Parpolma Tempat “Gembel-Gembel” Lembaga Kemahasiswaan Dikader

Objektif.id – Pengurus lembaga kemahasiswaan dewasa ini bukan menjadi role model kepemimpinan yang ideal. Banyaknya teman-teman mahasiswa yang bergabung kedalam lembaga kemahasiswaan hanya menumpang tenar dan menjadi aib buruk dari delegasi partai politik mahasiswa.

Minimnya wawasan berlembaga dan bobroknya dalam mengelola organisasi membuat lembaga kemahasiswaan hari ini menjadi prematur dan tidak terukur untuk mencapai kerja-kerja kelembagaan.

Banyak kasus yang secara fakta terjadi dalam kepengurusan bahwa nama-nama pengurus yang masuk dalam tingkat legislatif ataupun eksekutif hanya masuk menjadi anggota yang tidak tahu apa yang akan mereka perbuat dan mereka itu kita terminologikan sebagai “gembel-gembel lembaga kemahasiswaan,” orang-orang miskin. Ya, miskin ide.

Kasus-kasus semacam itu mestinya menjadi perhatian secara kolektif oleh semua pihak, terutama oleh para partai politik mahasiswa yang menjadi kendaraan dalam kontestasi pemilihan mahasiswa yang sekaligus juga sebagai organisasi perkaderan calon-calon pemimpin lembaga kemahasiswaan.

Mengapa ini menjadi penting, sebab dari tahun ke tahun anggota partai yang diusung masuk kedalam struktural kepengurusan hanya mengincar posisi ketua saja, bukan betul-betul untuk mewakafkan dirinya atas nama mahasiswa yang telah memberikan mereka mandat melaksanakan segala tugas dan tanggungjawabnya sebagai representasi mahasiswa yang terpilih melalui mekanisme pemilihan mahasiswa.

Parpolma tidak pernah melakukan pendidikan politik

Partai politik mahasiswa seharusnya lebih peka terhadap keadaan buruk yang terjadi dalam lembaga kemahasiswaan karena melalui partai nama yang menjadi pengurus masuk dalam lembaga kemahasiswaan baik dilegislatif maupun eksekutif. Banyak nama yang disorong partai dan secara fakta itu hanya memperlihatkan bagaimana lembaga kemahasiswaan meningkat secara kuantitatif padahal mereka dimaksudkan untuk menjadi pengurus yakni meningkatkan taraf kualitas lembaga dengan membawa masing-masing ideologi partainya. Namun, yang terjadi sangat berbanding terbalik dengan apa yang menjadi jualan narasi yang dibuat oleh partai.

Partai politik mahasiswa tidak pernah mengajarkan sejak dini kepada para kadernya bagaimana menjadi anggota lembaga kemahasiswaan yang secara moral tahu dia dikirim dalam kepengurusan lembaga ingin menjadi apa. Selain dari pada itu, partai lalai melakukan kaderisasi kepemimpinan yang baik dan benar, seharusnya partai memberikan edukasi politik bahwa seorang pemimpin tidak mesti harus menjadi pimpinan.

Legitimasi kepemimpinan kader partai seyogianya bukan diukur dalam perspektif ia menjadi ketua melainkan bagaimana semangat pembaharuan itu berlaku secara kontinyu saat pertama kali bergabung dalam lembaga sampai masa baktinya diberhentikan oleh aturan. Artinya meninggalkan _policy_ yang baik, ada gagasan yang relevan mengimbangi laju perkembangan zaman.

Masalah akut yang sering kita jumpai yaitu banyaknya kader partai masuk dalam kepengurusan hanya untuk ajang lomba memamerkan dirinya bahwa ia adalah pengurus lembaga kemahasiswaan dengan harapan mendapat baju pengurus, tindakan seperti inilah kemudian mempertegas adagium yang sedang populer yakni “biar bodoh yang penting bergaya.”

Parpolma tempat kebohongan diproduksi

Sikap kader partai dalam kepengurusan lembaga kemahasiswaan memberikan kita gambaran bagaimana mereka dikader melalui partainya. Karakter yang malas dan kebodohan yang diperlihatkan adalah bentuk nyata bagaimana partai melakukan kaderisasi politik. Partai sudah tidak punya rasa malu lagi terhadap ribuan mahasiswa yang mereka wakili, apa yang partai lakukan dari setiap masa menjelang pemilihan mahasiswa hanya berupaya melakukan pembohongan publik dan itu adalah bagian penghianatan moral sekaligus menghina nalar seluruh mahasiswa.

kita ketahui bersama tentang apa yang dijanjikan melalui narasi-narasi pencitraan saat menjelang hari-hari kampanye, semua partai berlomba memenangkan kebohongannya dengan cara memanipulasi seakan-akan mereka paling peduli terhadap lembaga kemahasiswaan tetapi ketika terpilih justru organisasi dibuat rusak.

Seharusnya partai yang berani mencelupkan dirinya dalam giat-giat politik maka dengan penuh kesadaran mesti mempertanggungjawabkan semua apa yang telah digagas, penyakit semua partai hanya siap menang namun tak siap kalah. Kalau semua kader yang didelegasikan kelembaga hanya mengejar posisi ketua terus kapan visi misi partainya dieksekusi? Karena kadernya hanya sibuk mengejar politik kuasa yang tidak mementingkan lagi kepentingan khalayak.

Padahal menurut Antonio Gramsci “politik tidak terbatas pada perjuangan mendapat kekuasaan, politik mencakup kehidupan manusia yang lebih luas. Ikut serta dalam politik berarti mengembangkan kemampuan berpikir dan bertindak yang berguna bagi diri sendiri, mengembangkan otonomi yang tidak didikte oleh kekuasaan semata.” Artinya bahwa apa yang kita yakini berguna bagi diri sendiri tentu itu harus menjadi kemaslahatan banyak orang, jangan nanti momen pemilihan baru semua partai muncul dengan gagah melakukan banyak kebohongan yang hanya menginginkan posisi ketua saja.

Mahasiswa rindu dengan lembaga kemahasiswaan yang didalamnya semua pengurus dari masing-masing delegasi partai itu saling bertengkar tentang banyak hal untuk kemajuan organisasi yang pastinya berorientasi menjaga amanah dan memperjuangkan seluruh aspirasi mahasiswa. Berhentilah partai mengirim delegasi yang bodoh, yang hanya mengandalkan kebesaran nama partainya saja.

Jangan hanya jago jualan jargon

Kini partai harus melakukan upaya transformasi pola perekrutan sampai pendistribusian kader yang betul-betul mengedepankan kepentingan dalam memperjuangkan visi misinya secara konkret. Partai jangan hanya hebat dalam melakukan promosi yang sifatnya klise, sangat miris keadaan partai-partai hari ini yang semuanya masih mengandalkan tipuan-tipuan melalui jargon dan tidak memperhatikan anggota partainya yang banyak melakukan kebobrokan saat menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan.

Ada hal yang sangat menarik pernah dikatakan oleh Ibnu Khaldun bahwa “manusia pada dasarnya bodoh, dan menjadi terpelajar melalui perolehan pengetahuan.” Dengan demikian, jika partai memang tempat untuk melakukan proses kaderisasi kepemimpinan maka didalam pasti terjadi transaksi ide. Tapi kalau yang dikirim partai adalah orang-orang yang tidak berkualitas artinya partai gagal menjadi organisasi pengorbit calon-calon pemimpin, yang ada partai menternak para gembel yang miskin akan gagasan.

Berapa banyak lagi jargon yang harus menjadi penunjang partai untuk membesarkan namanya? Sedang implementasi dari visi misi partai nonsens yang sekedar menjadi tumpukan kata-kata tidak bermakna. Semangat yang digaungkan juga tidak menunjukkan spirit pembaharuan dalam lembaga kemahasiswaan. Setiap tahunnya partai hanya menciptakan polarisasi dikalangan mahasiswa, pertarungan antar partai bukan pertarungan gagasan melainkan ide-ide manipulatif yang dijual gratis.

Slogan-slogan yang melekat pada semua partai hanya untuk membodohi mahasiswa, semakin kuat dipromosikan dan dibangga-banggakan maka semakin kuat partai mengingkari visi-misinya sendiri.

Semoga para parpolma lebih banyak lagi introspeksi agar mereka tahu kalau pendidikan terbaik adalah tindakan bukan kata-kata, kata Charlie Chaplin.

Selain dari pada itu, partai sepertinya tidak pernah membaca banyak literatur dan realitas yang terjadi dilingkup kampus sehingga mereka merasa sistem yang terbangun dalam partainya sudah sangat baik, padahal karena banyak mahasiswa yang mereka bisa tipu. Partai sudah saatnya berhenti membanggakan slogan ataupun jargon kedewaan yang busuk dan tolol itu. Mereka mesti melakukan kesiapan diri untuk melakukan keutamaan yang terbaik dalam segala hal, termasuk dalam hal politik, apapun konsekuensinya. Itulah arete, suatu hal yang diistilahkan oleh Plato.

Penulis: Harpan Pajar

Editor: Melvi Widya

Suarakan Resolusi Jihad, Renungkan Diri Kenang Sejarah 22 Oktober

Objektif.id – Hari Santri diadakan untuk memperingati perjuangan kaum kiai dan santri untuk mengingat, mengenang, dan menghargai kaum santri yang telah berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Hal inilah yang akan menjadi refleksi untuk kita semua dalam mengingat kembali sejarah perjuangan kaum pondok pesantren, yang akan menyadarkan kita bahwa di zaman modern sekarang ini perlunya kita berbenah, memperbaiki kualitas diri demi kemajuan bangsa dan negara tercinta.

Hari Santri Nasional ditetapkan setiap tanggal 22 Oktober yang memiliki arti dan makna mendalam bagi kalangan santri itu sendiri, karena perjuangan yang mereka lalui membutuhkan pengorbanan dan waktu yang tidak singkat.

Asal Usul Hari Santri

Sejarah ini, dimulai pada 17 September 1945, KH Hasyim Asy’ari yang menjabat sebagai Rais Akbar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan resolusi jihad melawan aksi penjajahan di Surabaya, Jawa Timur yang bertujuan untuk merebut Indonesia, membangun Indonesia, dan mempertahankan NKRI.

Selanjutnya, para ulama melakukan pertemuan yang bertujuan untuk mengambil langkah tegas dalam menyikapi tentara Belanda yang berupaya kembali menguasai tanah air. Serta melahirkan resolusi jihad yang disepakati di Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945, lalu menyebar luaskannya ke masyarakat sekitar.

Dalam fatwanya, KH Hasyim Asy’ari menyatakan dengan tegas bahwa hukum membela negara adalah fardu ain dan melawan penjajah adalah jihad serta siapapun yang zalim terhadap negara berhak mati. Resolusi ini disampaikan pada tanggal 17 September 1945 yang mana membawa dampak besar dan membakar semangat para santri untuk mempertahankan Indonesia.

Dilansir dari detiknews.com pada tanggal 15 Oktober 2015 Presiden Joko Widodo dalam surat Keputusan Presiden (Keppres) No. 22 Tahun 2015. Bahwa setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri keputusan ini ditetapkan di masjid Istiqlal, Jakarta.

Peran Santri di Masa Sekarang

Peringatan Hari Santri 2023 mengusung tema Jihad Santri, Jayakan Negeri. Memiliki makna untuk mengajak para santri dalam upaya membangun kejayaan negeri dengan semangat intelektual para santri di era digitalisasi.

Di zaman modern seperti sekarang kita dihadapkan dengan tantangan digitalisasi dimana jihad tidak lagi merujuk pada pertempuran senjata, tetapi melalui perjuangan intelektual yang harus kita sambut dengan penuh semangat. Kita dapat menjadi milenial yang tidak hanya berprestasi dibidang akademik, tetapi juga mampu menyebarkan ajaran agama melalui perkembangan teknologi.

Menurut kemenag RI dilansir dari situs resmi kemanag.co.id bahwa, Kemenag menerbitkan surat edaran menteri agama tentang Panduan Pelaksanaan Peringatan Hari Santri No. SE 10 Tahun 2023 pada tanggal 11 Oktober 2023. Edaran ini bertujuan untuk memberikan panduan bagi pemangku kepentingan, pesantren, santri, dan masyarakat selama pelaksanaan kegiatan hari santri.

Penulis: Wahida
Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Mengenal Animasi dan Alasan Orang Dewasa Masih Senang Menikmatinya

Objektif.id – “Tidak usah malu kalau hobimu nonton anime ataupun kartun, karena ribuan orang di luaran sana lebih hobi nonton aib orang lain”- Dodit Mulyanto.

Animasi adalah sebuah seni gambar yang bergerak cepat untuk menciptakan suatu ilusi tertentu. Animasi terbagi menjadi beberapa bagian yaitu; Animasi 2D, Animasi 3D, Infografis (slide PowerPoint), Stop Motion, Motion Graphic (video konten promosi), dan Isometric.

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mengenal animasi, penulis akan sedikit memaparkan tentang sejarah animasi yang perlu diketahui bahwa dalam perkembangannya melewati proses yang tidak instan. Berawal dari tahun 1900-1930 (The Silent Era). Pada masa ini, manusia sudah mulai bermain ilusi gambar hitam-putih tanpa narasi dan dibuat dengan alat seadanya. Animasi terkenal pada saat itu ialah animasi Mickey Mouse oleh Walt Disney.

Memasuki The Golden Age Of Animation (1930-1960) animasi sudah menggunakan warna, kemudian pada masa The American Television Era (1960-1980), animasi sudah mulai ditayangkan secara komersial yakni pada siaran saluran TV, hingga akhirnya pada Modern Era (1980-now) animasi semakin berkembang pesat dengan adanya teknologi sehingga orang-orang tidak hanya dapat menikmati animasi melalui TV, tetapi juga bisa mengaksesnya dari platform lain seperti YouTube, Disney Hotstar, dan lainnya.

Dampak – Dampak Perubahan Animasi di Era Sekarang

Sering kita kenal animasi merupakan sebuah tontonan yang dikhususkan untuk anak-anak. Namun, apakah kalian tahu? bahwa animasi atau sinema kartun ini ternyata dapat ditonton di seluruh kalangan usia bahkan terkadang ada yang hanya dikhususkan untuk kategori tertentu.

Kita pasti sudah sering melihat sebuah tanda seperti G, PG-13, R, dan D/NC-17. Tanda-tanda ini adalah rating usia dalam sebuah film maupun sinetron. Disinilah perlunya kita mengetahui simbolik-simbolik seperti itu, karena tiap simbolnya memiliki makna yang berbeda-beda jika G (semua usia), PG-13 (usia 13 tahun kebawah), R (usia 17 tahun kebawah), sementara D/NC-17 (usia 18 tahun keatas).

Tidak hanya persoalan tanda rating usia, tetapi yang memprihatinkannya adalah animasi era sekarang ini telah banyak memuat unsur LGBT di dalamnya contohnya animasi Lightyear yang sempat viral di tahun 2022, karena isi ceritanya sangat kental akan LGBT. Tentunya hal seperti ini harus dihindari karena akan berdampak pada psikologis seksualitas pada anak. Jadi, peran orang tua sangat penting dalam memilih tontonan kepada anak-anak meskipun tontonan tersebut hanyalah sebuah animasi semata.

Orang Dewasa dan Kartun

Teman-teman pernah kepikiran tidak sih kenapa orang-orang senang menonton kartun terkhususnya pada orang dewasa? well, ternyata menonton kartun dapat memberikan dampak positif secara psikologis kepada orang dewasa.

Seperti yang kita tahu bahwa orang dewasa terkenal dengan slogannya yaitu “waktu adalah uang”. Saking sibuknya sehingga membuat mereka tidak memiliki waktu yang banyak untuk sekedar refreshing ke tempat-tempat wisata dan pada akhirnya mereka lebih memilih alternatif lain dengan menonton sebuah film di platform nonton online. Namun, bukannya menonton film yang diperankan oleh orang asli sebaliknya beralih menonton film yang berjeniskan animasi untuk menghilangkan kejenuhan yang mereka miliki.

Selain itu, beberapa dari mereka mengaku menonton kartun karena suka dan hobi dalam hal ini yang dimaksudkan adalah anime yang merupakan animasi dari negeri sakura Jepang. Anime ini mempunyai berbagai macam genre beserta alur cerita yang unik, inspiratif, visual yang memanjakan mata, dan jangan lupakan juga yang memang rata-rata ditujukan untuk penonton dewasa. Orang dewasa juga masih senang menonton kartun dikarenakan merasa bernostalgia hanya bermodalkan dengan menonton kartun saja dapat mengingatkan mereka tentang kenangan-kenangan indah di masa kecil dulu.

Penulis : Tesa Ayu Sri Natari
Editor: Melvi Widya

Air Mata di Ujung Sajadah

Objektif.id – Film “Air Mata di Ujung Sajadah” yang disutradarai oleh Key Mangunsong, merupakan salah satu film Indonesia terbaru dengan mengusung tema drama keluarga yang mampu menguras air mata melalui topik yang diangkat yakni tentang pengorbanan, keikhlasan,dan arti keluarga sesungguhnya.

Film ini akan membawa penonton ke dalam kisah yang mengharukan terhadap pilihan, yaitu antara memilih cinta dan kasih sayang atau memilih menjadi ibu asuh dan ibu kandung.

Melalui penayangan perdananya pada tanggal 7 September 2023, menceritakan seorang ibu bernama Aqilla yang ditinggalkan suaminya karena kecelakaan dan melahirkan seorang bayi laki-laki dari pernikahannya yang tidak direstui oleh ibunya Halimah. Halimah yang tidak merestui pernikahan anaknya lantas berbohong kepada Aqilla bahwa bayi yang dilahirkannya meninggal. Namun yang terjadi sebenarnya bahwa ia memberikan cucunya pada sang kariawan Arif dan Yumna, mereka adalah pasangan yang sudah lama menikah namun belum memiliki anak.

Setelah itu Aqilla kemudian memutuskan meniti karier di Eropa dengan menghabiskan waktunya disana yang penuh rasa kesepian akibat masa lalu.
Memasuki tahun ke tujuh sejak saat ia ke Eropa, Halimah tiba- tiba jatuh sakit. Sehingga hal itu yang membuat Aqila kembali menuju Indonesia, Sesampainya di Solo ia kaget dengan apa yang disampaikan ibunya, Halimah mengungkapkan bahwa Putra kandungnya masih hidup yang diberi nama Baskara dan selama ini dibesarkan oleh Arif dan Yumna.

Mengetahui putra sulungnya masih hidup, Aqilla kembali menumbuhkan harapan dan masa depannya. ia ingin menjalani hari-harinya bersama Baskara. Namun rencana mengembalikan anaknya ternyata tidak semudah itu, Ia mengalami dilema besar karena keberadaan Arif dan Yumna yang telah merawat anaknya dengan sepenuh hati serta tidak pernah pamrih layaknya orang tua kandung. Hal itulah yang membuat Aqilla tak enak hati.

Tidak hanya Aqilla, kegundahan juga muncul di hati Arif dan Yumna. Mereka merasa bersalah jika bersikukuh mempertahankan satu-satunya kebahagiaan Aqilla. Tetapi disisi lain mereka juga tidak sanggup kehilangan Baskara yang sudah dianggap seperti anak sendiri yang dibesarkan tulus dan penuh dengan cinta.

Ditengah keresahan serta kebimbangan yang bergejolak, mereka tetap mencari solusi terbaik untuk berusaha menekan keegoisan masing-masing. bahwa apa yang didapatkan didunia hanya sebuah titipin dari Allah tugas kita hanya merawat, mengasihi dan menyayangi.

Diawal film ini, bisa disaksikan bahwa penulis berusaha untuk menyampaikan pesan jika keikhlasan adalah kunci kebahagiaan yang sesungguhnya, ketika mengalami kesulitan kita tidak boleh mengotori hati nurani dan bersifat egois. Ketabahan Aqilla terhadap kebohongan sang ibu membuat kita belajar bahwa semua akan jauh lebih mudah ketika kita mencoba ikhlas terhadap apa yang sedang kita alami.

Selain dari pada itu, penonton juga disuguhkan adegan mengharukan ketika Aqilla untuk pertama kalinya bertemu sang anak yang berpisah dengan dirinya selama bertahun-tahun, ia memandangi Baskara dengan penuh cinta dan kerinduan. walaupun ia dianggap orang lain oleh darah dagingnya sendiri namun Ketegaran Aqilla membuat kita belajar bahwa seorang ibu rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan sang anak.

Dari film ini, kita mendapat pelajaran bahwa kasih sayang muncul tidak hanya karena kita punya hubungan darah, tetapi ketika kita tulus dan menyayangi seseorang maka orang tersebut bisa dapat ketulusan sekaligus merasakan kebaikan kita.

Pada akhirnya semua ibu ingin mewariskan sebuah cerita yang luar biasa kepada anaknya. bahwa kasih sayang seorang ibu tiada batasnya hingga rela mengorbankan kebahagian sendiri demi kebahagiaan anaknya dengan menjadi sosok yang tegar demi melindungi sang anak.

Sutradara: Key Mangunsong
Produser: Ronny Irawan
Ditulis oleh: Nafa Urbach
Skenario: Titien Wattimena
Cerita: Ronny Irawan
Pemeran:
Titi Kamal
Jenny Rachman
Fedi Nuril
Citra Kirana
Penata musik: Andi Rianto
Sinematografer: Ipung Rachmat Syaiful, I.C.S
Penyunting: Kelvin Nugroho
produksi: Beehave Pictures Multi Buana Kreasindo Productions
Tanggal rilis: 7 September 2023
Durasi: 105 menit
Negara: Indonesia
Bahasa: Indonesia

Penulis: Wahida
Editor: Harpan Pajar

Politik kuasa media

Objektif.id – Dunia politik memang selalu beriringan dengan kehidupan sosial. Dari lingkup terkecil saja misalnya dalam bermasyarakat tak bisa dilepaskan dari apa yang disebut politik.

Buku yang berjudul Politik Kuasa Media yang ditulis oleh Noam Chomsky, ia sebagai pemikir terkemuka yang independen dan memiliki kemampuan analitis yang sangat tajam dalam bukunya membahas mengenai bagaimana pengaruh media digunakan dalam dunia politik.

Salah satunya saat media digunakan sebagai propaganda untuk membuat bahkan menggiring opini massa. Hal ini dikarenakan, siapapun yang dapat membangun citra yang baik maka akan mendapatkan kepercayaan dari publik untuk melaksanakan segala tugas dan kepentingan publik. Buku ini juga memberikan pemahaman kepada pembaca yakni informasi yang disajikan oleh media masaa adalah hasil dari pekerja media di meja redaksi.

Dalam buku aslinya yang berjudul “The Spektakuler Achievement Of Propaganda”, memuat mengenai sejarah media massa yang dipergunakan untuk melawan,mengatur, dan menguasai opini publik. Seperti yang terjadi pada saat pemerintahan Adolf Hiltler, ia menggunakan media sebagai alat untuk melakukan propaganda pada perang dunia dua dan hal serupa juga pernah dilakukan Presiden Amerika Serikat seperti, W. Wilson, saat memenangkan pemilihan umum pada tahun 1916.

Dalam waktu enam bulan W. Wilson berhasil menarik simpati warga Amerika dan pada saat perang antara Amerika dan Vietnam, masyarakat mampu dipengaruhi oleh media yang akhirnya berdampak terhadap masyarakat yang tadinya sangat anti perang tetapi berbalik menjadi masyarakat pemuja perang. yang berhasil melancarkan propaganda amerika itu creel commitee.

Kemudian industri humas melahirkan rekayasa opini,rekayasa opini menjadi hal fundamental didalam propaganda karena propaganda salah satu tugasnya yaitu mengontrol publik. Dalam pembahasan rekayasa opini ini amerika serikat membuat definisi demokrasinya sendiri jika sebagian masyarakat ikut berpartisipasi aktif didalam organisasi baik itu sosial politik, maka itu disebut sebagai kesalahan demokrasi atau bukan demokrasi sehingga sewaktu-waktu di amerika terjadi krisis demokrasi dari krisis itu lahirlah juga yang disebut Vietnam sindrom.

Dalam buku ini disebutkan jika anda menginginkan sebuah masyarakat kekerasan yang menggunakan kekuatannya ke seluruh dunia untuk mencapai tujuan yang diinginkan para elit lokal, apresiasi terhadap segala yang berbau peperangan harus di tumbuhkan. Dan semua halangan harus disingkirkan. Itulalah yang dimaksud dengan Vietnam sindrom.

Pada bagian terakhir Buku ini, Noam Chomsky membahas perang teluk yang terjadi di negara Irak. Amerika mendukung Irak ketika itu untuk memerangi lawannya dan pada akhirnya Amerika Serikat berperang dengan Irak. Padahal Saddam Husein yang telah lama menjadi kawannya namun pada akhirnya menjadi lawan, ini disebabkan oleh Amerika yang selalu menciptakan parade para musuh.

Melalui buku ini kita bisa belajar bahwa ketika kita seorang simpatisan ataupun pendukung para tokoh publik bukan berarti kita tidak bisa mengkritisinya, sampaikan Jika itu ada kesalahan.

Penulis: Noam Chomsky
Judul buku: Politik Kuasa Media
Judul asli: The Spektakuler Achievement Of Propaganda
Jumlah halaman: x + 51 hlm
Penerbit: jalan baru
Tahun tertib: cetakan ke 3 Januari 2017

Penulis: Novasari
Editor: Harpan Pajar

Buku “Seni Mendesain Hidup”: Keseimbangan Hidup Dunia dan Akhirat

Objektif.id – Buku “Seni Mendesain Hidup” ditulis oleh Puguh Windrawan yang menceritakan kehidupan ini ibarat universitas. Buku ini merupakan panduan dalam memulai dan mendesain hidup baru, yaitu kehidupan sebenarnya layaknya unversitas. Hidup baru yang di maksud adalah hidup terpisah dari orang tua, hidup mandiri, kemudian merencanakan tahap-tahap kehidupan setelahnya.

Di sinilah letak alur buku ini. Kehidupan ini tak jauh berbeda dengan apa yang ada pada dunia kampus. Ada tahapan-tahapan yang harus dijalankan sesuai dengan usia kita. Sama seperti kuliah, ada tahapan yang disebut semester untuk bisa melaju hingga mendapatkan gelar sarjana.

Buku ini berisikan beberapa fase dalam kehidupan yang sedang dan akan kita jalankan. Sebagai seorang yang akan beranjak dewasa, biasanya yang kita lakukan adalah berpisah rumah dengan orang tua yang selama ini kita cintai. Tidak akan mungkin kita selamanya bersatu dengan orang tua kita. Kita juga akan hidup mandiri melanjutkan kehidupan dan memperoleh keturunan sebagai penerus generasi.

Fase kedua, menjadi bagian yang cukup penting, yaitu bagaimana mengendalikan hasrat dan nafsu. Apakah ini penting? Jangan gegabah untuk menyepelekan hal ini. Banyak orang yang terhambat kesuksesannya gara-gara nafsu seksual yang tak bisa terbendung.

Fase ketiga, mulai masuk kepada jenjang pernikahan. Tidak mudah menjalin pernikahan, apalagi biasanya di sinilah akan muncul berbagai ujian kehidupan manusia. Penyatuan dua isi kepala dalam sebuah biduk rumah tangga memerlukan seni tersendiri.

Di lain sisi, kita menelaah kelengkapan sikap hidup kita melalui sang buah hati. Mengurus buah hati memang tidak mudah. Apalagi, jika anak tersebut kemudian beranjak dewasa. Ini bisa jadi akan menimbulkan masalah tersendiri. Anak yang beranjak dewasa selalu menginginkan kebebasan dan lepas dari kekangan, ini merupakan cermin dari kehidupan kita sebelumnya.

Pada semester kelima, ini menyangkut materi. Banyak di antara kita yang menganggap bahwa materi adalah simbol kesuksesan hidup. Nyatanya, pengertian ini bisa jadi salah kaprah. Materi memang penting dalam kehidupan, tetapi bukanlah menjadi yang terpenting.

Pada semester keenam, kita diharapkan menjadi pembangkit semangat untuk mencari rezeki yang halal, antara lain dengan berwirausaha, cari kerja atau semacam nya.

Pada semester ketujuh, kita akan membaca judul yang cukup unik; Tetangga pemberi rezeki. Apa maksudnya? Ternyata kita akan disuguhi oleh kenyataan tentang betapa pentingnya menjalin pertemanan dengan orang lain intinya perbanyak relasi lah.

Pada Semester akhir, kita akan ditunjukan pada puncak dari pencarian dalam memaknai hidup. Ini adalah kunci sukses dari apa yang tengah kita pelajari di dunia ini. Meski memang, untuk memaknai kesuksesan bisa sangat subjektif, tetapi minimal kesuksesan bisa berdampak langsung pada pribadi kita.

Seperti itulah kehidupan. Bagaimana beratnya memulai hidup baru lepas dari orang tua, bagaimana rumitnya menghadapi tantangan dan cobaan hidup serta bagaimana kita membina hidup baru dengan pasangan, semuanya terangkum apik dalam buku ini. Buku ini merefleksikan kehidupan secara runut, sejak masa akil balig hingga pada saatnya kita dituntut mendalami religiusitas sebagai dasar dalam mengarungi kehidupan.

Editor: Meita Sandra
Proofreader: Nur Hidayah
Desain Cover: TriAT
Desain isi: Leo Legowo
Penerbit: KATA HATI, Jl.Anggreak 126 Sambilegi, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jogjakarta 55282

Penulis: Febrian
Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Fenomena Respon Dosen Kepada Mahasiswa Berdasarkan Muka

Objektif.id – Dunia perkuliahan adalah proses akhir seorang pelajar dalam menempuh pendidikan yang disebut universitas atau institut. Adapun, lingkungan perkuliahan menghadirkan beberapa fasilitas penunjang akademik dan juga interaksi sosial antar rekan mahasiswa maupun para tenaga pendidik.

Berbicara tentang interaksi sosial antara tenaga pendidik/dosen dengan mahasiswa merupakan suatu hal yang sangat penting, namun meskipun begitu banyak keluhan dari beberapa mahasiswa yang merasa bahwa sang dosen pilih kasih terutama dalam hal penginputan nilai yang dimana nilai mahasiswa yang jarang hadir, jarang kumpul tugas nilai akhirnya atau IPK-nya malah lebih bagus dibandingkan mahasiswa lainnya. Hm, sangat suspicious right? Apakah mahasiswa ini menggunakan sistem orang dalam? Who knows that.

Ada juga kasus serupa yang sudah familiar di telinga kalangan mahasiswa yaitu diacuhkan dosen pembimbing dimana saat di chat ataupun di telepon untuk pengajuan judul proposal malah message hanya di read dan telepon tidak responsif ditambah sang dosen pembimbing ini keberadaannya sangat susah ditemukan di kampus jadi, dia harus melalui chat terlebih dahulu, namun yang ada malah sebaliknya. Sungguh miris sekali niat ingin mencapai target lulus tepat waktu malah harus tertunda dikarenakan situasi yang seperti ini.

Sikap acuh yang dilakukan dosen tidak sampai disitu saja, tetapi juga ada beberapa oknum dosen yang over responsif mahasiswa yang good looking plus orang tuanya memiliki jabatan di pemerintahan, karena saking overratednya banyak mahasiswa yang kurang nyaman akan hal tersebut misalnya, mahasiswa good looking ini selalu dipuji setiap si dosen ini masuk padahal mahasiswa ini tidak memiliki pencapaian bahwa ia layak untuk dipuji. Bukti nyata bahwa pendidikan kita terbelakang, karena bukannya memberikan ilmu yang bermanfaat sebagaimana tugas tenaga pendidik malah sibuk mencari muka.

Dari sekian banyak permasalahan antara dosen dan mahasiswa, penulis juga akan memberikan sebuah tips cara menghadapi sikap dosen yang acuh tak acuh dan pilih kasih yaitu :

1. Belajar untuk terbuka dan sampaikan perasaan tidak nyaman kepada dosen yang dirimu anggap pilih kasih.

2. Jika, cara pertama tidak berhasil maka dapatkanlah dukungan dari teman ataupun pihak yang berwenang yakni pimpinan kampus dengan adanya campur tangan dari pihak berwenang maka akan meminimalisasi perilaku dosen yang tidak mencerminkan tenaga pendidik.

3. Tunjukkan pencapaian dan keberhasilan kamu selama mengikuti mata kuliah yang ia bimbing. Adapun, jika merasa perhatian dosen hanya kepada orang-orang good looking cukup hiraukan dan fokus kepada tujuan utama kamu berkuliah tips ini berlaku jika peristiwa tersebut tidak mempengaruhi nilai akademisi kamu.

4. Terakhir, jika kamu sudah frustasi menghadapi sikap dosen yang seperti itu jalan satu-satunya yaitu mencari dosen pengganti. Semoga bermanfaat tipsnya.

Penulis : TN

Editor: Melvi Widya

Novel Gadis Jakarta: Menggambarkan Kembali Sejarah Konflik Sosial Politik

Objektif.id – Peristiwa berdarah yang tak terlupakan. Kalimat itulah yang patut aku sematkan dalam novel Gadis Jakarta.

Novel Gadis Jakarta yang ditulis oleh Najib Kaelani menceritakan tentang konflik sosial di Indonesia. Di dalam novel ini, ada beberapa tokoh penting dari partai politik yang ingin mengubah ideologi negara menjadi sosialisme dengan kepemimpinan mereka sendiri. Namun, upaya tersebut berhasil dicegah oleh seorang pahlawan revolusioner.

Dalam cerita ini, kita dapat melihat bagaimana politik dan ideologi bisa mempengaruhi kehidupan masyarakat. Konflik antara kelompok-kelompok politik juga sering terjadi di dunia nyata dan dapat membawa dampak besar pada kehidupan orang-orang biasa.

Dikisahkan seorang petinggi partai yang dipengaruhi oleh filsafat marxisme selalu berdebat dengan istrinya yang memiliki sudut pandang berbeda tentang ideologi.

Pada saat seorang pemimpin partai menghadiri pertemuan cabang di Jakarta, ia melihat dan mendengarkan seorang gadis yang memberikan pidato. Pidatonya membahas tentang penyimpangan ideologi yang dipelopori oleh beberapa tokoh partai yang dianggap bertentangan dengan akidah. Hal ini sangat mempengaruhi orang-orang yang hadir pada pertemuan tersebut. Gadis itu berhasil menarik perhatian banyak orang karena isinya yang kontroversial.

Gadis yang berpidato tersebut bernama Fatimah dan ayahnya Muhammad Idris yang merupakan tokoh Masyumi.

Perlu diketahui masifnya gerakan kaum reaksioner ingin menyebarkan ajaran sosialisme karena mereka menganggap pemerintah hanya doyan omong kosong dan tidak perhatian terhadap rakyat, melainkan membiarkan kelaparan serta penderitaan bersahabat dengan rakyat.

Setelah hari itu Fatimah berpidato ia berfirasat akan terjadi sesuatu yang buruk terlebih lagi ayahnya tidak ada kabar. Benar saja ayah Fatimah diculik dan interogasi oleh kaum reaksioner yaitu penentang gerakan pembaharuan dan kontra revolusi.

Meskipun ayah Fatimah diculik akan tetapi ia berhasil diselamatkan oleh seorang polisi yang bernama Anang walaupun ia harus mengorbankan dirinya tertembak mati.

Kemudian kekasih Fatimah yaitu Abu Hasan, dilaporkan kepada aparat penegak hukum karena ia mencetak selebaran poster dan menyampaikan orasi agitatif untuk menghina petinggi partai yang mempelopori pemberontakan kaum reaksioner.

Pemberontakan kaum reaksioner banyak menewaskan puluhan ribu jiwa warga sipil yang memang telah menjadi sasaran kelompok partai dalam membuat huru-hara dan ketidakstabilan sosial dan keamanan.

Namun dengan demikian para pahlawan revolusioner berhasil menangkap pelaku pemberontakan sekaligus mengepung wilayah kota untuk mencegah konflik itu tidak meluas. Akibat genosida yang disebabkan oleh kaum reaksioner maka pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memboikot pergerakan dan penyebaran ideologi sosialisme yang bertentangan dengan akidah.

Novel Gadis Jakarta adalah sebuah cerita yang menyimpan sejarah dalam kisahnya yang luar biasa dan tak terlupakan. Dalam novel ini, ada kelompok orang yang disebut kaum reaksioner dan kaum revolusioner. Kaum revolusioner ingin mencegah penyebaran ajaran tokoh partai pelopor pemberontakan yang dianggap melenceng dari akidah.

Dari cerita ini, kita bisa belajar bahwa kadang-kadang ada perbedaan pendapat antara kelompok orang tentang suatu hal tertentu. Ada yang setuju dengan pandangan seseorang, namun juga ada yang tidak setuju karena berbeda keyakinan atau sudut pandang. Namun demikian, penting bagi kita untuk tetap menghargai perbedaan tersebut dan mencari jalan tengah agar tidak terjadi konflik.

Melalui novel ini, penulis berusaha untuk menyampaikan pesan bahwa setiap individu memiliki peranan penting dalam menjaga stabilitas negara dan menentukan arah masa depannya. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk selalu memperhatikan perkembangan politik dan ikut serta dalam proses demokrasi agar suara kita didengar dan hak-hak kita dilindungi.

Penulis: Najib Kaelani
Judul buku: Gadis Jakarta
Judul asli: A’dzrau Jakarta
Alih bahasa: Pahrurroji Muhammad Bukhori
Jumlah halaman : ix + 224
Penerbit : NAVILA
Tahun terbit : Cetakan ke 2, Juli 2001

Penulis: Muhamad Ali Mufti
Editor: Hajar

“Penulis Merupakan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Kendari”

Stop!! Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

Objektif.id – Sekolah adalah tempat untuk proses belajar mengajar. Seorang guru harus mendidik muridnya-muridnya agar bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang baik.

Seorang guru juga sangat berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, agar dapat melekat dalam benak murid yang dia didik. Jika seorang guru tidak memperhatikan hal yang demikian maka hal yang buruk dapat terjadi pada murid itu sendiri.

Dalam dunia pendidikan pun, sangat perlu di latih yang namanya kecerdasan emosi untuk para siswa.

Jangan hanya terfokus melatih kebiasaan kognitif,sebeb melatih kognitif itu lebih mudah di banding melatih emosional.

Melatih emosional siswa merupakan hal yang sangat penting untuk dilatih untuk membentuk karakter seorang siswa di masa depan. Seperti menjadi orang yang konsisten, komitmen, berintegritas tinggi, berpikiran terbuka, jujur, dan adil. Tak hanya itu, pelatihan emosional juga membuat siswa memiliki prinsip, visioner, percaya diri, dan bijaksana. Karena hal itu bukan hal yang mudah untuk di bentuk dalam diri masing-masing terkhusus untuk para pelajar.

Yang tidak kalah pentingnya, peran orang tua dalam menyikapi anak-anaknya. Seorang tualah atau wali murid yang harus mengontrol siswa saat pulang dari sekolah.

Biasanya anak-anak memiliki karakter yang tidak terpuji di sebabkan karena orang tua yang kurang perhatian kepada anaknya, membiarkan anaknya bebas atau tidak memberi batasan, dan orang tua yang bercerai.

Bercerainya kedua orang tua, terkadang menyebabkan psikologi anak tertekan dan biasanya seorang memilih pergaulan yang bebas.

Hal yang seperti itulah yang kerap menyebabkan siswa melakukan kekerasan kepada siswa yang lainnya.Sehingga banyak siswa yang menjadi korban bahkan nyawanya melayang karena kekerasan tersebut.

Adapun kejadian yang sering terjadi di sekolah dan di luar sekolah adalah tawuran antar siswa, pengeroyokan, penggunaan narkotika, pergaulan bebas, pembullyan dan lain sebagainya.

Siswa yang menjadi korban terkadang tak mau lagi bersekolah sebab trauma atas kejadian yang menimpanya bahkan terkadang siswa nekat untuk bunuh diri di sebabkan karena hal yang demikian.

Oleh karena itu orang tua atau wali murid serta guru yang berada di sekolah harus lebih mempertikan anak atau murid-muridnya agar bangsa kita memiliki generasi penerus.

“Ian Aristiawan (penulis) merupakan mahasiswa IAIN Kendari, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Semester 3 (tiga). Dia seorang Jurnalis muda Objektif.id yang direkrut melalui Diklatsar jurnalistik UKM Pers IAIN Kendari tahun 2023. Foto: Ian Aristiawan/Objektif.id”.

Penulis: Ian Aristiawan

Editor: Rizal Saputra

Kekerasan Emosional Menjadi Hambatan Dalam Berkembang

Kekerasan emosional dapat diartikan sebagai sikap atau perilaku yang dapat menganggu perkembangan sosial ataupun kesehatan mental. Kekerasan emosional juga disebut sebagai kekerasan verbal, mental ataupun kekerasan psikologis.

Kekerasan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada kekerasan yang lebih tampak seperti kekerasan fisik dan penguntitan _(stalking)_. Namun, ada juga dalam bentuk kekerasan yang tak kasatmata. Jika kamu merasa takut atau bingung dengan orang terdekatmu, atau meragukan diri sendiri saat berbicara dengannya, kamu mungkin mengalami kekerasan emosional _(emotional abuse)_. Tujuan pelaku kekerasan emosional adalah untuk melemahkan perasaan harga diri dan kemandirian orang lain. Dalam hubungan yang sarat akan kekerasan emosional, kamu mungkin merasa bahwa tidak ada jalan keluar atau bahwa tanpa pelaku, kamu tidak akan memiliki apa-apa.

Seseorang bisa saja mengalami pelecehan atau kekerasan secara emosional dari orang lain yang berbeda sepanjang hidup. Sumbernya bisa saja dari orangtua, pasangan (suami, istri, atau kekasih), teman, hingga rekan kerja. Menurut National Domestic Violence Hotline, beberapa tanda terjadinya kekerasan emosional dalam hubungan pernikahan yang bisa kamu kenali, yaitu:

– Menggunakan senjata sebagai alat untuk mengancam.

– Melakukan penghinaan dan kritik secara terus-menerus.

– Melarang pasangan untuk pergi keluar rumah.

– Mengancam akan menyakiti anak, hewan peliharaan, atau anggota keluarga pasangan.

– Menuntut untuk mengetahui lokasi pasangan setiap saat.

– Mencoba mengisolasi atau menjauhkan pasangan dari keluarga atau teman.

– Selalu mencoba untuk mengontrol pasangan.

– Sulit untuk percaya dan bersikap posesif.

Jenis-jenis kekerasan emosional

Kekerasan emosional dapat melibatkan salah satu dari berikut ini:

Kekerasan verbal : meneriaki, menghina, atau memaki dengan kata-kata kasar dan julukan yang tidak sopan.

Character assassination : menggunakan kata “selalu” untuk menggambarkan perilaku. (Contoh: “Kamu selalu salah!”)

Penolakan : Terus-menerus menolak pikiran, ide, dan pendapat kamu.

Gaslighting : membuat kamu meragukan perasaan dan pikiran sendiri, dan bahkan kewarasan kamu, dengan memanipulasi kebenaran.

Put-down : memanggil nama atau memberi tahu kamu bahwa kamu bodoh, mempermalukan kamu di depan umum, menyalahkan kamu atas segalanya. Penghinaan di depan umum juga merupakan bentuk kekerasan sosial.

Menyebabkan ketakutan : membuat kamu merasa takut, terintimidasi atau terancam.

Isolasi : membatasi kebebasan bergerak, menghentikan kamu dari menghubungi orang lain (seperti teman atau keluarga). Ini mungkin juga termasuk menghentikan kamu dari melakukan hal-hal yang biasa kamu lakukan – kegiatan sosial, olahraga, sekolah atau pekerjaan.

Penyalahgunaan keuangan : mengendalikan atau menahan uang kamu, mencegah kamu bekerja atau belajar, mencuri dari kamu. Kekerasan keuangan adalah bentuk lain dari kekerasan dalam rumah tangga.

Penindasan dan intimidasi : dengan sengaja dan berulang kali mengatakan atau melakukan hal-hal yang dimaksudkan untuk menyakiti kamu.

Dampak Kekerasan Emosional

Kekerasan secara emosional bisa jadi sangat sulit diterima jika kamu adalah korbannya. Awalnya, kamu bisa saja mengelak atau melakukan penyangkalan, bahwa kamu telah terlibat dengan hubungan yang cenderung mengarah pada kondisi ini. Pasalnya, akan muncul rasa malu, kebingungan, takut, hingga putus asa bagi setiap orang yang terlibat dalam hubungan tidak sehat ini.

Kamu pun bisa mengalami gangguan kecemasan berlebihan, rasa sakit dan nyeri pada tubuh, sulit untuk berkonsentrasi, perubahan suasana hati yang sangat cepat, sulit tidur, mimpi buruk, hingga mengalami ketegangan otot. Sayangnya, semakin lama kekerasan emosional ini kamu alami, akan semakin lama pula efek ini kamu rasakan.

Studi yang dipublikasikan dalam Violence and Victims menyebutkan bahwa pelecehan emosional yang parah sama kuatnya dengan penganiayaan fisik. Seiring waktu, keduanya dapat mengakibatkan hilangnya harga diri hingga terjadinya depresi. Kamu pun bisa rentan mengalami sakit kronis, gelisah sepanjang waktu, hingga penarikan diri dari aktivitas sosial yang berujung pada kesepian.

Sementara itu, seseorang yang mengalami kekerasan secara emosional dapat mengembangkan dampak, seperti merasa tidak berharga, kesulitan mengatur emosi, sulit membangun kepercayaan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, regresi, gangguan tidur, hingga kesulitan untuk berhubungan sosial dengan orang lain.

Ketika seorang bertumbuh dan berkembang, mereka mungkin akan mengembangkan efek lain karena kekerasan emosional yang pernah mereka alami. Seseorang yang mengalami kekerasan emosional lebih cenderung menunjukkan perilaku tidak baik dan terlibat dalam hubungan yang buruk.

Cara mengatasi dampak kekerasan emosional

Beberapa cara bisa Anda lakukan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kekerasan emosional. Beberapa cara untuk mengatasi efek kekerasan emosional, antara lain:

1. Mencari dukungan orang lain

Untuk membantu Anda mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kekerasan emosional, cari dukungan dari orang terdekat seperti sahabat atau keluarga. Mintalah dukungan pada orang-orang yang tidak menghakimi. Bergabung dengan kelompok orang yang pernah mengalami trauma dan pelecehan juga bisa membantu.

2. Aktif bergerak dan rutin berolahraga

Aktif bergerak dan rutin berolahraga baik dilakukan untuk kesehatan Anda. Jika Anda malas untuk berolahraga berat, aktivitas fisik seperti berjalan kaki pun juga bermanfaat. Tak hanya secara fisik, berolahraga setidaknya 90 menit dalam seminggu dapat membantu Anda untuk:

– Tidur lebih nyenyak

– Menjaga pikiran tetap tajam

– Mengurangi risiko depresi

3. Aktif bersosialisasi dengan orang lain

Mengisolasi diri tidak akan membantu mengurangi efek kekerasan emosional yang Anda rasakan. Sebaliknya, Anda harus aktif bersosialisasi dengan orang lain. Tak harus bicara mengenai masalah Anda (kecuali jika Anda menginginkannya), menghabiskan waktu dengan keluarga atau sahabat dapat membuat diri menjadi lebih bersemangat.

4. Menerapkan pola makan sehat

Kekerasan emosional bisa merusak pola makan Anda. Pola makan yang tidak teratur dan tak sehat dapat berdampak buruk untuk kesehatan.

5. Menerapkan teknik relaksasi

Untuk menghilangkan stres yang Anda rasakan akibat kekerasan emosional, terapkan teknik relaksasi.

Selamat Hari Kesehatan Mental 

Penulis : Farid Ahmad Tomalatea

Program Studi : Bimbingan Penyuluhan Islam

Referensi : “Diolah dari beberapa Sumber”

Maba Ini Suratku

Penulis: Hikmah Askar

Maba, ini suratku dari mahasiswa yang telah melalui perjalanan di kampus ini, tempat yang akan menjadi rumah kalian selama beberapa tahun ke depan. Seperti kopi yang memerlukan waktu untuk mencapai cita rasa yang sempurna, begitu juga dengan pengalaman kampus ini yang akan mengisi cawan kehidupan kalian.

Saat kalian melangkah ke dalam Gerbang Kampus ini, rasanya seperti sedang menemukan lembaran baru dalam buku hidup kalian. Setiap langkah yang kalian ambil, setiap sudut yang kalian kunjungi, begitu dalam terasa maknanya. Kampus ini adalah tempat di mana tuhan seakan terselip dalam setiap helaan nafas, membisikan petunjuk dan kebijaksanaan.

Jalanan berbatu di Kampus ini menjadi saksi bisu perjalanan kalian. Setiap bebatuan adalah jejak dalam cerita kalian. Seperti kisah dalam buku, setiap sudut kampus memiliki cerita tersendiri. Taman-taman hijau yang rimbun adalah halaman-halaman yang menunggu untuk kalian isi dengan warna-warna kehidupan.

Namun yang berharga adalah pertemuan dengan sesama penjelajah kampus ini, mereka adalah karakter-karakter dalam buku yang akan menghiasi kisah kalian.

MABA INI SURATKU dari seorang mahasiswa yang telah memahami beragam ciri khas mahasiswa di kampus ini, sebagaimana yang terjadi dalam bab yang terus berputar dalam kisah kehidupan. Setiap mahasiswa adalah bagian yang tak terpisahkan dari alur cerita yang lebih luas. Ada yang memancar kan semangat yang berkobar kobar dalam mengejar pengetahuan, seperti bara yang tak pernah padam, dan mereka menjadi sumber inspirasi bagi yang lain dengan dedikasi mereka yang tak tertandingi. Ada juga yang sibuk mencari pengetahuan dalam keheningan perpustakaan, menggali harta ilmu yang tersembunyi di antara halaman-halaman buku dan membentuk karakter yang penuh kebijaksanaan. menjadikan setiap hari di kampus ini bercahaya seperti permata. Sementara itu, ada yang sepertinya tidak terlalu peduli, mengikuti kuliah tanpa keterlibatan emosional yang mendalam, dan bersikap acuh tak acuh terhadap berbagai hal. Dan tentu saja, terdapat aktivis yang penuh semangat, memimpin perjuangan untuk isu-isu yang mereka cintai dengan sepenuh hati.

MABA, INI SURAT KU dari seorang mahasiswa yang telah memahami beragam watak senior di kampus ini. Seperti dalam sebuah drama, setiap satu dari mereka memiliki peran yang unik dalam cerita kehidupan kampus. Ada yang menjadi panutan dalam prestasi akademis, membimbing kalian dalam kerumitan ilmu pengetahuan. Terdapat pula senior yang memberikan wawasan berharga tentang pengembangan diri dan berbagai pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan di luar kampus.

Namun, tidak bisa di abaikan pula senior yang terkesan angkuh merasa dirinya lebih superior dari pada yang lain. Mereka mungkin mencoba menggoda kalian dengan perilaku sombong mereka, bahkan beberapa senior terlibat hubungan asmara dengan MABA. Menciptakan dinamika kompleks dalam komunitas kampus ini. Di sisi lain, ada juga senior yang tampak nya acuh tak acuh terhadap keberadaan MABA, kurang berminat untuk membantu atau memberikan nasihat, menjadikan perjalanan kalian terasa lebih menantang.

Semua senior ini adalah bagian penting dalam cerita kehidupan kampus ini, seperti karakter dalam sebuah narasi. Mereka memberikan berbagai sudut pandang tentang pengalaman menjadi mahasiswa di kampus ini. Pengalaman kalian dengan mereka membentuk pemahaman yang lebih mendalam tentang keragaman perjalanan kampus ini dan memberikan inspirasi untuk mengejar impian dengan tekat yang kuat.

MABA, INI SURATKU dari seorang mahasiswa yang telah akrab dengan seluruh dosen di kampus ini. Seperti dalam pementasan kehidupan kampus, setiap dosen memiliki peran unik dalam perkembangan kami sebagai mahasiswa. Terdapat yang dengan semangat mengarahkan kami melalui kompleksitas ilmu pengetahuan, seperti panduan yang membimbing dalam labirin pengetahuan, ada juga dosen yang memberi pengetahuan berharga tentang aplikasi praktis dalam bidang studi kami, membuka pintu ke dunia nyata. Meskipun ada yang mungkin yang tampak tegas dan menuntut, mereka akhirnya memberikan pelajaran yang dalam dan berharga tentang mengahadapi tantangan dalam dunia akademik, semua dosen ini adalah pilar utama dalam perjalanan pendidikan kami di kampus ini, dan kami beryukur telah memiliki mereka sebagai mentor.

MABA, INI SURATKU dari seorang mahasiswa yang telah menjelajahi berbagai kepingan organisasi dalam kampus ini. Di sepanjang perjalanan kuliah ini, kalian akan menyelami berbagai komunitas, seperti seorang penjelajah yang menapaki sendirian hutan belantara. Pengalaman ini tidak hanya sekedar catatan di daftar prestasi tetapi bagai serangkaian petualangan yang telah membentuk jiwaku.

Di dalam peradaban kampus ini, aku menjadi pelaut yang menjajaki lautan pergaulan, bertemu manusia-manusia berwarna dan bijaksana. Organisasi-organisasi ini adalah pulau yang tersembunyi yang menyimpan hikmah dan pelajaran berharga. Mereka membingkai cerita hidup ku dengan pengalaman yang tak ternilai harganya.

Kepada kalian, para MABA yang berdiri di ambang petualangan baru, jangan lah gentar untuk mengarungi samudera organisasi yang luas ini. Di balik setiap pintu adalah potensi pengembangan diri dan penemuan diri yang dalam, dengan setiap langkahmu, ingatlah bahwa kampus ini adalah labirin berliku yang penuh dengan harta karun pengetahuan dan koneksi. Selamat menjelajah teman- teman, semoga kalian menemukan makna sejati dalam perjalanan ini.

MABA, INI SURATKU dari seorang mahasiswa yang telah menjadi aktor dalam setiap drama pertunjukan demonstrasi kampus. Di lingkungan kampus ini, kalian akan merasakan semangat perjuangan yang mendalam yang sama seperti cita rasa kopi yang memerlukan waktu untuk sempurna. Kampus ini akan menjadi tempat di mana kalian belajar bahwa kekuatan terbesar terletak dalam kesatuan untuk mencapai perubahan yang di inginkan.

Ketika kalian ikut serta dalam aksi demonstrasi, kalian seperti karakter dalam buku, menambah lembaran baru dalam sejarah dan mewarnai lembaran-lembaran tersebut dengan harapan dan perubahan. Di tengah perjalanan ini semoga kalian ingat bahwa di dalam kehidupan kampus ini, kalian adalah pemain utama dalam drama perubahan sosial yang tengah berkembang.

Saya telah merenung tentang peran saya dalam setiap aksi demonstrasi. Ini adalah momen introspeksi yang mendalam. Apakah tindakan saya benar-benar sejalan dengan nilai-nilai yang saya anut? Bagaimana saya dapat membuat dampak yang positif dalam perjuangan ini? Saya telah belajar bahwa aksi demonstrasi bukan hanya sekedar berteriak di jalan, tetapi juga tentang menemukan suara hati dan kepercayaan diri untuk berdiri demi apa yang saya yakini

Saat berpartisipasi dalam demonstrasi, kami menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca yang ekstrim hingga penolakan yang keras. Namun, kami juga menemukan solidaritas yang kuat di antara sesama mahasiswa. Setiap langkah kami di jalan itu membawa pesan penting tentang perubahan yang harus terjadi. Kami memahami bawah mahasiswa memiliki kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial.

Jadi. MABA, ketika kalian ikut serta dalam demonstrasi, ingatlah bahwa ini adalah bagian penting dari perjalanan kalian sebagai mahasiswa. Ini adalah peluang untuk menyuarakan perubahan yang kalian inginkan dalam Dunia ini. Bersama-sama, kita dapat mencapai cita-cita besar dan menciptakan dampak positif yang akan membawa perubahan yang kita harapkan.

MABA, INI SURATKU dari seorang mahasiswa yang telah menulis kan banyak kisah romansa di kampus ini. Seperti dalam novel-novel cinta yang kita baca. Kampus ini juga menjadi panggung bagi berbagai kisah asmara. Di antara buku-buku tebal dan jadwal kuliah yang padat, banyak di antara kita menemukan teman sejati bahkan cinta sejati. Kampus ini adalah saksi dari senyuman gugup pertemuan pertama, perjalanan panjang mengenal satu sama lain, dan moment-moment tak terlupakan yang melibatkan hati. Semua ini menambah warna warni pengalaman kampus, memperkaya kisah hidup yang kita tuliskan dengat setiap langkah kita di sini.

Kisah romansa di kampus ini begitu beragam seperti warna-warna bunga di taman. Ada yang menemukan cinta pada teman sekelas, berbagi buku dan mimpi bersama-sama. Ada juga yang melibatkan diri dalam percintaan yang tumbuh dalam kebersamaan dalam organisasi kemahasiswaan. Beberapa kisah mungkin singkat dan manis seperti puisi, sementara yang lain adalah epik panjang yang terjalin selama bertahun-tahun. Meskipun tidak semua kisah berakhir bahagia, setiap pengalaman romansa di sini adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan kami sebagai mahasiswa.

Cinta di kampus ini adalah cerminan dari keragaman kisah kehidupan, seperti berbagai buku di perpustakaan yang saling melengkapi. Ini adalah pengingat bahwa meskipun kami datang kesini untuk mengejar ilmu, kita juga menemukan pelajaran berharga tentang cinta, komitmen dan pengorbanan. Jadi maba, saat kalian menjalani perjalanan kampus ini bersiaplah untuk mengukir kisah romansa kalian sendiri di antar bab-bab dalam buku kehidupan yang tak terduga dan indah.

MABA, INI SURATKU dari seorang mahasiswa yang telah menjatuhkan air mata sampai mengisi cawan kehidupan di kampus ini. Seperti hujan yang Kadang-kadang mengguyur kampus ini, ada saat saat di mana tekanan akademik, tantangan sosial, atau kegagalan pribadi membuat kalian merasa terluka dan lelah. Namun, ingatlah bahwa setiap tetes air mata yang jatuh adalah bagian dari proses tumbuh dan belajar. Itu adalah tanda bahwa kita telah berani mencoba, berani gagal, dan berani untuk bangkit kembali. Air mata itu juga mengingatkan kita bahwa di balik setiap kesulitan ada pelajaran berharga yang akan membantu kita tumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri

MABA, ini adalah surat ku untuk kalian, para protagonis dalam kisah kampus ini, kampus ini adalah dunia yang menunggu untuk di jelajahi, dan mungkin tersimpan dalam setiap detik yang berlalu, akan memberikan untuk melangkah maju.

Selamat menjalani setiap bab dalam buku kampus ini. Jadilah penjelajah yang berani, penikmat ilmu yang lapar, dan pencari makna yang penuh semangat. Selamat menulis kisah kampus yang tak terlupakan.

MABA, ini suratku dari mahasiswa yang telah melalui bab-bab berwarna di kampus ini. Saat kalian menemukan diri kalian terjebak dalam momen kebingungan atau ketidakpastian, ingatlah bahwa kalian tidak sendirian. Kami, para senior, adalah teman yang selalu siap untuk membantu kalian menavigasi air yang kadang deras, namun penuh dengan keindahan.

Kampus ini lebih dari sekadar bangunan dan mata kuliah. Ini adalah jaringan hubungan, pertumbuhan diri, dan penemuan kekuatan yang mungkin sebelumnya kalian tidak ketahui. Ini adalah tempat di mana kalian akan belajar, mengenal, tumbuh, dan menemukan diri kalian sendiri.

Jadi, MABA, sambutlah kampus ini dengan mata terbuka dan hati yang lapang. Ini adalah awal dari petualangan yang menarik. Ini adalah waktu untuk menemukan potensi tersembunyi kalian, baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam diri kalian sendiri.

Penulis adalah salah satu mahasiswa aktif Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari.

Transformasi Energi Fosil Ke Energi Bersih Sebagai Peluang Di Era Mendatang

Penulis : Hendra Setiawan

Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Potensi berdasarkan dari buku Statistik EBTEK terkait energi terbarukan di Indonesia meliputi: Energi surya yang besar, mencapai 207,9 GW. Energi angin: Potensi energi angin di Indonesia mencapai 60,64 GW. Energi air.

Indonesia memiliki potensi energi hidro yang mencapai 94,47 GW..Dan menurut saya Biomassa bisa juga menjadi alternatif sebagai energi baru yang sangat potensial di Indonesia.

Pemanfaatan sumber energi terbarukan di Indonesia dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak negatif lainnya dari penggunaan bahan bakar fosil.

Selain itu, pengembangan sumber energi terbarukan juga dapat membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu terus mendorong pengembangan sumber energi terbarukan melalui kebijakan dan program yang tepat.

Apalagi sekarang dampak energi fosil sudah sangat keliatan dibeberapa kota terkhusus ibu kota Indonesia, energi terbarukan ini merupakan win solusion untuk semua daerah di Indonesia agar mencengah pencemaran lingkungan yang lebih parah untuk masa mendatang.

 

Pemilu 2024: Observe Peran Mahasiswa Sebagai Organ Vital Pemilu, Recovery Democracy Bermartabat

Oleh : Enggi Indra Syahputra

Mahasiswa pada umumnya merupakan seseorang yang sedang melanjutkan pendidikan kejenjang Perguruan Tinggi baik itu Negeri maupun Swasta.

Pada hakikatnya Mahasiswa Telah dikenal sebagai salah satu elemen Masyarakat Intelektual yang memiliki historia dalam proses perjalanan bangsa Indonesia.

Sebagai Kaum Akademisi tentunya sumbangsih dari mahasiswa sangat diperlukan dalam berbagai sektor demi kemajuan dan perkembangan Bangsa.

Sebagaimana mahasiswa dipercaya sebagai Penyambung lidah rakyat yang masih suci,idealis, dan terlepas dari titipan kepentingan diluar harapan rakyat.

Menghadapi memontum Pemilu serentak 2024, banyak fenomena yang tidak biasa terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya. Banyaknya Peran Mahasiswa yang menjadi penggerak calon kepala daerah, telah meluluh lantahkan Eksistensi mahasiswa sebagai agent of Change dan Sosial Of Control, mewakili masyarakat mengontrol dan mengawasi segala bentuk proses dinamika berbangsa dan bernegara, juga kebijakan yang kemudian diambil oleh pemerintah untuk mewujudkan perubahan sosial yang lebih baik.

Saat ini, Partai politik telah melakukan konsolidasi internal partai. Suasana pemilu kian terasa bahkan menjadi wacana yang begitu hangat untuk diperbincangkan. Suguhan wacana politik pun hadir disetiap media baik itu media mainstream maupun media sosial.

Menjelang pemilu 2024 masyarakat akan disajikan berbagai macam kampanye dengan jualan program pendidikan gratis dan pelayanan kesehatan gratis dengan seribu nawacita untuk kesejahteraan rakyat. Wacana yang sering kita dengar pada setiap pencalonan baik untuk calon anggota legislatif maupun calon presiden dan wakil presiden. Hal inilah membuat idealisme dan Marwah sebagai mahasiswa sedang diuji. Terbukti banyaknya kontribusi mahasiswa sebagai tim sukses pasangan calon presiden maupun peluncur calon anggota legislatif dibeberapa tingkatan pada 2024 mendatang.

Bukan hal yang tabuh jika para politikus mencoba menggait mahasiswa dan menjadikannya sebagai garda terdepan mensosialisasikan pasangan calon baik dalam media sosial maupun dalam kehidupan nyata, mengingat Mahasiswa adalah salah satu pilar penegak demokrasi yang merupakan pemilih dan memiliki nalar intelektual yang mempuni sehingga peran Mahasiswa tak bisa dianggap remeh dalam mengakomodir massa dan mempengaruhi masyarakat pada umumnya.

Adiktif mahasiswa menjadi peluncur politik bukan lain adalah karena telah terhasut oleh kepentingan kepentingan kelompok tertentu dengan jaminan ketenaran sosial dan menjadi “Sebagai” jika paslonya yang memenangkan pemilu. Terlebih jika ada kepentingan jangka panjang yang mampu menunjang kehidupan mahasiswa-mahasiswa tersebut.

Mahasiswa harusnya tidak melupakan kultur sebagai kaum intelektual yang wadahnya berada dikampus mengontrol dan mengawasi segala sesuatu dalam kehidupan sosialnya. Bukan keluar dari cita menjadi gerakan politik dan turut andil dalam pusaran kekuasaan. Bagian dari mahasiswa banyak yang menyanyangkan kebanyakan mahasiswa saat ini malah memperkeruh dinamika perpolitikan yang biasa kita lihat dan membaca disosial media.

Tetapi bukan berarti mahasiswa harus apatisme terhadap proses politik seperti pemilihan umum kepala daerah. Sehingga peran yang Menjadi sangat Fundamental bagi mahasiswa dalam pemilu adalah memastikan proses demokrasi berjalan dengan baik, memberikan pendidikan politik sebagaimana arti kata dan tujuan politik itu sendiri. Dalam menghadapi momentum pemilu nalar kritis dan idealisme mahasiswa menjadi hal yang harus dijaga. Akan tetapi bukan berarti acuh terhadap semua proses politik apalagi harus pesemistis dan Apriori terhadap sistem kekuasaan.

Terlalu banyak a duty and responbility yang melekat dalam indentitas kita sebagai mahasiswa. Sehingga peran yang Menjadi sangat Fundamental bagi mahasiswa dalam pemilu adalah memastikan proses demokrasi berjalan dengan baik, memberikan pendidikan politik sebagaimana arti kata dan tujuan politik itu sendiri.

Dua lembaga penting dalam pemilu,  yang pertama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sebagai pelaksana penyelenggaraan tahapan pemilu itu sendiri, yang Kedua Badan Pengawasan Pemilu sebagai lembaga yang bertugas melakukan pencegahan, Pengawasan,dan Penindakan.

Tetapi bukan hal yang tidak mungkin jika kedua lembaga tersebut akan bekerja secara maksimal dan memastikan proses demokrasi berjalan dengan baik dan bijaksana. Bukan tidak mempercayai kinerja dari kedua lembaga tersebut, belajar dari kejadian di masa yang silam banyaknya kasus yang kemudian menyeret sejumlah anggota lembaga tersebut baik dari tingkat Nasional maupun provinsi.

Ada beberapa kasus yang kemudian menjadi rujukan sehingga lembaga mahasiswa tidak boleh absud dari perpolitikan yang terjadi, dengan tugas dan tanggungjawab sebagai agent of Change dan Sosial Of Control. Selain mengawasi dan mengontrol proses politik yang berlangsung, kelompok mahasiswa juga menjadi sentral koeksistensi sosial menghadapi pemilu kali ini guna memperbaiki kualitas demokrasi bangsa Indonesia.

Sistem pemerintahan Indonesia berdasarkan konstitusi UUD 1945 telah menetapkan bahwa partai politik satu satunya kendaraan menuju lembaga kekuasaan (Politik) sehingga dalam hal ini mahasiswa tidak harus apatis terhadap proses politik yang berlangsung terlebih mendekati moment pemilu serentak. Tetapi pada dasarnya keterlibatan mahasiswa dalam proses politik tanpa menafikan dirinya sebagai kaum intelektual dengan idealisme yang tinggi.

Mahasiswa mempunyai titik istimewa tersindiri demi menyukseskan pemilu. Menjadi kontribusi politik yang nyata jika mahasiswa berperan aktif dalam proses demokrasi yang baik dan bermartabat.

Karena pemilu yang bermartabat akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan seharusnya hal seperti itulah yang Menjadi peran politik mahasiswa.

Mahasiswa juga dikenal sebagai kaum intelektual yang mempunyai nalar kritis sehingga peran mahasiswa dapat melakukan kontrol dan pengawasan terhadap setiap proses politik yang berlangsung.

Ada beberapa hal mengapa mahasiswa menjadi Organ Vital dalam pemilu Dalam hal pengawasan. Tentunya Kita harus menyadari bahwa BAWASLU sebagai lembaga pengawas pemilu memiliki keterbatas personil sehingga secara subjektif perlu adanya peran peran mahasiswa yang kemudian berpatisipasi mengawasi pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan berkualitas.

Ditambah luas wilayah pengawasan yang luas di tiap tiap daerah yang melaksanakan pemilu.

Peran yang sangat krusial mahasiswa hingga menjadi Organ Vital dalam pemilu, menyadari banyaknya angka golput pada pemilih milenial. Dari data hasil survey organisasi partisipasi pemilih Joune & Raccord menyebutkan bahwa potensi golput atau tidak memilih pada momentum pemilu 2019 adalah mencapai 40 persen. Sehingga bukan tidak mungkin pada pemilu 2024 ini angka 40 persen tersebut akan semakin bertambah.

Komisioner KPU RI juga mengatakan untuk mengandeng Partisipasi pemilih Milineal dalam pemilu akan bekerja sama dengan berbagai universitas yang ada di Indonesia. Sehingga menjadi peran vital Mahasiswa demi meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pemilu terutama dikalangan Milineal. Dari beberapa persoalan tersebut yang menjadi Rujukan sehingga mahasiswa sebagai organ vital dalam pemilu.

Mahasiswa tetap menjadi kaum akademisi yang mempunyai nalar kritis, memiliki tugas dan tanggung jawab melakukan pengawasan dan kontrol terhadap kondisi sosial. Memastikan jalannya demokrasi yang baik dan bermartabat.

Dalam momentum Pemilu serentak, Mahasiswa mempunyai kontribusi politik yang nyata tanpa mencederai nilai intelektualnya yaitu dengan membantu mengawasi dan mengontrol jalannya proses demokrasi. Mahasiswa berperan sebagai garda terdepan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pemilu guna menghasilkan pemimpin yang terbaik.

Membunuh tuhan Karena Tuhan

Oleh : Wahyudin Wahid

Sebelum kehadiran agama, fenomena tentang kepercayaan yang dianut oleh manusia sangat bervariatif, baik dianut secara individu maupun secara kelompok pada satu wilayah tertentu. Kepercayaan tersebut merupakan warisan leluhur yang kemudian dilakukan secara kontinu sehingga melahirkan tata nilai yang melembaga dalam tradisi masyarakat, salah satunya ialah sakralisasi terhadap pohon, gunung, ataupun benda-benda yang dianggap mempunyai satu kekuatan ghaib untuk mementukan nasib manusia.

Dalam konteks Nilai-Nilai Dasar Kepercayaan (NDP) HMI, Kepercayaan-kepercayaan itu akan menghambat kemajuan sebuah peradaban, sehingga dianggap bertentangan dengan fitrah manusia sebagai khalifah di bumi yang mempunyai value tertinggi diantara entitas makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Maka, sangat tidak logis ketika manusia yang cenderung kepada kebenaran dan kebaikan serta hasrat untuk mencari kebenaran dan keparipurnaan hidup itu menghamba kepada sesama ciptaan Tuhan yang memiliki nilai dibawah manusia itu sendiri.

Pada periode arab pra islam, dimasa jahiliah, penghambaan masyarakat kembali ditujukan kepada berhala-berhala. Berhala-berhala itu mereka anggap mampu untuk menentukan nasib, memberi rejeki, kekuatan, dan pengobatan kepada manusia. Jauh sebelum mereka melakukan itu, Nabi Ibrahim As dalam eksperimen theologisnya telah membantah akan adanya kuasa dari berhala berhala yang disembah oleh masyarakat pada saat itu.

Dalam eksperimen theologis itu, Nabi Ibrahim As telah membuat raja namrud mengakui bahwa berhala tidak mempunyai kuasa untuk menghancurkan berhala lain, apalagi untuk menentukan nasib manusia serta menunjukkan kekuasaan Allah SWT dengan fenomena keluarnya nabi ibrahim dari kobaran api saat hendak dibakar oleh raja namrud.

Melihat kebiasaan masyarakat itu, Rasulullah SAW, merasa gelisah kemudian berkhalwat di Gua Hira selama beberapa hari, kemudian diberikan wahyu hingga perintah menyebarluaskan agama islam.

Proses islamisasi ditandai dengan mengucapkan kalimat syahadat, yakni persaksian bahwa tiada tuhan selan Tuhan (syahadat tauhid) dan persaksian bahwa Rasulullah SAW adalah utusan Allah.

Syahadat tauhid, terbagi menjadi dua, yaitu kalimat pengecualian (negasi) dan kalimat penegasan (afirmasi). Kalimat negasi dalam hal ini ialah kata “tidak ada tuhan,” sedangkan kalimat afirmasi ialah kata “selain Allah SWT.

Dalam implementasinya, syahadat mengarahkan manusia untuk kemudian membunuh dan mengharamkan tuhan-tuhan lain dan mengecualikan satu Allah yang merupakan kebenaran mutlaq, asal dari segala asal, sebab dari segala sebab, dan tujuan dari segala kenyataan alam semesta yang luas ini.

Hal tersebut juga sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Al-An’am (6 : 19), Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَا دَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗ شَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗ وَاُ وْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْـقُرْاٰ نُ لِاُ نْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَئِنَّكُمْ لَـتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰى ۗ قُلْ لَّاۤ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur’an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi.” Katakanlah, “Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).”

Penegasan selanjutnya, terkait mengapa kemudian Rasulullah begitu berani untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT, dijelaskan dalam surah Al-Ikhlas (112 : 1-4):

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.”

اَللّٰهُ الصَّمَدُ

“Allah tempat meminta segala sesuatu.”

لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ

“(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

“Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

Q.S Al-ikhlas (112 : 1-4) isi selanjutnya dijelaskan dalam Q.S Asy-Syura (42 : 11), bahwa mengapa kita sebagai manusia harus membunuh atau meniadakan tuhan-tuhan lain selain Allah SWT, karena secara sosio historis belum ada fakta yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang setara dengan Allah, dengan indikator kesetaraan sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Sehingga sebagai umat muslim, kita dituntut untuk kemudian melepaskan diri dari tuhan-tuhan lain selain Allah SWT. Secara umum, tuhan-tuhan kecil bukan hanya dalam bentuk berhala yang nampak oleh mata, akan tetapi segala bentuk kepercayaan-kepercayaan yang berpotensi menurunkan kadar keimanan kita terhadap Allah SWT, Tetlebih kepada kepercayaan yang didasarkan kepada laqlid semata.

Sebagai penguatan dan penutup dari tulisan ini, kami kami sertakan Q.S Al-Isra’ (17 : 36), Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)

Sebagai kesimpulan, bahwa dalam setiap aktifitas yang kita lakukan sebagai umat muslim, baik itu yang berkaitan dengan theologi, humanitas, maupun kosmologi, hendaklah selalu kita sandarkan kepada Allah. Tidak ada pengharapan lain dari apa yang kita lakukan dalam perjalanan menciptakan sejarahinj, selain dari ridha Allah SWT.

Billahitaufiq Wal Hidayah,
Wassalamu’alaikum, Wr.Wb.

UKM Pers IAIN Kendari sebagai Pilar Kebenaran dan Aspirasi Mahasiswa 

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers merupakan salah satu entitas penting dalam kehidupan kampus IAIN Kendari yang tidak dapat diabaikan. Pada perayaan ulang tahunnya yang ke XXV ini, harus mengakui peran penting yang telah dimainkan oleh organisasi ini dalam menyuarakan kebenaran dan aspirasi mahasiswa.

Di tengah gejolak dunia media saat ini, di mana berita hoax dan narasi yang terdistorsi dengan mudah menyebar, UKM Pers IAIN Kendari diharapkan hadir sebagai pilar penjaga kebenaran yang berfungsi sebagai pengawal yang berani dan jujur, memberikan sudut pandang yang berbeda dan memperjuangkan isu-isu penting yang terkadang terabaikan oleh media mainstream.

Melalui tulisan-tulisan dan liputan UKM Pers IAIN Kendari diharapkan terus memperjuangkan keadilan, membawa isu-isu sosial ke permukaan, dan memberikan suara kepada mahasiswa yang sering kali tidak didengar.

UKM Pers semoga senantiasa tampil sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani berbicara, bertindak, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Namun, tentu saja hal itu tidaklah mudah, beragam tantangan akan dihadapi oleh UKM Pers IAIN Kendari. Dalam era digital yang serba cepat ini, media sosial menjadi platform utama dalam menyebarkan informasi.

Meskipun memiliki potensi besar untuk menjadi alat yang kuat dalam menyuarakan aspirasi, media sosial juga dapat menjadi sarang hoaks, berita palsu, dan retorika yang membawa polarisasi.

Oleh karena itu, UKM Pers IAIN Kendari harus mampu menjaga integritas dan kebenaran sebagai pilar utama dalam karyanya.

UKM Pers IAIN Kendari harus mampu menyaring informasi, memverifikasi fakta, dan menyajikan berita yang akurat dan berimbang. Dalam menghadapi gelombang informasi yang meluas, UKM Pers harus tetap menjadi tolok ukur kebenaran dan menjadi pelopor dalam memerangi disinformasi.

Ulang tahun ke XXV ini adalah momen yang penting bagi UKM Pers IAIN Kendari untuk merenung dan melihat kembali perjalanan yang telah dilalui. Pada saat yang sama, ini adalah kesempatan untuk menatap masa depan dengan semangat baru, memperkuat komitmen mereka dalam menyuarakan kebenaran, keadilan, dan keterbukaan.

Selamat ulang tahun UKM Pers IAIN Kendari! Teruslah menjadi sumber kebenaran dan penjaga aspirasi mahasiswa. Semoga semangat dan dedikasinya terus membara, dan senantiasa membentuk opini publik yang berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Penulis Irma Irayanti, S.HI., M. Pd adalah Dewan Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa Pers (UKM-Pers) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari.