Perpisahan Sekolah dan Kehidupan Hedonis: Mengapa Kita Harus Berubah?

Objektif.id – Acara perpisahan dan penamatan sekolah telah menjadi fenomena baru saat ini mulai dari tingkatan TK hingga SMA, anak-anak dikondisikan merasakan momen wisuda. Namun, di balik perayaan ini, sekolah-sekolah tanpa disadari mengajarkan anak-anak untuk hidup hedonis dan memberatkan orang tua.

Banyak orang tua yang mengeluhkan kesulitan dalam mengikuti kegiatan perpisahan ini. Keterbatasan dana menjadi alasan utama, karena mereka memiliki kebutuhan mendesak lain yang harus dipenuhi. Ironisnya, ada cerita tentang orang tua yang bahkan tidak mendapatkan bagian makanan dalam acara perpisahan setelah membayar mahal. Fenomena ini mengungkap pergeseran pola pikir dan pola hidup di sekolah-sekolah kita.

Bukankah karakter itu juga berasal dari keteladanan yang bukan hanya di dapat di rumah namun juga di sekolah dan masyarakat. Jangan sampai tanpa disadari kita lah yang merubah anak-anak kita menjadi tidak lebih baik.

Colby dan Damon (1992) mengungkap bahwa komitmen terhadap nilai dan prinsip moral, mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan moral. Hal ini akan berbahaya jika berlangsung secara terus menerus dan konsisten sehingga menjadi budaya.

Sekolah-sekolah tampaknya berlomba-lomba untuk tampil lebih hebat dan lebih baik daripada sekolah lainnya dengan menjadikan perpisahan dan penamatan sebagai ajang kehebohan dan kemewahan. Namun, apakah tidak lebih baik jika anggaran yang dikumpulkan oleh pihak sekolah digunakan untuk melatih kebajikan bagi anak-anak, terutama mereka yang masih berada di tingkat PAUD dan sekolah dasar, untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya?

Menanam pohon, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, atau melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan akan membentuk karakter anak-anak sedari dini. Pilihan ini jauh lebih bermanfaat daripada menyuguhkan gaya hidup hedonis yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis dan mental mereka.

Meskipun hal ini terlihat sederhana, namun jika dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi keharusan, akan menambah beban bagi orang tua yang seharusnya mendapatkan pendidikan gratis, yang hanyalah sebuah harapan tanpa kenyataan.

Lebih lanjut, gaya hidup perpisahan yang membutuhkan kemampuan finansial juga akan menciptakan kesenjangan di antara siswa-siswa, baik dari segi ekonomi maupun rasa percaya diri. Anak-anak yang tidak mampu secara ekonomi akan merasa rendah diri karena tidak dapat membeli atau menyewa pakaian sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh sekolah.

Upaya maksimal yang dilakukan oleh orang tua untuk memenuhi tuntutan ini, bahkan dengan berhutang, jauh dari prinsip hidup sederhana yang seharusnya diajarkan dan diterapkan.

Sekolah seharusnya menjadi salah satu tiang pembentuk karakter moral siswa. Karakter moral tidak hanya ditentukan oleh keluarga dan masyarakat, tetapi juga oleh sekolah. Jika sekolah mengajarkan anak-anak untuk hidup mewah dan hedonis, maka perilaku siswa di masa depan akan terbentuk sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, perlu ada refleksi terhadap fenomena perpisahan yang terjadi saat ini.

Pada masa lalu, perpisahan sekolah dilakukan secara sederhana, dengan membawa makanan yang dimasak oleh ibunda tercinta atau nasi kuning yang dibeli pada tetangga ke sekolah, atau bahkan diadakan di tempat wisata sebagai ajang silaturahmi antara orang tua, anak, dan guru. Namun, saat ini, fenomena baru muncul, terutama di Kota Kendari, di mana perpisahan dilakukan di hotel dengan nuansa glamor dan hedonis.

Lain lagi dengan acara di tingkat SMP dan SMA yang diadakan dalam bentuk Promp Night yang jelas di adopsi dari budaya luar, hal ini memberikan nostalgia bagi mereka yang mampu, tetapi menjadi nostalgila bagi mereka yang tidak memiliki dana cukup untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Sekaranglah saatnya kita mengubah paradigma. Kita perlu lebih empati terhadap mereka yang jauh dari gaya hidup hedonis. Pendidikan harus menjadi landasan dalam membentuk karakter moral anak-anak kita. Biaya yang dikeluarkan untuk perpisahan sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti membantu siswa-siswa yang membutuhkan seragam sekolah atau perlengkapan lainnya, atau bahkan membantu mereka dalam memasuki sekolah baru.

Kita harus mengajarkan anak-anak untuk hidup sederhana, menghargai lingkungan, dan memiliki rasa kepedulian sosial serta semangat gotong royong.

Dalam menghadapi perkembangan zaman, kita harus menjadi penentu arah yang akan dibawa anak-anak kita dan menentukan masa depan karakter mereka. Saatnya menghentikan tren gaya hidup hedonis dalam perpisahan sekolah, dan memprioritaskan nilai-nilai yang lebih penting bagi pembentukan karakter moral yang kuat dan berdaya.

Melalui tulisan ini, saya berharap fenomena perpisahan dan penamatan sekolah saat ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Mari kita perbaiki arah pendidikan di Indonesia dan menumbuhkan anak-anak yang memiliki karakter moral yang kokoh, peduli terhadap lingkungan, dan mampu berempati terhadap sesama.

Penulis adalah salah satu Dosen Iinstitut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari dan Cand. Doctor PKN.

Penulis: Irma Irayanti, S.HI., M. Pd
Editor: Redaksi

Polemik Muka Putih dan Leher Hitam

Objektif.id – Perguruan tinggi adalah wadah atau tempat seseorang menempuh pendidikan untuk mendapatkan ijazah, tidak dapat dipungkiri label kampus ternama akan banyak diminati oleh para mahasiswa saat ini. Faktor utamanya adalah mengenai peluang kerja dari program studi yang diinginkan.

Mahasiswa sering disebut “Agen Of Chainge” artinya artinya agen pembawa perubahan, katanya. Dari stigma ini tentunya menjadi beban berat bagi kalangan mahasiswa yang tentunya harus menjadi suri teladan bagi dirinya, keluarga, masyarakat, terutama bangsa dan negara.

Kali ini kita akan membahas perihal Muka Putih dan Leher Hitam. Tentunya jika kita mendengar ungkapan tersebut pasti dalam pikiran kita terlintas tentang kecantikan/ketampanan, skin care, perawatan, dan istilah glowing lainnya. Tentunya penulis bukan membahas konteks itu, canda ji.

Istilah Muka Putih dan Leher Hitam ini mencerminkan tentang sistem pendidikan kita saat ini. Penulis mengibaratkan Muka Putih sebagai sistem pendidikan yang bermakna positif yaitu suci dan terjauh dari bentuk korupsi dan intervensi. Menurut pandangan penulis istilah Muka Putih ini mewakili gambaran pendidikan yang terjadi saat ini. Sebab berbicara tentang era pendidikan saat ini penulis mengakui ditunggangi oleh orang yang tepat, mulai dari menterinya dan jajarannya, sehingga sampa saat ini pendidikan berjalan stabil.

Sedangkan istilah Leher Hitam ini bermakna negatif yaitu kebijakan pendidikan yang kurang tepat saat ini. Ini mencerminkan kecelakaan berpikir dari kebijakan pendidikan saat ini. Dapat kita lihat banyak kebijakan dikampus saat ini yang kurang tepat, contohnya program kampus merdeka, seakan program ini yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Terbukti didalam dunia kampus mahasiswa kebanyakan diberikan tugas makalah dan tidak diberikan kebebasan berekspresi.

Sebenarnya didalam kampus kita diberikan teori dan dibarengi dengan tindakan nyata atau praktek lapangan langsung, karena saat kita dihadapkan dengan dunia kerja teori saja tidak cukup untuk menghidupi keluarga tanpa adanya tindakan nyata.

Selain itu, ada kebijakan yang akan dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu dihilangkannya seleksi CPNS diganti dengan PPPK (Guru Kontrak).

Memang tujuannya memberikan kesempatan bagi guru honor agar mendapatkan posisi yang lebih layak, tetapi bagaimana nasib kami sebagai mahasiswa yang belum memiliki riwayat mengajar disekolah.

Maka dari itu, mulai sekarang mari kita pikirkan masa depan pendidikan apabila kebijakan tidak tepat, apalagi kita sebagai mahasiswa.

Penulis: Muh Iqbal Ramadhan
Editor: Redaksi

Paradoks Asmara Pelajar dan Urgensinya

Oleh: IH

Kujunjung perempuan tinggi-tinggi…
Aku bersimpuh dihadapan mereka,
Dan layaknya tiap pemuja sejati,
aku merasa diriku tak layak di hadapan objek yang kupuja. (NIKOLA TESLA)

Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga begitulah untaian kalimat dari lagu yang termuat dalam syair lagu bang haji Rhoma irama. Namun sebagian orang menafsirkan kata cinta dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata menjadi dengan cinta kita rusak taman berbunga itu. Pelajar menjadi Aktor utama setiap sinopsis Cinta yang berujung malapetaka. Berdasarkan data, banyak pelajar di luar sana yang mengalami hamil di luar nikah, akibat dari menjalin asmara di momen yang belum tepat . Menurut data Komnas perempuan jumlah perempuan yang dispensasi perkawinan anak meningkat 7 kali lipat sejak 2016. Total permohonan dispensasi pada 2021 mencapai 59.709 . Hemat penulis sebagian anak muda Indonesia, menikah hanya modal cinta, nafsu. Dan kurangnya pemahaman definisi cinta secara universal, cinta di maknai hanya pada pasangan semata. Cinta identik dengan Seks. Itulah mispersepsi tentang cinta.

Opini ini bermaksud untuk menguraikan dan menjelaskan tentang Kontroversi dan pelajar yang menjalin asmara secara tidak sah di mata hukum dan agama, serta apa urgensi nya. Pelajar yang dimaksud Mahasiswa, siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP). Sedangkan Asmara menurut KBBI adalah perasaan senang kepada lawan jenis.

Cinta Dan Fitra Manusia.

Rasaya kurang elok jika tak membahas asmara namun kita membicarakan cinta. Sebab cinta dan asmara satu kesatuan yang tak dapat terpisahkan. Sejarah mencatat awal mula manusia berbuat dosa, dan manusia mendapat sanksi oleh tuhanya atas perbuatan tersebut adalah dampak dari menuruti hawa nafsunya yang didorong atas nama cinta. Dalam perspektif agama samawi kejatuhan manusia di muka bumi ini di awali dari cinta. Adam dan Hawa dua sosok yang sedang jatuh cinta menikmati Surya-Nya. Adam Mengikuti langkah Iblis atas dasar perintah kekasihnya Hawa. Cinta menjadi pokok dan sumber masalah jika salah di pahami dan di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Banyak pandangan para ahli tentang cinta namun penulis lebih sependapat dengan Ibnu Qayyim bahwa cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan sesuatu melainkan menambah kabur atau tidak jelas berarti definisinya adalah cinta itu sendiri

Dalam buku The Art Of Loving karya Erich Fromm mengklasifikasikan 5 objek cinta
yaitu :Cinta persaudaraan: cinta terhadap sesama manusia, cinta terhadap orang miskin, menderita, terancam. cinta keibuan: hakikat cinta keibuan adalah pemeliharaan dan pertumbuhan anak, dan keharusan untuk keterpisahan berbeda pada cinta erotis, dua orang yang berpisah menjadi satu dalam keibuan dua orang yang bersatu lalu berpisah. Cinta erotis: mendambakan peleburan, penyatuan dengan pribadi lain serta eksulisif, tidak universal, mudah terpedaya oleh keinginan seksual serta berawal dari impresi jatuh cinta, runtuhnya batas diantara dua orang yang semula asing, selanjutnnya yang asing itu menjadi intim . Cinta diri: cintailah sesamamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri menunjukan bahwa sebelum mencintai sesama harus punya cinta terhadap diri sendiri. Adapun Cinta Tuhan seperti kebutuhan akan keteropisahan,dambaan akan pengalaman penyatuan, anugrah dan inayah, yang kemudian disebut manusia iman.

Cinta yang dipahami oleh sebagian anak muda adalah tentang cinta erotis. Cinta lawan jenis (Heteroseksual). Ataupun sesama jenis (guy, lesbian).

Sebagai makhluk tuhan yang di ciptakan dengan kesempurnaan di antara makhluk ciptaan di bumi lainya, dengan standard paripurna atas ciptaan itu adalah akal, akal inilah kemudian yang menafsirkan atas persepsi yang ia lihat dari realitas kehidupan ini . maka dalam konteks cinta perasaanlah yang menghadirkan cinta. Akal hanyalah pemicu dalam menghadirkan cinta, peran hati atau perasaan sangat besar sehingga tidak salah kemudian pepatah mengatakan “cinta datangnya dari mana, dari mata turun ke hati”

Perempuan Adalah Malapetaka

Jika kita membaca cerita metafor seperti yang di gambarkan manusia pertama kali melakukan dosa pertama dengan menerima konsekuensi atas perbuatan itu lalu nabi adam di usir dari surga dan diturunkan ke bumi. Skenario itu perempuan berperan penting proses turunya manusia di bumi. Maka seandainya perempuan siti hawa dapat menolak ajakan Adam yang berasal dari skema politisasi iblis untuk memakan buah khuldi, mungkin saja manusia hari ini masih berada di surga-Nya. Namun sekali lagi cerita itu hanyalah metafor dan penganalogian. Nah menurut hemat penulis di sini awal mula perempuan menjadi malapetaka. Pada sisi lain bible juga berbicara tentang perempuan kaitanya dengan sejarah Hawa (eva) sebagai sosok yang merayu adam untuk berbuat dosa . Bahkan dalam perspektif hukum setiap kejahatan perempuan terdapat peran di belakangnya.

Lanjut, Dalam konteks seorang pelajar penulis menganggap perempuan itu sebuah malapetaka, penghambat. jika berbicara ingin mengembangkan setiap potensi diri kita dan berproses di kampus/sekolah. Akan menjadi masaalah di kemudian hari apa bila pacar kita ini mengintervensi untuk membagi meluangkan waktu kita. Bagaimana rumitnya mendapat pacar yang posesif, selalu mempertanyakan keadaan kita di setiap saat. Juga ada hubungan yang sifatnya hanyalah candaan dan mempermainkan perasaan.Penulis mempelajari pada setiap lembaga kampus yang menduduki ketua-ketua lembaga kemahasiswaan, mahasiswa berprestasi di akademik dan non akademik, mempunyai karya adalah mereka yang fokus mengasah diri, mengembangkan potensi diri dan mengexplore bakat mereka, dan tentunya mereka bukan penganut paham bucinisme.

Bagi seorang pelajar, Pisau analisis kita sehingga perempuan tidak menjadi malapetaka dalam meraih cita cita, maka perempuan harus posisikan dia, apakah ia sesuatu yang mendesak atau penting jika status nya seorang pelajar. Juga, menempatkan perempuan dalam konteks asmara apakah ia sesuatu hal mendesak atau penting. Di mulai pertanyaan sederhana ini membaca opini ini penting atau mendesak? Tentunya membaca adalah hal yang penting namun tidak mendesak. Membaca dapat kita jadwalkan di waktu yang lain, dan boleh kita jadwalkan di setiap waktu kosong kita.Kondisi dimana aktivitas tersebut kita kategorikan mendesak, yaitu jika kita tidak melakukan aktivitas tersebut mempunyai konskuensi logis yang tak dapat di ulangi lagi” contohnya seorang pekerja pemadam kebakaran, dan menjenguk orang tua yang sedang sekarat.

Perempuan apakah mendesak atau penting jika statusnya pelajar?
Berangkat dari kerangka berfikir di atas maka asmara bukanlah hal yang mendesak bagi seorang pelajar. Artinya pada fase ini, sebagai pelajar masih dapat kita ulangi pada momen momen tertentu dalam mencari pasangan asmara kita.

Satu keharusan bagi pelajar untuk menyelesaikan misi yang diberikan oleh orang tuanya sebagai harapan keluarga.
Begitu pula perempuan laki-laki bukanlah sesuatu yang mendesak namun penting untuk disuruh-suruh dan manfaatkan tenaga mereka yang kuat.
Di sisi lain perempuan tidak selamanya menjadi malapetaka itu hanya oknum hawa saja sebab manusia di ciptakan begitu sempurna oleh sang pencipta. Namun jika perempuan adalah sumber masaalah. Penulis sepakat.!

Menggugat Asmara Pelajar

Seperti di jelaskan di awal cinta adalah fitra manusia sehingga sulit untuk di pisahkan dari kehidupan kita. bukan bermaksud untuk menjadi anti terhadap dunia kasmaran, namun harus di kurangi, mengefesienkan waktu yang ada untuk memahami dan mempersiapkan diri menjemput Cinta Sejati, bukan menghilangkan cinta dari kehidupan ini. Sebab segala sesuatu diciptakan didunia didasari atas nama cinta. Ingatlah ketika kita lahir di dunia ini adalah hasil kerja sama dari orang tua kita yang saling mencintai dengan cinta yang tulus dan ikhlas. Asmara yang berlandaskan Nilai kemanusiaan dan Kehormatan.

Mirisnya, Asmara yang yang kita lihat adalah asmara yang melahirkan aborsi, asmara menciptakan kemiskinan, asmara yang disahkan secara paksa dispensasi KUA, nyata adalah kecerobohan, asmara yang melahirkan kebencian. Ironinya sepotong kata cinta dapat memperkosa perempuan. Kita tidak lagi melihat asmara seperti di gambarkan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, Asmara Romeo Juliet, Qais dan Layla.

Realitas hari ini kampus dijadikan wadah kontak jodoh. Dari berbagai sudut Penjuru wilayah, kampung, suku, ras, agama, terhimpun di dalam kampus. Tidak jarang terjalin hubungan asmara praktis kurun waktu 4 tahun itu dan cinta di obral dengan kalimat sebagai penyemangat, alasan di lontarkan : batu loncatan, sampingan, hiburan, lebih mengerikan tempat makan bagi laki-laki perokok mati sambung. Rokonya surya. Hingga puncaknya simulasi pernikahan yaitu kawin mawin. Namun Ketika telah berakhir Kaleidoskop perkuliahan kurun waktu 4 tahun maka tibalah masa berakhirnya asmara yang palsu itu. Puncaknya adalah Perpisahan dan kehilangan. Masing-masing sepasang kekasih hilang kontak, putus komunikasi sadar bahwa kehidupan ini bukan hanya persoalan lendir, klimaks, namun jauh lebih penting dari itu adalah kebahagian orang tua, adik, dan meniti karir menata masa depan yang cemerlang. Kampus di jadikan sandiwara asmara untuk menunda perpisahan.

Dalam diri manusia diumur 18-25 adalah proses pencarian jati diri kita dan mengembangkan potensi diri kita. Ketika asmara merasuki di kehidupan seorang pelajar, harus dipahami ada dikotomi konsentrasi antara cinta dan cita-cita lebih dulu mana yang diprioritaskan. Munafik jika dapat berjalan dengan seirama dalam konteks pelajar.

Juga,Terlalu Naif bagi setiap kalangan mahasiswa (i) membenarkan argumentasi mereka bahwa dengan menjalin hubungan asmara yang tak terhormat (berpacaran) akan menjadi penyemangat (Dorongan Motivasi belajar) kita dalam menjalani aktivitas kampus. Dampak negatifnya adalah ketika putus maka mereka semangat bermahasiswa mereka kurang bahkan galau berhari-hari hanya persoalan romantisme.

Itulah mengapa para ulama islam dan filsuf barat jarang yang ingin melakukan hubungan asmara dengan ikatan yang sah (Nikah). Deretan nama seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Imam An-Nawawi, Isaac Newton, Immanuel Kant, Spinoza, David Hume,Nicholas Copernicus. Kemungkinan besar mengurus rumah tangga akan menyumbat daya kritis dan dapat menyebabkan minim karya di tengah kesibukan mengurus istri, anak, sandang pangan dan papan. Asumsi penulis jatuh cinta adalah kehilangan daya berpikir kritis, kondisi akal dijadikan babu oleh perasaan demi memikirkan masa depan bersama yang abstrak. Orang jatuh cinta membuat seseorang bodoh. Sosok yang dicintainya mendominasi dalam pikiran akal sehatnya.Jatuh cinta pada seseorang dapat lahirkan cinta namun lebih besar melahirkan kebencian. Aneh tapi sulit dirasionalisasi, logika tak mampu menguraikan. Sehingga jatuh cinta kepada pasangan itu satu kekonyolan yang nikmat dan bahagia. Lebih tepatnya cinta itu gila. Gila dimana kondisi akal sehat hilang. Pelajar mengalami gejala kegilaan ringan akibat cinta yang disebut galau dan bucin (budaknya Cinta). Maka jatuh cinta bagi menyandang status pelajar hanyalah menambah masaalah dari masaalah yang bertumpuk-tumpuk.

masalah diantaranya menurunkan daya kognitif pada pelajar, Contoh yang lebih Reel dalam masyarakat kita jika hafalan tak kuat maka mereka mengatakan “ susah juga kalau sudah berkeluarga banyak beban fikiran, susahmi untuk menghafal, mulai turun daya ingatan ta”. Ini pemikiran ikatan yang sah dimata agama dan hukum. Bagaimana dengan asmara pelajar yang tak sah (pacaran) namun selalu mengahantui was-was dan ketakutan akan menimbulkan abrasi ilmu pengetahuan pada diri seorang pelajar. lupa dan lenyap ilmu pengetahuan itu pada akhirnya.

Kemudian jika status mahasiswa yang minim karya dan prestasi menjalani hubungan pacaran boleh jadi Skiripsinya pun ia sulit untuk selesaikan lalu memutuskan Resepsi. Tentunya dampak yang didapatkan oleh seorang pelajar ketika menjalin hubungan pacaran secara garis besar: pengekangan dan hilangnya kemerdekaan pribadi, prestasi menurun, tuduhan berzina, pergaulan terbatas, waktu dan uang terbuang sia-sia, tekanan batin.

Penulis ingin menggugat asmara dari para pelajar (Mahasiswa, sma, smp) itu. Asmara pelajar yang dilakukan dalam bentuk perilaku pacaran, tentu menjadi hal yang wajar jika pegangan tangan, ciuman, healing di gunung, dilaut,puncaknya berhubungan seks dan efek negatifnya dari semua itu bagi pelajar yang notabenenya sedang meggeluti pendidikan akan mengalami dikotomi pikiran dan waktu maka konsentrasi minat belajar akan menurun fase mereka jauh dari makna sebagai harapan keluarga, bangsa dan Negara.
.

Pada binatang, Hewan jantan akan melakukan segala cara memikat hewan betinanya agar bisa kawin kawin. Contohnya burung Cendrawasih jantan akan memamerkan bulu cantik nya dengan tujuan menarik perhatian burung cenderawasih betina lalu kawin mawin. Pada manusia pun demikian, motivasi sebagian mahasiswa untuk bisa menyelesaikan skripsi agar segera resepsi. yaitu menikah dengan orang yang dicintainya, kadang kala syarat untuk diterima adalah dengan menyelesaikan studi sebagai daya tarik kepada keluarga salah satunya. Maka untuk memperjuangkan cinta agar bisa hidup bersama dengan orang yang ia cintai nya,ia harus menyelesaikan studi Sarjana. sadar atau tidak sadar dorongan hasrat seksual (Menikah lalu kawin) akan menjadi motivasi dalam menyelesaikan studi.Bagaimana pun dengan menikah rasa penasaran mendalam terhadap pasangan akan terkuak. Beda halnya jika pasangan pelajar telah melakukan hubungan intim (Bercinta) dengan pasangan nya, sulit untuk mengkonversikan menjadi semangat dalam menyelesaikan studi. Hilanglah semangat meraih cita-cita karena bercinta telah kita lalui. Sebaliknya, proses penyelesaian studi selesai bagi yang menjalani asmara berharap putus dengan pasangan nya sebab rasa penasaran itu telah lama ia rasakan dan temukan. Agak mirip dengan binatang, namun bercinta sebelum cita-cita diraih lebih binatang dari binatang.

Sebagian besar orang menganggap fungsi pacaran adalah sebuah bentuk rekreasi, orang yang berpacaran akan menikmatinya dan menganggap pacaran sebagai sumber kesenangan dan rekreasi. Sebuah penelitian menunjukan responden laki-laki lebih memaknai fungsi pacaran sebagai sumber kesenangan dibanding perempuan. Istilah cinta main-main memiliki presentasi lebih tinggi laki-laki dibanding perempuan. Hal ini menunjukan bahwasanya laki-laki lebih memaknai pacaran dengan sumber kesenangan, sedangka, perempuan lebih memaknai pacaran dengan pencarian status.

Tragedi asmara yang lebih mengerikan pada tingkat perguruan tinggi ditataran kampus adalah Senior berkarat menjalin pacarnisasi dengan junior (perempuan) kampusnya ataupun sesama organisasi, umumnya junior yang polos nan suci dengan niat belajar ke senior tersebut yang di anggap mampu membuka cakrawala wawasan berpikirnya sesuai cita-cita keinginan luhurnya, namun takdir berkata lain senior tipe demikian menafsirkan bukan hanya wawasan yang ia buka namun selangkangan pun akan didekonstruksi, lagi-lagi dibalut sepotong kata suci yaitu CINTA. Demikianlah cinta seringkali terlafadzkan agar cumbu-mesra dapat terealisasikan.

Miskonsepsi Pacaran.

Pacaran sebagai praktik sosial merupakan fenomena baru muncul pada belakangan ini.
Dalam tradisi masyarakat Indonesia telah memiliki budaya tersendiri sebelum Pra-pernikahan. Di Sulawesi tenggara perkawinan adat suku tolaki dimana ada prosesi atas insiatif secara kolektif secara ideal dan normative dilakukan bagian dari prosesi perkawinan yang disebut tahap metiro yang bermakna mengintip, meninjau calon istri. jika kita mencoba memaknai prosesi ini mempunyai kemiripan pacaran (Pra-pernikahan) sebagai mana belum terkontaminasi oleh modernisasi.

Begitu pula pada masyarakat melayu kuno mempunyai kebudayaan tersendiri dalam melangsungkan pra-pernikahan. Pacaran diambil dari kata Pacar. Tumbuhan daun pacar. Pacaran adalah suatu kondisi yang menerangkan bahwa sudah adanya itikad menuju jenjang yang lebih serius antara sepasang laki-laki dan perempuan yang kelak menjadi pasangan sah secara agama maupun Negara. Keduaya ditandai pada jari tangan mereka dengan olahan daun pacar berwarna merah. Dengan tanda kode yang berada tangan sepasang mereka guna memudahkan dilingkungan mereka bahwa sedang pacaran. Lanjut, sang lelaki akan diberikan waktu 3 bulan untuk mempersiapkan diri, belajar ilmu pernikahan, wawasan membina rumah tangga, mencari materi dll.

Istilah pacaran, muncul pada zaman revolusi industri. Dalam buku the whole art Sopan Courtship:Or ladies & Gentlmen’s Love Letter Writer membahas tentang tips membuat surat cinta pada pacar, terbit tahun 1849 dan diketahui menjadi buku pertama denan teman ini. Buku ini menjelaskan secara pasti bahwa tujuan pacaran adalah persiapan pernikahan.

Pada tahub 1920-an pacaran terbentuk dari fungsi utamanya adalah untuk memilih dan mendapatkan seseorang pasangan, sebelum periode ini pacaran hanya bertujuan untuk menyeleksi pasangan, dan pacaran diawasi oleh ketat orang tua, yang sepenuhnya mengendalikan kebersamaan setiap relasi hetereoseksual .

Penulis berpendapat bahwa Pacaran hanyalah metode dalam mengetahui identitas pasangan kita secara Lahiriah. Pendekatan Pra-Pernikahan. Mengetahui karakter, pola pikir, serta asal usul nasab keturunan si pasangan kita.

Pergeseran makna pacaran sangatlah tajam. Pada era modern ini, pacaran menjadi sebuah tradisi pada memasuki usia remaja dan terus dilakukan secara berulang-ulang. SMP punya pacar, SMA punya pacar, Kuliah Play Boy/play girls.

pacaran zaman dulu telah memiliki aturan main sebelum menuju hari H pernikahan dengan tujuan terciptanya keluarga yang bahagia serta mempunyai turunan yang diidamkan. Hal ini jika diibaratkan pada sistem pemilu, KPU telah menetapkan waktu berdasarkan kesepakatan bersama sebagaimana aturan yang ada untuk mencoblos pasangan calon. Begitu pula dalam pernikahan si laki laki mencoblos sesuai aturan waktu yang telah ditentukan, beda halnya zaman sekarang si laki-laki mencoblos sebelum hari H dan bukan atas kesepakatan bersama. Akibatnya menikah bulan januari melahirkan dibulan juli, sebab mengambil panjar memang. Artinya pernikahan tak dapat tercipta keluarga yang harmonis sebab menyalahi aturan main yang ada.

Pacaran zaman sekarang bertolak belakang dengan zaman dulu. Zaman dulu pacaran biasanya hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup dalam rangka mempersiapkan diri ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat dan didalamnya terdapat rambu-rambu sosial sehingga terlihat bernilai dan terhormat dihadapan masyarakat . Sedangkan, zaman sekarang pacaran dilakukan secara berulang-ulang dan waktunya belum ditentukan serta dilakukan secara bebas tanpa adanya rambu-rambu sosial dan terlihat tak bermoral dihadapan masyrakat bahkan diusir oleh masyarakat jika kedapatan pacaran.

Tepatnya pacaran zaman sekarang semacam gaya hidup. Pacaran bukan hanya dilakukan oleh orang yang belum menikah namun sepasang kekasih yang menjalin hubungan asmara secara gelap tetap disebut pacaran.

Tidak seperti dulu pacaran adalah pengenalan pra-nikah didalamnya terdapat bimbingan wawasan keilmuan perkawinan sebagai modal mengarungi bahtera rumah tangga . Akan tetapi pacaran saat ini hanya sebatas pengenalan intim pasangan tanpa adanya upaya menetapkan waktu ke jenjang pernikahan sertaa tak ada bimbingan dari siapa pun belajar secara otodidak tentang pernikahan sehingga putus di tengah jalan. Sekalipun lanjut ke tahap pernikahan biasanya cerai disebabkan kurangnya pemahaman membina rumah tangga yang baik.

Jadi di era ini, pacaran berfungsi melabeli sepasang pelajar yang sedang menjalin asmara mencari kesenangan palsu dan belum dipastikan menuju jenjang pernikahan serta membutuhkan waktu yang lama sampai ke jenjang ke pernikahan bahkan tidak sampai pada jenjang pernikahan. Contoh:Pacaran yang dilakukan oleh anak SMP sama sekali tidak seperti pacaran makna sesungguhnya karena pacaran mereka tidak mempunyai hubungan dengan pernikahan. Dari kacamata agama islam pacaran sesuatu yang haram, di benci oleh pemuka agama karena tidak diajarkan dalam Islam. Taa’ruf adalah metode pra-nikah sesuai ajaran islam. Apa pun namanya entah itu pacaran dan taaruf tergantung siapa yang menjalinya ataupun individunya. Apakah ia telah bersikap dewasa dan punya batasan dalam mengenali sesama jenisnya.

Remaja hari in memahami pacaran dilatar belakangi oleh rasa penasaran yang tinggi terhadap organ lawan jenis dan bertujuan dapat merasakan hubungan seksual. Serta pacaran menjadi lifestyle oleh sebab itu kurang dianggap gaul jika tak mempunyai pacar.

Mencari Titik Temu

Perspektif penulis, tidah mencari pembenaran atau menyalahkan kepada pelajar baik tingkat SMP, SMA, atau tingkat perguruan tingggi untuk mengenal cinta. Yang salah adalah bercinta (berhubungan badan) tanpa ikatan yang sah di mata agama dan Negara. Bagi pelajar fokuslah untuk meraih cita-cita, cinta akan mengikut dengan sendiri nya.Jika telah terhormat status dan kedudukan anda. Di era ini perempuan sangatlah materialis. Karna dunia yang mendefiniskan cantik haruslah glowing, badan di lumuri dengan perhiasan yang mahal. Yang perlu dipahami perbedaan laki-laki dan perempuan, laki laki jika telah mendapatkan harta berlimpah mereka mencari perempuan, sebaliknya perempuan jika banyak materi dia tak lagi membutuhkan seorang laki-laki. Tamparan keras bagi kita seorang lelaki bahwa definisi kemandirian perempuan dan lelaki itu berbeda. Maka tepat jika seorang pelajar mengahbiskan waktunya, memeras keringatnya, untuk dapat sukses mempunyai status dan kedudukan yang terhormat dan bermanfaat di masyarakat.

Seorang pelajar yang sedang fokus pada keilmuan harus mempunyai pantangan, pantangan diantaranya adalah perempuan. Sebab nasihat ulama Imam Bisyrun Al-Hafi yang di nukil oleh Imam Ali al-Qari dalam kitabnya “Al-Mashnu’ fi Ma’rifah Al-Hadis Al-Maudlu’ bahwa
Ilmu akan tersiakan di dalam selangkangan wanita. Berbeda dengan jargon masyhur dari Imam As-Suyuthi sendiri;”Ilmu akan hidup di antara selangkangan wanita.”
Yang Jelas tipu daya wanita sangatlah dahsyat. (Q.s.Yusuf: 28) Silahkan anda cari Tafsiran tersebut.

Kehidupan yang palsu ini, sebagi pelajar sulit untuk mengidentifikasi perasaan yang serius dari seseorang. Laki dan perempuan sama saja suka mengotori makna cinta dengan menjalani hubungan yang palsu sering kali mengutarakan cinta untuk mempermainkan perasaan seseorang. Menurut hemat penulis kita harus dapat membedakan agar dapat terhindar dari hubungan asmara yang sia-sia. Apalagi bagi kalangan pelajar, mendapatkan kenyamanan dari sosok lawan jenis sangatlah sering kita temui. Kenyamanan itu bukanlah parameter utama dari memilih pasangan sehingga dilanjutkan pada tahap keseriusan. Pengakuan perasaan seseorang kita temukan di balut dengan retorika yang melululantahkan perasaan. Namun secara substansi semuanya hanyalah rayuan yang sifatnya dongeng semata.

Perbanyak referensi tentang pendidikan seks di mulai dari lingkunga keluarga, bergaul pada lingkungan yang sehat, aktif pada kegiatan tertentu, mengenal definisi cinta dengan baik dan benar,
serta teruntuk kaum adam, walaupun tabiat seorang lelaki libido seks lebih kuat dibanding dengan perempun sebab pria punya dorongan untuk melestarikan spesiesnya haruslah akal selalu tetap siaga dibanding dorongan hawa nafsu seksual. Artinya menumpahkan hasrat dorongan seksual kepada lawan jenis harus pada posisi yang mulia dan terhormat, sebab itulah yang membedakan kita dengan binatang.

Indonesia darurat pendidikan sex sehingga dampaknya Sex bebas merajalela. Pendidikan seks bagi pelajar harus senantiasa di bicarakan dimulai pada lingkungan keluarga, juga pada lingkungan pendidikan dititik beratkan namun jangan berharap tentang pendidikan seks sebab lembaga pendidikan formal kita masih menganggap hal yang tabu beda halnya pada lingkungan keluarga. Kedua orang tua harus mendiskusikan ke anak laki-laki dan perempuan. Masyarakat Indonesia masih menganggap membicarakan seks dikhalayak ramai adalah hal paradoks. Apakah enggan membicarakan sex karena kita menjadi bagian dari pelaku dan mempunyai pengalaman yang gelap terhadap sex? Munafik. namun memahami seks sesuatu yang suci. Demikian pula tulisan ini harus menembus isi kepala bagi setiap pelajar yang kesadaranya kurang tentang urgensi Asmara bagi pelajar.

Mahasiswi Perempuan harus dibekali pada pemahaman feminisme radikal, sehingga ini bekal dalam menjalani aktivitas akademisi di kampus ± selama 4 tahun. Penulis berasumsi masuk ke organisasi seperti Himpunan mahasiswa Islam perempuan akan dibekali senjata ampuh yang dimiliki buaya darat spesies predator seks yaitu Retorika dan Filsafat cinta pemahaman titik kelemahan perempuan. Cinta palsu sangatlah alergi dengan Rasionalitas Kritis, serta membungkam lelaki jika perempuan lebih lihai dalam memahami filsafat cinta. Dengan memahami kelemahan perempuan ada yang ada pada dirinya kemungkinan besar tidak terjebak pada Instrumen Irama cinta palsu yang dimainkan oleh laki-laki hiyperseks dan Nafsuan.

Penulis pernah ditanya “perempuan seperti bagaimana istri tipekal yang anda cari? Saya jawab perempuan cerdas pandai beretorika sehingga ketika saya bersama dia bukan hanya jadi suami takut istri tapi jadi filsuf sejati serangkaian sinopsis percintaan kami akan diselengi Dialetika seperti konsep Filsuf Hegel. auuw meledak….

Penutup,Perempuan telah diberikan 9 nafsu, dan satu akal. Sedangkan pria diberikan 9 akal dan satu nafsu. (Rabiatul Al-Adawiyah) Pahami renungi dan maknai terdapat pelajaran

Penulis merupakan Penganut Paham Maskulinitas Radikal.

Pengetahuan 30 Detik (Singkat) Lahirnya Filsuf Karbitan

Objektif.id – 30 detik jangan salah kaprah, bukan persoalan bokep sebagai mana yang mewabah belakangan ini. ini fenomena urgent dan aneh dari kebengisan teknologi yang kita sebut era disrupsi, postmodern, Revolusi industri 4.0. Polemiknya adalah meledak nya jumlah informasi yang dikemas melalui konten video lalu disebarkan di berbagai macam platform media sosial (You Tube, facebook, Ig, twitter, tik tok) hampir sebagian informasi yang menjelaskan secara tidak detail, singkat (30 detik).

Konsekuensinya disinformasi yang terjadi, Hoaks mewabah, kegaduhan terjadi, budaya berkomentar di medsos yang sifatnya membuly, lebih tepatnya preman media sosial dan pemecah persatuan bangsa. Serta membuat narasi-narasi menyesatkan pada setiap kolom komentar diberbagai macam platform media sosial.

Platform media sosial yang mendominasi seluruh aspek kehidupan manusia di era ini dengan niat untuk mengembangkan kualitas manusia sebagai peradaban baru namun dimanfaatkan oleh orang yang mencari keuntungan, namun tak disangka menurunkan harkat dan martabat manusia dan lahirnya proses Dehumanisasi.

Dalam konteks hari ini, internet tak seperti ubahnya mesin cetak Johannes gutenburtg disekitar abad 15 yang mengambil alih otoritas keagamaan pada saat itu. Karena al kitab akhirnya bebas di cetak dan dimilki oleh siapa pun yang mampu membaca sehingga tafsiran kalam ilahiah tak lagi dimonopoli. Artinya ini menjadi titik awal para ahli yang dibidangnya kehilangan legitimasi kepakaran. Jika kita korelasikan dengan realitas hari ini para kaum terdidik yang ahli pada bidangnya kehilangan sebagian legitimasi pengaruh dan kepercayaan diakibatkan hadirnya berbagai sumber informasi dan pengetahuan yang baru yang berasal media sosial. Media sosial hari ini didominasi oleh masyrakat awam dan mengendalikan kebenaran berdasarkan jumlah like, share, dan followers

Merebaknya pengetahuan singkat hari ini melalui kontenisasi dalam bentuk video lalu diedit menjadi singkat dan hanya mengambil poin poin tertentu dianggap bukanlah satu keilmuan namun pengetahuan. Secara sederhana, pengetahuan adalah sesuatu yang di ketahui , pengetahuan belum tentu sebuah ilmu. Ilmulah yang menjelaskan secara rinci tentang pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah. Olehnya itu, konten-konten yang di edit dari platform media sosial bukanlah satu pengetahuan yang utuh. Contoh memposting di status wa, berdurasi singkat, penjelasan dalam video konten telah dipangkas.

Penulis menganggap dewasa ini, kita seolah di paksa untuk memahami pengetahuan sebatas durasi 30 detik . pengetahuan singkat kemudian dengan cepat mengambil kesimpulan lalu menjadi Sok Bijak (Filsuf Karbitan). Karbitan merupakan kata tidak baku yang memiliki arti dipaksakan tanpa melaui proses. Jadi fisuf karbitan adalah kondisi setiap orang mengalami kebijaksanaan dipaksakan dan merasa sok tahu serta terbentuk bukan dari proses berpikir yang kritis. Filsuf karbitan tercipta menjadikan platform media sosial sebagai media yang sempurna dalam pembelajaran.

Benang merah dari polemik diatas adalah masyarakat Indonesia daya baca yang kurang. Juga didukung oleh kecanduan bersenggama dengan gadget. Menurut data wearesocial pada tahun 2021 waktu yang dihabiskan oleh orang Indonesia untuk mengakses internet perhari rata-rata yaitu 8 jam 52 menit . Menurut hemat penulis, berawal dari setiap reels, tik-tok, shorts, selalu menjamin penggunanya dapat menyenangkan akibatnya tubuh kita akan memproduksi hormone dopamine. Kondisi ini menyebabkan perasaan eufhoria sementara. Walaupun singkat, umumnya durasi 30 detik setiap video. Namun Jangan anggap remeh 30 detik ini kita dapat terhipnotis sampai 3 jam dan berjam jam.

Kegelisahan penulis berawal dari melihat realitas sekeling kita dan teruntuk mahasiswa yang menjadi penikmat pengetahuan 30 detik ini. Menurunkan marwah bagi pelajar yang menyandang MAHA. Ironis, seolah mahasiswa kehilangan ke-Maha-anya.

Proses lahirnya Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia, kata berangkai dari kata philein yang berarti mencitai, dan sophia berarti kebijaksanaan. Philosophia berarti: Cinta atau kebijaksanaan (Inggeris: Love of wisdom, Belanda Wijsbegeerte. Arab: Muhibbu al- Hikmah). Orang yang berfilsafat atau orang yang melakukan filsafat disebut “filsuf” atau “filosof”, artinya pencinta kebijaksanaan Berfilsafat berarti berpikir. Namun, tidak semua orang yang berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh sungguh. Sebuah semboyang mengatakan bahwa: setiap manusia adalah filosuf.

Semboyang ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi, secara umum semboyang ini tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filosuf. Berdasarkan uraian di atas di pahami bahwa filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam sampai keakar-akarnya.

Pada aplikasi Whatsapp itu hanya 30 detik memberikan informasi, tik tok 5 menit, reels Instagram maksimal 90 detik, shorts YouTube 60 detik, praktik kontennisasi jadi hobi dan konsumsi kita.

Filsuf karbitan ini lahir adalah pengguna smartphone yang memahami secara praktis dan singkat setiap konten video yang berdurasi pendek lalu mengomentari kalimat bijak dengan konklusi baru. Seakan-akan mereka memahami baik konten makna dari ungkapan di video tersebut.Sebagian menikmati dengan khusyuk dominan pada durasi 30 detik.

Sulit di zaman ini menilai seseorang apakah bijak atau tidak, jika paramaternya adalah melihat aktivitas medsos di ig, wa, fb, twitter, tik-tok ,setiap harinya selalu memposting video bermanfaat ataupun rajin menshare setiap konten tersebut , lalu melegitimasi orang tersebut mempunyai moralitas yang baik. Bahkan ada beberapa teman-teman yang storynya di medsos jauh dari panggang api dengan perilaku dan perbuatan hari-harinya yang bejat. Story malaikat perbuatan iblis.

Seperti yang kita ketahui bersama algoritma di setiap smartphone akan menyesuaikan sesuai dengan keinginan kamu, mendeteksi kesukaan kamu, dan karakter kamu maka penampilan di beranda kamu adalah sesuai yang kamu lakukan pada laman pencarian, follow, like, share. Sebagian orang yang sedang menggeluti ilmu untuk menambah wawasan pengetahuan, seringkali terlena dan kecanduan dalam menscroll konten-konten yang berhubugan dengan ilmu pengetahuan walaupun singkat.

Padahal konten tersebut hanya bertujuan untuk memberikan kenyamanan. Menciptakan dopamine yang menyebabkan berjam-jam menscroll. Bukan memperkaya khazanah intelektual kita. Jika memang niat kita untuk mengetahui dalamya dan luasnya ilmu, maka habiskan waktu untuk memperkuat literasi (membaca, menulis, berbicara, menganalisi). Terasa elit bersama smarthphone selama 3 jam, namun sulit bersama buku selama 3 jam.

Belajar secara otodidak melalui konten di platform media sosial mengandung banyak pelajaran namun tak bisa di sebagai proses pembelajaran. Secara garis besar pembelajaran adalah terjadinya dialog dua arah (guru-murid) secara interaktif yang didalamnya terdapat edukasi. Walaupun konten video yang menjelaskan berupa pengetahuan, kata-kata bijak itu dibawakan secara menarik (disisipkan suara music biar nyaman) dengan statement padat dan berbobot tetaplah tidak memberikan efek rangsangan yang mengupgrade kecerdasan kita. Malah sebaliknya yang ada hanya memiliki cara berpikir skeptisme yaitu mempercayai segala sesuatu tanpa alasan. Dogma-dogma pengetahuan di setiap konten singkat itu membentuk gaya berfikir ejakulasi, serta miskin daya critical thingking. Juga, candu konten tersebut bukanlah semangat mencari esensi ilmu melainkan agar merasakan sensasi. Kita terhipnotis bahwa platform media sosial telah merangkum komposisi ilmu pengetahuan yang ada. Seolah referensi google menjadi kebenaran absolute, dan terlegitimasi kebenaranya. Namun kita tidak pernah mengira bahwa yang menulis tulisan kebenaran di google adalah mereka yang bukan akadamisi tulen hanya yang menulis di internet semata untuk mencari keuntungan atau uang. Banyak kekeliruan didalamnya. Kita selalu berdebat jika mengalami frustasi pikiran maka google menjadi pembantu, bahkan sering seringkali mendengar “tanya saja google”. Penulis sepakat jika mengakses referensi google untuk bahan bacaam dan diskusi itu buku jurnal atau blog, website yang menuliskan referensinya dengan jelas.

Sehinga sekali lagi untuk tidak menjadi seorang filsuf karbitan hindari dan kurangi platform medsos sebagai kiblat dari sumber keilmuan , maka belajarlah dengan secara sistematis dan rerefensi yang jelas serta bimbingan secara offline. sebab jika bimbingan online bukan proses pembelajaran, sebab pembelajaran itu interaksi dua arah yang bukan hanya transfer ilmu namun jauh dari lebih dari itu: mentransfer adab dan nilai. Tidak heran karakter peserta didik kurang ajar, miskin akhlak, sebab dengan masifnya kita belajar secara online di media sosial dalam proses interaksi tersebut kita kurang mendapatkan nilai nilai kesopanan. Di sisi lain jika berguru atau belajar pada media sosial ataupun Artifcial intelgence lainya, efek negatifnya adalah manusia kekeringan rasa kepekaan, kehalusan perasaan keindahan budi pekerti, kepekaan empati, dan solidarits sosial. Oleh sebab itu dalam mencari ilmu sumber ilmu haruslah jelas, istilah sanad keilmuan dalam dunia pesantren memang sangatlah penting disana mengjarkan memperhalus perasaan dengan mengormati guru, tabe-tabe dalam mengambil keilmuanya serta budaya saling menghormati dalam batas kewajaran. Sekarang dapat kita dapat membedakan filsuf orginal dan filsuf karbitan. Filsuf original terlahir dari proses tempaan yang keras, secara sistematis dan membutuhkan waktu yang lama, sedangkan filsuf karbitan menjadi bijak dengan modal paket data.

kategori filsuf karbitan adalah mereka manusia yang tanpa berpikir panjang, aksiologi yamg tak jelas dan berkhutbah di medsos dan dipercaya setiap omomganya mengalahkan dari para pakar. Mereka terlegitimasi kepercayaan public disebabkan mempunya followers yang banyak di media sosial serta dekat dengan penguasa. Contoh kecil filsuf karbitan adalah para buzzer, para artis yang baru hijrah dan tampil di medsos memonopoli kebenaran. Maka dizaman ini dapat kita sebut era matinya kepakaran. Jika seorang pakar berdebat di ruang media sosial pada kolom komentar tak akan menyelesaikan pokok permasalahan, hilang nilai kepakaranya yang ada hanya saling berbantah-bantahan , mispersepsi contoh berdebat di group wa, walaupun dengan seribu argumentasi yang rasional tak akan mempan untuk bisa membuat satu kesimpulan yang terjadi hanyalah kegaduhan dalam grup

Meningkatkan Daya Baca.

Harus diakui masyarakat indonsia adalah bangsa suka membaca namun daya baya yang rendah . Kita gemar membaca berita sebatas judul, lalu menyimpulkan. gemar mengkonsumsi fakta subtansi pada koneten video tik, tok, reels ig, shorts YouTube yang 30 detik lalu menyimpulkan.
kita suka membaca status wa, info grup, baca status, suka membaca diskon pada satu tempat perbelanjaan. Doyan baca tinggi namun daya baca sangat lah rendah. Dengan budaya demikian maka tidak heran kita (warga +62) daya baca tumpul, budaya komentar tajam.

Membaca bukan hanya sekedar membunyikan kata dalam teks. Membaca adalah memahami dan memaknai setiap peristiwa yang terjadi dan setiap peristiwa itu terdapat pelajaran bagi orang orang yang berpikir. Dalam peristiwa itu ada hukum kausalitas (Sebab dan akibat). Karena adanya sebab dan akibat maka terdapat campur tangan yang sifatnya sulit untuk di jelaskan secara rasional, disinilah Tuhan berperan penting dalam peristiwa yang sulit dirasionalisasi. Maka membaca secara hakikat akan menghindari kita menjadi Filsuf Karbitan menuju Filsuf (orang yang bijaksana) sesungguhnya.

Lanjut, dalam konteks dunia pendidikan membaca adalah keharusan bagi seorang pelajar dengan mengandalkan berbagai macam sumber yang baik di buku maupun media platform.

Sekararang kita mengalami era disrupsi informasi dan pengetahuan, sehingga memudahkan kesamaan orang berpikir, berbicara, berpendapat. Pengetahuan ada di berbagai macam jendela media platform. Orang tidak mengunakanya dan memadukan menjadi satu ilmu pengetahuan, malah menjadi pengetahuan yang di dapatkan tidak secara sistematis, dan pengambilan kesimpulan dengan melompati, atau memperepat konten pengetahuan yang berasal dari platform media sosial.

Dan dengan menguatnya minat baca kita, kegaduhan, hoaks yang merajalela akan mulai berkurang, sehingga membaca akan membawa kita pada fase menjadi filsuf yang sesungguhnya. Serta ini tanggung jawab bersama perlu secara radikan dalam membumikan minat baca baik pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan yang paling penting di mulai keluarga sehingga kita dapatkan mewujudkan manusia-manusia yang terdidik.
Serta penulis sarankan untuk menonton secara khatam Film The Social Dilemma disutradari oleh jeff Orlowski. Biar kamu paham ada yang lebih mengerikan dari kisah cintamu yaitu lahirnya platform media sosial, hehehe

Terakhir penulis berpandangan Jika filsuf Rene Descartes berteori cogitu ergo sum (aku berpikir maka aku ada) maka berbeda dengan zaman sekarang penulis berteori Je suis en ligne (aku online maka aku ada).

Penulis: IH
Editor: Redaksi

“Penulis adalah Demisoner pengurus AFK (Aliansi Filsuf Karbitan Dunia)”

 

Apakah Harus PNS Agar Bisa Menjadi Menantu Idaman?

Objektif.id – Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah sekumpulan aparatur sipil negara yang bertugas didalam sebuah kementerian/lembaga. Menjadi PNS adalah profesi yang didambakan oleh setiap orang di Indonesia. Dalam perekrutan menjadi PNS banyak tes yang perlu kita lewatkan,antara lain Tes Wawasan Kebangsaan (TWK),Tes Intelegensi Umum (TIU),dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Tentu semua itu harus dilewati dengan memenuhi passing grade berdasarkan sebuah instansi/lembaga.

Pegawai negeri atau pegawai negeri sipil adalah orang yang dipekerjakan oleh lembaga pemerintah untuk memberikan pelayanan publik. Sebagai profesi, pegawai negeri merupakan jabatan yang ditempuh melalui jenjang karier dan bukan berdasarkan pemilihan umum yang melibatkan suara rakyat.

Kehidupan masa sekarang selalu banyak anggapan yang selalu kita dengarkan ditengah masyarakat dan terutama mahasiswa. Hal yang sering kita dengarkan adalah harus menjadi PNS agar bisa menjadi menantu idaman. Tentu saja hal ini menjadi tekanan bagi pemuda dan generasi (mahasiswa) sekarang,karena menjadi PNS tidaklah mudah,terlebih lagi persaingan dalam dunia kerja akan semakin ketat diera sekarang.

Oleh karena itu,mahasiswa jangan risau dan takut apabila tidak menjadi PNS. Sebagai mahasiswa harus kita buang anggapan bahwa letak keberhasilan seseorang ketika sudah menjadi seorang PNS. Jika hal ini terus dipikirkan, sampai mana mahasiswa mau sukses jika berpikir seperti itu.

Ada beberapa hal yang menguatkan bahwa tidak harus menjadi PNS agar bisa menjadi menantu idaman :

1. Pekerjaan Bisa Didapatkan Dimana Saja

Jika kita bisa memahami potensi diri kita,maka kita bisa mendapatkan peluang mendapatkan pekerjaan sesuai dengan potensi yang kita miliki. Misalnya bagi mahasiswa yang memiliki potensi jurnalistik maka bisa menjadi wartawan,reporter,bahkan pembawa acara disalah satu stasiun televisi. Begitu juga mahasiswa yang berbakat di bidang dakwah bisa menjadi pemuka agama yang banyak dihormati.

2. Menjadi PNS Banyak Memiliki Kredit/Cicilan.

Hal ini dapat kita temukan dimana saja. Yakin dan percaya orang yang berprofesi sebagai PNS pasti tidak jauh dengan utang,kredit,dan cicilan.

3. Mengikuti Gaya Hidup Hedon

Hedon adalah gaya hidup yang bermewah-mewah. Tentunya menjadi PNS banyak tunjangan yang didapatkan,hal inilah membuat gaya hidup PNS berlebihan. Misalnya,ada rekan kerjanya yang membeli mobil mewah,pasti dia juga ingin membelinya walaupun mengutang dimana-dimana.

4. Gaji Pokok PNS Lebih Kecil Daripada Pegawai Bank

Berdasarkan beberapa survei terhadap PNS, ternyata mereka mengaku loh gaji pokok yang mereka dapatkan bahkan lebih kecil daripada menjadi teller bank swasta. Gaji PNS bisa tinggi, itu semua juga berkat usaha PNS itu sendiri. Penghasilan tambahan mereka bisa mendapatkannya dari honor kegiatan, perjalanan dinas, tunjangan jabatan, dan tunjangan yang berbeda dari tiap Kementerian atau lembaga.

Penulis: Muh Iqbal Ramadhan
Editor: Redaksi

Hilangnya Jati Diri Mahasiswa Sebagai Kaum Intelektual Yang Diharapkan Masyarakat

Objektif.id – Mahasiswa!! Sebuah ucapan yang pas untuk diberikan kepada mereka yang melanjutkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi. Kata Mahasiswa itu sendiri punya artian yang dapat dengan mudah kita gambarkan. Kata Mahasiswa adalah padanan dari kata Maha yang artinya besar dan siswa adalah murid atau anak.

Kata Mahasiswa diberikan kepada mereka yang melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi sebagai bentuk apresiasi terhadap diri mereka karena dengan semangat ingin menuntut ilmu. Kata Mahasiswa sendiri menjadi pembeda ketika disandingkan dengan kata siswa atau siswi yang masih berada dalam taraf pendidikan di bangku SD, SMP, SMA , ataupun SMK.

Pembeda dari tumpukan kata antara mahasiswa dan siswa atau siswi adalah, mahasiswa ialah mereka yang telah mencapai taraf pendidikan tertinggi yang dimana materi yang diterima dan juga waktu belajar mereka menjadi lebih banyak dan juga padat.

Cenderung mahasiswa mengalami pelajaran yang sangat rumit yang bahkan tidak didapat saat masih berada di bangku SD, SMP, ataupun SMA. Selain itu, pola pikir, cara berbicara juga menjadi pembeda utama yang menjadikan mahasiswa itu berbeda dengan siswa lainya.

Pola pikir mahasiswa dituntut untuk berpikir kreatif, imajinatif dan lebih memperhatikan kehidupan sosial masyarakat yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu mahasiswa sering disebut juga sebagai kaum intelektual.

Sebagai mahasiswa tugas utamanya adalah mengejar pendidikan tinggi dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki untuk kemakmuran masyarakat.

Namun realita yang terjadi hari ini banyak dari kalangan mahasiswa yang lupa akan tanggung jawab yang telah di bebankan oleh masyarakat kepada mereka yang sedang menyandang gelar sebagai mahasiswa. Banyak dari kalangan mahasiswa yang ketika masuk di masyarakat yang masih bersikap apatis.

Mereka yang mengaku sebagai mahasiswa namun ketika melihat problematika yang terjadi di masyarakat masih tetap diam dan tetap bersikap apatis menurut saya meraka sudah tidak ada bedanya dengan siswa(i) SMA ataupun SMK yang jenjang pendidikannya masih dibawah mereka, jangan ketika sehabis libur kuliah dan pulang ke kampung halaman lalu dengan bangganya mengaku mahasiswa akan tetapi masi tetap diam dengan problematika yang terjadi di masyarakat.

Sungguh rugi gelar mahasiswa itu di berikan kepada mereka yang ketika melihat berbagai macam problematika yang terjadi di masyarakat tapi masih tetap saja diam. Miris memang!!! Tapi inilah realita yang terjadi hari ini di kalangan mahasiswa itu sendiri.

Sungguh sangat di sayangkan mereka yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi namun implementasi ilmu yang mereka pelajari di kampus tidak ada sama sekali terhadap masyarakat itu sendiri. Percuma teriak-teriak mahasiswa itu agent of change, sosial of control namun ketika teriakan yang dilayangkan itu tidak memiliki implementasi di masyarakat sama saja teriakan bodoh!!!.

Jangan mengaku kaum Intelektual ketika masuk di masyarakat masih tetap mempertahankan sikap apatis akan berbagai problem yang terjadi di masyarakat, karena orientasi ilmu yang di dapatkan di kampus itu yang sesungguhnya adalah di kalangan masyarakat.

Jangan ketika pulang kampung hanya menjadi mahasiswa tonton masyarakat, minimal tidak itu kita di kasih kuliah kita bisa juga berguna di masyarakat. Karena keberhasilan di masyarakat itu adalah tujuan uatama dari sebuah pendidikan. Artinya ilmu yang kita dapatkan di bangku pendidikan implementasikanlah sebaik-baiknya ketika kita masuk di masyarakat.

Penulis : Muhammad Arya
Editor: Redaksi

Pentingkah Organisasi Internal Yang Ada Di Kampus

Objektif.id – Organisasi internal di kampus merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan keterampilan di luar akademik. Organisasi ini juga dapat menjadi tempat untuk membangun jaringan dan mengasah kemampuan kepemimpinan.

Organisasi internal di kampus memiliki peranan yang sangat penting dalam memfasilitasi berbagai aktivitas dan kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa dan civitas akademika. Alasan mengapa organisasi internal di kampus sangat penting, yaitu :

1. Untuk Membangun Keterampilan dan Pengalaman

Organisasi internal di kampus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membangun keterampilan dan pengalaman dalam berbagai aspek, seperti kepemimpinan, pengelolaan waktu, dan kerjasama tim. Dalam organisasi, mahasiswa dapat belajar bagaimana memimpin rapat, merencanakan acara, mempersiapkan laporan keuangan, serta mengelola sumber daya manusia dan keuangan.

2. Untuk Meningkatkan Jaringan

Organisasi internal di kampus juga dapat membantu mahasiswa dalam membangun jaringan dengan teman sebaya dan profesional di luar kampus. Melalui kegiatan yang diadakan oleh organisasi, mahasiswa dapat bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan bidang pekerjaan, sehingga dapat meningkatkan kesempatan untuk memperluas jaringan dan mencari peluang kerja di masa depan.

3. Untuk Mengembangkan Kreativitas

Organisasi internal di kampus juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan ide-ide baru. Dalam organisasi, mahasiswa dapat mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta menciptakan acara dan kegiatan yang berbeda dan menarik untuk memperkaya pengalaman kampus.

4. Untuk Meningkatkan Keterlibatan Mahasiswa

Organisasi internal di kampus dapat membantu meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan kampus dan meningkatkan rasa kebersamaan dan persatuan di antara mahasiswa. Dalam organisasi, mahasiswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan acara, serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas dan citra kampus.

5. Untuk Membantu Menyeimbangkan Kehidupan Akademik dan Non-Akademik

Organisasi internal di kampus dapat membantu mahasiswa dalam menyeimbangkan antara kehidupan akademik dan non-akademik. Dalam organisasi, mahasiswa dapat membagi waktu mereka antara kegiatan akademik dan organisasi, serta membangun keterampilan yang dapat membantu mereka dalam mencapai tujuan akademik mereka.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa organisasi internal di kampus sangat penting dalam memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam kehidupan kampus. Oleh karena itu, mahasiswa sebaiknya mempertimbangkan untuk bergabung dengan organisasi internal di kampus dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memperkaya pengalaman mereka.

Penulis : Fitrah Ardiansyah H
Editor: Redaksi

Dosen Elit, Masuk Kelas Sulit

Objektif.id Dosen adalah tenaga pendidik disuatu strata perguruan tinggi nasional/internasional. Profesi menjadi dosen adalah pekerjaan yang sangat diimpikan oleh setiap orang dan proses untuk menjadi dosen juga tidaklah mudah, kita harus memenuhi persyaratan minimal lulusan ijazah S2, harus melalui beberapa tes akademik, serta kelengkapan administrasi lainnya.

Dewasa ini, tidak elok jika kita tidak mengkritik kinerja dosen dalam proses perkuliahan. Dalam arti lain ada hubungan timbal balik, bukan hanya mahasiswa saja yang ingin dinilai dosen, tetapi kali ini mahasiswa harus berperilaku sebaliknya.

Kali ini kita akan membahas seputar dosen yang jarang masuk diperkuliahan. Sebelumnya penulis membuat opini ini berdasarkan apa yang dirasakan selama ini dan lahir dari keresahan teman-teman mahasiswa selama ini. Jadi kami meminta maaf jika ada dosen yang membaca ini, tidak lain kami hanya bertujuan menumbuhkan kesadaran dosen.

Ada beberapa alasan dan fakta klasik mengenai dosen yang jarang masuk :

1. Jadwal Kuliah Kita Pindahkan Dihari Lain Dek

Hal ini selalu menjadi permasalahan paling sering terjadi didalam dunia perkuliahan, selalu banyak mahasiswa yang sering mengeluh karena perpindahan jadwal yang tidak menentu. Disisi lain, mahasiswa ingin istirahat dihari libur tetapi terhalang dengan jadwal kuliah ini.

Perlu diketahui mahasiswa disuatu perguruan tinggi pasti berasal dari seluruh pelosok wilayah disuatu daerah, sehingga ada keinginan mahasiswa untuk pulang kekampung halaman walaupun hanya beberapa hari saja,namun keinginan itu kadang sirna akibat dosen yang sering mengubah jadwal mata perkuliahan.

2. Masuk Tidak Sesuai Jadwal Mata Kuliah.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2009 Tentang Dosen Pasal 2 berbunyi “Dosen tetap adalah dosen yang bekerja penuh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik
tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu”.

Hal ini sudah diatur dalam peraturan diatas undang-undang  dan menjelaskan bahwa dosen harus masuk sesuai dengan SOP yang ada, terkecuali dengan alasan yang jelas. Bagi mahasiswa ada beberapa alasan yang logis diterima jika dosen tidak masuk, yaitu alasan keluarga, kesehatan, dan pekerjaan.

Diluar dari alasan itu, berarti dosen tidak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya. Didalam perkuliahan pasti ada disebut kontrak perkuliahan, didalam kontrak ini semua yang berisi kesepakatan antara dosen dan mahasiswa mengenai sistem perkuliahan semester kedepan. Alhasil, apabila dosen tidak mematuhi aturan perkuliahan berarti melanggar kode etik kampus.

3. Perkuliahan Dialihkan Ke via Zoom/Online.

Momentum seperti ini memang tidak menjadi permasalahan. Tetapi, perlu kita tinjau dengan beberapa kasus yang sering dialami mahasiswa yaitu sudah berada dikampus sesuai dengan jadwal kuliah dengan outfit yang masyaAllah, effort untuk naik kelantai atas gedung perkuliahan dengan militan, merelakan waktu dan tenaga, tetapi secara mendadak dosen memberikan informasi bahwa perkuliahan dialihkan ke via zoom/online. Hal ini yang membuat mahasiswa sering kecewa dan mematahkan harapan kami ketika sudah berada dikampus.

4. Dosen Jarang Masuk, Nilai Mahasiswa Menjadi Eror.

Sering terjadi hal seperti ini. Timbul pertanyaan yang bertanggung jawab dosen atau mahasiswa? lantas kejadian seperti ini membuat mahasiswa dirugikan, karena sulit mendapatkan transformasian ilmu dari dosen apalagi jarang bertatap muka secara seksama.

5. Dosen Keluar Kota Untuk Urusan Kampus.

Kita mahasiswa pasti mengerti akan hal ini, tetapi jika kami ditinggalkan begitu saja bagaimana potensi dan keilmuan kami. Orang yang berpacaran saja ditinggalkan dengan waktu yang lama akan menjadi rapuh, apalagi kita mahasiswa selalu ditinggalkan dosen.

6. Dosen Tidak Masuk,Tetapi Digantikan Dengan Tugas.

Maksud kami walaupun ada tugas,tetapi setelah masuk diminggu berikutnya sebaiknya dosen memberikan penjelasan sedikit mengenai materi yang tertinggal,agar ada refleksi didalam otak mahasiswa. Mirisnya jika tugas mahasiswa tidak diperiksa sedikitpun.

Penulis: Muh Iqbal Ramadhan
Editor: Redaksi

Kurangnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Sampah

Objektif.id – Sampah merupakan masalah lingkungan yang cukup sulit ditangani, karena banyaknya masyarakat yang kurang sadar terhadap kebersihan. Banyaknya masyarakat kurang sadar membuang sampah sembarangan dapat mengakibatkan penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA) semakin hari semakin bertambah.

Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) melaporkan sampah yang masuk ke TPA rata-rata mencapai 700 ton perhari yang berada dari berbagai daerah, terkhusus kota Kendari mencapai 260 ton sampah perharinya.

Plastik sekali pakai, seperti kantong plastik untuk belanjaan, gelas, sedotan dan botol menjadi penyumbang terbesar kedua untuk sampah plastik. Hal ini merupakan bukti bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia tentang daur ulang dan dampak lingkungan dari plastik masih sangat rendah.

Pemerintah melakukan alternatif pengurangan sampah dengan menerapkan 4R, yaitu:

– Reduce atau mengurangi sampah
– Reuse atau memakai kembali barang yang tidak sekali pakai.
– Recycle yaitu mendaur ulang barang yang sudah tidak berguna
– Replace yaitu mengganti barang sekali pakai dengan barang tahan lama dan ramah lingkungan.

Sampah yang menumpuk akibat tidak diperhatikan dapat mengganggu keindahan alam. Selain itu, tumpukan sampah ini juga dapat memunculkan bau tak sedap hingga mengganggu kesehatan setiap masyarakat yang bermukim disekitar kawasan tumpukan sampah.

Sampah inipun akan banyak menimbulkan penyakit, untuk sampah yang banyak mengandung makanan busuk, sudah pasti merupakan sarang hidupnya bakteri, Sehingga sampah yang menumpuk di saat musim hujan akan menimbulkan wabah penyakit seperti muntaber atau diare, demam berdarah dan lain sebagainya.

Penulis: Nurwahyudillah
Editor: Redaksi

Paradigma Berpikir Mahasiswa Stroberi

Objektif.id – Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Paradigma adalah sebuah anggapan, pemikiran, ungkapan, ataupun kerangka berpikir daripada manusia. Tentunya paradigma ini berbicara tentang sudut pandang berbagai elemen masyarakat ataupun mahasiswa. Terkadang paradigma dapat memiliki konteks yang negatif dan positif tergantung siapa yang beropini.

Mahasiswa adalah sekumpulan orang yang mengenyam pendidikan disalah satu perguruan tinggi disuatu negara. Mahasiswa terbilang sangat penting dalam elemen kampus, karena merekalah salah satu elemen utama dalam membawa perubahan dalam kampus dengan prestasi yang mereka miliki. Maka tidak heran mahasiswa disebut Agen Of Change dalam diri mereka.

Dewasa ini, kita selalu mendengarkan istilah “Generasi Stroberi”. Melansir dari laman website Bfi, Generasi stroberi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena generasi muda saat ini dimana mereka memiliki banyak ide cemerlang dan kreativitas yang tinggi namun ketika diberi sedikit tekanan mereka menjadi mudah hancur dan lembek layaknya stroberi. Hal inilah yang menjadikan generasi sekarang terbilang miris, akibat tidak siap menerima segala preassure (tekanan).

Tentunya, ada hal menarik yang harus kita saksikan seksama terhadap paradigma berpikir mahasiswa stroberi saat ini. Penulis mengangkat tulisan ini berdasarkan hasil temuan dan riset terhadap sebagian besar mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan. Ada beberapa paradigma berpikir yang sering dikatakan oleh mahasiswa “Generasi Stroberi” ini :

1. Janganmi mau cepat selesai, sa masih betah dikampus

Paradigma ini menjadi salah satu hal yang sering kita dengarkan oleh beberapa mahasiswa, sehingga memang paradigma ini menuai pro dan kontra. Bagi mahasiswa yang pro beranggapan bahwa mereka masih ingin santai dikampus tanpa adanya beban sedikitpun, sehingga mengikuti alur perkuliahan sesuai dengan jadwalnya. Sedangkan bagi mahasiswa yang kontra akan paradigma ini menganggap bahwa hal ini tidak akan mereka inginkan karena banyak ingin menyelesaikan studi secepatnya untuk melanjutkan masa depan yang lebih cerah.

2. Menerapkan SKS (Sistem Kebut Semalam)

Sebagian besar mahasiswa 90% pasti memiliki paradigma seperti ini. Terbukti berdasarkan hasil penglihatan penulis banyak mahasiswa yang menerapkan sistem SKS ini. Mulai dari tugas powerpoint, makalah, laporan praktikum, jurnal, artikel, ataupun tugas lain yang memiliki deadline H-1 pengumpulan tugas.

3. Untuk apa kuliah, kalau ujung-ujungnya lari ditambang/menganggur

Inilah yang menjadi pemahaman yang salah bagi mahasiswa,padahal dengan kita berkuliah, diri kita akan memiliki nilai jual ketimbang orang-orang yang tidak bersekolah/berkuliah. Karena sepatutnya dengan bersekolah setinggi mungkin kita bisa menjadikan diri kita melangkah lebih jauh untuk meraih masa depan.

4. Mau kuliah untuk jadi PNS

Sebagian besar mahasiswa tujuan berkuliah pasti ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ini termasuk anggapan yang kurang tepat, karena dengan berkuliah kita bukan hanya menjadi PNS saja,tetapi banyak profesi yang bisa kita dapatkan. Misalnya, bisa membuka usaha kecil-kecilan, membangun yayasan/sekolah, bahkan bisa terjun melalui pengabdian kepada masyarakat. Ingat rejeki tergantung doa dan kerja keras.

5. Orang yang sukses adalah orang yang memiliki orang dalam

Memang tidak bisa dipungkiri kekuatan orang dalam (the power of orang dalam) menjadi sarana penting dalam menunjang karir dan pendidikan seseorang. Namun itu semua tidak selalu berlaku dikehidupan sehari-hari, terbukti banyak orang yang sukses dimulai dari nol sejak dibangku perkuliahan. Jika paradigma ini terus dikonsumsi oleh mahasiswa sampai kapan mereka akan memiliki pikiran yang maju?tentunya jalan satu-satunya adalah mahasiswa harus berpikir rasional dan mampu membaca situasi dan kondisi lapangan pekerjaan yang ada.

Penulis: Muh Iqbal Ramadhan
Editor: Redaksi

Sudah Putuskah Urat Malu Kaum Muda?

Objektif.id – Urat malu anak muda kini sudah putus! Yap akhir-akhir ini sangat sering kita dapati pemberitaan berupa video yang beredar media sosial yang didalamnya memuat aksi-aksi tidak senonoh yang dilakukan oleh anak-anak muda. Sangat beragam kita lihat mulai dari aksi sejoli hingga wanita bercadar yang melakukan aksinya di khalayak ramai khususnya di bumi anoa kita.

Sangat miris perilaku yang di pertontonkan oleh mereka kepada orang banyak dalam hal ini masyarakat. Seakan nilai dan norma-norma yang ada sudah tidak melekat lagi pada diri mereka. Kita ketahui bersama perilaku yang dilakukan oknum-oknum seperti ini sangat merusak nilai dan norma khususnya pada kenyamanan masyarakat.

Sebagai pemuda tentunya kita lah yang akan menjadi tombak kemajuan bangsa, kitalah yang dijadikan simbol semangat pada pidato bapak proklamator kita yakni Bung Karno, cita-cita bangsa ada pada pundak-pundak gagah kita anak muda.

Namun pemuda hari ini tidak mencerminkan kewibawaan sebagai tombak cita-cita bangsa. Aksi tanpa rasa malu ini mencerminkan nihilnya pemahaman nilai-nilai agama. Seharusnya tindakan seperti ini haruslah mendapatkan sanksi tegas dari para penegak-penegak aturan yang ada pada masyarakat.

Penulis: Fitriani
Editor: Redaksi

Indonesia dan Segudang Masalah Yang Datang Silih Berganti

Objektif.id – Indonesia adalah sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara. Berbicara tentang bencana alam, negara Indonesia yang secara geografis diapit oleh empat lempeng tektonik, yakni lempeng benua Asia, benua Australia, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik, yang dengan adanya kondisi tersebut dapat menimbulkan bencana alam berupa gempa bumi dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kegempaan yang tertinggi di dunia.

Dilansir dari situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
berdasarkan hasil survei Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan pertama dari 265 negara di dunia yang berpotensi terancam tsunami akibat gempa bumi.

Selain itu, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data kejadian gempa bumi dalam kurun waktu Januari – Februari 2023 telah terdapat sebanyak 30 kota di Indonesia mengalami guncangan gempa bumi dengan magnitudo > 5.0 skala richter.

Selain itu, penyebab Indonesia rawan bencana alam adalah karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa hingga mengakibatkan indonesia memiliki curah hujan yang tinggi atau biasa disebut dengan iklim hutan hujan tropis. Jadi, tidak heran jika tiap setiap tahunnya selalu ada berita terkait banjir dan cuaca ekstrem terkhususnya di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Bekasi, Jawa Tengah, dan daerah di sekitarnya.

Dilansir dari Katadata.co.id, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sepanjang tahun 2022 tercatat sekiranya ada 3.531 peristiwa bencana alam di Indonesia. Bencana yang sering terjadi adalah banjir dengan 1.524 peristiwa dan cuaca ekstrem dengan 1.064 peristiwa. Masing-masing dari peristiwa tersebut telah memakan korban jiwa baik meninggal, hilang, maupun luka-luka sebanyak 9.623 orang, dengan kerusakan fasilitas rumah sebanyak 95.051 bangunan, dan fasilitas umum sebanyak 1.980 bangunan.

Banyaknya gunung api di indonesia, menjadikan Indonesia dijuluki negara Ring Of Fire dan hal itu setara dengan Jepang, Filipina, Malaysia dan negara kepulauan lainnya.

Potensi ancaman bahaya dari gunung api yang masih aktif salah satunya ialah Gunung Merapi Indonesia, adapun kota Magelang dan Yogyakarta merupakan kota terdekat dari Gunung Merapi tersebut. Jadi, sekalinya gunung ini meletus maka akan menimbulkan kekacauan yang besar meskipun letusannya kecil.

Dilansir dari Liputan6.com, berdasar catatan dari pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana BNPB, selama periode November 2010 Gunung Merapi meletus dahsyat dan berakibat sebanyak 277 orang meninggal di wilayah Yogyakarta dan 109 orang meninggal di wilayah Jawa Tengah. Gunung Merapi terakhir erupsi pada 10 Maret 2022, dan akan bererupsi di setiap 2-5 tahun sekali.

Bencana alam selain terjadi secara alamiah, juga dapat dipicu oleh perilaku manusia. Banyaknya plastik, polusi, limbah deterjen, limbah pabrik dan lain-lain, yang bertebaran dimana-mana, sehingga dapat menyebabkan alam menjadi rusak.

Adapun tentang peran, tidak akan terlaksana jika masyarakat dan pemerintah tidak saling bersinergi satu sama lain. Bahkan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah saja masih saling bertolak belakang pemikiran, yang satu ingin Indonesia seperti ini dan satunya lagi ingin Indonesia seperti itu, yang satu memberi dan satunya mengorupsi.

Jika masih tetap seperti ini terus apakah yakin Indonesia akan berada di tingkat keemasannya di tahun 2045 nanti, atau malah justru sebaliknya? well, semua berada pada kesadaran diri kita masing-masing dengan menginginkan Indonesia maju atau menginginkan Indonesia punah.

Penulis: Melvi Widya
Editor: Redaksi

Kematian Demokrasi dan Penghianatan Nilai-Nilai KBM di Kampus IAIN Kendari

Oleh: Rafli Tahir (Mahasiswa IAIN Kendari)

Adagium Antonio Gramsci; “The aim of education is to create autonomous and critical individuals who are capable of making their own judgments, and not simplyaccepting the judgments of others.” Artikulasi adagium diatas disambut kritis oleh Rocky Gerung bahwa sistem pendidikan kita perhari ini menghindari ketajaman argumentasi, sehingga tajamnya argumentasi dianggap tidak sopan. Secara semiotik, hal tersebut bertujuan menciptakan dominasi kekuasaan yang mutlak di tangan para dosen dan pimpinan kampus. Kultur feodal yang mendominasi lingkungan kampus membatasi kebebasan dan kemerdekaan. Sebagai laboratorium peradaban, kampus seharusnya mencetak kebenaran, kebebasan, dan kemerdekaan serta mencerdaskan generasi bangsa. Namun, kampus yang bersifat feodal justru menjadi penjara intelektual bagi mahasiswa dan aktivis intelektual. Kita harus prihatin karena saat ini kampus telah menjadi imperium-imperium kerajaan yang kebal terhadap kritikan dan gugatan warga kampus terkait kebijakan yang tidak sejalan dengan kebebasan dan kemerdekaan.

Mahasiswa di persimpangan kiri jalan dan di kiri sudut kampus sama-sama berjuang untuk menegakkan demokrasi yang sehat dan melawan rezim feodal yang kembali muncul di negara ini. Namun, kenyataannya sistem pendidikan saat ini secara tidak langsung menerapkan sistem feodal dimana kebenaran ada di tangan dosen dan kebebasan berpendapat dibatasi, sehingga memunculkan krisis kebebasan dan ketajaman argumen dianggap sebagai propaganda. Mahasiswa juga terkadang mencari kedekatan dengan dosen untuk mendapatkan nilai 4.0, bukan dengan daya berfikir kritis dan ketajaman argumen. Gerakan protes dan aksi aktivis mahasiswa juga sering dibungkam oleh pimpinan kampus, dengan menggerakan sekuriti kampus. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi yang diterapkan di kampus mungkin sudah redup bahkan mati.

Mahasiswa di IAIN Kendari harus mampu memperbaiki kekacauan yang terjadi di kampus dan melihat ruang-ruang intelektual yang ada di sekitarnya. Pemahaman demokrasi harus ditanamkan sejak dini dan intelektual harus mendahului elektabilitas dalam memimpin. Seharusnya, mahasiswa dapat mengembangkan daya berfikir kritis dan analisa yang kuat dengan mengkaji kultur kajian yang terlupakan. Kampus harus menjadi tempat yang dapat mencetak ilmu pengetahuan dengan melibatkan nalar kritis yang lebih tinggi.

Mahasiswa di IAIN Kendari harus memahami sistem pendidikan kampus yang sedang berjalan dengan jelas, terutama dalam merawat demokrasi yang sehat. Karena demokrasi yang sehat dimulai dari pendidikan demokrasi, sehingga dapat membentuk daya berpikir dan nalar yang baik bagi generasi selanjutnya. Untuk itu, KPUM dibentuk sebagai sarana aktualisasi demokrasi melalui PEMILMA di IAIN Kendari. KPUM harus memahami sistem demokrasi yang sehat agar demokrasi tidak tercoreng di kampus dan eksistensi demokrasi tetap terjaga. Meskipun kampus lain berlomba-lomba untuk menegakkan demokrasi yang sehat, sangat memalukan bahwa di kampus IAIN Kendari penerapan demokrasi sangat melenceng sehingga PEMILMA IAIN Kendari tidak dapat berjalan dengan baik.

Sebagaimana yang di ucapkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, sejarah membuktikan bahwa pemerintahan diktator dan otoriter hanya sementara, sementara demokrasi adalah sistem yang lebih baik dan berkesinambungan. Namun, di kampus IAIN Kendari terlihat adanya praktik pendidikan yang otoriter dan diktator. Apakah mahasiswa IAIN Kendari akan menerimanya? Hal ini akan berdampak pada negara kita. Kampus yang independen adalah kunci kesuksesan dalam menerapkan demokrasi dalam pendidikan. Siapa yang berperan aktif dalam memperjuangkan demokrasi di kampus ini? Bukannya lembaga mahasiswa hanya berbicara tentang kelompok masing-masing yang memunculkan disparitas? Namun, yang harus terlibat dalam perjuangan demokrasi adalah seluruh elemen mahasiswa IAIN Kendari. Mereka harus menghidupkan kembali SUMPAH MAHASISWA dan menjaga semangatnya agar tetap terdengar di seluruh kampus.

Che Guevara, seorang tokoh revolusioner, pernah mengatakan bahwa demokrasi digunakan sebagai alat untuk membenarkan kediktatoran kelas eksploitasi. Namun, dikampus IAIN Kendari, manajemen yang kurang transparan dan regulasi yang tidak jelas mengakibatkan kurangnya ruang untuk didikan demokrasi dalam pelaksanaan PEMILMA. Meskipun seharusnya politik dan dinamika demokrasi menjadi topik yang menarik perhatian mahasiswa di setiap sudut kampus, atmosfer kompetisi yang seharusnya ada justru minim terwujud karena sistem pendidikan yang sudah bergeser secara hakikat. Hal ini menjadi senjata ampuh untuk mematikan semangat dan kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan di kampus dan negara ini.

Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang berpendidikan dan diharapkan sebagai agen perubahan dan pengendali, tetapi dalam kenyataannya hanya sebatas ucapan saja dan tidak terlihat dalam tindakan. Seharusnya, mahasiswa memegang teguh tujuannya dan menjaga budaya kampus, seperti perhelatan demokrasi kampus yang selalu menarik untuk dibahas. Namun, realitanya berbeda, karena miniatur dari politik praktis yang buruk di negara terlihat jelas pada PEMILMA IAIN Kendari saat ini. Kampus yang seharusnya menjadi ruang intelektual tercoreng karena ketidakpastian dari KPUM dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai penyelenggara PEMILMA Tahun 2023, yang menunjukkan kelemahan mereka dalam mengelola acara tersebut. Keputusan yang sudah kadaluarsa namun PEMILMA belum terlaksana menimbulkan keraguan akan kepentingan yang terlibat di dalamnya.

Setiap individu memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi penting bagi kita untuk memastikan bahwa kepentingan tersebut dapat diterima secara universal. Fenomena di kampus IAIN Kendari menunjukkan bahwa kepentingan yang diusung saat ini telah cacat secara mental dan moral, dan ini akan menjadi hambatan di masa depan. Oleh karena itu, kelembagaan mahasiswa di setiap fakultas harus dinonaktifkan karena masa jabatan telah berakhir dan tidak produktif, seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Rektor IAIN Kendari. Konstitusi Keluarga Besar Mahasiswa Institut Agama Islam Negri (KBM IAIN) Kendari menyatakan bahwa SEMA I sebagai lembaga tertinggi di kampus harus menganalisis dan menegakkan demokrasi melalui pengurus KPUM yang telah dibentuk. Namun, nilai-nilai demokrasi yang sehat tidak terwujud, dan SEMA I, DEMA I, dan KPUM harus dinonaktifkan karena telah merusak nilai-nilai demokrasi. Hal yang sama berlaku untuk pelaksanaan PEMILMA, yang harus dilaksanakan secara menyeluruh oleh lembaga legislatif dan eksekutif sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh KPUM IAIN Kendari, namun tidak terlaksana. Oleh karena itu, KPUM IAIN Kendari menjadi beban dan merugikan negara.

Penulis mengamati banyak fenomena yang terjadi di kampus IAIN Kendari, terutama terkait dengan kepengurusan KPUM yang tidak dapat dipercaya dalam menjalankan tugas mereka. Meskipun janji-janji manis telah diberikan oleh KPUM, termasuk tentang pelaksanaan PEMILMA, hingga saat ini belum ada kepastian terkait dengan pelaksanaannya. Penulis merasa bahwa KPUM yang telah diberi mandat pada tahun 2023 untuk memastikan keberlangsungan demokrasi di kampus, namun harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. SEMA I, DEMA I, dan KPUM harus bertanggung jawab atas keterlambatan ini, dan penulis bertanya-tanya tentang alasan di balik kegagalan tersebut. Mungkin ada kendala anggaran atau kurangnya keterampilan dalam memimpin, atau bahkan lemahnya pengawasan dari WAREK III IAIN Kendari. Apapun penyebabnya, penulis berharap bahwa tindakan yang tepat akan diambil untuk memastikan keberlangsungan demokrasi dan kepercayaan di kampus.

Analogi sederhana yang dapat disimpulkan adalah seperti sebuah hulu yang menentukan arah aliran sungai ke hilir. Apabila niat yang baik dipadukan dengan instrumen atau cara yang tepat, maka tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Namun, apabila niat yang mendasari tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang baik,maka instrumen yang digunakan juga akan seiring dengan tujuan tersebut. Akibatnya, tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme akan muncul kembali. Niat yang hanya untuk mendapatkan pengalaman atau CV yang baik tanpa disertai dengan semangat untuk berkontribusi bagi masyarakat hanya akan menghambat kemajuan dalam pembangunan kehidupan berpolitik yang bersih, baik, dan sehat.

“Seburuk apapun aturan, jika dibarengi dengan konsistensi, maka akan lebih baik daripada peraturan yang bagus tetapi sumber daya manusianya tidak menerapkannya. Kegigihanmu hari ini merupakan pesan kehormatan yang disampaikan kepada orang lain tanpa suara atau kalimat, percaya atau tidak. Tidaklah tampangmu yang membuatmu dikenang, tidaklah ucapanmu yang membuatmu bijak, tetapi gerakanmu yang membuatmu bermakna. Harapan bangsa terletak pada pundak mahasiswa yang menyadari tanggung jawab dan fungsinya. Mari kembali pada lingkaran ketidaktahuan agar dapat menjadi tahu, sehingga mahasiswa akan tetap ada. HIDUP MAHASISWA!”

Nahkoda KPUM Tak Siap Berlayar 

Objektif.id – Apa kabar pesta demokrasi mahasiswa di Kampus biru tercinta.?  Tulisan ini kubuka dengan pertanyaan manis ini, sebagaimana manisnya janji-janji yang mereka rencanakan.

Seperti yang sudah kita saksikan yang terjadi pada Kampus tercinta kita di mana pesta demokrasi yang sudah banyak dinanti-nantikan oleh Mahasiswa-mahasiswa yang berkecimpung pada partai-partai yang menjadi idaman mereka, yang sampai saat ini tak kunjung digelar. kita semua sama-sama menantikannya.

Ibarat sebuah kapal para penumpang yang sudah bersiap dengan riang gembira menantikan euforia perjalanan yang sangat menarik hingga menghantarkan mereka pada tujuan, namun tidak akan pernah sampai disebabkan nahkoda kapal yang belum ingin berpisah dari dermaga.

Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) sudah memasuki bulan ke lima semenjak dibentuk pada Desember lalu, namun semenjak terbentuknya belum ada jadwal pasti terkait kapan pemilihan pada periode ini akan dilaksanakan. Layaknya tiupan angin yang menghempaskan asap dalam seketika hingga menghilang tanpa jejak.

11 April lalu dengan tegas Ketua KPUM Al- Izar membeberkan alasan mengapa pemilihan tidak dilaksanakan pada 2 bulan pertama semenjak terbentuk adalah karena bertepatan dengan libur mahasiswa dan juga belum cairnya anggaran untuk kegiatan akbar ini.

Namun alasan pertama telah tertepis dengan sendiri nya yaitu masa libur mahasiswa dan alasan yang kedua apakah sampai sekarang anggaran belum cair.? Ini tentunya hanya mereka yang bisa menjawab

Upaya dari teman-teman mahasiswa sudah banyak dilakukan mempertanyakan hal ini sampai dengan menggelar demontrasi, dan tidak hanya mahasiswa yang turut serta mempertanyakan bahkan Wakil Rektor III Kampus biru pun turut andil, namun yang kita lihat sekarang belum pula terlaksana hingga ini menjadi pertanyaan besar. Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa dimana kah anda.?

Penulis: Fitri
Editor: Redaksi

Feodalisme Dalam Organisasi

Objektif.id – Kebenaran lebih sering ditemukan disela-sela kekhilafan mereka yang berani berpikir untuk dirinya sendiri daripada diantara mereka yang merasa sempurna tapi malas bernalar. Mayoritas tabiat manusia yang berada dalam organisasi menganggap dirinya adalah yang paling pandai dan mengerti segala sesuatu hal, terutama pada orang-orang yang lebih dulu menyentuh wilayah organisasi. Jejak pengkultusan tersebut sangat jelas terekam dalam banyak tindakan, bahwa hanya mereka yang mempunyai otoritas lebih untuk menentukan sikap dan cara pandangnya.

Mereka yang demikian itu sebut saja “manusia tengil”. karena para manusia tengil ini yakni mereka yang lebih dulu masuk dalam organisasi maka dengan faktor itu seakan ada kebanggaan sebagai “kasta tertinggi” yang melekat pada dirinya. Dengan status sebagai kasta tertinggi itulah dipakainya menjadi instrument untuk melakukan suatu tindakan yang secara terang namun tak tergesah-gesah ingin memberi tahu kita jika yang baru bergabung ke dalam organisasi harus mengagung-agungkan status kasta tersebut.

sistem feodalisme yang terjadi hari ini dibanyak organisasi bukanlah hal yang baru sebab secara historis Budaya feodalisme ini sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia karena memang warisan dari zaman kerajaan yang menganut sistem patron-klien, bahkan di eropa pada abad pertengahan feodalisme mengakibatkan kekerasan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Akibat sistem feodalisme, masyarakat cenderung berorientasi pada nilai pelayanan yang berlebihan terhadap penguasa, orang yang dituakan, dan lain sebagainya.

Ironis apabila dalam organisasi yang menjadi tempat pertengkaran pikiran serta dengan segala keistimewaannya tiba-tiba disulap oleh para manusia tengil menjadi tempat peternakan generasi feodalisme. Sangat mengkhawatirkan ketika kemudian kultur ini secara terus menerus berkembang dalam lingkungan organisasi. Yang dimana secara universal kita ketahui bersama bahwa organisasi adalah wadah berkumpulnya satu, dua orang atau lebih dengan memiliki tujuan yang sama, tentunya dalam mencapai tujuan tersebut pasti dilakukan dengan metode yang begitu serius menciptakan manusia berpengetahuan, arif, dan bijaksana.

Tapi bagaimana mungkin semua harapan bisa terwujud kalau yang terjadi dalam organisasi adalah para manusia tengil itu seperti ingin di tuhankan, bahkan tak jarang jika ada yang berbeda pemikiran dari mereka langsung dianggap salah dan melawan bahkan dianggap membahayakan organisasi. Bukankah ”karena ada perbedaan maka untuk itu kita bersatu”? Namun yang ada dikepala manusia ugal-ugalan ini “demi persatuan maka tidak boleh ada perbedaan”.

Sepertinya dalam keadaan sadar ataupun tidak kita bersepakat bahwa mendiamkan kejahatan adalah suatu tindakan kemunafikan. Jika dalam organisasi didominasi oleh kekuatan feodalisme maka jangan salah ketika banyak anggota lain terlebih generasi yang baru bergabung dalam organisasi menjadi produk gagal. Cacat dalam mengaktualisasikan gagasan dan tujuan organisasi, nalar kritis menjadi tidak bertumbuh, cara pendidikannya bukan berbasis pengembangan intelektual.

Anggota yang baru bergabung hanya dianggap sebagai kendaraan untuk mengangkut gagasan orang lain yang sejatinya bertentangan dengan naluri dan keinginan dirinya sendiri. Implikasi kebiasaan tersebut menjadi konsumsi para anggota baru dan dalam banyak kasus para anggota baru melanjutkan sifat yang demikian itu. Teringat pernyataan Yusril Izha Mahendra beliau mengatakan bahwa dalam sistem yang buruk orang baik dipaksa menjadi jahat, dan dalam sistem yang baik orang jahat dipaksa menjadi baik.

Mengapa hal semacam itu terus berulang-ulang dan tidak bisa hilang? Karena keterlibatan manusia bengis dalam organisasi begitu massif terhadap aktivitas generasi baru sekaligus menjadi nyata bahwa regenerasi hadir bukan atas gagasannya sendiri melainkan arahan dan perintah titipan. Kalau tujuan manusia yang duluan bergabung ke organisasi untuk mendidik generasi setelahnya, bukankah tujuan dari pendididikan itu sendiri adalah untuk mempertajam kecerdasan, mengkuhkukan kemauan, serta memperhalus perasaan, sebagaimana yang dikatakan Tan Malaka. Ohh iya, baru-baru ini kita merayakan atau memperingati hari pendidikan nasional dengan icon tokohnya yakni Ki Hajar Dewantara yang mempunyai falsafah pendidikan “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, yang berarti di depan menjadi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan. Semoga dimomentum hari pendidikan menjadi titik balik dalam menumbuhkan kesadaran kolektif kita bahwa feodalisme adalah musuh dari pendidikan. Bukan hanya Tan Malaka atau Ki Hajar Dewantara yang orientasi pemaknaan terhadap pendidikan untuk melawan feodalisme tetapi semua tokoh bangsa menginginkan hal serupa.

Kalau organisasi menjadi salah satu alternatif untuk melakukan proses pendidikan atau kaderisasi maka organisasi jangan hanya menjadi alat penjinakan yang memanipulasi generasi baru, agar mereka dapat diperalat untuk melayani kepentingan manusia-manusia yang telah disebutkan diatas. Selain daripada itu, anomaly yang banyak terjadi pada generasi baru adalah mengaminkan tindakan-tindakan despotis para pendahulunya, membenarkan sesuatu yang salah. Keadaan semacam itu dianggap sebagai rasa terimakasih kepada para pendahulunya sehingga tidak mengherankan kalau kemudian siklus moral hazard yang mengakar kuat dalam organisasi semakin berkembang biak.

Sebenarnya dilain pihak masih ada manusia-manusia yang serius mengabdikan dirinya pada organisasi, yang ingin melakukan perubahan radikal demi perbaikan organisasi namun karena otoritas feodalismenya begitu kokoh maka tak jarang banyak yang dipinggirkan karena dinilai sebagai penggangu. Sudah jamak diketahui oleh banyak orang bahwa organisasi dengan kultur feodalismenya mengalami kemacetan berpikir, mempertahankan yang patuh terhadap kesewenang-wenangan. Ketika ada yang tidak menghadirkan pemikiran berbeda maka disitu manusia-manusia yang hanya membebek akan dirawat dan dianggap loyal terhadap organisasi. Padahal tujuan paling fundamental kita masuk berorganisasi yakni melatih kecakapan berpikir kritis bukan malah dijadikan manusia yang bangga mengkerdilkan pikiran serta menghamba pada kemunafikan.

Penulis : Hajar
Editor: Redaksi