Maafkan Diriku

Objektif.id
Maaf...
Maaf...
Maafkan aku...
Hanya itu yang mampu terucap saat ini
Rasa ini seakan tak mau terkubur
Walau telah ku timbun dengan tatapan benci mu...

Biarlah aku berlayar jauh
Meninggalkan kota dan dirimu.
Walau senyummu selalu muncul
Tak apa, aku akan mencoba...

Biarlah angin menjadi saksi rinduku,,
Rinduku yang teramat menyiksa
Senyummu yang selalu muncul
Ragamu yang selalu dipuja....

Aku tak bisa menenggelamkan rasa,,
Aku tak bisa berbicara layaknya penyair
Aku tak bisa berhenti memandang
Aku tak bisa!!!

Tapi biarlah, ia hanya sebatas kata,,
Kata hatiku, yang mengganggumu....

Amolengo, Minggu 7 Jan 2024
Penulis: Maharani 
Editor: Melvi Widya

Janji Politik, Antara Harapan Atau Petaka

Objektif.id – Di tepi pemilu, janji manis berderai,, Dari bibir caleg, berlomba-lomba memikat hati. Mereka berjanji akan membawa perubahan, Namun, apakah ini hanya mimpi di siang bolong?

Janji-janji itu terdengar begitu indah,, Seperti lagu yang merdu, membius telinga. Namun, di balik nada-nada itu, Apakah ada kebenaran, atau hanya omong kosong?

Mereka berjanji akan membangun negeri,, Membuatnya lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera. Namun, apakah mereka benar-benar peduli, Atau hanya ingin memperebutkan kursi?

Mereka berjanji akan memerangi korupsi,, Membuat sistem yang bersih dan transparan. Namun, apakah mereka benar-benar jujur, Atau hanya permainan retorika belaka?

Mereka berjanji akan memperjuangkan rakyat,, Membela hak-hak mereka, dan memberikan keadilan. Namun, apakah mereka benar-benar tulus, Atau hanya ingin mendapatkan suara?

Di tepi pemilu, janji manis berderai,, Seperti hujan yang turun, membasahi tanah. Namun, apakah hujan itu akan membawa kehidupan, Atau hanya akan membuat tanah menjadi licin?

Kita, sebagai rakyat, harus berpikir kritis,, Tidak terbuai oleh janji-janji manis. Kita harus memilih dengan bijaksana, Untuk masa depan negeri yang lebih baik.

Kita harus meminta bukti, bukan hanya janji,, Kita harus meminta tindakan, bukan hanya kata-kata. Kita harus meminta kejujuran, bukan hanya retorika, Untuk memastikan bahwa pemilu ini benar-benar adil.

Di tepi pemilu, janji manis berderai,, Namun, kita harus tetap waspada dan kritis. Karena, di balik janji-janji itu, Ada masa depan negeri yang sedang dipertaruhkan.

Jadi, mari kita dengarkan janji-janji itu,, Namun, jangan lupa untuk meminta bukti. Karena, di balik janji manis di tepi pemilu, Ada tanggung jawab yang harus kita pikul.

Jadi, mari kita pilih dengan bijaksana,, Siapa yang berhak menjadi pemimpin, Untuk memajukan tanah impian ini Bukan hanya omong kosong yang diungkapkan….

Penulis: Rachma Alya Ramadhan

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Tawa Pahit Kenangan Seseorang

Objektif.id 
Di balik tawa yang riang dan gembira, 
Ada seorang yang hatinya penuh luka. 
Dia tertawa, tapi matanya berbicara, 
Tentang rasa sakit yang tersembunyi di balik senyum.

Dia adalah penopang harapan, 
Tapi di balik senyumnya, ada duka yang mendalam. 
Dia berbagi tawa, tapi dia sendiri yang menangis, 
Menyembunyikan air mata di balik wajah yang riang.

Dia adalah mentor, guru, dan teman,
Tapi dia juga manusia, dengan hati yang bisa terluka. 
Dia berbagi pengetahuan, tapi dia sendiri belajar, 
Tentang kehidupan, cinta, dan rasa sakit yang tak terkira.

Dia adalah seseorang yang selalu ada, 
Tapi dia juga merindukan masa lalu yang telah pergi. 
Dia berbagi cerita, tapi dia sendiri merenung, 
Tentang kenangan yang telah lama berlalu.

Dia adalah pemandu, yang menunjukkan jalan, 
Tapi dia juga merasa tersesat di tengah hutan. 
Dia berbagi petunjuk, tapi dia sendiri mencari, 
Jalan pulang ke masa lalu yang telah hilang.

Dia adalah seseorang, yang selalu tersenyum, 
Tapi di balik senyumnya, ada rasa sakit yang mendalam. 
Dia berbagi tawa, tapi dia sendiri menangis, 
Menyembunyikan air mata di balik tawa yang manis.

Dia adalah pejuang, yang selalu berjuang, 
Tapi dia juga merasa lelah dan ingin beristirahat. 
Dia berbagi semangat, tapi dia sendiri merasa lemah, 
Menyembunyikan kelelahan di balik semangat yang teguh.

Dia adalah seseorang yang selalu berbagi, 
Tapi dia juga merindukan masa lalu yang telah pergi. 
Dia berbagi kenangan, tapi dia sendiri merenung, 
Tentang masa lalu yang telah lama berlalu.

Dia adalah seseorang, yang selalu memberi, 
Tapi dia juga merasa kehilangan dan ingin menerima. 
Dia berbagi kasih, tapi dia sendiri merasa sepi, 
Menyembunyikan kesepian di balik kasih yang tulus.

Penulis: Rachma Alya Ramadhan 
Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Di Balik Gerbang Kampus: Sebuah Awal Menanti

Objektif.id – Di balik gerbang kampus, sebuah awal menanti,,

Langkah pertama di tanah impian, hati berdebar kencang. Tak ada lagi seragam putih abu-abu,Kini warna-warni kehidupan kampus menghampiri…

Buku-buku tebal dan tugas yang tak pernah habis,,

Malam-malam panjang, diskusi tanpa henti. Tapi di sana juga, teman baru dan cerita,,Tawa dan tangis, suka dan duka, semua menjadi satu…

Di balik gerbang kampus, sebuah awal menanti,,

Mimpi-mimpi besar, harapan yang tak terhingga. Kini, aku bukan lagi siswa SMA, Aku adalah mahasiswa, penjelajah dunia baru…

Di balik gerbang kampus, sebuah awal menanti,,

Tantangan dan peluang, semua ada di sini. Aku siap, aku berani, aku akan maju, Karena di balik gerbang kampus, masa depanku menanti…

Di balik gerbang kampus, sebuah awal menanti,,

Aku belajar, aku tumbuh, aku bertransformasi, Dari seorang anak, menjadi seorang pemuda, Dengan semangat yang membara, dan tekad yang kuat…

Di balik gerbang kampus, sebuah awal menanti,,

Aku belajar tentang kehidupan, tentang cinta, dan tentang diri. Aku belajar untuk berjuang, untuk berkorban, dan untuk mencintai, Karena di balik gerbang kampus, aku menemukan diriku…

Di balik gerbang kampus, sebuah awal menanti,,

Aku belajar untuk berani, untuk berdiri, dan untuk berbicara. Aku belajar untuk berpikir, untuk merenung, dan untuk bertindak, Karena di balik gerbang kampus, aku menemukan suaraku…

Di balik gerbang kampus, sebuah awal menanti,,

Aku belajar untuk bermimpi, untuk berharap, dan untuk berdoa. Aku belajar untuk bersyukur, untuk berbagi, dan untuk berkasih sayang, Karena di balik gerbang kampus, aku menemukan hatiku…

Penulis: Rachma Alya Ramadhan

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Keindahan Alam Semesta

Objektif.id – Keindahan alam semesta begitu memukau,, Langit nan luas begitu bercahaya,, Bintang-bintang gemerlap di angkasa,, Menyaksikan semesta dalam jarak dekapan tangan….

Dari awan putih hingga hijau daun pepohonan,, Berpadu dalam warna keindahan,, Semesta mencurangi dunia dengan ketenangan,, Menyisakan hati yang lapang untuk meditasi….

Puncak gunung yang menelan jiwa,, Lautan biru yang tercipta oleh cinta,, Semua terungkap dalam tampilan ilahi,, Menjahit jalan bagi siapa saja untuk belajar….

Tak ada yang sama di bawah cakrawala,, Hanya keindahan yang menjaga kita bersama-sama,, Kita merasakan lembutnya embun pagi dan kebahagiaan,, Melalui sesuatu yang indah dan penuh rahasia….

Semesta menyaksikan betapa keindahan yang ada di dunia,, Melalui keajaiban yang terus diperlihatkan,, Kita menyadari bahwa kita hanya bagian kecil dari keindahan ini,, Yang berarti kita harus meresapi agar kita bisa mengapresiasi semesta….

Penulis: Nana

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Rantau

Objektif.id – Sekilas perjalananku yang lelah ada rindu yang menggebu di hati terpancar aroma yang penuh perjuangkan tentang mimpi yang harus tergapai

Akulah si anak rantau Aku datang dari negeri yang jauh hanya sekedar untuk menuntut ilmu, walau banyak rintangan dan derita harus ku hadapi

Kau tak akan pernah tau seberat apa perjuangan anak rantau Aku berjalan sendiri dengan pikirin yang lelah, merindukan sebuah keluarga yang jauh, dan senyuman yang selalu tersentuh di masa kecilku.

Ya senyum ibu dan ayah tercinta, bu apa kabar kau yang jauh, Aku rindu masakanmu dengan tangan yang renta, Aku rindu suara halus mu yang berbisik di telingaku.

Ayah Aku masih mengingat nasehatmu, di mana dulu pernah kau bilang, nak selalu kuatlah kamu menjalani kehidupan yang berat karena tak selamanya kau berada di samping kami, dan sekarang aku telah tau semua jawabannya

Hidup di tanah rantau, tak akan sama hidup di negeri sendiri, inilah perjalananku di tanah rantau, yang penuh derita dan beban pikiran, Atas nama rindu Aku serahkan kepada sang pencipta, semoga perjuanganku di tanah rantau akan membawa berkah di masa depan.

Penulis: La Muliyono

Editor: Muh. Akmal Firdaus Ridwan

Katamu, Kita Abadi

Ingin kudedah aksara dalam puisimu itu, agar aku tahu adakah diksi nirmala yang lainnya.

“Katamu, Kita Abadi”

Ingin kusudahi puisi cinta darimu, ingin sekali rasanya…

Ingin kuhentikan pikiranku tentang dirimu, tentang isi di kepalaku yang terus-menerus menghantuiku

Ingin kumelupa, sampai aku tak tahu apa arti puisi cinta darimu itu

Lalu aku pun lupa bahwa ada diksi nirmala itu untukku

Katamu, kita abadi, tak lekang oleh waktu seperti penyair-penyair puisi lainnya juga seperti puisi Eyang Sapardi yang katanya, kita abadi

Namun, kenyataannya kita hanyalah temu yang bersemu dalam peluh

Yang kenyataannya, kita hanyalah sepasang jiwa yang rengkuh dalam dekap yang memburu namun, saling acuh

Kenyataan ini begitu angkara

Tapi, bukankah itu lebih baik?

Ingin kudedah aksara dalam puisimu itu, agar aku tahu adakah diksi nirmala yang lainnya

Atau adakah yang lebih dari puisi eyang Sapardi yang katanya kita abadi?

Adakah yang lebih dari itu?

Agar aku menitik di tiap bait puisi cinta darimu

Agar kuhentikan duka nestapa ini di destinasi adiwarna berbau angkara

Lalu menepi, menghilang tanpa jejak dan kebebasanku atas bayang-bayang dirimu tak sekadar sebuah diksi.

Penulis: Elf
Editor: Redaksi

Ingin Pulang

“Ingin Pulang”

Perih rasa menaruh di dalam kalbu ketika terdengar kata “pulang”

Tangis rasa tak terbendung di dalam hati
ketika terkenang memori masa itu,
Masa di mana aku masih berkisah
bersama orang-orang yang tak asing bagiku

Pupus harapan ketika tak jadi pulang
Bagaikan taru yang patah karna pawana menyapu
Jatuh seketika ke tanah tampa ada sedikit
harapan untuk berdiri kembali

Andai aku masih di sana takan ku
biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa
ada kenangan yang ku ambil.
rindu dan rasa ingin pulang lebih besar
dari pada rasa tinggal yang tak nyaman
secercah harapan ku pintakan
“Aku ingin pulang”.

Penulis: Ferdiani
Editor: Ai

Puisi: Tentang Rumah Itu

“Tentang Rumah Itu”

Rumah itu
Masih berdiri kokoh dan
Masih berpenghuni

Rumah itu
Tempat menampung dan mendidik,
Tempat bertemu untuk saling berbagi,
Tempat memberikan kenyamanan serta keamanan melakukan segala sesuatu

Tetapi,
Kini rumah itu berubah
Menjadi pencetak penguasa,
Menjadi tempat kepentingan politik

Masih pantaskah ini disebut rumah???

Sebab
Hanya mendengar kegaduhan dan,
Berisiknya suara yang berseteru demi kepentingan.

Juni, 2023

Penulis: Muh. Aksan

Kepada Mama

“Kepada Mama”

Ma, jiwaku rengkuh
Akalku sirna
Otakku bukan lagi pada tempat semestinya
Sebab, mereka mulai menghantui aku lagi
Mereka ramai di sana, Ma
Mereka abadi di kepala
Bising di telinga
Dan aku sakit

Ragaku asyik tersenyum
Sibuk memilih topeng
Topeng pertama, senyuman
Topeng kedua, tawa
Topeng ketiga, canda
Lalu orang-orang akan mengutuk ragaku yang ceria
Sementara, aku mengutuk jiwaku yang perlahan terkikis
Oleh setan-setan
Yang mengajakku pergi
Dari semesta yang tak pernah ingin ku sebut diriku manusia

Mereka menyebutku manusia paling ceria dengan senyuman candu paling mujur
Padahal jiwaku habis digerogoti oleh ekspetasi-ekspetasi;
Tentang menjadi anak yang berbakti
Menjadi manusia yang berguna
Menjadi orang dengan memiliki sebuah gelar
Menjadi manusia yang sempurna

Padahal aku hanya ingin menjadi manusia sewajarnya. Dengan mengenakan topeng;
Lapis pertama, marah
Lapis kedua, bersedih
Lapis ketiga, terluka
Dan aku akan binasa
Perlahan menjadi manusia sewajarnya
Dan aku tidak akan sibuk mempertanyakan eksistensiku sebagai ciptaan Tuhan yang disebut manusia.

“Ditulis 28 April 2023 pukul 11.15”

Penulis: Elfirawati 

Bulan Dilautan Malam

“Bulan Dilautan Malam”

Bulan…

Dikala malam itu,aku terduduk dan terdiam
Lalu menatap pada sang langit
Sambil berkata

Ohh bulan…
(Cahaya mu) Engkau begitu terang menyinari dunia ini
Bulan…
Karena (Sinar) mu dapat memunculkan perasaan, dan pikiran yang tenang
Bulan…
Karena mu membuat ku merasa terjaga, aman tanpa ada sosok yang mengganggu

Bulan oh bulan…
Ku ucapkan terima kasih,atas sinar dan cahayamu, dunia ini lebih bermakna

Penulis: Melvi Widya

Ibuku Sang Malaikat

Penulis : Citra Wahid 

Ibu… Engkau malaikat tak bersayap
Yang Tuhan turunkan untukku
Doamu Mengiringi di setiap langkah kakiku
Dalam meniti ilmu dan pendidikanku.

Ibu… Engkau manusia paling tangguh Sedikitpun tak pernah mengeluh Dalam merawat dan membesarkanku.

Engkau menjadi ibu juga menjadi ayah demi aku
Dalam membesarkan dan mencari nafkah untukku
Dalam kesendirianmu membesarkanku
Tak pernah sedikitpun kedua telinga ini mendengar keluhanmu

Ibu… Engkau malaikat tak bersayap
yang dikirimkan Tuhan untukku.
Jasamu tak dapat kubayar
Meski aku menggendong dirimu dihadapan Ka’bah.

Ibu… Terima kasihku tak pernah cukup untuk menebus kebaikan, kasih sayang, dan ketulusanmu
Tak pernah bisa kubayar dan kugantikan dengan apapun.

Penulis adalah mahasiswa aktif Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari.

 

Lelahku Karena Lelapmu

Menabur canda dan tawa meskipun hariku resah gelisah, kau sungguh tak pernah tau arti ini semua, seakan perjalanan kisah semalam dalam kegelapan melahirkan kebencian untuk kita.

Aku tak bisa menjadi munafik di hadapmu sebab seuntai jiwa masih mereguk indah ikatan kasih sayang mu, mungkin bagimu tak berarti apa-apa, tapi bagiku semua telah terperangkap dalam atma. Tatkala suka duka memaksa ku kembali menuturkan air mata dalam kecewa.

Semestinya aku tak pernah menemui mu, sebab aku tak dapat menuai dekapanmu, tapi seakan semuanya telah nyata dalam hari-hari  redah ku, yang tadi merangkai nada-nada kehidupan bersama hal menyakitkan di perpisahan kita berdua. Sekarang hanya kisah cerita belaka yang tak dapat bermakna apa-apa.

Hai cantik, ku lahirkan satu kisah untuk mengenang peristiwa indah kita bersama, meski tak dapat ku ulang tapi setidaknya kau masih tersimpan rapi dalam memyemai hidup ku ini.

Lelap tidur mu membuat ku meneteskan air mata bahagia, sementara lelah ku untuk mu hanya demi kau yang selalu memberikan kehangatan dalam jiwa.

Ku harap kau dan aku akan terus menjadi kita untuk selamanya, tak peduli seberapa keras benturan ini, setidaknya aku masih melewati masa itu bersamamu. Sebab kaulah alasan ku memanjatkan doa, dan biarkan doa dan takdir itu yang akan terus bertengkar hebat di langit tak lain hanya untuk menyatukan kita  menjadi yang pertama dan terakhir kalinya.

Akan terus ada cerita pertemuan dan perpisahan, begitulah adanya namun aku tak risau dengan masalah itu sebab yang aku tau bersamamu hidup ku ini jauh lebih berarti.

Al Mudassir, Kendari 19 april 2022.

Mimpi yang Besar Bukan Tanpa Sebab

Meminjam kata dari pepata, Izinkan saya mendongeng biarkan teman-teman menghayal.

Teringat saat dimana kau mengenalkanku pada banyak hal, tentang bagaimana merangkai kata menjelma narasi,  tentang bagiamana membingkai kata hingga tak menyayat hati.

Tentang bagaimana mengambil kesempatan pada genggaman kesempitan, tentang bagaimana menyulam kecewa menjadi asik hingga tentang bagaimana negosiasi mencari sebungkus nasi.

Kini, Ia tak lagi muda, bahkan bukan gadis karena sudah memiliki suami dan empat orang anak.

Dahulu mereka mengajarkanku mengayung kaki, langkah demi langka hingga berlari.

Dahulu mereka yang pertama kali mengenalkan kata perkata hingga lancar mengucap kalimat.

Dahulu mereka yang mengajarkanku perjuangan hidup, dinamika hidup hingga paham arti kehidupan.

Berbekal pengalaman menempuh pendidikan di bangku pendidikan yang hanya sampai pada Sekolah Menengah Atas, yang punya niat besar ingin melanjutkan pendidikan di bangku kuliah namun terhalang karna keterbatasan ekonomi sehingga memutuskan mengurung niat.

Tidak mau hal serupa dirasakan sang anak, hingga memutuskan apapun peran akan ia jalani.

Dari dagang kue, jual sayur, buruh tani, sampai buru bangunan ia lalui, semua itu bukan tanpa sebab.

Mungkin misi suci yang sempat terhenti, mungkin derita hidup yang sudah dilalui tak mau dirasakan anak-anaknya ataukah ada misi lain, entahlah tapi yang pasti ia menginginkan yang terbaik.

Tangan yang kasar, kulit kaki yang tebal, pinggang yang sering sakit, raut wajah yang keriput,  keringat yang melekat pada pakayannya adalah bukti perjuangan mereka.

Sebagai anak, aku harus memikirkan nasib keluarga kami, berpikir keras bagaimana cara mendapatkan uang, sedangkan sekolahku saja belum selesai.

Didalam kebingungan yang terus menghantuiku, seorang teman mengajakku untuk bergabung dengannya di satu perusahaan media.

Walaupun belum bisa mengirimkan uang untuk mereka, tapi dengan menggeluti profesi ini aku bisa meringankan beban ayah dan ibu sebagai tulang punggung keluarga.

Diruang bersegi empat berukuran dua kali tiga, beralaskan tikar di bawa sinar lampu, hanya bisa menahan tangis melihat perjuangannya.

Tetesan air mata para penyapa menaru harapan disetiap sapaan, tangan-tangan suci titipan tuhan selalu mengawal menaru harapan. Oh tuhan lindungi mereka.

Entahlah untuk saat ini hanya bisa menahan rindu, hanha bisa mengirim mantra-mantra suci disela-selah keheningan mengharapkan sapaan sang ILAHI.

Rizal Saputra, Kendari 21 April 2022.

Goresan Aksaraku

Penulis: Elsa Alfionita

Aku teringat saat-saat dimana kau megingatkanku pada banyak hal. Tentang perjuangan, tentang kebersamaan, tentang menahan amarah bahkan tentang asmara. Namun semua itu tinggallah kenangan.

Jika bisa! aku ingin memohon pada pemilik waktu agar memperpanjang waktu kebersamaan kita.

Tapi itu tidak mungkin, hal itu hanya sekedar khayalan bodohku yang takkan pernah terwujudkan.

Karna nyatanya waktu itu akan segera tiba, masa kita akan segera mengambil jalan kehidupan masing-masing.

Namanya Prisil, dia adalah sahabat bahkan sudah ku anggap sebagai keluarga dekat sewaktu merantau ilmu di Kota orang.

Kami sama-sama tinggal di satu kontrakan namun berbeda kamar. kurun waktu kurang lebih 2 tahun.

Hidup sebagai perantau bukanlah hal yang mudah apa lagi status kami sebagai mahasiswi.

Prisil yang kukenal bukanlah sosok yang lemah. Disela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa kadang-kadang meluangkan waktunya menyamar jadi babu saat jam kuliah usai disalah satu rumah makan yang tidak jauh dari kampus. Dan saya sendiri menyibukakan diri dengan pencetakan gelas mugg.

Perjuangannya selama diperantauan cukup panjang, hingga Tuhan mempertemukannya dengan sosok laki-laki yang saat ini menjadi pendamping hidupnya.

Ia diberikan kesempatan untuk lebih dulu dari saya menjadi ratu sehari dipanggung pelaminan.

Tapi tak apalah kata orang Jodoh itu bukan perkara cepat atau lambat, tapi perkara siap dan sudah sesuai ketetapan Allah SWT.

Minggu dua puluh enam Desember adalah momen resmi ia melepas masa lajangnya dan juga momen ucapan selamat tinggal buat para mantannya.

Saat setelah menyelesaikan rukun nikah, sang calon suami menerima tantangan terakhir dari sang penghulu untuk membacakan surah pilihan, mulai dari surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas dan disimpulkan langsung dari pendengar “Ohh iman toude” yang artinya “Ternyata seorang imam”.

Beda halnya saat ijab qobul, yang sedikit tersendak-sendak yang ditambah dengan suara dari tamu undangan, “jangan gerogi santai saja” dan di dooble dengan lirik yang lebih keras “saaaaaaahhhhhhhhhhhh”

Tapi sebenarnya ada yang lebih mengunggah hati saya ketika mendengar kata “Sah” yaitu kata perpisahan yang spontan terbesit di pikiranku, mungkin disini tidak akan sama lagi hari-hari yang akan kami lewati seperti sedia kala. fikir saya.

Untuk semua kebersamaan, untuk hubungan persahabatan yang engkau tawarkan kepadaku.

Aku berharap suatu saat waktu akan berbaik hati lagi untuk mempertemukan kita.

Yang terakhir saya ucapkan baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.

Dan semoga menjadi keluarga yang sakinah, warahma dan mawaddah. amin allahuma amin.

Penulis adalah mahasiswi aktif Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, juga anggota aktif Unit Kegiatan Mahasiswa Pers (UKM-Pers).