BPPO Mahiscita Sebut Birokrasi Kampus IAIN Kendari Kurang Merespon Kegiatan Kemahasiswaan

Reporter: Rizal Saputra

Editor: Al-Izar

Objektif.Id, KENDARI – Badan Pertimbangan dan Penyelamat Organisasi Mahasiswa Islam Pencinta Alam (BPPO Mahiscita) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, menilai Birokrasi kampus kurang merespon kegiatan kemahasiswaan.

Mahasiswa dan Birokrasi Kampus merupakan dua pihak yang tidak dapat dipisahkan. Bisa dikatakan seperti itu karena salah satu penyebabnya, adalah saling keterbutuhan diantara keduanya, tak lain adalah karena masalah akademik dan juga kemahasiswaan.

BPPO Mahiscita, Iqbal Manrudda mengatakan meski diundang untuk membuka kegiatan Milad Mahiscita yang Ke-23 tahun, nampak tak ada salah satu respon dari pihak birokrasi.

“Mungkin karna mata saya agak sedikit rabun, tapi saya tidak melihat tanda-tanda kehadiran birokrasi,” ungkapnya saat menyamkpaikan sambutan di Milad Mahiscita IAIN Kendari, Jum’at (29/10/2021).

BPPO Mahiscita IAIN Kendari, Iqbal Manrudda

Menurutnya, Birokrasi Kampus IAIN Kendari sebagai pelindung dan penasehat organisasi Internal Kampus, dan pihak kampus juga adalah orang pertama yang harus mendukung disetiap kegiatan lembaga kemahasiswaan.

“Birokrasi Kampus IAIN Kendari dan selayaknya sebagai pelindung, penasehat semua organisasi dalam lingkup kampus IAIN Kendari ini, mesti selayaknya hadir bersama-sama kita malam ini,” tuturnya.

Iqbal menambahkan bahwa hal seperti ini tidak akan menurunkan semangat, tetapi ini adalah motivasi buat kita agar lebih semangat lagi mengembangkan organisasi.

“Ini bukan berarti membuat turun semangat kita dalam membangun organisasi, tapi ini adalah motivasi buat kita. Semoga kedepannya organisasi yang kita cintai ini mempunyai taring, mempunyai gigi yang tajam, mempunyai kekuatan yang besar. Maka Insya Allah jangankan birokrasi kampus yang hanya lingkup kampus IAIN Kendari saja, tapi presiden Republik Indonesia ini bisa turut adil bersama-sama kita,” tambahnya.

Diakhir sambutanya, Iqbal berharap untuk ke depannya kader-kader Mahiscita tetap semangat dan kreatif, agar kedepannya kegiatan berikutnya bisa direspon oleh pihak birokrasi.

“Satu pesan buat kita semua jangan pernah berpikir bahwa organisasi yang kita cintai ini, hanya berdiam diri tanpa berpikir dan berbuat. Tapi justru jika kita diam dengan perlakuan yang kita rasakan sampai malam ini, untuk membuat sebuah inovasi, agar kedepan kegiatan yang kita selenggarakan setidaknya, birokrasi merespon dan bisa hadir bersama-sama” harap Iqbal Manrudda salah satu alumni Fakultas Syariah IAIN Kendari.

Dosen Sering Sakit Karena Selalu Memikirkan Mahasiswa Berambut Gondrong

Penulis : Tumming 

Dewasa ini, tak jarang kita melihat seorang mahasiswa yang berambut gondrong mendapatkan diskriminasi, baik itu dalam ruang intelektual kemahasiswaan maupun di lingkup masyarakat, mulai dari Rektor, Dekan, Dosen atau bahkan sesama teman-teman mahasiswa itu sendiri.  Oleh karena itu, penulis kemudian mencoba untuk menuangkan persepsinya mengenai fenomena yang masih sangat banyak diperbincangkan saat ini.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih terfokus kepada problematika gondrong dalam ruang intelektual saja (Dunia Mahasiswa), karena tekanan yang lebih dominan didapatkan oleh mahasiswa berambut gondrong yaitu pada saat berada didalam ruang lingkup tersebut. Juga kepada dosen yang sering sakit-sakitan karena terlalu sering memikirkan mahasiswa gondrong. Namun sebelum itu, penulis akan sedikit bercerita mengenai gondrong dan sejarahnya di Indonesia.

Sejarah Rambut Gondrong di Era Orde Baru

Berbicara persoalan gondrong, pada masa Orde Baru juga sempat dilarang. Alasannya karena Pemerintah ingin agar anak Indonesia dapat dibentuk menjadi anak yang penurut dan patuh terhadap orang tua seperti layaknya konsep keluarga di Jawa. Selain melarang anak muda berambut gondrong, juga melarang anak muda yang berambut gondrong untuk ikut berbaur dengan politik karena berbagai alasan, salah satunya dikhawatirkan mengancam pemerintahan Orde Baru. (Berarti aturan sebagai pembenaran untuk mempertahankan kedudukan dong? Aduuh RUSAK).

Saking seriusnya, pemerintah kemudian membentuk Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (Bakorperagon) yang beroperasi di sudut kota dan daerah di Indonesia untuk merazia pemuda berambut gondrong.

Andi Achidan dalam pengantarnya di buku “Dilarang Gondrong: Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an” (2010: vii), menyebutkan bahwa kebijakan yang melarang rambut gondrong bagi pemuda  pernah ditayangkan di TVRI tanggal 1 Oktober 1997. Selain itu, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Jendral Soemitro juga mengumumkan kebijakan itu dalam sebuah acara televisi yang berjudul “Bincang-bincang di TVRI”. Soemitro mengatakan bahwa, fenomena tersebut dapat menyebabkan keadaan acuh tak acuh yang dapat memancing meningkatnya angka kriminalitas di Indonesia.

Kriminalisasi Gondrong di Era Belanda

Aria Wiratma Yudishtira, penulis buku “Dilarang Gondrong: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an” (2010: 107) pernah membahas hal ini. Dia mengungkapkan, kriminalisasi terhadap orang-orang berambut gondrong juga pernah dilakukan oleh Belanda selama periode revolusi pada tahun 1945-1949.

Hal tersebut juga diulas Sejarawan barat bernama Antonie, JS. Reid, dalam bukunya yang berjudul “Revolusi Nasional Indonesia” (1996: 89-92). Sejarawan tersebut menjelaskan, di tengah suasana Revolusi, muncul berbagai elit pejuang Indonesia yang berpenampilan eksentrik, seperti berambut panjang, berpakaian militer, dan menenteng pistol.

Dalam sejarah rambut gondrong disebutkan saat itu, penampilan dengan rambut gondrong dianggap oleh belanda sebagai musuh, bahkan juga diduga teroris  dan ekstrimis yang siap memberontak. Belanda menilai pasukan revolusioner di Indonesia sebagai kaum kriminal yang membahayakan.

Beda halnya dengan pendapat Ali Sastroamijoyo dalam biografinya yang berjudul “Tonggak-tonggak di Perjalananku” (1974: 198). Ali justru menggambarkan pemuda yang berambut gondrong dengan gaya yang urakan di Yogyakarta pada awal tahun 1946 sebagai kekuatan revolusi bangsa.

Gondrong dan Kampus

Berbicara soal pendidikan intelektual, maka substansinya adalah bagaimana kemudian disiplin ilmu yang disampaikan oleh seorang dosen itu dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh mahasiswa, bukan persoalan bagaimana seharusnya mahasiswa berpenampilan dalam ruang pembelajaran di kelas.

Jika kita membandingkan antara mahasiswa yang bergelut di organisasi dan yang tidak, itu kemudian memiliki perbedaan yang begitu signifikan, baik dalam hal keilmuan, retorika diskusi dan lain-lain. Mengapa demikian? karena organisasi tidak mengungkung kadernya (Mahasiswa) untuk berpenampilan seperti ini dan itu untuk bisa mendapatkan ilmu. Artinya mahasiswa diberikan kemerdekaan dalam berpenampilan (free action).

Jika dikaitkan dengan rambut gondrong, maka tidak ada korelasi antara rambut gondrong dengan perkuliahan. Emangnya rambut gondrong nutupin pandangan mahasiswa yang lain saat kuliah? Kan nggak! Emangnya yang rapih itu bisa serapih pemikirannya? Kan nggak! Toh yang melakukan kasus pelecehan kepada mahasiswi di kampus kan rambutnya rapih,  yang melakukan korupsi proyek dalam kampus juga rambutnya rapih dan dosen yang melakukan provokasi antara mahasiswa dengan pihak fakultas demi satu kepentingan pun rambutnya rapih. Lantas kenapa kemudian yang berambut gondrong masih selalu dipermasalahkan atau para dosen takut akan dibuka kebusukannya oleh para mahasiswa yang berambut gondrong seperti pada masa Soekarno dulu?

Salah satu dosen yang saya temui mengemukakan alasannya, yaitu karena ingin menegakkan kode etik. Tapi ketika kemudian saya bertanya , “Pelarangan gondrong itu diatur dalam bab berapa, pasal berapa dan poin keberapa?” dosen tersebut kalang kabut mencari buku Kode Etik Mahasiswa yang berada di laci mejanya. “gak usah di cari pak, itu dibahas di Bab V, Pasal XIII Tentang Pelanggaran Ringan, Poin ke V” kataku. Lah gimana mau menegakkan kode etik kalau gak tau kode etiknya? Aduuh RUSAK!!!

Dosen Sering Sakit Karena Terlalu Banyak Mikirin Gondrong

Banyak orang yang memisahkan antara penyakit fisik dan mental. Seolah-olah apa yang terjadi di fikiran tidak berpengaruh sama sekali terhadap kondisi fisik kita. Padahal, sudah lama para ilmuan kesehatan menemukan bahwa pikiran dan kesehatan tubuh memiliki hubungan dua arah yang saling mempengaruhi.

Di ilmu Pengobatan Psikosomatis dijelaskan, bahwa apa yang terjadi di otak kita bisa mempengaruhi badan secara keseluruhan. Maka tidak heran ketika ada orang yang stress kemudian mengalami tegang leher. Kalau sakit kepala, bisa kemudian mengalami sakit lambung juga, karena ada interconectinon (keterkaitan).

Kalau kita ke dokter kemudian bertanya “Dok, saya sakit kepala” kemudian dokter berkata “Kamu ini sakit kepala karena banyak mikir”. “Betul, saya lagi mikirin mahasiswa gondrong yang ikut di kelas saya”. Tapi pertanyaannya, kenapa jadi sakit kepala? Karena dengan memikirkan mahasiswa gondrong itu, otak bekerja lebih keras. Stress karena mahasiswa gondrong itu karena persepsi yang muncul di otak kita adalah persepsi negatif. Ketika ada persepsi negatif, otak kita harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan persepsi negarif itu. Otak kita selalu berusaha agar segala sesuatu menjadi seimbang. Ketika ada persepsi negatif, maka otak itu akan mencoba beradaptasi.

Jadi, bagaimana stress bisa merusak kesehatan tubuh kita? Ada quote dari Hans Style, “Bukan stress yang membunuh kita, tapi reaksi kita terhadapnya.” Karena masalahnya bukan di stress itu sendiri, tapi persepsi kita. Misalnya “Duh kenapa si gondrong itu masuk di kelas ini lagi?” atau “Kenapa dia belum memotong rambutnya.” Itulah yang menyebabkan badan mengeluarkan zat. Pertama, respon adrenalin meningkat. Adrenalin meningkatkan tekanan darah (Karena jantung menjadi makin berdebar), pembuluh darah menyempit, dan karenanya kepala kita menjadi tegang.

Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini akan meningkatkan hormon stress, yang dinamakan koristol. Koristol adalah zat yang sifatnya oksidatif, merusak apapun didalam tubuh kita. Jika dia menempel di pancreas, dia meningkatkan insulin. Makanya, kalau ada orang stress bawaannya mau makan karena berfikir dia sedang membutuhkan energi.

Jika stresnya akut atau sementara, maka reaksinya juga sementara. Tetapi jika stresnya lama, maka reaksi tubuh juga akan lama dan yang lebih parahnya jika seseorang yang stress tidak tahu bahwa dia lagi stress, karena sudah terbiasa hidup stress.

Jika kita stress kelamaan, badan akan merespon dengan hal-hal yang kita tidak tahu sebagai bagian dari stress. Contohnya penyakit Dyspepsia atau gangguan lambung, in the long run, bisa muncul gangguan jantung, hipertensi dan diabetes.

Solusi Untuk Dosen

Jikalau ada dosen yang mengidap penyakit Gondrongphobiya membaca tulisan ini, penulis berharap dan berdo’a agar segera disembuhkan dari penyakit tersebut. Amiin.

Di dalam buku yang berjudul “Filosofi teras (Filosofi Stoa; Yunani-Romawi kuno yang telah ada sejak 2300 tahun yang lalu).” yang ditulis oleh Henri Manampiring mengatakan bahwa, jikalau ingin hidup anda bahagia, terbebas dari stress atau persepsi negativ, maka yang harus dilakukan adalah mengendalikan persepsi pemikiran kita.

Epictetus (Enchiridion) berkata, “ada hal-hal dibawah kendali (tergantung pada) kita, dan ada hal-hal yang tidak dibawah kendali (tidak tergantung pada) kita.” Prinsip ini disebut “Dikotomi kendali (Dichotomy of control). Bisa dibilang semua filsuf Stoa sepakat pada prinsip fundamental ini. Hal-hal apa saja yang masuk kedalam kedua definisi ini menurut Stoisisme?

TIDAK dibawah kendali kita:

  • Tindakan orang lain (Kecuali berada dibawah ancaman kita)
  • Opini orang lain
  • Reputasi/popularitas kita
  • Gaya /penampilan orang lain
  • Kondisi saat kita lahir, seperti jenis kelamin, orang tua, etnis, warna kulit, dan lain-lain.

DI BAWAH kendali kita:

  • Pertimbangan (judgment), opini atau persepsi kita.
  • Keinginan kita.
  • Tujuan kita.
  • Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Lebih lanjut, Epichtetus menjelaskan dalam buku Enciridion, “Hal-hal yang ada dibawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat; tetapi hal-hal tang tidak dibawah kendali kita bersifat lemah dan milik orang lain. Karenanya, ingatlah jika kamu menganggap hal-hal yang merupakan milik orang lain itu sebagai milikmu sendiri… maka kamu akan meratap, dan kamu akan selalu menyalahkan para manusia karena tidak bersikap atau berbuat sebagaimana yang kamu mau.” Dalam bahasa gampangnya: siap-siap saja kecewa kalau kamu terobsesi dengan hal-hal di luar kendali kamu seperti perbuatan orang lain, penampilan orang lain, kekayaan orang lain dan lain sebagainya.

Saya rasa para dosen gak bodoh- bodoh amat ya… jadi gambaran solusinya cukup sampai disini. Bahwa persoalan rambut gondrong itu tidak berada dibawah kendali para dosen. Artinya bahwa anda tidak bisa memaksakan bagaimana mahasiswa berpenampilan sesuai dengan yang para dosen inginkan dan ini salah satu penyebab sehingga pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dibawah Negara lain. Karena masih mengaitkan penampilan dengan proses pembelajaran.

Alasan klasik yang sering dijadikan pelarian dari realita bahwa dosen tersebut memang tidak suka melihat mahasiswa gondong entah karena ia pernah mendapat pengalaman yang buruk saat bertemu mahasiswa gondrong atau karena masah pribadi dengan mahasiswa gondrong sehingga kemudian menggeneralisasikan bahwa semua mahasiswa gondrong itu tidak baik  ialah  karena ingin menegakkan Kode Etik mahasiswa. pertanyaannya sederhananya adalah, apakah aturan yang termuat dalam kode etik (pelanggaran ringan) itu hanya persoalan rambut gondrong saja?. Nggak kan. Didalamnya juga termuat beberapa poin yang lain. Jadi jikalau ingin menegakkan kode etik, ya jangan setengah-setengah dong pak. Hehehe. Dan sebelum itu baca dan tegakkan dulu kode etik dosen.

Berdasar pada yang pernah penulis pelajari bahwa, salah satu tujuan dibuatnya sebuah aturan yaitu kemanfaatan. Berangkat dari azas kemanfaatan tersebut, Sekarang kita bandingkan poin ke-V (dilarang gondrong) dengan salah satu poin yang lain, yang tertuang dalam Kode Etik Mahasiswa Bab V Pasal XIII tentang Pelanggaran ringan. Contohnya dilarang mengendarai motor ngebut, yang dalam hal ini manfaatnya adalah agar terhindar dari kecelakaan. Lah kalau di larang gondrong manfaatnya apa? Yang dirugikan siapa? kan nggak ada. Penulis menginterpretasikan bahwa aturan ini dibuat atas dasar kerapian saja, sedangkan persepsi orang tentang kerapian itu berbeda beda setiap orangnya.

Yaah saya rasa sampai disini dulu aja yaa, nanti kita sambung di lain kesempatan. Dan semoga dosen bisa bersikap dengan lebih bijak setelah membaca tulisan ini. Amiin.

Note : Tumming adalah salah satu mahasiswa aktif IAIN KENDARI

Upaya Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan, Melalui Film Dokumenter “Diam dan Dengarkan”

Reporter : Wahyudin Wahid
Editor : Al-izar

Objektif.id, KENDARI – Unit Kegiatan Mahasiswa Pers UKM-Pers Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari melalui kegiatan Kemah Literasi, menggelar diskusi film dokumenter Diam dan Dengarkan. Kendari, (15/10/2021).

Kegiatan diskusi film dokumenter  tersebut dilaksanakan di lapangan Gedung Olahraga IAIN Kendari, pukul 21.00 – 00.30 WITA.

Muh. Sulhijah selaku pemantik mengatakan, film ini bercerita tentang sejarah umat manusia kemudian masa depan umat manusia serta hubungan manusia dengan alam.

“Jadi, di awal film kita disuguhkan dengan sejarah umat manusia, mulai dari sapiens kemudain menuju homo deus sebagai proses ikhtiar manusia dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam”. Ungkap muh. Sulhijah saat memulai diskusi. Jum’at, (15/10/2021)

Menurutnya, dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, maka tentu ada ekosistem lain yang tergadaikan.

“Tanpa kita sadari, dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia maka merupakan suatu keniscayaan bahwa ada salah satu ekosistem yang tergadaikan, contohnya penambangan batu bara sebagai salah satu bahan utama pembuatan baterai smartphone. Yang artinya, ekosistem yang tergadaikan dalam hal ini adalah Hutan. Oleh karena itu, manusia sebagai konsumen mempunyai tanggung jawab untuk selalu melestarikan alam”. lanjutnya.

Selain itu, slamet fadilah sebagai salah satu peserta diskusi mengatakan, secara substansi ada satu poin penting yaitu, manusia dan alam adalah dua ekosistem yang seharusnya saling menguntungkan.

“Secara substansi general dari film yang telah kita saksikan bersama, saya melihat ada satu poin penting yaitu harus adanya simbiosis mutualisme antara manusia dengan alam. Artinya ketika dua ekosistem ini saling menguntungkan maka akan terjadi kestabilan didalam kehidupan” ungkapnya.

Dekan Fakultas Syariah IAIN Kendari, Bantah Tuduhan Pemalsuan Tanda Tangan Yang Dialamatkan Kepadanya

Reporter : Rizal Saputra
Editor : Elfira Wati

Objektif.id, KENDARI – Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari.  berikan klarifikasi atas tudingan pemalsuan tanda tangan yang dialamatkan kepadanya melalui media online, Jumat, (15/10/2021).

Dekan Fakultas Syariah mengaku tidak membenarkan tuduhan melakukan pemalsuan tanda tangan tersebut.

“Selama ini kami tidak melihat, bahkan tidak mengetahui adanya pemalsuan itu dan kalau praduga-praduga itu dari luar, kami mohon buktinya itu tunjukan sama kami. Saya yakin pemalsuan itu tidak ada,” kata Ipandang, kepada objiktif.id.

Lanjutnya, ketika pengambilan keputusan ditingkat fakultas, terlebih dahulu dirapatkan bersama.

“Ada refisi anggaran, itu pasti saya panggil semua karena putusan itu berdasarkan hasil rapat,” lanjutnya.

Menurutnya, tuduhan pemalsuan ini, telah mencemarkan nama baik IAIN Kendari.

“Pencemaran nama baik itu, sudah masuk memalsukan tanda tangan. Ini Institut ini yang dicemarkan bukan cuma fakultas syariah,” uangkapnya.

Dia juga sesalkan atas  kinerjanya oknum dosen yang merasa dipalsukan tanda tangannya tersebut, seakan tidak mendukung IAIN Kendari menuju UIN.

“Cuman karena dia kan jarang di fakultas, kita rapat paling lima menit lari lagi. Kamu tau sendiri kita akreditasi sampai jam tiga subuh. Mana dia, nda pernah nongol,” bebernya.

Tidak hanya itu, ketidak terbukaan dosen yang bersangkutan jika ada pemalsuan dalam tanda tangannya.

“Yang saya selalkan selama ini pihak yang bersangkutan tidak pernah menyampaikan kepada kami bahwa terjadi pemalsuan tanda tangannya,” sesalnya.

Sementara itu, Kasubak Adiministrasi Umum dan Keuangan Fakultas Syariah, La Ringga mengatakan kalau untuk pemalsuan tanda tangan wakil dekan itu tidak benar adanya.

“Kalau pemalsuan tanda tangan tidak ada, kalaupun ada tanda tangan wakil dekan itu kami sampaikan, kami koordinasikan, bahwa ada yang mau ditanda-tangan, Setiap kali kami hubungi dia datang sekalian dia paraf,” ungkapnya.

Lanjutnya, seharusnya kalau ada informasi seperti ini pastikan terlebih dahulu kejelasannya informasinya.

“Seharusnya kalau ada seperti ini di konfirmasi dulu, yang lebih tepatnya dibawakan datanya supaya jelas,” lanjut

“Kalaupun ada pemalsuan tanda tangan itu, kami juga bingung dari mana asalnya, siapa yang palsukan tanda tangannya. Hanya ini kan langsung beredar informasinya.

Menurutnya, hal itu secara tidak langsung merusak sendiri medianya.

“Secara tidak lansung sudah merusak citra lembaganya atau medianya sendiri,” tutupnya.

Pengurus LPS HI Fakultas Syariah, Resmi Dilantik

 Reporter : Andika
Editor : Omo

Kendari, Objektif.id – Dalam meningkatkan kualitas kader Lembaga Peradilan Semu Hukum Islam (LPS HI) menyelenggarakan Pelantikan dan Rapat Kerjar di Laboratorium Peradilan Semu, Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Kendari. Selasa, (5/10/2021).

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 5 sampai dengan 6 Oktober 2021 dengan mengangkat tema “Meningkatkan Kualitas Kader  Yang Produktik Dalam Mengembangkan  LPS HI”.

Puspita selaku ketua panitia  mengatakan, bahwa dalam mengembangkan LPS HI sebagai langka  awal dalam meningkatatkan kualitas kader yang produktif.

“Perlunya meningkatkan kualitas kader  yang produktif  sehingga bisa berdiskusi dan lain sebagainya untuk  kemudian dengan bekal kader yang berkualitas  sehingga mampu  mengembang LPS HI ini menjadi lembaga yang lebih baik kedepannya,” kata Puspita.

Senada dengan itu Ketua LPS HI Fakultas Syariah Jeklin Dermawan, mengatakan dalam sambutannya, Bahwa, dalam kegiatan ini semoga menjadi langkah awal yang kemudian akan mengkualitas kita sebagai mahasiswa dan kemudian  mengkualitaskan kita sebagai kader-kader dari LPS HI Fukultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari.

“Semoga seluruh pengurus dan anggota dapat bekerja sebagai satu sistem yang saling melengkapi,” kata jekling

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil  Dekan III (WADEK III) Fakultas Syariah
Asrianto zainal, S.H, M.Hum. Berharap,  dengan adanya LPS HI ini bisa membuat mahasiswa Fakultas Syariah mahir dalam bidang hukum karena meraka akan dibina dalam lembaga ini.

“Dengan adanya LPS HI ini para mahasiswa Syariah akan mahir berpraktek di pengadilan, karena nantinya mereka akan dibimbing oleh pembina-pembina yang lahir dibidangnya,” harapnya.

Tanggapi Inventaris Hilang, DEMA: Tidak Hilang, Hanya Diamankan

 

Reporter : Rainan

Editor : Opik

KENDARI Objektif.id – Dewan Eksekutif (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari membantah bahwa inventaris DEMA hilang. Inventaris tersebut tidak hilang tapi diamankan. Sabtu, (02/10/2021)

Sekretaris Jenderal DEMA IAIN Kendari, Syarif Hidayatulah menerangkan bahwa dirinya mengamankan komputer dikarenakan Sekretariat DEMA sudah tidak aman.

“Komputer itu saya amankan dan atas persetujuan Ketua DEMA karena pintu sekretariat mudah terbuka, kuncinya hilang,” ungkap Syarif.

Baca Juga: Lama Pasif, Inventaris Lenyap Tanpa Jejak

Hal ini dibenarkan oleh Ketua DEMA IAIN Kendari, Buyung M Rantau, Ia mengatakan bahwa sekretariat DEMA beberapa kali di bobol orang dan barang-barang didalamnya sengaja di hamburkan dan dikotori.

“Sekretariat itu selalu bersih dan terkunci. Sekitar bulan 7 ada keanehan, kursi hilang (komputer masih ada), ada yang sengaja buang air kencing di situ, dan ada noda-noda dilantai,” terang Buyung M Rantau.

Ia kemudian menambahkan, setelah dibersihkan sekretariat dikunci kembali karena masih pandemi, akan tetapi beberapa minggu kemudian pintu sekretariat terbuka, kunci dan gemboknya hilang. Maka dari itu Sekjen DEMA berinisiatif untuk mengamankan komputer dan itu atas persetujuannya.

“Bukan hilang atau dicuri tapi komputer diamankan oleh Sekjen dan sebelumnya sudah konfirmasi ke saya,” ujar Buyung.

Terakhir Ia menekankan bahwa kepengurusan Dema masih aktif dan berkegiatan.

“Sekretariat kosong bukan berarti kepengurusan mati,” pungkasnya.

Berdasarkan pantauan perskampusbiru.com sampai berita ini diterbitkan kondisi Sekretariat DEMA telah dibersihkan dengan inventaris lengkap didalamnya dan pintu terkunci.

HMI Se-Komisariat IAIN Kendari Gelar Maperca

Reporter : Muh. Aksan
Editor : Rizal Saputra

Kendari, Objektif.id –Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Se-Komisariat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari menggelar Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) di gedung PKM Lantai II. Sabtu, (2/10/2021).

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2021 dan diikuti oleh 20 peserta ini mengangkat tema “Melahirkan pemimpin berkualitas dalam menjawab tantangan zaman melalui rahim HMI.”.

Ketua panitia Ibnu Qayyim mengatakan, bahwa Tujuan dari tema ini adalah membuka ruang atau rumah kedua kepada mahasiswa.

“Bahwa kami membuka ruang atau rumah kedua buat teman-teman mahasiswa yang ingin bergelut di himpunan mahasiswa islam. Agar calon anggota ini bisa menjawab tantangan zaman dan problematika saat ini,” ucapnya.

Senada dengan itu, Iwan Husein selaku Ketua Umum komisariat  Al-Ghazali mengatakan, tiga poin penting pada kegiatan maperca ini.

“Pertama, Ini sebenarnya terobosan awal yang kita lakukan di IAIN Kendari selama ini HMI di IAIN Kendari belum pernah melaksanakan yang namanya maperca. Padahal, dalam konstitusi jelas bahwa maperca itu harus dilaksanakan setiap komisariat. Kedua, Maperca ini adalah ajang untuk konsolidasi kepada adik-adik seluruh jurusan dan fakultas harus kita rangkul untuk memperkenalkan organisasi sejatinya penting sebagai penunjang akademis dikampus. Ketiga, untuk menyelamatkan adik-adik yang selama ini mereka belajar daring dan mempunyai banyak-banyak kelemahan pembelajaran daring tersebut untuk mengasah potensi mereka kita harus rangkul di maperca ini,” ucapnya.

Ia Juga berharap kegiatan maperca ini Tetap konsisten dan komitmen untuk mengembalikan tujuan mereka menuntut ilmu.

“Tetap konsisten, komitmen mengembalikan tujuan dari mereka belajar di kampus untuk bisa menuntut ilmu dalam hal ini bisa berbicara karna kuliah pada esensinya itu bisa berbicara nah untuk bisa berbicara kita harus berproses diorganisasi,” pungkasnya.

(Foto bersama usai kegiatan Maperca. Foto: Muh. Aksan)

Lama Pasif, Inventaris Lenyap Tanpa Jejak

 

Tampak bagian dalam Sekertariat DEMA IAIN Kendari

 

Reporter : Rainan

Editor : Opik

KENDARI –  Sekretariat Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari kini kosong melompong yang tersisa hanya lemari, meja, dan kursi yang sudah tidak terurus. Jum’at, (01/10/2021).

Menurut kesaksian Harpan Fajar yang merupakan salah satu pengurus UKM Olahraga dan berkantor tepat disamping sekertariat DEMA tersebut mengatakan bahwa kepengurusan DEMA IAIN Kendari sejak lama memang sudah tidak aktif, sekretariat DEMA IAIN Kendari sudah lama tidak digunakan, setiap orang bebas keluar masuk sekretariat hingga kemudian inventaris didalamnya hilang diambil orang.

“Kemarin itu pernah inventaris tidak ada tetapi mungkin karena sempat ada kabar mau diangkat isu hilangnya (inventaris), maka dikembalikan sekitar dua minggu lalu sampai ada yang kerja administrasi di sini (sekretariat dema) tapi beberapa hari setelahnya, hilang kembali itu komputer sampai sekarang,” terang Harpan Fajar, Sekretaris Umum UKM-Olahraga.

Baca Juga : Dicari! Hilangnya Presma IAIN Kendari

Hal ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Umum UKK Menwa bahwa kepengurusan DEMA sudah tidak aktif dan inventaris di dalam sekretariat itu sudah tidak ada.

“Pokoknya saya datang itu sudah tidak ada mi itu komputer,” ujar Taufik Hidayat.

Tampak luar Sekertariat DEMA IAIN Kendari

 

 

Dilain sisi, Wakil Ketua DEMA IAIN Kendari mengatakan bahwa Ia tidak tahu menahu bagaimana hilangnya inventaris tersebut.

“Saya tidak tahu, tanpa adanya kabar, tiba-tiba saya datang berkantor sudah tidak ada alat (komputer, printer, stempel dll), di grup pengurus juga tidak ada yang membahasnya” terang Hendra Setiawan, Wakil Ketua Dema IAIN Kendari.

Menanggapi hal ini, Ketua Senat Mahasiswa IAIN Kendari, menyatakan bahwa hilangnya inventaris tersebut merupakan pelanggaran yang bahkan telah diketahui oleh pihak SPI. Selanjutnya,  pihaknya akan menyurati Warek III IAIN Kendari untuk segera menindak Dema IAIN Kendari.

“Dengan data dan bukti yang ada itu (DEMA) bisa diberikan sanksi yang sebanding,” ucap Sarman.

Sampai berita ini diterbitkan, Buyung M Rantau selaku Ketua DEMA IAIN Kendari belum bersedia memberi tanggapan.

Perempuan dan Keresahan Sosial

Oleh: Novia Arnila Damayanti

Ini hanya sebuah tulisan yang muncul dari keresahan pikiran dan berkecamuk di ruang rasa yang saya sebut perasaan.  Tulisan ini saya harap dapat merekontruksi kembali pemikiran pembaca, terutama yang bergerak dalam ranah perjuangan, aksi demontrasi maupun hal lainnya. Tetapi ini hanya menyangkut sebuah “ketulusan”.  

Saya hanya menyampaikan sebuah ketidak sukaan terhadap manusia yang bersifat hewani tak terkendalikan, dengan sebuah dalih perjuangan tetapi dengan tega memanfaatkan  orang lain demi kepentingan dirinya sendiri. Sebenarnya itu masalah dia,  tetapi ini akan berhimbas kepada generasi selanjutnya atau kaderisasi selanjutnya. Yang dengan dalih berjuang bersama melakukan konsolidasi massa dan memanfaatkan mereka, demi kepentingan individual atau kelompoknya sendiri.

Persoalan aksi massa atau massa aksi itu sendiri yang berjuang turun dijalanan dengan panas-panasan disertai kelaparan dengan dalih memperjuangkan, baik itu aspirasi rakyat maupun lainnya. ketika diperhadapkan dengan manusia yang bersifat hewani tak terkendalikan akan dengan mudah mengambil kesempatan dalam aksi itu.  Ketika seperti ini terus-menerus aksi yang dibangun hari ini, akan menimbulkan persepsi orang, bahwa  aksi atau perjuangan tersebut  dapat  dengan mudah untuk  dibeli dan orang tersebut dapat dengan mudah dikendalikan.

Mahasiswa  atau pemuda yang dengan perannya sebagai  agent of change, social control,  dan iron stock yang pada subtansinya adalah menjadi manusia yang bermanfaat.

Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”

(HR. Ahmad, ath- Thabrani, ad- Dauqutni. Hadist yang dihasankan oleh al- Albani di dalam shahihul jami’ no:3289).

Pemuda, sadarilah bahwa di pundakmu masa depan bangsa dipertaruhkan. Karena, pemuda memiliki keistimewaan sendiri. Baik dari segi keberanian, semangat, kecerdasan, maupun dari kekuatan jasmaninya.

Pepatah arab  mengatakan: “syubhanul yaom, rijalul ghod” artinya bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.

Sekarang permasalahannya adalah bagaimana mau mendapatkan seorang pemimpin yang baik dan mempunyai kapabilitas serta akhlak yang mulia, jikalau setiap tindak tanduknya adalah kepentingan pribadi atau kelompoknya saja, yang expertisenya atau keahliannya yaitu cari uang.

Kembali ke pokok pembahasan, sebenarnya ini hanya sebuah keresahan yang timbul dari gerakan mahasiswa atau  pemuda hari ini yang dengan tega menjual sebuah gerakan masa aksi dengan berdalih gerakan yang di bangun atas dasar  ketulusan  dalam berjuang.

“Tiadakah mereka mengembara di muka bumi sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka mengerti, dan mempunyai telinga yang dengan itu  mereka mendengar? Sungguh bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya, yang ada dalam rongga dadanya. Qs Al-Hajj ( 22:46).

Ini adalah pukulan sebuah surah ke 22: 46 yang pada umumnya, hati mereka telah buta. Dengan pandainya mereka mengolah kata, dengan lantangnya mereka teriakkan keadilan, Padahal  diri mereka tidak lain  adalah   sebagai penjilat yang pada hari ini, sedang mengusai megaphone.

Apakah sudah tidak ada lagi sosok seperti  Mahatma Gandhi,  Nelson Mandela atau kita tengok ke Indonesia ada sosok Munir Said Thalib yang sampai akhir hayatnya betul-betul tulus dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) dan pejuang-pejuang tulus lainnya yang dengan ketulusan dalam berjuang?

Saya yakin masih “ADA”. tetapi sayangnya mereka hanya minoritas yang termarginalkan. saya berharap akan lahir sosok-sosok pejuang lainnya yang benar-benar tulus dalam berjuang. Baik itu menyampaikan aspirasi rakyat,  berjuang untuk kepentingan rakyat atapun mengawal pemerintahan.

Note:

Novia Arnila Damayanti adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.       

Anotasi Kecil Sang Demonstran

Penulis : PH

Dengan hati yang masih rusuh dan luka yang masih mengaga, akankah mahasiswa mematung oleh hegemoni kekuasaan yang mencoba memotong lidah penyambung rakyat? Kemana slogan perjuanganmu? Kemana gerakan kemanusiaan yang kau tanam di sudut-sudut jalanan? Apakah kau lupa bahwa gerakan yang kau tanam harus tumbuh subur dengan gagasan yang dikemas melalui simbol-simbol perlawanan dalam menggulung tirani-tirani kekuasaan! Jangan engkau lalai akan sumpah mahasiswamu kawan.

Baca Juga: Akhirnya Kuliah Offline
Baca Juga: Dicari!!! Hilangnya Presma IAIN Kendari

Mahasiswa mesti berdiri di garda terdepan, dengan anotasi bukan sebagai kaum komprador tetapi sebagai pejuang ploletar. Sudilah kiranya agar mahasiswa tak mengagungkan kekuasaan. Dimanapun ada mulia dan jahat, ada malaikat dan iblis, ada malaikat bermuka iblis, ada iblis bermuka malaikat. Seperti itulah wajah kekuasaan. Satu yang penting, bahwa kekuasaan memiliki segala instrumen negara yang sewaktu-waktu siap untuk melakukan tindakan kriminalitas yang lebih ekstrem. Kalau mahasiswa mengetahui sudah akan keiblisan kekuasaan, ia dibenarkan berbuat apa saja terhadapnya, kecuali bersekutu.

Apakah kau takut kawan? Tentu tidak, sebab ijtihad tertinggi dalam memperjuangkan suatu kebenaran adalah kematian! Bahwa apa yang kemudian dikatakan Soe Hoek Gie dalam buku catatan seorang demonstran “kebenaran cuman ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu”. Olehnya itu, jangan pernah ada ketakutan atas kematian karena keabadian kebenaran yang sesungguhnya sedang diperjuangkan tak lama lagi akan kita gapai.

Dalam negara demokrasi setiap individu dijamin kebebasannya untuk berkumpul, berserikat, menyatakan pendapat baik secara lisan maupun tulisan. Dengan demikian, tentunya tidak ada ketakutan terhadap diri kita. Apa yang mesti di takutkankan sih? Bahwa sangat jelas tidak hanya dalam konstitusi kita dilegitimasi memberikan interupsi kelaliman, bahkan alampun merestui perlawanan kita terhadap tirani kekuasaan.

Mahasiswa harus pandai membaca bahasa tubuh kekuasaan. Kekuasaan merayakan hak-hak kebebasan tetapi kekuasaan sendiri yang merobek-robek, mencabut akar hak kebebasan itu. Kekuasaan memuji demokrasi tapi kekuasaan juga yang memotong lidah seseorang yang berani menyatakan pendapat. Itulah kekuasaan, penakut dan arogansi.

Reinkarnasi para penghianat negeri yang gugur kini telah mekar dan masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan. Hanya pada kebenaranlah masih kita harapkan. Mahasiswa jangan tergiur dengan rayuan-rayuan, senyum kemunafikan kekuasaan sebab potensi sederhana lahirnya suatu pembungkaman terletak di balik sebuah senyuman.

Mahasiswa harus mampu menghidupkan kembali gerakan ekstra parlementernya yang keras dan bebal terhadap kekuasaan otoritarian sebab rakyat hari ini sedang dirundung krisis multidimensional. Idealis gerakan mahasiswa yang mesti dibangun bukan gerakan politik yang berorientasi terhadap kekuasaan. Namun, orientasi sejati ialah terciptanya nilai-nilai ideal kebenaran, keadilan, humanisme, profesionalitas, dan intelektualitas dalam seluruh aspek pengelolaan negara.

Sebuah istilah mempesona yang selama ini disematkan kepada gerakan mahasiswa. Mempesona karena berbicara tentang moral, berbicara tentang suara hati yang senantiasa merefleksikan kebenaran universal, menolak segala bentuk pelanggaran HAM, penindasan, kesewenang-wenangan, kedzaliman, dan otoritarianisme kekuasaan. Suara hati inilah yang memberi energi konstan dan kontinyu bagi pergerakan mahasiswa. Ya, kekuatan moral adalah kekuatan abadi yang takkan pernah mati selama masih ada manusia yang jujur dengan nuraninya.

Dulu di dalam mitologi Yunani ada seorang dewa yang paling filantropis, pelayan umat manusia sekaligus figur bagi mereka yang sakit akibat penderitaan. Berangkat dari peristiwa tersebut hari ini banyak yang memegang kekuasaan dan seolah-olah ingin mendeskripsikan diri mereka seperti dewa padahal sejatinya mereka adalah hama.

Kau, mahasiswa paling banyak harus selalu berteriak. Tahu kau mengapa di juluki sebagai penyambung lidah rakyat? Karena kau selalu tahu apa yang dibutuhkan, dirasakan, diderita, oleh rakyat. Suara perlawananmu atas tirani kekuasaan takkan pernah padam ditelan zaman, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Kekuasaan tidak pernah serius mengatasi konflik, baik konflik horizontal ataupun konflik vertikal yang melebar luas dengan berbagai problematika setiap harinya. Sehingga itulah, yang menafasi gerak perjuangan mahasiswa dalam membongkar kebusukan kekuasaan yang bersembunyi di balik kebhinekaan.

Mahasiswa harus mampu berfikir kritis dan bergerak secara holistic. Jangan sampai gerakan mahasiswa disusupi oleh kepentingan elit politik. Jika hal tersebut, terjadi maka nawa cita dan citra mahasiswa akan rusak dihadapan publik. Tidak sedikit mahasiswa yang gopoh gapah meminta bahkan cenderung mengemis terhadap birokrasi supaya akomodasi isi dapurnya selalu tersedia. Sebagai upaya prefentif, Mahasiswa harus menahan diri agar tidak tersugesti dengan giuran-giuran para elit kekuasaan yang mencoba menggiring mahasiswa masuk kedalam pusaran perbudakan penguasa yang mengakibatkan terbelenggunya analisis berfikir mahasiswa.

Mahasiswa harus tetap pada porosnya untuk menjadi lokomotif perjalanan kaum ploletar menuju kesejahteraan. Secara eksplisit, masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT tidak akan pernah terwujud ketika pelaku intelektualnya mengalami disintegrasi gagasan dalam memetakan berbagai ketimpangan sosial yang terjadi. Tak berhenti sampai di situ, mahasiswa tak patut jika mengganggap diri hanya sebagai fasilitator dalam  mendistribusikan gagasan. Lebih dari pada itu mahasiswa harus bisa menjadi pabrik kaderisasi yang bermutu agar tidak putusnya regenerasi pejuang kaum ploletar yang idealis.

Jalan sunyi perjuangan mahasiswa kelak mesti menjadi momentum azamat untuk memberi sinyal perlawanan terhadap angkara murka sang penguasa. Dalam pergerakannya mahasiswa harus lebih progresif lagi dari pergerakan yang sudah-sudah.

Mahasiswa akan terklaim sebagai penghianat rakyat apabila orientasi gerakannya ke arah yang pragmatis dan materialistis. Zaman sekarang kan, banyak mahasiswa selangkangan yang berteriak-teriak atas nama rakyat, tetapi secara paralel juga menghilangkan esensi perjuangan semboyan itu untuk mencari makan terhadap kekuasaan.

Mahasiswa bukan anak muda yang segar tubuhnya tapi mati pikirannya. Mahasiswa harus mampu mengambil resiko, melakukan gebrakan baru dengan penuh keberanian. Melawan segala aktivitas kekuasaan yang selalu mencoba menjerumuskan rakyat ke dalam jurang penderitaan. Terlalu sempit kalau mahasiswa hanya dikonotasikan dalam ruang – ruang perkuliahan saja yang tahunya hanya kuliah, tugas, kos, kampus, tempat foto copy, menghapal nama – nama dosen. Mahasiswa tidak boleh semu dan lupa akan jati dirinya.

Jika aktivitas mahasiswa seperti itu, mau jadi apa kamu sebagai mahasiswa? Agen of change atau agen of kacung? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya yang secara inheren tidak adil? Guru, untuk mengajar anak-anak kaum kaya, dan melupakan mereka yang tidak bisa bersekolah? Dokter, memberikan resep pola makan teratur dan bergizi terhadap kaum kaya sampai melupakan anak negeri yang terlunta-lunta mengemis di jalanan demi sesuap nasi? Arsitek, untuk membuat rumah nyaman bagi kaum kaya yang memangsa dan merampas tanah para petani sehingga mereka tinggal dan hidup di jalanan? Sekali lagi, sebagai mahasiswa kamu mau jadi apa kalau kerja mu hanya kuliah, tugas, kos, kampus? Perhatikan sekelilingmu dan periksa nuranimu!

Bersekutu dan bekerja sama dengan kaum tertindas untuk menghancurkan sistem yang kejam ini adalah tugas prioritas seorang mahasiswa.

Note : Penulis adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari dan Salah satu kader HMI komisariat Al – Ghazali

(Merdeka. Foto: Istimewah)

Sultra Darurat HAM! Mahasiswa IAIN Kendari Inginkan 26 September Jadi Hari Nasional

Reporter : Renaldi
Editor : Rizal Saputra

Kendari, PerskampusBiru.com – Peringati tewasnya Yusuf dan Randi 26 September 2019 silam, Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari yang tergabung dalam Koalisi Mahasiwa Melawan (Kawan)  gelar aksi damai dengan berbagai tuntutan, Senin (27/9/2021).

Demonstrasi yang digelar Koalisi Mahasiswa Melawan (Kawan) tersebut, dilakukan di pelantaran Gedung Terpadu IAIN Kendari hingga menuju ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra).

Koordinator Lapangan (Korlap) Abdan dalam orasinya menyampaikan beberapa tuntutan yaitu: Pertama, Mendesak polda untuk segera menguak  siapa dalang dari pembunuhan tersebut. Kedua, kami menuntut kepada bapak DPR bahwa tanggal 26 September ini harus menjadi peringatan nasional yang setara dengan matinya munir. Ketiga, Polda dan Polri harus menjaga kaptimnas dalam mengawal demokrasi.

Di tempat yang sama Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Al-Gazali, Iwan Husain mengatakan, tujuan dari gerakan yang kami bagun hari ini menuntut keadilan atas wafatnya saudara kami Yusuf dan Randi, yang sampai hari ini belun ada kejelasan.

“hari ini, kita memperingati hari tertembaknya Yusuf dan Randy itu adalah matinya keadilan di negeri ini.  Maka yg kami lakukan gerakan ini bukan hanya untuk sekedar berteriak tapi untuk menuntut keadilan sampai hari ini siapakah dalang pembunuhan 26 september,” kata Iwan, senin (27/9/2021).

Menurutnya, Pemerintahan Provinsi Sulawesi Tenggara hari ini darurat akan Hak Asasi Manusia sebap kebebasan berpendapat  didalam Republik Indonesia itu tidak di jamin lagi dalam UUD.

“Penegak hukum sejatinya polisi itu adalah mereka  yang harus menegakkan UU yang senantiasa mengawal kebebasan berpendapat. Tapi realitas hari ini, mereka selalu membubarkan masa aksi bahkan pada 26 september hari ini, kita memperingati hari tertembaknya Yusuf dan Randy itu adalah matinya keadilan di negeri ini,” ungkapnya.

Senada dengan hal itu, Wakil Presma IAIN Kendari Hendra Setiawan menilai Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra) sebagai penegak hukum sudah lalai dalam menjalankan tugasnya.

“Aksi ini, Sebagaimana mestinya kita menginginkan hak dan keadilan yaitu  untuk teman-teman, Kapolda Sultra karena seperti kita lihat tidak melakukan sebagaimana tugasnya,” ujarnya.

Diakhir Korlap berharap, mahasiswa jangan bersikap masa bodoh terhadap persoalan gerakan yang kami bagun hari ini.

“Harapan saya kepada mahasiswa hari ini, jangan terlalu bersifat apatis ketika ada pergerakan-pergerakan, apa lagi pergerakan yang kami bangun adalah aksi moral aksi kemanusiaan karena pada dasarnya IAIN selalu berada dibagian depan ketika ada masalah-masalah diluar kampus.” Tutupnya.

(Suasana demonstrasi di pelataran Kampus IAIN )

UKM Seni IAIN Kendari Gelar Malam Sejuta Seni

Reporter : Andika

Editor : Elfirawati 

Kendari, PersKampusBiru.com – Upaya meningkatkan kreativitas anggota, Unit Kegiatan Mahasiswa Seni (UKM-Seni) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari menggelar Malam Sejuta Seni di Gedung PKM lantai II  IAIN Kendari. Sabtu, (25/9/2021).

Baca Juga: Berkarya Dengan Bahagia Ala Seniman Kampus

Kegiatan yang berlangsung pada pukul 20.00 WITA tersebut dengan bangga menampilkan sebanyak empat jenis pentasan di antaranya; teater, musik,  tari dan religi.

Ketua Umum UKM-Seni IAIN Kendari,  Masalin mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda rutinitas yang dilaksanakan selama dua minggu satu kali.

“Kegiatan ini merupakan program kerja UKM seni,” ucap Misalin.

Baca Juga: UKM-Pers Gelar Diskusi Film Dokumenter

Lanjut Misalin, malam sejuta seni ini iyalah implementasi dari latihan-latihan dari anggota UKM-Seni itu sendiri.

“Sebagai bentuk implementasi hasil karya dari teman semua. Jadi, apa- apa yang dipelajari, dilatihankan dan malam ini dipentaskan, ” lanjutnya.

Diakhir mahasiswa semester akhir ini, memyampaikan kegiatan Malam Sejuta Seni ini akan kami laksanakan dua minggu sekali.

“Selama untuk kedepannya tidak ada kegiatan besar di UKM-Seni ini, maka Malam Sejuta Seni ini akan kami lakukan dua minggu satu kali” tutupnya

Perlu diketahui bahwa penonton kegiatan tersebut tidak dibatasi akan tetapi, tetap menerapkan protokol kesehatan.

 

Stop!!! Fobia Gondrong

(Istimewa)

Penulis : PH

Hari ini, kita bebas menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan sendiri serta tidak boleh diintervensi sekenanya saja oleh orang lain. Selama itu kita tidak merugikan orang lain maka mereka tidak mempunyai hak untuk memaksa kita dalam merubah penampilan sesuai dengan keinginan mereka.

Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi siapapun yang beruntung melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan memiliki spesialisasi di bidang ilmu tertentu. Menjadi mahasiswa merupakan salah satu fase terpenting dalam hidup seseorang. Sebab, dunia kampus melatih mahasiswa bagaimana bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dalam berproses, bagaimana orientasi belajarnya dan lain sebagainya. Tanpa harus didikte dengan gundukan tata tertib artifisial yang memaksa hidup mahasiswa layaknya kawanan ternak yang harus selalu digiring oleh gembala yang dinamai sebagai dosen.

Mahasiswa sudah patut bebas mengatur dirinya sendiri, mahasiswa harus otonom sebagai individu. Otonomi ini kemudian diartikan dalam banyak hal salah satunya dengan gaya rambut, sesuai dengan bagaimana mahasiswa itu ingin dilihat atau bagaimana eksistensi yang ingin ia citrakan terhadap khalayak ramai.

Kampus tidak mesti alergi kepada mahasiswa yang berambut gondrong dengan menggeneralisasi  segudang interpretasi historis yang buruk. Mahasiswa terkadang merasa lucu dan mengganggap kolot pikiran oknum dosen yang selalu membangun stigma negatif terhadap mahasiswa yang berambut gondrong dalam proses belajar – mengajar di ruang perkuliahan.

Jika dalam kasus seperti itu maka urgensitas pertanyaannya apakah rambut gondrong mengganggu proses perkuliahan? Apakah mahasiswa yang berambut gondrong tidak beretika? Sampaikan kepada dosenmu cika, bahwa persoalan etika itu persoalan sikap, perilaku, tindakan, bukan persoalan penampilan. Banyak kok, oknum yang berambut rapi tetapi perilakunya seperti binatang. coba tengok para pejabat korup, rapih – rapihkan rambut dan penampilannya, bahkan ada juga oknum dosen yang melegalkan perilaku biadabnya dengan menjadikan penampilan sebagai senjata untuk melancarkan aksi pikiran cabul seksualitas hinanya terhadap mahasiswi. Itukan kurangajar, bangsat, goblok, kotor, rusak!

Stop stereotip bahwa gondrong itu jahat! Mestinya orang – orang yang hidup di zaman generasi milenial hari ini tidak lagi berkutat dan pakem bersama pikiran Tempo Doeloe. Tetapi kita harus lebih terbuka serta selalu mau mencoba menerima perbedaan. Dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ia mengatakan bahwa “seorang pelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Olehnya itu, hargai saja apa yang kemudian tidak menjadi integral pemikiran kita sendiri.

Rambut gondrong sendiri memiliki dinamika yang cukup panjang di Indonesia dalam kaitannya dengan aspek sosio – kultural dari masa pra kolonial, masa kolonial, orde lama, dan orde baru.

Pra Kolonial dan Masa Kolonial

Dimasa pra kolonial rambut gondrong dimaknai sebagai simbol kekuatan dan kewibawaan dalam banyak kerajaan Nusantara, sebelum akhirnya pengaruh Islam dan kebudayaan barat masuk di Indonesia membawa trend kultural baru yang berangkat dari konstruksi gender dengan memposisikan rambut sebagai penanda seksualitas seseorang. Bahwa laki – laki harus diasosiasikan dengan rambut pendek dan rapih sementara perempuan dengan rambut panjang, meskipun kenyataannya pada saat itu belum ditaati banyak orang. Selain peci dan penampilan rapih rambut gondrong pernah menjadi identitas pemuda dalam perjuangan revolusi Indonesia mulai dari zaman Jepang hinggga masa – masa revolusi fisik, para pejuang identik dengan rambut gondrong dan seragam militer. Orang – orang Belanda yang sudah terbiasa dengan rambut rapih dan dandanan parlente seperti kebanyakan orang Eropa saat itu, merasa gerah akan determinasi pejuang dengan kode fisik rambut gondrong, seragam militer dan pistol di pinggang. Kemudian melabeli pejuang berambut gondrong ini dengan label “ekstremis”.

Salah satu saksi hidup, Francisca C. Fanggidaej mempunyai deskripsi yang menarik akan hal itu. “Kota Yogya mendidih dari semangat dan tekad pemuda. Lantangan suara merdeka menggelegar di ruang udara kota. Sudut – sudut jalanan dikuasai pemuda, kebanyakan berambut gondrong. Mereka bersenjatakan pistol, senapan, brengun sampai Kelewang panjang Jepang dan sudah tentu bambu runcing. Kepala mereka diikat dengan kain merah. Yah, semangat juang, simbol perjuangan, perlawanan, rasa romantisme dan kecenderungan kaum pemuda untuk berlagak dengan tekad pantang mundur, merdeka atau mati yang terpancar melalui mata merah dan wajah yang memanas”. Demikian tulis Francisca C. Fanggidaej.

Walaupun rambut gondrong pernah menjadi simbol militansi pemuda revolusioner tapi pada akhirnya mereka di cap “kontra revolusioner” oleh Soekarno di masa orde lama.

Orde Lama dan Orde Baru

Saat romantisme zaman sedang berjuang melawan imperialisme barat. Gondrong menjadi mainstream gaya rambut yang di bawa oleh the Beatles dan budaya hippies. Budaya hippies pertama kali muncul di Amerika Serikat pertengahan 1960-an. Budaya hippies adalah gerakan counter – culture yang sebenarnya gerakan ini lahir sebagai antitesis dari manuver politik Amerika Serikat saat itu. Kaum hippies menilai bahwa generasi sebelumnya telah terlalu jauh dari alam mereka berasal. Menurut mereka (kaum hippies) manusia modern telah dibutakan dengan obsesi penaklukkan dan peperangan. Kemudian kaum hippies dianggap sebagai gerakan “kiri baru”. Olehnya itu, di zaman orde lama kaum hippies di cap kontra revolusioner oleh Soekarno karena dianggap sebagai gerakan kiri baru.

Ketika Orde Lama tumbang dan digantikan oleh kepemimpinan Soeharto, pro – kontra rambut gondrong masih terus berlanjut perdebatannya. Pada masa tahun 1960 – 1970 an muncul sebuah stigma yang mengatakan bahwa rambut gondrong merupakan cerminan para pelaku kriminalitas. Hal ini Bukan lagi persoalan remeh temeh bahkan, isu ini telah menjadi isu nasional. Lalu apa sebenarnya trigger dari ketakutan masa pemerintahan orde baru terhadap mereka yang berambut gondrong?

Dalam buku “Dilarang Gondrong” Karya Aria Wiratma Yudhistira. Praktik kekuasaan orde baru terhadap anak muda di awal 1970-an mengungkapkan, bahwa pemicu ketakutan orde baru berawal dari budaya hippies di Amerika Serikat. Di masa orde baru gondrong kemudian diasosiasikan sebagai aktivis bebal yang tidak bisa diatur. Pemerintahan orde baru memiliki kekhawatiran bahwa demam hippies mulai melanda Indonesia, kemudian berdalih bahwa rambut gondrong tidak sesuai dengan semangat pembangunan. Fobia terhadap gondrong kemudian terlihat sangat jelas ketika pemerintah membentuk Bakoperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong).

Membaca historis panjang terkait rambut gondrong, seharusnya menjadi bahan diskursus kita dalam menilai orang-orang ataupun mahasiswa yang berambut gondrong. Karena kultur gondrong sudah mengalami peralihan, yang awalnya adalah bentuk perlawanan terhadap budaya obsesi penaklukkan dan peperangan di Amerika Serikat. Kini, gondrong hanya dijadikan mode berpenampilan saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Karena, ketika kita masih bercokol dengan doktrin negatif  di masa lalu terkait dengan rambut gondrong, artinya kita adalah orang – orang yang belum bisa menerima kreativitas pembaharuan kaum muda, menutup diri untuk menerima perbedaan penampilan orang lain.

Biarkan saja mahasiswa berekspresi sesuai dengan kemauan dalam menampilkan penampilannya Yang mereka anggap estetik. Dengan catatan tidak melakukan gerakan anarkisme dan kriminalitas. Dosen jangan terlalu kaku melihat penampilan mahasiswa yang gondrong, apalagi sampai memarjinalkan mahasiswa gondrong sebagai pelaku kriminal. Stop tipu-tipu! Stop diskriminasi mahasiswa gondrong!

Tidak peduli seberapa dekat kesewenangan-wenangan dosen dan kampus dalam membangun asumsi negatif terhadap mahasiswa gondrong. Itu tidak penting! Sebab mahasiswa tidak akan pernah selaluh patuh dan tunduk seperti budak. Walaupun yang kuat dengan kesewenang-wenangannya akan menelan yang lemah. Tapi sekali lagi itu tidak penting! Selama pikiran kritis dan daya analisa mahasiswa masih kuat tidak ada yang perlu di risauhkan. Perlawanan mahasiswa itu besar, bagaimana kalau sekaligus kuat? Bahaya kalian tuan-tuan dosen! Hati-hati! Perlakuan serta persepsi sesuka hati dosen sudah jadi kenyataan. Namun, pembantaian mahasiswa dalam menggulung tikar-tikar kelaliman dosen juga busa jadi kenyataan. Waspadalah tuan!

Note :
Penulis adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari dan salah satu kader HMI komisariat Al-Ghazali. 

Marak Parkir Liar di luar kampus, SPI IAIN Kendari Himbau Mahasiswa Tertib

 

(Puluhan kendaraan roda dua parkir liar area luar kampus, Foto : Slamet Fadillah)

Reporter : Slamet Fadillah

Editor : Elfira Wati

Kendari, perskampusbiru.com – Dampak ditutupnya gerbang di samping masjid Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari mengakibatkan banyak mahasiswa memarkirkan kendaraan di area luar kampus atau terjadi parkir liar pada rabu, (22/9/2021).

Menanggapi hal tersebut Kepala Satuan Pengawas Internal (SPI) IAIN Kendari, Aliwar S.Ag, M.Pd. mengatakan bahwa hal tersebut bisa mengganggu lalu lintas.

“Saya kira parkir di luar pagar IAIN itu pastinya bisa mengganggu tertibnya lalu lintas, dan itu perlu penataan,” kata Aliwar Saat dihubungi via telepon.

Dia juga mengatakan, bahwa jika mahasiswa yang memarkirkan kendaraannya di luar area IAIN Kendari tidak mendapatkan jaminan keamanan dari kampus.

“Apabila parkir itu terjadi di dalam wilayah kampus tentunya sudah menjadi tanggung jawab pihak keamanan untuk menertibkan, tapi kalo itu terjadi di luar wilayah kampus, tentunya bukan tanggung jawab kami,” sambungnya.

Terakhir Aliwar menghimbau, untuk para mahasiswa agar tidak memarkirkan kendaraannya di luar kampus.

“Dihimbau kepada para mahasiswa untuk tidak memarkirkan kendaraannya di luar kampus karena kami tidak bisa menjamin keamanan kendaraan mereka.” Tutupnya.

AKHIRNYA KULIAH OFFLINE

Penulis : Tumming

  Cerita ini terjadi pada pertengahan tahun 2021. Saat perkuliahan semester genap telah usai. Masa yang dinantikan oleh hampir semua mahasiswa, dimana mereka bisa bersantai sejenak refreshing atau bahkan sekedar meluangkan lebih banyak waktu untuk bersenda gurau dengan keluarga tanpa terganggu oleh notifikasi kuliah online yang memenuhi notifbar smathphone mereka setiap harinya.

 Perkuliahan online telah berlangsung selama tiga semester, diberlakukan sejak masuknya COVID-19 ke Indonesia pada awal maret 2020 sampai dengan  juni 2021, hingga pada pertengahan 2020, lahirlah sebuah generasi baru yang sering kita sebut dengan generasi online. Dan ya… aku salah satu di antara ribuan mahasiswa generasi online itu.

Sebelum aku bercerita lebih jauh, alangkah lebih baiknya jika terlebih dalulu aku menceritakan sedikit tentang diriku.

1.  aku

Namaku Sharon kerap disapa Al. Teman sebayaku di kampung memanggilku Tullu. Aku tak tau artinya apa, tapi kata mereka, rasanya lebih akrab jika memanggilku dengan nama itu. Saat ini aku sedang melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. mengambil program studi Hukum Perdata Islam (HPI) Fakultas Syariah. Aku sering dicap berandalan oleh masyarakat sekitar karena rambut gondrongku. Tapi terlepas dari itu, setidaknya aku terbebas dari tagihan tukang parkir pasar karena melihatku berambut gondrong dan itu merupakan satu kebanggaan tersendiri bagiku.

 Aku berasal dari salah satu kota yang jaraknya cukup jauh dari kota Kendari, tempatku kuliah saat ini. kira kira sekitar 18 jam jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. cukup melelahkan dan menjadi alasan jika ditanya mengapa aku tak pulang kampung. Aku anak pertama dari tiga bersaudara dan yang paling cantik dirumahku adalah ibuku. 

Ya… aku tak memiliki adik perempuan. Karena itu, aku sangat penasaran bagaimana rasanya memiliki adik perempuan.  kerap kali, hal itu aku jadikan sebagai bahan candaan untuk sekedar mencairkan suasana saat berkumpul dengan keluarga. suatu hari, saat sedang menyaksikan acara Talk Shaw di salah satu stasiun televisi, aku berkata kepada ibuku bahwa aku ingin mepunyai adik perempuan.

“bu’ kita bikin mi lagi adik perempuan supaya ada yang saingi kecantikanta di rumah.”
“ha ha ha,”  ibuku tertawa mendengar apa yang baru saja aku ucapkan.
“itu adami dita.” Lanjut ibuku.

Dita adalah anak perempun dari sahabat ibuku, yang memang sejak kecil sering tinggal bersama keluargaku. Karena itu Dita sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh ibuku.

“beda toh, maksudku saya adik kandungku begitu ee.”
“ko menikah mi pale supaya ada yang saingi kecantikanku, ha ha ha.”
“kalau sudah yang begini, kadang saja sa suka diam.” kataku.

Ayahku seorang manager di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang persediaan bahan makanan pokok,  yaitu beras. Jadi, bisa dibilang ayahku adalah seorang petani dan ibuku seorang koki di rumahku he he he.

Mungkin lebih lengkapnya akan saya ceritakan pada kesempatan yang lain.

2. Generasi online

Aku memilih untuk tidak mudik pada libur kali ini, karena beberapa pertimbangan. Aku menghabiskan masa liburku dengan bekerja di salah satu bengkel motor yang berada di sekitar kampus untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. jika ada uang lebih, akan aku tabung untuk persiapan membeli kuota dan membayar UKT semester depan, yang harus dibayar full meskipun tak pernah menikmati fasilitas kampus sama sekali.

Malam itu, ditemani segelas kopi dan sebatang rokok surya, aku sedang berdiskusi  dengan diriku sendiri. banyak pertanyaan yang terlintas di benakku. Tentang apakah aku adalah mahasiswa yang lahir secara online dan selesai secara online pula? Apakah pemberian nilai masih bergantung pada siapa yang mampu membeli paket data setiap bulannya? Apakah aku tidak  bisa merasakan bagaimana menjadi mahasiswa yang mahasiswa? Tentang bagaimana kemudian aku bisa fight dimasa aku sebagai mahasiswa dan banyak pertanyaan yang bahkan tak bisa terjawab oleh diriku sendiri. Kuputuskan untuk memendam semua pertanyaan yang sempat terlintas dalam fikiranku dan beranjak untuk tidur.

3. Akhirnya kuliah offline

Hari ini adalah hari spesial untukku. Karena, untuk pertama kalinya sebagai mahasiswa generasi online, akhirnya dapat merasakan perkuliahan offline atau tatap muka, dan mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh puluhan, ratusan, bahkan ribuan mahasiswa yang menyandang gelar “Mahasiswa Generasi Online” dari sabang Sabang sampai Merauke. Kabar kuliah offline diumumkan saat setelah pembayaran uang semester, yaitu sekitar bulan agustus 2021. Susana sekitar kampus pun mulai ramai dan disambut bahagia oleh mereka yang memiliki usaha rumah kost dan kontrakan.

Bilik Kamar Flamboyan, 07.00 wita.

“Tok….tok…tok…” Seperti biasa aku dibangunkan oleh merdunya nada dering alarm juga suara ketukan dan sedikit teriakan dari balik dinding pemisah kamar kost yang terbuat dari papan triplek.

“sharon…sharooon…,”
“ko bangun mi, sudah capek mi kasihan itu alarmmu da kasih bangun kau,” teriak Rahmi.

Rahmi adalah tetangga kost sekaligus ketua tingkatku di kelas. Si cewek berparas cantik peranakan Turki yang setiap awal bulan berubah menjadi nenek lampir untuk menagih uang listrik bulanan kepada setiap penghuni kost. aku sering memanggilnya ibu ami. karena,  Bisa dibilang dia adalah tangan kanan dari ibu pemilik kosan. Meskipun begitu, dia masih tetap menjadi nenek lampir tercantik dengan kedua lesung pipinya yang tak begitu sering ia tunjukkan.

“astaga sa terlambat mi,” kataku panik.
“dari tadi pi itu alarmmu da bunyi hanya ko tidak dengar.”
“sa dengar ji, hanya barupi jam 04.30 tadi, jadi sa tidur kembali.”
“pembenaran lagi”. kata rahmi kemudian

 Aku langsung beranjak dari tempat tidur dengan perasaan panik dan langsung menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritual MACET (Mandi Cepat). Disamping karena aku harus berada di kelas pada pukul 07.30 pada mata kuliah Fiqh Mawaris, juga karena aku tidak ingin membuat kesan buruk pada awal kuliah offline ini. Setelah mandi  dan berpakaian, tak lupa aku menyeduh segelas kopi hitam khas toraja dan menghisap sebatang rokok. kemudian aku langsung bergegas ke kampus setelahnya.

Saat aku keluar kamar, aku berpapasan dengan rahmi yang juga akan menuju ke kampus.  

“pagi ibu ami,”
“sa kira ko sudah di kampus mi dari tadi”. sapaku
“hmmmm,”
“sudah lihat mi disini, berarti belum dikampus.” tegasnya.

 Seperti biasa rahmi masih saja menyembunyikan senyumannya yang manis dibalik sikap judesnya itu. sebenarnya, rahmi itu orangnya care. Hanya saja, sikapnya yang judes itu terkadang membuat orang yang baru mengenalnya mempunyai penafsiran yang lain tentang dirinya.

“mau sa antar ke kampus kah.” Aku memberi tawaran dan terlihat rahmi sedikit menaikkan alisnya. pertanda bahwa dia mengiyakan ajakanku.
“eh tunggu dulu,” cegahnya yang terlihat kebingungan
“kita mo naik apa mi katanya ini,” lanjut rahmi sambil melihat sekeliling, mencari kendaraan yang akan aku gunakan untuk mengantarnya ke kampus. sebenarnya ajakanku untuk mengantar rahmi ke kampus hanya sekedar basa basi saja.
“naik sepatu mi sja dulu ibu, sa punya mobil pi baru kita naik mobil,” gurauku kepada rahmi yang membuat moodya sedikit berkurang pagi ini.
“sinimi pale!.. sudah mau terlambat mi juga”.

Kami berdua pun menuju ke kampus dengan berjalan kaki karena jarak kosan kami tidak jauh dari kampus, kurang lebih memakan waktu 10 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. sepanjang perjalanan rahmi hanya terfokus ke handphonnya dan terlihat sedang asik membalas chat dari seseorang sambil sedikit tersenyum.

“Ami, ko masih pacaran kah sama pacarmu yang itu hari.” tanyaku pada rahmi untuk mengalihkan perhatian.

pertanyaan ini sudah sering kali aku tanyakan kepadanya untuk sekedar menjadi bahan gurauan. Rahmi terlihat sedikit risih dengan pertanyaan yang sudah sering kali aku tanyakan kepadanya.

“iya,”
“kenapa ko tanyakan itu terus kah, sa tidak akan putus ji sama dia.”  Jawab Rahmi
“sudah beberapa kali sa bertanya, barupi kali ini ko mau jawab. Berarti nda lama mi korang putus itu, hehehe.”

Rahmi hanya terdiam mendengar perkataanku dan melanjutkan perjalanan. Keadaan menjadi canggung, aku enggan mengeluarkan kata kata setelah pertanyaanku itu dan Rahmi kembali fokus ke handphone yang ia pegang. Mungkin ia ingin memberi tahu kepada pacarnya bahwa ada orang bodoh yang mengatakan bahwa mereka akan segera putus.

Tak terasa kami telah sampai di gerbang kampus. Rahmi langsung menuju ruangan perkuliahan tanpa menyadari bahwa aku tak mengikutinya dari belakang. Aku berjalan perlahan sambil memperhatikan pemandangan yang aku saksikan saat ini. suatu hal baru, yang mungkin akan menjadi jawaban dari semua pertanyaan pertanyaan yang sejak lama terlintas dalam fikiranku. Dimana, yang dipisahkan oleh kuliah online bisa kembali bertemu dan saling mengadu ibu jari dalam sebuah sentuhan kedua telapak tangan mereka seiring terucapnya kata “bagaimana kabar saudara.” kemudian seorang teman yang lain berkata “bagaimana mi tanganmu pas habis jatuh dari pohon mangga di belakang Syariah itu hari.” kemudian mereka pun tertawa lepas bak seorang yang tak memiliki beban dalam hidupnya, saat mereka menceritakan kejadian dimasa sebelum adanya kuliah online. Perhatianku pun tertuju kepada  mereka yang terlahir secara online bisa saling bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Namun, perhatianku teralihkan saat seorang perempuan menepuk pundakku dari belakang.

“kak,”
“Fakultas Syariah dimana.” Tanya wanita itu kepadaku.
“disana.” Kataku sambil menunjuk ke arah sudut kanan bagian timur gedung terpadu yang diatasnya terdapat tulisan Fakultas Syariah.
“kalau mau beli almamater dimana.” Lanjutnya.
“kita masuk di Rektorat kemudian belok kanan,”
“kamu semester berapa.” tanyaku.
“semester Tiga kak”. jawab wanita itu.

Singkatnya, ia adalah Sindi teman kelasku yang bahkan tak mengenaliku sama sekali setelah dia melewati dua semester kuliah online dengannku. yang mengagetkannya lagi bahwa, hari ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya di kampus ini. hal itu membuatku terdiam dan berfikir “berarti sampai saat ini, mungkin masih ada mahasiswa yang belum pernah melihat kampusnya sama sekali”.

“Sharoon…” teriakan kecil dari seseorang yang memanggilku. ternyata itu Rahmi yang sedang berjalan kearahku. mungkin karena ia telah menyadari bahwa aku tak mengikutinya dari belakang.
“sa bicara sama kau dari tadi, ternyata ko tidak ada di belakangku,”
“sudah mulai mi kuliahnya.” Lanjut rahmi.
“begitu kah, masih diizinkan ji kah masuk ini.”
“kita tes mi saja dulu.”
“sinimi sindi,” kataku sambil melihat ke arah sindi.
“nanti selesai mata kuliah baru ko beli almamater, kita ke fakultas mi dulu.”
“ko temani pale saya sebentar nah.”
“oke mi.”

Kami bertiga pun berjalan menuju ruangan perkuliahan GT SYAR 303 yang berada di lantai tiga Fakultas Syariah. Ternyata betul kata Rahmi, bahwa seorang dosen telah berada di ruangan terlebih dahulu.

“tok tok tok”. Rahmi mengetuk pintu ruangan.
“assalamu’alaikum.” kata Rahmi mengucap salam dan berharap masih diizinkan untuk mengikuti perkuliahan.
“wa’alaikumsalam,”
“masuk.”  jawab dosen yang membawakan mata kuliah pada saat itu.

Rahmi membuka pintu dan terlihat seorang dosen yang sedang berdiri memaparkan kontrak perkuliahannya. kami disambut oleh senyuman hangat dosen itu, senyum yang menyimpan banyak kerinduan untuk bisa mengajar secara offline dan berinteraksi secara langsung dengan para mahasiswa. Kami pun membalasnya dengan senyuman hangat pula.

“silahkan cari tempat duduk yang masih kosong nak”.
“terima kasih pak.” Kataku dengan desikit membungkukkan badan.

Rahmi dan semua mahasiswi yang berada di ruangan itu duduk di sisi kiri ruangan dan semua mahasiswa duduk di sisi kanan ruangan. Terlihat beberapa wajah baru yang belum pernah aku lihat sebelumnya, mungkin mereka itu yang selalu mematikan kamera pada saat perkuliahan via zoom dan ditinggal tidur. Mungkin, itu masih prediksi liar yang terlintas dalam fikiranku.

Aku berjalan menuju kursi yang berada di sudut kanan belakang. Itu adalah kebiasaanku dulu, pada saat aku masih duduk di bangku sekolah. Aku rasa itu adalah tempat duduk terbaik untuk bisa melihat semua apa yang sedang terjadi di dalam ruangan tersebut.

“baiklah untuk yang baru datang,”
“lihat baik baik kontrak perkuliahan yang telah saya tuliskan.” Kata bapak dosen sambil menunjuk ke papan tulis, kemudian ia menjelaskan poin  poin yang dimaksud. mulai dari batasan waktu terlambat hingga ke masalah berpakaian.

Batas waktu terlambat bagi semua mahasiswa selama 15 menit. Bagi mahasiswa, dilarang menggunakan kaos oblong, celana sobek dilutut, memakai sendal jepit dan berambut gondrong. Untuk mahasiswi, dilarang menggunakan pakaian yang ketat, mengenakan perhiasan dan memakai make up berlebihan pada saat mengikuti perkuliahan sesuai dengan kode etik kampus. hal itu sangat berbanding terbalik dengan metode perkuliahan online, dimana yang rapih hanya bagian yang terlihat kamera saja. bahkan terkadang beberapa mahasiswa mematikan kameranya karena sedang mengerjakan pekerjaan yang lain, begitupun dengan mahasiswi yang seolah olah sedang berlomba untuk tampil cantik di depan kamera dengan berbagai macam make up yang mereka gunakan.

“paham semuanya”. Lanjut dosen itu.
“paham pak”. Jawab serentak semua mahasiswa.

Setelah memaparkan kontrak kuliah, dosen kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan menjelaskan sub materi yang akan kami bahas pada semester ini. Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dijelaskan oleh dosen itu. Tetapi, itu tak berlangsung lama. Saat air hujan mulai menetes di atap gedung, perkataan dosen terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang membuatku tak tahan lagi menahan kantuk karena tak cukup tidur semalam dan aku pun tertidur didalam kelas.

4.  kenyataan

Tiba tiba terdengar suara ketukan keras yang terdengar sangat jelas oleh telingaku.

“tok tok tok,”
“sharon bangun mi.”

Teriakan itu terulang beberapa kali dan terasa sangat mengganggu, spontan aku menjawab dengan suara yang agak keras.

“ huh…ributnya pa,” kataku
“sa lagi enak enaknya mimpi kuliah offline, ko kasih bangun.”
“jangan mi kebanyakan bermimpi, masih tetap ji kuliah online,”
“ko mengabsen mi cepat itu di WA sebelum da habis waktunya.”
“absenkan pi dulu,”
“sa belum beli paket data.”

Pagi ini, aku terbangun dengan rasa kecewa dan harus menerima kenyataan bahwa semester ini aku masih tetap melaksanakan perkuliah secara online.

“online lagi…online lagi” 

Bersambung…

Note : Tumming adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari, kader HMI Komisariat Ibnu Rusyd Fakultas Syariah dan Kader UKM-Pers IAIN Kendari