Objektif.id – Sampah merupakan masalah lingkungan yang cukup sulit ditangani, karena banyaknya masyarakat yang kurang sadar terhadap kebersihan. Banyaknya masyarakat kurang sadar membuang sampah sembarangan dapat mengakibatkan penumpukan di tempat pembuangan akhir (TPA) semakin hari semakin bertambah.
Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) melaporkan sampah yang masuk ke TPA rata-rata mencapai 700 ton perhari yang berada dari berbagai daerah, terkhusus kota Kendari mencapai 260 ton sampah perharinya.
Plastik sekali pakai, seperti kantong plastik untuk belanjaan, gelas, sedotan dan botol menjadi penyumbang terbesar kedua untuk sampah plastik. Hal ini merupakan bukti bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia tentang daur ulang dan dampak lingkungan dari plastik masih sangat rendah.
Pemerintah melakukan alternatif pengurangan sampah dengan menerapkan 4R, yaitu:
– Reduce atau mengurangi sampah
– Reuse atau memakai kembali barang yang tidak sekali pakai.
– Recycle yaitu mendaur ulang barang yang sudah tidak berguna
– Replace yaitu mengganti barang sekali pakai dengan barang tahan lama dan ramah lingkungan.
Sampah yang menumpuk akibat tidak diperhatikan dapat mengganggu keindahan alam. Selain itu, tumpukan sampah ini juga dapat memunculkan bau tak sedap hingga mengganggu kesehatan setiap masyarakat yang bermukim disekitar kawasan tumpukan sampah.
Sampah inipun akan banyak menimbulkan penyakit, untuk sampah yang banyak mengandung makanan busuk, sudah pasti merupakan sarang hidupnya bakteri, Sehingga sampah yang menumpuk di saat musim hujan akan menimbulkan wabah penyakit seperti muntaber atau diare, demam berdarah dan lain sebagainya.
Objektif.id – Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Paradigma adalah sebuah anggapan, pemikiran, ungkapan, ataupun kerangka berpikir daripada manusia. Tentunya paradigma ini berbicara tentang sudut pandang berbagai elemen masyarakat ataupun mahasiswa. Terkadang paradigma dapat memiliki konteks yang negatif dan positif tergantung siapa yang beropini.
Mahasiswa adalah sekumpulan orang yang mengenyam pendidikan disalah satu perguruan tinggi disuatu negara. Mahasiswa terbilang sangat penting dalam elemen kampus, karena merekalah salah satu elemen utama dalam membawa perubahan dalam kampus dengan prestasi yang mereka miliki. Maka tidak heran mahasiswa disebut Agen Of Change dalam diri mereka.
Dewasa ini, kita selalu mendengarkan istilah “Generasi Stroberi”. Melansir dari laman website Bfi, Generasi stroberi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena generasi muda saat ini dimana mereka memiliki banyak ide cemerlang dan kreativitas yang tinggi namun ketika diberi sedikit tekanan mereka menjadi mudah hancur dan lembek layaknya stroberi. Hal inilah yang menjadikan generasi sekarang terbilang miris, akibat tidak siap menerima segala preassure (tekanan).
Tentunya, ada hal menarik yang harus kita saksikan seksama terhadap paradigma berpikir mahasiswa stroberi saat ini. Penulis mengangkat tulisan ini berdasarkan hasil temuan dan riset terhadap sebagian besar mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan. Ada beberapa paradigma berpikir yang sering dikatakan oleh mahasiswa “Generasi Stroberi” ini :
1. Janganmi mau cepat selesai, sa masih betah dikampus
Paradigma ini menjadi salah satu hal yang sering kita dengarkan oleh beberapa mahasiswa, sehingga memang paradigma ini menuai pro dan kontra. Bagi mahasiswa yang pro beranggapan bahwa mereka masih ingin santai dikampus tanpa adanya beban sedikitpun, sehingga mengikuti alur perkuliahan sesuai dengan jadwalnya. Sedangkan bagi mahasiswa yang kontra akan paradigma ini menganggap bahwa hal ini tidak akan mereka inginkan karena banyak ingin menyelesaikan studi secepatnya untuk melanjutkan masa depan yang lebih cerah.
2. Menerapkan SKS (Sistem Kebut Semalam)
Sebagian besar mahasiswa 90% pasti memiliki paradigma seperti ini. Terbukti berdasarkan hasil penglihatan penulis banyak mahasiswa yang menerapkan sistem SKS ini. Mulai dari tugas powerpoint, makalah, laporan praktikum, jurnal, artikel, ataupun tugas lain yang memiliki deadline H-1 pengumpulan tugas.
3. Untuk apa kuliah, kalau ujung-ujungnya lari ditambang/menganggur
Inilah yang menjadi pemahaman yang salah bagi mahasiswa,padahal dengan kita berkuliah, diri kita akan memiliki nilai jual ketimbang orang-orang yang tidak bersekolah/berkuliah. Karena sepatutnya dengan bersekolah setinggi mungkin kita bisa menjadikan diri kita melangkah lebih jauh untuk meraih masa depan.
4. Mau kuliah untuk jadi PNS
Sebagian besar mahasiswa tujuan berkuliah pasti ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ini termasuk anggapan yang kurang tepat, karena dengan berkuliah kita bukan hanya menjadi PNS saja,tetapi banyak profesi yang bisa kita dapatkan. Misalnya, bisa membuka usaha kecil-kecilan, membangun yayasan/sekolah, bahkan bisa terjun melalui pengabdian kepada masyarakat. Ingat rejeki tergantung doa dan kerja keras.
5. Orang yang sukses adalah orang yang memiliki orang dalam
Memang tidak bisa dipungkiri kekuatan orang dalam (the power of orang dalam) menjadi sarana penting dalam menunjang karir dan pendidikan seseorang. Namun itu semua tidak selalu berlaku dikehidupan sehari-hari, terbukti banyak orang yang sukses dimulai dari nol sejak dibangku perkuliahan. Jika paradigma ini terus dikonsumsi oleh mahasiswa sampai kapan mereka akan memiliki pikiran yang maju?tentunya jalan satu-satunya adalah mahasiswa harus berpikir rasional dan mampu membaca situasi dan kondisi lapangan pekerjaan yang ada.
Objektif.id – Urat malu anak muda kini sudah putus! Yap akhir-akhir ini sangat sering kita dapati pemberitaan berupa video yang beredar media sosial yang didalamnya memuat aksi-aksi tidak senonoh yang dilakukan oleh anak-anak muda. Sangat beragam kita lihat mulai dari aksi sejoli hingga wanita bercadar yang melakukan aksinya di khalayak ramai khususnya di bumi anoa kita.
Sangat miris perilaku yang di pertontonkan oleh mereka kepada orang banyak dalam hal ini masyarakat. Seakan nilai dan norma-norma yang ada sudah tidak melekat lagi pada diri mereka. Kita ketahui bersama perilaku yang dilakukan oknum-oknum seperti ini sangat merusak nilai dan norma khususnya pada kenyamanan masyarakat.
Sebagai pemuda tentunya kita lah yang akan menjadi tombak kemajuan bangsa, kitalah yang dijadikan simbol semangat pada pidato bapak proklamator kita yakni Bung Karno, cita-cita bangsa ada pada pundak-pundak gagah kita anak muda.
Namun pemuda hari ini tidak mencerminkan kewibawaan sebagai tombak cita-cita bangsa. Aksi tanpa rasa malu ini mencerminkan nihilnya pemahaman nilai-nilai agama. Seharusnya tindakan seperti ini haruslah mendapatkan sanksi tegas dari para penegak-penegak aturan yang ada pada masyarakat.
Objektif.id – Buah tomat merupakan jenis buah-buahan yang bisa dengan mudah kita temui di pasar, warung atau supermarket, bahkan untuk menanamnya sendiripun terbilang gampang.
Selain dikenal sebagai buah-buahan, tomat juga kerap disebut sebagai komoditas sayur-sayuran, karena selain bisa dimakan secara langsung seperti pada umumnya buah, tomat juga kerap digunakan sebagai bahan masakan.
Tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, saat ini tomat tidak hanya digunakan sebagai pelengkap untuk makanan dan masakan saja, melainkan juga bisa digunakan sebagai bahan produk kecantikan.
Manfaat tomat untuk kecantikan antara lain mengecilkan pori-pori, dan mencerahkan kulit. Selain pada wajah, tomat juga bisa mencerahkan dan memerahkan bibir secara alami, hal ini karena tomat memiliki kandungan selenium yang baik untuk kesehatan bibir.
Tomat mengandung vitamin C yang merupakan salah satu zat yang dapat merangsang produksi kolagen dalam tubuh.
Tomat adalah salah satu buah dengan beragam manfaat termasuk bagi kulit wajah, buah yang terkenal dengan rasa manis ini kaya akan vitamin dan enzim, sehingga mengkonsumsi tomat atau menggunakannya sebagai masker bisa membantu membuat wajah menjadi sehat, glowing dan mulus.
Objektif.id – Indonesia adalah sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara. Berbicara tentang bencana alam, negara Indonesia yang secara geografis diapit oleh empat lempeng tektonik, yakni lempeng benua Asia, benua Australia, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik, yang dengan adanya kondisi tersebut dapat menimbulkan bencana alam berupa gempa bumi dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kegempaan yang tertinggi di dunia.
Dilansir dari situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
berdasarkan hasil survei Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan pertama dari 265 negara di dunia yang berpotensi terancam tsunami akibat gempa bumi.
Selain itu, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data kejadian gempa bumi dalam kurun waktu Januari – Februari 2023 telah terdapat sebanyak 30 kota di Indonesia mengalami guncangan gempa bumi dengan magnitudo > 5.0 skala richter.
Selain itu, penyebab Indonesia rawan bencana alam adalah karena Indonesia terletak di garis khatulistiwa hingga mengakibatkan indonesia memiliki curah hujan yang tinggi atau biasa disebut dengan iklim hutan hujan tropis. Jadi, tidak heran jika tiap setiap tahunnya selalu ada berita terkait banjir dan cuaca ekstrem terkhususnya di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Bekasi, Jawa Tengah, dan daerah di sekitarnya.
Dilansir dari Katadata.co.id, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sepanjang tahun 2022 tercatat sekiranya ada 3.531 peristiwa bencana alam di Indonesia. Bencana yang sering terjadi adalah banjir dengan 1.524 peristiwa dan cuaca ekstrem dengan 1.064 peristiwa. Masing-masing dari peristiwa tersebut telah memakan korban jiwa baik meninggal, hilang, maupun luka-luka sebanyak 9.623 orang, dengan kerusakan fasilitas rumah sebanyak 95.051 bangunan, dan fasilitas umum sebanyak 1.980 bangunan.
Banyaknya gunung api di indonesia, menjadikan Indonesia dijuluki negara Ring Of Fire dan hal itu setara dengan Jepang, Filipina, Malaysia dan negara kepulauan lainnya.
Potensi ancaman bahaya dari gunung api yang masih aktif salah satunya ialah Gunung Merapi Indonesia, adapun kota Magelang dan Yogyakarta merupakan kota terdekat dari Gunung Merapi tersebut. Jadi, sekalinya gunung ini meletus maka akan menimbulkan kekacauan yang besar meskipun letusannya kecil.
Dilansir dari Liputan6.com, berdasar catatan dari pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana BNPB, selama periode November 2010 Gunung Merapi meletus dahsyat dan berakibat sebanyak 277 orang meninggal di wilayah Yogyakarta dan 109 orang meninggal di wilayah Jawa Tengah. Gunung Merapi terakhir erupsi pada 10 Maret 2022, dan akan bererupsi di setiap 2-5 tahun sekali.
Bencana alam selain terjadi secara alamiah, juga dapat dipicu oleh perilaku manusia. Banyaknya plastik, polusi, limbah deterjen, limbah pabrik dan lain-lain, yang bertebaran dimana-mana, sehingga dapat menyebabkan alam menjadi rusak.
Adapun tentang peran, tidak akan terlaksana jika masyarakat dan pemerintah tidak saling bersinergi satu sama lain. Bahkan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah saja masih saling bertolak belakang pemikiran, yang satu ingin Indonesia seperti ini dan satunya lagi ingin Indonesia seperti itu, yang satu memberi dan satunya mengorupsi.
Jika masih tetap seperti ini terus apakah yakin Indonesia akan berada di tingkat keemasannya di tahun 2045 nanti, atau malah justru sebaliknya? well, semua berada pada kesadaran diri kita masing-masing dengan menginginkan Indonesia maju atau menginginkan Indonesia punah.
Adagium Antonio Gramsci; “The aim of education is to create autonomous and critical individuals who are capable of making their own judgments, and not simplyaccepting the judgments of others.” Artikulasi adagium diatas disambut kritis oleh Rocky Gerung bahwa sistem pendidikan kita perhari ini menghindari ketajaman argumentasi, sehingga tajamnya argumentasi dianggap tidak sopan. Secara semiotik, hal tersebut bertujuan menciptakan dominasi kekuasaan yang mutlak di tangan para dosen dan pimpinan kampus. Kultur feodal yang mendominasi lingkungan kampus membatasi kebebasan dan kemerdekaan. Sebagai laboratorium peradaban, kampus seharusnya mencetak kebenaran, kebebasan, dan kemerdekaan serta mencerdaskan generasi bangsa. Namun, kampus yang bersifat feodal justru menjadi penjara intelektual bagi mahasiswa dan aktivis intelektual. Kita harus prihatin karena saat ini kampus telah menjadi imperium-imperium kerajaan yang kebal terhadap kritikan dan gugatan warga kampus terkait kebijakan yang tidak sejalan dengan kebebasan dan kemerdekaan.
Mahasiswa di persimpangan kiri jalan dan di kiri sudut kampus sama-sama berjuang untuk menegakkan demokrasi yang sehat dan melawan rezim feodal yang kembali muncul di negara ini. Namun, kenyataannya sistem pendidikan saat ini secara tidak langsung menerapkan sistem feodal dimana kebenaran ada di tangan dosen dan kebebasan berpendapat dibatasi, sehingga memunculkan krisis kebebasan dan ketajaman argumen dianggap sebagai propaganda. Mahasiswa juga terkadang mencari kedekatan dengan dosen untuk mendapatkan nilai 4.0, bukan dengan daya berfikir kritis dan ketajaman argumen. Gerakan protes dan aksi aktivis mahasiswa juga sering dibungkam oleh pimpinan kampus, dengan menggerakan sekuriti kampus. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi yang diterapkan di kampus mungkin sudah redup bahkan mati.
Mahasiswa di IAIN Kendari harus mampu memperbaiki kekacauan yang terjadi di kampus dan melihat ruang-ruang intelektual yang ada di sekitarnya. Pemahaman demokrasi harus ditanamkan sejak dini dan intelektual harus mendahului elektabilitas dalam memimpin. Seharusnya, mahasiswa dapat mengembangkan daya berfikir kritis dan analisa yang kuat dengan mengkaji kultur kajian yang terlupakan. Kampus harus menjadi tempat yang dapat mencetak ilmu pengetahuan dengan melibatkan nalar kritis yang lebih tinggi.
Mahasiswa di IAIN Kendari harus memahami sistem pendidikan kampus yang sedang berjalan dengan jelas, terutama dalam merawat demokrasi yang sehat. Karena demokrasi yang sehat dimulai dari pendidikan demokrasi, sehingga dapat membentuk daya berpikir dan nalar yang baik bagi generasi selanjutnya. Untuk itu, KPUM dibentuk sebagai sarana aktualisasi demokrasi melalui PEMILMA di IAIN Kendari. KPUM harus memahami sistem demokrasi yang sehat agar demokrasi tidak tercoreng di kampus dan eksistensi demokrasi tetap terjaga. Meskipun kampus lain berlomba-lomba untuk menegakkan demokrasi yang sehat, sangat memalukan bahwa di kampus IAIN Kendari penerapan demokrasi sangat melenceng sehingga PEMILMA IAIN Kendari tidak dapat berjalan dengan baik.
Sebagaimana yang di ucapkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, sejarah membuktikan bahwa pemerintahan diktator dan otoriter hanya sementara, sementara demokrasi adalah sistem yang lebih baik dan berkesinambungan. Namun, di kampus IAIN Kendari terlihat adanya praktik pendidikan yang otoriter dan diktator. Apakah mahasiswa IAIN Kendari akan menerimanya? Hal ini akan berdampak pada negara kita. Kampus yang independen adalah kunci kesuksesan dalam menerapkan demokrasi dalam pendidikan. Siapa yang berperan aktif dalam memperjuangkan demokrasi di kampus ini? Bukannya lembaga mahasiswa hanya berbicara tentang kelompok masing-masing yang memunculkan disparitas? Namun, yang harus terlibat dalam perjuangan demokrasi adalah seluruh elemen mahasiswa IAIN Kendari. Mereka harus menghidupkan kembali SUMPAH MAHASISWA dan menjaga semangatnya agar tetap terdengar di seluruh kampus.
Che Guevara, seorang tokoh revolusioner, pernah mengatakan bahwa demokrasi digunakan sebagai alat untuk membenarkan kediktatoran kelas eksploitasi. Namun, dikampus IAIN Kendari, manajemen yang kurang transparan dan regulasi yang tidak jelas mengakibatkan kurangnya ruang untuk didikan demokrasi dalam pelaksanaan PEMILMA. Meskipun seharusnya politik dan dinamika demokrasi menjadi topik yang menarik perhatian mahasiswa di setiap sudut kampus, atmosfer kompetisi yang seharusnya ada justru minim terwujud karena sistem pendidikan yang sudah bergeser secara hakikat. Hal ini menjadi senjata ampuh untuk mematikan semangat dan kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan di kampus dan negara ini.
Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang berpendidikan dan diharapkan sebagai agen perubahan dan pengendali, tetapi dalam kenyataannya hanya sebatas ucapan saja dan tidak terlihat dalam tindakan. Seharusnya, mahasiswa memegang teguh tujuannya dan menjaga budaya kampus, seperti perhelatan demokrasi kampus yang selalu menarik untuk dibahas. Namun, realitanya berbeda, karena miniatur dari politik praktis yang buruk di negara terlihat jelas pada PEMILMA IAIN Kendari saat ini. Kampus yang seharusnya menjadi ruang intelektual tercoreng karena ketidakpastian dari KPUM dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai penyelenggara PEMILMA Tahun 2023, yang menunjukkan kelemahan mereka dalam mengelola acara tersebut. Keputusan yang sudah kadaluarsa namun PEMILMA belum terlaksana menimbulkan keraguan akan kepentingan yang terlibat di dalamnya.
Setiap individu memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi penting bagi kita untuk memastikan bahwa kepentingan tersebut dapat diterima secara universal. Fenomena di kampus IAIN Kendari menunjukkan bahwa kepentingan yang diusung saat ini telah cacat secara mental dan moral, dan ini akan menjadi hambatan di masa depan. Oleh karena itu, kelembagaan mahasiswa di setiap fakultas harus dinonaktifkan karena masa jabatan telah berakhir dan tidak produktif, seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Rektor IAIN Kendari. Konstitusi Keluarga Besar Mahasiswa Institut Agama Islam Negri (KBM IAIN) Kendari menyatakan bahwa SEMA I sebagai lembaga tertinggi di kampus harus menganalisis dan menegakkan demokrasi melalui pengurus KPUM yang telah dibentuk. Namun, nilai-nilai demokrasi yang sehat tidak terwujud, dan SEMA I, DEMA I, dan KPUM harus dinonaktifkan karena telah merusak nilai-nilai demokrasi. Hal yang sama berlaku untuk pelaksanaan PEMILMA, yang harus dilaksanakan secara menyeluruh oleh lembaga legislatif dan eksekutif sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh KPUM IAIN Kendari, namun tidak terlaksana. Oleh karena itu, KPUM IAIN Kendari menjadi beban dan merugikan negara.
Penulis mengamati banyak fenomena yang terjadi di kampus IAIN Kendari, terutama terkait dengan kepengurusan KPUM yang tidak dapat dipercaya dalam menjalankan tugas mereka. Meskipun janji-janji manis telah diberikan oleh KPUM, termasuk tentang pelaksanaan PEMILMA, hingga saat ini belum ada kepastian terkait dengan pelaksanaannya. Penulis merasa bahwa KPUM yang telah diberi mandat pada tahun 2023 untuk memastikan keberlangsungan demokrasi di kampus, namun harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. SEMA I, DEMA I, dan KPUM harus bertanggung jawab atas keterlambatan ini, dan penulis bertanya-tanya tentang alasan di balik kegagalan tersebut. Mungkin ada kendala anggaran atau kurangnya keterampilan dalam memimpin, atau bahkan lemahnya pengawasan dari WAREK III IAIN Kendari. Apapun penyebabnya, penulis berharap bahwa tindakan yang tepat akan diambil untuk memastikan keberlangsungan demokrasi dan kepercayaan di kampus.
Analogi sederhana yang dapat disimpulkan adalah seperti sebuah hulu yang menentukan arah aliran sungai ke hilir. Apabila niat yang baik dipadukan dengan instrumen atau cara yang tepat, maka tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Namun, apabila niat yang mendasari tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang baik,maka instrumen yang digunakan juga akan seiring dengan tujuan tersebut. Akibatnya, tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme akan muncul kembali. Niat yang hanya untuk mendapatkan pengalaman atau CV yang baik tanpa disertai dengan semangat untuk berkontribusi bagi masyarakat hanya akan menghambat kemajuan dalam pembangunan kehidupan berpolitik yang bersih, baik, dan sehat.
“Seburuk apapun aturan, jika dibarengi dengan konsistensi, maka akan lebih baik daripada peraturan yang bagus tetapi sumber daya manusianya tidak menerapkannya. Kegigihanmu hari ini merupakan pesan kehormatan yang disampaikan kepada orang lain tanpa suara atau kalimat, percaya atau tidak. Tidaklah tampangmu yang membuatmu dikenang, tidaklah ucapanmu yang membuatmu bijak, tetapi gerakanmu yang membuatmu bermakna. Harapan bangsa terletak pada pundak mahasiswa yang menyadari tanggung jawab dan fungsinya. Mari kembali pada lingkaran ketidaktahuan agar dapat menjadi tahu, sehingga mahasiswa akan tetap ada. HIDUP MAHASISWA!”
Objektif.id – Apa kabar pesta demokrasi mahasiswa di Kampus biru tercinta.? Tulisan ini kubuka dengan pertanyaan manis ini, sebagaimana manisnya janji-janji yang mereka rencanakan.
Seperti yang sudah kita saksikan yang terjadi pada Kampus tercinta kita di mana pesta demokrasi yang sudah banyak dinanti-nantikan oleh Mahasiswa-mahasiswa yang berkecimpung pada partai-partai yang menjadi idaman mereka, yang sampai saat ini tak kunjung digelar. kita semua sama-sama menantikannya.
Ibarat sebuah kapal para penumpang yang sudah bersiap dengan riang gembira menantikan euforia perjalanan yang sangat menarik hingga menghantarkan mereka pada tujuan, namun tidak akan pernah sampai disebabkan nahkoda kapal yang belum ingin berpisah dari dermaga.
Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) sudah memasuki bulan ke lima semenjak dibentuk pada Desember lalu, namun semenjak terbentuknya belum ada jadwal pasti terkait kapan pemilihan pada periode ini akan dilaksanakan. Layaknya tiupan angin yang menghempaskan asap dalam seketika hingga menghilang tanpa jejak.
11 April lalu dengan tegas Ketua KPUM Al- Izar membeberkan alasan mengapa pemilihan tidak dilaksanakan pada 2 bulan pertama semenjak terbentuk adalah karena bertepatan dengan libur mahasiswa dan juga belum cairnya anggaran untuk kegiatan akbar ini.
Namun alasan pertama telah tertepis dengan sendiri nya yaitu masa libur mahasiswa dan alasan yang kedua apakah sampai sekarang anggaran belum cair.? Ini tentunya hanya mereka yang bisa menjawab
Upaya dari teman-teman mahasiswa sudah banyak dilakukan mempertanyakan hal ini sampai dengan menggelar demontrasi, dan tidak hanya mahasiswa yang turut serta mempertanyakan bahkan Wakil Rektor III Kampus biru pun turut andil, namun yang kita lihat sekarang belum pula terlaksana hingga ini menjadi pertanyaan besar. Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa dimana kah anda.?
Objektif.id – Kebenaran lebih sering ditemukan disela-sela kekhilafan mereka yang berani berpikir untuk dirinya sendiri daripada diantara mereka yang merasa sempurna tapi malas bernalar. Mayoritas tabiat manusia yang berada dalam organisasi menganggap dirinya adalah yang paling pandai dan mengerti segala sesuatu hal, terutama pada orang-orang yang lebih dulu menyentuh wilayah organisasi. Jejak pengkultusan tersebut sangat jelas terekam dalam banyak tindakan, bahwa hanya mereka yang mempunyai otoritas lebih untuk menentukan sikap dan cara pandangnya.
Mereka yang demikian itu sebut saja “manusia tengil”. karena para manusia tengil ini yakni mereka yang lebih dulu masuk dalam organisasi maka dengan faktor itu seakan ada kebanggaan sebagai “kasta tertinggi” yang melekat pada dirinya. Dengan status sebagai kasta tertinggi itulah dipakainya menjadi instrument untuk melakukan suatu tindakan yang secara terang namun tak tergesah-gesah ingin memberi tahu kita jika yang baru bergabung ke dalam organisasi harus mengagung-agungkan status kasta tersebut.
sistem feodalisme yang terjadi hari ini dibanyak organisasi bukanlah hal yang baru sebab secara historis Budaya feodalisme ini sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia karena memang warisan dari zaman kerajaan yang menganut sistem patron-klien, bahkan di eropa pada abad pertengahan feodalisme mengakibatkan kekerasan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Akibat sistem feodalisme, masyarakat cenderung berorientasi pada nilai pelayanan yang berlebihan terhadap penguasa, orang yang dituakan, dan lain sebagainya.
Ironis apabila dalam organisasi yang menjadi tempat pertengkaran pikiran serta dengan segala keistimewaannya tiba-tiba disulap oleh para manusia tengil menjadi tempat peternakan generasi feodalisme. Sangat mengkhawatirkan ketika kemudian kultur ini secara terus menerus berkembang dalam lingkungan organisasi. Yang dimana secara universal kita ketahui bersama bahwa organisasi adalah wadah berkumpulnya satu, dua orang atau lebih dengan memiliki tujuan yang sama, tentunya dalam mencapai tujuan tersebut pasti dilakukan dengan metode yang begitu serius menciptakan manusia berpengetahuan, arif, dan bijaksana.
Tapi bagaimana mungkin semua harapan bisa terwujud kalau yang terjadi dalam organisasi adalah para manusia tengil itu seperti ingin di tuhankan, bahkan tak jarang jika ada yang berbeda pemikiran dari mereka langsung dianggap salah dan melawan bahkan dianggap membahayakan organisasi. Bukankah ”karena ada perbedaan maka untuk itu kita bersatu”? Namun yang ada dikepala manusia ugal-ugalan ini “demi persatuan maka tidak boleh ada perbedaan”.
Sepertinya dalam keadaan sadar ataupun tidak kita bersepakat bahwa mendiamkan kejahatan adalah suatu tindakan kemunafikan. Jika dalam organisasi didominasi oleh kekuatan feodalisme maka jangan salah ketika banyak anggota lain terlebih generasi yang baru bergabung dalam organisasi menjadi produk gagal. Cacat dalam mengaktualisasikan gagasan dan tujuan organisasi, nalar kritis menjadi tidak bertumbuh, cara pendidikannya bukan berbasis pengembangan intelektual.
Anggota yang baru bergabung hanya dianggap sebagai kendaraan untuk mengangkut gagasan orang lain yang sejatinya bertentangan dengan naluri dan keinginan dirinya sendiri. Implikasi kebiasaan tersebut menjadi konsumsi para anggota baru dan dalam banyak kasus para anggota baru melanjutkan sifat yang demikian itu. Teringat pernyataan Yusril Izha Mahendra beliau mengatakan bahwa dalam sistem yang buruk orang baik dipaksa menjadi jahat, dan dalam sistem yang baik orang jahat dipaksa menjadi baik.
Mengapa hal semacam itu terus berulang-ulang dan tidak bisa hilang? Karena keterlibatan manusia bengis dalam organisasi begitu massif terhadap aktivitas generasi baru sekaligus menjadi nyata bahwa regenerasi hadir bukan atas gagasannya sendiri melainkan arahan dan perintah titipan. Kalau tujuan manusia yang duluan bergabung ke organisasi untuk mendidik generasi setelahnya, bukankah tujuan dari pendididikan itu sendiri adalah untuk mempertajam kecerdasan, mengkuhkukan kemauan, serta memperhalus perasaan, sebagaimana yang dikatakan Tan Malaka. Ohh iya, baru-baru ini kita merayakan atau memperingati hari pendidikan nasional dengan icon tokohnya yakni Ki Hajar Dewantara yang mempunyai falsafah pendidikan “Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, yang berarti di depan menjadi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan. Semoga dimomentum hari pendidikan menjadi titik balik dalam menumbuhkan kesadaran kolektif kita bahwa feodalisme adalah musuh dari pendidikan. Bukan hanya Tan Malaka atau Ki Hajar Dewantara yang orientasi pemaknaan terhadap pendidikan untuk melawan feodalisme tetapi semua tokoh bangsa menginginkan hal serupa.
Kalau organisasi menjadi salah satu alternatif untuk melakukan proses pendidikan atau kaderisasi maka organisasi jangan hanya menjadi alat penjinakan yang memanipulasi generasi baru, agar mereka dapat diperalat untuk melayani kepentingan manusia-manusia yang telah disebutkan diatas. Selain daripada itu, anomaly yang banyak terjadi pada generasi baru adalah mengaminkan tindakan-tindakan despotis para pendahulunya, membenarkan sesuatu yang salah. Keadaan semacam itu dianggap sebagai rasa terimakasih kepada para pendahulunya sehingga tidak mengherankan kalau kemudian siklus moral hazard yang mengakar kuat dalam organisasi semakin berkembang biak.
Sebenarnya dilain pihak masih ada manusia-manusia yang serius mengabdikan dirinya pada organisasi, yang ingin melakukan perubahan radikal demi perbaikan organisasi namun karena otoritas feodalismenya begitu kokoh maka tak jarang banyak yang dipinggirkan karena dinilai sebagai penggangu. Sudah jamak diketahui oleh banyak orang bahwa organisasi dengan kultur feodalismenya mengalami kemacetan berpikir, mempertahankan yang patuh terhadap kesewenang-wenangan. Ketika ada yang tidak menghadirkan pemikiran berbeda maka disitu manusia-manusia yang hanya membebek akan dirawat dan dianggap loyal terhadap organisasi. Padahal tujuan paling fundamental kita masuk berorganisasi yakni melatih kecakapan berpikir kritis bukan malah dijadikan manusia yang bangga mengkerdilkan pikiran serta menghamba pada kemunafikan.
Kendari, Objektif.id – Usai terpilih sebagai Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers pada Musyawara Mubes (Mubes) ke-23 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari Senin 17 April 2023, ini program utama Andika.
“Meningkatkan kinerja kepengurusan periode 2022-2024, Mensolidkan kepengurusan UKM-Pers,” ucap Andika saat ditemuai awak media, Senin (17/4/2022).
Menurutnya, program tersebut merupakan langkah awal untuk mencapai visi serta tujuan organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang Pers.
“Menjadikan UKM Pers sebagai lembaga organisasi yang aktif dan kreatif serta menjunjung tinggi kekeluargaan,” tuturnya.
Ditempat yang sama, mantan Ketua Umum UKM Pers periode 2022-2023 Arini Triana Suci R, berharap agar Ketua baru yang baru terpilih (Andika) agar memberikan yang terbaik untuk kemajuan organisasi.
“Saya harap semua niatan baiknya dari adiku Andika yang hari ini baru terpilih sebagai Ketua Umum agar terealisasi sesuia apa yang dia cita-citakan,” harap Arini Triana Suci R.
Kendari, Objektif.id – Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilma) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari merupakan pesta demokrasi Mahasiswa yang tiap tahunnya diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM).
Diketahui, KPUM ini dibentuk sejak tanggal 29 Desember 2022 lalu yang diketuai oleh Al-Izar, namun masa kerja KPUM terhitung mulai dari tanggal 11 Januari – 11 April 2023 yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Rektor.
Dari pantauan Objektif.id, sudah terhitung tiga bulan berjalan masa kerja KPUM, belum juga ada kejelasan terkait jadwal pelaksanaan pemilihan umum mahasiswa.
Ketua KPUM, Al-Izar mengatakan bahwa Pemilma enggan terlaksana di dua bulan awal pertama karena bertepatan dengan libur mahasiswa.
“Alasan karna masih masa libur mahasiswa serta masih pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), Hal itu menjadi kendala di bulan satu dan di bulan dua kami tidak menjalankan Pemilihan Umum Mahasiswa,” katanya.
Dia juga mengatakan bahwa salah satu faktor utama belum jelasnya jadwal Pemilma ini dikarenakan keterlambatan dari pencairan anggaran yang akan dialokasikan untuk pelaksanaan Pemilma IAIN Kendari.
“Karena tahapan-tahapan tersebut diatur oleh internal KPUM dan ada beberapa kendala salah satu nya dari anggaran juga telat turun, kita mau jalankan pemilihan secepat mungkin tapi kurang support dari anggaran tersebut,” sambungnya.
Objektif.id – Mari kita simak secara ringkas terlebih dahulu apa itu KPUM? jadi, KPUM atau Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa berperan sangat penting dalam PEMILMA (Pemilihan Umum Mahasiswa) mulai dari merencanakan persiapan pelaksanaan pemilihan, menerima serta menetapkan partai-partai politik mahasiswa sebagai peserta pemilihan yang nantinya akan berkampanye pada saat berlangsungnya pemilihan.
Sudah tidak lama lagi akan dilaksanakan Pemilma di sebuah kampus biru yang bertepatan juga di bulan ramadhan nantinya. Namun, belum pelaksanaan Pemilma dimulai sudah beredar sebuah desas-desus melalui pamflet yang disebar di beberapa grup chat para mahasiswa yang mengatakan bahwa ada “seseorang” yang tidak jelas delegasinya dari mana. Namun, malah diangkat menjadi bagian dari KPUM. Ditambah lagi “seseorang” ini juga tergabung di salah satu Partai Politik Mahasiswa (PARPOLMA).
jika ditelisik bukankah hal ini sudah termasuk melanggar aturan dalam Undang-Undang Pemilihan Umum Mahasiswa yang mana tepatnya pada BAB IV, pasal 10 tentang penyelenggara Pemilma yang mengatakan bahwa KPUM terdiri atas :
a. Masing-masing 1 delegasi dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)
b. Masing-masing 2 delegasi dari DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa)
c. Masing-masing 3 delegasi dari SEMA (Senat Mahasiswa)
Sudah sangat jelas tertera di situ orang-orang yang berhak menjadi bagian dari KPUM adalah orang yang didelegasi secara sah. Namun masih terindikasi bahwa ada oknum petinggi KPUM belum mengantongi surat mandat dari delegasi UKM yang mengutusnya, jadi seakan-akan oknum petinggi KPUM tersebut mengklaim salah satu UKM dalam mendelegasikan dirinya. sangat penuh konspirasi sekali ya teman-teman.
Mari kita flashback ke 2 tahun lalu tepatnya di tahun 2021, pada saat penyelenggaraan Pemilma yang dilangsungkan secara online itu berakhir dengan kericuhan. Sekiranya terdapat puluhan mahasiswa lakukan demonstrasi di depan gedung rektorat menuntut kejelasan akan akses pemilihan yang tiba-tiba error.
Usut punya usut nih, ternyata sistem yang tiba-tiba error itu karena di hack oleh salah satu “oknum” dengan mengubah data voting dari para mahasiswa untuk kemudian data itu diberikan kepada salah satu Parpolma agar nantinya Parpolma tersebut dapat menang dalam pemilihan.
Sekarang kita beralih ke sudut pandang pihak KPUM itu sendiri. Kenapa pihak KPUM seakan-akan menutup-nutupi hal ini ya? apakah pihak KPUM ini ditekan oleh mereka yang mempunyai kuasa yang tinggi sehingga ia terpaksa untuk membuat kecurangan? atau apakah memang KPUM sang sutradara sebenarnya dengan mempermainkan Pemilma ini? yah, tidak ada yang tahu. Karena, kembali lagi kepada definisi sebenarnya bahwa politik itu KOTOR. Jika tidak patuh dalam permainan maka siap-siap saja nyawa melayang.
Dari rangkaian di atas maka dapat kita simpulkan bahwa pihak penyelenggara Pemilma a.k.a KPUM secara garis keras dinyatakan cacat.
Pesan penulis, semoga tulisan ini dibaca oleh mereka dan pihak KPUM semoga memberikan tanggapannya secepat mungkin secara terperinci dan jujur terkait desas-desus yang telah menyebar ini.
Objektif.id – “Berpakaian ketat, tembus pandang atau baju pendek bagi mahasiswi” tulisan ini dibuka dengan mengutip salah satu pelanggaran golongan ringan dalam kode etik mahasiswa di sebuah kampus agamis atau biasa dikenal dengan kampus biru yang terdapat di Kota Kendari.
“Hey, itu cuma pelanggaran ringan. Lagipula para dosen tidak menegur kami”. Seperti itulah tanggapan dari beberapa mahasiswi yang telah mengetahui aturan tersebut namun masih tetap dilanggar.
Tidak sedikit juga dari mereka yang balik marah jika ditegur oleh teman yang lain terkait hal itu dengan selalunya mengatakan “Urus dirimu sendiri”.
Hello ladies, kalian itu sebenarnya pada nyadar tidak sih bahwa kalian itu berada di lingkungan yang berbau dengan agama, yang mana segala aturan terkhusunya dalam tata cara berbusana tentunya tercipta berlandaskan agama yang dipatok dari Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Yang disayangkan juga adalah beberapa para pengajar, pendidik tidak terlalu memperdulikan atau cenderung acuh tak acuh pada busana para mahasiswi, yang berakibat mereka akan semakin seenaknya dalam berbusana sesuka hati mereka dalam hal ini berpakaian secara terbuka.
Jika hal ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan karena pakaian kalian yang terbuka dan ketat-ketat seketat PPKM itu dapat memicu beragam aksi negatif terutama pada kaum adam, contohnya tindak pelecehan seksual baik secara verbal, fisik, maupun visual.
Jika sudah seperti itu yang rugi siapa? jawabannya banyak. Selain merugikan diri sendiri, kelakuan kalian juga merugikan orang lain terutama orang tua kalian yang sudah capek-capek membiayai pendidikan kalian, nama baik kampus yang dikenal berlatar-belakang agama islam juga bakalan ikut tercoreng hanya karena ulah bobrok kalian yang lebih mementingkan fashion ketimbang syariat agama. Hal ini juga dapat menimbulkan citra buruk di muka umum pada para mahasiswi lain yang betul-betul menjaga cara berpakaiannya.
Sebenarnya orang juga lelah melihat dan menegur akan sikap bebal kalian yang tidak kunjung sadar diri. Sebenarnya apa sih keuntungan kalian buka-membuka aurat itu? Ingin menunjukkan di mata dunia bahwa tubuh kalian Sexy gitu? Bloody Hell!!! come’on, kalian itu perempuan beragama Islam yang dimana agama Islam sangat menjunjung tinggi yang namanya harga diri perempuan. Artinya bahwa, seluruh apa yang ada dalam diri perempuan kecuali wajah dan telapak tangan selain itu hanya boleh dilihat oleh selain mahramnya. So, jangan jadikan alasan menarik untuk merendah.
Mendekati bulan suci Ramadhan yang tinggal beberapa minggu lagi ini, Yuk! terutama pada kaum perempuan kalian pasti tidak ingin mengalami suatu hal yang terburuk dari segala yang buruk kan? Maka dari itu, ayo berubah!! ayo berubah menjadi yang lebih baik dengan menjaga perilaku dan bertutur kata. Sangat tidak etis jika mengotori bulan yang suci itu dengan dosa. Sekali lagi sadarilah diri kalian dan berubahlah.
Penulis : Tesa. ASN
Editor: Redaksi
“Penulis adalah mahasiswa iktif Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, juga anggota aktif Unit Kegiatan Mahasiswa Pers (UKM-Pers)”
Kendari, Objektif.id – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemerhati Kampus melakukan aksi demonstrasi di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari pada Kamis (2/3/2023).
Dalam aksi demonstrasi tersebut mereka mengusung dua tuntutan, yang pertama yaitu terkait kejelasan pemberian sertifikat bagi para peserta Latihan Kepimimpinan Mahasiswa (LKM) FEBI yang belum diberikan oleh pihak panitia penyelenggara kegiatan sejak bulan September 2022 lalu.
Sedangkan tuntutan kedua yaitu mengenai tata cara berbusana mahasiswi FEBI yang dinilai menyalahi kode etik dalam hal berbusana di lingkup kampus IAIN Kendari yang merupakan kampus dengan latar belakang agama Islam.
Koordinator Lapangan, Arya Saputra mengatakan bahwa para peserta LKM hanya diberikan janji palsu terkait penyerahan sertifikat LKM sehingga mendorong mereka melakukan protes lewat aksi demonstrasi di hari ini.
“Kami sudah komunikasi dengan ketua panitia penyelenggara pada bulan Desember 2022, tetapi beliau hanya memberikan janji kepada kami yang sampai saat ini masih belum terpenuhi,” Ucapnya.
Mereka juga mengkritik cara berpakaian dari para mahasiswi IAIN kendari, khususnya di lingkup FEBI yang dinilai tidak sesuai dengan aturan kampus dan menginginkan pihak kampus menindak hal tersebut.
“Menurut kami tidak sepantasnya mahasiswi menggunakan pakaian seperti itu dan kami meminta kepada pihak birokrasi kampus agar ketika menemukan yang berpakaian seperti itu untuk itu diingatkan dan diberikan teguran,” Sambungnya.
Sementara itu saat sesi hearing, Wakil Dekan III FEBI IAIN Kendari, Sodiman M.Ag menanggapi tuntutan masa aksi dengan mengatakan bahwa sertifikat peserta LKM akan diberikan minggu depan, namun dia belum menanggapi tuntutan mengenai tatacara berpakaian mahasiswi yang dinilai tidak sesuai aturan.
“InsyaAllah terkait dengan sertifikat LKM sudah bisa diambil minggu depan tepatnya di hari selasa tanggal 7 Maret 2023,” pungkasnya.
Etiam sollicitudin, ipsum eu pulvinar rutrum, tellus ipsum laoreet sapien, quis venenatis ante odio sit amet eros.
Vivamus elementum semper nisi. Nullam nulla eros, ultricies sit amet, nonummy id, imperdiet feugiat, pede. In auctor lobortis lacus. Aenean viverra rhoncus pede. Phasellus blandit leo ut odio. Pellentesque egestas, neque sit amet convallis pulvinar, justo nulla eleifend augue, ac auctor orci leo non est. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Praesent vestibulum dapibus nibh. Aenean massa. Nam pretium turpis et arcu.
Cras non dolor. Nullam vel sem. Sed lectus. Vivamus laoreet. Curabitur vestibulum aliquam leo. Nullam nulla eros, ultricies sit amet, nonummy id, imperdiet feugiat, pede. Vestibulum volutpat pretium libero. Sed in libero ut nibh placerat accumsan. Curabitur at lacus ac velit ornare lobortis. Aenean imperdiet.
Cras varius. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Fusce id purus. Phasellus a est. Vestibulum suscipit nulla quis orci. Sed in libero ut nibh placerat accumsan.
Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Vivamus quis mi. Cras sagittis.
Toulouse, Occitanie, France
Nam pretium turpis et arcu. Sed magna purus, fermentum eu, tincidunt eu, varius ut, felis. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Sed a libero. In dui magna, posuere eget, vestibulum et, tempor auctor, justo. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Suspendisse non nisl sit amet velit hendrerit rutrum.
Ut non enim eleifend felis pretium feugiat. Vestibulum turpis sem, aliquet eget, lobortis pellentesque, rutrum eu, nisl. Etiam imperdiet imperdiet orci. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Maecenas malesuada. Nullam quis ante. Donec id justo. Sed consequat, leo eget bibendum sodales, augue velit cursus nunc, quis gravida magna mi a libero. Curabitur vestibulum aliquam leo. Fusce pharetra convallis urna.
Vivamus consectetuer hendrerit lacus. Pellentesque egestas, neque sit amet convallis pulvinar, justo nulla eleifend augue, ac auctor orci leo non est. Etiam ultricies nisi vel augue. Sed a libero. Phasellus magna.
Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Duis vel nibh at velit scelerisque suscipit. Fusce fermentum odio nec arcu. Phasellus nec sem in justo pellentesque facilisis. Donec mollis hendrerit risus. Cras sagittis. Suspendisse nisl elit, rhoncus eget, elementum ac, condimentum eget, diam.
Orang Yang Berjalan Melalui Gang Di Tengah Gedung Putih
Donec sodales sagittis magna. Mauris turpis nunc, blandit et, volutpat molestie, porta ut, ligula. Fusce vulputate eleifend sapien. Quisque ut nisi. In dui magna, posuere eget, vestibulum et, tempor auctor, justo. Cras id dui. In consectetuer turpis ut velit. Praesent egestas tristique nibh. Phasellus nec sem in justo pellentesque facilisis. Ut varius tincidunt libero.
Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Vestibulum turpis sem, aliquet eget, lobortis pellentesque, rutrum eu, nisl.
Cras id dui. Sed in libero ut nibh placerat accumsan. Vestibulum dapibus nunc ac augue. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Fusce id purus. In turpis. Ut varius tincidunt libero. Sed mollis, eros et ultrices tempus, mauris ipsum aliquam libero, non adipiscing dolor urna a orci. Aenean viverra rhoncus pede. Praesent egestas neque eu enim..
Nulla neque dolor, sagittis eget, iaculis quis, molestie non, velit. Nunc egestas, augue at pellentesque laoreet, felis eros vehicula leo, at malesuada velit leo quis pede. Curabitur a felis in nunc fringilla tristique.
Vivamus euismod mauris. Nunc nonummy metus. Etiam feugiat lorem non metus. Phasellus magna. Nam ipsum risus, rutrum vitae, vestibulum eu, molestie vel, lacus. Fusce pharetra convallis urna. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus.
Mobil parkir di depan perusahaan Tesla
Donec mi odio, faucibus at, scelerisque quis, convallis in, nisi. Etiam rhoncus. Etiam ut purus mattis mauris sodales aliquam. Etiam ut purus mattis mauris sodales aliquam. In hac habitasse platea dictumst.Sed libero. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Donec vitae orci sed dolor rutrum auctor. Maecenas ullamcorper, dui et placerat feugiat, eros pede varius nisi, condimentum viverra felis nunc et lorem. Sed libero.
Phasellus leo dolor, tempus non, auctor et, hendrerit quis, nisi.
Vestibulum purus quam, scelerisque ut, mollis sed, nonummy id, metus.
Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris.
Etiam iaculis nunc ac metus. Aenean vulputate eleifend tellus.
Suspendisse nisl elit, rhoncus eget, elementum ac, condimentum eget, diam. Nullam accumsan lorem in dui. Nunc nonummy metus. Suspendisse enim turpis, dictum sed, iaculis a, condimentum nec, nisi. Nunc interdum lacus sit amet orci.
Etiam iaculis nunc ac metus. Quisque libero metus, condimentum nec, tempor a, commodo mollis, magna.
Etiam imperdiet imperdiet orci. Cras ultricies mi eu turpis hendrerit fringilla.
Nam at tortor in tellus interdum sagittis. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus.
Proin sapien ipsum, porta a, auctor quis, euismod ut, mi. Proin pretium, leo ac pellentesque mollis, felis nunc ultrices eros, sed gravida augue augue mollis justo. Sed hendrerit. Curabitur a felis in nunc fringilla tristique. Maecenas ullamcorper, dui et placerat feugiat, eros pede varius nisi, condimentum viverra felis nunc et lorem.
Phasellus blandit leo ut odio. Praesent adipiscing. Maecenas egestas arcu quis ligula mattis placerat. Vestibulum facilisis, purus nec pulvinar iaculis, ligula mi congue nunc, vitae euismod ligula urna in dolor. Fusce commodo aliquam arcu.
Etiam sollicitudin, ipsum eu pulvinar rutrum, tellus ipsum laoreet sapien, quis venenatis ante odio sit amet eros.
Vivamus elementum semper nisi. Nullam nulla eros, ultricies sit amet, nonummy id, imperdiet feugiat, pede. In auctor lobortis lacus. Aenean viverra rhoncus pede. Phasellus blandit leo ut odio. Pellentesque egestas, neque sit amet convallis pulvinar, justo nulla eleifend augue, ac auctor orci leo non est. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Praesent vestibulum dapibus nibh. Aenean massa. Nam pretium turpis et arcu.
Cras non dolor. Nullam vel sem. Sed lectus. Vivamus laoreet. Curabitur vestibulum aliquam leo. Nullam nulla eros, ultricies sit amet, nonummy id, imperdiet feugiat, pede. Vestibulum volutpat pretium libero. Sed in libero ut nibh placerat accumsan. Curabitur at lacus ac velit ornare lobortis. Aenean imperdiet.
Cras varius. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Fusce id purus. Phasellus a est. Vestibulum suscipit nulla quis orci. Sed in libero ut nibh placerat accumsan.
Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Vivamus quis mi. Cras sagittis.
Toulouse, Occitanie, France
Nam pretium turpis et arcu. Sed magna purus, fermentum eu, tincidunt eu, varius ut, felis. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Sed a libero. In dui magna, posuere eget, vestibulum et, tempor auctor, justo. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Suspendisse non nisl sit amet velit hendrerit rutrum.
Ut non enim eleifend felis pretium feugiat. Vestibulum turpis sem, aliquet eget, lobortis pellentesque, rutrum eu, nisl. Etiam imperdiet imperdiet orci. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Maecenas malesuada. Nullam quis ante. Donec id justo. Sed consequat, leo eget bibendum sodales, augue velit cursus nunc, quis gravida magna mi a libero. Curabitur vestibulum aliquam leo. Fusce pharetra convallis urna.
Vivamus consectetuer hendrerit lacus. Pellentesque egestas, neque sit amet convallis pulvinar, justo nulla eleifend augue, ac auctor orci leo non est. Etiam ultricies nisi vel augue. Sed a libero. Phasellus magna.
Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Duis vel nibh at velit scelerisque suscipit. Fusce fermentum odio nec arcu. Phasellus nec sem in justo pellentesque facilisis. Donec mollis hendrerit risus. Cras sagittis. Suspendisse nisl elit, rhoncus eget, elementum ac, condimentum eget, diam.
Orang Yang Berjalan Melalui Gang Di Tengah Gedung Putih
Donec sodales sagittis magna. Mauris turpis nunc, blandit et, volutpat molestie, porta ut, ligula. Fusce vulputate eleifend sapien. Quisque ut nisi. In dui magna, posuere eget, vestibulum et, tempor auctor, justo. Cras id dui. In consectetuer turpis ut velit. Praesent egestas tristique nibh. Phasellus nec sem in justo pellentesque facilisis. Ut varius tincidunt libero.
Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Vestibulum turpis sem, aliquet eget, lobortis pellentesque, rutrum eu, nisl.
Cras id dui. Sed in libero ut nibh placerat accumsan. Vestibulum dapibus nunc ac augue. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Fusce id purus. In turpis. Ut varius tincidunt libero. Sed mollis, eros et ultrices tempus, mauris ipsum aliquam libero, non adipiscing dolor urna a orci. Aenean viverra rhoncus pede. Praesent egestas neque eu enim..
Nulla neque dolor, sagittis eget, iaculis quis, molestie non, velit. Nunc egestas, augue at pellentesque laoreet, felis eros vehicula leo, at malesuada velit leo quis pede. Curabitur a felis in nunc fringilla tristique.
Vivamus euismod mauris. Nunc nonummy metus. Etiam feugiat lorem non metus. Phasellus magna. Nam ipsum risus, rutrum vitae, vestibulum eu, molestie vel, lacus. Fusce pharetra convallis urna. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus.
Mobil parkir di depan perusahaan Tesla
Donec mi odio, faucibus at, scelerisque quis, convallis in, nisi. Etiam rhoncus. Etiam ut purus mattis mauris sodales aliquam. Etiam ut purus mattis mauris sodales aliquam. In hac habitasse platea dictumst.Sed libero. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Donec vitae orci sed dolor rutrum auctor. Maecenas ullamcorper, dui et placerat feugiat, eros pede varius nisi, condimentum viverra felis nunc et lorem. Sed libero.
Phasellus leo dolor, tempus non, auctor et, hendrerit quis, nisi.
Vestibulum purus quam, scelerisque ut, mollis sed, nonummy id, metus.
Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris.
Etiam iaculis nunc ac metus. Aenean vulputate eleifend tellus.
Suspendisse nisl elit, rhoncus eget, elementum ac, condimentum eget, diam. Nullam accumsan lorem in dui. Nunc nonummy metus. Suspendisse enim turpis, dictum sed, iaculis a, condimentum nec, nisi. Nunc interdum lacus sit amet orci.
Etiam iaculis nunc ac metus. Quisque libero metus, condimentum nec, tempor a, commodo mollis, magna.
Etiam imperdiet imperdiet orci. Cras ultricies mi eu turpis hendrerit fringilla.
Nam at tortor in tellus interdum sagittis. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus.
Proin sapien ipsum, porta a, auctor quis, euismod ut, mi. Proin pretium, leo ac pellentesque mollis, felis nunc ultrices eros, sed gravida augue augue mollis justo. Sed hendrerit. Curabitur a felis in nunc fringilla tristique. Maecenas ullamcorper, dui et placerat feugiat, eros pede varius nisi, condimentum viverra felis nunc et lorem.
Phasellus blandit leo ut odio. Praesent adipiscing. Maecenas egestas arcu quis ligula mattis placerat. Vestibulum facilisis, purus nec pulvinar iaculis, ligula mi congue nunc, vitae euismod ligula urna in dolor. Fusce commodo aliquam arcu.