereka anggap pandai dapat terurai melalui interaksi dari berbagai kalangan latar belakang yang berbeda-beda. Jalan seperti itulah untuk mengetahui kedangkalan Petahuan (kak petahuan atau pengetahuan?) aku, kamu, dan kita semua !

Jelas kita bisa komparasikan perbedaan kemajuan pikiran antara mahasiswa yang rutinitas waktunya hanya untuk santai, rebahan, main game, keluyuran tidak jelas dengan mahasiswa yang berkeras hati mencari ruang-ruang literasi sebagai upaya untuk mengembangkan potensi diri. Di zaman modern ini kita sedih dan heran melihat mahasiswa yang hanya sekedar kumpul omong kosong tanpa terjadi pertengkaran intelektual. Selayaknya perkembangan zaman saat ini itu paralel dengan perkembangan pengetahuan mahasiswa.

Kemajuan era digitalisasi hari ini tentu membuat segala sesuatu hal terasa mudah dilakukan. Namun ketergantungan berlebihan membuat mahasiswa selalu menganggap mudah segala sesuatu hal tanpa mau lagi berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Sehingga, wajar saja kalau mahasiswa semakin culas, lemah, cengeng, dan banyak mengeluhnya. Tahunya bicara bodoh terus !

Tentu ketika kita bertanya, apa yang mereka ketahui tentang pemenuhan hak-hak rakyat ? Pasti secara spontan mereka bisa menjawab. Tetapi yang perlu kita cek adalah referensinya dari mana ? Apakah dari bung Karno melalui buku di bawah bendera revolusi jilid satu dan duanya? dari Tan Malaka melalui buku aksi masanya ? Sutan Syahrir dengan buku yang berjudul perjuangan kita ? Mungkin melalui puisi perlawanan Wiji Thukul ? Gerakan Munir dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia ? ataukah dari Marsinah dengan perjuangannya menuntut pemenuhan hak-hak buruh ? Pasti jawaban yang diberikan hanya nonsens dan apologi. 

Dalam banyak kasus kelompok elit marjinal ini  cuma  sibuk bertengkar di lorong-lorong asrama putri sampai lupa bahwa ruang-ruang diskusi memerlukan pertarungan gagasan melalui adu argumentasi. 

Disinilah kritisme mahasiswa mulai redup, apalagi kalau sudah hedon dan apatis. kata teman-teman Jakarta taik loh guys !

Bagaimana mungkin bicara tentang perjuangan keadilan sosial secara merata jika seorang terpelajar (katanya) masih terlalu goblok meramu setiap masalah dalam proses penyelesaiannya. Padahal sudah banyak infrastruktur ruang-ruang literasi yang difasilitasi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman.

Apa sih urgensi kumpul-kumpul tanpa ada dialektika literasi yang terjadi ? Ada yang memberikan jawaban “kami lebih senang dengan hal-hal instan seperti ini, omong kosong, tertawa bahagia, karena tidak ada pembahasan serius untuk diperbincangkan. Dan itu kami anggap sebagai kreativitas”. Sangat bangga mengatakan bahwa itu adalah kreativitas, sungguh kolot pikiranmu kawan ! Mmmmm… beli rokok sama kopi saja masih minta-minta sama juniornya di kampus. Itu sih, namanya bukan kreativitas tapi KEREAKTIV.

Mahasiswa merupakan bagian integral dari perguruan tinggi yang dikenal sebagai simbol intelektualitas, Maka pengabdian kepada masyarakat sesuai kompetensi intelektualnya merupakan tanggung jawabnya secara moral dan secara intelektual. Mahasiswa juga pada hakikatnya adalah seorang intelek sebab intelektualitas merupakan ciri khas yang inheren dalam diri mahasiswa sebagai kelas menengah terdidik.

Tetapi ada realitas lain yang cukup menyedihkan, bahwa tradisi ilmiah dan literatur dikalangan mahasiswa belum begitu kuat. Interaksi gagasan secara kontinyu dan intensif belum menjadi menu utama dalam aktivitas keseharian sebagian besar mahasiswa juga belum terbiasa untuk melakukan pertarungan gagasan dan perkelahian wacana. Wajar kalau kemudian, pisau analisis yang mereka miliki untuk membedah berbagai permasalahan sosial masih tumpul karena jarang diasah. Justru tak sedikit mahasiswa yang terjebak berpikir pragmatis, oportunis, hedonis, apatis, subyektif, parsial, dan tampak hanya menjadi problem speaker an sich.

Sesungguhnya kamu mampu dengan pertengkaran intelektual kawan namun kemalasanlah dalam menempa diri yang menyebabkan pikiran kolot dan kebodohan tumbuh semakin mengakar. Kan percuma tiap ada agenda bersama adik-adik di kampus sering menyuarakan studi dengan baik untuk memperoleh kecerdasan, ilmu, kepandaian yang diperlukan, sambil membina dan mengembangkan diri mental dan fisik, demi kemampuan sebesar-besarnya untuk hari esok. Sedangkan diri sendiri saja tidak mampu untuk berpikir cerdas dan produktif. Sebenarnya kamu tidak tumpul kawan, tajam tapi berkarat !

Sesama mahasiswa saya ingin mengajak kawan-kawan sekalian untuk membangun kembali budaya-budaya literasi karena melihat dunia kampus yang semakin hari terasa kian pragmatis, materialistis, bahkan hedonis. Sebelum semua akar-akar jiwa intelektual akhirnya meranggas dan tercerabut dari jati diri kita sebagai mahasiswa.

Bukankah imam Syafi’i telah mengatakan “jika kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan”. Jadi Ingat kawan bahwa kemarau panjang perjuangan mahasiswa baru saja dimulai. Olehnya itu, tidak ada waktu untuk berleha-leha, bersantai, apalagi bermalas-malasan. Hargai dan manfaatkan waktumu!

Sejatinya mahasiswa tidak hanya menunggu datangnya sebuah momentum, justru mahasiswa harus menciptakan momentum itu sendiri. Semoga apa yang kita upayakan menjadi momentum kebangkitan dan kesadaran.

Mungkin jalan kita boleh sama, tapi nasib belum ada yang tahu. Belajarlah sampai kamu tak bisa berpikir lagi. Dan usahakanlah bahwa kamu akan terus berpikir untuk tidak akan pernah berhenti belajar.

Terus berjuang !

Note :

P H adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari Progran Studi Tadris IPA

Dicari! Hilangnya Presma IAIN Kendari

Objektif.id – Sejatinya dunia kemahasiswaan itu ibaratnya miniatur Negara di mana dalam proses pembentukan karakter terdapat Lembaga kemahasiswaan baik itu dalam orientasi Legislatif (SEMA) dan orientasi Eksekutif (DEMA), yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan karakter tersebut. Dalam konteks organisasi eksekutif memiliki peran penting sebagai implementator terkhusus dalam mengawal aspirasi mahasiswa. Presiden mahasiswa sejatinya icon ideal sebagai representasi kampus bukan hanya dalam ruang lingkup internal kampus tetapi juga dalam lingkup eksternal kampus. Sehingga berwibawah atau tidaknya suatu kampus itu tergantung dari pembawaan presiden mahasiswanya. Maka penting bagi seorang presiden mahasiwa memang benar benar harus aktif dan progresif dalam melaksanakan tanggung jawabnya bukan malah sebaliknya. 

Ada istilah yang mengatakan bahwa pemuda adalah ujung tombak suatu zaman maksudnya di sini baik dan buruknya suatu zaman tergantung dari sikap pemuda itu sendiri maka tentunya berkenaan dengan ini sikap pemuda sangat menentukan masa depan suatu bangsa. Begitupun halnya dengan dunia lembaga kemahasiswaan yang merupakan regenerasi pemimpin bangsa yang tentunya di masa depan merekalah yang diharapakan akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. Sehingga tolak ukur regenerasi kepemimpinan di masa depan salah satunya adalah bagaimana melihat kinerja para pemimpin lembaga kemahasiswaan hari ini.

Jika berbicara persoalan lembaga kemahasiswaan saya cenderung merujuk pada kinerja ketua DEMA IAIN Kendari. Soalnya sudah terlalu lama bersikap hening dan tenang. 

Apa kabar Pak Presma? sudah terlalu lama saya tidak mendengar kabar tentang anda. Apakah anda baik-baik saja?  Kantormu kini sudah dipenuhi oleh ribuan butiran debu dan berbagai macam spesies sampah hingga telah terbangunnya dinasti laba laba. Bukankah itu secara tersirat sebagai bentuk pengkudetaan? Alangkah kurang ajarnya laba-laba itu ya!. Ataukah mungkin laba laba itu lebih mengerti peran dari seorang Persiden Mahasiswa atau Presiden Mahasiswa yang tidak mengerti akan perannya? Jujur kawan fenomena ini mengisyaratkan suatu bentuk ketidak becusan seorang presiden mahasiswa sebagai tambuk pimpinan tertinggi lembaga kemahasiswaan. Inikan lucu dan konyol bagaimana mau hadir dalam mengawal aspirasi mahasiswa mengelolah internalnya sendiri saja tidak becus. Apakah sesulit itu menjadi presiden mahasiswa? kalau memang seperti itu alangkah bijaksananya kalau anda mengundurkan diri saja!

Bukankah saat terpilihnya anda sebagai presiden mahasiswa itu menggabarkan bahwa anda adalah representasi keterwakilan ribuan mahasiswa IAIN Kendari. Pertanyaannya apa yang anda wakilkan selama ini? Jujur saja kami sudah muak dengan sikap anda dan saya percaya salah satu musibah di masa pandemi adalah terpilihnya anda sebagai presiden mahasiswa.  Ingat pak presma setiap amanah yang di berikan itu akan di mintai pertanggung jawaban di hadapan Tuhan saya kira anda paham persoalan itu. memangnya anda tidak takut kelak nanti akan di siksa oleh Tuhan karena menjadi presiden mahasiswa yang tidak bertanggung jawab?

Oh ya! bagaimana kabar tentang alokasi kuota internet bagi mahasiswa yang sedang kuliah online? Saya yakin pasti anda tidak tau. Bagaimana sikap anda juga terkait kewajiban vaksin untuk mahasiswa yang akan kuliah offline? Saya yakin anda binggung mau bersikap seperti apa. Oh ya hampir lupa bagaimana anggaran DIPA yang jumlahnya sebanyak 60 juta yang katanya LPJ (laporan pertanggung jawaban )nya yang sudah di terima di birokrasi kok saya nggak dapat maanfaatnya sama sekali, itu di apakan saja? Kalau alasannya buat seminar di dalam hotel dengan menghadirkan Warek 3 dan anda sendiri yang menjadi narasumber saya rasa tidak akan sebanyak itu anggarannya bahkan anak kecilpun tau kalau penggunaan anggarannya tidak realistis ataukan jangan jangan sekalian anda tanam saham di hotel itu?. 

Bagaimana bisnis lancar? Oh iya, dengar-dengar  mau ada pencairan anggaran lagi. Rencana mau bisnis apa lagi yang mau di buat? Ya kalau bisa sekali kali bisnis kucing juga minimal tidak kalau tidak untung pahalanya dapat kan lumayan untuk investasi akhirat.

Tidak usahlah anda berbicara persoalan negara yang lebih luas seperti Jokowi The King Off Liff Service yang di cetuskan oleh BEM UI karena saya tau anda pasti takut atau gerakan vaksinasi yang di lakukan oleh BEM UHO karena saya tau juga anda pasti gugup. Tidak usah itu, terlalu berat buat anda cukup eksistensi dan kontribusi anda yang kami butuhkan yang berdampak bagi kami mahasiswa itu saja sudah cukup. Jangan karena alasan pandemi anda menjadikan jabatan presiden mahasiswa sebagai ajang arogansi dan mengisi kurikulum vitai saja, jujur kawan itu menjijikan. 

Melalui tulisan ini saya sebagai mahasiswa IAIN Kendari yang aktif berkecimpung dalam dunia organisasi menyampaikan Mosi tidak percaya lagi dengan Presiden Mahasiswa IAIN Kendari sejak detik ini. Sebagai mahasiswa yang waras dengan pertimbangan secara realistis saya menyampaikan bahwa Presiden Mahasiswa IAIN Kendari sudah tidak layak lagi memimpin lembaga kemahasiswaan di lingkup IAIN Kendari. Penegasannya sederhana apa karya anda? Prestasi anda? Apa kontribusi anda? Yang tentunya bagian dari pada mengawal hak hak dan aspirasi mahasiswa sehingga dasar kami untuk melegitimasi anda itu jelas.

Berhenti berpura pura amnesia karena itu akan semakin memperburuk citra anda jika anda masih merasa memiliki tanggung jawab besar persoalan kemahasiswaan saatnya mulai berbenah tetapi jika itu sudah di luar dari kemampuan anda maka mengundurkan diri itu adalah pilihan yang tepat.

Semestinya anda harus merasa malu sebab eksistensi anda saat ini memberikan contoh yang buruk untuk generasi selanjutnya. Distorsi dan kemandulan kreatifitas yang saat ini menggrogoti anda adalah penyakit akut yang harus segera anda sadari karena itu hanya akan berdampak pada pandangan public dalam menilai kualitas anda.

Note:

Al-Izar adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari angkatan 2019 aktif sebagai pegiat literasi dan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ibnu Rusyd Fakultas Syariah IAIN Kendari.

Penulis: Al-Izar
Editor: Rizal

 

Sepucuk Surat Untuk Sahabatku “Malam”

Malam….
Izinkan aku untuk merangkai
Kata didalam kesunyian karna ku tau
Engkau secerah cahaya dalam kegelapan

Malam….
Berilah aku kesempatan
Untuk melontarkan perkataan
Karna ada keresahan
Yang tidak bisa ditampung dalam fikiran
Meski engkau tak memberi jawaban
Setidaknya engkau sudah untuk mendengarkan

Karna aku tau pantang bagimu untuk
Memberi balasan kepada mahluk rendahan

“Hadirkan aku sebuah harapan agar aku tak merasa kehilangan jalan”
“Hadirkan aku sebuah candu agar diriku tak merasa bosan”
“Hadirkan aku sebuah sebuah kawan agar diriku tak merasa kesepian”
“Hadirkan aku sebuah keadaan tanpa keresahan agar diriku tak merasa sunyi dalam keramaian”

Salam dari mahluk yang merasa kesepian

Oleh : F.A

Lembaga Pemerhati Kebijakan Kampus Menggelar Aksi Ceremonial Untuk Maba

Kendari, PersKampusbiru.com – Lembaga Pemerhati Kebijakan Kampus menggelar aksi demonstrasi bertajuk Ceremonial untuk menyambut Mahasiswa baru angkatan 2021 di pelataran gedung terpadu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Senin (13/09/2021).

Selain sebagai Ceremonial, aksi ini juga digelar untuk menuntut para pimpinan kampus untuk mengontrol dengan baik kinerja yang dilakukan oleh Organisasi Kemahasiswaan yang ada didalam kampus.

Jendral Lapangan. Taichi mengatakan bahwa, aksi ini adalah awal untuk mewujudkan tuntutan mereka terkait bagaimana kinerja para pucuk pimpinan kampus.

“Aksi ini akan ada aksi lanjutan untuk mewujudkan tuntutan kami, karena banyak informasi yang kami dapatkan terkait kinerja-kinerja yang dilakukan oleh para pucuk pimpinan kemahasiswaan dalam hal ini yaitu Warek 3 dan Pimpinan Organisasi yang ada didalam kampus ini” kata Taichi saat ditemui Wartawan perskampusbiru.com.

Taichi meminta agar Warek 3 selaku bidang Kemahasiswaan, mengawasi dengan sungguh-sungguh kinerja dari Organisasi kampus.

“Saya meminta kepada Warek 3 untuk mengawal baik-baik terkait kinerja daripada Sema dan Dema, sehingga Organisasi-Organisasi tersebut kinerjanya bisa berjalan sesuai regulasi yang ada” harapnya.

Salah satu massa aksi, Masyur juga berharap kepada pucuk pimpinan kampus untuk lebih serius dalam mengemban tugas dan melakukan pengawasan terhadap Lembaga-Lembaga Kemahasiswaan jika mereka memang bertekad untuk bertansformasi menjadi UIN.

“Saya berharap kepada pucuk pimpinan kampus jangan hanya menggaungkan cita-cita untuk menjadi UIN atau juga hanya berharap dipuji tapi kurang persoalan untuk bisa di puji, tetapi saya meminta mereka untuk lebih serius dalam mengemban tugas dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap Lembaga-Lembaga Kemahasiswaan, sehingga cita-cita untuk menjadi UIN ini bukan hanya sebatas angan-angan saja.” Tukasnya.

Reporter: Renaldi Rausan
Editor 
: Ai

UKK Mahiscita Gelar Upacara Pelepasan Peserta Dikdas Angkatan ke-XXVI

Reporter : Rizal Saputra
Editor : Elfirawati 

Kendari, PersKampusbiru.com – Unit Kegiatan Khusus Mahasiswa Islam Pencita Alam (UKK Mahiscita) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, gelar upacara seremonial sekaligus pelepasan peserta Pendidikan Dasar (Dikdas) angkatan XXVI di Pelataran Gedung Rektorat IANI Kendari, senin (13/9/2021).

Ketua Panitia Dikdas angkatan XXVI Mahiscita IAIN Kendari, Muh. Syah Futra H. mengatakan tema yang diangkat pada Dikdas ini “Membentuk kader pencinta alam melalui petualangan yang tangguh berani disiplin dan beriman”.

“Tema yang diangkat pada pendidikan dasar angkatan XXVI kali ini yaitu, membentuk kader pencinta alam melalui petualangan yang tangguh berani disiplin dan beriman,” ucap Muh. Syah Futra saat menyampaikan laporan dalam upacara.

Menurut Muh. Syah Futra H bahwa, untuk membentuk kader mahasiswa islam pecinta alam yang tangguh perlu adanya petualang.

“Dalam membentuk suatu kader pencinta alam itu kita memerlukan suatu petualangan. Kepetualangan itu kita perlu tangguh, tangguh kepada semuah aspek yang ada di alam. Kita juga harus berani mengambil suatu keputusan ketika kita telah dihadapkan dengan alam liar,” tuturnya. 

Sementara itu, Pembina UKK Mahiscita IAIN Kendari, Dr. Muh. Iksan Ma.g mengatakan, kita sebagai manusia harus menjaga dan memelihara alam itu sama halnya dengan kita menjaga saudara kita sendiri.

“Dalam islam itu ada dua ayat, ada yang disebut ayat Qauliyah dan ayat kauniyah. Yang difirmankan kepada tuhan itulah yang sementara ini kita pake,” tuturnya.

Menurut dia, ayat Qauliayah itu yang diciptakan, manusia alam itu ayat Qauliyah. Jadi kita ini ayat tuhan, alam pun ayat tuhan. Kenapa anda kemudian berjibaku untuk memelihara alam itu karna kita secara positif bersaudara dengan alam.

“kalau tidak percaya buka surat attin, kenapa ketika tuhan sudah bersumpah demi alam lalu kemudian ayat ke empat berbicara persolana penciptaan manusia yang sempurnah, itu artinya secara hakiki kita punya hubungan atau persaaudaran denga alam,” paparnya.

Di akhir Ketua Panitia Dikdas angkatan XXVI Mahiscita IAIN Kendari, Muh. Syah Futra H, berharap UKK Mahiscita lebih baik lagi.

“Kedepannya semoga kelembagaan ini selalu sukses jaya selalu,” harapnya.

Untuk diketahui, kegiatan Dikdas angkatan ke-XXVI dilaksanakan di Desa Wolasi Kecamatan Wolasi Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) pada 13-19 September 2021.

 

Berkarya dengan Bahagia Ala Seniman Kampus

Kemerdekaan adalah hak semua bangsa ungkapan ini merupakan salahsatu redaksi yang terdapat dalam UUD Negara RI 1945. Saya kira itu cukup keren dalam membakar semangat perjuangan pada waktu itu. Tetapi tidak sekeren para penikmat malam yang menghabiskan waktunya hanya bercermin dengan layar kaca handponenya, benar mereka adalah mahasiswa kebanggaan Negara yang rutinitasnya hanya menghabiskan waktunya bermain game online menghabiskan uang orang tuanya untuk membeli paket internet. Hobynya tidur subuh bangun sore sungguh sosok teladan yang membanggakan.

Tapi terserahlah asal kau bahagia seperti judul lagu band armada. Ia bahagia, saya kira bahagia juga itu kemerdekaan seperti halnya yang saya tulis ini sebagai wujud ekspresi kebahagian saya. Bahagia itu penting bahkan Buya Hamka pun dalam bukunya Tasawuf Modern itu membahas tentang kebahagiaan. Sederhananya bahagia itu bersyukur dan ikhlas dengan eksistensi diri tanpa harus terbebani oleh entitas lain.

Bagaimana malam minggu kalian? Semoga bahagia dan baik baik saja, tak semendung langit di sore hari. Seolah olah semesta sedang bersekongkol dengan para jomblo di seantero negeri.

Tapi ada yang menarik di malam minggu kali ini sebab ada beberapa mahasiswa kampus yang menggelegar pentas seni mereka menamakannya malam sejuta seni semoga saja mereka ini bukan para jomblo yang sedang bersekongkol dengan semesta yang sekedar untuk mengisi malam mingguanya agar terkesan produktif.

Mereka mengangkat tema berkarya dengan bahagia menarik sih ya. Walaupun kesan penampilannya seolah olah ada unsur gerakan pertobatan secara berjamaah. Sebagai mahasiwa yang cukup sesepuh di kampus yang juga tergabung dalam organisasi Seni tersebut cukup kagumlah dengan kreatifitas mahasiswa generasi sekarang trobosannya tidak bisa ditebak tetapi memang pada prinsipnya doktrin untuk berkarya itu penting sebab itu membentuk kemandirian dalam mengekspresikan diri,

Saya pernah membaca salah satu buku yang membahas tentang seniman tapi lupa sih judul bukunya apa yang jelasnya di dalam buku tersebut ia membahas bahwa seniman itu sama dengan tuhan memang terkesan lumayan ekstrim sih ia menjelaskan bahwa seniman dan tuhan itu kesamaanya sama sama mampu melahirkan ralitasnya sendiri. Ya dalam hal ini saya sepakat tetapi pada kadar yang berbeda, saya tidak mau membahas terkait kesamaan antara seniman dan tuhan teralu jauh karena kajiannya berat coy, serius!! bahkan beratnya melebihi menyelesaikan skripsi.

Salahsatu senior pernah mengatakan bahwa seni adalah sebagai media perlawanan terhadap realitas sosial ia menceritakan pada pertengahan abad ke 19 masehi ada seseorang yang berkebangsaan belanda namanya Eduar Dawes Deker menulis sebuah buku novel yang berjudul Max Havelaar buku tersebut berisi tentang penyelewengan bupati dan kepala residen pada system taman paksa yang berlaku di Hindia Belanda dan kritik tersebut mengunggah hati para kaum humanis di Belanda untuk melakukan protes terhadap kerajaan belanda dan 10 tahun setelah novel itu terbit Belanda menghapuskan system kerja paksa di Indonesia.

Kemudian kita kenal juga R.A Kartini dengan bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi tentang kumpulan surat Kartini dengan sahabat penanya yang belakangan diketahui adalah seseorang yang berkebangsaan Belanda. Di dalam surat tersebut berisi terkait gagasannya tentang kekangan system feodalisme dan kolonialisme yang tentunya menghabat kemajuan bangsa pribumi. Ia juga mencantumkan gagasannya bagaimana seharusnya peran perempuan dalam kehidupan tatanan sosial yang kita kenal sampai hari ini dengan istilah emansipasi wanita.

Ada juga Ismail Marzuki yang mewujudkan integrasi melalui seni dan sastra di usianya yang baru beranjak 17 tahun ia telah berhasil menciptakan lagu pertamanya yang berjudul “O Sarinah” pada tahun 1936″. Ia adalah sosok yang menjauhkan diri dari lagu lagu barat dan kemudian fokus menciptakan lagu lagunya sendiri dan lagu – lagu yang ia ciptakan sangat di warnai oleh semangat kecintaanya terhadap tanah air.

Dan yang terakhir senior itu juga menceritakan kisah perjuangan Wiji Thukul, ia menceritakan bahwa Wiji Thukul bukan hanya seorang aktivis tetapi juga sebagai penulis puisi perjuangan. Yang khas dari sosok Wiji Thukul bahwa ia bukannya menulis puisi tentang protes, melainkan sosoknya menjadi represntasi akan protes itu sendiri. Karena itu jangan heran kalau puisinya gampang melebur dalam setiap aksi momen pergolakan dan berbagai aksi protes.

Nahasnya pada tahun 1998 Wiji Thukul menghilang dan hilangnya secara resmi di umumkan secara resmi oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) pada tahun 2000.

Kontras mengatakan bahwa hilangnya Wiji Thukul sekitan tahun 1998 karena di duga oleh aktivitas politik yang di lakukukan Wiji Thukul sendiri dan saat itu bertepatan dengan operasi represif Rezim Orde Baru dalam rangka upaya pembersihan aktifitas politik yang bertentangan dengan Rezim Orde Baru. Dan sejak saat di nyatakan hilang saat ini keberadaan Wiji Thukul masih misteri apakah ia masih hidup atau sudah tiada.

Sebagai mahasiswa yang mengangumi coretan tanganya saya sangat terkesimah ketika pertama kali membaca tulisannya di dalam buku Bangkitlah Gerakan Mahasiswa yang di tulis oleh Eko Prasetyo. Di dalam buku tersebut terdapat satu puisi yang berjudul “Ucapkan Kata – katamu” pada bait terakhir berbunyi “Jika kau menghaba pada ketakutan kita akan memperpanjang barisan perbudakan” yang kemudia puisi tersebut mengsugesti saya tentang bagaimana cara saya bersikap dan bertindak.

Sehingga pada prinsipnya secara historis seni memiliki peran yang saya nilai cukup besar dalam proses perjuangan pada masa masa perjuangan bangsa kita, dan Berkarya dengan Bahagia adalah wujud perjuangan.

Berkarya dengan Bahagia adalah wujud kemerdekaan diri. Ia! seperti kamu! Kamu juga wujud karya yang katanya ayah pidi baiq kita adalah karya kedua orang tua kita yang di selundupkan dari surga di kamar pengantin. Ya tanpa harus di jelaskan saya kira kamu sudah paham maksud dari itu.

Berkarya dengan Bahagia adalah wujud perlawanan. Ia! Perlawanan terhadap penindasan diri pada sikap yang tidak produktif sebab sikap yang pasif adalah wujud penjajahan diri.

Berkarya dengan Bahagia adalah wujud ekspresi diri. Ia! ekspresi tentang keberanian dalam mengambil sikap atas fenomena sosial.

Berkarya dengan Bahagia, Bahagia dengan Berkarya, dan Teruslah Berkarya!.

Penulis: M.S

Diskriminasi Akal Oleh Sang Pencipta

Suasana hening
Untuk malam yang indah,
Lantunan suara angin
Yang seakan-akan
Saling membuat relasi,

Oh… sang kalimat
Yang dibentuk oleh kata,
Hal unik apa yang kalian miliki
Sehingga akal ini sulit
Untuk melahirkan ide
Dalam menggagas mu,

Keterbatasan apakah
Yang dimiliki akalku?
Apakah perlu ku khayalkan
Dirimu sebagai sang penguasa
Agar engkau selalu menuntun akal ku untuk bisa memahami mu…

Oleh: F.A

Rasanya Aku Ingin Berdoa Bersamamu Lagi

Hai..

Apakah kau akan membaca tulisan ini dengan baik? atau kau hanya akan melewatkannya seperti yang biasa kau lakukan setelah kita menjadi ‘dua orang asing’? Terserah itu hakmu. Sejak awal, aku tak pernah ingin mengarahkanmu atau memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau mau.

Kau begitu pandai bergaul dan mandiri, itu adalah kemewahan yang harus kau jaga.

Dimanapun kau berada, kau harus tahu, lagi-lagi aku kehilangan diriku dan harus menulis semua ini untuk memadamkan sebagian tubuhku yang terbakar, juga menguatkan sisi lain hatiku yang melemah.

Kau tentu tahu, aku benci hidup dalam pengulangan. Namun, segala masalah yang terjadi di duniaku tak pernah benar-benar selesai. Selalu terulang, terulang dan terulang.

Dari tujuh miliar manusia yang hidup di bumi, kau adalahl satu-satunya orang yang paling mengerti tentang masalah ini, kau membuat masalahku terdengar tidak remeh dan begitu hidup dan kau menguatkanku dengan caramu dan menuntunku berdoa, itu adalah satu momen terbaik dalam pertumbuhan hatiku.

Hari ini, masalah itu mengambil pikiranku sekali lagi, masalah itu tak pernah selesai. Ia terus tumbuh dan menjadi lebih besar dari sejak terakhir kau menemaniku menghadapinya.

Sekarang, katakan, bagaimana aku bisa terus bertahan dan melawan semua ini?

Jika kau membaca ini, aku ingin berterimakasih. Aku baru menyadari betapa hebatnya kau menguatkanku (dulu) dan betapa baiknya kau mau menyempatkan waktu untuk mendengar, membaca dan menenangkan badai duniaku.

Saat ini, aku benar-benar lelah, aku lupa bagaimana cara bersikap dan bagaimana cara terbaik untuk menghadapi masalah yang tak pernah selesai ini.

Aku hanya berpikir untuk mematikan ponselku dan mulai berjalan ke sisi dunia yang dingin, menjatuhkan diriku ke dalam segala sesuatu yang begitu abu-abu.

Rasanya Aku Ingin Berdoa Bersamamu Lagi.

Oleh : VVIP

Benci Berbalas Kerinduan

Mungkin saja hujan bisa berhenti ,
Mungkin saja awan tak lagi cerah,
Dan bisa saja kalbu kembali terusik,
Terusik kan dengan satu ketukan…
Yang membuatnya lupa.

Awan yang cerah kini merenung,
Tak berbicara
Hanya nampak teduh dari sana,
Darinya kejauhan ,
Merasakan angin yang berhembus..
Sampai -sampai bergetar jiwa,
Mencari sebuah titik ketenangan,
Hingga akhirnya
Kenyataan berbicara

Kini keadaan jauh berbeda,
Seakan gelap dalam cahaya,
Mencari kehangatan dalam api,

Yahhh ..
Sungguh rasa yang sangat aneh
Ketika akhirnya
Benci ku berbalas kerinduan.

Oleh: A.M

(Istimewa. Foto: A.M)

Terjebak Dalam Rasa

 

(Istimewa. Foto: A.M)

Saat aku memutuskan mencintaimu,
Aku kan memilih menjauh,
Bukan karena tak cinta,
Hanya saja..
Aku ingin menjagamu
Menjagamu dari perasaan yang mungkin saja menjebak,
Perasaanku terlalu dalam,
Untuk jiwaku yang begitu lemah,

Aku sadari,
Mungkin saja kan melukai mu,
Namun sungguh,
Aku letih,
Membawa rindu sendirian,
Di sini,
Bertemankan sepi..

Terjebak dalam rasa
Yang seharusnya tak ada,
Neraka begitu panas,
Berat tuk melaluinya,
Diriku yang lemah
Tak bisa aku menentang
Akan rasa yang datang,
Kupanjatkan doa
Padanya maha cinta
Agar dipertemukannya kita
Dalam kehalalan yang indah.

Oleh : A.M

Kompas Yang Rusak

Oleh A.M

Suara gemuruh dari kegelapan malam

Dingin yang menusuk tulang

Bintang yang nampak redup

Bulan yang perlahan menghilang

Heiii…

Di mana Aku???

Di mana kalian??

Di mana mereka???

Ku berjalan ke tepi barat

Ku tersesat tak menentu

Ku berjalan ke tepi timur

Ku terasing tak dikenal

IAIN Kendari Bakal Gelar Vaksinasi Tahap Satu Gelombang Ke-III


(Tugu IAIN Kendari. Foto: Ist)

Reporter: Elfirawati

Editor: Rizal Saputra

Kendari, PersKampusBiru.com – Institiut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari bersama Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) bakal gelar kembali vaksinasi tahap satu Gelombang ke II. pada 13 September 2021 mendatang.

Hal itu, disampaikan oleh Wakil Rektor III, Dr. H. Herman, M.Pd.I  ia mengatakan, pada tanggal 13 September 2021 akan dilaksanakan vaksinasi tahap satu gelombang ke-II, di Aula Mini Perpustakaaan IAIN Kendari.

“Rencana hari senin depan ini pada tanggal 13 september di Aula Mini Perpustakaaan” uangkap Wakil Rektor III, rabu (9/9/2021).

Mahasiswa IAIN Kendari Gelar Aksi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Utama Kuliah Tatap Muka


(Ketgam: Suasana hearing masa aksi bersama masa aksi. Foto: Rizal)

Reporter: Rizal Saputra

Editor: Elfirawati

Kendari, PersKampusBiru.com – Belasan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Melawan (Kawan) mengelar aksi damai dengan berbagai tuntutan kepada pihak Birokrasi Kampus.

Dari pantauan PersKampusBiru.com, demonstrasi yang digelar Kawan tersebut dilakukan di Pelataran Gedung Terpadu IAIN Kendari hingga menuju ke Gedung Rektorat, Kamis, 9 September 2021.

Belasan mahasiswa itu menutut dengan adanya pendistribusian paket kuota internet bagi mahasiswa yang mengikuti proses perkulihan online. Selain itu, vaksinasi jangan jadikan sebagai syarat utama kuliah tatap muka, dan ketiga Pihak Birokrasi dapat mengevaluasi kinerja lembaga kemahasiswaan.

Jendral lapangan, Harpan Fajar mengatakan bahwa pihak kampus kini menjadikan sertifikat vaksin menjadi syarat bagi mahasiswa untuk melaksanakan perkuliahan secara tatap muka. Sehingga hal tersebut menua kritik dari kalangan mahasiswa.

”Kemudian persoalan vaksinasi yang baru-baru ini telah diadakan oleh pihak IAIN Kendari bersama Polda Sultra menuai kritik dari pihak mahasiswa, sebab pihak kampus menjadikan vaksinasi sebagai syarat wajib bagi mahasiswa agar bisa melakukan pembelajaran tatap muka,” ucap Harpan saat melakukan hearing bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan.

Menurut mahasiwa semester tiga ini, bahwa vaksinasi bukanlah syarat wajib bagi peserta didik untuk bisa mengikuti pembelajaran tatap muka. Kecuali tenaga pendidik, sebagai mana instruksi Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim ketika rapat kerja bersama komisi X DPR-RI.

“Bahkan di dalam surat keputusan 4 menteri dan surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam terkait proses pembelajaran tatap muka tidak ada satu katapun di dalam surat tersebut mengatakan bahwa vaksinasi menjadi syarat wajib peserta didik untuk mengikuti pembelajaran tatap muka” tuturnya.

Tak hanya itu, pihak Rektorat IAIN Kendari juga harus segera merealisasikan paket kuota internet sesuai dengan ketetapan dan pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas ketika menjadi narasumber webinar peresmian lanjutan bantuan kuota.

“Bahwa dalam menunjang sistem pembelajaran secara online terlebih lagi di masa Covid-19 maka Kementerian Agama mengalokasikan anggaran sebesar Rp 479 miliar untuk mendukung kebutuhan bantuan paket kuota internet peserta didik dan tenaga pendidik selama tiga bulan, yaitu September, Oktober, dan November,” paparnya.

Sehingga, hal itulah yang membuat landasan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi, karena seharusnya pendistibusian paket kuota itu telah berjalan mengingat waktu penyalurannya dari bulan September hingga November.

“Tetapi sampai hari ini sudah mau memasuki pertengahan bulan September belum juga ada SMS yang membuat mahasiswa tersenyum,” ujarnya.

Semantara itu, Wakil Rektor, III Dr. Herman, M.Pd.I mengatakan bahwa sesuai dengan surat edaran dari dirjen, bisa di sesuikan dengan kondisi wilayahnya untuk melaksanakan perkulihan dengan tatap muka dan adapun tetap terlaksananya perkulihan Offline itu tergantung dengan dosen masing-masing.

“Bahwa surat edaran dengan dirjen itu, kita melihat dari kondisi wilayah masing-masing. Kalau level satu dua itu boleh tatap muka 50 persen. Kalau level tiga dan empat bisah melaksanakan kuliah tatap muka 25 persen, tatapi lagi-lagi kalau ini terlaksana ini tergantung dari dosennya juga,” kata Herman saat di temui oleh masa aksi.

Lanjut Herman, terkait permasalahan di wajibkannya vaksin untuk para mahasiswa, ia mengatakan bahwa di surat edaran tidak adan namanya kewajiban, jika ada mahasiwa yang tidak mau vaksin silahkan.

“Kita sudah aplod pengumuman pendaftaran vaksin itu, dengan tidak ada namanya suatu kewajiban, terserah anda kalau merasa bahwa tidak ada masalah ji kalau sya nda divaksin ya silahkan” ujarnya

“Kaitannya dengan perkukiahan Waktu itu kita rapat bersama dosen-dosen yang bersangkutan, kalau umpanya anak-anak belum vaksin ya terserah dosennya apakah mau memasukan kalian kuliah didalam ruangan  atau tidak itu tergantung hak otoritas dosen yang bersangkutan  dosen masing-masing,” lanjutnya.

Lebih lanjut, terkait permasalan kuota internet ia mengatakan, itu sudah di tanggani oleh Rektor dan tinggal menunggu saja untuk pendistribuaannya.

“Kebetulan kemarin sudah ditandatangani oleh Rektor dan sudah dikirim. Sekarang tinggal kita menunggu pendistribusian dari dirjen. Kalau dulu anggaranyakan di transfer direkeningnya kita, sekarang langsung, jadi kalau untuk sekarang mereka hanya minta nomor hp dari fakultas yang valid dan mereka yang akan transfer langsung,” tutupnya.