Apakah Harus PNS Agar Bisa Menjadi Menantu Idaman?

Objektif.id – Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah sekumpulan aparatur sipil negara yang bertugas didalam sebuah kementerian/lembaga. Menjadi PNS adalah profesi yang didambakan oleh setiap orang di Indonesia. Dalam perekrutan menjadi PNS banyak tes yang perlu kita lewatkan,antara lain Tes Wawasan Kebangsaan (TWK),Tes Intelegensi Umum (TIU),dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Tentu semua itu harus dilewati dengan memenuhi passing grade berdasarkan sebuah instansi/lembaga.

Pegawai negeri atau pegawai negeri sipil adalah orang yang dipekerjakan oleh lembaga pemerintah untuk memberikan pelayanan publik. Sebagai profesi, pegawai negeri merupakan jabatan yang ditempuh melalui jenjang karier dan bukan berdasarkan pemilihan umum yang melibatkan suara rakyat.

Kehidupan masa sekarang selalu banyak anggapan yang selalu kita dengarkan ditengah masyarakat dan terutama mahasiswa. Hal yang sering kita dengarkan adalah harus menjadi PNS agar bisa menjadi menantu idaman. Tentu saja hal ini menjadi tekanan bagi pemuda dan generasi (mahasiswa) sekarang,karena menjadi PNS tidaklah mudah,terlebih lagi persaingan dalam dunia kerja akan semakin ketat diera sekarang.

Oleh karena itu,mahasiswa jangan risau dan takut apabila tidak menjadi PNS. Sebagai mahasiswa harus kita buang anggapan bahwa letak keberhasilan seseorang ketika sudah menjadi seorang PNS. Jika hal ini terus dipikirkan, sampai mana mahasiswa mau sukses jika berpikir seperti itu.

Ada beberapa hal yang menguatkan bahwa tidak harus menjadi PNS agar bisa menjadi menantu idaman :

1. Pekerjaan Bisa Didapatkan Dimana Saja

Jika kita bisa memahami potensi diri kita,maka kita bisa mendapatkan peluang mendapatkan pekerjaan sesuai dengan potensi yang kita miliki. Misalnya bagi mahasiswa yang memiliki potensi jurnalistik maka bisa menjadi wartawan,reporter,bahkan pembawa acara disalah satu stasiun televisi. Begitu juga mahasiswa yang berbakat di bidang dakwah bisa menjadi pemuka agama yang banyak dihormati.

2. Menjadi PNS Banyak Memiliki Kredit/Cicilan.

Hal ini dapat kita temukan dimana saja. Yakin dan percaya orang yang berprofesi sebagai PNS pasti tidak jauh dengan utang,kredit,dan cicilan.

3. Mengikuti Gaya Hidup Hedon

Hedon adalah gaya hidup yang bermewah-mewah. Tentunya menjadi PNS banyak tunjangan yang didapatkan,hal inilah membuat gaya hidup PNS berlebihan. Misalnya,ada rekan kerjanya yang membeli mobil mewah,pasti dia juga ingin membelinya walaupun mengutang dimana-dimana.

4. Gaji Pokok PNS Lebih Kecil Daripada Pegawai Bank

Berdasarkan beberapa survei terhadap PNS, ternyata mereka mengaku loh gaji pokok yang mereka dapatkan bahkan lebih kecil daripada menjadi teller bank swasta. Gaji PNS bisa tinggi, itu semua juga berkat usaha PNS itu sendiri. Penghasilan tambahan mereka bisa mendapatkannya dari honor kegiatan, perjalanan dinas, tunjangan jabatan, dan tunjangan yang berbeda dari tiap Kementerian atau lembaga.

Penulis: Muh Iqbal Ramadhan
Editor: Redaksi

Hilangnya Jati Diri Mahasiswa Sebagai Kaum Intelektual Yang Diharapkan Masyarakat

Objektif.id – Mahasiswa!! Sebuah ucapan yang pas untuk diberikan kepada mereka yang melanjutkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi. Kata Mahasiswa itu sendiri punya artian yang dapat dengan mudah kita gambarkan. Kata Mahasiswa adalah padanan dari kata Maha yang artinya besar dan siswa adalah murid atau anak.

Kata Mahasiswa diberikan kepada mereka yang melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi sebagai bentuk apresiasi terhadap diri mereka karena dengan semangat ingin menuntut ilmu. Kata Mahasiswa sendiri menjadi pembeda ketika disandingkan dengan kata siswa atau siswi yang masih berada dalam taraf pendidikan di bangku SD, SMP, SMA , ataupun SMK.

Pembeda dari tumpukan kata antara mahasiswa dan siswa atau siswi adalah, mahasiswa ialah mereka yang telah mencapai taraf pendidikan tertinggi yang dimana materi yang diterima dan juga waktu belajar mereka menjadi lebih banyak dan juga padat.

Cenderung mahasiswa mengalami pelajaran yang sangat rumit yang bahkan tidak didapat saat masih berada di bangku SD, SMP, ataupun SMA. Selain itu, pola pikir, cara berbicara juga menjadi pembeda utama yang menjadikan mahasiswa itu berbeda dengan siswa lainya.

Pola pikir mahasiswa dituntut untuk berpikir kreatif, imajinatif dan lebih memperhatikan kehidupan sosial masyarakat yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu mahasiswa sering disebut juga sebagai kaum intelektual.

Sebagai mahasiswa tugas utamanya adalah mengejar pendidikan tinggi dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki untuk kemakmuran masyarakat.

Namun realita yang terjadi hari ini banyak dari kalangan mahasiswa yang lupa akan tanggung jawab yang telah di bebankan oleh masyarakat kepada mereka yang sedang menyandang gelar sebagai mahasiswa. Banyak dari kalangan mahasiswa yang ketika masuk di masyarakat yang masih bersikap apatis.

Mereka yang mengaku sebagai mahasiswa namun ketika melihat problematika yang terjadi di masyarakat masih tetap diam dan tetap bersikap apatis menurut saya meraka sudah tidak ada bedanya dengan siswa(i) SMA ataupun SMK yang jenjang pendidikannya masih dibawah mereka, jangan ketika sehabis libur kuliah dan pulang ke kampung halaman lalu dengan bangganya mengaku mahasiswa akan tetapi masi tetap diam dengan problematika yang terjadi di masyarakat.

Sungguh rugi gelar mahasiswa itu di berikan kepada mereka yang ketika melihat berbagai macam problematika yang terjadi di masyarakat tapi masih tetap saja diam. Miris memang!!! Tapi inilah realita yang terjadi hari ini di kalangan mahasiswa itu sendiri.

Sungguh sangat di sayangkan mereka yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi namun implementasi ilmu yang mereka pelajari di kampus tidak ada sama sekali terhadap masyarakat itu sendiri. Percuma teriak-teriak mahasiswa itu agent of change, sosial of control namun ketika teriakan yang dilayangkan itu tidak memiliki implementasi di masyarakat sama saja teriakan bodoh!!!.

Jangan mengaku kaum Intelektual ketika masuk di masyarakat masih tetap mempertahankan sikap apatis akan berbagai problem yang terjadi di masyarakat, karena orientasi ilmu yang di dapatkan di kampus itu yang sesungguhnya adalah di kalangan masyarakat.

Jangan ketika pulang kampung hanya menjadi mahasiswa tonton masyarakat, minimal tidak itu kita di kasih kuliah kita bisa juga berguna di masyarakat. Karena keberhasilan di masyarakat itu adalah tujuan uatama dari sebuah pendidikan. Artinya ilmu yang kita dapatkan di bangku pendidikan implementasikanlah sebaik-baiknya ketika kita masuk di masyarakat.

Penulis : Muhammad Arya
Editor: Redaksi

Pentingkah Organisasi Internal Yang Ada Di Kampus

Objektif.id – Organisasi internal di kampus merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan keterampilan di luar akademik. Organisasi ini juga dapat menjadi tempat untuk membangun jaringan dan mengasah kemampuan kepemimpinan.

Organisasi internal di kampus memiliki peranan yang sangat penting dalam memfasilitasi berbagai aktivitas dan kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa dan civitas akademika. Alasan mengapa organisasi internal di kampus sangat penting, yaitu :

1. Untuk Membangun Keterampilan dan Pengalaman

Organisasi internal di kampus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membangun keterampilan dan pengalaman dalam berbagai aspek, seperti kepemimpinan, pengelolaan waktu, dan kerjasama tim. Dalam organisasi, mahasiswa dapat belajar bagaimana memimpin rapat, merencanakan acara, mempersiapkan laporan keuangan, serta mengelola sumber daya manusia dan keuangan.

2. Untuk Meningkatkan Jaringan

Organisasi internal di kampus juga dapat membantu mahasiswa dalam membangun jaringan dengan teman sebaya dan profesional di luar kampus. Melalui kegiatan yang diadakan oleh organisasi, mahasiswa dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan bidang pekerjaan, sehingga dapat meningkatkan kesempatan untuk memperluas jaringan dan mencari peluang kerja di masa depan.

3. Untuk Mengembangkan Kreativitas

Organisasi internal di kampus juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan ide-ide baru. Dalam organisasi, mahasiswa dapat mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta menciptakan acara dan kegiatan yang berbeda dan menarik untuk memperkaya pengalaman kampus.

4. Untuk Meningkatkan Keterlibatan Mahasiswa

Organisasi internal di kampus dapat membantu meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan kampus dan meningkatkan rasa kebersamaan dan persatuan di antara mahasiswa. Dalam organisasi, mahasiswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan acara, serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas dan citra kampus.

5. Untuk Membantu Menyeimbangkan Kehidupan Akademik dan Non-Akademik

Organisasi internal di kampus dapat membantu mahasiswa dalam menyeimbangkan antara kehidupan akademik dan non-akademik. Dalam organisasi, mahasiswa dapat membagi waktu mereka antara kegiatan akademik dan organisasi, serta membangun keterampilan yang dapat membantu mereka dalam mencapai tujuan akademik mereka.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa organisasi internal di kampus sangat penting dalam memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam kehidupan kampus. Oleh karena itu, mahasiswa sebaiknya mempertimbangkan untuk bergabung dengan organisasi internal di kampus dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memperkaya pengalaman mereka.

Penulis : Fitrah Ardiansyah H
Editor: Redaksi

Dosen Elit, Masuk Kelas Sulit

Objektif.id Dosen adalah tenaga pendidik disuatu strata perguruan tinggi nasional/internasional. Profesi menjadi dosen adalah pekerjaan yang sangat diimpikan oleh setiap orang dan proses untuk menjadi dosen juga tidaklah mudah, kita harus memenuhi persyaratan minimal lulusan ijazah S2, harus melalui beberapa tes akademik, serta kelengkapan administrasi lainnya.

Dewasa ini, tidak elok jika kita tidak mengkritik kinerja dosen dalam proses perkuliahan. Dalam arti lain ada hubungan timbal balik, bukan hanya mahasiswa saja yang ingin dinilai dosen, tetapi kali ini mahasiswa harus berperilaku sebaliknya.

Kali ini kita akan membahas seputar dosen yang jarang masuk diperkuliahan. Sebelumnya penulis membuat opini ini berdasarkan apa yang dirasakan selama ini dan lahir dari keresahan teman-teman mahasiswa selama ini. Jadi kami meminta maaf jika ada dosen yang membaca ini, tidak lain kami hanya bertujuan menumbuhkan kesadaran dosen.

Ada beberapa alasan dan fakta klasik mengenai dosen yang jarang masuk :

1. Jadwal Kuliah Kita Pindahkan Dihari Lain Dek

Hal ini selalu menjadi permasalahan paling sering terjadi didalam dunia perkuliahan, selalu banyak mahasiswa yang sering mengeluh karena perpindahan jadwal yang tidak menentu. Disisi lain, mahasiswa ingin istirahat dihari libur tetapi terhalang dengan jadwal kuliah ini.

Perlu diketahui mahasiswa disuatu perguruan tinggi pasti berasal dari seluruh pelosok wilayah disuatu daerah, sehingga ada keinginan mahasiswa untuk pulang kekampung halaman walaupun hanya beberapa hari saja,namun keinginan itu kadang sirna akibat dosen yang sering mengubah jadwal mata perkuliahan.

2. Masuk Tidak Sesuai Jadwal Mata Kuliah.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2009 Tentang Dosen Pasal 2 berbunyi “Dosen tetap adalah dosen yang bekerja penuh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik
tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu”.

Hal ini sudah diatur dalam peraturan diatas undang-undang  dan menjelaskan bahwa dosen harus masuk sesuai dengan SOP yang ada, terkecuali dengan alasan yang jelas. Bagi mahasiswa ada beberapa alasan yang logis diterima jika dosen tidak masuk, yaitu alasan keluarga, kesehatan, dan pekerjaan.

Diluar dari alasan itu, berarti dosen tidak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya. Didalam perkuliahan pasti ada disebut kontrak perkuliahan, didalam kontrak ini semua yang berisi kesepakatan antara dosen dan mahasiswa mengenai sistem perkuliahan semester kedepan. Alhasil, apabila dosen tidak mematuhi aturan perkuliahan berarti melanggar kode etik kampus.

3. Perkuliahan Dialihkan Ke via Zoom/Online.

Momentum seperti ini memang tidak menjadi permasalahan. Tetapi, perlu kita tinjau dengan beberapa kasus yang sering dialami mahasiswa yaitu sudah berada dikampus sesuai dengan jadwal kuliah dengan outfit yang masyaAllah, effort untuk naik kelantai atas gedung perkuliahan dengan militan, merelakan waktu dan tenaga, tetapi secara mendadak dosen memberikan informasi bahwa perkuliahan dialihkan ke via zoom/online. Hal ini yang membuat mahasiswa sering kecewa dan mematahkan harapan kami ketika sudah berada dikampus.

4. Dosen Jarang Masuk, Nilai Mahasiswa Menjadi Eror.

Sering terjadi hal seperti ini. Timbul pertanyaan yang bertanggung jawab dosen atau mahasiswa? lantas kejadian seperti ini membuat mahasiswa dirugikan, karena sulit mendapatkan transformasian ilmu dari dosen apalagi jarang bertatap muka secara seksama.

5. Dosen Keluar Kota Untuk Urusan Kampus.

Kita mahasiswa pasti mengerti akan hal ini, tetapi jika kami ditinggalkan begitu saja bagaimana potensi dan keilmuan kami. Orang yang berpacaran saja ditinggalkan dengan waktu yang lama akan menjadi rapuh, apalagi kita mahasiswa selalu ditinggalkan dosen.

6. Dosen Tidak Masuk,Tetapi Digantikan Dengan Tugas.

Maksud kami walaupun ada tugas,tetapi setelah masuk diminggu berikutnya sebaiknya dosen memberikan penjelasan sedikit mengenai materi yang tertinggal,agar ada refleksi didalam otak mahasiswa. Mirisnya jika tugas mahasiswa tidak diperiksa sedikitpun.

Penulis: Muh Iqbal Ramadhan
Editor: Redaksi

Kurangnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Sampah

Objektif.id – Sampah merupakan masalah lingkungan yang cukup sulit ditangani, karena banyaknya masyarakat yang kurang sadar terhadap kebersihan. Banyaknya masyarakat kurang sadar membuang sampah sembarangan dapat mengakibatkan penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA) semakin hari semakin bertambah.

Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) melaporkan sampah yang masuk ke TPA rata-rata mencapai 700 ton perhari yang berada dari berbagai daerah, terkhusus kota Kendari mencapai 260 ton sampah perharinya.

Plastik sekali pakai, seperti kantong plastik untuk belanjaan, gelas, sedotan dan botol menjadi penyumbang terbesar kedua untuk sampah plastik. Hal ini merupakan bukti bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia tentang daur ulang dan dampak lingkungan dari plastik masih sangat rendah.

Pemerintah melakukan alternatif pengurangan sampah dengan menerapkan 4R, yaitu:

– Reduce atau mengurangi sampah
– Reuse atau memakai kembali barang yang tidak sekali pakai.
– Recycle yaitu mendaur ulang barang yang sudah tidak berguna
– Replace yaitu mengganti barang sekali pakai dengan barang tahan lama dan ramah lingkungan.

Sampah yang menumpuk akibat tidak diperhatikan dapat mengganggu keindahan alam. Selain itu, tumpukan sampah ini juga dapat memunculkan bau tak sedap hingga mengganggu kesehatan setiap masyarakat yang bermukim disekitar kawasan tumpukan sampah.

Sampah inipun akan banyak menimbulkan penyakit, untuk sampah yang banyak mengandung makanan busuk, sudah pasti merupakan sarang hidupnya bakteri, Sehingga sampah yang menumpuk di saat musim hujan akan menimbulkan wabah penyakit seperti muntaber atau diare, demam berdarah dan lain sebagainya.

Penulis: Nurwahyudillah
Editor: Redaksi

Paradigma Berpikir Mahasiswa Stroberi

Objektif.id – Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Paradigma adalah sebuah anggapan, pemikiran, ungkapan, ataupun kerangka berpikir daripada manusia. Tentunya paradigma ini berbicara tentang sudut pandang berbagai elemen masyarakat ataupun mahasiswa. Terkadang paradigma dapat memiliki konteks yang negatif dan positif tergantung siapa yang beropini.

Mahasiswa adalah sekumpulan orang yang mengenyam pendidikan disalah satu perguruan tinggi disuatu negara. Mahasiswa terbilang sangat penting dalam elemen kampus, karena merekalah salah satu elemen utama dalam membawa perubahan dalam kampus dengan prestasi yang mereka miliki. Maka tidak heran mahasiswa disebut Agen Of Change dalam diri mereka.

Dewasa ini, kita selalu mendengarkan istilah “Generasi Stroberi”. Melansir dari laman website Bfi, Generasi stroberi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena generasi muda saat ini dimana mereka memiliki banyak ide cemerlang dan kreativitas yang tinggi namun ketika diberi sedikit tekanan mereka menjadi mudah hancur dan lembek layaknya stroberi. Hal inilah yang menjadikan generasi sekarang terbilang miris, akibat tidak siap menerima segala preassure (tekanan).

Tentunya, ada hal menarik yang harus kita saksikan seksama terhadap paradigma berpikir mahasiswa stroberi saat ini. Penulis mengangkat tulisan ini berdasarkan hasil temuan dan riset terhadap sebagian besar mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan. Ada beberapa paradigma berpikir yang sering dikatakan oleh mahasiswa “Generasi Stroberi” ini :

1. Janganmi mau cepat selesai, sa masih betah dikampus

Paradigma ini menjadi salah satu hal yang sering kita dengarkan oleh beberapa mahasiswa, sehingga memang paradigma ini menuai pro dan kontra. Bagi mahasiswa yang pro beranggapan bahwa mereka masih ingin santai dikampus tanpa adanya beban sedikitpun, sehingga mengikuti alur perkuliahan sesuai dengan jadwalnya. Sedangkan bagi mahasiswa yang kontra akan paradigma ini menganggap bahwa hal ini tidak akan mereka inginkan karena banyak ingin menyelesaikan studi secepatnya untuk melanjutkan masa depan yang lebih cerah.

2. Menerapkan SKS (Sistem Kebut Semalam)

Sebagian besar mahasiswa 90% pasti memiliki paradigma seperti ini. Terbukti berdasarkan hasil penglihatan penulis banyak mahasiswa yang menerapkan sistem SKS ini. Mulai dari tugas powerpoint, makalah, laporan praktikum, jurnal, artikel, ataupun tugas lain yang memiliki deadline H-1 pengumpulan tugas.

3. Untuk apa kuliah, kalau ujung-ujungnya lari ditambang/menganggur

Inilah yang menjadi pemahaman yang salah bagi mahasiswa,padahal dengan kita berkuliah, diri kita akan memiliki nilai jual ketimbang orang-orang yang tidak bersekolah/berkuliah. Karena sepatutnya dengan bersekolah setinggi mungkin kita bisa menjadikan diri kita melangkah lebih jauh untuk meraih masa depan.

4. Mau kuliah untuk jadi PNS

Sebagian besar mahasiswa tujuan berkuliah pasti ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ini termasuk anggapan yang kurang tepat, karena dengan berkuliah kita bukan hanya menjadi PNS saja,tetapi banyak profesi yang bisa kita dapatkan. Misalnya, bisa membuka usaha kecil-kecilan, membangun yayasan/sekolah, bahkan bisa terjun melalui pengabdian kepada masyarakat. Ingat rejeki tergantung doa dan kerja keras.

5. Orang yang sukses adalah orang yang memiliki orang dalam

Memang tidak bisa dipungkiri kekuatan orang dalam (the power of orang dalam) menjadi sarana penting dalam menunjang karir dan pendidikan seseorang. Namun itu semua tidak selalu berlaku dikehidupan sehari-hari, terbukti banyak orang yang sukses dimulai dari nol sejak dibangku perkuliahan. Jika paradigma ini terus dikonsumsi oleh mahasiswa sampai kapan mereka akan memiliki pikiran yang maju?tentunya jalan satu-satunya adalah mahasiswa harus berpikir rasional dan mampu membaca situasi dan kondisi lapangan pekerjaan yang ada.

Penulis: Muh Iqbal Ramadhan
Editor: Redaksi

Sudah Putuskah Urat Malu Kaum Muda?

Objektif.id – Urat malu anak muda kini sudah putus! Yap akhir-akhir ini sangat sering kita dapati pemberitaan berupa video yang beredar media sosial yang didalamnya memuat aksi-aksi tidak senonoh yang dilakukan oleh anak-anak muda. Sangat beragam kita lihat mulai dari aksi sejoli hingga wanita bercadar yang melakukan aksinya di khalayak ramai khususnya di bumi anoa kita.

Sangat miris perilaku yang di pertontonkan oleh mereka kepada orang banyak dalam hal ini masyarakat. Seakan nilai dan norma-norma yang ada sudah tidak melekat lagi pada diri mereka. Kita ketahui bersama perilaku yang dilakukan oknum-oknum seperti ini sangat merusak nilai dan norma khususnya pada kenyamanan masyarakat.

Sebagai pemuda tentunya kita lah yang akan menjadi tombak kemajuan bangsa, kitalah yang dijadikan simbol semangat pada pidato bapak proklamator kita yakni Bung Karno, cita-cita bangsa ada pada pundak-pundak gagah kita anak muda.

Namun pemuda hari ini tidak mencerminkan kewibawaan sebagai tombak cita-cita bangsa. Aksi tanpa rasa malu ini mencerminkan nihilnya pemahaman nilai-nilai agama. Seharusnya tindakan seperti ini haruslah mendapatkan sanksi tegas dari para penegak-penegak aturan yang ada pada masyarakat.

Penulis: Fitriani
Editor: Redaksi

Indonesia dan Segudang Masalah Yang Datang Silih Berganti

Objektif.id – Indonesia adalah sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara. Berbicara tentang bencana alam, negara Indonesia yang secara geografis diapit oleh empat lempeng tektonik, yakni lempeng benua Asia, benua Australia, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik, yang dengan adanya kondisi tersebut dapat menimbulkan bencana alam berupa gempa bumi dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kegempaan yang tertinggi di dunia.

Dilansir dari situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
berdasarkan hasil survei Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan pertama dari 265 negara di dunia yang berpotensi terancam tsunami akibat gempa bumi.

Selain itu, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data kejadian gempa bumi dalam kurun waktu Januari – Februari 2023 telah terdapat sebanyak 30 kota di Indonesia mengalami guncangan gempa bumi dengan magnitudo > 5.0 skala richter.

Selain itu, penyebab Indonesia rawan bencana alam adalah karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa hingga mengakibatkan indonesia memiliki curah hujan yang tinggi atau biasa disebut dengan iklim hutan hujan tropis. Jadi, tidak heran jika tiap setiap tahunnya selalu ada berita terkait banjir dan cuaca ekstrem terkhususnya di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Bekasi, Jawa Tengah, dan daerah di sekitarnya.

Dilansir dari Katadata.co.id, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sepanjang tahun 2022 tercatat sekiranya ada 3.531 peristiwa bencana alam di Indonesia. Bencana yang sering terjadi adalah banjir dengan 1.524 peristiwa dan cuaca ekstrem dengan 1.064 peristiwa. Masing-masing dari peristiwa tersebut telah memakan korban jiwa baik meninggal, hilang, maupun luka-luka sebanyak 9.623 orang, dengan kerusakan fasilitas rumah sebanyak 95.051 bangunan, dan fasilitas umum sebanyak 1.980 bangunan.

Banyaknya gunung api di indonesia, menjadikan Indonesia dijuluki negara Ring Of Fire dan hal itu setara dengan Jepang, Filipina, Malaysia dan negara kepulauan lainnya.

Potensi ancaman bahaya dari gunung api yang masih aktif salah satunya ialah Gunung Merapi Indonesia, adapun kota Magelang dan Yogyakarta merupakan kota terdekat dari Gunung Merapi tersebut. Jadi, sekalinya gunung ini meletus maka akan menimbulkan kekacauan yang besar meskipun letusannya kecil.

Dilansir dari Liputan6.com, berdasar catatan dari pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana BNPB, selama periode November 2010 Gunung Merapi meletus dahsyat dan berakibat sebanyak 277 orang meninggal di wilayah Yogyakarta dan 109 orang meninggal di wilayah Jawa Tengah. Gunung Merapi terakhir erupsi pada 10 Maret 2022, dan akan bererupsi di setiap 2-5 tahun sekali.

Bencana alam selain terjadi secara alamiah, juga dapat dipicu oleh perilaku manusia. Banyaknya plastik, polusi, limbah deterjen, limbah pabrik dan lain-lain, yang bertebaran dimana-mana, sehingga dapat menyebabkan alam menjadi rusak.

Adapun tentang peran, tidak akan terlaksana jika masyarakat dan pemerintah tidak saling bersinergi satu sama lain. Bahkan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah saja masih saling bertolak belakang pemikiran, yang satu ingin Indonesia seperti ini dan satunya lagi ingin Indonesia seperti itu, yang satu memberi dan satunya mengorupsi.

Jika masih tetap seperti ini terus apakah yakin Indonesia akan berada di tingkat keemasannya di tahun 2045 nanti, atau malah justru sebaliknya? well, semua berada pada kesadaran diri kita masing-masing dengan menginginkan Indonesia maju atau menginginkan Indonesia punah.

Penulis: Melvi Widya
Editor: Redaksi

Kematian Demokrasi dan Penghianatan Nilai-Nilai KBM di Kampus IAIN Kendari

Oleh: Rafli Tahir (Mahasiswa IAIN Kendari)

Adagium Antonio Gramsci; “The aim of education is to create autonomous and critical individuals who are capable of making their own judgments, and not simplyaccepting the judgments of others.” Artikulasi adagium diatas disambut kritis oleh Rocky Gerung bahwa sistem pendidikan kita perhari ini menghindari ketajaman argumentasi, sehingga tajamnya argumentasi dianggap tidak sopan. Secara semiotik, hal tersebut bertujuan menciptakan dominasi kekuasaan yang mutlak di tangan para dosen dan pimpinan kampus. Kultur feodal yang mendominasi lingkungan kampus membatasi kebebasan dan kemerdekaan. Sebagai laboratorium peradaban, kampus seharusnya mencetak kebenaran, kebebasan, dan kemerdekaan serta mencerdaskan generasi bangsa. Namun, kampus yang bersifat feodal justru menjadi penjara intelektual bagi mahasiswa dan aktivis intelektual. Kita harus prihatin karena saat ini kampus telah menjadi imperium-imperium kerajaan yang kebal terhadap kritikan dan gugatan warga kampus terkait kebijakan yang tidak sejalan dengan kebebasan dan kemerdekaan.

Mahasiswa di persimpangan kiri jalan dan di kiri sudut kampus sama-sama berjuang untuk menegakkan demokrasi yang sehat dan melawan rezim feodal yang kembali muncul di negara ini. Namun, kenyataannya sistem pendidikan saat ini secara tidak langsung menerapkan sistem feodal dimana kebenaran ada di tangan dosen dan kebebasan berpendapat dibatasi, sehingga memunculkan krisis kebebasan dan ketajaman argumen dianggap sebagai propaganda. Mahasiswa juga terkadang mencari kedekatan dengan dosen untuk mendapatkan nilai 4.0, bukan dengan daya berfikir kritis dan ketajaman argumen. Gerakan protes dan aksi aktivis mahasiswa juga sering dibungkam oleh pimpinan kampus, dengan menggerakan sekuriti kampus. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi yang diterapkan di kampus mungkin sudah redup bahkan mati.

Mahasiswa di IAIN Kendari harus mampu memperbaiki kekacauan yang terjadi di kampus dan melihat ruang-ruang intelektual yang ada di sekitarnya. Pemahaman demokrasi harus ditanamkan sejak dini dan intelektual harus mendahului elektabilitas dalam memimpin. Seharusnya, mahasiswa dapat mengembangkan daya berfikir kritis dan analisa yang kuat dengan mengkaji kultur kajian yang terlupakan. Kampus harus menjadi tempat yang dapat mencetak ilmu pengetahuan dengan melibatkan nalar kritis yang lebih tinggi.

Mahasiswa di IAIN Kendari harus memahami sistem pendidikan kampus yang sedang berjalan dengan jelas, terutama dalam merawat demokrasi yang sehat. Karena demokrasi yang sehat dimulai dari pendidikan demokrasi, sehingga dapat membentuk daya berpikir dan nalar yang baik bagi generasi selanjutnya. Untuk itu, KPUM dibentuk sebagai sarana aktualisasi demokrasi melalui PEMILMA di IAIN Kendari. KPUM harus memahami sistem demokrasi yang sehat agar demokrasi tidak tercoreng di kampus dan eksistensi demokrasi tetap terjaga. Meskipun kampus lain berlomba-lomba untuk menegakkan demokrasi yang sehat, sangat memalukan bahwa di kampus IAIN Kendari penerapan demokrasi sangat melenceng sehingga PEMILMA IAIN Kendari tidak dapat berjalan dengan baik.

Sebagaimana yang di ucapkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, sejarah membuktikan bahwa pemerintahan diktator dan otoriter hanya sementara, sementara demokrasi adalah sistem yang lebih baik dan berkesinambungan. Namun, di kampus IAIN Kendari terlihat adanya praktik pendidikan yang otoriter dan diktator. Apakah mahasiswa IAIN Kendari akan menerimanya? Hal ini akan berdampak pada negara kita. Kampus yang independen adalah kunci kesuksesan dalam menerapkan demokrasi dalam pendidikan. Siapa yang berperan aktif dalam memperjuangkan demokrasi di kampus ini? Bukannya lembaga mahasiswa hanya berbicara tentang kelompok masing-masing yang memunculkan disparitas? Namun, yang harus terlibat dalam perjuangan demokrasi adalah seluruh elemen mahasiswa IAIN Kendari. Mereka harus menghidupkan kembali SUMPAH MAHASISWA dan menjaga semangatnya agar tetap terdengar di seluruh kampus.

Che Guevara, seorang tokoh revolusioner, pernah mengatakan bahwa demokrasi digunakan sebagai alat untuk membenarkan kediktatoran kelas eksploitasi. Namun, dikampus IAIN Kendari, manajemen yang kurang transparan dan regulasi yang tidak jelas mengakibatkan kurangnya ruang untuk didikan demokrasi dalam pelaksanaan PEMILMA. Meskipun seharusnya politik dan dinamika demokrasi menjadi topik yang menarik perhatian mahasiswa di setiap sudut kampus, atmosfer kompetisi yang seharusnya ada justru minim terwujud karena sistem pendidikan yang sudah bergeser secara hakikat. Hal ini menjadi senjata ampuh untuk mematikan semangat dan kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan di kampus dan negara ini.

Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang berpendidikan dan diharapkan sebagai agen perubahan dan pengendali, tetapi dalam kenyataannya hanya sebatas ucapan saja dan tidak terlihat dalam tindakan. Seharusnya, mahasiswa memegang teguh tujuannya dan menjaga budaya kampus, seperti perhelatan demokrasi kampus yang selalu menarik untuk dibahas. Namun, realitanya berbeda, karena miniatur dari politik praktis yang buruk di negara terlihat jelas pada PEMILMA IAIN Kendari saat ini. Kampus yang seharusnya menjadi ruang intelektual tercoreng karena ketidakpastian dari KPUM dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai penyelenggara PEMILMA Tahun 2023, yang menunjukkan kelemahan mereka dalam mengelola acara tersebut. Keputusan yang sudah kadaluarsa namun PEMILMA belum terlaksana menimbulkan keraguan akan kepentingan yang terlibat di dalamnya.

Setiap individu memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi penting bagi kita untuk memastikan bahwa kepentingan tersebut dapat diterima secara universal. Fenomena di kampus IAIN Kendari menunjukkan bahwa kepentingan yang diusung saat ini telah cacat secara mental dan moral, dan ini akan menjadi hambatan di masa depan. Oleh karena itu, kelembagaan mahasiswa di setiap fakultas harus dinonaktifkan karena masa jabatan telah berakhir dan tidak produktif, seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Rektor IAIN Kendari. Konstitusi Keluarga Besar Mahasiswa Institut Agama Islam Negri (KBM IAIN) Kendari menyatakan bahwa SEMA I sebagai lembaga tertinggi di kampus harus menganalisis dan menegakkan demokrasi melalui pengurus KPUM yang telah dibentuk. Namun, nilai-nilai demokrasi yang sehat tidak terwujud, dan SEMA I, DEMA I, dan KPUM harus dinonaktifkan karena telah merusak nilai-nilai demokrasi. Hal yang sama berlaku untuk pelaksanaan PEMILMA, yang harus dilaksanakan secara menyeluruh oleh lembaga legislatif dan eksekutif sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh KPUM IAIN Kendari, namun tidak terlaksana. Oleh karena itu, KPUM IAIN Kendari menjadi beban dan merugikan negara.

Penulis mengamati banyak fenomena yang terjadi di kampus IAIN Kendari, terutama terkait dengan kepengurusan KPUM yang tidak dapat dipercaya dalam menjalankan tugas mereka. Meskipun janji-janji manis telah diberikan oleh KPUM, termasuk tentang pelaksanaan PEMILMA, hingga saat ini belum ada kepastian terkait dengan pelaksanaannya. Penulis merasa bahwa KPUM yang telah diberi mandat pada tahun 2023 untuk memastikan keberlangsungan demokrasi di kampus, namun harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. SEMA I, DEMA I, dan KPUM harus bertanggung jawab atas keterlambatan ini, dan penulis bertanya-tanya tentang alasan di balik kegagalan tersebut. Mungkin ada kendala anggaran atau kurangnya keterampilan dalam memimpin, atau bahkan lemahnya pengawasan dari WAREK III IAIN Kendari. Apapun penyebabnya, penulis berharap bahwa tindakan yang tepat akan diambil untuk memastikan keberlangsungan demokrasi dan kepercayaan di kampus.

Analogi sederhana yang dapat disimpulkan adalah seperti sebuah hulu yang menentukan arah aliran sungai ke hilir. Apabila niat yang baik dipadukan dengan instrumen atau cara yang tepat, maka tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Namun, apabila niat yang mendasari tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang baik,maka instrumen yang digunakan juga akan seiring dengan tujuan tersebut. Akibatnya, tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme akan muncul kembali. Niat yang hanya untuk mendapatkan pengalaman atau CV yang baik tanpa disertai dengan semangat untuk berkontribusi bagi masyarakat hanya akan menghambat kemajuan dalam pembangunan kehidupan berpolitik yang bersih, baik, dan sehat.

“Seburuk apapun aturan, jika dibarengi dengan konsistensi, maka akan lebih baik daripada peraturan yang bagus tetapi sumber daya manusianya tidak menerapkannya. Kegigihanmu hari ini merupakan pesan kehormatan yang disampaikan kepada orang lain tanpa suara atau kalimat, percaya atau tidak. Tidaklah tampangmu yang membuatmu dikenang, tidaklah ucapanmu yang membuatmu bijak, tetapi gerakanmu yang membuatmu bermakna. Harapan bangsa terletak pada pundak mahasiswa yang menyadari tanggung jawab dan fungsinya. Mari kembali pada lingkaran ketidaktahuan agar dapat menjadi tahu, sehingga mahasiswa akan tetap ada. HIDUP MAHASISWA!”

Nahkoda KPUM Tak Siap Berlayar 

Objektif.id – Apa kabar pesta demokrasi mahasiswa di Kampus biru tercinta.?  Tulisan ini kubuka dengan pertanyaan manis ini, sebagaimana manisnya janji-janji yang mereka rencanakan.

Seperti yang sudah kita saksikan yang terjadi pada Kampus tercinta kita di mana pesta demokrasi yang sudah banyak dinanti-nantikan oleh Mahasiswa-mahasiswa yang berkecimpung pada partai-partai yang menjadi idaman mereka, yang sampai saat ini tak kunjung digelar. kita semua sama-sama menantikannya.

Ibarat sebuah kapal para penumpang yang sudah bersiap dengan riang gembira menantikan euforia perjalanan yang sangat menarik hingga menghantarkan mereka pada tujuan, namun tidak akan pernah sampai disebabkan nahkoda kapal yang belum ingin berpisah dari dermaga.

Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) sudah memasuki bulan ke lima semenjak dibentuk pada Desember lalu, namun semenjak terbentuknya belum ada jadwal pasti terkait kapan pemilihan pada periode ini akan dilaksanakan. Layaknya tiupan angin yang menghempaskan asap dalam seketika hingga menghilang tanpa jejak.

11 April lalu dengan tegas Ketua KPUM Al- Izar membeberkan alasan mengapa pemilihan tidak dilaksanakan pada 2 bulan pertama semenjak terbentuk adalah karena bertepatan dengan libur mahasiswa dan juga belum cairnya anggaran untuk kegiatan akbar ini.

Namun alasan pertama telah tertepis dengan sendiri nya yaitu masa libur mahasiswa dan alasan yang kedua apakah sampai sekarang anggaran belum cair.? Ini tentunya hanya mereka yang bisa menjawab

Upaya dari teman-teman mahasiswa sudah banyak dilakukan mempertanyakan hal ini sampai dengan menggelar demontrasi, dan tidak hanya mahasiswa yang turut serta mempertanyakan bahkan Wakil Rektor III Kampus biru pun turut andil, namun yang kita lihat sekarang belum pula terlaksana hingga ini menjadi pertanyaan besar. Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa dimana kah anda.?

Penulis: Fitri
Editor: Redaksi

Feodalisme Dalam Organisasi

Objektif.id – Kebenaran lebih sering ditemukan disela-sela kekhilafan mereka yang berani berpikir untuk dirinya sendiri daripada diantara mereka yang merasa sempurna tapi malas bernalar. Mayoritas tabiat manusia yang berada dalam organisasi menganggap dirinya adalah yang paling pandai dan mengerti segala sesuatu hal, terutama pada orang-orang yang lebih dulu menyentuh wilayah organisasi. Jejak pengkultusan tersebut sangat jelas terekam dalam banyak tindakan, bahwa hanya mereka yang mempunyai otoritas lebih untuk menentukan sikap dan cara pandangnya.

Mereka yang demikian itu sebut saja “manusia tengil”. karena para manusia tengil ini yakni mereka yang lebih dulu masuk dalam organisasi maka dengan faktor itu seakan ada kebanggaan sebagai “kasta tertinggi” yang melekat pada dirinya. Dengan status sebagai kasta tertinggi itulah dipakainya menjadi instrument untuk melakukan suatu tindakan yang secara terang namun tak tergesah-gesah ingin memberi tahu kita jika yang baru bergabung ke dalam organisasi harus mengagung-agungkan status kasta tersebut.

sistem feodalisme yang terjadi hari ini dibanyak organisasi bukanlah hal yang baru sebab secara historis Budaya feodalisme ini sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia karena memang warisan dari zaman kerajaan yang menganut sistem patron-klien, bahkan di eropa pada abad pertengahan feodalisme mengakibatkan kekerasan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Akibat sistem feodalisme, masyarakat cenderung berorientasi pada nilai pelayanan yang berlebihan terhadap penguasa, orang yang dituakan, dan lain sebagainya.

Ironis apabila dalam organisasi yang menjadi tempat pertengkaran pikiran serta dengan segala keistimewaannya tiba-tiba disulap oleh para manusia tengil menjadi tempat peternakan generasi feodalisme. Sangat mengkhawatirkan ketika kemudian kultur ini secara terus menerus berkembang dalam lingkungan organisasi. Yang dimana secara universal kita ketahui bersama bahwa organisasi adalah wadah berkumpulnya satu, dua orang atau lebih dengan memiliki tujuan yang sama, tentunya dalam mencapai tujuan tersebut pasti dilakukan dengan metode yang begitu serius menciptakan manusia berpengetahuan, arif, dan bijaksana.

Tapi bagaimana mungkin semua harapan bisa terwujud kalau yang terjadi dalam organisasi adalah para manusia tengil itu seperti ingin di tuhankan, bahkan tak jarang jika ada yang berbeda pemikiran dari mereka langsung dianggap salah dan melawan bahkan dianggap membahayakan organisasi. Bukankah ”karena ada perbedaan maka untuk itu kita bersatu”? Namun yang ada dikepala manusia ugal-ugalan ini “demi persatuan maka tidak boleh ada perbedaan”.

Sepertinya dalam keadaan sadar ataupun tidak kita bersepakat bahwa mendiamkan kejahatan adalah suatu tindakan kemunafikan. Jika dalam organisasi didominasi oleh kekuatan feodalisme maka jangan salah ketika banyak anggota lain terlebih generasi yang baru bergabung dalam organisasi menjadi produk gagal. Cacat dalam mengaktualisasikan gagasan dan tujuan organisasi, nalar kritis menjadi tidak bertumbuh, cara pendidikannya bukan berbasis pengembangan intelektual.

Anggota yang baru bergabung hanya dianggap sebagai kendaraan untuk mengangkut gagasan orang lain yang sejatinya bertentangan dengan naluri dan keinginan dirinya sendiri. Implikasi kebiasaan tersebut menjadi konsumsi para anggota baru dan dalam banyak kasus para anggota baru melanjutkan sifat yang demikian itu. Teringat pernyataan Yusril Izha Mahendra beliau mengatakan bahwa dalam sistem yang buruk orang baik dipaksa menjadi jahat, dan dalam sistem yang baik orang jahat dipaksa menjadi baik.

Mengapa hal semacam itu terus berulang-ulang dan tidak bisa hilang? Karena keterlibatan manusia bengis dalam organisasi begitu massif terhadap aktivitas generasi baru sekaligus menjadi nyata bahwa regenerasi hadir bukan atas gagasannya sendiri melainkan arahan dan perintah titipan. Kalau tujuan manusia yang duluan bergabung ke organisasi untuk mendidik generasi setelahnya, bukankah tujuan dari pendididikan itu sendiri adalah untuk mempertajam kecerdasan, mengkuhkukan kemauan, serta memperhalus perasaan, sebagaimana yang dikatakan Tan Malaka. Ohh iya, baru-baru ini kita merayakan atau memperingati hari pendidikan nasional dengan icon tokohnya yakni Ki Hajar Dewantara yang mempunyai falsafah pendidikan “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, yang berarti di depan menjadi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan. Semoga dimomentum hari pendidikan menjadi titik balik dalam menumbuhkan kesadaran kolektif kita bahwa feodalisme adalah musuh dari pendidikan. Bukan hanya Tan Malaka atau Ki Hajar Dewantara yang orientasi pemaknaan terhadap pendidikan untuk melawan feodalisme tetapi semua tokoh bangsa menginginkan hal serupa.

Kalau organisasi menjadi salah satu alternatif untuk melakukan proses pendidikan atau kaderisasi maka organisasi jangan hanya menjadi alat penjinakan yang memanipulasi generasi baru, agar mereka dapat diperalat untuk melayani kepentingan manusia-manusia yang telah disebutkan diatas. Selain daripada itu, anomaly yang banyak terjadi pada generasi baru adalah mengaminkan tindakan-tindakan despotis para pendahulunya, membenarkan sesuatu yang salah. Keadaan semacam itu dianggap sebagai rasa terimakasih kepada para pendahulunya sehingga tidak mengherankan kalau kemudian siklus moral hazard yang mengakar kuat dalam organisasi semakin berkembang biak.

Sebenarnya dilain pihak masih ada manusia-manusia yang serius mengabdikan dirinya pada organisasi, yang ingin melakukan perubahan radikal demi perbaikan organisasi namun karena otoritas feodalismenya begitu kokoh maka tak jarang banyak yang dipinggirkan karena dinilai sebagai penggangu. Sudah jamak diketahui oleh banyak orang bahwa organisasi dengan kultur feodalismenya mengalami kemacetan berpikir, mempertahankan yang patuh terhadap kesewenang-wenangan. Ketika ada yang tidak menghadirkan pemikiran berbeda maka disitu manusia-manusia yang hanya membebek akan dirawat dan dianggap loyal terhadap organisasi. Padahal tujuan paling fundamental kita masuk berorganisasi yakni melatih kecakapan berpikir kritis bukan malah dijadikan manusia yang bangga mengkerdilkan pikiran serta menghamba pada kemunafikan.

Penulis : Hajar
Editor: Redaksi

PEMILMA : Kejahatan Yang Tersembunyi ?

Objektif.id – Mari kita simak secara ringkas terlebih dahulu apa itu KPUM? jadi, KPUM atau Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa berperan sangat penting dalam PEMILMA (Pemilihan Umum Mahasiswa) mulai dari merencanakan persiapan pelaksanaan pemilihan, menerima serta menetapkan partai-partai politik mahasiswa sebagai peserta pemilihan yang nantinya akan berkampanye pada saat berlangsungnya pemilihan.

Sudah tidak lama lagi akan dilaksanakan Pemilma di sebuah kampus biru yang bertepatan juga di bulan ramadhan nantinya. Namun, belum pelaksanaan Pemilma dimulai sudah beredar sebuah desas-desus melalui pamflet yang disebar di beberapa grup chat para mahasiswa yang mengatakan bahwa ada “seseorang” yang tidak jelas delegasinya dari mana. Namun, malah diangkat menjadi bagian dari KPUM. Ditambah lagi “seseorang” ini juga tergabung di salah satu Partai Politik Mahasiswa (PARPOLMA).

jika ditelisik bukankah hal ini sudah termasuk melanggar aturan dalam Undang-Undang Pemilihan Umum Mahasiswa yang mana tepatnya pada BAB IV, pasal 10 tentang penyelenggara Pemilma yang mengatakan bahwa KPUM terdiri atas :

a. Masing-masing 1 delegasi dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)

b. Masing-masing 2 delegasi dari DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa)

c. Masing-masing 3 delegasi dari SEMA (Senat Mahasiswa)

Sudah sangat jelas tertera di situ orang-orang yang berhak menjadi bagian dari KPUM adalah orang yang didelegasi secara sah. Namun masih terindikasi bahwa ada oknum petinggi KPUM belum mengantongi surat mandat dari delegasi UKM yang mengutusnya, jadi seakan-akan oknum petinggi KPUM tersebut mengklaim salah satu UKM dalam mendelegasikan dirinya. sangat penuh konspirasi sekali ya teman-teman.

Mari kita flashback ke 2 tahun lalu tepatnya di tahun 2021, pada saat penyelenggaraan Pemilma yang dilangsungkan secara online itu berakhir dengan kericuhan. Sekiranya terdapat puluhan mahasiswa lakukan demonstrasi di depan gedung rektorat menuntut kejelasan akan akses pemilihan yang tiba-tiba error.

Usut punya usut nih, ternyata sistem yang tiba-tiba error itu karena di hack oleh salah satu “oknum” dengan mengubah data voting dari para mahasiswa untuk kemudian data itu diberikan kepada salah satu Parpolma agar nantinya Parpolma tersebut dapat menang dalam pemilihan.

Sekarang kita beralih ke sudut pandang pihak KPUM itu sendiri. Kenapa pihak KPUM seakan-akan menutup-nutupi hal ini ya? apakah pihak KPUM ini ditekan oleh mereka yang mempunyai kuasa yang tinggi sehingga ia terpaksa untuk membuat kecurangan? atau apakah memang KPUM sang sutradara sebenarnya dengan mempermainkan Pemilma ini? yah, tidak ada yang tahu. Karena, kembali lagi kepada definisi sebenarnya bahwa politik itu KOTOR. Jika tidak patuh dalam permainan maka siap-siap saja nyawa melayang.

Dari rangkaian di atas maka dapat kita simpulkan bahwa pihak penyelenggara Pemilma a.k.a KPUM secara garis keras dinyatakan cacat.

Pesan penulis, semoga tulisan ini dibaca oleh mereka dan pihak KPUM semoga memberikan tanggapannya secepat mungkin secara terperinci dan jujur terkait desas-desus yang telah menyebar ini.

Penulis : Rian
Editor: Redaksi

Weird News: Mengaku Mahasiswi Islam Namun Umbar-Mengumbar Lekuk Tubuhnya

Objektif.id – “Berpakaian ketat, tembus pandang atau baju pendek bagi mahasiswi” tulisan ini dibuka dengan mengutip salah satu pelanggaran golongan ringan dalam kode etik mahasiswa di sebuah kampus agamis atau biasa dikenal dengan kampus biru yang terdapat di Kota Kendari.

“Hey, itu cuma pelanggaran ringan. Lagipula para dosen tidak menegur kami”. Seperti itulah tanggapan dari beberapa mahasiswi yang telah mengetahui aturan tersebut namun masih tetap dilanggar.

Tidak sedikit juga dari mereka yang balik marah jika ditegur oleh teman yang lain terkait hal itu dengan selalunya mengatakan “Urus dirimu sendiri”.

Hello ladies, kalian itu sebenarnya pada nyadar tidak sih bahwa kalian itu berada di lingkungan yang berbau dengan agama, yang mana segala aturan terkhusunya dalam tata cara berbusana tentunya tercipta berlandaskan agama yang dipatok dari Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Yang disayangkan juga adalah beberapa para pengajar, pendidik tidak terlalu memperdulikan atau cenderung acuh tak acuh pada busana para mahasiswi, yang berakibat mereka akan semakin seenaknya dalam berbusana sesuka hati mereka dalam hal ini berpakaian secara terbuka.

Jika hal ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan karena pakaian kalian yang terbuka dan ketat-ketat seketat PPKM itu dapat memicu beragam aksi negatif terutama pada kaum adam, contohnya tindak pelecehan seksual baik secara verbal, fisik, maupun visual.

Jika sudah seperti itu yang rugi siapa? jawabannya banyak. Selain merugikan diri sendiri, kelakuan kalian juga merugikan orang lain terutama orang tua kalian yang sudah capek-capek membiayai pendidikan kalian, nama baik kampus yang dikenal berlatar-belakang agama islam juga bakalan ikut tercoreng hanya karena ulah bobrok kalian yang lebih mementingkan fashion ketimbang syariat agama. Hal ini juga dapat menimbulkan citra buruk di muka umum pada para mahasiswi lain yang betul-betul menjaga cara berpakaiannya.

Sebenarnya orang juga lelah melihat dan menegur akan sikap bebal kalian yang tidak kunjung sadar diri. Sebenarnya apa sih keuntungan kalian buka-membuka aurat itu? Ingin menunjukkan di mata dunia bahwa tubuh kalian Sexy gitu? Bloody Hell!!! come’on, kalian itu perempuan beragama Islam yang dimana agama Islam sangat menjunjung tinggi yang namanya harga diri perempuan. Artinya bahwa, seluruh apa yang ada dalam diri perempuan kecuali wajah dan telapak tangan selain itu hanya boleh dilihat oleh selain mahramnya. So, jangan jadikan alasan menarik untuk merendah.

Mendekati bulan suci Ramadhan yang tinggal beberapa minggu lagi ini, Yuk! terutama pada kaum perempuan kalian pasti tidak ingin mengalami suatu hal yang terburuk dari segala yang buruk kan? Maka dari itu, ayo berubah!! ayo berubah menjadi yang lebih baik dengan menjaga perilaku dan bertutur kata. Sangat tidak etis jika mengotori bulan yang suci itu dengan dosa. Sekali lagi sadarilah diri kalian dan berubahlah.

Penulis : Tesa. ASN
Editor: Redaksi

“Penulis adalah mahasiswa iktif Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, juga anggota aktif Unit Kegiatan Mahasiswa Pers (UKM-Pers)”

Kesalahan Lucu Masyarakat Indonesia Mengucap Nama Suatu Produk

Merek atau Brand adalah sebuah tanda pengenal dari perusahaan penciptanya baik berupa gambar, kata-kata, huruf, angka, maupun kombinasi dari unsur-unsur tersebut. Lalu, kemudian merek itu dipasang pada sebuah produk yang akan dipasarkan.

Tanpa kita sadari ada beberapa produk yang sering kita salah kaprahkan sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam hal ini penyebutan nama atas suatu produk. Apa saja contohnya? sebagai berikut :

Pasta Gigi Disebut Odol

Teman-teman tahukah kalian? bahwa sebenarnya pasta gigi yang sering kita sebut Odol adalah sebuah nama merek. Odol pertama kali didirikan pada tahun 1892 oleh pengusaha asal kota Dresden,Jerman, Karl August Lingner. Pada tahun 1930 Odol telah diproduksi lebih dari 20 negara termasuk Indonesia dan merupakan produk pasta gigi pertama di Indonesia. Sayangnya, perusahaan Odol GlaxoSmithKline Consumer Healthcare menarik produknya dari Indonesia karena kalah saing dengan merek Pepsodent, Colgate, Close Up dan lainnya. Namun, karena saking terbiasanya masyarakat mengucap pasta gigi menjadi Odol jadi, apapun merek pasta giginya akan tetap disebut dengan Odol.

Deterjen Disebut Rinso

Rinso yang terkenal dengan slogannya “Berani Kotor Itu Baik” juga merupakan merek deterjen atau sabun cuci pertama di Indonesia yang diluncurkan oleh PT. Unilever Indonesia pada tahun 1970. Rinso telah menjadi nomor satu di pasar deterjen Indonesia. Sama seperti Odol saking melekatnya nama Rinso dalam benak masyarakat jadi, deterjen lainnya pun juga disebut Rinso padahal jelas beda merek.

Pembalut Disebut Softex

Teman-teman Wanita pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Softex. Softex adalah merek pembalut wanita dari sebuah perusahaan yang bernama PT. Softex Indonesia dan berdiri sejak tahun 1981. Namun, produk pembalut dengan merek lain seperti Charm, Laurier, Whisper, Hers, dan lainnya, tetap disebut dengan Softex.

Popok Bayi Disebut Pampers

Pampers adalah sebuah merek produk bayi dan balita dari perusahaan Procter & Gamble (P&G) Amerika Serikat. Pampers dikenalkan pada tahun 1961. Di Indonesia Pampers kasusnya sama seperti Odol sudah tidak diproduksi lagi tapi namanya masih populer hingga kini di kalangan masyarakat terkhususnya para ibu rumah tangga.

Cat Semprot Disebut Pylox

Grafiti Lovers, kalian tahu tidak? bahwa cat semprot yang sering kalian pakai untuk melukis dan menyebutnya Pylox sejatinya merupakan nama merek dari sebuah perusahaan asal negeri Sakura, Jepang yaitu Nippon Paint. Nippon Paint sendiri adalah perusahaan yang memproduksi Cat sejak tahun 1969.

Proyektor Disebut Infocus

Satu lagi kasus salah kaprah penyebutan produk yaitu merek-merek proyektor seperti; Epson, Sony, Panasonic, BenQ, tetap akan disebut dengan InFocus. InFocus sendiri adalah sebuah merek proyektor dari perusahaan yang bernama sama juga yaitu InFocus Corporation asal Amerika Serikat dan berdiri sejak tahun 1986.

Semoga kedepannya kita tidak lagi keliru dalam menyebutnya ya.

Penulis : Tesa. ASN

Berawal Dari Jualan Es Serut, Bergerak Menjual Franchise

Mixue adalah tempat makan es krim yang sedang viral saat ini. Teman-teman tahukah kalian? Zhang Hong Chao pemilik kerajaan Mixue, sebelum memproduksi es krim ia dulunya hanyalah penjual es serut biasa. Pada tahun 1997 ia membangun sebuah gerai es dari hasil meminjam uang neneknya yang bertempat di Zhengzhou, Henan. Sayangnya, usaha pertamanya tidak membuahkan hasil yang maksimal sehingga memutuskannya menutup gerai. 2 tahun kemudian, di tahun 1999 ia membuka kembali gerai es keduanya yang diberi nama Mixue Bin Cheng atau “Istana Es Yang Dibangun Dengan Salju Yang Manis”.

pada tahun 2006, Zhang Hong Chao mulai beralih dari memproduksi es serut menjadi memproduksi es krim. Karena pada masa itu es krim sedang populer ditambah harga jualnya yang juga mahal, jadi, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan membuat bahan baku pembuatan es krimnya. Usahanya ini ternyata membuatnya untung besar hingga di tahun 2010 berdirilah perusahaan Mixue sekaligus mengembangkannya dengan skema waralaba atau franchise. Pada tahun 2018, Maskot Mixue lahir berupa boneka salju yang menggemaskan dan diberi nama Hanzi (Snow King, Raja Salju).

Teman-teman pasti penasaran kan, usaha franchise itu apa? usaha franchise atau waralaba ini adalah sebuah usaha dimana pemilik perusahaan memperjualbelikan usahanya untuk dikelola oleh orang lain dan tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang tertera antara pemilik asli dan Si pengelola. Jadi, teman-teman tidak mengherankan Mixue ini berkembang sangat cepat dan berada dimana-mana bahkan tempatnya bisa saling berdampingan, karena kembali lagi pemiliknya beda orang.

Di Indonesia sendiri, sejak 2020-2023 dilansir dari JatimNetwork sekiranya tercatat sudah lebih dari 300 gerai Mixue terbentang di seluruh Indonesia. Adapun, harga yang ditawarkan untuk membuka usaha franchise Mixue yang dikeluarkan oleh PT. Zhisheng Pacific Trading berkisar antara Rp.700-800 juta rupiah.

Teman-teman Khususnya kalian yang ingin memulai Bisnis sebenarnya tidak salah jika ingin memulainya dengan bisnis franchise. Namun, alangkah baiknya jika mendirikan usaha secara independen. Yah, meskipun nanti hasilnya akan gagal tapi dibalik itu semua jika kalian bersabar dan bekerja keras tunggu saja keajaiban akan datang dengan sendirinya.

Penulis : Tesa. ASN