Unik! Gedung Auditorium IAIN Kendari Disulap Jadi Tempat Resepsi Pernikahan

Reporter : Rizal Saputra

Editor : Al-Izar

Objektif.id, KENDARI – Pemandangan berbeda tampak di Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Kampus yang bakal bertransformasi menjadi UIN, disulap menjadi tempat resepsi pernikahan untuk anak dosen.

Dari pantauan Objektif.id, di lokasi gedung Auditorium IAIN Kendari nampak persiapan dekorasi, kursi pelaminan dan bingkai hiasan bunga menyambut pelaksanaan resepsi pernikahan sudah siap.

Hal itu dibenarkan oleh salah satu sekuriti kampus yang engan disebutkan namanya, bahwa Minggu, 21 November 2021, Pukul 09.00 Wita akan berlangsung resepsi pernikahan.

“Besok itu pernikahan,” singkatnya saat ditanyai.

Sementara, Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Kendari, Sarman mengatakan birokrasi kampus sudah salah dalam mengambil keputusan.

“Kebijakan kampus yang hari ini yang saya anggap konyol, ngaur, bahkan gila, saya anggap kampus sudah tidak tertib administrasi,” ungkap Sarman, Sabtu (20/11/2021).

Menurutnya, fasilitas Negara diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan lembaga yang ada lingkup IAIN Kendari, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Dimana kita ketahui bahwasanya yang namanya fasilitas negara itu tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi. Hari ini kita melihat ada kegiatan yang diselenggarakan dalam hal ini pernikahan di Auditorium. Sementara kita ketahui bahwa auditorium adalah fasilitas kampus dan fasilitas kampus adalah milik Negara,” tuturnya.

Dia menilai bahwa, birokrasi kampus hari ini, lebih mementingkan kepentingan segelintir oknum dari pada kepentingan lembaga kemahasiswaan yang ada dilingkupi IAIN Kendari itu sendiri.

“Jika hari ini fasilitas negara digunakan untuk kepentingan pribadi kasihan kita mahasiswa yang selalu dipersulit untuk meminjam untuk digunakan kegiatan-kegiatan kelembagaan,” jelasnya.

Sarman menambahkan, melihat kebijakan kampus dalam hal ini mengizinkan pelaksanaan resepsi pernikahan diselenggarakan di Auditorium itu sudah tidak masuk akal.

“Namun nyatanya hari ini kita melihat kebijakan yang dikeluarkan pimpinan melalui kabak atau pun orang-orang yang memberikan izin menggunakan auditorium untuk kepentingan pribadi dalam hal ini pernikahan saya rasa itu konyol.” tandasnya.

Untuk diketahui, saat dikonfirmasi terpisah melalui via seluler, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswan tidak merespon. Hingga berita ini terbit pihak kampus tidak memberikan tanggapan.

 

 

Jelang PEMILMA 2021, Lima Partai Mahasiswa Siap Bertarung

Reporter : Al Izar

Editor : Rizal Saputra

Objektif.id, kendari – Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) resmi menetapkan lima Partai Politik Mahasiswa (PARPOLMA) siap bertarung pada pemilihan mahasiswa 2021.

Keputusan itu, ditetapkan pada rapat  pleno 2, di sekretariat KPUM Jumat 19-11-2021.

Ketua KPUM, Amirulah mengatakan, lima PARPOLMA yang ditetapkan pada rapat pleno Dua.

“Pada rapat pleno dua itu, lima partai yang sudah kami tetapkan akan bertarung pada pemilihan mahasiswa yakni, Partai Serikat Mahasiswa Islam (PASMI), Partai Pergerakan Demokrasi Mahasiswa Merdeka (PANDAWA), Partai amanat mahasiswa (PANTAS), Partai persatuan lintas mahasiswa (PELITA) dan Partai bintang mahasiswa (PBM),” kata Amirulah, Jumat (19/11/2021).

Dari informasi yang didapatkan Objektif.id.

Pendaftaran Partai 10-17 November 2021.

Pendaftaran Figur SEMA 19-26 November 2021.

Masa Kampanye 28 November – 6 Desember 2021.

Pemilihan SEMA 10 Desember 2021.

Debat Kandidat 22 Desember 2021.

Masa Kampanye 18-24 Desember 2021.

Pendaftaran Calon DEMA 12-15 Desember 2021.

Pemilihan DEMA 28 Desember 2021.

Kongres SEMA I dan F 30 Desember 2021.

Mubes HMPS 4 Januari 2022.

Pelantikan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan 10 Januari 2022

 

HMPS IQT Gelar Seminar Nasional, Upaya Membangun Toleransi Dalam Beragama

Reporter : Andika

Editor :  Slamet Fadilah

Objektif.id, Kendari– Upaya membangun toleransi dalam beragama, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, menggelar seminar nasional dengan tema “Tafsir Moderasi Dalam Berbagai Perspektif” pada, Jumat (19/11/2021).

Dari pantauan wartawan Objektif.id di lokasi, kegiatan dilaksanakan di Aula Mini Perpustakaan IAIN Kendari pada pukul 13.00-16.00 WITA. Narasumber yang mengisi kegiatan tersebut terdiri dari Dr. Ahmad Zain Samoto, MA, M.Pd, Dr. H. Lukman Arake, Lc., MA, Dr. H Abdul Muiz., M.Th.I. dan moderator oleh Dr. H. Danial, Lc., M. Th.I.

Ketua HMPS IQT, Abdul Rahman mengatakan, setiap individu pasti punya pandangan yang berbeda tentang moderasi terkhusus dalam ilmu Al-Quran.

“Kalau kita berbicara persoalan moderasi, saya rasa setiap individu memiliki definisi berbeda  tentang moderasi itu sendiri apa lagi dalam hal ilmu agama,” kata Abdul saat diwawancarai Jumat (19/11/2021).

Menurut Abdul Rahman, dengan didatangkan beberapa narasumber, tentunya akan mempermudah memahami moderasi itu sendiri.

“Dengan didatangkan para pakar-pakar, baik itu masalah hukum, masalah kaidah dan lainnya. Di situ telah dijelaskan bagaimana itu moderasi apabila dilihat dari sudut pandang ter khusus Ilmu Al-Quran dan Tafsir,” ungkapnya.

Seharusnya, dalam mempelajari ilmu yang berhubungan dengan ilmu Agama, penafsiran-penafsiran ayat-ayat Al-Quran itu harus memiliki pembimbing.

“Jika ingin mempelajari ilmu-ilmu yang berbaur dengan masalah penafsiran atau pun yang berbaur dengan hukum atau kaidah itu harus ada yang membimbing, harus ada yang mengarahkan kita,” tegasnya.

Untuk menghindari hal-hal yang berbahaya yang tidak diinginkan dalam penafsiran ilmu agama, Abdul Rahman menegaskan.

“Jangan hanya karena kita membaca sebuah artikel atau buku lantas kita langsung bisa menyimpulkan atau menafsirkan hal itu, padahal secara tidak langsung apa yang kita simpul kan itu belum tentu benar apalagi dalam hal ilmu agama,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu peserta Ainun Al Addawiyah, mengatakan seminar nasional dengan tema “Tafsir Moderasi Dalam Berbagai Perspektif” ini bagus di konsumsi oleh mahasiswa.

”Seminar ini sangat bagus terutama di kalangan mahasiswa/i ilmu Al-Qur’an dan Tafsir karena seminar ini masih berkesinambungan dengan beberapa pelajaran kami dan wawasan kami, karena kami bergerak di Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di mana penafsiran-penafsiran atau hadis-hadis itu hidup beri ringan.” Ungkapnya.

 

 

Menambah Generasi Lembaga Peradilan Semu Hukum Islam Mengadakan Latihan Dasar Peradilan Semu

Reporter : Al-izar
Editor : Elfirawati

Objektif.id, Kendari – Lembaga Peradilan Semu Hukum Islam (LPS-HI) Fakultas Syari’ah (FASYA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari mengadakan Latihan Dasar Peradilan Semu (LPDS). Jum’at, (19/11/2021).

Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari itu, 19-21 November 2021 yang dilaksanakan di Lab Peradilan Semu dan Desa Ambololi Kec, Konda Kab, Konawe Selatan. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Mewujudkan Generasi yang Berpengetahuan Radikal, Beradab, Berjiwa Sosial yang Berlandaskan Hukum Islam”

Laode Darmanto selaku Ketua Panita, mengungkapkan alasan mereka mengangkat tema tersebut, karena kurangnya para mahasiswa yang berfikir secara radikal atau ke akar-akarnya dan mendalam untuk memahami keilmuan hukumnya. Dan juga masih ada beberapa mahasiswa yang kurang beradab dan agar dapat berjiwa sosial yang berlandaskan hukum Islam.

“Berangkat dari pengalaman ketika meninjau kualitas pemahaman mahasiswa syariah bahwasanya, masih banyak yang belum mengakar atau radikal memahami keilmuan hukumnya dan masih banyak mahasiswa yang kurang beradab,” ungkapnya.

Sementara itu, Pembina LPSH-HI, Asrianto Zainal mengatakan, dengan berproses di LPS-HI ini bisa dapat menjalankan perannya dan dapat mewujudkan mimpinya sebagai mahasiswa fakultas syariah.

“Anda bisa menyalakan peran-peran anda, yang kemudian hari mungkin Allah mewujudkan mimpi-mimpi anda, baik kemudian menjadi hakim, menjadi polisi, atau kemudian menjadi pengacara,” kata Asrianto dalam sambutannya.

Tidak hanya itu, dia juga berharap dengan adanya LPS-HI ini bisa melahirkan mahasiswa yang ahli dalam bidang hukum.

“Betul-betul kita berharap LPS ini bisa menghadirkan sosok-sosok yuris yang bukan, punya kapasitas interpol yang baik tetapi juga integritas yang baik,” harapnya.

Senada dengan hal itu, Ketua Umum LPS-HI Jeklin dermawan, berharap kepada mahasiswa Fakultas Syari’ah yang mengikuti latihan dasar agar dapat menyelesaikannya sampai akhir.

“Saya berharap kepada setiap adik-adik yang mengikuti rekrutmen ini setiap tahapnya diselesaikan semua,” harap Jeklin.

Jeklin menjelaskan ketika para peserta ini lulus sebagai anggota LPS-HI, para pengurus akan menyediakan berbagai macam materi teori. Maupun praktek dan semoga para calon anggota itu mempunyai antusias tinggi. agar dapat mengikuti setiap materi yang diberikan.

Ini Aku

Oleh : Elfirawati 

Ini aku, perempuan itu

Perempuan nirguna itu

Bukankah itu panggilanmu untukku, manusia sempurna?

Ini aku, manusia angkuh

Perempuan ini ringkih, tubuhnya sudah terkulai

Kau mau lihat?

Lihatlah ini! Lihatlah itu!

Ah! Bukannya kau manusia antipati?

Hingga perkataanku tak pernah kau pedulikan

Maukah kuberi tahu sesuatu?

Kau berhasil! Sangat berhasil

Tubuhnya sekarang habis ia gerogoti

Ia lukai hingga habis

Ini aku, perempuan gila itu!

Kau senang, wahai manusia sempurna?

Kau bahagia?

Selamat kalau begitu!

Apa kau tak mau mengucapkan kata terakhirmu sebelum aku habis menyayat diriku sendiri?

Ayolah, manusia sempurna!

Aku akan selalu mendengarmu

Apakah detikmu akan habis jika bom waktu di dalam kepalaku mulai meledak?

Kau tak tahu isi di kepalaku?

Ah! Lagi-lagi kau antipati

Bukannya kau yang menciptakan ini, mahkluk paling sempurna?

Isi di kepalaku itu sedetik saja mampu memusnahkanku

“Dasar manusia bodoh!”

“Perempuan jelek!”

“Lihatlah otakmu! Menjijikan!”

“Perempuan tak berguna!”

“Kau manusia?”

“Manusia sepertimu tak begini. Hahaha”

“Perempuan lemah!”

Sudahkah kau tahu itu manusia sempurna?

Perkataanmu memanglah rakitan bom paling ampuh untuk menghancurkan dunia kecilku

Duniaku gelap, bukan?

Kau menikmatinya? Kau puas?

Ini aku, perempuan gila itu

Detik demi detik

Ia akan habis

Dilahap oleh isi kepalanya sendiri

Dimusnakan oleh bom waktu yang sudah kau rakit dengan perkataanmu

Bersabarlah. Tunggulah aku

Aku tak lama lagi

Jangan khawatir, manusia sempurna

Duniamu tak akan runtuhkan?

Dema Fatik, Gelar Turnamen Futsal Sebagai Ajang Silaturahmi Mahasiswa

Reporter: Slamet Fadillah

Editor : Muh Aksan

Objektif.id Kendari – Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (Fatik) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. Menyelenggarakan Tournament Futsal Dema Fatik Cup 2021 yang diselenggarakan di Gedung Olahraga (Gor) IAIN Kendari pada tanggal 12-14 November 2021.

Tournament ini diikuti sebanyak 29 tim dari berbagai Program Studi (Prodi) yang ada di IAIN Kendari. Adapun tema dari kegiatan ini yaitu “Dari Sportifitas Menuju Solidaritas”.

Ketua panitia kegiatan, Muhammad Harits mengatakan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini yaitu untuk memperkenalkan prodi-prodi yang ada di IAIN Kendari dan bisa digunakan sebagai tempat untuk menyalurkan hobi para mahasiswa di olahraga futsal.

“Tujuan pertama kegiatan ini yaitu untuk memperkenalkan prodi-prodi yang ada di Fatik dan umumnya yang ada di IAIN Kendari, yabg kedua kita bertujuan untuk meningkatkan semangat selain di akademik agar mahasiswa bisa menyalurkan bakatnya di bidang ekstrakulikuler terutama di olahraga futsal” katanya Harits saat di temui, Jumat (12/11/2021).

Dia juga berharap dengan diadakannya kegiatan ini maka bisa untuk mempersatukan seluruh mahasiswa IAIN Kendari lewat olahraga.

“Harapan saya lewat kegiatan ini para mahasiswa bisa bersatu dan saling mengenal walaupun berbeda-beda prodi, dan tidak tercipta kubu-kubu dikalangan mahasiswa” Harapnya.

Ketua Dema Fatik, Amin Syafaat juga berharap kegiatan ini bisa mendapatkan respon yang positif dari mahasiswa dan akan terus berlanjut kedepannya.

“Saya berharap jika nantinya para mahasiswa memberikan respon positif terkait kegiatan ini, artinya dalam kegiatan ini banyak mahasiswa yang begitu antusias, insyaallah kedepannya kami akan mengadakan event-event berikutnya dan mungkin lebih besar lagi daripada ini” tukasnya.

FOTO: Kemah Literasi UKM-Pers IAIN Kendari

Ket:

Kegiatan kemah literasi yang dihadiri berbagai pengurus UKM – Pers IAIN Kendari dan Mahasiswa IAIN Kendari, yang diselenggarakan di pelataran Kampus pada Jumat, 15 Oktober hingga Minggu, 17 Oktober 2021.

Kongres Nasional XVI dan Dies Natalis PPMI

 

Ket:

Kongres Nasional XVI dan Dies Natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan pada Kamis, 14 Oktober hingga Selasa, 19 Oktober 2021, di Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Racana Sultan Qaimuddin IAIN Kendari Tampil Memukau dengan Pakaian Adat Muna Pada PWN PTK XV

Reporter: Elfirawati A. T. S

Editor: Rizal Saputra

Objektif.Id, Kendari – Perkemahan Wirakarya Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan (PWN PTK) se-Indonesia XV digelar di Palembang, Sumatera Selatan. Kegiatan perkemahan tersebut berpusat di Jakabaring Sport City, pada kegiatan itu Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menjadi tuan rumah yang akan berlangsung selama selama lima hari, 10-14 November 2021.

Perkemahan Wirakarya adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega berbentuk perkemahan besar dalam rangka mengadakan integrasi dengan masyarakat dan ikut serta dalam kegiatan pembangunan masyarakat. Pada kegiatan ini, kontingen Pramuka Racana Sultan Qaimuddin IAIN Kendari turut berpartisipasi sebagai peserta PWN-PTK XV 2021. Perkemahan itu berlangsung secara Luar Jaringan (Luring) dan Dalam Jaringan (Daring). Dimana dalam pelaksaan kegiatan daring bertempat di Bumi Perkemahan, depan perpustakaan IAIN Kendari.

Dalam pelaksanaan perkemahan, Kontingen Dr. H. Herman M, Pd dan Pembina Pendamping Aminuddin, MA dan Raehang, M.Pd turut mendampingi anggota pramuka IAIN Kendari selama perkemahan berlangsung. Dilansir dari http://iainkendari.ac.id perkemahan wirakarya itu diawali dengan upacara adat dengan mengangkat tema “Bhineka Tunggal Ika” bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Rabu, (10/11/2021).

Pada kesempatan itu, Racana IAIN Kendari menggunakan pakaian adat Muna nuansa kuning yang tampil unik dan memukau pada kesempatan menampilkan pakaian adat dari daerah masing-masing.

Pimpinan Kontingen yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III IAIN Kendari mengatakan, kegiatan nasional yang dilaksanakan dua tahun sekali ini menjadi sarana bagi anggota pramuka untuk menampilkan kreatifitas dalam memamerkan budaya lokal di samping kegiatan bakti sosial yang menjadi roh dari kegiatan kepanduan.

“Mereka mendapat kesempatan untuk memaksimalkan semua potensi yang ada di dalam dirinya untuk menjadi generasi yang mandiri, kreatif, dan menumbuhkan sikap inklusif, menerima perbedaan serta mengimlementasikan unsur moderasi beragama sesuai tema yang diusung dalam kegiatan PWN,” paparnya.

Ketua Racana IAIN Kendari, Muhammad Sabri mengatakan, bahwa kegiatan PWN PTK ini bukan hanya kegiatan kepramukaan saja akan tetapi, banyak jenis-jenis kegiatannya baik bakti sosial dan pengenalan budaya di nusantara.

“Kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi seluruh anggota pramuka Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia. Jadi, kita bisa saling sharing bagaimana pandangan pramuka serta arah pramuka kedepannya,” tuturnya saat di hubungi via whatsap. Kamis, (11/12/2021).

Sabri juga membeberkan, bahwa dalam kegiatan PWN-PTK Ke-XV tahun 2021 ini ada banyak sekali jenis-jenis kegiatan di dalamnya.

“Ada kegiatan bakti rumah ibadah, pelatihan safe from harm, kegiatan jumpa tokoh, kegiatan penampilan video pentas seni, kegiatan tour di wisata Palembang, serta ada beberapa forum termasuk forum Ketua Dewan PTK se-Indonesia, forum Pembina PTK se-Indonesia Serta forum Warek III PTK se-Indonesia,” bebernya.

Dilansir dari pendis.kemenag.go.id Muhammad Ali Ramdhani, selaku Jenderal Direktur Pendidikan Islam-Kementerian Agama RI mengungkapkan, acara ini bertujuan untuk mengisi generasi muda dengan kegiatan berwawasan kebangsaan, skill yang bermanfaat, dan moderasi beragama.

“Acara ini diharapkan dapat memperkuat wawasan kebangsaan dan terdapat konten moderasi beragama,” kata Ramdhani.

Perkemahan wirakarya itu akan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas dengan dihadiri Gubernur Sumatera Selatan dan turut memberikan sambutannya pada hari Kamis, 11 November 2021 di Jakabaring Sport Center (JSC) Kota Palembang.
Kegiatan pembukaan ini pula turut dihadiri 55 Rektor/Ketua, Wakil Rektor/Ketua III UIN/IAIN/STAIN se Indonesia, pejabat dan pelaksana dari Kementerian Agama RI. Pembukaan termasuk Rektor IAIN Kendari Prof, Dr, Faiah Binti Awad, M.Pd.

Dalam penyelenggaraan PWN PTK 2021 ini dilakukan dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan secara ketat. Adapun tes antigen, tes polymerase chain reaction atau PCR serta prokes lainnya juga harus wajib dijalankan oleh seluruh peserta perkemahan wirakarya nasional.

Peringati Hari Pahlawan, DEMA IAIN Kendari Gelar Aksi Deklarasi

Reporter : Rizal Saputra
Editor : Elfirawati

Objektif.id Kendari – Upaya mengingat kembali perjuangan para pahlawan, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari gelar Aksi Deklarasi dengan tema “Selebrasi Mahasiswa Terhadap Hari Pahlawan, Rabu (10/11/2021).

Aksi tersebut berlansung pada pukul 08.00 – 10.00 Wita di pelataran gedung terpadu IAIN Kendari dan diikuti oleh ratusan mahasiswa(i) IAIN Kendari.

Ketua DEMA I, Buyung M. Rantau mengatakan, hari Pahlawan merupakan hari yang cukup penting dalam sejarah Indonesia.

”Menurut kami hari Pahlawan itu adalah hari terpenting,” kata Buyung. Rabu, (10/11/2021).

Menurutnya, dengan adanya aksi deklarasi kali ini bisa menghidupkan kembali semangat-semangat perjuangan yang telah redup.

“Merefleksi kembali, menghidupkan kembali gairah-gairah kepahlawanan, karna sejatinya kita sebagai kaum pemuda tentu kita punya semangat pahlawan dalam diri kita. Karna selama ini kita disibukan aktifitas perkuliahan,” tuturnya.

Ia berharap kedepannya, melalui aksi deklarasi ini bisa lahir pahlawan-pahlawan penerus bangsa.

“Saya berharap kedepannya ada orang-orang yang seperti itu lagi dan saya yakin mereka akan terus berlipat ganda,” harap Buyung.

Harpan Fajar salah-satu mahasiswa IAIN Kendari, mengapresiasi apa yang dilakukan DEMA Institut hari ini. Menurutnya, aksi deklarasi hari ini bentuk perhatian terhada problematika yang dihadapai bangsa hari ini.

“Apa yang kemudian dilakukan Dewan Eksekutif Mahasiswa hari ini adalah bentuk perhatian mereka bahwa mereka sadar bagaimana problem-problem kebangsaan kita hari ini terutama pada pada generasi bangsa kita hari ini,” tutur Harpan.

Menurut Harpan, di era globalisasi sekarang ini kita perlu untuk mengingat jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini.

“Karena ini juga sebagai pengingat untuk teman-teman yang mungkin di dalam keadaan teknologi yang semakin memadai, tapi kita juga mengingat bahwa perlu untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan kita,” ungkap Harpan.

Lanjutnya, ia mengatakan, bahwa seharusnya dalam momentum seperti ini adalah langkah awal menuju Indonesia yang lebih maju.

“Tetapi dalam momentum 10 november seharusnya kita menciptakan ulang indonesia yang lebih progresif,” tutupnya.

Dinilai Salah Fungsi, Rektor IAIN Kendari Mengurusi Peminjaman Bosara

Reporter: Rizal Saputra
Editor: Elfirawati

Objektif.id, KENDARI – Beberapa Lembaga Kemahaswaan Internal yang ada di lingkup kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari sesalkan sikap birokrasi yang mempersulit kegiatan kemahasiswaan.

Hal itu menuai kritikan dari beberapa lembaga kemahasiswaan baik dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN, Senat Mahasiswa (SEMA) hingga Beberapa Unit Kegiatan Khusus (UKK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di bawah naungan kampus IAIN Kendari.

Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Institut, Sarman mengatakan, banyak kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan lembaga kemahasiswaan kurang mendapatkan dukungan dari pihak birokrasi.

”Banyak lembaga kemahasiswaan yang kemudian tidak pernah didukung dan tidak pernah dihadiri kegiatannya,” kata Sarman saat menyampaikan orasi di kegiatan aksi Deklarasi, rabu, (10/11/2021).

Tidak hanya itu, proses peminjaman baik itu gedung, mobil, alat pengeras suara hingga bosara pun dipersulit.

“Ketika kita meminta hak tidak pernah untuk dikabulkan oleh pimpinan. Kita dipersulit persoalan peminjaman, ada beberapa syarat yang kemudian harus dipenuhi yang saya rasa itu konyol,” lanjutnya.

Sementara itu, Iwan Husain selaku pengurus Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FATIK) mengatakan, birokrasi hari ini sedang mengalami perlambatan kinerja adiministrasi.

“Baiknya Rektor hari ini tidak mengurusi hal-hal adiminstrasi yang berbentuk pinjaman,” kata Iwan Husain. Selasa, (9/11/2021).

Sementara itu, Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Pers (UKM-Pers) M. Ilham Pranata, menyayangkan sikap birokrasi hari ini seakan mempersulit langkah-langkah yang dilakukan lembaga kemahasiswaan dalam melaksanakan kegiatan.

“Jika proses peminjaman dipersulit itu sangat disayangkan, sebab dapat menghambat kegiatan yang akan diselenggarakan oleh lembaga kemahasiswaan itu sendiri,” kata M. Ilham saat di hubungi via whatsap. Rabu, (10/11/2021).

Lanjut Ilham, seharusnya pihak birokrasi hari ini mendukung bukan mempersulit kegiatan lembaga kemahasiswa hari ini.

“Seharusnya pihak birokrasi mempermudah proses peminjaman yang diajukan oleh lembaga kemahasiswaan baik itu UKK manupun UKM itu sendiri,” tuturnya.

Refleksi Hari Pahlawan, KBM IAIN Kendari Menilai Pihak Birokrasi Tidak Mensuport Lembaga Kemahasiswaan

Reporter : Al-Izar
Editor :Elfirawati

Objektif.id Kendari — Memperingati Hari Pahlawan Nasional Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari gelar aksi deklarasi dengan bertemakan “Selebrasi Mahasiswa Terhadap Hari Pahlawan” Rabu, (10/11/2021).

Akan tetapi, dalam deklarasi tersebut, para mahasiswa(i) IAIN Kendari tidak ikut turut andil dalam memeriahkan hari pahlawan tersebut. Bahkan, pihak birokrasi sendiri tidak ikut untuk memperingati.

Seperti yang dikatakan Sarman, selaku Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Kendari dalam orasinya bahwa seharusnya mahasiswa IAIN Kendari berada di garda terdepan.

“Seharusnya, mahasiswa IAIN Kendari berada di garda terdepan untuk kemudian memperingati hari pahlawan ini. Namun, lebih sial lagi pimpinan kampus tidak mendukung dan mensuport kegiatan-kegiatan lembaga kemahasiswaan IAIN kendari,” jelas Sarman.

Lanjut Sarman, ia menilai bahwa Rektor IAIN Kendari selalu beralasan tidak jelas dan tidak rasional. Bahkan, Rektor selalu memilih kegiatan apa yang harus ia hadiri.

“Hari ini kita melihat kegiatan Dema IAIN Kendari tak satupun pimpinan yang kemudian menghadiri upacara memperingati hari pahlawan tak satupun pimpinan kampus menghadiri kegiatan Dema IAIN Kendari,” lanjut Sarman.

Ia juga mengatakan, bahwa beberapa kegiatan Rektor IAIN Kendari selalu hadir, akan tetapi kegiatan internal kampus yang bersentuhan langsung dengan Rektor tak pernah dihadiri.

“Apakah ini yang dikatakan pimpinan yang kemudian mengayomi mahasiswanya? Namun, kita lihat hari ini Rektor IAIN Kendari memilih kegiatan apa yang akan dihadiri,” sambungnya.

Di akhir orasinya, Sarman mengatakan, bahwa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) harusnya selalu didukung.

“Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) harusnya didukung,” tutup Sarman diakhir orasinya.

Sementara itu, Buyung Muh. Rantau, selaku Ketua Dema IAIN Kendari mengatakan, di hari yang begitu penting ini pemuda dan mahasiswa bahkan pihak birokrasi yang menduduki suatu jabatan tidak merespon sama sekali segala kegiatan kemahasiswaan.

“Dan bagi orang-orang tua yang sekarang menduduki jabatan kondisional di IAIN Kendari tidak punya respon dan tidak merespon segala kegiatan kemahasiswaan yang kami lakukan terkhusus pada hari ini,” kata Buyung

Lanjut Buyung, dia menyarankan kepada pihak birokrasi untuk sekali-kali menengok ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) bahwa banyaknya sekarang masalah antara lembaga mahasiswa terhadap pihak birokrasi.

“Saya Menyarankan kepada pihak birokrasi sekali-kali jalan-jalan ke PKM untuk ngopi bersama agar keluhan lembagaan mahasiswa dapat di dengarkan, bahwa banyaknya problem lembaga mahasiswa dan birokrasi,” tutupnya.

SEMA IAIN Kendari, Bentuk Karakter Pemimpin Melalui Sekolah Legislatif

Reporter  : Muh Aksan

Editor       : Elfirawati

Objektif.Id, KENDARI – Demi meningkatkan pemahaman fungsi legislatif kepada Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Kendari mengadakan Sekolah Legislatif 2021 di Gedung Auditorium dan Pantai Toronipa. Sabtu, (6/11/2021).

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 -7 November 2021 dan diikuti oleh 100 peserta dari lingkup Mahasiswa IAIN Kendari  dengan mengangkat tema ”Melahirkan Legislator Mahasiswa yang Kompeten serta Paham Tugas dan Fungsi Secara Konstitusi dalam Menyongsong SDGs (Sustainable Development Goals)”.

Muflih Ukhrawi Nasri selaku Ketua Panitia mengatakan dalam sambutannya, tujuan diadakannya kegiatan ini agar mahasiswa terkhusus angkatan 2020 dan 2021 agar paham akan tugas dan fungsi Secara Konstitusi dalam Menyongsong SDGs.

“Untuk melahirkan pemimpin masa depan agar  paham tugas dan fungsi secara Konstitusi dalam Menyongsong SDGs,”ungkapnya

Lanjutnya Muflih mengungkapkan, kegiatan ini diadakan karena melihat mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 yang belum paham akan fungsi SEMA-I. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dihadiri oleh pemateri yang sangat luar biasa dan mempunyai kapabilitas di bidangnya masing-masing.

“Berhubung adik-adik mulai awal perkuliahan mereka melaksanakan perkulihan secara online. Jadi, kita sepakat bahwa adik-adik belum terlalu paham tugas dan fungsi sema-I atau legislatif ini. Adapun pemateri yang diundang pertama H. Abdurrahman Shaleh, S.H., M.Si selaku Ketua DPRD Prov. Sultra, kedua Muhammad Amsyar S.Sos.I selaku Ketua DPD KNPI Sultra, ketiga  Dr. H. Lukman Abunawas, SH., M.H., M.Si selaku Wakil Gubernur Sultra yang diwakili oleh staff beliau, keempat Ir. Hugua selaku Anggota DPR-RI,” ungkapnya.

Selaras dengan hal itu, Sarman Al Ausy selaku ketua SEMA-I menjelaskan, bahwa masalah pemahaman kelembagaan di IAIN Kendari masih sangat kurang.

“Karena melihat potensi yang ada di IAIN Kendari dan melihat dari kukurangan juga masih banyak mahasiswa IAIN Kendari khususnya mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 yang masuknya di IAIN Kendari ataupun PBAK itu melalui jalur online. Jadi, terkait masalah pemahaman kelembagaan IAIN Kendari itu masih sangat kurang  khususnya tugas dan fungsi legislatif itu sendiri makanya, kami berinisiatif menyelenggarakan sekolah legislatif,” jelasnya.

Sarman  berharap besar bahwa setelah diadakannya kegiatan ini mahasiswa dapat aktualisasikan di lapangan.

“Dan mungkin nantinya teman-teman yang akan jadi pemimpin, menjadi Ketua Senat, Ketua Dema dan juga seluruh ketua-ketua yang ada di IAIN Kendari pastinya harus mempelajari, harus mengetahui seperti apa fungsi kelembagaan itu sendiri,” harap Sarman.

Salah satu peserta Ayu Rahmadani membeberkan, ketertarikannya mengapa ia mengikuti kegiatan tersebut.

“saya tertarik ikut begini untuk membuka wawasan. Sebagai mahasiswa tidak hanya di akademik pasti di luar perkuliahan karena 25% persen dari materi yang kita dapat ada dibangku perkuliahan sedangkan 75% itu dari luar atau dari kehidupan kita masing-masing,”bebernya.

Berproses Di Bumi Gayatri

Penulis: Arini Triana Suci Rahmadani

Hai, aku Arini Triana Suci Rahmadani biasa dipanggil Arini. Bersama temanku Aksan, tepat seminggu yang lalu dia menghubungiku untuk ikut berangkat menuju ke Tulung Agung atau daerah yang biasa dijuluki Bumi Gayatri untuk mengikuti kegiatan kongres Perhimpunan Pers Mahasiswa ke 16 sekaligus merayakan hari lahir Perhimpunan Pers Mahasiswa yang ke 27.

Pagi dini hari pukul 04:00, setelah semalaman tidak tidur karena memikirkan banyak hal terkait keberangkatan kami aku dan Aksan mulai bersih-bersih diri sebelum menuju Bandara Haluoleo, ya benar sekali kami memutuskan untuk tinggal di kantor  UKM-Pers IAIN Kendari semalaman karena jarak rumah tempat tinggalku cukup jauh dari bandara.

Setelah siap, aku dan teman-teman UKM-Pers berkumpul membentuk sebuah lingkaran untuk melakukan sesi berdoa sebelum berangkat menuju Bandara Halu Oleo Kendari, sekalian mengambil gambar bersama-sama. Pukul 05:00 Wita, kami diantar menuju bandara, setelah sampai tak lama kemudian nomor pesawat yang akan kami tumpangi disebut dan itu berarti kami akan segera berangkat menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Ujung Pandang.

Selama di pesawat aku hanya duduk sambil melihat ke bawah, mataku menelusuri semua keindahan alam yang ada, dari atas sini pepohonan terlihat seperti karpet hijau yang luas. Sesekali aku menoleh melihat Aksan yang duduk di samping kiri ku sedang asyik mengobrol dengan kenalan barunya, aku juga sesekali menguping pembicaraan mereka. Aku bukan seseorang yang mudah berinteraksi dengan orang baru, tapi tunggu sebentar lagi mulutku tidak akan berhenti berbicara.

Karena ini adalah pengalaman pertama buat kami, sesampainya di Bandara Sultan Hasanudin tentu saja hal utama yang kami lakukan adalah mengambil gambar. Tak lupa pula kami mengabari senior dan teman-teman kami di UKM-Pers. Karena waktu transit yang sempit, aku dan Aksan memutuskan untuk sarapan di Surabaya saja, rasanya konyol kalau harus ketinggalan pesawat karena alasan sarapan.

Penerbangan selanjutnya pukul  09:00 Wita, setibanya di Bandara Djuanda Aksan mengeluarkan satu kalimat yang cukup panjang hari itu. “Jangan jauh-jauh, disini ramai. Kita tidak ada kenalan dan bahaya. Apalagi di terminal nanti, tadi kakak yang disampingku cerita kalau kita tidak boleh interaksi dengan orang lain selain petugas bandara.” Baru berapa menit tiba dikota orang Aksan sudah terlihat seperti orang tua yang posesif terhadap anaknya, aku cuma mengiyakan.

Sambil menunggu Djawatan Angkoetan Motor Repeobblik Indonesia (Damri) yang kami tumpangi jalan aku dan Aksan mengecek smartphone  kami masing-masing, satu hal yang aku sadari ternyata senior-senior ku benar-benar mengkhawatirkan ku. Mungkin karena aku perempuan, jadi isi kolom chat Aksan hanya tentang “jaga saudarimu baik-baik.” Aku tersentuh, sedangkan Aksan menghela napas karena dititipkan tanggung jawab besar.

Damri yang kami tumpangi melaju menuju terminal Purabaya, dari terminal Purabaya kami naik bus menuju tempat tujuan kami yakni terminal Gayatri di Kabupaten Tulung Agung. Dengan estimasi waktu sekitar 5 jam, melewati jalan tol. Setelah sampai di Tulung Agung hal pertama yang kami lakukan tentu saja mencari warung untuk memberi nutrisi cacing-cacing diperut. Lelah mengelilingi terminal, kami akhirnya memutuskan untuk makan didepan terminal sembari menghubungi teman-teman LPM yang ada di Tulung Agung, selang beberapa menit setelah makan kami di hampiri dua orang cowo yang akrab di panggil Dadang dan Rizal, mereka adalah teman-teman dari LPM Dimensi UIN Satu Tulung Agung.

Sebelum menuju ke kontrakan LPM Dimensi Dadang dan Rizal mengajak aku dan Aksan untuk singgah ditempat angkringan untuk ngopi dan nyemil. Ditempat itu, kami hanya sedikit bertukar cerita tentang keadaan kota masing-masing, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kontrakan LPM Dimensi.

Dikontrakan LPM Dimensi kami disambut dengan ramah oleh beberapa anggota yang masih aku ingat Mba Ria, Mas Panda dan lain-lain. Disana juga aku bertemu dengan Efendi dari LPM Al Fikr Probolinggo. Kami banyak tukar cerita tentang kegiatan yang sering UKM Pers atau LPM lakukan, tidak hanya itu kita juga bercerita terkait budaya bahkan sampai culture shock yang aku rasakan.

Teman-teman LPM Dimensi sangat antusias mendengar ceritaku tentang perjalanan kami yang penuh dengan kebingungan, soto ayam yang di campur langsung dengan nasi sampai rasa teh di sana yang sangat ringan dan wangi.

Malam hari pun tiba aku memutuskan untuk beristirahat di kos Mba Ria, karena kurang etis rasanya harus menginap di kontrakan yang isinya mayoritas laki-laki. Temanku Aksan tetap di kontrakan tersebut, sebelum istirahat aku dan teman-teman memutuskan untuk makan malam diwarung Mak Tik, yang cukup terkenal di daerah sekitar kampus UIN Satu Tulung Agung. Lagi-lagi aku dibuat syok karena harga makanan yang terbilang sangat murah bagiku.

Besok pagi, aku bersih-bersih diri setelah itu menuju kontrakan dimensi untuk sarapan pagi. Sampai pada siang hari, aku bersama Aksan, Dadang dan Mas Shibi memutuskan untuk berangkat ke lokasi kongres duluan. Setelah pamitan, kamipun berangkat. Jarak yang kami tempuh cukup jauh, karena berada dikecamatan yang berbeda.

Sampai ditempat kongres aku dan aksan terlebih dahulu melakukan registrasi, kemudian menuju tempat istirahat kami masing-masing. Karena pada saat itu tempat perempuan dan laki-laki dipisahkan, aku agak kebingungan.

Selang beberapa saat kemudian, aku masuk didalam ruangan luas yang isinya anggota PPMI dari berbagai Dewan Kota, disitu pula aku bertemu kenalan baruku Sanna gadis cantik dan ramah dari LPM Bhaskara.

Berada di dalam ruangan luas yang asing, aku hanya diam sambil sesekali bertukar senyum dengan Sanna, waktu menunjukkan pukul 15:00 kegiatan pertama ku ditempat itu dimulai. Mengikuti kegiatan workshop ‘cek fakta’ ini adalah kegiatan collab PPMI dan AJI.

Setelah kegiatan workshop selesai kami diberi waktu untuk istirahat dan membersihkan diri, aku melewati beberapa anak tangga menuju ruangan istirahat kami sebut saja kamar. Sampai di kamar, aku menelusuri seluruh isi ruangan dengan kedua bola mataku, ternyata teman-teman dari kota lain sudah lebih dulu berkumpul sambil bertukar nomor handphone, ada juga yang berbagi majalah yang mereka bawa.

Rasanya seperti sudah lama kenal mereka, hari itu aku kenalan dengan berbagai macam kepribadian. Febri dengan kepribadian humorisnya, Latifah dengan kepribadian cepat akrabnya karena sedari awal dia yang paling sibuk menemui kami satu persatu sambil meminta nomor telepon dengan tujuan untuk membuat grup, Andhani dengan suara merdunya, dan Shelia Gladia gadis melayu dengan kepribadian ramah dan lemah lembutnya.

Malam hari, kami semua kembali ke Aula tempat kegiatan yang terletak persis diatas kamar kami. Walaupun terbilang hari pertama, tidak sulit bagiku untuk berbaur karena kami telah berkenalan di kamar. Di atas kami mengikuti rangkaian acara pembukaan kongres PPMI sekaligus pemotongan tumpeng dalam rangka merayakan hari jadi PPMI. Setelah beberapa rangkaian acara selesai, hiburan pun dimulai.

Aku yang biasanya menikmati Kpop kali ini berbeda, aku dan teman-teman mendengarkan sebuah band musik menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia yang sedang hits dikalangan anak muda. Tak lupa pula Andhani menyumbangkan suara merdunya, sangat merdu.

Kalau boleh jujur, aku bukan seseorang yang begitu menikmati keramaian, seringkali keramaian membuatku merasa lelah. Karena mulai merasa lelah, aku memutuskan untuk bergeser di sudut ruangan menemui Shelia yang sudah lebih dulu berpindah tempat. Sepertinya dia memahami keadaanku, dengan penuh rasa peduli Shelia merangkul.

Sejak saat itu aku banyak menghabiskan waktu bersama Shelia selama ditempat kongres. Kemanapun aku pergi di situ ada Shelia, begitu pula sebaliknya. Masuk pada kegiatan terakhir hari itu kami bincang-bincang terkait kekerasan terhadap jurnalis. Para pemantik menceritakan pengalaman mereka selama menjadi seorang jurnalis, kemudian memberikan saran yang bermanfaat untuk menghindari kekerasan terhadap jurnalis.

Keesokan harinya seperti dejavu, kegiatan yang sama terulang workshop ‘cek fakta’ dengan materi dan pemateri yang sama. Sampai pada kegiatan kami selanjutnya yakni diskusi terkait SOP Kekerasan Seksual terhadap Jurnalis, tidak bisa di pungkiri hal-hal seperti ini sedang marak terjadi. Dalam diskusi yang kami lakukan terjadi perdebatan-perdebatan kecil terkait bentuk hal-hal yang termasuk pelecehan salah satunya catcalling.

Sebagian kubu menganggap bahwa tatapan tidak perlu dimasukkan dalam hal ini sebagai salah satu bentuk pelecehan. Tetapi sebagai seorang perempuan aku bantu menegaskan bahwa hal sepele tatapan yang membuat tidak nyaman sudah termasuk suatu pelecehan, ada pula yang berdalih bahwa bisa saja seseorang menatap karena ingin kenalan?

Sekali lagi teman sesama wanita yang bernama Eka menegaskan bahwa “kalau niat baik untuk kenalan, kenapa tidak langsung ditemui. Dari pada menatap sampai menciptakan perasaan tidak nyaman?”. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, waktu istirahat tiba.

Hari ketiga kegiatan sidang kongres pun dibuka, yang dilanjutkan dengan pemaparan kota oleh setiap sekjen kota atau pun perwakilan-nya. Aku dan Aksan banyak berdebat, karena ini kali pertama kami. Jadi sedikit bingung mau memaparkan apa, tiba saat karateker kota Kendari disebut. Mau tidak mau, siap tidak siap aku harus maju.

Dengan waktu 2 menit aku memaparkan rasa bingung di kepala, “terimaksih atas waktu yang diberikan kepada saya, terkait pemaparan kota. Saya sedikit kebingungan karena kami di kota Kendari masih menjadi karateker atau belum ada Dewan kota. Semoga setelah hadir di sini, kami bisa pulang dan membangun komunikasi yang baik dengan LPM-LPM yang ada di kota kami untuk kemudian fokus membentuk Dewan Kota,” kurang lebih se singkat itu.

Selanjutnya kami membahas tata tertib yang memakan waktu dua hari satu malam. Agak alot, seperti biasa. Apa yang anda harapkan dari sebuah diskusi yang isinya puluhan kepala? Pembahasan tata tertib selesai. Lanjut pada pembahasan LPJ Pengurus PPMI Nasional. Hal yang paling mengejutkan, forum berubah menjadi sesi penghakiman. Semua kesalahan-kesalahan kinerja di perdebatkan. Agak menjengkelkan, padahal yang seharusnya kita lakukan adalah belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bukannya tiba-tiba menjadi hakim kehidupan.

Kegiatan selanjutnya masuk pada pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, karena melihat forum yang cukup alot dan waktu yang sempit. Aku berinisiatif, mengefisiensi waktu dengan menyarankan pembahasan AD dan ART Bab per bab. Setelah lobying dengan Mas Luki yang menginginkan pembahasan pasal per pasal bersama Mas Shelo sebagai Pimpinan sidang II, tidak ada jalan keluar. Kami pun melakukan voting, hasil voting membahas bab per bab.

Sehari semalam membahas AD dan ART, paginya kami lanjut membahas GBHO/GBHK sampai tuntas. Lanjut pada pemilihan Sekretaris Jendral PPMI Nasional, agak penuh drama. Para kandidat yang dicalonkan, menolak posisi tersebut dengan berbagai alasan. Setelah melalui kira-kira 3 kali pemilihan bakal calon Sekjend PPMI Nasional, yang berujung gagal. Forum di pending untuk waktu yang cukup lama.

Pada saat forum dipending, perwakilan setiap DK melakukan diskusi secara privat. Para peserta kongres yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, karena merupakan malam terakhir kegiatan aku, Shelia dan Anri memutuskan untuk keluar mencari makan sebentar. Setelah kembali di Aula, secara tidak sengaja kami berpapasan dengan beberapa teman dari DK Madura dan DK Jember, kami sedikit bertukar cerita tentang budaya di kota masing-masing.

Sampai pada waktu tengah malam, forum di buka kembali. Karena frustasi, peraturan di dalam AD dan ART. Terkait syarat Sekjend Nasional dikesampingkan terlebih dahulu. Singkat cerita, Primo Rajendra perwakilan dari LPM Satu Kosong ITS, DK Surabaya. Memberanikan diri untuk mengambil alih jabatan Sekjend Nasional. Dengan beberapa pertimbangan, Primo disetujui. Setelah itu masuk pada bagian sidang Rekomendasi seperti rekomendasi BP Nasional dan kota yang akan menjadi tempat pelaksanaan Mukernas.

Saat itu teman-teman menyarankan tiga kota untuk menjadi tempat pelaksanaan Mukernas yakni Kota Kendari, Mataram dan Jogja. Melalui voting forum memutuskan pelaksanaan Mukernas dilaksanakan di Jogja.

Hari terakhir kegiatan, setelah bersih-bersih diri semua peserta berkumpul kembali di Aula untuk melakukan agenda penutupan kongres. Setelah menyetujui hasil diskusi di dalam kongres, dan ditutup.

Note: Arini Triana Suci Rahmadani adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah

Guna Meningkatkan Pemahaman Wawasan Kebangsaan, IAIN Kendari Adakan Workshop Kepada Mahasiswa Bidik Misi

Reporter: Andi Ardian Dwi Rahmat

Editor : Elfirawati

Objektif.Id, KENDARI – Sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan kepada mahasiswa penerima bidik misi.  Institut  Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari mengadakan Workshop dengan mengangkat tema  “Peningkatan Wawasan Kebangsaan Mahasiswa Bidik Misi IAIN Kendari” di Gedung Auditorium. Sabtu, (30/10/2021).

Workshop tersebut merupakan rangakaian program pembinaan kepada mahasiswa penerima bidik misi tahun 2020. Kegiatan itu  diikuti sebanyak 175 peserta yang terdiri dari mahasiswa penerima Bidik Misi tahun 2020.

Ketua Panitia Amin Nasir, mengatakan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa penerima Bidik Misi terkait wawasan kebangsaan.

“Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa khususnya penerima bidik misi terkait dengan wawasan kebangsaan Yang mana sekarang ini kita tau bahwa mahasiswa saat ini perlu dibina terkait wawasan kebangsaan,” katanya.

Amin juga membeberkan bahwa dalam pelaksanaan workshop tersebut di hadiri oleh tiga pemateri yang sangat luar biasa dan mempunyai kapabilitas di bidangnya masing-masing.

“Pemateri yang di undang pertama AKBP Dr. Sutadi, S.Pd, M.pd dari polda sulawesi tenggara(sultra), kedua Dr. Abdul Halim Momo, M.Si ia adalah ketua Pendidikan Guru Republik Indonesia (PGRI), ketiga pak Kh. Muslim yang merupakan ketua forum komunikasi penanggulangan terorisme dan juga ketua Nahdatul ulama (NU)sultra,” bebernya.

Ia  juga berharap agar  ke depannya  kegiatan-kegiatan tersebut dapat terus terlaksana.

“Saya berharap kegiatan semacam ini terus kita lakukan, tapi ini juga terkait dengan anggaran, kalau anggaran tersedia Insya Allah akan dilaksanakan dan ada di dalam juknis bahwa penerima bidik misi itu memang harus ada pembinaan dan kami berkewajiban membina mahasiswa sampai delapan semester,” pungkasnya.