Negeri dan Tuhan Hidup dalam keraguan
Kendari, Objektif.id – Hari ini adalah hari dimana keraguan mulai dianggap biasa di negeri ini, tidak peduli pada lingkungan sekitar dan ketidak tahuan pada persoalan yang terjadi di negeri ini. Buta mata dan tuli serta hati yang mulai menghitam mengubur penghuni negeri ini dengan perlahan.
Kemarin kita telah menyaksikan hari lahir seorang tokoh yang sampai detik ini masih menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia. Nomor satu dalam panggung politik di depan publik dan entah nomor berapa di belakang panggung publik.
Orkestrasi politik telah dimulai kembali. Tahun kedua jabatan presiden telah berlangsung, artinya tahun ketiga kekuasaan politik yang menentukan keberlanjutan kekuasaan untuk periode berikutnya.
Apakah suara rakyat akan dibeli dengan iming-iming berhadia harapan palsu lagi atau kenyataan kebijakan yang berdampak pada rakyat.
75 Tahun usia presiden Republik Indonesia. Tiup lilin di kalimantan dan papua. Lilin yang terang itu telah menyala berbulan-bulan sebelum hari ulang tahun nya.
Sungguh sebuah perayaan yang meriah. Sebelum lilin dinyalakan, atraksi gelombang air dan pepohonan di paradekan di Sumatera. Gedung-gedung menari diperlombakan di Nusa Tenggara Timur. Sebuah perayaan yang mengiris hati. Masyarakat menangis dan merintih menjadi tontonan para pejabat elit di Jakarta.
Hari ini, dampak dari perayaan alam itu belum selesai. Biaya perayaan telah masuk kantong-kantong pejabat negeri yang bermulut manis. Sungguh sebuah peristiwa klise pejabat meraup keuntungan dari sebuah penderitaan.
Negeri ini tidak kekurangan manusia jujur, hanya ruang untuk mereka yang terus terbatasi. Pejabat hanya diambil dari kaum mereka yang bermodal besar dalam perhelatan politik, sedangkan mereka yang jujur namun miskin hanya dapat kursi belakang sebagai penonton drama politik bangsa ini.
Tuhan mungkin telah menutup mata untuk negeri ini yang hampir lumpuh, atau mungkin orang-orang mulai lupa pada Tuhan sebab manusia terlalu berkuasa. Kekeringan menjadi persoalan serius yang dianggap tertawaan dan selingan semata. Seolah kekeringan bukanlah sebuah fenomena yang harus ditanggapi dengan serius. Sebuah keangkuhan yang tampak terang kebodohannya.
Manusia mulai lupa berdoa meminta pertolongan pada Tuhan untuk segala persoalan di negeri ini, sebab para pemimpinnya terlalu angkuh, pejabatnya dungu dan para pembesar agama hanya menjadi simbol dalam lingkaran mereka masing-masing.
Tuhan mungkin telah memalingkan wajahnya untuk negeri ini, Tapi jeritan hamba-hamba yang kurus keroncongan di tengah kekayaan negeri ini pasti melahirkan murka yang teramat pedih.
Sungguh ironis negeri ini. Anak muda kehilangan cita-cita, orang tua kehilangan harapan. Orang terdidik diadu domba, para pekerja sibuk mencari nafkah, sedangkan mereka anak jalanan terus bertahan dengan kemiskinannya. Sungguh ironis negeri ini.
Penulis: Tasnur Tehangga
Eksplorasi konten lain dari Objektif.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







