Views: 4,532
Ket:
Kongres Nasional XVI dan Dies Natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan pada Kamis, 14 Oktober hingga Selasa, 19 Oktober 2021, di Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Ket:
Kongres Nasional XVI dan Dies Natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan pada Kamis, 14 Oktober hingga Selasa, 19 Oktober 2021, di Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Reporter: Elfirawati A. T. S
Editor: Rizal Saputra
Objektif.Id, Kendari – Perkemahan Wirakarya Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan (PWN PTK) se-Indonesia XV digelar di Palembang, Sumatera Selatan. Kegiatan perkemahan tersebut berpusat di Jakabaring Sport City, pada kegiatan itu Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menjadi tuan rumah yang akan berlangsung selama selama lima hari, 10-14 November 2021.
Perkemahan Wirakarya adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega berbentuk perkemahan besar dalam rangka mengadakan integrasi dengan masyarakat dan ikut serta dalam kegiatan pembangunan masyarakat. Pada kegiatan ini, kontingen Pramuka Racana Sultan Qaimuddin IAIN Kendari turut berpartisipasi sebagai peserta PWN-PTK XV 2021. Perkemahan itu berlangsung secara Luar Jaringan (Luring) dan Dalam Jaringan (Daring). Dimana dalam pelaksaan kegiatan daring bertempat di Bumi Perkemahan, depan perpustakaan IAIN Kendari.
Dalam pelaksanaan perkemahan, Kontingen Dr. H. Herman M, Pd dan Pembina Pendamping Aminuddin, MA dan Raehang, M.Pd turut mendampingi anggota pramuka IAIN Kendari selama perkemahan berlangsung. Dilansir dari http://iainkendari.ac.id perkemahan wirakarya itu diawali dengan upacara adat dengan mengangkat tema “Bhineka Tunggal Ika” bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Rabu, (10/11/2021).
Pada kesempatan itu, Racana IAIN Kendari menggunakan pakaian adat Muna nuansa kuning yang tampil unik dan memukau pada kesempatan menampilkan pakaian adat dari daerah masing-masing.
Pimpinan Kontingen yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III IAIN Kendari mengatakan, kegiatan nasional yang dilaksanakan dua tahun sekali ini menjadi sarana bagi anggota pramuka untuk menampilkan kreatifitas dalam memamerkan budaya lokal di samping kegiatan bakti sosial yang menjadi roh dari kegiatan kepanduan.
“Mereka mendapat kesempatan untuk memaksimalkan semua potensi yang ada di dalam dirinya untuk menjadi generasi yang mandiri, kreatif, dan menumbuhkan sikap inklusif, menerima perbedaan serta mengimlementasikan unsur moderasi beragama sesuai tema yang diusung dalam kegiatan PWN,” paparnya.
Ketua Racana IAIN Kendari, Muhammad Sabri mengatakan, bahwa kegiatan PWN PTK ini bukan hanya kegiatan kepramukaan saja akan tetapi, banyak jenis-jenis kegiatannya baik bakti sosial dan pengenalan budaya di nusantara.
“Kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi seluruh anggota pramuka Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia. Jadi, kita bisa saling sharing bagaimana pandangan pramuka serta arah pramuka kedepannya,” tuturnya saat di hubungi via whatsap. Kamis, (11/12/2021).
Sabri juga membeberkan, bahwa dalam kegiatan PWN-PTK Ke-XV tahun 2021 ini ada banyak sekali jenis-jenis kegiatan di dalamnya.
“Ada kegiatan bakti rumah ibadah, pelatihan safe from harm, kegiatan jumpa tokoh, kegiatan penampilan video pentas seni, kegiatan tour di wisata Palembang, serta ada beberapa forum termasuk forum Ketua Dewan PTK se-Indonesia, forum Pembina PTK se-Indonesia Serta forum Warek III PTK se-Indonesia,” bebernya.
Dilansir dari pendis.kemenag.go.id Muhammad Ali Ramdhani, selaku Jenderal Direktur Pendidikan Islam-Kementerian Agama RI mengungkapkan, acara ini bertujuan untuk mengisi generasi muda dengan kegiatan berwawasan kebangsaan, skill yang bermanfaat, dan moderasi beragama.
“Acara ini diharapkan dapat memperkuat wawasan kebangsaan dan terdapat konten moderasi beragama,” kata Ramdhani.
Perkemahan wirakarya itu akan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas dengan dihadiri Gubernur Sumatera Selatan dan turut memberikan sambutannya pada hari Kamis, 11 November 2021 di Jakabaring Sport Center (JSC) Kota Palembang.
Kegiatan pembukaan ini pula turut dihadiri 55 Rektor/Ketua, Wakil Rektor/Ketua III UIN/IAIN/STAIN se Indonesia, pejabat dan pelaksana dari Kementerian Agama RI. Pembukaan termasuk Rektor IAIN Kendari Prof, Dr, Faiah Binti Awad, M.Pd.
Dalam penyelenggaraan PWN PTK 2021 ini dilakukan dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan secara ketat. Adapun tes antigen, tes polymerase chain reaction atau PCR serta prokes lainnya juga harus wajib dijalankan oleh seluruh peserta perkemahan wirakarya nasional.
Reporter: Rizal Saputra
Editor: Elfirawati
Objektif.id, KENDARI – Beberapa Lembaga Kemahaswaan Internal yang ada di lingkup kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari sesalkan sikap birokrasi yang mempersulit kegiatan kemahasiswaan.
Hal itu menuai kritikan dari beberapa lembaga kemahasiswaan baik dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN, Senat Mahasiswa (SEMA) hingga Beberapa Unit Kegiatan Khusus (UKK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di bawah naungan kampus IAIN Kendari.
Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Institut, Sarman mengatakan, banyak kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan lembaga kemahasiswaan kurang mendapatkan dukungan dari pihak birokrasi.
”Banyak lembaga kemahasiswaan yang kemudian tidak pernah didukung dan tidak pernah dihadiri kegiatannya,” kata Sarman saat menyampaikan orasi di kegiatan aksi Deklarasi, rabu, (10/11/2021).
Tidak hanya itu, proses peminjaman baik itu gedung, mobil, alat pengeras suara hingga bosara pun dipersulit.
“Ketika kita meminta hak tidak pernah untuk dikabulkan oleh pimpinan. Kita dipersulit persoalan peminjaman, ada beberapa syarat yang kemudian harus dipenuhi yang saya rasa itu konyol,” lanjutnya.
Sementara itu, Iwan Husain selaku pengurus Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FATIK) mengatakan, birokrasi hari ini sedang mengalami perlambatan kinerja adiministrasi.
“Baiknya Rektor hari ini tidak mengurusi hal-hal adiminstrasi yang berbentuk pinjaman,” kata Iwan Husain. Selasa, (9/11/2021).
Sementara itu, Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Pers (UKM-Pers) M. Ilham Pranata, menyayangkan sikap birokrasi hari ini seakan mempersulit langkah-langkah yang dilakukan lembaga kemahasiswaan dalam melaksanakan kegiatan.
“Jika proses peminjaman dipersulit itu sangat disayangkan, sebab dapat menghambat kegiatan yang akan diselenggarakan oleh lembaga kemahasiswaan itu sendiri,” kata M. Ilham saat di hubungi via whatsap. Rabu, (10/11/2021).
Lanjut Ilham, seharusnya pihak birokrasi hari ini mendukung bukan mempersulit kegiatan lembaga kemahasiswa hari ini.
“Seharusnya pihak birokrasi mempermudah proses peminjaman yang diajukan oleh lembaga kemahasiswaan baik itu UKK manupun UKM itu sendiri,” tuturnya.
Reporter : Al-Izar
Editor :Elfirawati
Objektif.id Kendari — Memperingati Hari Pahlawan Nasional Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari gelar aksi deklarasi dengan bertemakan “Selebrasi Mahasiswa Terhadap Hari Pahlawan” Rabu, (10/11/2021).
Akan tetapi, dalam deklarasi tersebut, para mahasiswa(i) IAIN Kendari tidak ikut turut andil dalam memeriahkan hari pahlawan tersebut. Bahkan, pihak birokrasi sendiri tidak ikut untuk memperingati.
Seperti yang dikatakan Sarman, selaku Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Kendari dalam orasinya bahwa seharusnya mahasiswa IAIN Kendari berada di garda terdepan.
“Seharusnya, mahasiswa IAIN Kendari berada di garda terdepan untuk kemudian memperingati hari pahlawan ini. Namun, lebih sial lagi pimpinan kampus tidak mendukung dan mensuport kegiatan-kegiatan lembaga kemahasiswaan IAIN kendari,” jelas Sarman.
Lanjut Sarman, ia menilai bahwa Rektor IAIN Kendari selalu beralasan tidak jelas dan tidak rasional. Bahkan, Rektor selalu memilih kegiatan apa yang harus ia hadiri.
“Hari ini kita melihat kegiatan Dema IAIN Kendari tak satupun pimpinan yang kemudian menghadiri upacara memperingati hari pahlawan tak satupun pimpinan kampus menghadiri kegiatan Dema IAIN Kendari,” lanjut Sarman.
Ia juga mengatakan, bahwa beberapa kegiatan Rektor IAIN Kendari selalu hadir, akan tetapi kegiatan internal kampus yang bersentuhan langsung dengan Rektor tak pernah dihadiri.
“Apakah ini yang dikatakan pimpinan yang kemudian mengayomi mahasiswanya? Namun, kita lihat hari ini Rektor IAIN Kendari memilih kegiatan apa yang akan dihadiri,” sambungnya.
Di akhir orasinya, Sarman mengatakan, bahwa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) harusnya selalu didukung.
“Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) harusnya didukung,” tutup Sarman diakhir orasinya.
Sementara itu, Buyung Muh. Rantau, selaku Ketua Dema IAIN Kendari mengatakan, di hari yang begitu penting ini pemuda dan mahasiswa bahkan pihak birokrasi yang menduduki suatu jabatan tidak merespon sama sekali segala kegiatan kemahasiswaan.
“Dan bagi orang-orang tua yang sekarang menduduki jabatan kondisional di IAIN Kendari tidak punya respon dan tidak merespon segala kegiatan kemahasiswaan yang kami lakukan terkhusus pada hari ini,” kata Buyung
Lanjut Buyung, dia menyarankan kepada pihak birokrasi untuk sekali-kali menengok ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) bahwa banyaknya sekarang masalah antara lembaga mahasiswa terhadap pihak birokrasi.
“Saya Menyarankan kepada pihak birokrasi sekali-kali jalan-jalan ke PKM untuk ngopi bersama agar keluhan lembagaan mahasiswa dapat di dengarkan, bahwa banyaknya problem lembaga mahasiswa dan birokrasi,” tutupnya.
Reporter : Muh Aksan
Editor : Elfirawati
Objektif.Id, KENDARI – Demi meningkatkan pemahaman fungsi legislatif kepada Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Kendari mengadakan Sekolah Legislatif 2021 di Gedung Auditorium dan Pantai Toronipa. Sabtu, (6/11/2021).
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 -7 November 2021 dan diikuti oleh 100 peserta dari lingkup Mahasiswa IAIN Kendari dengan mengangkat tema ”Melahirkan Legislator Mahasiswa yang Kompeten serta Paham Tugas dan Fungsi Secara Konstitusi dalam Menyongsong SDGs (Sustainable Development Goals)”.
Muflih Ukhrawi Nasri selaku Ketua Panitia mengatakan dalam sambutannya, tujuan diadakannya kegiatan ini agar mahasiswa terkhusus angkatan 2020 dan 2021 agar paham akan tugas dan fungsi Secara Konstitusi dalam Menyongsong SDGs.
“Untuk melahirkan pemimpin masa depan agar paham tugas dan fungsi secara Konstitusi dalam Menyongsong SDGs,”ungkapnya
Lanjutnya Muflih mengungkapkan, kegiatan ini diadakan karena melihat mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 yang belum paham akan fungsi SEMA-I. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dihadiri oleh pemateri yang sangat luar biasa dan mempunyai kapabilitas di bidangnya masing-masing.
“Berhubung adik-adik mulai awal perkuliahan mereka melaksanakan perkulihan secara online. Jadi, kita sepakat bahwa adik-adik belum terlalu paham tugas dan fungsi sema-I atau legislatif ini. Adapun pemateri yang diundang pertama H. Abdurrahman Shaleh, S.H., M.Si selaku Ketua DPRD Prov. Sultra, kedua Muhammad Amsyar S.Sos.I selaku Ketua DPD KNPI Sultra, ketiga Dr. H. Lukman Abunawas, SH., M.H., M.Si selaku Wakil Gubernur Sultra yang diwakili oleh staff beliau, keempat Ir. Hugua selaku Anggota DPR-RI,” ungkapnya.
Selaras dengan hal itu, Sarman Al Ausy selaku ketua SEMA-I menjelaskan, bahwa masalah pemahaman kelembagaan di IAIN Kendari masih sangat kurang.
“Karena melihat potensi yang ada di IAIN Kendari dan melihat dari kukurangan juga masih banyak mahasiswa IAIN Kendari khususnya mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 yang masuknya di IAIN Kendari ataupun PBAK itu melalui jalur online. Jadi, terkait masalah pemahaman kelembagaan IAIN Kendari itu masih sangat kurang khususnya tugas dan fungsi legislatif itu sendiri makanya, kami berinisiatif menyelenggarakan sekolah legislatif,” jelasnya.
Sarman berharap besar bahwa setelah diadakannya kegiatan ini mahasiswa dapat aktualisasikan di lapangan.
“Dan mungkin nantinya teman-teman yang akan jadi pemimpin, menjadi Ketua Senat, Ketua Dema dan juga seluruh ketua-ketua yang ada di IAIN Kendari pastinya harus mempelajari, harus mengetahui seperti apa fungsi kelembagaan itu sendiri,” harap Sarman.
Salah satu peserta Ayu Rahmadani membeberkan, ketertarikannya mengapa ia mengikuti kegiatan tersebut.
“saya tertarik ikut begini untuk membuka wawasan. Sebagai mahasiswa tidak hanya di akademik pasti di luar perkuliahan karena 25% persen dari materi yang kita dapat ada dibangku perkuliahan sedangkan 75% itu dari luar atau dari kehidupan kita masing-masing,”bebernya.
Penulis: Arini Triana Suci Rahmadani
Hai, aku Arini Triana Suci Rahmadani biasa dipanggil Arini. Bersama temanku Aksan, tepat seminggu yang lalu dia menghubungiku untuk ikut berangkat menuju ke Tulung Agung atau daerah yang biasa dijuluki Bumi Gayatri untuk mengikuti kegiatan kongres Perhimpunan Pers Mahasiswa ke 16 sekaligus merayakan hari lahir Perhimpunan Pers Mahasiswa yang ke 27.
Pagi dini hari pukul 04:00, setelah semalaman tidak tidur karena memikirkan banyak hal terkait keberangkatan kami aku dan Aksan mulai bersih-bersih diri sebelum menuju Bandara Haluoleo, ya benar sekali kami memutuskan untuk tinggal di kantor UKM-Pers IAIN Kendari semalaman karena jarak rumah tempat tinggalku cukup jauh dari bandara.
Setelah siap, aku dan teman-teman UKM-Pers berkumpul membentuk sebuah lingkaran untuk melakukan sesi berdoa sebelum berangkat menuju Bandara Halu Oleo Kendari, sekalian mengambil gambar bersama-sama. Pukul 05:00 Wita, kami diantar menuju bandara, setelah sampai tak lama kemudian nomor pesawat yang akan kami tumpangi disebut dan itu berarti kami akan segera berangkat menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Ujung Pandang.
Selama di pesawat aku hanya duduk sambil melihat ke bawah, mataku menelusuri semua keindahan alam yang ada, dari atas sini pepohonan terlihat seperti karpet hijau yang luas. Sesekali aku menoleh melihat Aksan yang duduk di samping kiri ku sedang asyik mengobrol dengan kenalan barunya, aku juga sesekali menguping pembicaraan mereka. Aku bukan seseorang yang mudah berinteraksi dengan orang baru, tapi tunggu sebentar lagi mulutku tidak akan berhenti berbicara.
Karena ini adalah pengalaman pertama buat kami, sesampainya di Bandara Sultan Hasanudin tentu saja hal utama yang kami lakukan adalah mengambil gambar. Tak lupa pula kami mengabari senior dan teman-teman kami di UKM-Pers. Karena waktu transit yang sempit, aku dan Aksan memutuskan untuk sarapan di Surabaya saja, rasanya konyol kalau harus ketinggalan pesawat karena alasan sarapan.
Penerbangan selanjutnya pukul 09:00 Wita, setibanya di Bandara Djuanda Aksan mengeluarkan satu kalimat yang cukup panjang hari itu. “Jangan jauh-jauh, disini ramai. Kita tidak ada kenalan dan bahaya. Apalagi di terminal nanti, tadi kakak yang disampingku cerita kalau kita tidak boleh interaksi dengan orang lain selain petugas bandara.” Baru berapa menit tiba dikota orang Aksan sudah terlihat seperti orang tua yang posesif terhadap anaknya, aku cuma mengiyakan.
Sambil menunggu Djawatan Angkoetan Motor Repeobblik Indonesia (Damri) yang kami tumpangi jalan aku dan Aksan mengecek smartphone kami masing-masing, satu hal yang aku sadari ternyata senior-senior ku benar-benar mengkhawatirkan ku. Mungkin karena aku perempuan, jadi isi kolom chat Aksan hanya tentang “jaga saudarimu baik-baik.” Aku tersentuh, sedangkan Aksan menghela napas karena dititipkan tanggung jawab besar.
Damri yang kami tumpangi melaju menuju terminal Purabaya, dari terminal Purabaya kami naik bus menuju tempat tujuan kami yakni terminal Gayatri di Kabupaten Tulung Agung. Dengan estimasi waktu sekitar 5 jam, melewati jalan tol. Setelah sampai di Tulung Agung hal pertama yang kami lakukan tentu saja mencari warung untuk memberi nutrisi cacing-cacing diperut. Lelah mengelilingi terminal, kami akhirnya memutuskan untuk makan didepan terminal sembari menghubungi teman-teman LPM yang ada di Tulung Agung, selang beberapa menit setelah makan kami di hampiri dua orang cowo yang akrab di panggil Dadang dan Rizal, mereka adalah teman-teman dari LPM Dimensi UIN Satu Tulung Agung.
Sebelum menuju ke kontrakan LPM Dimensi Dadang dan Rizal mengajak aku dan Aksan untuk singgah ditempat angkringan untuk ngopi dan nyemil. Ditempat itu, kami hanya sedikit bertukar cerita tentang keadaan kota masing-masing, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kontrakan LPM Dimensi.
Dikontrakan LPM Dimensi kami disambut dengan ramah oleh beberapa anggota yang masih aku ingat Mba Ria, Mas Panda dan lain-lain. Disana juga aku bertemu dengan Efendi dari LPM Al Fikr Probolinggo. Kami banyak tukar cerita tentang kegiatan yang sering UKM Pers atau LPM lakukan, tidak hanya itu kita juga bercerita terkait budaya bahkan sampai culture shock yang aku rasakan.
Teman-teman LPM Dimensi sangat antusias mendengar ceritaku tentang perjalanan kami yang penuh dengan kebingungan, soto ayam yang di campur langsung dengan nasi sampai rasa teh di sana yang sangat ringan dan wangi.
Malam hari pun tiba aku memutuskan untuk beristirahat di kos Mba Ria, karena kurang etis rasanya harus menginap di kontrakan yang isinya mayoritas laki-laki. Temanku Aksan tetap di kontrakan tersebut, sebelum istirahat aku dan teman-teman memutuskan untuk makan malam diwarung Mak Tik, yang cukup terkenal di daerah sekitar kampus UIN Satu Tulung Agung. Lagi-lagi aku dibuat syok karena harga makanan yang terbilang sangat murah bagiku.
Besok pagi, aku bersih-bersih diri setelah itu menuju kontrakan dimensi untuk sarapan pagi. Sampai pada siang hari, aku bersama Aksan, Dadang dan Mas Shibi memutuskan untuk berangkat ke lokasi kongres duluan. Setelah pamitan, kamipun berangkat. Jarak yang kami tempuh cukup jauh, karena berada dikecamatan yang berbeda.
Sampai ditempat kongres aku dan aksan terlebih dahulu melakukan registrasi, kemudian menuju tempat istirahat kami masing-masing. Karena pada saat itu tempat perempuan dan laki-laki dipisahkan, aku agak kebingungan.
Selang beberapa saat kemudian, aku masuk didalam ruangan luas yang isinya anggota PPMI dari berbagai Dewan Kota, disitu pula aku bertemu kenalan baruku Sanna gadis cantik dan ramah dari LPM Bhaskara.
Berada di dalam ruangan luas yang asing, aku hanya diam sambil sesekali bertukar senyum dengan Sanna, waktu menunjukkan pukul 15:00 kegiatan pertama ku ditempat itu dimulai. Mengikuti kegiatan workshop ‘cek fakta’ ini adalah kegiatan collab PPMI dan AJI.
Setelah kegiatan workshop selesai kami diberi waktu untuk istirahat dan membersihkan diri, aku melewati beberapa anak tangga menuju ruangan istirahat kami sebut saja kamar. Sampai di kamar, aku menelusuri seluruh isi ruangan dengan kedua bola mataku, ternyata teman-teman dari kota lain sudah lebih dulu berkumpul sambil bertukar nomor handphone, ada juga yang berbagi majalah yang mereka bawa.
Rasanya seperti sudah lama kenal mereka, hari itu aku kenalan dengan berbagai macam kepribadian. Febri dengan kepribadian humorisnya, Latifah dengan kepribadian cepat akrabnya karena sedari awal dia yang paling sibuk menemui kami satu persatu sambil meminta nomor telepon dengan tujuan untuk membuat grup, Andhani dengan suara merdunya, dan Shelia Gladia gadis melayu dengan kepribadian ramah dan lemah lembutnya.
Malam hari, kami semua kembali ke Aula tempat kegiatan yang terletak persis diatas kamar kami. Walaupun terbilang hari pertama, tidak sulit bagiku untuk berbaur karena kami telah berkenalan di kamar. Di atas kami mengikuti rangkaian acara pembukaan kongres PPMI sekaligus pemotongan tumpeng dalam rangka merayakan hari jadi PPMI. Setelah beberapa rangkaian acara selesai, hiburan pun dimulai.
Aku yang biasanya menikmati Kpop kali ini berbeda, aku dan teman-teman mendengarkan sebuah band musik menyanyikan lagu-lagu pop Indonesia yang sedang hits dikalangan anak muda. Tak lupa pula Andhani menyumbangkan suara merdunya, sangat merdu.
Kalau boleh jujur, aku bukan seseorang yang begitu menikmati keramaian, seringkali keramaian membuatku merasa lelah. Karena mulai merasa lelah, aku memutuskan untuk bergeser di sudut ruangan menemui Shelia yang sudah lebih dulu berpindah tempat. Sepertinya dia memahami keadaanku, dengan penuh rasa peduli Shelia merangkul.
Sejak saat itu aku banyak menghabiskan waktu bersama Shelia selama ditempat kongres. Kemanapun aku pergi di situ ada Shelia, begitu pula sebaliknya. Masuk pada kegiatan terakhir hari itu kami bincang-bincang terkait kekerasan terhadap jurnalis. Para pemantik menceritakan pengalaman mereka selama menjadi seorang jurnalis, kemudian memberikan saran yang bermanfaat untuk menghindari kekerasan terhadap jurnalis.
Keesokan harinya seperti dejavu, kegiatan yang sama terulang workshop ‘cek fakta’ dengan materi dan pemateri yang sama. Sampai pada kegiatan kami selanjutnya yakni diskusi terkait SOP Kekerasan Seksual terhadap Jurnalis, tidak bisa di pungkiri hal-hal seperti ini sedang marak terjadi. Dalam diskusi yang kami lakukan terjadi perdebatan-perdebatan kecil terkait bentuk hal-hal yang termasuk pelecehan salah satunya catcalling.
Sebagian kubu menganggap bahwa tatapan tidak perlu dimasukkan dalam hal ini sebagai salah satu bentuk pelecehan. Tetapi sebagai seorang perempuan aku bantu menegaskan bahwa hal sepele tatapan yang membuat tidak nyaman sudah termasuk suatu pelecehan, ada pula yang berdalih bahwa bisa saja seseorang menatap karena ingin kenalan?
Sekali lagi teman sesama wanita yang bernama Eka menegaskan bahwa “kalau niat baik untuk kenalan, kenapa tidak langsung ditemui. Dari pada menatap sampai menciptakan perasaan tidak nyaman?”. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, waktu istirahat tiba.
Hari ketiga kegiatan sidang kongres pun dibuka, yang dilanjutkan dengan pemaparan kota oleh setiap sekjen kota atau pun perwakilan-nya. Aku dan Aksan banyak berdebat, karena ini kali pertama kami. Jadi sedikit bingung mau memaparkan apa, tiba saat karateker kota Kendari disebut. Mau tidak mau, siap tidak siap aku harus maju.
Dengan waktu 2 menit aku memaparkan rasa bingung di kepala, “terimaksih atas waktu yang diberikan kepada saya, terkait pemaparan kota. Saya sedikit kebingungan karena kami di kota Kendari masih menjadi karateker atau belum ada Dewan kota. Semoga setelah hadir di sini, kami bisa pulang dan membangun komunikasi yang baik dengan LPM-LPM yang ada di kota kami untuk kemudian fokus membentuk Dewan Kota,” kurang lebih se singkat itu.
Selanjutnya kami membahas tata tertib yang memakan waktu dua hari satu malam. Agak alot, seperti biasa. Apa yang anda harapkan dari sebuah diskusi yang isinya puluhan kepala? Pembahasan tata tertib selesai. Lanjut pada pembahasan LPJ Pengurus PPMI Nasional. Hal yang paling mengejutkan, forum berubah menjadi sesi penghakiman. Semua kesalahan-kesalahan kinerja di perdebatkan. Agak menjengkelkan, padahal yang seharusnya kita lakukan adalah belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bukannya tiba-tiba menjadi hakim kehidupan.
Kegiatan selanjutnya masuk pada pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, karena melihat forum yang cukup alot dan waktu yang sempit. Aku berinisiatif, mengefisiensi waktu dengan menyarankan pembahasan AD dan ART Bab per bab. Setelah lobying dengan Mas Luki yang menginginkan pembahasan pasal per pasal bersama Mas Shelo sebagai Pimpinan sidang II, tidak ada jalan keluar. Kami pun melakukan voting, hasil voting membahas bab per bab.
Sehari semalam membahas AD dan ART, paginya kami lanjut membahas GBHO/GBHK sampai tuntas. Lanjut pada pemilihan Sekretaris Jendral PPMI Nasional, agak penuh drama. Para kandidat yang dicalonkan, menolak posisi tersebut dengan berbagai alasan. Setelah melalui kira-kira 3 kali pemilihan bakal calon Sekjend PPMI Nasional, yang berujung gagal. Forum di pending untuk waktu yang cukup lama.
Pada saat forum dipending, perwakilan setiap DK melakukan diskusi secara privat. Para peserta kongres yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, karena merupakan malam terakhir kegiatan aku, Shelia dan Anri memutuskan untuk keluar mencari makan sebentar. Setelah kembali di Aula, secara tidak sengaja kami berpapasan dengan beberapa teman dari DK Madura dan DK Jember, kami sedikit bertukar cerita tentang budaya di kota masing-masing.
Sampai pada waktu tengah malam, forum di buka kembali. Karena frustasi, peraturan di dalam AD dan ART. Terkait syarat Sekjend Nasional dikesampingkan terlebih dahulu. Singkat cerita, Primo Rajendra perwakilan dari LPM Satu Kosong ITS, DK Surabaya. Memberanikan diri untuk mengambil alih jabatan Sekjend Nasional. Dengan beberapa pertimbangan, Primo disetujui. Setelah itu masuk pada bagian sidang Rekomendasi seperti rekomendasi BP Nasional dan kota yang akan menjadi tempat pelaksanaan Mukernas.
Saat itu teman-teman menyarankan tiga kota untuk menjadi tempat pelaksanaan Mukernas yakni Kota Kendari, Mataram dan Jogja. Melalui voting forum memutuskan pelaksanaan Mukernas dilaksanakan di Jogja.
Hari terakhir kegiatan, setelah bersih-bersih diri semua peserta berkumpul kembali di Aula untuk melakukan agenda penutupan kongres. Setelah menyetujui hasil diskusi di dalam kongres, dan ditutup.
Note: Arini Triana Suci Rahmadani adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah
Reporter: Andi Ardian Dwi Rahmat
Editor : Elfirawati
Objektif.Id, KENDARI – Sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan kepada mahasiswa penerima bidik misi. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari mengadakan Workshop dengan mengangkat tema “Peningkatan Wawasan Kebangsaan Mahasiswa Bidik Misi IAIN Kendari” di Gedung Auditorium. Sabtu, (30/10/2021).
Workshop tersebut merupakan rangakaian program pembinaan kepada mahasiswa penerima bidik misi tahun 2020. Kegiatan itu diikuti sebanyak 175 peserta yang terdiri dari mahasiswa penerima Bidik Misi tahun 2020.
Ketua Panitia Amin Nasir, mengatakan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa penerima Bidik Misi terkait wawasan kebangsaan.
“Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa khususnya penerima bidik misi terkait dengan wawasan kebangsaan Yang mana sekarang ini kita tau bahwa mahasiswa saat ini perlu dibina terkait wawasan kebangsaan,” katanya.
Amin juga membeberkan bahwa dalam pelaksanaan workshop tersebut di hadiri oleh tiga pemateri yang sangat luar biasa dan mempunyai kapabilitas di bidangnya masing-masing.
“Pemateri yang di undang pertama AKBP Dr. Sutadi, S.Pd, M.pd dari polda sulawesi tenggara(sultra), kedua Dr. Abdul Halim Momo, M.Si ia adalah ketua Pendidikan Guru Republik Indonesia (PGRI), ketiga pak Kh. Muslim yang merupakan ketua forum komunikasi penanggulangan terorisme dan juga ketua Nahdatul ulama (NU)sultra,” bebernya.
Ia juga berharap agar ke depannya kegiatan-kegiatan tersebut dapat terus terlaksana.
“Saya berharap kegiatan semacam ini terus kita lakukan, tapi ini juga terkait dengan anggaran, kalau anggaran tersedia Insya Allah akan dilaksanakan dan ada di dalam juknis bahwa penerima bidik misi itu memang harus ada pembinaan dan kami berkewajiban membina mahasiswa sampai delapan semester,” pungkasnya.
BPPO Mahiscita IAIN Kendari, Iqbal Manrudda
Penulis : Tumming
Dewasa ini, tak jarang kita melihat seorang mahasiswa yang berambut gondrong mendapatkan diskriminasi, baik itu dalam ruang intelektual kemahasiswaan maupun di lingkup masyarakat, mulai dari Rektor, Dekan, Dosen atau bahkan sesama teman-teman mahasiswa itu sendiri. Oleh karena itu, penulis kemudian mencoba untuk menuangkan persepsinya mengenai fenomena yang masih sangat banyak diperbincangkan saat ini.
Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih terfokus kepada problematika gondrong dalam ruang intelektual saja (Dunia Mahasiswa), karena tekanan yang lebih dominan didapatkan oleh mahasiswa berambut gondrong yaitu pada saat berada didalam ruang lingkup tersebut. Juga kepada dosen yang sering sakit-sakitan karena terlalu sering memikirkan mahasiswa gondrong. Namun sebelum itu, penulis akan sedikit bercerita mengenai gondrong dan sejarahnya di Indonesia.
Sejarah Rambut Gondrong di Era Orde Baru
Berbicara persoalan gondrong, pada masa Orde Baru juga sempat dilarang. Alasannya karena Pemerintah ingin agar anak Indonesia dapat dibentuk menjadi anak yang penurut dan patuh terhadap orang tua seperti layaknya konsep keluarga di Jawa. Selain melarang anak muda berambut gondrong, juga melarang anak muda yang berambut gondrong untuk ikut berbaur dengan politik karena berbagai alasan, salah satunya dikhawatirkan mengancam pemerintahan Orde Baru. (Berarti aturan sebagai pembenaran untuk mempertahankan kedudukan dong? Aduuh RUSAK).
Saking seriusnya, pemerintah kemudian membentuk Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (Bakorperagon) yang beroperasi di sudut kota dan daerah di Indonesia untuk merazia pemuda berambut gondrong.
Andi Achidan dalam pengantarnya di buku “Dilarang Gondrong: Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an” (2010: vii), menyebutkan bahwa kebijakan yang melarang rambut gondrong bagi pemuda pernah ditayangkan di TVRI tanggal 1 Oktober 1997. Selain itu, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Jendral Soemitro juga mengumumkan kebijakan itu dalam sebuah acara televisi yang berjudul “Bincang-bincang di TVRI”. Soemitro mengatakan bahwa, fenomena tersebut dapat menyebabkan keadaan acuh tak acuh yang dapat memancing meningkatnya angka kriminalitas di Indonesia.
Kriminalisasi Gondrong di Era Belanda
Aria Wiratma Yudishtira, penulis buku “Dilarang Gondrong: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an” (2010: 107) pernah membahas hal ini. Dia mengungkapkan, kriminalisasi terhadap orang-orang berambut gondrong juga pernah dilakukan oleh Belanda selama periode revolusi pada tahun 1945-1949.
Hal tersebut juga diulas Sejarawan barat bernama Antonie, JS. Reid, dalam bukunya yang berjudul “Revolusi Nasional Indonesia” (1996: 89-92). Sejarawan tersebut menjelaskan, di tengah suasana Revolusi, muncul berbagai elit pejuang Indonesia yang berpenampilan eksentrik, seperti berambut panjang, berpakaian militer, dan menenteng pistol.
Dalam sejarah rambut gondrong disebutkan saat itu, penampilan dengan rambut gondrong dianggap oleh belanda sebagai musuh, bahkan juga diduga teroris dan ekstrimis yang siap memberontak. Belanda menilai pasukan revolusioner di Indonesia sebagai kaum kriminal yang membahayakan.
Beda halnya dengan pendapat Ali Sastroamijoyo dalam biografinya yang berjudul “Tonggak-tonggak di Perjalananku” (1974: 198). Ali justru menggambarkan pemuda yang berambut gondrong dengan gaya yang urakan di Yogyakarta pada awal tahun 1946 sebagai kekuatan revolusi bangsa.
Gondrong dan Kampus
Berbicara soal pendidikan intelektual, maka substansinya adalah bagaimana kemudian disiplin ilmu yang disampaikan oleh seorang dosen itu dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh mahasiswa, bukan persoalan bagaimana seharusnya mahasiswa berpenampilan dalam ruang pembelajaran di kelas.
Jika kita membandingkan antara mahasiswa yang bergelut di organisasi dan yang tidak, itu kemudian memiliki perbedaan yang begitu signifikan, baik dalam hal keilmuan, retorika diskusi dan lain-lain. Mengapa demikian? karena organisasi tidak mengungkung kadernya (Mahasiswa) untuk berpenampilan seperti ini dan itu untuk bisa mendapatkan ilmu. Artinya mahasiswa diberikan kemerdekaan dalam berpenampilan (free action).
Jika dikaitkan dengan rambut gondrong, maka tidak ada korelasi antara rambut gondrong dengan perkuliahan. Emangnya rambut gondrong nutupin pandangan mahasiswa yang lain saat kuliah? Kan nggak! Emangnya yang rapih itu bisa serapih pemikirannya? Kan nggak! Toh yang melakukan kasus pelecehan kepada mahasiswi di kampus kan rambutnya rapih, yang melakukan korupsi proyek dalam kampus juga rambutnya rapih dan dosen yang melakukan provokasi antara mahasiswa dengan pihak fakultas demi satu kepentingan pun rambutnya rapih. Lantas kenapa kemudian yang berambut gondrong masih selalu dipermasalahkan atau para dosen takut akan dibuka kebusukannya oleh para mahasiswa yang berambut gondrong seperti pada masa Soekarno dulu?
Salah satu dosen yang saya temui mengemukakan alasannya, yaitu karena ingin menegakkan kode etik. Tapi ketika kemudian saya bertanya , “Pelarangan gondrong itu diatur dalam bab berapa, pasal berapa dan poin keberapa?” dosen tersebut kalang kabut mencari buku Kode Etik Mahasiswa yang berada di laci mejanya. “gak usah di cari pak, itu dibahas di Bab V, Pasal XIII Tentang Pelanggaran Ringan, Poin ke V” kataku. Lah gimana mau menegakkan kode etik kalau gak tau kode etiknya? Aduuh RUSAK!!!
Dosen Sering Sakit Karena Terlalu Banyak Mikirin Gondrong
Banyak orang yang memisahkan antara penyakit fisik dan mental. Seolah-olah apa yang terjadi di fikiran tidak berpengaruh sama sekali terhadap kondisi fisik kita. Padahal, sudah lama para ilmuan kesehatan menemukan bahwa pikiran dan kesehatan tubuh memiliki hubungan dua arah yang saling mempengaruhi.
Di ilmu Pengobatan Psikosomatis dijelaskan, bahwa apa yang terjadi di otak kita bisa mempengaruhi badan secara keseluruhan. Maka tidak heran ketika ada orang yang stress kemudian mengalami tegang leher. Kalau sakit kepala, bisa kemudian mengalami sakit lambung juga, karena ada interconectinon (keterkaitan).
Kalau kita ke dokter kemudian bertanya “Dok, saya sakit kepala” kemudian dokter berkata “Kamu ini sakit kepala karena banyak mikir”. “Betul, saya lagi mikirin mahasiswa gondrong yang ikut di kelas saya”. Tapi pertanyaannya, kenapa jadi sakit kepala? Karena dengan memikirkan mahasiswa gondrong itu, otak bekerja lebih keras. Stress karena mahasiswa gondrong itu karena persepsi yang muncul di otak kita adalah persepsi negatif. Ketika ada persepsi negatif, otak kita harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan persepsi negarif itu. Otak kita selalu berusaha agar segala sesuatu menjadi seimbang. Ketika ada persepsi negatif, maka otak itu akan mencoba beradaptasi.
Jadi, bagaimana stress bisa merusak kesehatan tubuh kita? Ada quote dari Hans Style, “Bukan stress yang membunuh kita, tapi reaksi kita terhadapnya.” Karena masalahnya bukan di stress itu sendiri, tapi persepsi kita. Misalnya “Duh kenapa si gondrong itu masuk di kelas ini lagi?” atau “Kenapa dia belum memotong rambutnya.” Itulah yang menyebabkan badan mengeluarkan zat. Pertama, respon adrenalin meningkat. Adrenalin meningkatkan tekanan darah (Karena jantung menjadi makin berdebar), pembuluh darah menyempit, dan karenanya kepala kita menjadi tegang.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini akan meningkatkan hormon stress, yang dinamakan koristol. Koristol adalah zat yang sifatnya oksidatif, merusak apapun didalam tubuh kita. Jika dia menempel di pancreas, dia meningkatkan insulin. Makanya, kalau ada orang stress bawaannya mau makan karena berfikir dia sedang membutuhkan energi.
Jika stresnya akut atau sementara, maka reaksinya juga sementara. Tetapi jika stresnya lama, maka reaksi tubuh juga akan lama dan yang lebih parahnya jika seseorang yang stress tidak tahu bahwa dia lagi stress, karena sudah terbiasa hidup stress.
Jika kita stress kelamaan, badan akan merespon dengan hal-hal yang kita tidak tahu sebagai bagian dari stress. Contohnya penyakit Dyspepsia atau gangguan lambung, in the long run, bisa muncul gangguan jantung, hipertensi dan diabetes.
Solusi Untuk Dosen
Jikalau ada dosen yang mengidap penyakit Gondrongphobiya membaca tulisan ini, penulis berharap dan berdo’a agar segera disembuhkan dari penyakit tersebut. Amiin.
Di dalam buku yang berjudul “Filosofi teras (Filosofi Stoa; Yunani-Romawi kuno yang telah ada sejak 2300 tahun yang lalu).” yang ditulis oleh Henri Manampiring mengatakan bahwa, jikalau ingin hidup anda bahagia, terbebas dari stress atau persepsi negativ, maka yang harus dilakukan adalah mengendalikan persepsi pemikiran kita.
Epictetus (Enchiridion) berkata, “ada hal-hal dibawah kendali (tergantung pada) kita, dan ada hal-hal yang tidak dibawah kendali (tidak tergantung pada) kita.” Prinsip ini disebut “Dikotomi kendali (Dichotomy of control). Bisa dibilang semua filsuf Stoa sepakat pada prinsip fundamental ini. Hal-hal apa saja yang masuk kedalam kedua definisi ini menurut Stoisisme?
TIDAK dibawah kendali kita:
DI BAWAH kendali kita:
Lebih lanjut, Epichtetus menjelaskan dalam buku Enciridion, “Hal-hal yang ada dibawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat; tetapi hal-hal tang tidak dibawah kendali kita bersifat lemah dan milik orang lain. Karenanya, ingatlah jika kamu menganggap hal-hal yang merupakan milik orang lain itu sebagai milikmu sendiri… maka kamu akan meratap, dan kamu akan selalu menyalahkan para manusia karena tidak bersikap atau berbuat sebagaimana yang kamu mau.” Dalam bahasa gampangnya: siap-siap saja kecewa kalau kamu terobsesi dengan hal-hal di luar kendali kamu seperti perbuatan orang lain, penampilan orang lain, kekayaan orang lain dan lain sebagainya.
Saya rasa para dosen gak bodoh- bodoh amat ya… jadi gambaran solusinya cukup sampai disini. Bahwa persoalan rambut gondrong itu tidak berada dibawah kendali para dosen. Artinya bahwa anda tidak bisa memaksakan bagaimana mahasiswa berpenampilan sesuai dengan yang para dosen inginkan dan ini salah satu penyebab sehingga pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dibawah Negara lain. Karena masih mengaitkan penampilan dengan proses pembelajaran.
Alasan klasik yang sering dijadikan pelarian dari realita bahwa dosen tersebut memang tidak suka melihat mahasiswa gondong entah karena ia pernah mendapat pengalaman yang buruk saat bertemu mahasiswa gondrong atau karena masah pribadi dengan mahasiswa gondrong sehingga kemudian menggeneralisasikan bahwa semua mahasiswa gondrong itu tidak baik ialah karena ingin menegakkan Kode Etik mahasiswa. pertanyaannya sederhananya adalah, apakah aturan yang termuat dalam kode etik (pelanggaran ringan) itu hanya persoalan rambut gondrong saja?. Nggak kan. Didalamnya juga termuat beberapa poin yang lain. Jadi jikalau ingin menegakkan kode etik, ya jangan setengah-setengah dong pak. Hehehe. Dan sebelum itu baca dan tegakkan dulu kode etik dosen.
Berdasar pada yang pernah penulis pelajari bahwa, salah satu tujuan dibuatnya sebuah aturan yaitu kemanfaatan. Berangkat dari azas kemanfaatan tersebut, Sekarang kita bandingkan poin ke-V (dilarang gondrong) dengan salah satu poin yang lain, yang tertuang dalam Kode Etik Mahasiswa Bab V Pasal XIII tentang Pelanggaran ringan. Contohnya dilarang mengendarai motor ngebut, yang dalam hal ini manfaatnya adalah agar terhindar dari kecelakaan. Lah kalau di larang gondrong manfaatnya apa? Yang dirugikan siapa? kan nggak ada. Penulis menginterpretasikan bahwa aturan ini dibuat atas dasar kerapian saja, sedangkan persepsi orang tentang kerapian itu berbeda beda setiap orangnya.
Yaah saya rasa sampai disini dulu aja yaa, nanti kita sambung di lain kesempatan. Dan semoga dosen bisa bersikap dengan lebih bijak setelah membaca tulisan ini. Amiin.
Note : Tumming adalah salah satu mahasiswa aktif IAIN KENDARI
Reporter : Wahyudin Wahid
Editor : Al-izar
Objektif.id, KENDARI – Unit Kegiatan Mahasiswa Pers UKM-Pers Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari melalui kegiatan Kemah Literasi, menggelar diskusi film dokumenter Diam dan Dengarkan. Kendari, (15/10/2021).
Kegiatan diskusi film dokumenter tersebut dilaksanakan di lapangan Gedung Olahraga IAIN Kendari, pukul 21.00 – 00.30 WITA.
Muh. Sulhijah selaku pemantik mengatakan, film ini bercerita tentang sejarah umat manusia kemudian masa depan umat manusia serta hubungan manusia dengan alam.
“Jadi, di awal film kita disuguhkan dengan sejarah umat manusia, mulai dari sapiens kemudain menuju homo deus sebagai proses ikhtiar manusia dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam”. Ungkap muh. Sulhijah saat memulai diskusi. Jum’at, (15/10/2021)
Menurutnya, dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, maka tentu ada ekosistem lain yang tergadaikan.
“Tanpa kita sadari, dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia maka merupakan suatu keniscayaan bahwa ada salah satu ekosistem yang tergadaikan, contohnya penambangan batu bara sebagai salah satu bahan utama pembuatan baterai smartphone. Yang artinya, ekosistem yang tergadaikan dalam hal ini adalah Hutan. Oleh karena itu, manusia sebagai konsumen mempunyai tanggung jawab untuk selalu melestarikan alam”. lanjutnya.
Selain itu, slamet fadilah sebagai salah satu peserta diskusi mengatakan, secara substansi ada satu poin penting yaitu, manusia dan alam adalah dua ekosistem yang seharusnya saling menguntungkan.
“Secara substansi general dari film yang telah kita saksikan bersama, saya melihat ada satu poin penting yaitu harus adanya simbiosis mutualisme antara manusia dengan alam. Artinya ketika dua ekosistem ini saling menguntungkan maka akan terjadi kestabilan didalam kehidupan” ungkapnya.
Reporter : Rizal Saputra
Editor : Elfira Wati
Objektif.id, KENDARI – Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. berikan klarifikasi atas tudingan pemalsuan tanda tangan yang dialamatkan kepadanya melalui media online, Jumat, (15/10/2021).
Dekan Fakultas Syariah mengaku tidak membenarkan tuduhan melakukan pemalsuan tanda tangan tersebut.
“Selama ini kami tidak melihat, bahkan tidak mengetahui adanya pemalsuan itu dan kalau praduga-praduga itu dari luar, kami mohon buktinya itu tunjukan sama kami. Saya yakin pemalsuan itu tidak ada,” kata Ipandang, kepada objiktif.id.
Lanjutnya, ketika pengambilan keputusan ditingkat fakultas, terlebih dahulu dirapatkan bersama.
“Ada refisi anggaran, itu pasti saya panggil semua karena putusan itu berdasarkan hasil rapat,” lanjutnya.
Menurutnya, tuduhan pemalsuan ini, telah mencemarkan nama baik IAIN Kendari.
“Pencemaran nama baik itu, sudah masuk memalsukan tanda tangan. Ini Institut ini yang dicemarkan bukan cuma fakultas syariah,” uangkapnya.
Dia juga sesalkan atas kinerjanya oknum dosen yang merasa dipalsukan tanda tangannya tersebut, seakan tidak mendukung IAIN Kendari menuju UIN.
“Cuman karena dia kan jarang di fakultas, kita rapat paling lima menit lari lagi. Kamu tau sendiri kita akreditasi sampai jam tiga subuh. Mana dia, nda pernah nongol,” bebernya.
Tidak hanya itu, ketidak terbukaan dosen yang bersangkutan jika ada pemalsuan dalam tanda tangannya.
“Yang saya selalkan selama ini pihak yang bersangkutan tidak pernah menyampaikan kepada kami bahwa terjadi pemalsuan tanda tangannya,” sesalnya.
Sementara itu, Kasubak Adiministrasi Umum dan Keuangan Fakultas Syariah, La Ringga mengatakan kalau untuk pemalsuan tanda tangan wakil dekan itu tidak benar adanya.
“Kalau pemalsuan tanda tangan tidak ada, kalaupun ada tanda tangan wakil dekan itu kami sampaikan, kami koordinasikan, bahwa ada yang mau ditanda-tangan, Setiap kali kami hubungi dia datang sekalian dia paraf,” ungkapnya.
Lanjutnya, seharusnya kalau ada informasi seperti ini pastikan terlebih dahulu kejelasannya informasinya.
“Seharusnya kalau ada seperti ini di konfirmasi dulu, yang lebih tepatnya dibawakan datanya supaya jelas,” lanjut
“Kalaupun ada pemalsuan tanda tangan itu, kami juga bingung dari mana asalnya, siapa yang palsukan tanda tangannya. Hanya ini kan langsung beredar informasinya.
Menurutnya, hal itu secara tidak langsung merusak sendiri medianya.
“Secara tidak lansung sudah merusak citra lembaganya atau medianya sendiri,” tutupnya.
Reporter : Andika
Editor : Omo
Kendari, Objektif.id – Dalam meningkatkan kualitas kader Lembaga Peradilan Semu Hukum Islam (LPS HI) menyelenggarakan Pelantikan dan Rapat Kerjar di Laboratorium Peradilan Semu, Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Kendari. Selasa, (5/10/2021).
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 5 sampai dengan 6 Oktober 2021 dengan mengangkat tema “Meningkatkan Kualitas Kader Yang Produktik Dalam Mengembangkan LPS HI”.
Puspita selaku ketua panitia mengatakan, bahwa dalam mengembangkan LPS HI sebagai langka awal dalam meningkatatkan kualitas kader yang produktif.
“Perlunya meningkatkan kualitas kader yang produktif sehingga bisa berdiskusi dan lain sebagainya untuk kemudian dengan bekal kader yang berkualitas sehingga mampu mengembang LPS HI ini menjadi lembaga yang lebih baik kedepannya,” kata Puspita.
Senada dengan itu Ketua LPS HI Fakultas Syariah Jeklin Dermawan, mengatakan dalam sambutannya, Bahwa, dalam kegiatan ini semoga menjadi langkah awal yang kemudian akan mengkualitas kita sebagai mahasiswa dan kemudian mengkualitaskan kita sebagai kader-kader dari LPS HI Fukultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari.
“Semoga seluruh pengurus dan anggota dapat bekerja sebagai satu sistem yang saling melengkapi,” kata jekling
Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Dekan III (WADEK III) Fakultas Syariah
Asrianto zainal, S.H, M.Hum. Berharap, dengan adanya LPS HI ini bisa membuat mahasiswa Fakultas Syariah mahir dalam bidang hukum karena meraka akan dibina dalam lembaga ini.
“Dengan adanya LPS HI ini para mahasiswa Syariah akan mahir berpraktek di pengadilan, karena nantinya mereka akan dibimbing oleh pembina-pembina yang lahir dibidangnya,” harapnya.
Reporter : Rainan
KENDARI Objektif.id – Dewan Eksekutif (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari membantah bahwa inventaris DEMA hilang. Inventaris tersebut tidak hilang tapi diamankan. Sabtu, (02/10/2021)
Sekretaris Jenderal DEMA IAIN Kendari, Syarif Hidayatulah menerangkan bahwa dirinya mengamankan komputer dikarenakan Sekretariat DEMA sudah tidak aman.
“Komputer itu saya amankan dan atas persetujuan Ketua DEMA karena pintu sekretariat mudah terbuka, kuncinya hilang,” ungkap Syarif.
Baca Juga: Lama Pasif, Inventaris Lenyap Tanpa Jejak
Hal ini dibenarkan oleh Ketua DEMA IAIN Kendari, Buyung M Rantau, Ia mengatakan bahwa sekretariat DEMA beberapa kali di bobol orang dan barang-barang didalamnya sengaja di hamburkan dan dikotori.
“Sekretariat itu selalu bersih dan terkunci. Sekitar bulan 7 ada keanehan, kursi hilang (komputer masih ada), ada yang sengaja buang air kencing di situ, dan ada noda-noda dilantai,” terang Buyung M Rantau.
Ia kemudian menambahkan, setelah dibersihkan sekretariat dikunci kembali karena masih pandemi, akan tetapi beberapa minggu kemudian pintu sekretariat terbuka, kunci dan gemboknya hilang. Maka dari itu Sekjen DEMA berinisiatif untuk mengamankan komputer dan itu atas persetujuannya.
“Bukan hilang atau dicuri tapi komputer diamankan oleh Sekjen dan sebelumnya sudah konfirmasi ke saya,” ujar Buyung.
Terakhir Ia menekankan bahwa kepengurusan Dema masih aktif dan berkegiatan.
“Sekretariat kosong bukan berarti kepengurusan mati,” pungkasnya.
Berdasarkan pantauan perskampusbiru.com sampai berita ini diterbitkan kondisi Sekretariat DEMA telah dibersihkan dengan inventaris lengkap didalamnya dan pintu terkunci.
| (Foto bersama usai kegiatan Maperca. Foto: Muh. Aksan) |
Reporter : Muh. Aksan
Editor : Rizal Saputra
Kendari, Objektif.id –Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Se-Komisariat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari menggelar Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) di gedung PKM Lantai II. Sabtu, (2/10/2021).
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2021 dan diikuti oleh 20 peserta ini mengangkat tema “Melahirkan pemimpin berkualitas dalam menjawab tantangan zaman melalui rahim HMI.”.
Ketua panitia Ibnu Qayyim mengatakan, bahwa Tujuan dari tema ini adalah membuka ruang atau rumah kedua kepada mahasiswa.
“Bahwa kami membuka ruang atau rumah kedua buat teman-teman mahasiswa yang ingin bergelut di himpunan mahasiswa islam. Agar calon anggota ini bisa menjawab tantangan zaman dan problematika saat ini,” ucapnya.
Senada dengan itu, Iwan Husein selaku Ketua Umum komisariat Al-Ghazali mengatakan, tiga poin penting pada kegiatan maperca ini.
“Pertama, Ini sebenarnya terobosan awal yang kita lakukan di IAIN Kendari selama ini HMI di IAIN Kendari belum pernah melaksanakan yang namanya maperca. Padahal, dalam konstitusi jelas bahwa maperca itu harus dilaksanakan setiap komisariat. Kedua, Maperca ini adalah ajang untuk konsolidasi kepada adik-adik seluruh jurusan dan fakultas harus kita rangkul untuk memperkenalkan organisasi sejatinya penting sebagai penunjang akademis dikampus. Ketiga, untuk menyelamatkan adik-adik yang selama ini mereka belajar daring dan mempunyai banyak-banyak kelemahan pembelajaran daring tersebut untuk mengasah potensi mereka kita harus rangkul di maperca ini,” ucapnya.
Ia Juga berharap kegiatan maperca ini Tetap konsisten dan komitmen untuk mengembalikan tujuan mereka menuntut ilmu.
“Tetap konsisten, komitmen mengembalikan tujuan dari mereka belajar di kampus untuk bisa menuntut ilmu dalam hal ini bisa berbicara karna kuliah pada esensinya itu bisa berbicara nah untuk bisa berbicara kita harus berproses diorganisasi,” pungkasnya.