Sosok Warek III UIN Kendari di Mata Mahasiswa, Dinilai Komunikatif dan Responsif

Kendari, Objektif.id – Sosok Wakil Rektor (Warek) III Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari di mata mahasiswa bukan sekadar pejabat birokrasi yang mengurusi bidang kemahasiswaan. Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), dan Ketua Umum UKM-Olahraga UIN Kendari menyebut Warek III sebagai sosok yang komunikatif, responsif, terbuka terhadap aspirasi, serta memberikan dukungan terhadap aktivitas lembaga kemahasiswaan.

Di balik posisi tersebut, sosok Warek III UIN Kendari, Dr. Sitti Fauziah M., M.Pd, juga dipandang mahasiswa sebagai seorang perempuan yang hadir dalam ruang kemahasiswaan dengan pendekatan yang dekat, terbuka, dan komunikatif. Bagi sejumlah pimpinan lembaga mahasiswa, keberadaan Warek III tidak hanya berkaitan dengan urusan administrasi dan koordinasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun komunikasi antara mahasiswa dan pimpinan kampus.

Pandangan tersebut disampaikan ketiga pimpinan lembaga mahasiswa melalui wawancara yang dilakukan pada Sabtu, 19 September 2026. Penilaian mereka mencakup peran Warek III dalam mendampingi lembaga kemahasiswaan, membangun komunikasi, hingga keterlibatannya dalam berbagai kegiatan mahasiswa.

Ketua SEMA UIN Kendari, Awal Hidayat, melihat Warek III sebagai bagian dari jalur koordinasi antara lembaga kemahasiswaan dan pihak birokrasi kampus. Menurutnya, keberadaan Warek III juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dalam menjalankan fungsi kelembagaan.

“Peran Warek III dalam lembaga kemahasiswaan sebagai mitra belajar untuk kami di Senat dan di lembaga kemahasiswaan, di dalam statuta juga itu sebagai jalur koordinasi,” ujarnya.

Dalam hal komunikasi, Awal menilai hubungan dengan Warek III berjalan baik dan mudah dijangkau. Ia juga menyoroti peran Warek III dalam memberikan ruang komunikasi ketika mahasiswa maupun lembaga kemahasiswaan membutuhkan koordinasi.

“Komunikasi untuk di Senat baik dan mudah dijangkau. Khusus Warek III, kami menghadirkan solutif bagi mahasiswa dan kelembagaan,” katanya.

Keterlibatan Warek III dalam kegiatan mahasiswa juga disebut terlihat melalui kehadirannya dalam sejumlah agenda lembaga kemahasiswaan. Hal tersebut menjadi salah satu bentuk interaksi langsung antara pimpinan dan mahasiswa dalam aktivitas organisasi.

“Keterlibatan dalam lembaga itu sering sekali menghadiri dan membuka kegiatan-kegiatan lembaga mahasiswa,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DEMA UIN Kendari, Risdawati, menilai Warek III memiliki peran sebagai fasilitator sekaligus mitra strategis bagi lembaga kemahasiswaan. Ia menyebut dukungan tersebut tidak hanya diberikan ketika kegiatan berlangsung, tetapi juga melalui ruang komunikasi ketika lembaga menghadapi kendala.

“Kalau saya lihat, perannya Warek III dalam mendukung lembaga kemahasiswaan itu betul-betul jadi fasilisator sekaligus mitra strategis buat lembaga mahasiswa. Beliau tidak lepas tangan, tapi selalu dukung penuh kegiatan mahasiswa dan selalu buka ruang dialog atau komunikasi kalau ada kendala di lembaga. Intinya, beliau selalu kasih arahan dan terbuka untuk mendukung program lembaga kemahasiswaan,” tuturnya.

Menurut Risda, pola komunikasi yang terbangun selama ini juga berjalan dua arah. Respons terhadap aspirasi mahasiswa dinilai menjadi salah satu hal yang membuat koordinasi antara lembaga mahasiswa dan Warek III dapat berlangsung secara terbuka.

“Ya, komunikasi yang terjalin selama ini berjalan dengan sangat baik, dua arah, dan beliau sangat responsif terhadap segala aspirasi yang kami sampaikan. Kami merasa tidak ada jarak atau sekat yang kaku saat ingin berdiskusi. Setiap kali DEMA atau lembaga mahasiswa lainnya menghadapi kendala dan membutuhkan ruang dialog, beliau selalu meluangkan waktu untuk memberikan respons maupun solusi,” jelasnya.

Meski tidak selalu hadir secara langsung di lapangan dalam setiap kegiatan, Risda menyebut dukungan Warek III tetap terlihat melalui koordinasi dengan lembaga mahasiswa.

“Beliau terlibat secara aktif, meski kadang sesekali saya melihat beliau tidak ikut dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan, tetapi tetap koordinasi ke lembaga mahasiswa dan men-support kegiatan,” ujarnya.

Penilaian terhadap sosok Warek III juga datang dari Ketua Umum UKM-Olahraga UIN Kendari, Muh. Yogi Alfajri. Ia melihat Warek III sebagai sosok yang memberikan perhatian dan pendampingan terhadap mahasiswa, khususnya lembaga kemahasiswaan.

“Selama ini kami melihat bahwa Ibunda Warek III senantiasa menunjukkan sikap pengayoman serta kepedulian yang tinggi terhadap mahasiswa, khususnya dalam memberikan dukungan dan pendampingan kepada teman-teman lembaga kemahasiswaan,” ungkapnya.

Dari sisi komunikasi, Yogi menilai Warek III memiliki pola komunikasi yang membantu koordinasi antara mahasiswa dengan pihak pimpinan.

“Dari segi komunikasi, beliau merupakan sosok yang sangat komunikatif, responsif, dan memiliki pola komunikasi yang baik, sehingga memudahkan koordinasi antara pimpinan dan mahasiswa,” tuturnya.

Ia juga menilai keterlibatan Warek III dalam kegiatan kemahasiswaan telah berjalan sesuai dengan kapasitasnya sebagai pimpinan.

“Alhamdulillah, dalam pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan, beliau kami nilai telah terlibat secara proporsional dan sesuai dengan porsinya sebagai pimpinan,” katanya.

Ketiga pimpinan lembaga mahasiswa tersebut tidak hanya memberikan penilaian, tetapi juga menyampaikan harapan agar hubungan yang telah terbangun dengan Warek III dapat terus dipertahankan.

Ketua SEMA berharap Warek III tetap menjadi mitra belajar bagi mahasiswa dan mempertahankan komunikasi yang selama ini dinilai memberikan ruang bagi lembaga kemahasiswaan.

“Harapan saya untuk Ibunda Warek III, semoga sehat selalu, berkah untuk sekeluarga, menjadi mitra belajar kami, serta tetap terjalinnya komunikasi yang solutif dan membangun di lembaga kemahasiswaan,” harapnya.

Sementara Ketua DEMA berharap keterbukaan dan responsivitas Warek III dapat terus ditingkatkan, termasuk dalam membangun sinergi yang lebih kuat antara birokrasi kampus dan lembaga mahasiswa.

“Harapan saya ke depannya, semoga keterbukaan, sikap responsif, dan pola komunikasi yang sudah berjalan dengan baik ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Kami juga berharap sinergi antara pihak birokrasi, khususnya kemahasiswaan, dengan lembaga mahasiswa bisa semakin erat dan bisa semakin aktif untuk terlibat di lapangan untuk kemudian men-support kegiatan mahasiswa demi melahirkan inovasi baru di lembaga mahasiswa dan juga prestasi bagi kampus kita ke depannya,” ungkapnya.

Harapan serupa disampaikan Ketua Umum UKM-Olahraga yang menginginkan peran Warek III dalam mendukung aktivitas mahasiswa dapat terus diperkuat.

“Adapun harapan kami ke depan, semoga Warek III dapat terus meningkatkan peran dan kontribusinya dalam mendukung serta terlibat aktif pada seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan,” tuturnya.

Bagi mahasiswa, sosok Dr. Sitti Fauziah M., M.Pd sebagai seorang perempuan yang berada di posisi pimpinan bidang kemahasiswaan tidak hanya terlihat dari jabatan yang diembannya. Cara berkomunikasi, membuka ruang dialog, memberikan arahan, hingga hadir dalam sejumlah kegiatan menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan para pengurus lembaga mahasiswa dalam berinteraksi dengannya.

Dari tiga perspektif tersebut, sosok Warek III di mata mahasiswa tergambar melalui tiga hal utama yaitu komunikasi, dukungan, dan keterlibatan. Ketiganya menjadi bagian yang dinilai oleh SEMA, DEMA, dan UKM-Olahraga dalam melihat hubungan Warek III dengan lembaga kemahasiswaan di UIN Kendari.

 

Penulis: Andi Istigfar Al-Ghifary

Nyala Lilin dan Doa Solidaritas Pers Kendari untuk Kelima Jurnalis yang Hilang Kontak di Anak Gunung Krakatau

Kendari, Objektif.id – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Radar Coffee, Kendari, ketika puluhan wartawan dan insan pers dari berbagai media berkumpul dalam aksi solidaritas dan doa bersama. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Jurnalis Sulawesi Tenggara ini digelar sebagai bentuk kepedulian mendalam atas musibah hilang kontaknya lima rekan jurnalis saat bertugas melakukan peliputan di kawasan Anak Gunung Krakatau.

Para insan pers yang hadir tampak kompak mengenakan pakaian bernuansa hitam serta menyalakan lilin sebagai lambang duka sekaligus titik terang harapan. Nyala lilin kecil di tengah kegelapan malam itu menegaskan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan panggilan jiwa yang menuntut dedikasi tinggi hingga mempertaruhkan keselamatan diri.

Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 12 September 2026, tepat pukul 19.00 WITA langsung diisi dengan penuturan pesan moral, serta doa bersama yang dipanjatkan secara penuh kekhusyuan. Keheningan tercipta saat disebutkan nama-nama lima wartawan yang belum diketahui keberadaannya tersebut disebutkan satu per satu di hadapan peserta yang hadir.

Dalam momentum penuh keprihatinan tersebut, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari, Nursadah, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran dan solidaritas kawan-kawan wartawan yang menyempatkan diri untuk bersatu dalam doa.

“Tentunya yang pertama kami berterima kasih kepada kawan-kawan jurnalis yang sudah menyempatkan hadir untuk melakukan doa bersama pada malam hari ini untuk lima kawan kita yang sampai saat ini belum ada kabar baik dari mereka”, katanya.

Nursadah kemudian menekankan pentingnya kesadaran kolektif mengenai aspek keselamatan dalam setiap tugas jurnalistik. Prinsip dasar bahwa kerja-kerja Pers tidak boleh mengabaikan keselamatan jiwa harus ditanamkan secara kuat dalam benak setiap jurnalis di lapangan.

“Benar sekali bahwa jargon tidak ada berita senilai nyawa itu betul-betul agar menjadi perhatian kita bersama, terkhususnya dalam kegiatan peliputan berisiko, peliputan bencana, itu jangan sampai kita abay dengan keselamatan kita”, ujar Nursadah.

Musibah yang menimpa lima insan pers di Anak Gunung Krakatau ini menjadi pukulan telak sekaligus pengingat keras bagi komunitas wartawan, khususnya di Sulawesi Tenggara. Kegiatan peliputan di area bencana maupun wilayah berisiko tinggi memang selalu menyimpan ancaman nyata yang sewaktu-waktu dapat mengintai keselamatan jiwa.

Nursadah juga mengungkapkan bahwasanya semangat para wartawan dalam menyajikan fakta dan merekam peristiwa kerap membuat mereka mengesampingkan potensi bahaya. Namun, keberanian tersebut harus tetap dibentengi dengan perhitungan matang serta mitigasi risiko yang ketat.

“Meskipun kita sadari bahwa tugas jurnalis itu selalu berusaha mengabadikan momen, mengabadikan gambar yang betul-betul menarik untuk diketahui oleh publik, tetapi tentu keselamatan menjadi poin utama kita”, ucapnya.

Di tengah ketidakpastian proses pencarian di lokasi kejadian, doa dan simpati terus mengalir dari berbagai elemen komunitas Pers di Kota Kendari. Harapan terbesar saat ini adalah keselamatan para korban serta kekuatan bagi keluarga yang sedang menanti kepastian.

Nursadah juga kemudian menambahkan harapannya agar kelima jurnalis yang hilang kontak itu segera ditemukan. “Tentu kita berharap lima kawan kita segera ada kabar baik dari mereka dan dari keluarga yang ditinggalkan, semoga mereka sabar dan kemudian team yang sedang melakukan upaya pencarian semoga dapat memberi kabar baik”, tambahnya.

Aksi solidaritas malam itu juga diwarnai dengan seruan moral kepada pihak-pihak terkait, khususnya team SAR gabungan, agar memaksimalkan proses pencarian dan penyisiran di sekitar lokasi anak gunung krakatau dengan tetap mengedepankan aspek keamanan tim evakuasi.

Bagi insan pers di Sulawesi Tenggara, peristiwa ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya standar operasional prosedur (SOP) peliputan kebencanaan. Evaluasi dan pelatihan mitigasi risiko peliputan berisiko menjadi kebutuhan mendesak yang perlu terus ditingkatkan oleh setiap perusahaan media maupun organisasi profesi.

Kegiatan malam solidaritas itu diakhiri dengan pemadaman lilin secara bersama-sama yang diiringi doa penutup.

 

Penulis : Faiz Al Habsyi

IAIN Kendari Raih Penghargaan Nasional, Catat Sejarah sebagai PTKIN Terbaik Satu Pendaftar Terbanyak se-IAIN Jalur UM-PTKIN 2025

Kendari, objektif.id – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari kembali mencetak prestasi membanggakan di tingkat nasional sebagai terbaik satu Perguruan Tingggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan jumlah pendaftar terbanyak se-IAIN di seluruh Indonesia pada jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tahun 2025.

Pencapaian ini menandai eksistensi IAIN Kendari sebagai institusi pendidikan tinggi keagamaan islam negeri yang semakin diminati dan diperhitungkan secara nasional.

Penghargaan ini diterima langsung oleh Rektor IAIN Kendari, Husain Insawan dari Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, dalam agenda sidang kelulusan nasional ujian masuk PTKIN Tahun 2025 yang berlangsung di Hotel Vertu Harmoni, Jakarta, pada Rabu, 25 Juni 2025. Momentum ini menjadi simbol pengakuan atas dedikasi dan kerja keras seluruh unsur pimpinan dan civitas akademika IAIN Kendari.

Rektor IAIN Kendari, Husain Insawan, menyampaikan bahwa prestasi yang diraih tersebut menempati IAIN Kendari di peringkat pertama dari 15 IAIN se-Indonesia dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru secara nasional.

“Dari 15 IAIN di seluruh Indonesia, kita berada di urutan pertama. Bahkan jika dihitung secara keseluruhan dari 58 PTKIN (yang terdiri dari 39 UIN, 15 IAIN, dan empat STAIN), IAIN Kendari berada di posisi ke-27 secara nasional,” ujar Husain.

Peningkatan signifikan ini menjadi fenomena tersendiri, mengingat tren nasional menunjukkan penurunan jumlah pendaftar di sebagian besar PTKIN. Namun IAIN Kendari justru mengalami lonjakan yang mencolok, dari sekitar 600 pendaftar di tahun 2024 menjadi 978 orang pada tahun 2025.

“Artinya, terjadi kenaikan hampir sepertiga dari total pendaftar tahun sebelumnya. Dalam kondisi di mana banyak PTKIN mengalami penurunan, IAIN Kendari justru mengalami peningkatan tajam, dan ini menjadi catatan positif yang membanggakan. Kondisi ini mempertegas bahwa strategi dan pendekatan promosi yang dijalankan kampus telah tepat sasaran,” ujarnya.

Dalam ajang penghargaan tersebut, IAIN Kendari juga meraih empat predikat yang membagakan, yaitu IAIN Kendari sebagai terbaik satu PTKIN dengan jumlah pendaftar pilihan pertama terbanyak, terbaik satu untuk Prodi PAI (Pendidikan Agama Islam) dengan peminat terbanyak, dan IAIN Kendari terbaik enam untuk Prodi Manajemen Bisnis Syariah, terbaik tujuh untuk Prodi PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah).

Menurut dia, keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif civitas akademik dalam strategi promosi digital dengan melibatkan dosen dan tenaga kependidikan yang turut mensosialisasikan penerimaan mahasiswa baru melalui media sosial masing-masing.

“Kami menggerakkan semua unsur civitas akademika, khususnya dosen dan tenaga kependidikan, untuk aktif menyosialisasikan penerimaan mahasiswa baru melalui media sosial mereka masing-masing,” jelasnya.

Strategi ini ditunjang dengan identifikasi akun media sosial seluruh dosen dan staf, yang kemudian dimanfaatkan sebagai saluran informasi tentang Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) sehingga kampus mampu membangun jaringan komunikasi promosi yang masif, terstruktur, dan terukur.

Keberhasilan ini juga tak lepas dari dukungan sarana dan prasarana kampus yang kian memadai. Mulai dari ruang kelas yang nyaman dan ber-AC, kursi semi-sofa, jaringan Wi-Fi, hingga ketersediaan proyektor di setiap kelas. Fasilitas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi calon mahasiswa. Faktor kenyamanan dan teknologi pembelajaran yang disiapkan IAIN Kendari turut mempengaruhi keputusan calon mahasiswa untuk mendaftar.

Selain itu, kampus juga menyediakan berbagai beasiswa, baik dari kementerian seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) maupun dari pemerintah daerah. Ini adalah bentuk komitmen IAIN Kendari dalam mendukung akses pendidikan yang merata dan berkeadilan. Program beasiswa ini menjawab kebutuhan mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk tetap mengenyam pendidikan tinggi.

Tak hanya unggul dari sisi fasilitas, IAIN Kendari juga dikenal sebagai kampus yang aman dan nyaman. Keamanan yang terjaga, lingkungan yang bersih, serta suasana belajar yang kondusif menjadikan kampus ini pilihan ideal bagi calon mahasiswa baru. Lingkungan belajar yang sehat dan aman menjadi daya dukung penting dalam proses akademik mahasiswa.

Biaya kuliah atau UKT yang terjangkau menjadi nilai tambah lainnya. Dengan standar UKT yang rendah dibandingkan kampus lain di Indonesia, IAIN Kendari menunjukkan keseriusannya dalam mendukung mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi.
Hal ini sejalan dengan misi perguruan tinggi untuk memberikan layanan pendidikan yang inklusif dan merata.

Pihak kampus berkomitmen agar pencapaian ini bukan hanya menjadi catatan prestasi sesaat. Langkah strategis seperti memperkuat sistem promosi berbasis digital akan terus dilakukan pada tahun-tahun mendatang, dengan melibatkan lebih banyak mahasiswa dan alumni sebagai duta kampus. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi IAIN Kendari sebagai institusi pilihan utama dalam pendidikan tinggi keagamaan.

Dengan pencapaian luar biasa ini, IAIN Kendari tidak hanya membanggakan Sulawesi Tenggara, tetapi juga menunjukkan bahwa kampus berbasis keislaman mampu bersaing di tingkat nasional melalui inovasi, dedikasi, dan kerja kolektif seluruh unsur kampus. Prestasi ini menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus bergerak maju dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap IAIN Kendari.

Perjuangan Ibu Anak Empat, Teguh Menabur Asa Dalam Hidangan

Kendari, Objektif.id – Sore itu, senja ramadhan begitu romantis menggoda semesta di langit Kendari, dengan awan yang memberi ruang membiaskan cahaya jatuh menghujam bumi diantara kepadatan hiruk pikuk derap langkah para pencari pabuka (takjil) yang berayun lusuh, lambat, dan kusut, disaksikan rentetan barisan serba-serbi takjil seraya marayu merindu magrib.

Diantara ragam pajangan takjil buruan masyarakat umum dan para mahasiswa, di tengah-tengah kesibukan manusia yang berlalu lalang di hadapan jualan dari tempat satu ke tempat lain, di situ nampak seorang perempuan paruh baya dengan senyum teduh yang sedang asyik merapikan dagangannya. Dialah Tisna, seorang ibu beranak empat yang menggantungkan harap hidupnya pada gelas-gelas takjil es cincau bersama berbagai macam jajanan kue lainnya yang tersusun rapi di meja kayu terbungkus plastik sederhana yang jauh dari motif elitis.

Setiap hari di bulan suci ini, Tisna kerap tiba lebih awal dibanding pedagang lainnya untuk menyusun setiap takjil yang akan ia jajakan sembari menanti kemesraan orang-orang datang berhimpitan menyambanginya. Disaat para pembeli datang bertamu ke tempatnya, ia dengan sigap memberikan pelayanan prima, terlihat sangat jelas bagaimana kelihaian tangannya ketika menuangkan es cincau ke dalam gelas plastik bening sekaligus menyusun aneka kue dalam paduan menggiurkan yang bukan hanya sekadar enak ditatap melainkan ketika nantinya juga disantap.

Selain itu, ia tahu betul untuk memberikan ruang nyaman kepada pembeli sebagai bagian dari kewajibannya, ia pastikan tak ada sampah berserakan, tak ada pemandangan yang mengganggu selain jajanan yang menggugah selera sambil menanti suara syahdu azan yang kelak menggema menandakan waktu berbuka.
“Ketertiban di sini selalu terjaga, selama kita mematuhi aturan,” katanya, Kamis, 20 Maret 2025 seraya menyambut seorang pembeli.

Dari hasil dagang setiap hari, lebih dari tujuh puluh gelas takjil berpindah tuan pada tangan-tangan yang selalu membawa berkah kebahagiaan dan rasa syukur pada penghasilan senilai tujuh ratus ribu rupiah, jumlah yang menurutnya cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya. Ketika berjualan Tisna dibantu oleh anak sulungnya yang baru duduk di kelas lima Sekolah Dasar (SD).

“Anak saya membantu juga, dari menyiapkan hingga membereskan dagangan,” tuturnya dengan bangga yang ingin memberikan pengalaman hidup sejak dini bahwa usaha berjualannya itu bukan hanya menyoal pencarian nafkah, tetapi juga pelajaran bagi anak-anaknya kelak tentang bagaimana arti kerja keras menghadapi arus kehidupan ekonomi sosial yang kompleks.

Ketika Ramadhan tiba, rezeki seolah mengalir deras bagi Tisna. Namun, ketika bulan suci berlalu, ia tak lantas berhenti. Ia tahu, kehidupan harus terus berjalan, dan tangannya yang terampil harus kembali menari di atas dapur kecilnya dengan memacu tubuhnya di pagi buta, sebelum fajar menyingsing.

Dari dapurnya yang sederhana, ia mengantarkan kehangatan bagi banyak orang, menjadikannya bagian dari rutinitas pagi yang tak tergantikan. Di situ ia sudah bangun mempersiapkan jualannya dengan mulai memandu beras dalam paduan santan dan kunyit sebagai bahan dasar yang berbaur dengan rempah-rempah lainnya, membiarkan aroma harum menyeruak dari panci yang mengepul merubah butiran beras yang semula putih kini berpendar kuning keemasan, tanda bahwa menu jualannya itu siap dihidangkan. Dan menu sederhana itu adalah nasi kuning, jajanan makanan yang begitu dicintai banyak orang di pagi hari yang disajikan dengan berbagai lauk pendamping yang semakin menggugah cita rasanya untuk dinikmati.

Dari hasil penjualan nasi kuningnya, ia berhasil meraup untung dikisaran lima ratus ribu per hari, jumlah yang tak sebanyak pendapatan dibulan ramadhan namun Tisna tetap dengan teguh gagah terus melangkah untuk memastikan dapurnya terus mengepul, kompornya tetap menyala, dan anak-anaknya tetap bersekolah menggapai cita-cita.

Diketahui aktivitas berjualannya digeluti sejak tahun 2024 yang merupakan awal dari segala perjalanannya sebagai pegiat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dan di tahun ini, harapannya agar lebih banyak pembeli lebih banyak keberkahan. “Semoga UMKM makin maju dan semakin ramai pembeli,” ujarnya pelan, seperti doa yang larut bersama angin yang tak lama lagi menenggelamkan senja menjelang waktu berbuka puasa.

Bahwa dibalik ragam menu jualannya itu ada terselip secercah harapan. Ibu Tisna adalah satu dari banyak wajah yang menggambarkan ketangguhan. Di dalam setiap gelas es cincau dan nasi kuning yang ia suguhkan, di dalamnya ada cinta, ada perjuangan, serta ada doa yang terus ia titipkan pada langit.

Oleh karena itu, harapan ibu Tisna tidak boleh tersisih di negeri ini. Dia adalah simbol perjuangan yang menjadi bahan bakar semangat yang memberi pesan terhadap kekuasaan agar jangan tertatap gagap memikirkan keberlangsungan mereka yang berkecimpung di dunia UMKM.

Untuk memastikan keberlangsungan UMKM pemerintah harus hadir dalam dinamika sosial ekonomi akar rumput, jangan hanya sekadar duduk di sebuah rapat mewah berpendingin ruangan kemudian berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dengan menunjukan angka-angka statistik yang tampak menjanjikan memenuhi layar proyektor. Padahal faktanya, sosial ekonomi republik sedang tergoncang oleh ulah para oknum pejabatnya yang korup.

Penulis: Faiz Al Habsyi
Editor: Harpan Pajar

Rachma Alya Ramadhan: Dari Anggota Hingga Ketua Umum UKM Pers IAIN Kendari

Kendari, Objektif.id – Rachma Alya Ramadhan tidak pernah menyangka perjalanannya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari akan membawanya ke posisi tertinggi dalam organisasi tersebut. Perempuan yang kini menjabat sebagai Ketua Umum UKM Pers periode 2025-2026 itu telah menorehkan kisah inspiratif tentang komitmen dan dedikasi.

Lahir dari semangat ingin belajar, Rachma pertama kali bergabung dengan UKM Pers pada tahun 2023 sebagai anggota muda. Dalam perjalanannya, ia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari liputan kampus hingga menginisiasi program kreatif untuk anggota lainnya.

Perannya yang semakin signifikan membuat namanya diperhitungkan dalam Musyawarah Besar (Mubes) UKM Pers ke-25, yang digelar pada 10-11 Januari 2025 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN Kendari.

“Awalnya, saya hanya ingin belajar dan berkontribusi sedikit demi sedikit. Tapi, pengalaman di UKM Pers ini begitu berarti hingga saya merasa harus memberikan lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Mimpi Besar untuk UKM Pers

Sebagai Ketua Umum, Rachma membawa visi besar: menjadikan UKM Pers lebih solid, progresif, dan inovatif. Ia memandang organisasi ini bukan hanya sekadar tempat berkarya, tetapi juga sebagai rumah bagi jurnalis muda yang profesional dan berintegritas.

“UKM Pers bukan sekadar tempat belajar menulis atau membuat berita, tapi juga wadah untuk mencetak jurnalis muda yang kritis dan mampu memberikan dampak positif,” ujar Rachma.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi, baik di dalam organisasi maupun dengan pihak eksternal. Baginya, kerja sama adalah kunci keberhasilan UKM Pers ke depan.

Komitmen Bersama Anggota

Rachma sadar bahwa memimpin organisasi tidak bisa dilakukan sendiri. Ia terus mengajak seluruh anggota untuk bersama-sama menjaga komitmen, semangat, dan solidaritas dalam membangun UKM Pers.

“Keberhasilan organisasi bukan hanya tanggung jawab ketua, tetapi hasil kerja sama kita semua. Mari kita saling mendukung, berbagi ide, dan bekerja keras agar visi dan misi organisasi dapat tercapai,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Rachma berharap UKM Pers IAIN Kendari dapat menjadi kebanggaan kampus. Ia percaya, dengan semangat kebersamaan, UKM Pers mampu melangkah lebih jauh dan lebih baik di masa depan.

Reporter: Faiz (Anggota Muda)

Editor : Ama

Rahasia Sukses Andriani: Kisah di Balik Gelar Wisudawan Terbaik

Kendari, Objektif.id – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari kembali meluluskan mahasiswa terbaik dalam Wisuda ke-XIII Program Sarjana dan Magister, Rabu, 16 Oktober 2024, di Aula Ballroom Multimedia IAIN Kendari.

Wisuda ini menjadi momen penting bagi ratusan mahasiswa yang akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya, dan salah satu nama yang mencuri perhatian publik adalah Andriani.

Sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Andriani bukan hanya sekadar lulus, tetapi berhasil menorehkan prestasi yang luar biasa.

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95, Andriani menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3 tahun 6 bulan. Capaian ini menjadikannya sebagai salah satu lulusan terbaik dalam wisuda kali ini.

Dalam wawancara eksklusif dengan Objektif.id, Andriani mengaku bahwa sejak awal masa kuliahnya, ia tidak pernah menargetkan untuk menjadi mahasiswa terbaik.

Baginya, proses belajar itu sendiri sudah menjadi kepuasan. Andriani menekankan bahwa ia lebih menikmati setiap pelajaran yang ia dapatkan, tanpa merasa harus menjadi yang terbaik di antara banyak mahasiswa.

“Saya tidak pernah berniat menjadi mahasiswa terbaik. Saya hanya suka belajar dan membaca buku. Menurut saya, jika kita tekun, hasilnya akan datang sendiri tanpa harus terlalu berharap,” ujarnya dengan rendah hati setelah prosesi wisuda.

Rupanya, upaya konstruktif Andriani dalam mengorientasikan dirinya pada pengembangan intelektual yang tidak hanya fokus pada ruang akademik perkuliahan ternyata telah membuahkan hasil yang tidak sia-sia.

Karena selain prestasi akademiknya yang gemilang, Andriani juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi. Sejak 2020, ia telah menjadi bagian dari kader Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers, sebuah organisasi yang fokus pada pengembangan kemampuan jurnalistik mahasiswa.

Tidak hanya itu, Andriani juga pernah berkontribusi dalam Senat Mahasiswa (Sema) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema), sebuah organisasi Lembaga Kemahasiswaan Politik di lingkungan IAIN Kendari.

Dengan mencelupkan diri dalam organisasi-organisasi tersebut, Andriani tidak hanya mendapatkan pengalaman berharga di luar kelas, tetapi juga membantu dirinya dalam merajut jejaring sosial yang luas.

Disamping kepadatan jadwal akademik dan organisasi yang menyibukkan, Andriani tetap berupaya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan non-akademiknya. Bahkan, ia juga merupakan penghuni Ma’had, asrama mahasiswa yang mengharuskan penghuninya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan secara rutin.

“Semua kegiatan ini memang menambah kesibukan, tapi saya justru merasa terbantu karena dengan berorganisasi, saya belajar bagaimana memanajemen waktu dan menentukan skala prioritas. Ini sangat membantu saya untuk tetap fokus dalam studi sekaligus aktif dalam organisasi,” ucap Andriani yang disusul dengan senyumannya.

Dalam wawancara tersebut, Andriani juga tidak lupa membagikan tips suksesnya kepada mahasiswa lain Yang menurutnya penting. Dia menganggap bahwa yang mesti menjadi perhatian mahasiswa adalah rajin membaca buku, diskusi, dan menulis, serta mengikuti perkembangan zaman, sebagaimana tradisi kemahasiswaan yang tidak boleh mati.

“Rajin-rajinlah membaca buku, diskusi, menulis, dan selalu ikuti perkembangan berita. Dengan itu, kita akan terus memperkaya pengetahuan dan tidak ketinggalan informasi”, saran Andriani yang percaya bahwa tradisi kemahasiswaan itu adalah ruang-ruang ilmu pengetahuan yang tak terbatas dan penting bagi setiap mahasiswa.

Meski telah meraih prestasi yang membanggakan di jenjang sarjana, Andriani tidak berhenti di situ. Dia akan terus melenting mengembangkan potensi dirinya.

Salah satunya, dia sementara mempersiapkan langkah berikutnya untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 di UIN Alauddin Makassar dengan fokus pada bidang yang sama, yaitu Ekonomi Syariah.

Baginya, pendidikan merupakan jalan panjang yang harus terus dilalui, terlebih dengan impiannya untuk menjadi seorang dosen. “Saya ingin menjadi dosen, dan untuk itu saya akan terus belajar,” tegas Andriani dengan penuh optimisme.

Andriani, melihat profesi dosen merupakan jalan ninjanya untuk terus berkiprah dalam berbagi ilmu dan menjadi bagian dari pengembangan generasi muda di Indonesia, khususnya dalam bidang Ekonomi Syariah yang menurutnya memiliki potensi besar dalam pembangunan ekonomi berbasis nilai-nilai keislaman.

Bahwa apa yang diyakini Andriani dalam menempa dirinya didunia pendidikan itu sejalan dengan apa yang dikatakan Imam Syafi’i, ” jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan”.

Dengan prestasi akademik dan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan organisasi menjadi kombinasi yang memperkuat posisinya sebagai role model di kampus.

Sehingga Andriani, adalah salah satu contoh nyata dari sekian banyak mahasiswa bahwa kesuksesan tidak selalu harus dikejar dengan ambisi besar, melainkan dengan dedikasi, disiplin, dan kecintaan terhadap proses belajar itu sendiri.

Sebagai lulusan terbaik, Andriani kini telah menorehkan namanya dalam sejarah IAIN Kendari. Namun, lebih dari itu, ia juga telah memberikan pelajaran berharga bagi mahasiswa tentang pentingnya menempa diri dalam banyak kegiatan kemahasiswaan, yang tidak hanya fokus pada ruang perkuliahan saja akan tetapi dalam proses berorganisasi.

Reporter: Alisa Tri Julela (Anggota Muda)
Editor: Andi Tendri

IAIN Kendari Ajukan Lima Dosen untuk Meraih Gelar Guru Besar, Kampus Tegaskan Tidak Ada Persiapan Khusus

Kendari, Objektif.id – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari tengah memproses pengajuan lima dosen untuk meraih gelar guru besar.

Wakil Rektor I IAIN Kendari, Dr, Jumardin La Fua, menegaskan bahwa pihak kampus tidak memberikan persiapan khusus bagi dosen yang ingin mencapai jabatan tersebut.

Ia menjelaskan gelar guru besar merupakan puncak karier akademik yang harus dicapai secara mandiri oleh para dosen melalui usaha memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

“Persiapan untuk meraih jabatan guru besar merupakan inisiatif dan usaha dosen sendiri. Mereka harus memenuhi serangkaian kriteria yang berlaku, dan kami di kampus hanya memfasilitasi proses pengajuan,” kata Jumardin saat ditemui diruangannya, Rabu (9/10/2024).

Menurutnya, proses menjadi guru besar bukanlah perjalanan instan. Dosen harus memenuhi indikator-indikator yang mencakup publikasi ilmiah, penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.

Indikator ini menjadi tolak ukur kelayakan dosen dalam pengajuan jabatan tersebut.

Hingga saat ini, IAIN Kendari telah memiliki sembilan dosen yang berhasil meraih gelar guru besar.

Namun, pihak kampus menegaskan bahwa keberhasilan tersebut sepenuhnya hasil dari inisiatif dosen masing-masing.

Dalam perkembangan terbaru, kata Jumardin terdapat lima dosen IAIN Kendari yang sedang dalam proses pengajuan jabatan guru besar, yakni:

1. Dr. H. Pairin, M.A.
2. Dr. Nurdin Karim, S.Ag., M.Pd.,
3. Dr. H. Abdul Kadir, M.Pd.,
4. Dr. Fahmi Gunawan, S.S., M.Hum.,
5. Dr. H. Herman.

“Kelimanya telah mengajukan dokumen yang diperlukan dan kini sedang divalidasi oleh kementerian terkait,” ungkap Jumardin.

Menurutnya, proses pengajuan kenaikan jabatan dosen ini tidaklah sederhana. Bagi dosen yang berada di rumpun ilmu agama, pengajuan diajukan melalui Kementerian Agama, sementara dosen yang bergerak di rumpun ilmu umum diajukan melalui Kementerian Pendidikan Nasional.

“Dokumen mereka masih dalam proses validasi oleh kementerian terkait. Setelah itu, kami tinggal menunggu hasil evaluasi,” terang Jumardin.

Ia menegaskan proses pengajuan guru besar ini tidak dapat dilakukan dengan cepat. Semua dosen yang mengajukan diri harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, dan keputusan akhir sangat bergantung pada hasil evaluasi kementerian.

“Kami di IAIN Kendari hanya mendukung dan memfasilitasi. Pada akhirnya, hasilnya tergantung pada upaya dosen dan hasil evaluasi dari kementerian,” tutupnya.

Penulis: Wawan Tasriadin (Anggota Muda)

Editor: Redaksi

 

Lakukan Latihan Militer di Yonif 725, Menwa IAIN Kendari Siap Bentuk Generasi Tangguh

Kendari, Objektif.id – Resimen Mahasiswa (Menwa) IAIN Kendari, menggelar Pendidikan Dasar Militer (Diksarmil) yang ke XXIII dalam upaya untuk melahirkan regenerasi tangguh yang dapat menjadi agen perubahan di lingkungan kampus maupun masyarakat.

 

Pada kegiatan yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 7-11 Oktober 2024 di Batalyon Infanteri (Yonif) 725 Woroagi, Kecamatan Andolo, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) mengusung tema, “Regenerasi dalam organisasi untuk mencapai prestasi dan membentuk inovasi menuju revolusi” yang diikuti 11 orang peserta dari berbagai program studi.

 

Komandan Satuan (Dansat) Menwa 242 Jihad Chakti IAIN Kendari, Desrin Sihu, mengatakan bahwa tema tersebut diharapkan mampu melahirkan perubahan dan pembaharuan dengan memberikan berbagai macam pelatihan selama Pendidikan.

 

“Yaitu Peraturan Baris Berbaris (PBB), Peraturan Penghormatan Militer (PPM),Taktik Tempur (TIKPUR), Kesehatan Lapangan, Kompas pagi dan malam serta menembak, ” katanya.

 

Desrin menjelaskan bahwa pendidikan tahun ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh Menwa 242 Jihad Chakti IAIN Kendari secara mandiri dengan berkoordinasi langsung serta berkolaborasi dari pihak Batalion Yonif 725 Waroagi.

 

“Pendidikan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya diadakan Diksarmil gabungan yang diikuti oleh beberapa kampus yang ada di Sulawesi Tenggara.” Ujarnya.

 

Kata Desrin Sihu, Diksarmil mandiri ini merupakan kegiatan tahunan serta wujud komitmen Menwa IAIN Kendari dalam melahirkan menwa muda yang Tangguh.

 

“Untuk mencapai prestasi Menwa butuh regenerasi diberbagai bidang, misalnya tahun ini kami berencana untuk mengadakan program bela diri karate untuk skala IAIN. agar kedepannya dapat mengikuti event-event agar dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas para anggotanya” bebernya.

 

Senada dengan itu , Ketua Steering Committee Diksarmil, Irfan Dwi Putra, mengharapkan Diksarmil kali ini sebagai awal yang baik dalam menjalin Kerjasama dengan Yonif 725 Waroagi. Dalam Pendidikan dan pelatihan demi terciptanya warga yang sadar akan masa depan bangsa dan negara.

 

“dengan berkolaborasi bersama Yonif 725 dan dukungan serta pembinaan penuh dari Pak Prof. Husain Insawan selaku Rektor sekaligus Pembina atau senior Menwa. Pelatihan ini dapat mencetak kader yang dapat menjadi agen perubahan di lingkungan kampus maupun masyarakat,” jelasnya.

 

Reporter: Wahida

Editor : Redaksi

Dari PHK ke Sukses: Kisah Inspiratif Pasangan Lansia Yang Bangkit Lewat Usaha Mie Rumahan

Objektif.id – Sebuah kisah inspiratif datang dari sepasang suami istri, suaminya yang bernama La Manise (60) dan Istrinya yang kerap dipanggil Bude (52) oleh orang-orang sekitar kini sukses dalam bisnis mie rumahan yang bertempat di Btn Pesona, Jl. Salomo, Baruga, Kec. Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara 93116.

Awal mula perjalanan mereka dimulai sejak tahun 2021 lalu ketika sang istri terpaksa dirumahkan dari pekerjaannya di sebuah perusahaan mie akibat dampak pandemi COVID-19 yang melanda.

“Daripada menganggur di rumah, saya membeli mesin mie dan mulai berproduksi,” ungkapnya mengenai awal mula usaha mandirinya yang kini telah bertahan selama tiga tahun.

Pada awalnya, semangat untuk memulai usaha sempat terkendala oleh keterbatasan lokasi. Namun, berkat dukungan keluarga yang menawarkan lahan belakang rumah, pasangan suami istri yang telah beranak cucu tersebut akhirnya bisa mewujudkan mimpinya.

“Kami dulu mulai produksinya di rumah yang berada di Puuwatu akan tetapi akhirnya kami menyadari ruangnya terbatas, kemudian saya punya keluarga bilang datang saja di rumah sana belakang luas, dan berdirilah pabrik mie kami di sini sampai sekarang,” tuturnya

Berangkat dari pengalaman kerja yang telah bude lalui di perusahaan mie sejak tahun 1983 memberikannya modal pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha. Hingga kini, menghasilkan keuntungan bersih sekitar 15 juta rupiah setiap bulannya. Berkat usahanya itulah telah memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

La Manise, sang suami, turut berbagi cerita. Ia mengungkapkan bahwa modal awal usaha ini merupakan hasil dari jerih payah menabung selama bertahun-tahun. Dengan modal sekitar 100 juta rupiah yang terkumpul, mereka akhirnya bisa membeli mesin dan memulai bisnis ini.

“Modalnya itu sekitar kurang lebih 100 juta, hasil dari menyisihkan sedikit-sedikit dari gaji istri saya dulu juga pendapatan tambahan dari hasil saya kerja serabutan,” jelasnya

Ketgam: La Manise ketika proses produksi mienya. Foto: Tesa/Objektif.id

Dalam hal perpajakan, beliau mengaku bahwa usahanya belum mencapai pendapatan yang mewajibkan membayar NPWP, namun tetap mewajibkannya untuk melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan setiap tahun.

“Kepemilikan NPWP kami belum ke tahap wajib bayar karena penghasilan kami belum mencukupi Rp 50 juta ke atas jadi, saat ini, hanya terus melapor setiap tahun,” bebernya

Selain itu, dalam hal pemasaran, suami istri itu memanfaatkan jaringan yang sudah terbangun sejak dulu ketika bude masih bekerja di perusahaan sebelumnya.

“Saya beruntung memiliki istri sepertinya yang telah berupaya tanpa lelah mempromosikan mie buatan kami kepada orang-orang,” ujarnya tersenyum

Selanjutnya, mie buatan sepasang lansia harmonis itu telah merambah ke beberapa kota di Sulawesi Tenggara, seperti Bau-Bau, Kolaka, dan Raha. Bahkan, produksi mie mereka dapat dijumpai di beberapa warung makan sekitar kota Kendari khususnya pada wilayah Baruga.

Ketekunan dan kemandirian dalam menjalankan usaha membuat mereka lebih memilih bekerja sendiri dari pada harus bekerja untuk orang lain. Meskipun demikian,

Meski demikian, mereka selalu khawatir jika ponsel tersebut hilang, karena itu berarti mereka akan kehilangan akses ke banyak pelanggannya.

Informasi tambahan, lokasi pabrik mie mereka telah tertera di google maps dan selalu mendapatkan rating tinggi yakni bintang 5 di ulasan konsumen.

 

Penulis: Rachma Alya Ramadhan 
Editor: Redaksi

Jejak Perjuangan Pekerja Batu Bata: Mengukir Keberanian dan Kebangkitan

Kendari, Objektif.id – Sebuah kisah inspiratif datang dari dunia pembakaran batu bata merah, seorang pekerja bernama Iman telah menjelma menjadi sosok pekerja yang berdedikasi meski usianya telah mencapai 40 tahun.

Dalam tiga tahun terakhir, Iman telah menjalani pekerjaan sebagai pembuat batu bata dengan penuh semangat. Setiap hari, dia memulai hari dengan bangun pagi dan baru pulang saat senja menjelang. Pekerjaannya tidak hanya mencakup proses mencetak batu bata, melainkan juga melibatkan tahapan kritis seperti pengumpulan dan persiapan batu bata sebelum proses pembakaran.

Proses mencetak batu bata dimulai setiap pagi, kadang-kadang dihentikan untuk istirahat makan siang di rumah, dan dilanjutkan jika masih ada lumpur yang perlu diolah.

“Kalau mencetak itu dari pagi terus istirahat, makan siang pulang di rumah dulu, habis itu kembali lagi kalau masih ada sisa lumpur,” ungkap Iman.

Namun, jadwal Iman tidak pernah pasti dan selalu tergantung pada jumlah batu bata yang harus dicetak. Sebagai contoh, mencetak seribu biji batu bata ukuran satu kubik bisa memakan waktu dari pagi hingga sore. Pendapatan yang dia dapatkan sebesar Rp140.000 per kubik batu bata, dengan mempertimbangkan biaya ongkos bakar.

Ketgam: Tampak depan gubuk dimana Iman membuat batu bata merah. Foto: Kusmawati/Objektif.id

Biaya ongkos bakar dihitung berdasarkan jumlah mulut api yang digunakan. Jika menggunakan satu mulut api, biayanya Rp250.000, dan jika menggunakan dua mulut api, biayanya Rp500.000 hingga batu bata matang. Proses pembakaran sendiri memakan waktu yang cukup lama.

“Saya mulai dari jam 05.00 subuh bisa sampai hari Selasa baru selesai,” kata Iman pada Minggu, (26/11/2023).

Iman bukan hanya seorang pekerja, tetapi juga seorang ayah dari tiga anak, dengan yang termuda berusia 4 tahun. Meskipun awalnya mengeluh karena lelah, Iman terus memotivasi dirinya untuk mencari nafkah demi keluarganya. Peran istri Iman juga penting, yang biasanya turut membantu dalam proses pencetakan batu bata, meskipun tergantung pada situasi dan kondisi lingkungan kerja.

Tidak setiap hari satu kubik batu bata bisa dicetak, terkadang hanya 700 biji batu bata. Ada juga momen ketika bangsal harus terisi penuh, memaksa pembuatan batu bata berhenti untuk beberapa hari guna menunggu permukaan tanah kering, karena batu bata dalam keadaan basah akan menyerap air dan harus melakukan pengawasan saat proses pembakaran.

Iman, dengan segala upaya keras dan dedikasinya, tetap bersemangat untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Pekerjaan membuat batu bata mungkin tidak mudah, tetapi Iman tetap bertahan dan menjalaninya dengan tekun. Semoga perjuangan Pak Iman mendapatkan hasil yang baik bagi keluarganya dan dirinya, menjadi inspirasi banyak orang yang menghadapi tantangan serupa.

Penulis: Kusmawati

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Menginspirasi! Karena Kecintaan kepada Anak-Anak, Mahasiswi Ini Jadi Guru Les Privat

Kendari, Objektif.id – Dua mahasiswi cantik asal Institut Agama Islam Negeri Kendari, Novi Arlianti Amir (19) dan Melvina Nurcahyani (19), membuka jasa les privat bagi anak TK maupun SD, untuk membantu orang tua dalam mendidik anaknya.

Mahasiswi yang sekarang duduk di semester tiga ini telah membuka jasa les privat ini sekitar tiga bulan  yang dapat dibilang masih tergolong sangat kecil karena baru memulai.

Ketgam: Novi (sebelah kanan) bersama rekannya Melvina (sebelah kir). Foto: Ist.

Novi mengungkapkan, dalam proses mengajar seorang anak terdapat berbagai kesulitan yang mereka dapatkan, misalnya  anak yang mudah bosan, tidak fokus, ditambah anak zaman sekarang yang kehidupannya hanya seputar tentang gadget.

“Tantangan utama bagi kami adalah mengatasi kebosanan dan distraksi anak-anak. Kami perlu memahami karakter mereka, menggunakan metode pembelajaran yang sesuai, dan menciptakan media serta alat pembelajaran menarik untuk mempertahankan minat mereka. Terlebih lagi, tantangan terberat nya adalah menghadapi distraksi dari gadget,” tutur Novi pada objektif.id  melalui via WhatsApp, pada Jumat (17/11/2023).

Selain itu, Melvina juga menambahkan, untuk mengatasi kesulitan yang ada mereka menawarkan konsep pembelajaran yang menyenangkan dan pastinya disukai oleh anak-anak.

“Jadi untuk menghilangkan rasa bosan dari anak-anak, ada beragam cara. Misalnya, dalam belajar, kita sediakan konsep belajar sambil bermain untuk melatih gerak motorik dan sensorik anak,” ungkap Melvina.

Lebih lanjut, mereka juga menciptakan media pembelajaran yang menarik minat anak-anak, menjadikan pembelajaran tidak hanya menyenangkan dalam bayangan, tetapi juga dalam praktiknya. Menurut mereka, Pembelajaran menjadi lebih fokus dan intensif dengan satu atau dua murid per-sesi, serta memastikan setiap anak mendapatkan perhatian penuh.

Meskipun jurusan Ekonomi Syariah, Novi dan Melvina melihat peluang dalam membuka usaha les privat. Menurut mereka, les privat adalah bidang jasa yang minim modal. Berbeda dengan usaha produk yang memerlukan biaya besar, les privat memberikan kesempatan untuk meningkatkan wawasan melalui layanan pendidikan.

Biaya les privat yang mereka tawarkan juga terjangkau, berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 80.000 per pertemuan. Dengan demikian, mereka memastikan layanan mereka dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat.

Novi dan Melvina berharap usaha les privat mereka tidak hanya membantu orang tua dalam mendidik anak-anak, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang berkesan bagi setiap murid. Dengan pendekatan kreatif dan fokus pada kebutuhan individual, keduanya menghadirkan alternatif pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

Penulis: Rachma Alya Ramadhan

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Kesepian Ditinggal Anak Berkeluarga, Pria Asal Konsel Ini Rela Mengais Sampah Demi Bertahan Hidup

Kendari, Objektif.id – Sandri (52) berawal dari kesepian karena tujuh anak kandungnya sudah berkeluarga. Memilih meninggalkan kampung halaman demi mengais rezeki di Ibu Kota Provinsi.

Awalnya pria asal Konawe Selatan ini mencari rupiah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, karena ajakan sanak saudara yang juga mengadu nasib di kawasan tersebut.

Dirinya mengaku, awal tinggal di kawasan itu, sempat merasa tidak nyaman, sebab kondisi lingkungan di kampung jauh berbeda dengan kondisi tempat tinggalnya saat ini.

“Hampir satu minggu saya muntah terus gara-gara saya injak muntahnya sapi,” ujarnya saat ditemui awak media objektif.id, Jumat (21/10/2023).

Di sebuah gubuk berdinding papan yang berdampingan dengan tumpukan sampah, Sandri mencoba bertahan hidup dengan segala keterbatasannya. Mengelola dan mengumpulkan ulang sampah bekas sudah menjadi aktivitas sehari-hari dan ini telah ia lakoni selama tujuh tahun lamanya.

Meski pekerjaan yang ditekuninya ini hanya mengolah dan mengumpulkan sampah bekas, penghasilan yang Sandri dapatkan pun tidak main-main.

“Saya berangkat pergi mencari sampah itu biasa mulai dari jam 6 pagi sampai malam, habis itu kita jual di pemasok sesuai dengan ukuran sampah dan Alhamdulillah penghasilan dalam seminggu bisa mencapai 2 juta rupiah,” pungkasnya.

Penulis: Kusmawati 

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Kisah Haru, Sepasang Suami-Istri Lansia Mengais Sesuap Nasi Melalui Usaha Laundry

Kendari, Objektif.id – Di tengah maraknya para pemuda-pemudi yang membuka jasa usaha laundry, dibalik itu semua terdapat sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia (Lansia) yang masih bertahan menekuni jasa laundry yang bertempat di jln. Kompleks Pasar Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Sepasang suami-istri ini bernama Marsuki (81) dan iimrohana (80). Mereka telah membuka jasa usaha laundry ini sejak berdirinya pasar baruga yakni, sejak tahun 2001 hingga sekarang.

Ketgam: Kakek marsuki dan istrinya iimrohana. Foto: Siti Maharani/Objektif.id

Marsuki, atau kerap dipanggil pakde oleh orang-orang sekitar, sementara sang istri dikenal dengan sebutan neneknya Lia. Sebelum menekuni usaha laundry ini ia dulunya bekerja sebagai sopir angkutan barang berat hingga menjadi tukang sapu jalanan di pasar baruga. Namun, karena kelelahan akhirnya, ia memilih untuk berhenti dari pekerjaan yang telah dilakoninya sejak tahun 1962 tersebut.

Tidak lama setelah itu, terbitlah sebuah ide dalam pikirannya untuk membuat jasa laundry di kediamannya. Istrinya saat ditemui oleh wartawan Objektif.id mengatakan saat kali pertama membuka jasa laundry tersebut, orang-orang yang menggunakan jasanya hanya membayar dengan sebungkus mie instan.

“Pertama kali buka, kita masih dibayar pakai 1 bungkus Indomie kadang yang paling tinggi Rp5.000 dulu, karena memang niat kita itu membantu mereka yang kesusahan,” kata wanita kelahiran Bandung tersebut, pada Kamis (19/10/2023).

Untuk diketahui, Selama menjalankan usahanya yang telah beroperasi 22 tahun itu. Dulunya, dibantu oleh sang cicit. Namun, setelah si cicit menikah usaha tersebut kini hanya dijalankan oleh mereka berdua dengan mengandalkan 2 mesin cuci yang tersisa.

Mereka juga tidak mengandalkan yang namanya karyawan karena mereka takut jika ada campur tangan orang lain maka cucian tersebut dapat tercecer.

“Jika ada yang pesan yang cuci dan jemur pakaian itu kakek, sedangkan nenek bagian melipat karena saat ini nenek sudah sakit-sakitan,” ungkapnya.

Ketgam: Tampak depan rumah yang ditinggali oleh kakek Marsuki dengan istrinya. Foto: Siti Maharani/Objektif.id

Meskipun, telah menginjak usia yang terbilang sudah tidak muda lagi tidak membuat sepasang suami-istri itu untuk berhenti bekerja, bahkan terkadang untuk memenuhi kebutuhan hariannya hanya berasal dari pendapatan laundry. Sekalipun mereka memiliki anak 4, cucu 3, serta cicit 4 yang siap membantu kapan saja.

“Kita itu meskipun sudah tua harus kreatif jangan hanya mengharapkan anak, saya selalu bilang kepada anak saya bahwa selama bapak masih bisa merayap nak biarkan kecuali bapak sudah lumpuh itu baru tanggungan kalian,” tutur pria kelahiran Sumatera tersebut.

Biasanya, setiap usaha laundry pasti dihitung per-kilogram. Namun, hal itu tidak berlaku untuk usaha laundry kakek Marsuki dan istrinya yang hanya mengandalkan banyak ataupun sedikitnya cucian yang diterima dengan dibandrol harga mulai dari Rp20.000 – Rp50.000.

Kakek Marsuki juga mengungkapkan bahwa selama mereka menjalani usaha tersebut pernah sekali terjadi kerusakan pada mesin cucinya. Namun, semua itu bisa diatasi cepat olehnya dengan memperbaikinya kembali.

Selain itu, hubungan yang terjalin dengan pelanggan terbilang baik. Kakek Marsuki bisa dibilang orang yang tidak hanya mementingkan urusan duniawi. Melalui usaha laundry-nya ia menyempatkan diri untuk beramal dengan cara mencuci sajadah, mukena, dan gorden yang ada di mushola-mushola pasar baruga.

“Insyaallah hubungan terjalin baik meskipun terdapat beberapa pelanggan yang terlambat bayar tapi itukan hal yang lumrah namanya juga orang jualan tidak boleh kita bersikeras sabar saja jika dia ada uang pasti bayar,” bebernya.

Lanjutnya, kakek Marsuki tidak merasa menyesal telah membuka jasa laundry ini meskipun pendapatan yang diterima tidak seberapa.

“Ya saya tidak menyesal, karena saya meyakini bahwa seenak-enaknya hidup sama orang, lebih enak usaha sendiri walaupun kecil-kecilan daripada besar tapi usahanya orang,” pungkasnya.

Penulis: Siti Maharani

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Buka Usaha Barbershop, Mahasiswa IAIN Kendari Kantongi Ratusan ribu Per Hari

Kendari, Objektif.id – Sejak usaha barbershop mulai berkembang pesat di Indonesia, banyak para pebisnis yang antusias untuk menggeluti usaha ini. Tak heran jika saat ini bisnis penyedia jasa memotong, menghias, menata, memberi gaya rambut laki-laki mudah sekali untuk di jumpai.

Saat ini, bisnis pangkas rambut sudah seperti menjamur di setiap wilayah salah satunya di Kota Kendari Sulawesi Tenggra. Dimana pria kekinian juga harus selalu tetap menjaga penampilannya, mereka tak sungkan untuk melakukan perawatan rambut.

Usaha penyedia jasa memotong, menghias, menata, memberi gaya rambut itu kini banyak dilakoni salah satunya Arjuna, salah satu mahasiswa yang saat ini sedang menempuh jenjang sarjana (S1) di Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari.

Mahasiswa yang sering disapa dengan nama Juna itu menerangkan, pemilihan usaha barbershop ini kerena merupakan salah satu usaha yang tidak memiliki pasang surut dan usaha ini banyak didominasi oleh kalangan anak muda. Selain itu, usaha ini juga bisa membantu meringankan beban orang tua untuk biaya tanggungan kuliah.

“Saya tidak mau terlalu tergantung sama orang tua. Jadi saya harus terus berusaha agar bisa menghidupi diri sendiri, membiayai diri sendiri, tanpa membebani orang tua,” ucap Juna saat ditemui, Rabu (3/10/2023) di tempat usahanya yang berada di Depan Kampus IAIN Kendari.

Pria berkulit sawo matang itu mengaku, sebelum melakoni usaha penyedia jasa ini dirinya sudah mencoba merintis beberapa usaha lainya seperti jualan minuman kekinian (thai tea) namun usaha itu ditinggalkan karena bahan-bahan pokoknya mengalami kenaikan harga.

“Saya menjalankan bisnis itu selama 3 tahun dan tahun 2022 akhir usaha minuman kedai itu saya tinggalkan karena alasan bahan pokok naik dan ujian lainnya makanya saya lepas,” bebernya.

Tidak mau menyerah dengan keadaan, dirinya mencoba lagi dengan usaha yang berbeda, dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya dirinya memutuskan untuk mencoba usaha rental alat kemping, namun usaha itu hanya berjalan satu tahun enam bulan.

“Itu saya geluti selama satu tahun setengah namun terkendala ditenaga kenapa karena saya tidak mampu menjalankan usaha itu sendiri tanpa dibantu orang lain, kemudian saya masih belum bisa percaya sama orang lain makanya usaha saya semakin hari semakin menurun lalu saya lepas dan tinggalkan usaha itu,” terangnya.

Usaha ketiga yang dilakoninya setelah dua kali gagal adalah usaha barber, usaha ini dibuka pada saat 2020 awal 2021 sekarang sudah berjalan kurang lebih mau ke 3 tahun lamanya oleh karena itu usaha ini merupakan usaha saya yang ketiga dan mudah mudahan usaha ini bisa bertambah lagi.

Untuk usaha sebelumnya saya tidak pernah memakai karyawan, namun untuk usaha saya sekarang ini yaitu barbershop saya memakai 3 orang karyawan dan semuanya mahasiswa aktif iain kendari.

“Omset perhari bisa sampai Rp 500 ribu omset dalam sebulan bisa sampai 10-15 juta itupun belum terbagi pengeluaran dan sebagainya,” uangkapnya.

Saat ditanya tentang menambah bisnis lain, dirinya mengaku ingin melakukan yang terbaik di usia saya yang sekarang makanya apapun usaha yang berpeluang bagi saya akan saya jangkau selagi usaha itu halal.

Sebagai anak muda yang masi memiliki jiwa muda yang membara maka dari itu jangan sia siakan waktu mudamu dengan hal hal yang tidak berguna manfaatkan lah waktumu sebisanya karena sekarang yang kamu usahakan, yang kamu kerja, akan kamu rasakan nanti.

Anak muda jangan patah semangat, jangan dipatahkan hanya persoalan cinta dan yang lainnya ambilah ini sebagai pelajaran karena jiwa muda itu tidak tergoyahkan seperti kata soekarno berikan saya sepuluh pemuda maka akan ku goncangkan dunia umurmu yang sekarang masi muda jangan terlena dengan hal-hal yang tidak berguna.

Penulis: Suci Rahmadani dan Niken Ariyanti
Reporter: Melvi Widya

Cerita Anak Binaan LPKA Kelas II Kendari yang Punya Cita-Cita Jadi Prajurit TNI

KENDARI, Objektif.id – Berada di dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Kendari yang terletak di Jalan Poros Nanga-nanga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, tak membuat para Anak binaan ini menjadi putus asa untuk menggapai cita-cita.

Salah satu anak binaan yang namanya dirahasiakan dan hanya ingin disebut Wahyu (15). Saat ditemui awak media pada Kamis (21/9/23) sekitar pukul 15.00 Wita, ia mengaku punya impian besar untuk menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia.

Kata Wahyu, meski sementara dalam proses menjalani pidana, mencari jati diri adalah salah satu proses yang harus dilakukan seorang anak dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Walupun sebelumnya, dirinya sempat putus asa tidak bisa melanjutkan pendidikan setelah berkonflik dengan hukum. Namun dorongan dari hati menjadi motivasi memulai langkah.

Sebab, di LPKA Kelas II Kendari disediakan layanan pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA bagi anak binaan dalam melanjutkan pendidikan.

“Biar juga saya di sini, saya berpikir tetap saya harus sekolah karna ada yang saya mau raih di masa depan mau jadi tentara,” bebernya dengan raut wajah semangat.

Wahyu yang saat ini duduk di bangku kelas X atau kelas 1 SMA itu mengaku, berbagai macam ilmu pengetahuan yang di dapat baik itu ilmu agama, berbangsa dan bernegara, dan beberapa keterampilan lainnya yang didapat saat mengikuti pembelajaran dlm pembinaan di LPKA

“Disini kita juga di ajarkan tata cara sholat yang baik dan benar, belajar mengaji, bermain gitar, juga belajar komputer.” kata warga binaan yang divonis dua tahun delapan bulan itu.

Diusianya yang saat ini memasuki 15 tahun berharap agar anak-anak baik yang sedang menempuh pendidikan, baik itu di luar LPKA Kelas II Kendari maupun yang ada di luar agar tetap semangat.

“Jangan bermalas-malas untuk sekolah, karna kita ini masih punya cita-cita,” harapnya.

Pola Pendidikan LPKA Kelas II Kendari

Tindak pidana tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, akan tetapi anak juga bisa melakukan hal tersebut. Tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak sekarang ini seperti pencurian, Asusila, penganiayaan, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan sebagainya.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, setiap anak menjalani masa hukuman sesuai dengan putusan hakim. Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPAK) setiap anak akan mendapatkan bimbingan agar ketika kembali ke keluarga dan masyarakat bisa lebih baik dan tidak kembali lagi mengulangi perbuatan yang melanggar hukum.

Seperti halnya yang dilakukan LPKA Kelas II Kendari, dalam menjalankan amanat UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 tentang Hak dan kewajiban setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. UU Nomor 20 tahun 2003 pasal 5 poin 1 tentang SISDIKNAS bahwa “Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar”.

Selain itu, UU Nomor 22 tahun 2022 tentang pemasyarakatan pasal 12 huruf C “Anak dan anak binaan berhak mendapat pendidikan, pengajaran dan kegiatan rekreasional seta kesempatan mengembangkan potensi dengan memperhatikan kebutuhan tumbuh kembang”.

Dalam UU nomor 11 tahun 2012 tentang SPPA juga menegaskan pendidikan anak tidak boleh terhenti selama menjalankan proses peradilan pidana serta LPKA wajib menyelenggarakan pendidikan bagi anak.

Kepala SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) yg menjadi Mitra kerja di LPKA Kelas II Kendari, Sarjan mengatakan “kurikulum pendidikan yang diterapkan kepada anak binaan mengacu pada kurikulum merdeka dengan memfokuskan pada pendidikan kesetaraan.”

“Pendidikan kesetaraan itu meliputi program paket A yang putus sekolah di tingkat SD, paket B yang putus di SMP dan program paket C yang putus sekolah di tingkat SMA,” terangnya.

Kata sarjan, sesuai kurikulum merdeka, anak binaan diajarkan pengetahuan umum, mata pelajaran pemberdayaan keterampilan khusus yang meliputi pelatihan komputer dasar, servis eletronik, dan seni kria.

Bukan hanya itu, pihaknya juga melaksanakan kegiatan seni dan olahraga, kemudian kegiatan imtak yang berhubungan dengan keagamaan dan pembinaan pramuka.

“Program dari kami SKB itu sesuai dengan MoU dengan LPKA yang kita sudah mitrakan bersama Dinas Pendidikan dan Pemerintah Kota Kendari. Di sini yang kita fokuskan pertama itu pendidikan kesetaraan” ungkapnya.

Hal itu akan terus dilakukan di LPKA Kelas II Kendari, karena prosesnya itu panjang apalagi anak binaan yang saat ini jumlahnya 69 anak binaan dan sudah di petakkan mana yang masuk program jenjang A, jenjang B dan jenjang C.

“Itu salah satu yang kita kerjasamakan, karena kita pahami walaupun anak-anak ini sedang terjerat masalah hukum tapi hak untuk memperoleh pendidikan harus tetap berjalan, dan harus mereka dapatkan,” lanjutnya.

Dirinya mengharapkan, anak binaan menjalani masa hukuman dari yang 1 sampai 5 tahun jangan putus pendidikannya. Karena pemerintah juga sudah menyiapkan itu, artinya ketika mereka putus dari sekolah formal masih ada pilihan lain yaitu sekolah informal SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) yang yang saat ini diselenggarakan di LPKA.

Sebagai imformasi, anak binaan yang mengikuti paket A atau setara dengan tingkat SD sebanyak 10 warga binaan, untuk paket B setara dengan tingkat SMP sebanyak 18 warga binaan sementara paket C (SMA) sebanyak 34 warga binaan.

Reporter : Rizal

Editor : AI