Dampak Kericuhan Demonstrasi Terkait Pembangunan Asrama Mahasiswa, Kini Berujung Ke Kantor Polisi

Kendari, Objektif.id – Setelah aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari pada Rabu, 23 November lalu, kini berlanjut pada pelaporan di Polsek Baruga.

Presma IAIN Kendari, Hendra Setiawan mengatakan setelah kejadian tindak represif yang dilakukan keamanan kampus dan mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh kepada para mahasiswa pada aksi tersebut yang mereka anggap sebagai penghinaan.

“Setelah kejadian tindak represif keamanan kampus dan juga mengeluarkan kata yang tak senonoh di kampus PTKIN satu-satunya di provinsi Sultra ini membuat teman-teman masa aksi dan saya sebagai pimpinan mahasiswa merasa keberatan dan kami laporkan sebagai penghinaan,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan pihak kampus harus segera memutuskan kontrak dengan pihak penyedia jasa yakni PT. Satya Perkasa Mandiri, karena mereka menilai hal ini mencoreng nama baik IAIN Kendari.

“Saya selaku presiden mahasiswa meminta kepada Ibunda Rektor tercinta untuk sesegara mungkin memutuskan kontrak dengan pihak penyedia jasa yakni PT. Satya Perkasa Mandiri, karna mencoreng nama baik kampus” tuturnya

Hendra juga mengecam kepada oknum yang terlibat dalam proses pembangunan asrama mahasiswa IAIN Kendari untuk tidak bermain-main, dan meninjau kembali dokumen yang dinilai cacat administrasi, agar bisa sesuai dengan standar prosedural yang ada.

“Dan saya juga sangat mengecam seluruh oknum yang ingin bermain-main dalam proses pembangunan Rusunawa IAIN Kendari, karna seperti yang kita ketahui bahwa tidak adanya transparansi penggelolaan bahkan dokumen yang mahasiswa dapat itu kami anggap sangat cacat. Untuk itu saya mendesak suluruh stakeholder yang berkaitan dengan pembagunan Rusunawa untuk meninjau ulang kembali dokumen dan merelevankan apa yang terjadi dilapangan,” pungkasnya.

Dia menghimbau kepada seluruh mahasiswa dan juga masyarakat yang terdampak akibat pembangunan untuk sama-sama menyuarakan permasalahan tersebut.

“Saya juga menghimbau kepada seluruh Mahasiswa dan juga Masyarakat yang terdampak akibat pembangunan untuk sama-sama nantinya menyuarakan atas kekeliruan pembangunan tersebut.” imbaunya.

Dia juga meminta kepada pihak kontraktor pembangunan yang mereka anggap sudah mengetahui kejanggalan yang terjadi untuk segera menghentikan proses pembangunan asrama mahasiswa IAIN Kendari tersebut.

“Terkhusus kontraktor pembangunan yang telah mengetahui kejanggalan pembangunan tersebut akan tetapi tetap melakukan proses pembangunan, agar segera menghentikan proses pembangunan atau akan mendapatkan kosekuensinya tersendiri.” Tukasnya.

Reporter: Fitri
Editor : Slamet 

Memperingati 1 Muharram 1444 H, Mahasiswa KKN saling Berkolaborasi mengadakan Perlombaan

Reporter : Asrinawati Azizah
Editor : Al-Izar

Objektif.id, Bombana – Dalam rangka memperingati 1 Muharram 1444 H Mahasiswa kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari Mengadakan kolaborasi antar dua posko yaitu posko 111 (desa mulaeno) dan posko 113 (desa paria) untuk menyelenggarakan lomba. Jum’at 29/7/2022.

Kegiatan yang bertemakan “Rekonsiliasi Semangat kerja sama dari generasi awal untuk menyambut bulan Muharram” itu melibatkan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) sebagai peserta dalam perlombaan tersebut, dan lomba itu laksanakan mulai 29 Juli 2022 – 30 Juli 2022..

Adapun SD yang terlibat di dalamnya, SDN 45 Malaeno dan SDN 51 Muladno Kec. Poleang Tengah, Kab Bombana, Provinsi Sulawesi tenggara.

Marsella selaku Koordinator Desa (Kordes) posko 113 mengatakan bahwa, kegiatan ini dimaksudkan untuk membangun jiwa semangat generasi muda Yang berada di desa tersebut agar mampu memahami pentingnya bekerjasama.

“Kegiatan yang kami laksanakan ini, itu adalah kegiatan dalam menyambut 1 muharram dengan maksud untuk dapat membangun jiwa semangat generasi muda agar mampu memahami pentingnya bekerjasama dalam segi apapun contoh nya dalam perlombaan seperti yang kami adakan hari ini”,ucapnya.

Meskipun kegiatan ini hanya dalam lingkup antar sekolah dasar akan tetapi anak-anak disana sangat antusias dalam menyambut perlombaan ini di sebabkan kegiatan perlombaan baru lagi diadakan setelah masa pandemi.

“Saya lihat juga antusias adek-adek tadi sangat besar karena mungkin baru lagi di adakan perlombaan seperti itu meskipun dalam lingkup antar sekolah karena beberapa tahun atau 2 tahun belakangan tidak di laksanakan karena adanya kendala covid”. sambungnya.

Sementara itu Rafli Tahir selaku Koordinator Desa (kordes) Posko 111 mengatakan, Tujuan di adakan Lomba tersebut untuk kembali membangun jiwa Solidaritas, silaturahmi, dan kerja sama antar sesama, yang di bangun sejak dini.

Tidak hanya Perlombaan saja yang dilakukan dalam kegiatan itu, ada juga pawai yang melibatkan masyarakat umum dan para siswa sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.

“Untuk hari Jum’at yaitu kegiatan olahraga dan memulihkan kembali semangat solidaritas, silaturahmi, dan kerja sama antar sesama siswa adapun hari Sabtu kegiatan yaitu pawai untuk menyabut bulan Muharram dengan masyarakat umum, melibatkan sekolah SD, SMP, dan SMA, setelah kegiatan pawai kembali kepada lomba akademik yang di lakukan siswa SD”.katanya.

Dan untuk di malam harinya juga itu ada ceramah yang di bawakan langsung oleh Ustadz H. Darmawangsa Jafar S.Ag, yang berkerjasama dengan Remaja Masjid Desa mulaeno.

Ia juga berharap, dengan adanya kegiatan ini masyarakat dan generasi muda lebih mempererat tali silaturahmi dan kerja sama yang terbingkai dengan syariat Islam atau dalam hal moderasi beragama

“Untuk harapan singkat saja yaitu dengan adanya kegiatan ini masyarakat dan generasi muda lebih mempererat tali silaturahmi dan kerja sama tapi di bingkai syariat Islam atau dalam hal moderasi beragama”.

AKHIRNYA KULIAH OFFLINE

Penulis : Tumming

  Cerita ini terjadi pada pertengahan tahun 2021. Saat perkuliahan semester genap telah usai. Masa yang dinantikan oleh hampir semua mahasiswa, dimana mereka bisa bersantai sejenak refreshing atau bahkan sekedar meluangkan lebih banyak waktu untuk bersenda gurau dengan keluarga tanpa terganggu oleh notifikasi kuliah online yang memenuhi notifbar smathphone mereka setiap harinya.

 Perkuliahan online telah berlangsung selama tiga semester, diberlakukan sejak masuknya COVID-19 ke Indonesia pada awal maret 2020 sampai dengan  juni 2021, hingga pada pertengahan 2020, lahirlah sebuah generasi baru yang sering kita sebut dengan generasi online. Dan ya… aku salah satu di antara ribuan mahasiswa generasi online itu.

Sebelum aku bercerita lebih jauh, alangkah lebih baiknya jika terlebih dalulu aku menceritakan sedikit tentang diriku.

1.  aku

Namaku Sharon kerap disapa Al. Teman sebayaku di kampung memanggilku Tullu. Aku tak tau artinya apa, tapi kata mereka, rasanya lebih akrab jika memanggilku dengan nama itu. Saat ini aku sedang melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. mengambil program studi Hukum Perdata Islam (HPI) Fakultas Syariah. Aku sering dicap berandalan oleh masyarakat sekitar karena rambut gondrongku. Tapi terlepas dari itu, setidaknya aku terbebas dari tagihan tukang parkir pasar karena melihatku berambut gondrong dan itu merupakan satu kebanggaan tersendiri bagiku.

 Aku berasal dari salah satu kota yang jaraknya cukup jauh dari kota Kendari, tempatku kuliah saat ini. kira kira sekitar 18 jam jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. cukup melelahkan dan menjadi alasan jika ditanya mengapa aku tak pulang kampung. Aku anak pertama dari tiga bersaudara dan yang paling cantik dirumahku adalah ibuku. 

Ya… aku tak memiliki adik perempuan. Karena itu, aku sangat penasaran bagaimana rasanya memiliki adik perempuan.  kerap kali, hal itu aku jadikan sebagai bahan candaan untuk sekedar mencairkan suasana saat berkumpul dengan keluarga. suatu hari, saat sedang menyaksikan acara Talk Shaw di salah satu stasiun televisi, aku berkata kepada ibuku bahwa aku ingin mepunyai adik perempuan.

“bu’ kita bikin mi lagi adik perempuan supaya ada yang saingi kecantikanta di rumah.”
“ha ha ha,”  ibuku tertawa mendengar apa yang baru saja aku ucapkan.
“itu adami dita.” Lanjut ibuku.

Dita adalah anak perempun dari sahabat ibuku, yang memang sejak kecil sering tinggal bersama keluargaku. Karena itu Dita sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh ibuku.

“beda toh, maksudku saya adik kandungku begitu ee.”
“ko menikah mi pale supaya ada yang saingi kecantikanku, ha ha ha.”
“kalau sudah yang begini, kadang saja sa suka diam.” kataku.

Ayahku seorang manager di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang persediaan bahan makanan pokok,  yaitu beras. Jadi, bisa dibilang ayahku adalah seorang petani dan ibuku seorang koki di rumahku he he he.

Mungkin lebih lengkapnya akan saya ceritakan pada kesempatan yang lain.

2. Generasi online

Aku memilih untuk tidak mudik pada libur kali ini, karena beberapa pertimbangan. Aku menghabiskan masa liburku dengan bekerja di salah satu bengkel motor yang berada di sekitar kampus untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. jika ada uang lebih, akan aku tabung untuk persiapan membeli kuota dan membayar UKT semester depan, yang harus dibayar full meskipun tak pernah menikmati fasilitas kampus sama sekali.

Malam itu, ditemani segelas kopi dan sebatang rokok surya, aku sedang berdiskusi  dengan diriku sendiri. banyak pertanyaan yang terlintas di benakku. Tentang apakah aku adalah mahasiswa yang lahir secara online dan selesai secara online pula? Apakah pemberian nilai masih bergantung pada siapa yang mampu membeli paket data setiap bulannya? Apakah aku tidak  bisa merasakan bagaimana menjadi mahasiswa yang mahasiswa? Tentang bagaimana kemudian aku bisa fight dimasa aku sebagai mahasiswa dan banyak pertanyaan yang bahkan tak bisa terjawab oleh diriku sendiri. Kuputuskan untuk memendam semua pertanyaan yang sempat terlintas dalam fikiranku dan beranjak untuk tidur.

3. Akhirnya kuliah offline

Hari ini adalah hari spesial untukku. Karena, untuk pertama kalinya sebagai mahasiswa generasi online, akhirnya dapat merasakan perkuliahan offline atau tatap muka, dan mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh puluhan, ratusan, bahkan ribuan mahasiswa yang menyandang gelar “Mahasiswa Generasi Online” dari sabang Sabang sampai Merauke. Kabar kuliah offline diumumkan saat setelah pembayaran uang semester, yaitu sekitar bulan agustus 2021. Susana sekitar kampus pun mulai ramai dan disambut bahagia oleh mereka yang memiliki usaha rumah kost dan kontrakan.

Bilik Kamar Flamboyan, 07.00 wita.

“Tok….tok…tok…” Seperti biasa aku dibangunkan oleh merdunya nada dering alarm juga suara ketukan dan sedikit teriakan dari balik dinding pemisah kamar kost yang terbuat dari papan triplek.

“sharon…sharooon…,”
“ko bangun mi, sudah capek mi kasihan itu alarmmu da kasih bangun kau,” teriak Rahmi.

Rahmi adalah tetangga kost sekaligus ketua tingkatku di kelas. Si cewek berparas cantik peranakan Turki yang setiap awal bulan berubah menjadi nenek lampir untuk menagih uang listrik bulanan kepada setiap penghuni kost. aku sering memanggilnya ibu ami. karena,  Bisa dibilang dia adalah tangan kanan dari ibu pemilik kosan. Meskipun begitu, dia masih tetap menjadi nenek lampir tercantik dengan kedua lesung pipinya yang tak begitu sering ia tunjukkan.

“astaga sa terlambat mi,” kataku panik.
“dari tadi pi itu alarmmu da bunyi hanya ko tidak dengar.”
“sa dengar ji, hanya barupi jam 04.30 tadi, jadi sa tidur kembali.”
“pembenaran lagi”. kata rahmi kemudian

 Aku langsung beranjak dari tempat tidur dengan perasaan panik dan langsung menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritual MACET (Mandi Cepat). Disamping karena aku harus berada di kelas pada pukul 07.30 pada mata kuliah Fiqh Mawaris, juga karena aku tidak ingin membuat kesan buruk pada awal kuliah offline ini. Setelah mandi  dan berpakaian, tak lupa aku menyeduh segelas kopi hitam khas toraja dan menghisap sebatang rokok. kemudian aku langsung bergegas ke kampus setelahnya.

Saat aku keluar kamar, aku berpapasan dengan rahmi yang juga akan menuju ke kampus.  

“pagi ibu ami,”
“sa kira ko sudah di kampus mi dari tadi”. sapaku
“hmmmm,”
“sudah lihat mi disini, berarti belum dikampus.” tegasnya.

 Seperti biasa rahmi masih saja menyembunyikan senyumannya yang manis dibalik sikap judesnya itu. sebenarnya, rahmi itu orangnya care. Hanya saja, sikapnya yang judes itu terkadang membuat orang yang baru mengenalnya mempunyai penafsiran yang lain tentang dirinya.

“mau sa antar ke kampus kah.” Aku memberi tawaran dan terlihat rahmi sedikit menaikkan alisnya. pertanda bahwa dia mengiyakan ajakanku.
“eh tunggu dulu,” cegahnya yang terlihat kebingungan
“kita mo naik apa mi katanya ini,” lanjut rahmi sambil melihat sekeliling, mencari kendaraan yang akan aku gunakan untuk mengantarnya ke kampus. sebenarnya ajakanku untuk mengantar rahmi ke kampus hanya sekedar basa basi saja.
“naik sepatu mi sja dulu ibu, sa punya mobil pi baru kita naik mobil,” gurauku kepada rahmi yang membuat moodya sedikit berkurang pagi ini.
“sinimi pale!.. sudah mau terlambat mi juga”.

Kami berdua pun menuju ke kampus dengan berjalan kaki karena jarak kosan kami tidak jauh dari kampus, kurang lebih memakan waktu 10 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. sepanjang perjalanan rahmi hanya terfokus ke handphonnya dan terlihat sedang asik membalas chat dari seseorang sambil sedikit tersenyum.

“Ami, ko masih pacaran kah sama pacarmu yang itu hari.” tanyaku pada rahmi untuk mengalihkan perhatian.

pertanyaan ini sudah sering kali aku tanyakan kepadanya untuk sekedar menjadi bahan gurauan. Rahmi terlihat sedikit risih dengan pertanyaan yang sudah sering kali aku tanyakan kepadanya.

“iya,”
“kenapa ko tanyakan itu terus kah, sa tidak akan putus ji sama dia.”  Jawab Rahmi
“sudah beberapa kali sa bertanya, barupi kali ini ko mau jawab. Berarti nda lama mi korang putus itu, hehehe.”

Rahmi hanya terdiam mendengar perkataanku dan melanjutkan perjalanan. Keadaan menjadi canggung, aku enggan mengeluarkan kata kata setelah pertanyaanku itu dan Rahmi kembali fokus ke handphone yang ia pegang. Mungkin ia ingin memberi tahu kepada pacarnya bahwa ada orang bodoh yang mengatakan bahwa mereka akan segera putus.

Tak terasa kami telah sampai di gerbang kampus. Rahmi langsung menuju ruangan perkuliahan tanpa menyadari bahwa aku tak mengikutinya dari belakang. Aku berjalan perlahan sambil memperhatikan pemandangan yang aku saksikan saat ini. suatu hal baru, yang mungkin akan menjadi jawaban dari semua pertanyaan pertanyaan yang sejak lama terlintas dalam fikiranku. Dimana, yang dipisahkan oleh kuliah online bisa kembali bertemu dan saling mengadu ibu jari dalam sebuah sentuhan kedua telapak tangan mereka seiring terucapnya kata “bagaimana kabar saudara.” kemudian seorang teman yang lain berkata “bagaimana mi tanganmu pas habis jatuh dari pohon mangga di belakang Syariah itu hari.” kemudian mereka pun tertawa lepas bak seorang yang tak memiliki beban dalam hidupnya, saat mereka menceritakan kejadian dimasa sebelum adanya kuliah online. Perhatianku pun tertuju kepada  mereka yang terlahir secara online bisa saling bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Namun, perhatianku teralihkan saat seorang perempuan menepuk pundakku dari belakang.

“kak,”
“Fakultas Syariah dimana.” Tanya wanita itu kepadaku.
“disana.” Kataku sambil menunjuk ke arah sudut kanan bagian timur gedung terpadu yang diatasnya terdapat tulisan Fakultas Syariah.
“kalau mau beli almamater dimana.” Lanjutnya.
“kita masuk di Rektorat kemudian belok kanan,”
“kamu semester berapa.” tanyaku.
“semester Tiga kak”. jawab wanita itu.

Singkatnya, ia adalah Sindi teman kelasku yang bahkan tak mengenaliku sama sekali setelah dia melewati dua semester kuliah online dengannku. yang mengagetkannya lagi bahwa, hari ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya di kampus ini. hal itu membuatku terdiam dan berfikir “berarti sampai saat ini, mungkin masih ada mahasiswa yang belum pernah melihat kampusnya sama sekali”.

“Sharoon…” teriakan kecil dari seseorang yang memanggilku. ternyata itu Rahmi yang sedang berjalan kearahku. mungkin karena ia telah menyadari bahwa aku tak mengikutinya dari belakang.
“sa bicara sama kau dari tadi, ternyata ko tidak ada di belakangku,”
“sudah mulai mi kuliahnya.” Lanjut rahmi.
“begitu kah, masih diizinkan ji kah masuk ini.”
“kita tes mi saja dulu.”
“sinimi sindi,” kataku sambil melihat ke arah sindi.
“nanti selesai mata kuliah baru ko beli almamater, kita ke fakultas mi dulu.”
“ko temani pale saya sebentar nah.”
“oke mi.”

Kami bertiga pun berjalan menuju ruangan perkuliahan GT SYAR 303 yang berada di lantai tiga Fakultas Syariah. Ternyata betul kata Rahmi, bahwa seorang dosen telah berada di ruangan terlebih dahulu.

“tok tok tok”. Rahmi mengetuk pintu ruangan.
“assalamu’alaikum.” kata Rahmi mengucap salam dan berharap masih diizinkan untuk mengikuti perkuliahan.
“wa’alaikumsalam,”
“masuk.”  jawab dosen yang membawakan mata kuliah pada saat itu.

Rahmi membuka pintu dan terlihat seorang dosen yang sedang berdiri memaparkan kontrak perkuliahannya. kami disambut oleh senyuman hangat dosen itu, senyum yang menyimpan banyak kerinduan untuk bisa mengajar secara offline dan berinteraksi secara langsung dengan para mahasiswa. Kami pun membalasnya dengan senyuman hangat pula.

“silahkan cari tempat duduk yang masih kosong nak”.
“terima kasih pak.” Kataku dengan desikit membungkukkan badan.

Rahmi dan semua mahasiswi yang berada di ruangan itu duduk di sisi kiri ruangan dan semua mahasiswa duduk di sisi kanan ruangan. Terlihat beberapa wajah baru yang belum pernah aku lihat sebelumnya, mungkin mereka itu yang selalu mematikan kamera pada saat perkuliahan via zoom dan ditinggal tidur. Mungkin, itu masih prediksi liar yang terlintas dalam fikiranku.

Aku berjalan menuju kursi yang berada di sudut kanan belakang. Itu adalah kebiasaanku dulu, pada saat aku masih duduk di bangku sekolah. Aku rasa itu adalah tempat duduk terbaik untuk bisa melihat semua apa yang sedang terjadi di dalam ruangan tersebut.

“baiklah untuk yang baru datang,”
“lihat baik baik kontrak perkuliahan yang telah saya tuliskan.” Kata bapak dosen sambil menunjuk ke papan tulis, kemudian ia menjelaskan poin  poin yang dimaksud. mulai dari batasan waktu terlambat hingga ke masalah berpakaian.

Batas waktu terlambat bagi semua mahasiswa selama 15 menit. Bagi mahasiswa, dilarang menggunakan kaos oblong, celana sobek dilutut, memakai sendal jepit dan berambut gondrong. Untuk mahasiswi, dilarang menggunakan pakaian yang ketat, mengenakan perhiasan dan memakai make up berlebihan pada saat mengikuti perkuliahan sesuai dengan kode etik kampus. hal itu sangat berbanding terbalik dengan metode perkuliahan online, dimana yang rapih hanya bagian yang terlihat kamera saja. bahkan terkadang beberapa mahasiswa mematikan kameranya karena sedang mengerjakan pekerjaan yang lain, begitupun dengan mahasiswi yang seolah olah sedang berlomba untuk tampil cantik di depan kamera dengan berbagai macam make up yang mereka gunakan.

“paham semuanya”. Lanjut dosen itu.
“paham pak”. Jawab serentak semua mahasiswa.

Setelah memaparkan kontrak kuliah, dosen kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan menjelaskan sub materi yang akan kami bahas pada semester ini. Aku mendengarkan dengan seksama apa yang dijelaskan oleh dosen itu. Tetapi, itu tak berlangsung lama. Saat air hujan mulai menetes di atap gedung, perkataan dosen terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang membuatku tak tahan lagi menahan kantuk karena tak cukup tidur semalam dan aku pun tertidur didalam kelas.

4.  kenyataan

Tiba tiba terdengar suara ketukan keras yang terdengar sangat jelas oleh telingaku.

“tok tok tok,”
“sharon bangun mi.”

Teriakan itu terulang beberapa kali dan terasa sangat mengganggu, spontan aku menjawab dengan suara yang agak keras.

“ huh…ributnya pa,” kataku
“sa lagi enak enaknya mimpi kuliah offline, ko kasih bangun.”
“jangan mi kebanyakan bermimpi, masih tetap ji kuliah online,”
“ko mengabsen mi cepat itu di WA sebelum da habis waktunya.”
“absenkan pi dulu,”
“sa belum beli paket data.”

Pagi ini, aku terbangun dengan rasa kecewa dan harus menerima kenyataan bahwa semester ini aku masih tetap melaksanakan perkuliah secara online.

“online lagi…online lagi” 

Bersambung…

Note : Tumming adalah mahasiswa aktif IAIN Kendari, kader HMI Komisariat Ibnu Rusyd Fakultas Syariah dan Kader UKM-Pers IAIN Kendari

Benci Berbalas Kerinduan

Mungkin saja hujan bisa berhenti ,
Mungkin saja awan tak lagi cerah,
Dan bisa saja kalbu kembali terusik,
Terusik kan dengan satu ketukan…
Yang membuatnya lupa.

Awan yang cerah kini merenung,
Tak berbicara
Hanya nampak teduh dari sana,
Darinya kejauhan ,
Merasakan angin yang berhembus..
Sampai -sampai bergetar jiwa,
Mencari sebuah titik ketenangan,
Hingga akhirnya
Kenyataan berbicara

Kini keadaan jauh berbeda,
Seakan gelap dalam cahaya,
Mencari kehangatan dalam api,

Yahhh ..
Sungguh rasa yang sangat aneh
Ketika akhirnya
Benci ku berbalas kerinduan.

Oleh: A.M

(Istimewa. Foto: A.M)

Terjebak Dalam Rasa

 

(Istimewa. Foto: A.M)

Saat aku memutuskan mencintaimu,
Aku kan memilih menjauh,
Bukan karena tak cinta,
Hanya saja..
Aku ingin menjagamu
Menjagamu dari perasaan yang mungkin saja menjebak,
Perasaanku terlalu dalam,
Untuk jiwaku yang begitu lemah,

Aku sadari,
Mungkin saja kan melukai mu,
Namun sungguh,
Aku letih,
Membawa rindu sendirian,
Di sini,
Bertemankan sepi..

Terjebak dalam rasa
Yang seharusnya tak ada,
Neraka begitu panas,
Berat tuk melaluinya,
Diriku yang lemah
Tak bisa aku menentang
Akan rasa yang datang,
Kupanjatkan doa
Padanya maha cinta
Agar dipertemukannya kita
Dalam kehalalan yang indah.

Oleh : A.M

Kompas Yang Rusak

Oleh A.M

Suara gemuruh dari kegelapan malam

Dingin yang menusuk tulang

Bintang yang nampak redup

Bulan yang perlahan menghilang

Heiii…

Di mana Aku???

Di mana kalian??

Di mana mereka???

Ku berjalan ke tepi barat

Ku tersesat tak menentu

Ku berjalan ke tepi timur

Ku terasing tak dikenal

IAIN Kendari Bakal Gelar Vaksinasi Tahap Satu Gelombang Ke-III


(Tugu IAIN Kendari. Foto: Ist)

Reporter: Elfirawati

Editor: Rizal Saputra

Kendari, PersKampusBiru.com Institiut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari bersama Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) bakal gelar kembali vaksinasi tahap satu Gelombang ke II. pada 13 September 2021 mendatang.

Hal itu, disampaikan oleh Wakil Rektor III, Dr. H. Herman, M.Pd.I  ia mengatakan, pada tanggal 13 September 2021 akan dilaksanakan vaksinasi tahap satu gelombang ke-II, di Aula Mini Perpustakaaan IAIN Kendari.

“Rencana hari senin depan ini pada tanggal 13 september di Aula Mini Perpustakaaan” uangkap Wakil Rektor III, rabu (9/9/2021).

Mahasiswa IAIN Kendari Gelar Aksi Tolak Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Utama Kuliah Tatap Muka


(Ketgam: Suasana hearing masa aksi bersama masa aksi. Foto: Rizal)

Reporter: Rizal Saputra

Editor: Elfirawati

Kendari, PersKampusBiru.com – Belasan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Melawan (Kawan) mengelar aksi damai dengan berbagai tuntutan kepada pihak Birokrasi Kampus.

Dari pantauan PersKampusBiru.com, demonstrasi yang digelar Kawan tersebut dilakukan di Pelataran Gedung Terpadu IAIN Kendari hingga menuju ke Gedung Rektorat, Kamis, 9 September 2021.

Belasan mahasiswa itu menutut dengan adanya pendistribusian paket kuota internet bagi mahasiswa yang mengikuti proses perkulihan online. Selain itu, vaksinasi jangan jadikan sebagai syarat utama kuliah tatap muka, dan ketiga Pihak Birokrasi dapat mengevaluasi kinerja lembaga kemahasiswaan.

Jendral lapangan, Harpan Fajar mengatakan bahwa pihak kampus kini menjadikan sertifikat vaksin menjadi syarat bagi mahasiswa untuk melaksanakan perkuliahan secara tatap muka. Sehingga hal tersebut menua kritik dari kalangan mahasiswa.

”Kemudian persoalan vaksinasi yang baru-baru ini telah diadakan oleh pihak IAIN Kendari bersama Polda Sultra menuai kritik dari pihak mahasiswa, sebab pihak kampus menjadikan vaksinasi sebagai syarat wajib bagi mahasiswa agar bisa melakukan pembelajaran tatap muka,” ucap Harpan saat melakukan hearing bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan.

Menurut mahasiwa semester tiga ini, bahwa vaksinasi bukanlah syarat wajib bagi peserta didik untuk bisa mengikuti pembelajaran tatap muka. Kecuali tenaga pendidik, sebagai mana instruksi Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim ketika rapat kerja bersama komisi X DPR-RI.

“Bahkan di dalam surat keputusan 4 menteri dan surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam terkait proses pembelajaran tatap muka tidak ada satu katapun di dalam surat tersebut mengatakan bahwa vaksinasi menjadi syarat wajib peserta didik untuk mengikuti pembelajaran tatap muka” tuturnya.

Tak hanya itu, pihak Rektorat IAIN Kendari juga harus segera merealisasikan paket kuota internet sesuai dengan ketetapan dan pernyataan Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas ketika menjadi narasumber webinar peresmian lanjutan bantuan kuota.

“Bahwa dalam menunjang sistem pembelajaran secara online terlebih lagi di masa Covid-19 maka Kementerian Agama mengalokasikan anggaran sebesar Rp 479 miliar untuk mendukung kebutuhan bantuan paket kuota internet peserta didik dan tenaga pendidik selama tiga bulan, yaitu September, Oktober, dan November,” paparnya.

Sehingga, hal itulah yang membuat landasan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi, karena seharusnya pendistibusian paket kuota itu telah berjalan mengingat waktu penyalurannya dari bulan September hingga November.

“Tetapi sampai hari ini sudah mau memasuki pertengahan bulan September belum juga ada SMS yang membuat mahasiswa tersenyum,” ujarnya.

Semantara itu, Wakil Rektor, III Dr. Herman, M.Pd.I mengatakan bahwa sesuai dengan surat edaran dari dirjen, bisa di sesuikan dengan kondisi wilayahnya untuk melaksanakan perkulihan dengan tatap muka dan adapun tetap terlaksananya perkulihan Offline itu tergantung dengan dosen masing-masing.

“Bahwa surat edaran dengan dirjen itu, kita melihat dari kondisi wilayah masing-masing. Kalau level satu dua itu boleh tatap muka 50 persen. Kalau level tiga dan empat bisah melaksanakan kuliah tatap muka 25 persen, tatapi lagi-lagi kalau ini terlaksana ini tergantung dari dosennya juga,” kata Herman saat di temui oleh masa aksi.

Lanjut Herman, terkait permasalahan di wajibkannya vaksin untuk para mahasiswa, ia mengatakan bahwa di surat edaran tidak adan namanya kewajiban, jika ada mahasiwa yang tidak mau vaksin silahkan.

“Kita sudah aplod pengumuman pendaftaran vaksin itu, dengan tidak ada namanya suatu kewajiban, terserah anda kalau merasa bahwa tidak ada masalah ji kalau sya nda divaksin ya silahkan” ujarnya

“Kaitannya dengan perkukiahan Waktu itu kita rapat bersama dosen-dosen yang bersangkutan, kalau umpanya anak-anak belum vaksin ya terserah dosennya apakah mau memasukan kalian kuliah didalam ruangan  atau tidak itu tergantung hak otoritas dosen yang bersangkutan  dosen masing-masing,” lanjutnya.

Lebih lanjut, terkait permasalan kuota internet ia mengatakan, itu sudah di tanggani oleh Rektor dan tinggal menunggu saja untuk pendistribuaannya.

“Kebetulan kemarin sudah ditandatangani oleh Rektor dan sudah dikirim. Sekarang tinggal kita menunggu pendistribusian dari dirjen. Kalau dulu anggaranyakan di transfer direkeningnya kita, sekarang langsung, jadi kalau untuk sekarang mereka hanya minta nomor hp dari fakultas yang valid dan mereka yang akan transfer langsung,” tutupnya.

 

 

 

  

Menanti

(Suasana keheningan malam. Foto: m.teen.co.id)

Oleh A.M

Melihat malam

Jauh dari pelupuk mata

Mendekapnya dalam doa

Kemudian tersadar ..

Bulir air mata terjatuh

 

Ada apa dengan malam?

Mungkin kah ku sesali?

Sebuah rasa yang mati

dalam penantian yang tak berujung,

 

Malamku meninggalkan ku

Aku dipatahkan

Oleh sebuah penantian,

Penantian panjang

Yang akhirnya jeda

Oleh. A.M

Baca jugaKeheningan Malam 

Amalan Agar Mudah Move On

Gagal move on adalah istilah yang kerap di gunakan generasi melenial saat ini apa bila belum bisa beranjak atau melupakan mantan kekasih yang dulu di cintainya dan juga mencintai dirinya.

Berbicara soal cinta memang perkara yang rumit sebab itu tanggung jawab hati, bahkan seseorang sulit untuk mengendalikannya tapi cinta itu bukan hal yang datang seenaknya ia hadir karena adanya perhatian dan kasih sayang. Cinta itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu, tidak memandang fisik serta tidak memandang status dan jabatan itulah kenapa di sebut cinta itu buta.  Sebab itulah kadang kala kita sering terjebak dan sulit untuk berdamai dengan masa lalu.

Cinta itu sesuatu yang harus di perjuangkan jadi jika kamu belum bisa mencintai pasanganmu maka di situlah letak perjuangan bagaimana kamu bisa memperjuangkan pasanganmu sehingga kalian bisa saling mencintai agar kamu bisa berdamai dengan masa lalu. Terkhusus bagi yang sedang berjuang ta’aruf atau bahkan yang telah berstatus suami istri.

Rasulullah SAW pernah memberikan gambaran terkait hati “Sesungguhnya hati bani Adam yang berada di antara dua jari Dzat yang Maha Rahman itu bagaikan satu hati saja. Dia selalu mengubah ubahnya sesuai dengan kehendakNya” (HR. Al Tirmidzi).

Maksudnya adalah dari setiap kebimbang hati maka sertakanlah pertolongan dari Dzat yang Maha Rahman Sang pembolak balikan hati yakni Allah SWT.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW meriwayatkan “Hati itu ibaratkan satu lembar bulu diatas tanah yang kosong. Ia terombang ambing sehingga mudah terbolak – balik” (HR. Ahmad)

Di lansir dari islam.nu.or.id berikut amalan amalan menurut agama islam agar kita mudah berdamai dengan masa lalu. Rasulullah SAW selalu berdoa kepada Allah SWT agar selalu di berikan keteguhan hati di atas agamaNya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

(Yâ muqallibal qulûb tsabbit qalbî ‘alâ dînika).

Artinya:

“Wahai Dzat yang Maha Membolak balikan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu” (HR. al Nasa’i)

Setelah berdoa, Rasulullah SAW kemudian menyambungnya dengan doa dari dalam Al-Qur’an:


Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wahablanâ min ladunka rahmatan innaka anta-l-wahhâb

 “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi” (Q.S Al – Ilmran : 8).

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW berdoa:

Allâhumma, musharrifal qulûb sharrif qulûbanâ ilâ thâ‘atika.

Artinya: “Ya Allah, zat yang mengurus seluruh hati, arahkanlah hati kami kepada ketaatan kepada Mu” (HR. Muslim)

Maka bagi kamu yang ingin di teguhkan hatinya oleh Allah SWT akibat godaan rasa cinta kepada orang yang tak pantas di cintai, ada baiknya sering membaca doa di atas.

Pada prinsipnya Rasulullah SAW tidak mengkhususkan doa tersebut pada tujuan itu, tetapi untuk semua hal yang berkenaan dengan hati yang kita sudah tak mampu mengendalikannya, maka perbanyaklah membacanya. Mudah mudah Allah menolong hambaNya yang senantiasa selalu memohon kepadanya, termasuk mengendalikan perasaan hati. Tetap yakinlah kepada Allah, Dzat yang maha membolak balikan hati, sambil terus memohon kepadaNya. Wallahu a’lam


Editor: Redaksi

(Ilustrasi doa agar bisa lupakan mantan sumber pangandaran.pikiran-rakyat.com)

Keheningan Malam

 

(Suasana hening disepertiga Malam. Foto: google.com)

Oleh: A.M

Tersadar dari sebuah mati kecil
Ternyata itu sebuah panggilan rindu
Hingga ku tersadar
Ternyata aku juga rindu.

Ku bentangkan serban ini
Berusaha tuk mendekap dalam kensunyian
Berdiri tegak laksana gunung
Tuk bertemu dengan sang kekasih.

Tak ingin menjadi salah..
Dalam sebuah hubungan yang memang tak seharusnya ada..
Menjadikannya bungkam dalam segenap perasaan
Memilih diam saat hati berkata ingin
Sungguh…
Bukan salah perasaan.


Duhai pemilik hati
Kuatkan aku untuk waktu yang kau janjikan.

Tingkatkan Kualitas SDM, UKM Pers IAIN Kendari Bersinergi Bersama LPM Aksara Yogyakarta

Repoter : Al-izar
Editor : Rizal Saputra

Kendari,PersKampusBiru.com-Ketua Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aksara STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta, melakukan kunjugan ke UKM-Pers IAIN kendari kunjungan tersebut disambut baik oleh pengurus dan anggota UKM Pers IAIN Kendari, Kamis (2/9/2021).

Dari analisa wartawan perskampusbiru.com kunjungan tersebut berlangsungsung dari pukul  13 : 30 wita sampai 17 : 30 wita

Iqroma selaku Ketua LPM STAI Sunan Pandanaran Yoyagkarta mengungkapkan alasan kunjugannya untuk saling bersilahturahmi kepada teman-teman pers mahasiswa IAIN Kendari, mebagungun relasi, berdiskusi terkait pengelolaan organisasi dan sekaligus membicarakan tentang pentingnya litersi digital.

“Kunjugan saya saat ini untuk bersilahturahmi dengan teman pers mahasiswa di IAIN Kendari Dan sekaligus membicarakan tentang pentingnya membagun litersi digital di situsi saat ini” ungkapnya

Ia juga sangat berterima kasih karena teman teman pers mahasiswa IAIN Kendari dengan hangat dan penuh antusias

Mahasiswi semester tujuh itu juga berharap hubungan antara LPM Aksara dan UKM Pers IAIN Kendari bisa saling suport khususnya dibidang jurnalistik, literasi dan sastra

“kami berharap kedepannya bisa saling mensuport dan mendukung dalam pengembangkan pers mahasiswa” harapnya

Semantara itu ketua umum UKM-Pers IAIN kendari M. Ilham Pranata sangat mengapresiasi dari kunjungan tersebut sebab kunjungan tersebut di samping menambah relasi baru juga bisa saling meningkatkan kualitas sumber daya manusia

 “bersyukur dan semoga kedepannya bisa terjalin kerjasama sesama pers mahasiswa untuk mengembangkan eksitensi pers mahasiswa dalam lingkup kampus di Indonesia” tuturnya.

(Foto bersama Ketua LPM Aksara STAI Pandanaran Yogakarta,
Tengah Ketua LPM Aksara,
 Bersama Ketua Umun  UKM-Pers IAIN Kedari M.Ilham Pranata 
dan pengurus yang lain
) Foto : Dokumentasi Amir

IAIN Kendari Gelar Vaksinasi, Antusias Mahasiswa Tinggi

 

(Suasana saat pelaksanaan vaksinasi tahap satu di Aulamini Perpustakaan IAIN Kendari.
Foto: Rizal)

Reporter : R. Saputra
Editor : Al-Izar

Kendari, PersKampusBiru.com – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari bekerja sama dengan Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (POLDA SULTRA) menggelar program vaksinasi COVID-19 tahap satu, bagi mahasiswa (IAIN) Kendari.

Kegiatan berlansung pukul 08.00 WITA di gedung Aula pertpustakaan IAIN Kendari, kamis (2/9/2021).

Rektor IAIN Kendari Prof. Dr. Faizah Binti Awad, M.Pd, mengatakan bahwah Mahasiswa itu tidak masuk kategori takut untuk di vaksin dan sudah menyakini bahwa kesehatan itu penting.

“Selama ini kan banyak masyarakat yang meragukan, ketakutan ketakutan dengan vaksin ini,  ada efek samping dan sebagainya. Nah dengan begini kan berarti mereka sudah hilang dari presepsi itu, dari dugaan negatif itu yang dipengaruhi dengan medsos itu yang sengaja mengumbar berita-berita yang mencemaskan masyarakat. Oleh kaerena itu mahasiswa tidak masuk kategori yang takut terhadap vaksin itu” kata Rektor, kamis (2/9/2021).

Senada dengan hal itu Supervisor Garai III Polda SULTRA,  Dr. Rima Anggraini Asbar, mengatakan animo serta kesadaran bahaya vaksin itu sangat tinggi.

“Alhamdulilah animo mahasiswanya bagus, antusianya tinggi sekali untuk vasin” kata Dokter, kamis (2/9/2021).

Tidak hanya itu, dia juga berharap kepada mahasiwa yang sudah melaksanakan vaksinasi agar selalu menjaga protokol kesehatan.

“untuk yang sudah mendapatkan vaksin tetap menjaga protokol kesehatan, istrahat yang cukup, makannya harus bergizi dan kemudian banyak minum air putih”

“bila ada keluhan setelah vaksinasi ini, biasanya keluhan yang terjadi setelah faksinasi ini, sakit kepala, demam, sakit uluhati.  Tetapi tidak usah khawatir karna, hal-itu adalah wajar pasca vaksinasi. Artinya apa berarti sudah ada proses pembentukan antibodi, respon imun sudah dimulai,”

Diakhir Rektor IAIN Kendari Prof. Dr. Faizah Binti Awad berharap setelah diadakannya vaksin ini semoga kita sudah bisa melaksanakan kuliah secara ofline.

“kita harap dengan vaksin ini, nanti kita melaksanakan kita melaksananakan proses pembelajaran sevara ofline dengan tetap mengikuti panduan dari pusat” harap Rektor.

Mahasiswa IAIN Kendari Kritik Sistem Pendidikan Di Indonesia Saat Ini

Populer akhir-akhir ini selain isu politik, korupsi, dan isu sosial lainnya adalah persoalan pendidikan. Sebab menteri pendidikan Nadiem Makarim akan melaksanakan pembelajaran tatap muka secara bertahap dimasa pandemi covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Dengan adanya Pandemi hari ini Yang berdampak negatif mempengaruhi segala aktivitas kehidupan kita baik dari segi perekonomian, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. membuat kita dalam keterbelakangan moral sosial.

Terlebih lagi sistem pembelajaran hari ini mengalami penurunan yang sangat signifikan untuk melanjutkan amanat UUD 1945 dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejatinya pendidikan atas Pandemi ini membuat intensitas kualitas paradigma peserta didik mengalami kejumudan untuk meningkatkan intelektualitas dalam berfikir secara produktif.

Bukan sesuatu yang tabu lagi ihwal menurunnya militansi belajar peserta didik atas eksistensi Pandemi ini dengan diterapkannya pembelajaran secara online, sehingga mengakibatkan daya nalar kritis serta analisis peserta didik Mengalami penurunan secara drastis. Mengapa demikian, karena penerapan pembelajaran seperti itu tidak akan efisien untuk membentuk insan akademis yang berkualitas di dalam diri peserta didik. Hal seperti inilah yang semakin menggiring kita dalam keterkungkungan berfikir.

Dan diketahui bersama bahwa tidak semua peserta didik yang berada di pelosok desa mempunyai jaringan atau sinyal dengan baik untuk mengikuti pembelajaran secara online, terlebih lagi persoalan pemenuhan dan kebutuhan kuota internet yang setiap saat tidak bisa dipenuhi oleh orang tua karena mengalami defisit perekonomian atas Pandemi hari ini. Mo gila saya eeee

Anomali tersebut tentu menjadi prioritas pemerintah untuk mencarikan solusinya terkhusus di bidang pendidikan. syukur Alhamdulillah, menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim mampu membaca situasi pembelajaran yang membosankan itu dengan cara akan menerapkan kebijakan pembelajaran secara tatap muka.

Jadi stop mi ko demo-demo menuntut belajar tatap muka, tapi tidak masalah ji sebenarnya kalau demo karena sudah kewajiban negara memang untuk menjadi fasilitator dalam menyediakan sistem pembelajaran yang efektif sebagaimana amanat konstitusi yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang menjadi masalah itu ketika sudah tatap muka baru masih malas ji juga ko belajar. 

Namun yang akan menjadi bahan diskusi kita adalah seperti apa sistem pembelajaran yang akan diterapkan nantinya ? Sebab transisi belajar online menuju offline itu hanya persoalan teknis saja saudara. Takutnya pola yang dipakai masih menggunakan cara-cara yang lama. Cara-cara lama yang dimaksud disini yaitu situasi pengajaran yang lebih menonjolkan peranan tenaga pendidik dengan anggapan bahwa pekerjaan mereka tidak lebih hanya sekedar menuangkan air kedalam gelas kosong. Sehingga mengakibatkan peserta didik lebih bersifat pasif dan hanya menerima apa yang disuguhkan oleh tenaga pendidik tanpa ada pertengkaran intelektual diantara keduanya.

Belajar itu lebih dari sekedar mengingat. Bagi peserta didik untuk dapat benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus belajar memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergaul dengan ide-ide. Sehingga tugas pendidikan tidak dikonotasikan hanya sekedar menuangkan sejumlah informasi kedalam benak peserta didik, tetapi mengusahakan agar konsep-konsep penting yang sangat berguna tertanam kuat dalam benak peserta didik. Bahkan untuk persoalan kurikulum itu tidak sepenuhnya direncanakan dan disusun sendiri oleh tenaga pendidik tetapi harus melibatkan peserta didik itu sendiri, karena peserta didiklah yang mengerti betul apa yang menjadi kebutuhannya untuk meningkatkan pengembangan diri. Itu yang tidak ada di dalam sistem pendidikan kita saudaraku….

pandangan terhadap sekolahpun atau kampus sebagai alat transformasi pendidikan sudah mendapat banyak kritik, salah satunya adalah Paulo freire. Beliau mengatakan bahwa sekolah dan kampus selama ini hanya menjadi alat “penjinakan”, yang memanipulasi peserta didik agar mereka dapat diperalat untuk melayani kepentingan kelompok yang berkuasa. Bahkan tidak jarang sekolah dan kampus yang dibayar mahal hanya mampu melahirkan generasi yang jago nge-game dan poles wajah. Pertanda bahwa memang ada yang rusak di sistem pendidikan kita.

Tidakkah di abad ke-20 telah terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran dalam menanggulangi krisis terkait pendidikan. Diyakini bahwa tanpa ada upaya-upaya penanggulangan Secara cepat dan tepat, dikhawatirkan akan terjadi pembodohan masal pada bangsa Indonesia yang pada gilirannya akan mengakibatkan apa yang sering disebut sebagai “hilangnya satu generasi”. Tentunya kita tidak rela untuk melihat generasi bangsa ini mengalami degradasi intelektual !!! Tentu tidak sodara.

Di sini (abad 20) Salah satu tokoh yang sungguh mengagumkan adalah ki hadjar Dewantoro. Betapa rumusan ki Hadjar Dewantoro telah jauh mencakup ke depan. Ki Hadjar Dewantoro adalah seorang futuris. Beliau telah melihat bahwa hak-hak asasi manusia dan kehidupan global abad 21 merupakan suatu yang tidak dapat dielakkan. Sehingga pendidikan tidak terlepas dari upaya untuk kerja sama dengan seluruh stakeholder guna meningkatkan derajat manusia. Dengan kata lain hak-hak asasi manusia dan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama.

PANDANGAN KI HADJAR DEWANTORO

Pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam arti bahwa menjadi manusia yang mandiri, agar tidak tergantung kepada orang lain baik lahir ataupun batin. Kemerdekaan yang dimaksud Ki Hadjar Dewantoro terdiri dari tiga macam, yaitu berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri. Pendidikan merupakan hak semua warga negara, tidak membedakan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Ki Hadjar Dewantoro juga menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntutan di dalam tumbuh dan berkembangnya peserta didik. Salah satu pikiran Ki Hadjar Dewantoro tentang pendidikan di wujudkan dalam bentuk taman siswa.

TAMAN SISWA

Taman siswa didirikan 03 Juli, 1922. Taman sisiwa merupakan badan perguruan yang sudah diselaraskan dengan kepentingan bangsa dan negara. Lahirnya taman siswa juga diilhami oleh model pendidikan penjajahan yang tidak menyelesaikan persoalan peningkatan kualitas sumber daya manusia waktu itu. Menurutnya pendidikan zaman penjajahan memiliki ciri perintah, hukuman, dan ketertiban. Seperti pola kaderisasi para wakanda ya… Hehehehheeh becanda kanda.

Model pendekatan pendidikan seperti itu menurut Ki Hadjar Dewantoro merupakan salah satu perkosaan terhadap kehidupan batin anak-anak. Oleh karena itu, tidak heran apabila hasil pendidikan penjajahan waktu itu melahirkan anak dengan Budi pekerti yang rusak sebagai akibat dari anak yang hidup di bawah paksaan dan hukuman, yang biasanya tidak setimpal dengan kesalahannya. Apabila telah dewasa, mereka tidak akan mampu bekerja kalau tidak dipaksa atau kalau tidak ada perintah.

Pendidikan pada taman siswa tidak menggunakan pendekatan paksaan. Dasar pendidikan yang dipergunakan adalah momong (merawat), among ( memberi contoh), Dan ngemong ( proses untuk mengamati). Dalam pelaksanaannya lebih kepada membimbing dan memimpin peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga peran tenaga pendidik sebagai pendamping dan orang yang membantu harus mengarahkan peserta didik sesuai dengan perkembangan dan kebutuhannya. Tanpa ada paksaan sama sekali.

Agar sekolah, dan kampus bisa menjawab kritik ataupun permasalahan sistem pendidikan kita, tentu saja sekolah dan kampus harus menunjukkan bahwa belajar bukan hanya proses transformasi dari tenaga pendidik ke peserta didik, tetapi juga upaya pengembangan potensi peserta didik berdasarkan atas kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. 

Salah satu yang harus dilakukan tenaga pendidik adalah melakukan reformasi di dalam cara mengajar kepada peserta didik dengan menggunakan metode belajar humanistik.

BELAJAR HUMANISTIK

Teori belajar ini berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang di cita-citakan, serta tentang proses belajarnya yang paling ideal. Pelopor dari teori belajar humanistik adalah Jurgen Habermas. Proses belajar ideal menurut Jurgen yaitu proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri, maksudnya adalah mampu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri serta realisasi diri secara optimal. Tapi bagaimana kita mau pake metode humanistik kalau pendidiknya selalu merasa paling benar, di debat sedikit sama peserta didik langsung meposodo (baper). Popado (fuck)

Dalam pelaksanaan teori humanistik ini, materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak yang akan belajar maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya.

Penulis berpendapat bahwa teori belajar humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar peserta didik pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan untuk mencapai tujuannya. 

Hal tersebut tentu akan dapat membantu pendidik dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi ke arah pembentukkan karakter peserta didik. 

Sa cuman mo bilang, kegiatan pembelajaran tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan sendiri oleh pendidik, mungkin saja berguna bagi pendidik tetapi tidak berarti bagi peserta didik. Olehnya itu, agar proses belajar lebih bermakna bagi peserta didik maka diperlukan keterlibatan penuh dari peserta didik itu sendiri, sehingga peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar yang berharga dan efektif.

Penulis : Hajar

( Foto ilustrasi : Sumber Instagram KATAMORAL ) 

Teruji

Oleh : Runi Evariyanti

Apakah harapan ku terlalu besar..

Hingga kerap kali ku terjatuh dan kecewa…

Ataukah memang keberuntungan itu sedang tak berpihak kepada ku…

Aku bagaikan bintang yang tertutup awan…

Yang berharap angin datang menyapu awan itu…

Oh tuhann…

Aku ingin seperti bulan yang meskipun sendirian namun cahayanya memberikan ketenangan…

Berulang kali ku coba berlari tuk mengejar mimpi itu..

Namun selalu ku terjatuh…

Apakah impian dan cita cita ku terlalu tinggi…

Hingga kerap kali ku kecewa…

Kenyataan pahit seolah olah telah melekat dalam hidupku…

Akankah harapan itu kan menjadi kenyataan…

Ataukah hanya menjadi harapan semu…

Entahlah…

#spb_lalonggawuna

#garis_senja

(Runi Evariyanti. Foto : Istimewa)